cover
Contact Name
Ema Aenun Najib
Contact Email
mynameisnajib20@gmail.com
Phone
+6281578126825
Journal Mail Official
hikami@stkq.alhikamdepok.ac.id
Editorial Address
Jl. H. Amat no. 21, RT 06 RW 01 Kukusan - Beji - Depok - Jawa Barat - Indonesia
Location
Kota depok,
Jawa barat
INDONESIA
Hikami : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir
ISSN : 29864771     EISSN : 28097262     DOI : 10.59622
HIKAMI adalah jurnal program studi Ilmu Al-Quran dan Tafsir. Jurnal ini ditujukan bagi para pembaca, peneliti, dan pengkaji yang ingin mendalami, memahami, dan mengamalkan seputar kajian Ilmu Al-Quran dan Tafsir. Beberapa artikel yang dimuat di dalamnya merupakan hasil penelitian dan artikel para ulama Al-Quran dan Tafsir. Secara khusus, jurnal ini membahas: Pertama Tafsir Al-Quran Nusantara Kedua Ad-Dakhil fi Tafsir Ketiga Ilmu Al-Quran Keempat Living Quran Kelima Kajian Al-Quran Klasik, Pertengahan, dan Kontemporer.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 122 Documents
KONSEP TOLERANSI PERSPEKTIF PARA PAKAR DAN MUFASIR Subur Wijaya
Hikami : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir Vol. 1 No. 2 (2020): DESEMBER
Publisher : STKQ Al-Hikam Depok

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59622/jiat.v1i2.14

Abstract

Toleransi merupakan hal yang sangat urgen dalam kehidupan yang majemuk seperti negara Indonesia. Keadaan ini membuat negara yang kaya akan keragaman ini yang mungkin tidak ditemukan di Negara lain, namun keadaan yang seperti ini juga rentan terhadap permusuhan dan perpecahan antar golongan. Dari sini pendapat mufassir menjadi penting melihat mayoritas masyarakat Indonesia adalah umat Muslim yang berpegang teguh pada ajaran al-Qur'an. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pandangan al-Qurtubi terhadap penafsirannya tentang toleransi. Hasil dari penilitian ini adalah konsep toleransi menurut al Qurtubi diantaranya: pertama, Pengakuan terhadap adanya keberagaman yang Allah SWT tetapkan, kedua, Tidak ada pemaksaan untuk memeluk agama, ketiga, menerapkan keadilan baik untuk Muslim maupun non-Muslim, keempat, mengutamakan perdamaian, kelima, meneguhkan persatuan, keenam, larangan merusak dan mencela simbol keagamaan orang lain.
ANALISIS AYAT-AYAT ANJURAN NIKAH DALAM TAFSIR AL JAMI LI AHKAM AL QUR’AN KARYA IMAM AL- QURTUBI Muhammad Yusron Shidqi; Dede Apandi
Hikami : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir Vol. 1 No. 2 (2020): DESEMBER
Publisher : STKQ Al-Hikam Depok

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59622/jiat.v1i2.15

Abstract

Pernikahan merupakan sala satu fitrah kemanusiaan (‘garizah insaniyah) naluri kemanusiaan, karena itu islam menganjurkan menikah. Bila garizah tidak dipenuhi dengan jalan yang sah yaitu pernikahan, maka ia mencari jalan-jalan syetan yang banyak menjerumuskan ke lembah hitam. Islam telah menjadikan ikatan pernikahan yang sah berdasarkan al-Qur’an dan as-Sunah sebagai satu-satunya sarana untuk memenuhi tuntunan naluri manusia yang asasi serta sarana untuk membina keluarga yang islami.Skripsi ini ditunjukan untuk mengadakan kajian yang lebih mendalam terhadap makna yang terkandung di balik teks ayat al-Qur’an tentang anjuran menikah, sehingga dapat diketahui dengan jelas apakah suatu ayat al-Qur’an akan di maknai dengan tekstuala atau kontekstual. Adapun pembahasan ayat al-Qur’an tentang anjuran menikah ini secara rinci terumus pertanyaan berikut: Bagaimana pemahaman dan pemaknaan al- Qurtub> tentang ayat-ayat anjuran menikahSetelah dianalisa, metode yang digunakn Abu Abdilah Muhamad al-Qurtubi dalam menafsirkan ayat  al-Qur’an   beliau menggunakan metode Ijmali dan Muqaran, serta menggunakan pendekatan fiqih (bilmatsur) bi al-Ra’yi sekaligus.
KONSEP INTERAKSI SOSIAL DALAM AL-QUR’AN Hamzah Hamzah; Al Fajar
Hikami : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir Vol. 1 No. 2 (2020): DESEMBER
Publisher : STKQ Al-Hikam Depok

