cover
Contact Name
Lukman Hakim
Contact Email
hakim@iainponorogo.ac.id
Phone
+6285804056710
Journal Mail Official
muslim.heritage@iainponorogo.ac.id
Editorial Address
Jalan Pramuka 156 Ponorogo
Location
Kab. ponorogo,
Jawa timur
INDONESIA
Muslim Heritage
ISSN : 2502535X     EISSN : 25025341     DOI : https://doi.org/10.21154/muslimheritage
Muslim Heritage is a double-blind peer-reviewed academic journal published by Institut Agama Islam Negeri Ponorogo. The journal is a semi-annual publication publishing two issues (June and December) each year. It strives to strengthen transdisciplinary studies on issues related to Islam and Muslim societies. Its principal concern includes islamic educations, islamic laws, islamic education management, islamic moderation, islamic social, and islamic economics. The journal reserves as a knowledge exchange platform for researchers, scholars, and authors who dedicate their scholarly interests to expand the horizon of Islamic educations, Islamic laws,and Islamic economics. Muslim Heritage believes in the idea of knowledge for all and an easy-access for every interested reader. All published articles can be accessed through our online platform at https://jurnal.iainponorogo.ac.id/index.php/muslimheritage Since 2016, The Indonesia Ministry for Research and Technology (Kemenristek RI) has granted Muslim Heritage as one of referred publication (accredited Sinta 3).
Articles 173 Documents
STRATEGI PEMASARAN JASA PENDIDIKAN DALAM MENINGKATKAN DAYA SAING FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM IAIN PONOROGO Nafi’ah, Ayu Zahroh; Ngadhimah, Mambaul
MUSLIM HERITAGE Vol 9 No 1 (2024): Muslim Heritage: Jurnal Dialog Islam dengan Realitas
Publisher : Universitas Islam Negeri Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/muslimheritage.v9i1.8343

Abstract

AbstractCompetition among higher education institutions requires overall cost leadership, product differentiation, and user focus. Marketing management is very necessary in universities to build a positive image in maintaining consumer satisfaction. The aim of this research is to describe the marketing of educational services in improving the existence and image of educational institutions, as well as the implementation of the 7P marketing mix at the Faculty of Islamic Economics and Business IAIN Ponorogo. This qualitative descriptive research chose the FEBI IAIN Ponorogo object because it has innovation and product differentiation for graduating students. Interview techniques with internal parties supported by observation and documentation are tools for exploring data. Interactive model analysis is carried out with the stages of data reduction, data presentation and drawing conclusions. The first research finding, the educational service mix strategy is a service activity that aims to maintain customer satisfaction through excellent service, providing quality education and learning, strengthening character education to produce competitive graduates. secondly, the Faculty of Islamic Economics and Business IAIN Ponorogo applies the 7P marketing mix, namely product, promotion, location, price, people, process and infrastructure as a marketing mix strategy to produce graduates of sharia bankers, sharia accountants and sharia microeconomic developers who are internationally competitive and have excellence, competitive, supported by the availability of lecturers, educational staff, infrastructure, various types and programs to develop student talents and interests, affordable costs, and use of digital platforms. AbstrakPersaingan antar institusi pendidikan tinggi memerlukan kepemimpinan biaya secara keseluruhan, diferensiasi produk, dan fokus pengguna. Manajemen pemasaran sangat diperlukan pada perguruan tinggi untuk membangun citra positif dalam menjaga kepuasan konsumen. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pemasaran jasa pendidikan dalam meningkatkan eksistensi dan citra lembaga pendidikan, serta penerapan bauran pemasaran 7P di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IAIN Ponorogo. Penelitian deskriptif kualitatif ini memilih objek FEBI IAIN Ponorogo karena memiliki inovasi dan diferensiasi produk bagi lulusan mahasiswa. Teknik wawancara dengan pihak internal yang didukung dengan observasi dan dokumentasi merupakan alat untuk menggali data. Analisis model interaktif dilakukan dengan tahapan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Temuan penelitian pertama, strategi bauran layanan pendidikan merupakan kegiatan pelayanan yang bertujuan untuk menjaga kepuasan pelanggan melalui pelayanan prima, penyelenggaraan pendidikan dan pembelajaran yang bermutu, penguatan pendidikan karakter hingga menghasilkan lulusan yang berdaya saing. Kedua, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IAIN Ponorogo menerapkan bauran pemasaran 7P yaitu produk, promosi, lokasi, harga, manusia, proses dan infrastruktur sebagai strategi bauran pemasaran untuk menghasilkan lulusan bankir syariah, akuntan syariah dan pengembang mikroekonomi syariah yang berdaya saing internasional dan mempunyai keunggulan. kompetitif, didukung oleh ketersediaan dosen, tenaga kependidikan, infrastruktur, berbagai jenis dan program untuk mengembangkan bakat dan minat mahasiswa, biaya terjangkau, dan pemanfaatan platform digital.
FIKIH E-MONEY: FORMULASI PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP KEPEMILIKAN KARTU E-TOLL PERSPEKTIF MAá¹¢LAHAH MURSALAH Wardani, Aflakhal Ula; Rofiq, Mahbub Ainur
MUSLIM HERITAGE Vol 9 No 1 (2024): Muslim Heritage: Jurnal Dialog Islam dengan Realitas
Publisher : Universitas Islam Negeri Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/muslimheritage.v9i1.8752

