cover
Contact Name
Sonia Hanifati
Contact Email
soniahanifati@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
mdvi.perdoski@gmail.com
Editorial Address
Ruko Grand Salemba Jalan Salemba 1 No.22, Jakarta Pusat, Indonesia
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Media Dermato-Venereologica Indonesiana
ISSN : -     EISSN : 26567482     DOI : https://doi.org/10.33820/mdvi.v49i3
Core Subject : Health,
Media dermato Venereologica Indonesiana adalah jurnal open access dan peer-reviewed yang fokus di bidang dermatologi dan venereologi. Jurnal ini menerbitkan artikel asli, laporan kasus, tinjauan pustaka dan komunikasi singkat mengenai kesehatan kulit dan kelamin, diagnosis dan terapi pada bidang kulit dan kelamin dan masalah lainnya di bidang kesehatan kulit dan kelamin.
Arjuna Subject : Kedokteran - Dematologi
Articles 305 Documents
Koilositosis: Efek Sitopatik dari Infeksi Human Papilloma Virus Cut Aigia Wulan Safitri; Rusetiyanti, Nurwestu; Arkania, Nabila
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 52 No 4 (2025): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v52i4.572

Abstract

Koilositosis merupakan perubahan sitopatologis khas akibat infeksi human papillomavirus (HPV) pada sel epitel skuamosa anogenital yang ditandai dengan pembesaran inti, vakuolisasi sitoplasma, dan batas inti yang tidak teratur. HPV merupakan virus deoxyribo nucleic acid (DNA) yang menyebabkan berbagai penyakit, mulai dari kutil anogenital hingga kanker serviks. Aktivitas protein onkogenik HPV, seperti E6 dan E7, memainkan peran penting dalam patogenesis koilositosis. Koilositosis sering ditemukan pada lesi prakanker, terutama cervical intraepithelial neoplasia (CIN). Deteksi koilositosis merupakan temuan sitopatologis penting, berfungsi sebagai petunjuk diagnosis infeksi HPV, penanda pada skrining kanker serviks, dan dasar strategi manajemen infeksi HPV. Diperlukan pengetahuan dasar terkait proses infeksi HPV serta nilai diagnostik dari temuan koilosit sehingga pemantauan dan pendekatan berbasis risiko dalam manajemen infeksi HPV untuk mencegah progresi lesi menjadi kanker invasif dapat terlaksana dengan baik. 
LUPUS VULGARIS REGIO GENU SINISTRA: LAPORAN KASUS DIAGNOSIS HISTOPATOLOGIS DAN RESPONS TERHADAP OBAT ANTITUBERKULOSIS Matthew, Cornelia Kartik; Sutedja, Gina Triana; Manurung, Evalina P.
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 52 No 4 (2025): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v52i4.574