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59622/jiat.v1i2.40

Abstract

Konsep interaksi sosial yang terdapat di dalam al-Qur’an mempunyai banyak karakter dan macam-macamnya, setiap ayat yang berbicara tentang interaksi memiliki makna-makna yang bisa dibilang berbeda, namun jika diteliti dengan seksama itu semua adalah satu pemahaman. Seperti yang terdapat pada surah al-Mumtahanah ayat 8 bahwasannya interaksi sosial itu adalah proses timbal balik yang dilakukan oleh seluruh belahan manusia dengan tidak membeda-bedakan antara ras, suku, ideologi, negara bahkan agama. Dan Allah SWT tidak melarang atau bahkan menganjurkan untuk berinteraksi kepada siapapun.  Dalam artian berintraksi kepada orang-orang yang tidak memerangi kalian. Dan Allah SWT juga menganjurkan untuk berbuat adil dengan mereka semuanya. Berbuat adil dalam masalah interaksi itu tidak ada batasannya, baik kepada sesama agama maupun lintas agama. Dengan syarat interaksi sosial yang terjalin itu tidak melanggar syari’at dan hukum-hukum Allah SWT.Interaksi sosial adalah suatu hubungan timbal balik yang dilakukan oleh sekelompok masyarakat. Baik antara individu dengan individu, individu dengan kelompok maupun kelompok dengan kelompok, yang mana tidak saling membedakan atara satu dengan yang lain, baik dari aspek sosial, kasta, posisi, suku, ekonomi bahkan agama.
NILAI-NILAI PENDIDIKAN MULTIKULTURAL PERSPEKTIF AL-QUR’AN Subur Wijaya; Idris Hisbullah Huzen
Hikami : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir Vol. 2 No. 1 (2021): JUNE
Publisher : STKQ Al-Hikam Depok

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59622/jiat.v2i1.42

Abstract

Penelitian ini berjudul “Nilai-Nilai Pendidikan Multikultural Perspektif Al-Qur’an. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui lebih jauh mengenai nilai-nilai multikultural yang terkandung di dalam alQur’an untuk kemudian dikaitkan atau dikorelasikan dengan konsep pendidikan multikultural.  Penelitian ini termasuk jenis penelitian kualitatif dengan menggunakan Library Research (penelitian kepustakaan) dan menggunakan metode deskriptif-analisis (Descriptive-analytis) yaitu dengan mendeskripsikan kemudian menganalisis ayat-ayat Al-Qur’an terkait nilai-nilai pendidikan multikultural. Sumber data berupa sumber-sumber tertulis berupa kitab-kitab tafsir, buku-buku, artikel, jurnal, makalah, karya tulis dan sumber-sumber otoritatif lainnya yang relevan dengan tema.   Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat banyak sekali nilai-nilai multikultural di dalam al-Quran yang sesuai dan sejalan yang dapat di aplikasikan dalam pendidikan multikultural. Semua nilai itu terfokus pada tiga nilai yang menjadi nilai inti (core value) pada pendidikan multikultual. Nilai keadilan, nilai toleransi dan nilai kebangsaan apabila mampu di aplikasikan dengan baik oleh masyarakat multikultur seperti bangsa Indonesia, dapat menumbuhkan kesadaran dan rasa saling menghargai atas perbedaan dan keberagaman ras, suku, budaya, etnis dan agama sehingga mampu mereduksi timbulnya konflik yang disebabkan oleh berbagai macam perbedaan.  
METODE PENAFSIRAN MUHAMMAD BIN ALI AL-BALANSI DALAM TAFSIR MUBHAMAT AL-QUR’AN Hamzah Hamzah; Noor Haris
Hikami : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir Vol. 1 No. 2 (2020): DESEMBER
Publisher : STKQ Al-Hikam Depok