Abstract

AbstractTransactions on toll roads, which initially involved cash payments, have now been converted to cashless transactions using e-toll cards. The use of e-toll cards is considered more efficient because it allows faster transactions and reduces congestion on toll roads. However, e-toll cards are a form of unregistered electronic money that does not have a password or PIN. As a result, the e-toll card issuer cannot provide compensation if the e-toll card is damaged or lost. Therefore, e-toll card users feel disadvantaged and their rights as consumers are not fulfilled. This research focuses on discussing the shortcomings of e-toll cards that can cause harm to their users. Furthermore, this research analyzes the importance of legal protection for e-toll card users as a non-cash payment instrument. In addition, this research also analyzes the ideal legal protection recommendations for e-toll card users based on the maslahah mursalah perspective. The research method used is normative legal research with a legal and conceptual approach. The results of this study show that there is a legal vacuum in Bank Indonesia Regulation (PBI) No. 20/6/2018 on electronic money, as it does not provide adequate security for e-toll cards, which fall under the category of unregistered electronic money. Legal protection for e-toll card users is very important because the rights related to convenience, security, and compensation for e-toll card users have not been fully met. Therefore, the ideal legal protection recommendations for e-toll card users from the perspective of maslahah mursalah are to change the e-toll card system to be registered, to provide a password or PIN on the e-toll card, to revise the standard clause to provide compensation for damage or loss of e-toll cards, and to provide facilities through digital wallet applications (e-wallet). To realize these recommendations, of course, government awareness is needed to be more assertive in determining policies. AbstrakTransaksi di jalan tol yang awalnya menggunakan pembayaran tunai, kini telah berubah menjadi non-tunai dengan menggunakan kartu e-toll. Kartu e-toll dianggap lebih efisien karena memungkinkan transaksi lebih cepat dan mengurangi kemacetan di jalan tol. Walaupun demikian, kartu e-toll merupakan uang elektronik unregistered yang tidak dilengkapi dengan password atau PIN. Keadaan ini menyebabkan penerbit kartu e-toll tidak dapat memberikan ganti rugi jika kartu e-toll mengalami kerusakan atau kehilangan. Akibatnya, pengguna kartu e-toll dirugikan dan tidak terpenuhi haknya. Penelitian ini fokus membahas kekurangan pada kartu e-toll yang dapat menyebabkan kerugian bagi penggunanya. Selanjutnya, penelitian ini mengungkap pentingnya perlindungan hukum bagi pengguna kartu e-toll sebagai alat pembayaran non-tunai. Selain itu, penelitian hendak memberikan rekomendasi perlindungan hukum yang ideal terhadap pengguna kartu e-toll berdasarkan perspektif maslahah mursalah. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan konseptual. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat kekosongan hukum dalam Peraturan Bank Indonesia (PBI) nomor 20/6/2018 tentang uang elektronik, karena belum memberikan keamanan yang memadai untuk kartu e-toll sebagai uang elektronik unregistered. Perlindungan hukum bagi pengguna kartu e-toll sangat penting dalam rangka memenuhi hak-hak terkait kenyamanan, keamanan, dan ganti rugi bagi pengguna kartu e-toll yang belum terpenuhi. Oleh karena itu, rekomendasi perlindungan hukum yang ideal terhadap pengguna kartu e-toll dalam perspektif maslahah mursalah yaitu, mengubah sistem kartu e-toll menjadi terdaftar, memberikan password atau PIN, merevisi klausula baku dengan memberikan ganti rugi atas kerusakan atau kehilangan kartu e-toll dan menyediakan fasilitas aplikasi dompet digital (e-wallet). Untuk mewujudkan rekomendasi tersebut, tentunya perlu ada kesadaran pemerintah untuk lebih tegas dalam menentukan kebijakan.
K.H. IMAM ZARKASYI DAN TRANSFORMASI PESANTREN MODERN DI INDONESIA Nurhijjah, Fatia; Hariyanto, Wahid
MUSLIM HERITAGE Vol 9 No 1 (2024): Muslim Heritage: Jurnal Dialog Islam dengan Realitas
Publisher : Universitas Islam Negeri Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/muslimheritage.v9i1.8854