Abstract

Pendahuluan: Lupus vulgaris merupakan bentuk kronik tuberkulosis kutis yang berkembang perlahan, umumnya berupa plak eritematosa berskuama pada area ekstensor. Diagnosis sering terlambat karena menyerupai dermatosis kronik lain, sehingga diperlukan konfirmasi histopatologi. Kasus: Dilaporkan satu kasus seorang perempuan usia 39 tahun yang datang dengan keluhan bercak merah disertai rasa gatal di lutut kiri. Evaluasi dilakukan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik umum dan dermatologis, pemeriksaan penunjang berupa foto toraks, uji laboratorium darah lengkap, serta pemeriksaan histopatologi kulit. Ditemukan plak multipel eritematosa berbatas tegas dengan skuama kasar pada regio genu sinistra. Histopatologi menunjukkan granuloma tuberkuloid dengan sel epitelioid, sel datia Langhans, dan fokus nekrosis sugestif perkijuan. Kultur dan radiologi paru tidak menunjukkan kelainan. Terapi kombinasi obat antituberkulosis selama enam bulan menghasilkan perbaikan klinis berupa makula hiperpigmentasi tanpa ulserasi. Diskusi: Kasus ini menunjukkan bahwa lupus vulgaris merupakan bentuk tuberkulosis kutis yang bersifat pausibasiler, sehingga pemeriksaan bakteriologis dan radiologis dapat memberikan hasil negatif. Oleh karena itu, penegakan diagnosis memerlukan korelasi antara gambaran klinis, temuan histopatologis, serta evaluasi respons terhadap terapi antituberkulosis. Tidak ditemukannya keterlibatan sistemik pada kasus ini menegaskan bahwa lupus vulgaris dapat muncul sebagai manifestasi kutan primer. Kesimpulan: Diagnosis lupus vulgaris memerlukan pendekatan multidisipliner yang melibatkan dokter spesialis dermatologi dan patologi anatomi untuk memastikan diagnosis dan menyingkirkan infeksi sistemik. Pemberian obat antituberkulosis jangka panjang memberikan hasil baik pada kasus dengan manifestasi kutan tanpa keterlibatan sistemik.
Studi STUDI RETROSPEKTIF PROFIL KONDILOMA AKUMINATA DI POLIKLINIK KULIT DAN KELAMIN RSUD WANGAYA DENPASAR PERIODE NOVEMBER 2023 - NOVEMBER 2024: Dewa Ayu Putu Mitha Paramitha Rahayu1, Grady1, dr. Tjok Dalem Pemayun, Sp. D.V.E., FINSDV, FAADV2 1Dokter Magang di Rumah Sakit Umum Wangaya Denpasar, Bali, Indonesia 2Departemen Penyakit Kulit dan Kelamin Rumah Sakit Umum Daerah Wangaya Denpasar, Bali, Indonesia *Penulis Koresponden: Dewa Ayu Putu Mitha Paramitha Rahayu Email: Mithaparamitha185@gmail.c RAHAYU, Dewa Ayu Putu Mitha Paramitha; Grady, Grady; Pemayun, Tjok Dalem
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 52 No 4 (2025): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v52i4.585

Abstract

Pendahuluan: Kutil anogenital (KAG), dikenal sebagai kondiloma akuminata, adalah infeksi menular seksual yang paling umum di seluruh dunia, disebabkan oleh human papillomavirus (HPV), tipe 6 dan 11 yang ditularkan melalui hubungan seksual. Tingginya angka kejadian KAG, disertai ketidaknyamanan lokal, gangguan psikososial, dan risiko transformasi maligna menjadi masalah kesehatan di masyarakat. Akan tetapi, karakteristik demografis dan klinis pasien KAG di rumah sakit daerah di Indonesia, khususnya di Bali, masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik epidemiologi dan pola tata laksana KAG di poliklinik kulit dan kelamin sebuah rumah sakit rujukan daerah di Denpasar, guna memberikan data dasar bagi pengembangan strategi pencegahan dan penatalaksanaan yang lebih efektif. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif retrospektif pasien KAG yang berkunjung ke poliklinik kulit dan kelamin RSUD Wangaya Denpasar pada periode November 2023 hingga November 2024. Data pasien diperoleh dan diekstraksi dari rekam medis elektronik RSUD Wangaya. Hasil: Selama periode penelitian 1 tahun, dari total 762 pasien yang berkunjung, sebanyak 32 pasien didiagnosis kutil anogenital, dengan prevalensi 4,19%. KAG lebih banyak ditemukan pada laki-laki (59,4%), dengan insidensi tertinggi pada kelompok usia 17–25 tahun (43,8%). Sebagian besar pasien berpendidikan terakhir SMA (56,2%) dan bekerja di sektor swasta (56,3%). Riwayat hubungan seksual lebih dari satu pasangan dilaporkan 53,1% pasien. Terapi yang umum diberikan adalah asam trikloroasetat (TCA) (56,2%). Kesimpulan: Prevalensi kutil anogenital di rumah sakit tergolong tinggi, dengan variasi karakteristik pasien yang cukup luas. Temuan ini diharapkan dapat menjadi dasar pengembangan strategi pencegahan dan tata laksana yang lebih efektif. 
A NEUROFIBROMATOSIS TYPE 1 WITH VITILIGO: A CASE REPORT Gartika, Ivan Pratama; Mawu, Ferra Olivia; Kapantow, Marlyn Grace
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 52 No 4 (2025): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v52i4.588