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59622/jiat.v1i2.45

Abstract

Kajian ini berjudul “Metode penafsiran Muhammad bin Ali al-Balansi dalam Tafsir Mubhamat Al-Qur’an”, tema ini diangkat karena keresahan penulis terhadap perhatian salah satu ilmu Al-Qur’an, yaitu mubham yang seringkali agak kurang diperhatikan. Karena dengan ilmu mubham ini, penjelasan Al-Qur’an akan lebih jelas dengan Asbab al-Nuzulnya.  Pemilihan Tafsir Mubhamat Al-Qur’an dikarenakan satu kitab tafsir ini yang spesifik membahas tentang kata-kata mubham yang ada dalam Al-Qur’an dan kitab ini tergolong langka dalam penelitian ilmiah, khususnya di bangku perkuliahan.Dalam kajian ini membahas tentang pengertian mubham, alasan-alasannya secara umum beserta contohnya, namun lebih khususnya dan spesifiknya adalah mengkaji metode yang digunakan oleh Muhammad bin Ali al-Balansi dalam menafsirkan Tafsir Mubhamat Al-Qur’an dengan menggunakan metode penelitian Deskriptif Analisis.          Setelah dianalisa, Mubham dalam Al-Qur’an disebabkan tujuh alasan yang menjadikan rahasia kenapa subjek atau tokoh dalam Al-Qur’an tersebut disamarkan. Sedangkan metode yang digunakan Muhammad bin Ali al-Balansi dalam menafsirkan Tafsir Mubhamat Al-Qur’an adalah menggunakan metode Ijmali dan Muqaran, serta menggunakan pendekatan bi al-Ma’tsur dan bi al-Ra’yi sekaligus.
INTERPRETASI MAQAMAT AL-AULYA PERSPEKTIF AL-QUR’AN Adib Minanul Cholik; Marzuki Marzuki
Hikami : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir Vol. 2 No. 1 (2021): JUNE
Publisher : STKQ Al-Hikam Depok

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59622/jiat.v2i1.46

Abstract

Penelitian ini berjudul “Interpretasi Maqâmât al-auliyâ perspektif al-Qur’an”. Penelitian ini difokuskan pada penemuan beberapa ayat-ayat alQur’an tentang kedudukan wali-wali Allah di sisi tuhannya. Tujuan dari penelitian ini untuk meningkatkan kualitas kedekatan hamba kepada penciptanya dan untuk memberikan pengetahuan kepada masyarakat tentang kedudukan wali-wali Allah yang sebenarnya. Maqâmât auliyâ sangatlah penting dikaji dalam rangka merespon anggapan masyarakat tentang kedudukan wali yang tidak sesuai dengan ajaran-ajaran nabi Muhammada SAW. Penelitian ini termasuk penelitian kualitatif dengan menggunakan kajian pustaka. Sumber data berupa sumber-sumber tertulis berupa kitab, buku, artikel, jural dan umber-sumber otoritatif liannya yang relevan dengan tema. tehnik pengumpulan data menggunakan metode dokumentasi, yakni mengumpulkan data mulai berbagai buku dan literatur yang relevan dengan tema. Sementara analisa data mengguanakan metode content analisis (analisis isi), yaitu melakukan analisa terhadap Ayat-ayat yang maqâm auliyâ atau kedudukan wali-wali Allah dalam al-Qur’an, kemudian dijabarkan dengan rinci. Penelitian ini menunjukan bahwa maqâm auliyâ adalah maqâm yang tinggi di sisi tuhannya. dan untuk mencapainya harus dengan aturanaturan atau ajara-ajaran yang dibawa dan dicontohkan oleh nabi Muhammad SAW. 
PENYAKIT HATI DAN OBATNYA DALAM AL-QUR’ÂN MENURUT IBNU QAYYIM AL-JAUZIYAH Adib Minanul Cholik; Muhammad Lutfan Sofa
Hikami : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir Vol. 2 No. 2 (2021): DECEMBER
Publisher : STKQ Al-Hikam Depok