Abstract

AbstractThe current low quality of education is caused by several factors, namely leadership, teachers, students, curriculum, and cooperative networks. Of the existing factors, the one most closely related to the low and advanced quality of education, especially in Islamic boarding schools, is the leader or better known as the kiai. This study aims to analyze the leadership of K.H. Imam Zarkasyi in pioneering modern islamic boarding schools namely To find out the educational leadership strategy of K.H. Imam Zarkasyi and his educational leadership style. This study uses a qualitative approach with the method of library research. The data analysis technique used the content analysis method. This research found the leadership strategy implemented by K.H. Imam Zarkasyi in pioneering modern islamic boarding schools, by benchmarking four world-renowned educational institutions. Then K.H. Imam Zarkasyi reformed his madrasah education system, the pesantren education system, and the institutional system. The leadership style used by K.H. Imam Zarkasyi is by combining 3 styles namely democratic, charismatic, and transformational styles. AbstrakRendahnya mutu pendidikan saat ini disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu kepemimpinan, guru, siswa, kurikulum, dan jaringan kerja sama. Dari faktorfaktor yang ada, yang paling berkaitan erat dengan rendah dan majunya mutu pendidikan terutama di pondok pesantren yaitu pimpinan atau yang lebih dikenal dengan sebutan kiai. Studi ini bertujuan menganalisis kepemimpinan K.H. Imam Zarkasyi dalam merintis pesantren modern yang meliputi strategi dan gaya kepemimpinan K.H. Imam Zarkasyi. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode kepustakaan (library research). Adapun teknik analisis datanya menggunakan metode analisis isi. Studi ini menghasilkan temuan strategi kepemimpinan yang diterapkan oleh K.H. Imam Zarkasyi dalam merintis pesantren modern yaitu dengan melakukan benchmarking dari empat lembaga pendidikan terkenal dunia yang ditindaklanjuti dengan melakukan pembaruan sistem pendidikan madrasah, sistem pendidikan pesantren, dan sistem kelembagaan. Sedangkan gaya kepemimpinan yang digunakan oleh K.H. Imam Zarkasyi yaitu menggabungkan 3 gaya: gaya demokratis, karismatik, dan transformasional.
Instilling Islamic Educational Values Through Madurese Local Cultural Habituation Zainab, Nurul; Haris, Abdul
MUSLIM HERITAGE Vol 10 No 2 (2025): Muslim Heritage: Jurnal Dialog Islam dengan Realitas
Publisher : Universitas Islam Negeri Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/muslimheritage.v10i2.11525