Abstract

Pendahuluan: Neurofibromatosis tipe 1 (NF1) adalah gangguan autosomal dominan kompleks yang disebabkan oleh mutasi germline pada gen penekan tumor NF1. Vitiligo merupakan penyakit depigmentasi yang bisa didapatkan pada kulit, membran mukosa, dan rambut dengan karakteristik khas berupa makula putih. Pada studi ini, kami melaporkan suatu kasus pria dengan NF1 dan vitiligo. Kasus: Seorang pria usia 36 tahun datang dengan benjolan di seluruh tubuh sejak 26 tahun yang lama kelamaan bertambah banyak dan membesar. Sejak satu tahun lalu, pasien mulai mengeluh timbul bercak warna putih pada kedua tangan dan kaki tanpa rasa gatal. Gangguan pendengaran, keseimbangan, atau pandangan kabur disangkal oleh pasien. Status dermatologis menunjukkan papul dan nodul sewarna kulit serta makula hiperpigmentasi multipel pada seluruh tubuh. Pada kedua tangan dan kaki, tampak makula hipopigmentasi multipel, berbatas tegas tanpa adanya skuama, erosi, maupun ekskoriasi. Pemeriksaan histopatologi mengonfirmasi diagnosis neurofibromatosis tipe 1. Pasien didiagnosis dengan NF1 dan vitiligo. Diskusi: NF1 merupakan kondisi yang cukup sering ditemukan. Vitiligo juga merupakan salah satu kondisi yang tidak jarang. Akan tetapi, koeksistensi keduanya jarang ditemukan dan telah dikaitkan dengan teori genetik serta sistem imun. Kesimpulan: Neurofibromatosis tipe 1 merupakan kondisi yang sering ditemukan, namun kondisi yang terjadi bersamaan dengan vitiligo merupakan kasus yang jarang. Kami melaporkan suatu kasus pria dengan neurofibromatosis tipe 1 disertai vitiligo.
Tatalaksana Dermatitis Radiasi Widyastuti; Kodrat, Henry
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 53 No 1 (2026): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v53i1.472

Abstract

   Dermatitis radiasi adalah peradangan pada kulit yang diakibatkan oleh radiasi. Dermatitis radiasi merupakan efek samping radioterapi yang paling sering dijumpai. Beberapa penelitian telah dilakukan untuk mencari solusi terkait dermatitis radiasi, mulai dari teknik radiasi modern yang meminimalisir efek samping, hingga obat-obatan untuk menangani dermatitis radiasi. Walaupun demikian, dermatitis radiasi masih sering dijumpai sehingga menyebabkan efek yang tidak nyaman pada pasien hingga terhentinya pengobatan. Telaah sistematis ini bertujuan untuk membahas berbagai macam tata laksana yang direkomendasikan dalam penanganan dermatitis radiasi.Penelusuran literatur dikerjakan sesuai dengan panduan the Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analysis (PRISMA). Pencarian artikel dilakukan melalui Pubmed, Cochrane dan Embase dengan mencari studi yang terkait dengan tatalaksana dermatitis radiasi pada radioterapi.Dari penelusuran literatur, didapatkan 63 artikel yang teridentifikasi. Di antaranya, didapatkan sebelas artikel yang memenuhi kriteria inklusi. Sebanyak 1307 pasien dengan keganasan termasuk dalam studi-studi ini. Terdapat empat metode penanganan dermatitis radiasi, meliputi penggunaan kortikosteroid topikal, penggunaan topikal nonkortikosteroid, penggunaan fotobiomodulasi, dan juga teknik mencuci area radiasi. Luaran yang dinilai pada penelitian ini adalah kejadian dermatitis radiasi derajat >2 , gejala atau keluhan terkait dengan kulit, dan penilaian kualitas hidup pasien. Pasien yang mengalami dermatitis radiasi dapat direkomendasikan pemberian kortikosteroid topikal, penggunaan fotobiomodulasi dan edukasi mengenai teknik mencuci area radiasi yang terbukti mengurangi derajat dermatitis radiasi. Penggunaan topikal nonkortikosteroid masih belum terbukti untuk mengurangi derajat keparahan dermatitis radiasi. Masih diperlukan penelitian lanjutan untuk menilai perbandingan dua metode yang berbeda dalam menangani dermatitis radiasi.
DERMATOMIOSITIS KLASIK DENGAN ANTI-Mi-2 ANTIBODY POSITIF: SEBUAH LAPORAN KASUS JARANG DENGAN PROGNOSIS BAIK: Laurensia, Riani; Meisyah Fitri, Eyleny; Keumala Budianti, Windy; Rihatmadja, Rahadi; Novianto, Endi; Pranathania, Andravina
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 53 No 1 (2026): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v53i1.513

