cover
Contact Name
Sonia Hanifati
Contact Email
soniahanifati@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
mdvi.perdoski@gmail.com
Editorial Address
Ruko Grand Salemba Jalan Salemba 1 No.22, Jakarta Pusat, Indonesia
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Media Dermato-Venereologica Indonesiana
ISSN : -     EISSN : 26567482     DOI : https://doi.org/10.33820/mdvi.v49i3
Core Subject : Health,
Media dermato Venereologica Indonesiana adalah jurnal open access dan peer-reviewed yang fokus di bidang dermatologi dan venereologi. Jurnal ini menerbitkan artikel asli, laporan kasus, tinjauan pustaka dan komunikasi singkat mengenai kesehatan kulit dan kelamin, diagnosis dan terapi pada bidang kulit dan kelamin dan masalah lainnya di bidang kesehatan kulit dan kelamin.
Arjuna Subject : Kedokteran - Dematologi
Articles 324 Documents
Pendekatan Diagnosis dan Tata Laksana Porifiria Kutan pada Anak Sesilia Sutanto; Githa Rahmayunita; Roro Inge Ade Krisanti; Triana Agustin; Klara Yuliarti; Agassi Suseno Sutarjo
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 53 No 2 (2026): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v53i2.568

Abstract

   Porfiria adalah kelainan metabolisme bawaan (inborn error of metabolism) yang disebabkan oleh defek enzim pada jalur biosintesis heme, sehingga mengakibatkan akumulasi porfirin dan prekursornya. Porfiria kutan pada anak, seperti protoporfiria eritropoietik, porfiria eritropoietik kongenital, dan porfiria hepatoeritropoietik umumnya ditandai dengan fotosensitivitas serta lesi kulit khas pada area terpajan sinar matahari. Manifestasi klinis dapat berupa nyeri, eritema, vesikel atau bula, hingga skar. Selain kelainan kulit, komplikasi sistemik berupa gangguan hepatobilier dan hematologis juga dapat terjadi yang memperburuk prognosis pasien. Diagnosis porfiria pada anak sering terlambat akibat kurangnya kesadaran dan pengetahuan tentang penyakit ini. Pendekatan diagnosis dilakukan dengan pemeriksaan klinis, pemeriksaan kadar porfirin dalam darah, urin, dan feses, serta konfirmasi melalui pemeriksaan genetik. Tata laksana umumnya bersifat suportif dan preventif, terutama dengan menghindari pajanan sinar matahari dan menggunakan fotoproteksi. Oleh karena itu, pemahaman yang baik mengenai penyakit ini penting untuk diagnosis dini dan tatalaksana yang tepat guna mencegah komplikasi serta meningkatkan kualitas hidup pasien.
MANIFESTASI KUTANEUS PADA INFEKSI TUBERKULOSIS DISEMINATA: SEBUAH TINJAUAN SISTEMATIS Arum Novia Ratri; Antonius Wibowo
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 53 No 2 (2026): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v53i2.590

Abstract

   Tuberkulosis (TB) diseminata merupakan bentuk berat dari TB yang terjadi akibat penyebaran hematogen Mycobacterium tuberculosis, yang dapat memengaruhi berbagai organ termasuk kulit. TB kutis tergolong jarang, yakni sekitar 1–1,5% dari seluruh kasus TB ekstraparu, dan sering menjadi tantangan diagnosis karena manifestasi klinis yang bervariasi. Pencarian sistematis dilakukan pada basis data PubMed, Scopus, dan EMBASE untuk artikel yang diterbitkan hingga 10 Maret 2025. Studi yang mendeskripsikan keterlibatan kulit pada TB diseminata, termasuk laporan kasus, serial kasus, dan studi observasional dimasukkan. Data mengenai presentasi klinis, teknik diagnosis, dan tata laksana dikumpulkan dan dianalisis. Sebanyak tujuh studi dengan total 797 pasien memenuhi kriteria inklusi. Beberapa bentuk dari TB kutis antara lain lupus vulgaris, skrofuloderma, TB kutis verukosa, dan TB kutis miliaris akan dibahas manifestasi klinis dan pemeriksaan penunjang yang diperlukan. Beragam bentuk TB kutis ini memerlukan pengenalan dini untuk mendapatkan terapi secepatnya. Manifestasi kulit pada TB diseminata menunjukkan gambaran klinis yang bervariasi sehingga memerlukan kewaspadaan diagnosis tinggi. Konfirmasi diagnosis bergantung pada pemeriksaan histopatologi dan molekuler. Terapi antituberkulosis yang dimulai lebih awal memperbaiki prognosis, sehingga pengenalan dini sangat penting. 
IMPLEMENTASI AI-EMPOWERED E-BOOK PANDUAN KETERAMPILAN KLINIS (PKK) PERDOSKI : AKURASI DAN DETEKSI MANAGEMEN TERAPI (PRELIMINARY OF QUESTIONNAIRE STUDY) Rina Purnamasari; Akbar Fahmi; Abdi Salam; Muhammmad Ridho Isdi; Pratiwi Prasetya Primisawitri; Prasetyadi Mawardi
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 53 No 2 (2026): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v53i2.592