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59622/jiat.v2i2.47

Abstract

Latar belakang penelitian ini berangkat dari permasalahan dalam problematika kehidupan, diantaranya adalah timbulnya berbagai macam penyakit, salah satunya mengenai penyakit hati. Dalam skripsi ini penulis mengkaji permasalahan penyakit hati dan obatnya di dalam al-Qur’ân menurut Ibnu Qayyim al-Jauziyah. Permasalahan dalam penelitian ini adalah apa saja ayat-ayat yang bekaitan dengan penyakit hati dalam al-Qur’ân dan bagaimana pandangan penyakit hati menurut Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. serta bagaimana konsep pengobatan mengenai penyakit hati menurut beliau. Kemudian penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimna pandangan Ibnu Qayyim terhadap penyakit hati serta konsep pengobatannya menurut beliau seperti apa. Penelitian ini adalah menggunakan penelitian kepusatakaan (library research) dengan menggunakan berbagai sumber data primer berupa kitabkitab karya Ibnu Qayyim dan sekunder berupa buku-buku serta jurnal-jurnal ilmiah yang berkaitan dengan judul. Kemudian penulis menggunakan metode deskritif-analisis, dengan mengumpulkan data-data tersebut kemudian mendokumentasinya, selanjutnya menganalisis data-data tersebut untuk dijadikan sebuah hasil dan kesimpulan dalam penelitian.
PEMIMPIN NON MUSLIM DALAM PERSPEKTIF IBN JARIR ATH-THABARY M Yusron Shidqi; Nasril Albab Mochammad
Hikami : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir Vol. 2 No. 1 (2021): JUNE
Publisher : STKQ Al-Hikam Depok

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59622/jiat.v2i1.48

Abstract

Hingga kini dikalangan ‘Ulama masih terdapat perberbedaan pendapat terkait boleh dan tidaknya non-Muslim sebagai pemimpin bagi umat Islam. Hal itu umumnya didasarkan pada pemaknaan kata auliâ dalam al-Qur’an terkait konteks larangan menjadikan orang-orang kafir sebagai auliâ. Maka peneliti mengangkat tema “Pemimpin Non-Muslim dalam Perspektif Ibn Jarir Ath-Thabary” yang didasarkan pada tiga ayat terkait tema tersebut, yakni surat Ali Imrân ayat 28, surat al-Nisâ 144 dan surat al-Mâidah 51. Permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah pertama, Apa pengertian pemimpin dalam konsep Islam. Kedua, Apa saja term-term yang digunakan dalam Islam terkait pemimpin atau penguasa. Ketiga, bagaimana penafsiran Ath-Thabary terhadap surat Ali Imrân ayat 28, surat al-Nisâ 144 dan surat al-Mâidah 51. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan menggunakan metode analisis deskriptif (analytical descriptive method) yaitu suatu upaya mendeskripsikan dan menganalisa penafsiran terkait kata auliâ dalam al-Qur’an terkait konteks larangan menjadikan orang-orang kafir sebagai auliâ. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa ketiga ayat di atas menurut At-thabary bermakna larangan menjadikan orang-orang kafir sebagai auliâ bagi umat Islam. Adapun Ath-Thabary memaknai term auliâ dengan pembantu, penolong, penopang atau pelindung.
BIOGRAFI SINGKAT DAN PENAFSIRAN AL-MARAGHI TERHADAP AYAT-AYAT INTERAKSI SOSIAL Hamzah Hamzah; Hilmi Hilmi
Hikami : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir Vol. 2 No. 1 (2021): JUNE
Publisher : STKQ Al-Hikam Depok