Abstract

Pendahuluan: Dermatomiositis (DM) merupakan penyakit jaringan ikat langka yang ditandai manifestasi kulit khas, kelemahan otot progresif, serta keterlibatan organ multisistem. Pemeriksaan myositis-specific autoantibodies (MSA) berhubungan dengan fenotip klinis dan prognosis. Kasus: Laki-laki 36 tahun didiagnosis DM klasik dengan lesi khas berupa Gottron sign, Gottron papules, v-neck sign, shawl sign, holster sign, serta kelemahan otot progresif bilateral. Pemeriksaan laboratorium didapatkan peningkatan enzim lactate dehydrogenase (LDH), alanine aminotransferase (ALT), aspartate transferase (AST), C-reactive protein (CRP), ANA IF dengan titer >1:1000 pola homogen, creatinine kinase (CK), CKMB, serta troponin I. Panel MSA didapatkan hasil positif terhadap anti-Mi-2a dan anti-Mi-2b. Pemeriksaan elektromiografi (EMG) sesuai dengan immune-mediated myopathy. Pemeriksaan histopatologis didapatkan akantosis tidak teratur, ortokeratosis, basal vacuolar alteration, keratin plug, pigment incontinence, kolagen papila dermis homogen, sebukan perivaskular ringan, deposisi musin sesuai dengan gambaran DM. Lesi kulit perbaikan dan tidak ada lesi baru, namun kelemahan pada tangan, tungkai atas, dan tungkai bawah masih dirasakan sama dengan pemberian terapi metilprednisolon 32 mg setara prednison 0,5 mg/kgBB dan metotreksat 10 mg/minggu selama 2 minggu. Diskusi: Patogenesis penyakit DM sangat kompleks dipengaruhi oleh genetik, lingkungan, dan gangguan sistem imun dengan peran autoantibodi, adanya inflamasi jaringan, kerusakan sel parenkim, dan vaskulopati. Pemeriksaan MSA membantu penegakan diagnosis DM atipikal, mengidentifikasi manifestasi keganasan, pilihan tata laksana, dan memengaruhi prognosis. Anti-Mi-2 antibody positif berhubungan dengan angka kejadian penyakit paru interstisial dan keganasan lebih rendah, serta respon terapi dan luaran klinis yang lebih baik. Simpulan: Pemeriksaan MSA dengan hasil anti-Mi-2 antibody positif pada DM dapat digunakan sebagai penanda diagnostik dan prognostik yang baik.
PITYRIASIS LICHENOIDES PASCA VAKSINASI mRNA COVID-19 Laurensia, Riani; Nadia Yusharyahya, Shannaz; Legiawati, Lili; Astriningrum, Rinadewi; Rihatmadja, Rahadi; Andrianus, Kenny
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 53 No 1 (2026): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v53i1.514