Abstract

This study aims to explore (1) how State Primary School Patereman 2 utilizes local culture as a medium to instill Islamic educational values, and (2) how the process of internalizing Islamic values occurs through Madurese local cultural habituation. Using a qualitative case study approach, the research involved religious teachers, community religious leaders, students participating in kompolan activities, and parents. Data were collected through participatory observation, in-depth interviews, and documentation, and analyzed using the pattern-matching technique with methodological and source triangulation for validity. The findings reveal that kompolan, a distinctive Madurese religious cultural practice, effectively serves as a vehicle for the internalization of Islamic values among students. The process of habituation creates repeated interactions between learners and the local religious environment, enabling the formation of a religious habitus as explained by Bourdieu’s theory of habitus, capital, and field. This study contributes to the understanding of how ethnopedagogical practices grounded in local culture can strengthen Islamic character education in elementary schools. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi (1) bagaimana SD Negeri Patereman 2 memanfaatkan budaya lokal sebagai media penanaman nilai-nilai pendidikan Islam, dan (2) bagaimana proses internalisasi nilai-nilai Islam berlangsung melalui habituasi budaya lokal Madura. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Subjek penelitian meliputi guru pendidikan agama Islam, tokoh agama, siswa yang mengikuti kegiatan kompolan, dan orang tua siswa. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi, kemudian dianalisis dengan teknik pattern matching serta triangulasi metode dan sumber untuk menguji validitas data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kompolan, sebagai praktik budaya religius khas masyarakat Madura, terbukti efektif menjadi sarana internalisasi nilai-nilai Islam pada siswa. Proses habituasi menciptakan interaksi berulang antara peserta didik dan lingkungan religius lokal, sehingga terbentuk habitus religius sebagaimana dijelaskan oleh teori Bourdieu tentang habitus, modal, dan ranah. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pemahaman tentang bagaimana praktik etnopedagogis berbasis budaya lokal dapat memperkuat pendidikan karakter Islam di sekolah dasar.
Digital Transformation of Waqf Management: Innovation Pathways and Policy Directions in Muslim-Majority Developing Countries Riduwan; Erwan Aristyanto
MUSLIM HERITAGE Vol 10 No 2 (2025): Muslim Heritage: Jurnal Dialog Islam dengan Realitas
Publisher : Universitas Islam Negeri Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/muslimheritage.v10i2.11597

Abstract

Waqf represents a powerful economic instrument with substantial potential to empower communities, particularly in countries with large Muslim populations. In the digital era, innovations in the management of productive waqf offer new opportunities to enhance the effectiveness and efficiency of waqf fund utilization. This study aims to explore innovative models of productive waqf management and their impact on community economic empowerment. Employing a qualitative descriptive approach, this research conducts a comprehensive literature review of journal articles, books, and other relevant sources to analyze digital waqf practices in developing countries. The findings reveal that digital innovations—such as crowdfunding platforms, blockchain technology, and mobile applications—can significantly improve the efficiency, accountability, and outreach of waqf management. These technologies hold substantial potential to expand waqf fundraising, enhance transparency, and facilitate greater public participation. Nevertheless, several challenges persist, including low digital literacy, limited public trust in digital waqf systems, and the need to align regulatory frameworks with technological developments. This study offers insights and recommendations for policymakers and practitioners, particularly in Indonesia, to harness digital waqf innovations in supporting sustainable development and advancing community empowerment.   Abstrak Wakaf merupakan instrumen ekonomi yang kuat dengan potensi signifikan untuk memberdayakan masyarakat, terutama di negara-negara dengan populasi Muslim yang besar. Di era digital, inovasi dalam pengelolaan wakaf produktif menghadirkan peluang untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi pemanfaatan dana wakaf. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi model-model inovatif pengelolaan wakaf produktif dan dampaknya terhadap pemberdayaan ekonomi masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kulalitatif dengan teknik tinjauan pustaka yang komprehensif dari artikel jurnal, buku, dan sumber-sumber relevan untuk menganalisis praktik wakaf digital di negara-negara berkembang. Temuan penelitian menunjukkan bahwa inovasi digital seperti platform crowdfunding, teknologi blockchain, dan aplikasi seluler dapat secara signifikan meningkatkan efisiensi, akuntabilitas, dan jangkauan pengelolaan wakaf. Teknologi-teknologi ini menawarkan potensi untuk memperluas penghimpunan dana wakaf, meningkatkan transparansi, dan memfasilitasi partisipasi publik yang lebih besar. Namun, masih terdapat tantangan, termasuk rendahnya literasi digital, terbatasnya kepercayaan publik terhadap sistem wakaf digital, dan perlunya menyelaraskan kerangka regulasi dengan perkembangan teknologi. Penelitian ini memberikan wawasan dan rekomendasi bagi para pembuat kebijakan dan praktisi, khususnya di Indonesia, dalam memanfaatkan inovasi wakaf digital untuk mendukung pembangunan berkelanjutan dan memberdayakan masyarakat.
Between Islamic and Western Education: The Educational Dichotomy in ‘Abd al-Raḥmān al-Naḥlāwī’s Thought Natsir, Ahmad; Wahyudin, Didin; Aziz, Hafidh; Nadaraning, Hasbulloh
MUSLIM HERITAGE Vol 10 No 2 (2025): Muslim Heritage: Jurnal Dialog Islam dengan Realitas
Publisher : Universitas Islam Negeri Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/muslimheritage.v10i2.11704