Abstract

   Pendahuluan: Panduan keterampilan klinis (PKK) Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (Perdoski) merupakan pedoman utama bagi dokter spesialis dermatologi, venereologi dan estetika. Di era digital kebutuhan akan akses informasi medis cepat dan akurat mendorong penerapan teknologi artificial intelligence (AI) melalui AI-empowered e-book untuk meningkatkan efisiensi dan mutu layanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi persepsi dan pengalaman dokter spesialis dermatologi, venereologi dan estetika terhadap penggunaan prototipe AI-empowered e-book PKK Perdoski serta mengidentifikasi kebutuhan dan tantangan penerapannya dalam praktik klinis. Metode: Penelitian kuantitatif cross-sectional dengan survei daring terhadap anggota Perdoski. Partisipan mengakses prototipe e-book selama satu minggu dan mengisi kuesioner mengenai pengalaman penggunaan serta akurasi sistem. Hasil: Sebagian besar partisipan adalah perempuan usia 25–35 tahun, 95% bekerja di rumah sakit pemerintah dengan pengalaman bekerja <5 tahun. Sebanyak 59,5% sangat tertarik menggunakan sistem AI. Fitur paling disukai adalah jawaban ringkas (85,7%) dan penggunaan bahasa Indonesia (66,7%). Sebagian besar menilai akurasi >95%. Kekhawatiran utama meliputi keamanan data pasien (71,4%) dan potensi bias AI (54,8%). Simpulan: AI-empowered e-book PKK Perdoski berpotensi meningkatkan pengambilan keputusan klinis dengan penguatan fitur, keamanan, dan aksesibilitas. 
FENOMENA LUCIO: KASUS LANGKA DENGAN MANIFESTASI VASKULITIS KUTANEUS NEKROTIKANS Fitria Fitria; Wahyu Lestari; Risna Handriani; Sitti Hajar; Fitria Dewi Ismida; Wizurai Wisesa; Muhammad Zayyan Nafis
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 53 No 2 (2026): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v53i2.597

Abstract

   Pendahuluan: Fenomena Lucio (FL) merupakan reaksi berat pada kusta tipe lepromatosa leprosy (LL), yang ditandai dengan bercak kemerahan yang nyeri dan secara progresif berkembang menjadi ulserasi hingga nekrosis. Reaksi ini disebabkan oleh invasi endotel yang luas oleh Mycobacterium leprae (M. leprae), yang menyebabkan vaskulitis kutaneus nekrotikans dan diikuti dengan kerusakan jaringan. Kasus: Seorang perempuan berusia 23 tahun datang dengan keluhan bercak merah keunguan yang nyeri pada dahi, tangan, dan telinga. Lesi tersebut berkembang menjadi bula berisi pus yang kemudian pecah membentuk ulkus dan disertai demam. Pemeriksaan slit skin smear dan histopatologis menegakkan diagnosis kusta dengan FL. Diskusi: Vaskulitis kutaneus nekrotikans pada FL menjadi penyebab utama munculnya manifestasi kulit berat berupa iskemia, ulserasi, dan gangguan proses penyembuhan luka. Penatalaksanaan yang cepat dan tepat sangat penting untuk mencegah kerusakan jaringan yang luas. Pada kasus ini, pemberian multi drug therapy (MDT), kortikosteroid, dan perawatan luka menghasilkan perbaikan klinis yang bermakna. Simpulan: Fenomena Lucio merupakan varian reaksi kusta yang jarang dan serius. Pengenalan dini terhadap vaskulitis kutaneus nekrotikans dan manifestasi klinis khasnya sangat penting untuk menegakkan diagnosis yang akurat serta melakukan penatalaksanaan segera guna mencegah kerusakan jaringan yang luas.
ELAINAN KUKU AKIBAT PENGGUNAAN CAT DAN RIAS KUKU Mahda Rizki Liana; Larisa Paramitha Wibawa; Rinadewi Astriningrum; Windy Keumala Budianti; Shannaz Nadia Yusharyahya
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 53 No 2 (2026): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v53i2.608