Abstract

   Pendahuluan: Pityriasis lichenoides (PL) merupakan spektrum kelainan kulit yang tumpang tindih secara klinis maupun histopatologis dengan dua bentuk utama yaitu pityriasis lichenoides et varioliformis acuta (PLEVA) dan pityriasis lichenoides chronica (PLC). Sekitar 20% PL terjadi pada anak-anak dan dewasa muda. Beberapa publikasi ilmiah melaporkan PL pascavaksinasi coronavirus disease (COVID-19). Kasus: Seorang laki-laki, 64 tahun didiagnosis PL, 4 hari pascavaksinasi COVID-19 booster pertama Pfizer® sejak 14 bulan lalu. Pemeriksaan dermoskopi ditemukan dotted vessels, yellowish-orange structureless area, vesicles with red background. Pemeriksaan laboratorium didapatkan peningkatan D-dimer 490 mG/L dan IgE 730 IU/ml. Pemeriksaan histopatologi kulit sesuai PLEVA, ditemukannya eosinofil dipertimbangkan sebagai hipersensitivitas vaksin. Perbaikan klinis signifikan tercapai dengan terapi metilprednisolon setara prednison 0.5 mg/kgBB dan doksisiklin selama 2 minggu. Diskusi: : Patogenesis PL disebabkan oleh peningkatan kompleks imun, deposit IgM, dan C3 pada vaskular taut dermo-epidermal, serta kumpulan sel sitotoksik pada dermis dan epidermis yang berkorelasi dengan hipersensitivitas tipe lambat terhadap bahan vaksin. Pemeriksaan histopatologi membantu menegakkan diagnosis. Terapi kortikosteroid dan doksisiklin memberikan respon terapi dan luaran klinis yang baik pada P. Simpulan: Kasus PL pascavaksinasi Pfizer® COVID-19, perbaikan klinis dengan terapi kortikosteroid dan doksisiklin, serta pentingnya mengawasi efek samping pascavaksinasi, pemeriksaan klinis dan evaluasi histopatologi penting dalam penegakan diagnosis.
Sebuah Tinjauan Kasus Karakteristik Dermatosis Akibat Sengatan Ubur - Ubur di Indonesia Valencia, Anita; Hidajat, Dedianto; Susani, Yoga Pamungkas
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 53 No 1 (2026): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v53i1.538

Abstract

   Indonesia memiliki garis pantai yang luas dan keanekaragaman spesies laut yang tinggi, sehingga sengatan ubur-ubur merupakan masalah kesehatan masyarakat yang signifikan. Salah satu spesies yang sering dilaporkan adalah Physalia physalis, yang dapat menyebabkan gejala berat. Tinjauan literatur ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis karakteristik klinis dermatosis yang disebabkan oleh sengatan ubur-ubur di Indonesia, serta mengevaluasi efektivitas penanganan awal dan tingkat kesadaran masyarakat terhadap bahaya sengatan ubur-ubur. Tinjauan literatur sistematis dilakukan menggunakan database seperti PubMed, ScienceDirect, Google Scholar, dan SpringerLink, serta jurnal nasional dan lokal yang terkait dengan dermatologi, kesehatan masyarakat, dan biologi kelautan yang diterbitkan dalam 10-20 tahun terakhir. Beberapa kasus sengatan ubur-ubur dilaporkan di sepanjang pantai selatan Gunung Kidul, Yogyakarta. Pada periode 2011–2021, ratusan wisatawan dan penduduk lokal dilaporkan tersengat dengan gejala berupa sesak napas, gatal, hingga rasa terbakar pada kulit. Physalia physalis teridentifikasi pada beberapa insiden yang berkaitan dengan perubahan musiman dan migrasi ubur-ubur. Sengatan ubur-ubur merupakan ancaman signifikan bagi komunitas pesisir dan wisatawan di Indonesia. Perlu ada peningkatan kesadaran dan edukasi di kalangan pengunjung pantai dan otoritas setempat untuk mengurangi risiko terkait sengatan ubur-ubur. 
Acrokeratosis Verruciformis of Hopf: Atypical Clinical Presentation Yolanda, Keiko; Rihatmadja, Rahadi; Nadia Yusharyahya, Shannaz
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 53 No 1 (2026): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v53i1.539