Abstract

This research aims to invigorate the discourse on the educational thought of Al-Nahlawi, a figure frequently referenced yet seldom critically examined in Indonesia. Specifically, this study aims to: (1) Analyze the major ideas and ideological underpinnings of Al-Nahlawi's thoughts; (2) Trace the influence of the socio-political context of Syria on his work; and (3) Reveal the dichotomization of Western vs. Islamic education in his discourse. To achieve these objectives, this study employs the method of hermeneutic analysis to examine his major ideas and critical discourse analysis based on Fowler's model to investigate the diction and underlying ideology of his language. The research concludes that: Al-Naḥlāwī's thinking was significantly influenced by Syria's political dynamics and his concerns about the Islamic revival, which led him to adopt a stance of resistance against the West. His central idea focuses on returning humanity to its innate nature (fitrah) through the application of ideal Islamic educational principles, covering objectives, subject matter, curriculum, and methods. The primary conclusion of this study is that Al-Naḥlāwī's critique of Western education—which he describes with vocabulary such as "calamity," "disbelief" (kufr), and "non-integral"—not only constructs a sharp dichotomy but also affirms that his work is a form of ideological resistance, clearly represented in all its elements. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk meramaikan diskursus tentang pemikiran pendidikan Al-Nahlawi, seorang tokoh Pendidikan Islam yang sering dirujuk namun jarang dikritisi secara mendalam di Indonesia. Secara spesifik, tujuan penelitian ini adalah untuk: (1) Menganalisis gagasan besar dan relasi ideologi dalam pemikiran Al-Nahlawi; (2) Menelusuri pengaruh konteks sosio-politik Suriah terhadap karyanya; dan (3) Mengungkap dikotomi pendidikan Barat vs. Islam dalamwacananya. Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian ini menggunakan metode analisis hermeneutika untuk mengulas gagasan besarnya dan analisiswacanakritis model Fowler menginvestigasi diksi serta ideologi yang mendasari bahasanya. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa pemikiran Al-Naḥlāwī sangat dipengaruhi oleh dinamika politik Suriah dan kegundahannyaakankebangkitan Islam, yang mendorongnya pada posisi perlawanan terhadap Barat. Gagasan inti ini berfokus pada pengembalian umat manusia kepada fitrah penerapan prinsip-prinsip pendidikan Islam yang ideal, mencakuptujuan, materi, kurikulum, hingga metode. Simpulan utama penelitian ini adalah bahwa kritik Al-Naḥlāwī terhadap pendidikan Barat—yang digambarkannyadengankosa kata seperti "musibah", "kufur", dan "tidak integral"—tidak hanya membangun dikotomi yang tajam, tetapi juga perlawanan ideologis yang terepresentasi secara jelas dalam seluruh unsurnya.
Integration of Islamic Values in the Ningkuk Ritual: A Model of Character Education Based on Local Wisdom in South Sumatra Syarnubi; Fahiroh, Septia; Ahmed J. Obaid
MUSLIM HERITAGE Vol 10 No 2 (2025): Muslim Heritage: Jurnal Dialog Islam dengan Realitas
Publisher : Universitas Islam Negeri Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/muslimheritage.v10i2.11721