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59622/jiat.v2i1.49

Abstract

Konsep interaksi sosial yang terdapat di dalam al-Qur’an mempunyai banyak karakter dan macam-macamnya, setiap ayat yang berbicara tentang interaksi memiliki makna-makna yang bisa dibilang berbeda, namun jika diteliti dengan seksama itu semua adalah satu pemahaman. Seperti yang terdapat pada surah al-Mumtahanah ayat 8 bahwasannya interaksi sosial itu adalah proses timbal balik yang dilakukan oleh seluruh belahan manusia dengan tidak membeda-bedakan antara ras, suku,  ideologi, negara bahkan agama. Dan Allah SWT tidak melarang atau bahkan menganjurkan untuk berinteraksi kepada siapapun.  Dalam artian berintraksi kepada orang-orang yang tidak memerangi kalian. Dan Allah SWT juga menganjurkan untuk berbuat adil dengan mereka semuanya. Berbuat adil dalam masalah interaksi itu tidak ada batasannya, baik kepada sesama agama maupun lintas agama. Dengan syarat interaksi sosial yang terjalin itu tidak melanggar syari’at dan hukum-hukum Allah SWT. Imam Musthafa al-Maraghi    memberikan    penjelasan bahwasannya Interaksi sosial adalah suatu hubungan timbal balik yang dilakukan oleh sekelompok masyarakat. Baik antara individu dengan individu, individu dengan kelompok maupun kelompok dengan kelompok, yang mana tidak saling membedakan atara satu dengan yang lain, baik dari aspek sosial, kasta, posisi, suku, ekonomi bahkan agama.
KIBLAT PERSFEKTIF MUFASSIRIN (Kajian Analitis Penafsiran Ayat-Ayat Kiblat dalam Tafsir Al-Thabari, Ibnu Katsir dan Tafsir Al-Mishbah) Subur Wijaya; Husnul Maab
Hikami : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir Vol. 2 No. 1 (2021): JUNE
Publisher : STKQ Al-Hikam Depok

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59622/jiat.v2i1.50

Abstract

Skripsi ini berjudul “Kiblat Persfektif Mufassirîn (Kajian Analitis Penafsiran Ayat-Ayat Kiblat dalam Tafsir al-Thabari, Ibnu Katsir, dan Tafsir al-Mishbah)”. Pembahsan skripsi ini hanya berfokus pada tiga ayat tentang perpindahan arah Kiblat yang terdapat di dalam surat al-Baqarah ayat 144,142, 115. Peneltian di dalam skripsi ini hadir sebagai upaya reksonstruksi atas beberapa tudingan negatif yang dilontarkan oleh kelompok orientalis mengenai perpindahan arah Kiblat yang terdapat di dalam tiga ayat surat al-Baqarah yang penulis sebutkan di atas. Salah seorang tokoh mereka Gardner mengatakan, jika perpindahan arah Kiblat yang disitir di dalam surat al-Baqarah itu adalah satu bentuk dari adanya kontradiktif yang terkandung di dalam al-Qur’an. Untuk mewujudkan apa yang penulis sebutkan di atas, maka di dalam penelitian ini penulis menggunakan tiga kitab tafsir sebagai data utama yang akan penulis gunakan di dalam melihat bagaimana interpretasi sesungguhnya tentang peralihan arah Kiblat yang disebutkan oleh tiga ayat di dalam surat al-Baqarah tersebut. Diantara tafsir tersebut adalah tafsir al-Thabari, Ibnu Katsir dan tafsir al-Mishbah. Adapun penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan menggunakan kajian pustaka, sumber data yang terdiri dari sumber-sumber tertulis berupa kitab, buku, jurnal makalah dan sumber-sumber otoritatif lainnya yang relevan dengan judul ini. Selain itu, untuk memudahkan proses penelitian ini penulis juga menggunakan pendekatan tematiknya ‘Abdul Hayyi al-Farmawi. Dan diakhir penelitian ini berdasasrkan interpretasi yang disebutkan oleh masing-masing mufassir di dalam kitab tafsirnya, tidak ditemukan adanya indikasi yang mengarah kepada adanya kontradiktif di dalam penafsiran tiga ayat tersebut, bahkan diantara tafsiran antara yang satu dengan yang lainnya cenderung sama dan melengkapi satu sama lain.

Page 10 of 13 | Total Record : 122