Abstract

   Kuku memiliki fungsi penting sebagai pelindung ujung jari, penunjang fungsi sensorik, serta aspek estetika yang berperan dalam menunjang penampilan dan kepercayaan diri. Seiring meningkatnya minat terhadap perawatan dan keindahan kuku, penggunaan kosmetik kuku seperti cat kuku, kuku akrilik, cat kuku gel, dan berbagai teknik rias kuku semakin meluas. Meskipun secara umum relatif aman, penggunaan cat dan rias kuku dapat menimbulkan berbagai kelainan kuku akibat faktor mekanis, traumatis, infeksi, maupun reaksi terhadap bahan kimia yang terkandung di dalam produk. Tinjauan pustaka ini bertujuan untuk membahas jenis-jenis kelainan kuku yang dapat terjadi akibat penggunaan cat kuku dan rias kuku, termasuk kuku rapuh, onikolisis, dermatitis kontak, infeksi, perubahan warna kuku, hingga risiko jangka panjang akibat paparan sinar ultraviolet pada penggunaan cat kuku gel. Berbagai bahan seperti formaldehid, akrilat, metakrilat, dan pelarut organik diketahui berperan dalam timbulnya efek samping tersebut. Pemahaman mengenai teknik perawatan kuku, bahan kosmetik yang digunakan, serta potensi komplikasinya sangat penting bagi klinisi agar dapat melakukan diagnosis yang tepat, memberikan edukasi pencegahan, dan menentukan tata laksana yang sesuai pada pasien dengan kelainan kuku akibat kosmetik. 
Perkembangan Terkini Pemeriksaan Diagnostik untuk Frambusia Faiqueen Dhia Salsabila Firlana Adnan; Windy Keumala Budianti; Erdina H. D. Pusponegoro; Yudo Irawan; Mufqi Handaru Priyanto
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 53 No 3 (2026): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v53i3.560

Abstract

   Frambusia merupakan penyakit tropis terabaikan yang disebabkan oleh Treponema pallidum subspesies pertenue. Frambusia terbagi menjadi tiga stadium dan memiliki fase laten antar stadium. Manifestasi klinis dan karakteristik pasien tidak selalu akurat, sehingga pemeriksaan penunjang diperlukan dalam penegakan diagnosis. Uji diagnostik mencakup pemeriksaan mikroskop lapang pandang gelap, serologi, dan molekular. Pemeriksaan langsung dan serologi tidak dapat membedakan subspesies Treponema penyebab frambusia dengan jenis lainnya. Pemeriksaan molekular bersifat paling spesifik, namun prosedurnya kompleks dan mahal. Pemeriksaan radiologi tidak spesifik, akan tetapi dapat digunakan untuk evaluasi keterlibatan tulang baik pada fase awal penyakit maupun stadium tersiernya. Alat dan teknik diagnosis terus dikembangkan untuk meningkatkan akurasi serta menyederhanakan pemeriksaan laboratorium frambusia. Perlu diketahui sensitivitas, spesifisitas, kekurangan, dan kelebihan tiap uji laboratorium sebagai dasar pemilihan pemeriksaan. Uji diagnostik frambusia memiliki peranan penting dalam usaha eradikasi frambusia di Indonesia. Penggunaan uji serologi masih menjadi pilihan utama di Indonesia karena ketersediaannya lebih luas dan mudah digunakan. 
Terapi Eksosom pada Melasma: Bukti Baru dan Aplikasi Klinis: Terapi Eksosom pada Melasma: Bukti Baru dan Aplikasi Klinis Joice Rumondang; Nelva Karmila Jusuf
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 53 No 3 (2026): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v53i3.565

