cover
Contact Name
Sonia Hanifati
Contact Email
soniahanifati@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
mdvi.perdoski@gmail.com
Editorial Address
Ruko Grand Salemba Jalan Salemba 1 No.22, Jakarta Pusat, Indonesia
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Media Dermato-Venereologica Indonesiana
ISSN : -     EISSN : 26567482     DOI : https://doi.org/10.33820/mdvi.v49i3
Core Subject : Health,
Media dermato Venereologica Indonesiana adalah jurnal open access dan peer-reviewed yang fokus di bidang dermatologi dan venereologi. Jurnal ini menerbitkan artikel asli, laporan kasus, tinjauan pustaka dan komunikasi singkat mengenai kesehatan kulit dan kelamin, diagnosis dan terapi pada bidang kulit dan kelamin dan masalah lainnya di bidang kesehatan kulit dan kelamin.
Arjuna Subject : Kedokteran - Dematologi
Articles 294 Documents
Koilositosis: Efek Sitopatik dari Infeksi Human Papilloma Virus Cut Aigia Wulan Safitri; Rusetiyanti, Nurwestu; Arkania, Nabila
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 52 No 4 (2025): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v52i4.572

Abstract

Koilositosis merupakan perubahan sitopatologis khas akibat infeksi human papillomavirus (HPV) pada sel epitel skuamosa anogenital yang ditandai dengan pembesaran inti, vakuolisasi sitoplasma, dan batas inti yang tidak teratur. HPV merupakan virus deoxyribo nucleic acid (DNA) yang menyebabkan berbagai penyakit, mulai dari kutil anogenital hingga kanker serviks. Aktivitas protein onkogenik HPV, seperti E6 dan E7, memainkan peran penting dalam patogenesis koilositosis. Koilositosis sering ditemukan pada lesi prakanker, terutama cervical intraepithelial neoplasia (CIN). Deteksi koilositosis merupakan temuan sitopatologis penting, berfungsi sebagai petunjuk diagnosis infeksi HPV, penanda pada skrining kanker serviks, dan dasar strategi manajemen infeksi HPV. Diperlukan pengetahuan dasar terkait proses infeksi HPV serta nilai diagnostik dari temuan koilosit sehingga pemantauan dan pendekatan berbasis risiko dalam manajemen infeksi HPV untuk mencegah progresi lesi menjadi kanker invasif dapat terlaksana dengan baik. 
LUPUS VULGARIS REGIO GENU SINISTRA: LAPORAN KASUS DIAGNOSIS HISTOPATOLOGIS DAN RESPONS TERHADAP OBAT ANTITUBERKULOSIS Matthew, Cornelia Kartik; Sutedja, Gina Triana; Manurung, Evalina P.
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 52 No 4 (2025): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v52i4.574

Abstract

Pendahuluan: Lupus vulgaris merupakan bentuk kronik tuberkulosis kutis yang berkembang perlahan, umumnya berupa plak eritematosa berskuama pada area ekstensor. Diagnosis sering terlambat karena menyerupai dermatosis kronik lain, sehingga diperlukan konfirmasi histopatologi. Kasus: Dilaporkan satu kasus seorang perempuan usia 39 tahun yang datang dengan keluhan bercak merah disertai rasa gatal di lutut kiri. Evaluasi dilakukan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik umum dan dermatologis, pemeriksaan penunjang berupa foto toraks, uji laboratorium darah lengkap, serta pemeriksaan histopatologi kulit. Ditemukan plak multipel eritematosa berbatas tegas dengan skuama kasar pada regio genu sinistra. Histopatologi menunjukkan granuloma tuberkuloid dengan sel epitelioid, sel datia Langhans, dan fokus nekrosis sugestif perkijuan. Kultur dan radiologi paru tidak menunjukkan kelainan. Terapi kombinasi obat antituberkulosis selama enam bulan menghasilkan perbaikan klinis berupa makula hiperpigmentasi tanpa ulserasi. Diskusi: Kasus ini menunjukkan bahwa lupus vulgaris merupakan bentuk tuberkulosis kutis yang bersifat pausibasiler, sehingga pemeriksaan bakteriologis dan radiologis dapat memberikan hasil negatif. Oleh karena itu, penegakan diagnosis memerlukan korelasi antara gambaran klinis, temuan histopatologis, serta evaluasi respons terhadap terapi antituberkulosis. Tidak ditemukannya keterlibatan sistemik pada kasus ini menegaskan bahwa lupus vulgaris dapat muncul sebagai manifestasi kutan primer. Kesimpulan: Diagnosis lupus vulgaris memerlukan pendekatan multidisipliner yang melibatkan dokter spesialis dermatologi dan patologi anatomi untuk memastikan diagnosis dan menyingkirkan infeksi sistemik. Pemberian obat antituberkulosis jangka panjang memberikan hasil baik pada kasus dengan manifestasi kutan tanpa keterlibatan sistemik.
Studi STUDI RETROSPEKTIF PROFIL KONDILOMA AKUMINATA DI POLIKLINIK KULIT DAN KELAMIN RSUD WANGAYA DENPASAR PERIODE NOVEMBER 2023 - NOVEMBER 2024: Dewa Ayu Putu Mitha Paramitha Rahayu1, Grady1, dr. Tjok Dalem Pemayun, Sp. D.V.E., FINSDV, FAADV2 1Dokter Magang di Rumah Sakit Umum Wangaya Denpasar, Bali, Indonesia 2Departemen Penyakit Kulit dan Kelamin Rumah Sakit Umum Daerah Wangaya Denpasar, Bali, Indonesia *Penulis Koresponden: Dewa Ayu Putu Mitha Paramitha Rahayu Email: Mithaparamitha185@gmail.c RAHAYU, Dewa Ayu Putu Mitha Paramitha; Grady, Grady; Pemayun, Tjok Dalem
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 52 No 4 (2025): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v52i4.585