Abstract

This study aims to reveal the moral values contained in the Ningkuk ritual and how these values are instilled in young women in the Sukarami Village community. In addition, this study explains the function of Ningkuk as a model of non-formal character education based on local wisdom and assesses its relevance to the development of national character education. This study examines the integration of Islamic values in the Ningkuk ritual as a model of character education based on the local wisdom of the Sukarami Village community in South Sumatra. Using an ethnographic approach, this study collected data through participatory observation, in-depth interviews, and cultural documentation. The results show that the Ningkuk ritual contains Islamic character values, including birrul walidain, gratitude, patience, cooperation (ta'awun), social solidarity (ukhuwah), manners, responsibility, and spirituality. These values are internalized not through verbal instruction but through social practices, cultural symbols, and intergenerational inheritance mechanisms. This study fills a gap in research that has so far overlooked how Islamic values are substantively integrated into the Ningkuk procession, and how this ritual can be reconstructed into a contextual character education model that is compatible with national education policy. This study concludes that Ningkuk is an authentic pedagogical resource that has strategic relevance for formal and non-formal education, especially in the development of local content curricula and culture-based character building programs. These findings offer a theoretical and practical framework for the integration of Islamic values and local wisdom in the design of character education in Indonesia.   Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap nilai-nilai moral yang terkandung dalam ritual Ningkuk dan bagaimana nilai-nilai tersebut ditanamkan pada perempuan muda di komunitas Desa Sukarami. Selain itu, penelitian ini menjelaskan fungsi Ningkuk sebagai model pendidikan karakter non-formal berdasarkan kebijaksanaan lokal dan mengevaluasi relevansinya terhadap pengembangan pendidikan karakter nasional. Penelitian ini mengkaji integrasi nilai-nilai Islam dalam ritual Ningkuk sebagai model pendidikan karakter berdasarkan kebijaksanaan lokal komunitas Desa Sukarami di Sumatera Selatan. Dengan pendekatan etnografis, penelitian ini mengumpulkan data melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ritual Ningkuk mengandung nilai-nilai karakter Islam, termasuk birrul walidain, rasa syukur, kesabaran, kerja sama (ta'awun), solidaritas sosial (ukhuwah), sopan santun, tanggung jawab, dan spiritualitas. Nilai-nilai ini diinternalisasi bukan melalui instruksi verbal, melainkan melalui praktik sosial, simbol budaya, dan mekanisme pewarisan antar generasi. Penelitian ini mengisi kekosongan dalam penelitian yang hingga kini belum memperhatikan bagaimana nilai-nilai Islam secara substansial diintegrasikan ke dalam prosesi Ningkuk, serta bagaimana ritual ini dapat direkonstruksi menjadi model pendidikan karakter kontekstual yang sesuai dengan kebijakan pendidikan nasional. Studi ini menyimpulkan bahwa Ningkuk merupakan sumber pedagogis autentik yang memiliki relevansi strategis bagi pendidikan formal dan non-formal, terutama dalam pengembangan kurikulum konten lokal dan program pembentukan karakter berbasis budaya. Temuan ini menawarkan kerangka teoretis dan praktis untuk integrasi nilai-nilai Islam dan kebijaksanaan lokal dalam desain pendidikan karakter di Indonesia.
Transformation of Sharia Economic Law and Economic Transactions of the Middle-Class Muslim Community in Indonesia Muzalifah; Nopriansyah, Waldi
MUSLIM HERITAGE Vol 10 No 2 (2025): Muslim Heritage: Jurnal Dialog Islam dengan Realitas
Publisher : Universitas Islam Negeri Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/muslimheritage.v10i2.11770