Abstract

   Melasma merupakan gangguan hiperpigmentasi kronis pada wajah dan banyak ditemukan pada wanita dengan warna kulit lebih gelap. Melasma menjadi tantangan klinis karena patogenesisnya multifaktorial, respons terhadap terapi bervariasi, dan kekambuhan sering terjadi. Iritasi akibat modalitas terapi dapat meningkatkan risiko hiperpigmentasi pascainflamasi, sehingga diperlukan terapi tambahan yang menargetkan mekanisme patogenesis. Eksosom, terutama yang berasal dari sel punca mesenkimal, membawa molekul bioaktif yang memodulasi melanogenesis, inflamasi, stres oksidatif, dan homeostasis melanosom. Tinjauan pustaka ini bertujuan mengevaluasi peran dan bukti efektivitas eksosom pada melasma. Pencarian dilakukan melalui PubMed/MEDLINE, Scopus, dan Google Scholar terhadap publikasi 2021–2025 menggunakan kata kunci exosome, extracellular vesicle, melasma, melanogenesis, skin pigmentation, dan hyperpigmentation. Sebanyak 23 artikel digunakan, meliputi penelitian praklinis, klinis, dan tinjauan. Bukti praklinis menunjukkan modulasi melanogenesis melalui MITF, tirosinase, TYRP1/TYRP2, serta degradasi dan transport melanosom. Bukti klinis masih terbatas; studi Wang dkk. dan Proietti dkk. menunjukkan perbaikan pigmentasi setelah kombinasi eksosom dengan prosedur penghantaran. Namun, ukuran sampel kecil, heterogenitas produk dan metode penghantaran, serta keterbatasan follow-up membatasi interpretasi hasil. Eksosom berpotensi sebagai terapi tambahan, tetapi diperlukan penelitian dengan standardisasi produk dan follow-up jangka panjang. 
PIODERMA GANGRENOSUM DENGAN KOINFEKSI MRSA Claudia Tari Rumondang; Eka Komarasari; Prima Kartika Esti
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 53 No 3 (2026): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v53i3.573

Abstract

   Pendahuluan: Pioderma gangrenosum (PG) adalah penyakit inflamasi kulit noninfeksi yang jarang terjadi, terutama pada anak-anak. Diagnosis PG sering menantang karena gejalanya mirip dengan infeksi kulit sehingga diperlukan pemeriksaan dan proses diagnosis banding untuk menyingkirkan kemungkinan penyakit lain. Kasus: Seorang anak laki-laki berusia 7 tahun mengeluhkan luka borok basah yang sangat nyeri dan membesar dengan cepat. Lesi awal berupa lecet kecil yang dicurigai sebagai pintu masuk infeksi. Diagnosis awal adalah frambusia dan pasien diberikan terapi azitromisin, seftriakson, serta metilprednisolon. Hasil pemeriksaan serologi negatif, sehingga diagnosis frambusia disingkirkan dan PG menjadi diagnosis utama. Luka sempat membaik, namun kambuh dua bulan kemudian di tempat yang sama dan muncul lesi baru. Pasien dirawat inap ulang dengan terapi antibiotik intravena dan kortikosteroid. Kultur pus menunjukkan Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus (MRSA). Pasien menerima terapi vankomisin sesuai sensitivitas dan tatalaksana eradikasi MRSA dengan mandi klorheksidin dan salep mupirosin intranasal. Setelah 9 hari perawatan, pasien pulang dengan perbaikan lesi dalam dua minggu. Diskusi: PG pada anak merupakan tantangan diagnosis dan terapi. Koinfeksi MRSA dapat memperburuk kondisi dan memperlambat penyembuhan. Simpulan: Penanganan yang cepat dan tepat dengan kombinasi terapi antiinflamasi dan antibiotik sesuai sensitivitas sangat penting untuk hasil klinis yang optimal.
KEBERHASILAN TERAPI SECUKINUMAB PADA PASIEN LANJUT USIA DENGAN PSORIASIS VULGARIS DERAJAT BERAT: LAPORAN KASUS Winne Irene Putri Yulian; Shannaz Nadia Yusharyahya; Lili Legiawati; Rinadewi Astriningrum; Christie Hamdali; Inosensia Diajeng Kusumo
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 53 No 3 (2026): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v53i3.591