Abstract

Pendahuluan: Kutil anogenital (KAG), dikenal sebagai kondiloma akuminata, adalah infeksi menular seksual yang paling umum di seluruh dunia, disebabkan oleh human papillomavirus (HPV), tipe 6 dan 11 yang ditularkan melalui hubungan seksual. Tingginya angka kejadian KAG, disertai ketidaknyamanan lokal, gangguan psikososial, dan risiko transformasi maligna menjadi masalah kesehatan di masyarakat. Akan tetapi, karakteristik demografis dan klinis pasien KAG di rumah sakit daerah di Indonesia, khususnya di Bali, masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik epidemiologi dan pola tata laksana KAG di poliklinik kulit dan kelamin sebuah rumah sakit rujukan daerah di Denpasar, guna memberikan data dasar bagi pengembangan strategi pencegahan dan penatalaksanaan yang lebih efektif. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif retrospektif pasien KAG yang berkunjung ke poliklinik kulit dan kelamin RSUD Wangaya Denpasar pada periode November 2023 hingga November 2024. Data pasien diperoleh dan diekstraksi dari rekam medis elektronik RSUD Wangaya. Hasil: Selama periode penelitian 1 tahun, dari total 762 pasien yang berkunjung, sebanyak 32 pasien didiagnosis kutil anogenital, dengan prevalensi 4,19%. KAG lebih banyak ditemukan pada laki-laki (59,4%), dengan insidensi tertinggi pada kelompok usia 17–25 tahun (43,8%). Sebagian besar pasien berpendidikan terakhir SMA (56,2%) dan bekerja di sektor swasta (56,3%). Riwayat hubungan seksual lebih dari satu pasangan dilaporkan 53,1% pasien. Terapi yang umum diberikan adalah asam trikloroasetat (TCA) (56,2%). Kesimpulan: Prevalensi kutil anogenital di rumah sakit tergolong tinggi, dengan variasi karakteristik pasien yang cukup luas. Temuan ini diharapkan dapat menjadi dasar pengembangan strategi pencegahan dan tata laksana yang lebih efektif. 
A NEUROFIBROMATOSIS TYPE 1 WITH VITILIGO: A CASE REPORT Gartika, Ivan Pratama; Mawu, Ferra Olivia; Kapantow, Marlyn Grace
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 52 No 4 (2025): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v52i4.588

Abstract

Pendahuluan: Neurofibromatosis tipe 1 (NF1) adalah gangguan autosomal dominan kompleks yang disebabkan oleh mutasi germline pada gen penekan tumor NF1. Vitiligo merupakan penyakit depigmentasi yang bisa didapatkan pada kulit, membran mukosa, dan rambut dengan karakteristik khas berupa makula putih. Pada studi ini, kami melaporkan suatu kasus pria dengan NF1 dan vitiligo. Kasus: Seorang pria usia 36 tahun datang dengan benjolan di seluruh tubuh sejak 26 tahun yang lama kelamaan bertambah banyak dan membesar. Sejak satu tahun lalu, pasien mulai mengeluh timbul bercak warna putih pada kedua tangan dan kaki tanpa rasa gatal. Gangguan pendengaran, keseimbangan, atau pandangan kabur disangkal oleh pasien. Status dermatologis menunjukkan papul dan nodul sewarna kulit serta makula hiperpigmentasi multipel pada seluruh tubuh. Pada kedua tangan dan kaki, tampak makula hipopigmentasi multipel, berbatas tegas tanpa adanya skuama, erosi, maupun ekskoriasi. Pemeriksaan histopatologi mengonfirmasi diagnosis neurofibromatosis tipe 1. Pasien didiagnosis dengan NF1 dan vitiligo. Diskusi: NF1 merupakan kondisi yang cukup sering ditemukan. Vitiligo juga merupakan salah satu kondisi yang tidak jarang. Akan tetapi, koeksistensi keduanya jarang ditemukan dan telah dikaitkan dengan teori genetik serta sistem imun. Kesimpulan: Neurofibromatosis tipe 1 merupakan kondisi yang sering ditemukan, namun kondisi yang terjadi bersamaan dengan vitiligo merupakan kasus yang jarang. Kami melaporkan suatu kasus pria dengan neurofibromatosis tipe 1 disertai vitiligo.