Abstract

The transformation of economic behavior among Indonesia’s urban middle-class Muslims has been significantly influenced by digitalization and the rapid growth of Islamic fintech. This study explores how Sharia economic law adapts to these transformations, particularly in the context of daily market transactions. Using a qualitative approach, data were collected through observations and interviews in selected traditional markets such as Beringharjo (Yogyakarta), Antasari (Banjarmasin), and Ngronggo (Kediri) representing diverse urban settings. The findings reveal that digital payment adoption and hybrid trading systems (combining oral bargaining and digital settlement) have reshaped the understanding and application of Sharia principles. Traders and consumers demonstrate pragmatic flexibility by seeking local religious guidance (fatwas) to ensure compliance while embracing efficiency. This study contributes new insights by linking the transformation of Sharia economic law with real practices of middle-class Muslims in digital-era marketplaces, highlighting the dynamic interplay between legal norms, technology, and socio-economic class.   Abstrak Transformasi perilaku ekonomi di kalangan masyarakat Muslim kelas menengah perkotaan di Indonesia telah banyak dipengaruhi oleh proses digitalisasi dan pertumbuhan pesat fintech syariah. Penelitian ini mengkaji bagaimana hukum ekonomi syariah beradaptasi terhadap perubahan tersebut, khususnya dalam konteks transaksi ekonomi sehari-hari di pasar tradisional. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, data diperoleh melalui observasi dan wawancara di beberapa pasar tradisional terpilih seperti Pasar Beringharjo (Yogyakarta), Pasar Antasari (Banjarmasin), dan Pasar Ngronggo (Kediri) yang merepresentasikan berbagai konteks perkotaan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa adopsi pembayaran digital dan munculnya sistem perdagangan hibrida (menggabungkan tawar-menawar lisan dengan penyelesaian digital) telah mengubah pemahaman dan penerapan prinsip-prinsip syariah. Para pedagang dan konsumen menunjukkan fleksibilitas yang pragmatis dengan mencari panduan keagamaan lokal (fatwa) agar tetap sesuai dengan prinsip syariah sambil memanfaatkan efisiensi teknologi digital. Penelitian ini memberikan kontribusi baru dengan mengaitkan transformasi hukum ekonomi syariah dengan praktik nyata masyarakat Muslim kelas menengah di pasar era digital, serta menyoroti dinamika antara norma hukum, teknologi, dan kelas sosial-ekonomi.
Religious Authority and Political Dynamics: The Influence of Fatwa Issuance by Religious Institutions on Political Discourses in Indonesia Bukhori, K.A.; Budianto, Kun; Erniwati, Erniwati; Faizal, Moh.
MUSLIM HERITAGE Vol 10 No 2 (2025): Muslim Heritage: Jurnal Dialog Islam dengan Realitas
Publisher : Universitas Islam Negeri Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/muslimheritage.v10i2.11784

Abstract

This study explores the role of religious institutions through fatwas in the formation of public policy in Indonesia, particularly major institutions such as the Indonesian Ulema Council (MUI), Nahdlatul Ulama (NU), and Muhammadiyah. The main objective is to understand how fatwas are produced by religious organizations and how they impact the political process and government policy. The research problem stems from the phenomenon that fatwas, although they do not have formal legal force, are often used as moral references by the community and are even considered by the government in formulating public policy. The research approach uses qualitative field studies: interviews with fatwa figures, analysis of fatwa documents, and observation of the interaction between religious institutions and public officials in several regions. The findings show that fatwas serve as moral and social legitimacy as well as non-formal influence on the formulation of public policy. Although not legally binding, the influence of fatwas on policy guidance is quite significant, especially on moral and social issues, as well as the creation of a space for dialogue between the state and society. The implications of the research results show the importance of understanding the role of fatwas not only as religious products but also as social political instruments in the architecture of public policy.   Abstrak Penelitian ini mengeksplorasi peran lembaga keagamaan melalui fatwa dalam pembentukan kebijakan publik di Indonesia, khususnya lembaga-lembaga utama seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI), Nahdlatul Ulama (NU), dan Muhammadiyah. Tujuan utama adalah memahami bagaimana fatwa diproduksi oleh organisasi keagamaan dan bagaimana dampaknya terhadap proses politis dan kebijakan pemerintah. Masalah penelitian berangkat dari fenomena bahwa fatwa, meskipun tidak memiliki kekuatan hukum formal, sering dijadikan rujukan moral oleh masyarakat dan bahkan dipertimbangkan pemerintah dalam merumuskan kebijakan publik. Pendekatan penelitian menggunakan studi lapangan kualitatif: wawancara dengan tokoh fatwa, analisis dokumen fatwa, dan observasi interaksi lembaga keagamaan dengan pejabat publik di beberapa daerah. Temuan menunjukkan bahwa fatwa berfungsi sebagai legitimasi moral dan sosial sekaligus pengaruh nonformal terhadap perumusan kebijakan publik. Meskipun tidak bersifat mengikat secara hukum, pengaruh fatwa terhadap panduan kebijakan cukup signifikan, terutama dalam isu moral dan sosial, serta penciptaan ruang dialog antara negara dan masyarakat. Implikasi hasil penelitian menunjukkan pentingnya memahami peran fatwa bukan hanya sebagai produk keagamaan, tetapi juga sebagai instrumen politik sosial dalam arsitektur kebijakan publik.
Islamic Socio-Religious Reflections on Early Marriage, Family Resilience, and Stunting in Sirampog, Brebes Widyaningrum, Ratna; Hernawati, Sari; Nofik, Khoirun; Syifaudin, Ma'ruf; Helmi Kayana Juwita, Dinda
MUSLIM HERITAGE Vol 10 No 2 (2025): Muslim Heritage: Jurnal Dialog Islam dengan Realitas
Publisher : Universitas Islam Negeri Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/muslimheritage.v10i2.11874