Abstract

   Pendahuluan: Psoriasis merupakan penyakit peradangan kronik residif yang dimediasi oleh sistem imun. Tata laksana psoriasis disesuaikan dengan tipe, derajat keparahan penyakit, dan komorbiditas pasien. Terapi biologik secukinumab merupakan terapi pilihan yang berespons baik pada pasien lanjut usia. Kasus: Laki-laki, 60 tahun, timbul bercak merah tebal bersisik yang semakin meluas sejak 3 bulan yang lalu. Pasien memiliki riwayat psoriasis vulgaris sejak 19 tahun lalu dan sudah mendapatkan terapi topikal, terapi oral metotreksat dan siklosporin, serta injeksi metotreksat, infliximab, golimumab, etanercept, dan secukinumab, tetapi tidak dilanjutkan secara rutin. Pasien ditata laksana dengan injeksi secukinumab subkutan dosis 150 mg, 5 kali loading dose dilanjutkan 3 kali maintenance dose dengan perbaikan klinis yang signifikan. Diskusi: Terapi sistemik biologik merupakan salah satu pilihan tata laksana psoriasis plak derajat sedang hingga berat, termasuk pada pasien lanjut usia. Secukinumab bekerja secara selektif menargetkan dan menghambat interaksi dengan reseptor IL-17. Keberhasilan terapi psoriasis diukur berdasarkan beberapa indikator keparahan kelainan kulit dan kualitas hidup pasien. Keberhasilan terapi dinyatakan dengan tercapainya delta PASI 75 pada minggu ke-12 tanpa efek samping berat. Simpulan: Pemberian secukinumab selama 16 minggu pada pasien lanjut usia dengan psoriasis vulgaris derajat berat menunjukkan perbaikan klinis yang signifikan.
Manifestasi Klinis, Diagnosis, dan Terapi Malasezia Folicullitis : Kasus Serial Evy Ervianti; Linda Astari; Trisiswati Indranarum; Hasnikmah Mappamasing; Medhi Denisa; Regitta Indira; Muhammad Kharis Khamdan
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 53 No 3 (2026): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v53i3.598

Abstract

   Pendahuluan: Folikulitis Malassezia (FM) adalah infeksi superfisial pada folikel rambut yang disebabkan oleh pertumbuhan berlebih ragi lipofilik Malassezia spp. Meskipun secara klinis mirip dengan akne vulgaris, kondisi ini memiliki implikasi etiologis dan terapeutik yang berbeda. Kasus: Laporan kasus ini menampilkan empat kasus FM dengan gambaran klinis berupa papul dan pustul folikular monomorfik yang pruritik, terutama mengenai wajah, punggung, dan dada. Diagnosis dikonfirmasi melalui pemeriksaan klinis, preparat kalium hidroksida (KOH) 10%, pemeriksaan lampu Wood, dan dermoskopi. Semua kasus menunjukkan ciri khas infeksi Malassezia. Diskusi: Faktor risiko kolonisasi Malassezia pada folikel rambut antara lain panas, kelembapan, keringat, oklusi, penggunaan antibiotik atau kortikosteroid, serta imunosupresi. Tata laksana FM mencakup edukasi mengenai perawatan kulit yang tepat, penghindaran faktor pencetus, dan penghentian penggunaan produk oklusif atau berbahan dasar minyak. Simpulan: Diagnosis yang akurat dan terapi yang sesuai umumnya memberikan prognosis sangat baik, dengan perbaikan klinis yang biasanya terlihat dalam dua hingga empat minggu.