Abstract

   Pendahuluan: Acrokeratosis verruciformis of Hopf atau acrokeratosis verruciformis (AKV) merupakan kelainan genodermatosis langka yang diturunkan secara autosomal dominan dengan karakteristik klinis berupa papul verukosa sewarna kulit hiperkeratotik multipel, dengan predileksi utama pada punggung tangan, kaki, lutut, siku, dan lengan. Kasus: Seorang pasien laki-laki usia 70 tahun dengan papul hiperkeratotik sewarna kulit multipel pada lengan bawah kanan. Tidak ada keluhan subjektif berupa gatal atau nyeri. Awalnya di diagnosis sebagai liken amiloidosis dengan diagnosis banding liken nitidus. Setelah dilakukan pemeriksaan histopatologis ditemukan gambaran hiperkeratosis masif, akantosis, hiperplasia psoriasiformis, parakeratosis setempat, hipergranulosis, peningkatan melanin, melanosit cukup meningkat, terdapat penonjolan pada epidermis yang menyerupai gambaran “church spire”. Oleh karena itu, diagnosis yang ditegakkan menjadi Acrokeratosis verruciformis of Hopf. Diskusi: Penegakan diagnosis AKV berdasarkan klinis dan histopatologis. Diagnosis banding penyakit Darier juga perlu dipertimbangkan. AKV biasanya terjadi saat masa kanak-kanak namun dapat terjadi pada akhir dekade kelima. Pada pasien geriatri ini didapatkan presentasi klinis tidak khas namun didukung gambaran histopatologi yang patognomonik yaitu “church spire”. Simpulan: Korelasi dari klinikopatologi penting untuk menegakkan diagnosis AKV dengan gejala klinis atipik. Penting untuk mengetahui tanda patognomik yang khas agar diagnosis penyakit langka AKV ini dapat ditegakkan sesegera mungkin.
Klinikopatologi Pemfigus Vulgaris dan Pengukuran Aktivitas Penyakit Pemphigus dengan Pemphigus Disease Area Index astarina, awalia; A Nababan, Kristo
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 53 No 1 (2026): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v53i1.547

Abstract

   Pendahuluan: Pemfigus vulgaris (PV) adalah penyakit autoimun yang ditandai dengan lepuh kendur dan erosi, yang tidak hanya melibatkan kulit, tetapi juga pada mukosa. Pemeriksaan histopatologis dapat membantu penegakan diagnosis. Penentuan lokasi biopsi kulit merupakan hal yang penting dalam pemeriksaan histopatologis. Kasus: Dilaporkan satu kasus pemfigus vulgaris pada pasien wanita berusia 54 tahun dengan keluhan utama munculnya kulit lepuh yang mengelupas yang menyakitkan di seluruh tubuh sejak satu bulan yang lalu. Pada pemeriksaan klinis, ditemukan vesikel yang pecah dengan dasar eritematosa, erosi dengan krusta hitam di wajah; erosi multipel akibat lepuh yang pecah ditemukan generalisata; beberapa bula dengan ukuran milier-plakat ditemukan di abdomen, trunkus posterior, ekstremitas atas bilateral, dan femoralis bilateral. Hasil pemeriksaan Nikolsky sign positif serta pemeriksaan histopatologis ditemukan bula intraepidermal supabasal dengan gambaran “row of tombstone” pada dasar bula dan akantolisis. Pasien didiagnosis dengan PV dan berdasarkan Pemphigus Disease Area Index (PDAI) didapatkan skor 36 (derajat berat). Kortikosteroid dosis tinggi diberikan sebagai terapi utama pada pasien. Perbaikan klinis diamati setelah 10 hari terapi, dan resolusi lengkap dicapai setelah 14 hari. Steroid dihentikan setelah empat minggu, dan tidak ada kekambuhan yang diamati setelah empat bulan masa tindak lanjut. Diskusi: Pemfigus vulgaris ditandai akantolisis dengan gambaran khas bula suprabasal dengan “row of tombstone”. Penilaian keparahan dan respons terapi menggunakan PDAI. Kortikosteroid sistemik efektif mengendalikan penyakit. Simpulan: Histopatologi menegakkan diagnosis, dan PDAI membantu evaluasi penyakit. Penatalaksanaan dengan kortikosteroid memberikan perbaikan klinis yang baik.