Abstract

Early marriage and child stunting remain persistent issues in Sirampog District, Brebes, a highland horticultural area characterized by long farming hours and limited service access in its upper hamlets. Although national and local initiatives including Presidential Regulation No. 72/2021, Jo Kawin Bocah, KUA premarital guidance, and posyandu services are available, policy messages often remain at the level of general moral advice and are not sufficiently translated into practical 1,000-day nutrition behaviors. This study aims to: (1) identify the social and religious determinants of early marriage; (2) assess how family resilience spiritual, economic, relational, and parenting dimensions—shapes child nutritional status; and (3) estimate the relationship between early marriage and stunting after accounting for parenting practices, parental education, economic conditions, and access to health services, while examining the roles of Islamic institutions (mosques, Qur’an learning centers/TPQ, majelis taklim, and Muslimat NU). Using a qualitative instrumental case-study design, data were collected through in-depth interviews, FGDs, observations of health and religious activities, and document analysis, and examined using Reflexive Thematic Analysis with a Framework Matrix. Findings show that early marriage is driven by religious norms framed as “protection from zina,” social pressure to formalize relationships, gaps in religious literacy, and strategies involving unregistered marriagedispensation registration. Child nutrition is more strongly shaped by family resilience spiritual motivation, food planning, supportive marital relations, and age-appropriate feeding practices. The direct link between early marriage and stunting weakens after key household factors are controlled. Islamic institutions are effective when religious messages are paired with actionable nutrition guidance. These results reinforce the relevance of ḥifẓ al-nasl and ḥifẓ al-nafs in stunting prevention.   Abstrak Pernikahan dini dan stunting masih menjadi persoalan utama di Kecamatan Sirampog, Brebes, wilayah pegunungan dengan pekerjaan tani yang panjang dan akses layanan terbatas, terutama di dusun lereng. Meskipun telah tersedia Perpres 72/2021, program Jo Kawin Bocah, bimbingan perkawinan KUA, serta layanan posyandu, pesan kebijakan tentang pendewasaan usia kawin belum cukup terhubung dengan praktik gizi 1.000 HPK. Penelitian ini bertujuan: (1) mengidentifikasi determinan sosial-keagamaan pernikahan dini; (2) menilai pengaruh ketahanan keluarga (spiritual, ekonomi, relasional, dan pengasuhan) terhadap status gizi anak; dan (3) menganalisis keterkaitan pernikahan dini dan stunting setelah mempertimbangkan pengasuhan, pendidikan orang tua, ekonomi, dan akses kesehatan, serta menilai peran institusi Islam (masjid, TPQ, majelis taklim, Muslimat NU) dalam pencegahan. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan wawancara mendalam, FGD, observasi layanan, dan studi dokumen, dianalisis melalui Reflexive Thematic Analysis dan matriks Framework. Hasil menunjukkan bahwa pernikahan dini dipengaruhi oleh norma religius sebagai “pagar zina”, tekanan sosial, rendahnya literasi keagamaan, dan pola nikah siri–dispensasi–pencatatan. Status gizi anak lebih ditentukan oleh ketahanan keluarga melalui motivasi spiritual, pengaturan makanan anak, relasi suami-istri yang suportif, dan keterampilan pemberian MP-ASI. Hubungan langsung pernikahan dini dengan stunting melemah setelah faktor pengasuhan, pendidikan, ekonomi, dan akses layanan dikendalikan. Institusi Islam terbukti efektif ketika pesan keagamaan dipadukan dengan panduan gizi yang aplikatif. Temuan ini menegaskan bahwa pencegahan pernikahan dini dan stunting merupakan amanah syariah dalam kerangka ḥifẓ al-nasl dan ḥifẓ al-nafs.).