cover
Contact Name
Eko Nur Hermansyah
Contact Email
ekonurhermansyah@unw.ac.id
Phone
+6287747996725
Journal Mail Official
ijm.bidanunw@gmail.com
Editorial Address
Jl. Diponegoro no 186 Gedanganak - Ungaran Timur, Kab. Semarang Jawa Tengah
Location
Kab. semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Indonesian Journal of Midwifery (IJM)
ISSN : 26561506     EISSN : 26155095     DOI : 10.35473/ijm
Core Subject : Health,
This journal received midwifery research articles and literature reviews on the results of previous midwifery research.
Articles 185 Documents
Hubungan Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan Hipertensi pada Ibu Hamil di TPMB “LM” Tahun 2024-2025: The Association of Body Mass Index (BMI) with Hypertension in Pregnant Women in TPMB “LM” during 2024-2025 Period Nyoman Gita Laksmi Maharani; Ni Nyoman Ayu Desy Sekarini; Putu Irma Pratiwi; Luh Mertasari
Indonesian Journal of Midwifery (IJM) Vol. 9 No. 1 (2026): Maret 2026
Publisher : Universitas Ngudi waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijm.v9i1.4958

Abstract

Hypertensive disorders during pregnancy remain one of the leading obstetric complications contributing significantly to the high Maternal Mortality Rate (MMR). Maternal nutritional status, commonly assessed using Body Mass Index (BMI) measurement, has been recognized as a significant risk factor for the development of hypertension during pregnancy. Monitoring BMI from early pregnancy constitutes an essential component of antenatal care to support early detection and prevention of hypertensive disorders in pregnancy. This research aimed to determine the association between BMI and the incidence of hypertension among pregnant women. A quantitative descriptive study with cross-sectional design was conducted using secondary data obtained from medical records and maternal registers at the Independent Midwife Practice “LM” during the 2024-2025 period. This study sample consisted of 188 pregnant women selected through a total sampling technique based on predefined inclusion and exclusion criteria. Data were analyzed using univariate and bivariate approaches with the Chi-Square test at a significant level of ≤0,05. The findings indicated that the majority of respondents had a normal BMI (52,1%) and did not experience hypertension (66,5%). Statistical analysis indicated a significant association between BMI and the incidence of hypertension in pregnancy, with p-value of 0,000 (p≤0,05). A higher proportion of hypertension was observed among pregnant women classified as overweight and obese BMI compared to those with underweight or normal BMI. Therefore, optimizing BMI monitoring and nutritional status management from early pregnancy is necessary as part of preventive efforts against hypertension in pregnant women.   Abstrak Gangguan hipertensi dalam kehamilan merupakan salah satu komplikasi obstetri yang berkontribusi terhadap tingginya Angka Kematian Ibu (AKI). Status gizi ibu hamil yang dinilai melalui pengukuran Indeks Massa Tubuh (IMT) diketahui berperan besar sebagai faktor risiko terjadinya hipertensi pada ibu hamil. Pemantauan IMT sejak awal kehamilan menjadi komponen penting dalam pelayanan antenatal untuk mendukung upaya deteksi dini dan pencegahan hipertensi dalam kehamilan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara IMT dengan kejadian hipertensi pada ibu hamil. Penelitian menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional berdasarkan data sekunder yang diperoleh dari rekam medis dan buku register ibu hamil di Tempat Praktik Mandiri Bidan (TPMB) “LM” tahun 2024-2025. Sampel penelitian berjumlah 188 ibu hamil yang ditentukan melalui teknik total sampling sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Analisis data dilakukan secara univariat dan secara bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi ≤0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki IMT normal (52,1) dan tidak mengalami hipertensi (66,5%). Uji statistik menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara IMT dengan kejadian hipertensi pada ibu hamil dengan p-value 0,000 (p≤0,05). Proporsi kejadian hipertensi lebih tinggi ditemukan pada ibu hamil dengan IMT gemuk dan obesitas dibandingkan dengan ibu hamil dengan IMT kurus atau normal. Sehingga, optimalisasi pemantauan IMT dan pengendalian status gizi sejak awal kehamilan perlu dilakukan sebagai bagian dari upaya pencegahan hipertensi pada ibu hamil.
Apakah Tingkat Stres Berhubungan dengan Siklus Menstruasi pada Dewasa Muda : Is Stress Levels Related to Menstrual Cycles in Young Adults Restiani, Ni Kadek Dwi Nanda; Sekarini, Ni Nyoman Ayu Desy; Pratiwi, Putu Irma
Indonesian Journal of Midwifery (IJM) Vol. 9 No. 1 (2026): Maret 2026
Publisher : Universitas Ngudi waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijm.v9i1.4959

Abstract

Regular menstruation is an important indicator of reproductive health because it reflects the balance of the hormonal system. Stress is one of the determinants that can affect the menstrual cycle. Midwifery students are a vulnerable group to experience stress due to academic demands and clinical practice. This study was conducted using a quantitative method using a cross-sectional approach. The study population consisted of female students of the D3 and S1 Midwifery study programs in the 2023-2025 intake. The study sample consisted of 158 respondents taken using a total sampling technique. Stress levels were measured using the Perceived Stress Scale (PSS-10) questionnaire, while menstrual cycles were categorized as normal and abnormal. Data analysis was performed using the chi-square test. The majority of respondents were in a state of moderate stress levels (80.4%) and had normal menstrual cycles (75.9%). The chi-square test results obtained a p-value of 0.489 (p > 0.05), which means there is no relationship between stress levels and menstrual cycles in midwifery students.. The stress levels experienced by most respondents were still within adaptive limits so they did not have a significant impact on the menstrual cycle. In addition, other factors such as body mass index (BMI), fatigue, lifestyle, and individual coping skills are confounding factors in influencing menstrual regularity. Stress levels are not significantly associated with menstrual regularity in midwifery students and are not the sole factor influencing menstrual regularity.   Abstrak Menstruasi yang teratur merupakan indikator penting dalam kesehatan reproduksi karena menggambarkan keseimbangan sistem hormonal. Stres menjadi salah satu determinan yang dapat mempengaruhi siklus menstruasi. Mahasiswa kebidanan menjadi kelompok rentan mengalami stres akibat tuntutan akademik dan praktik klinik. Studi ini dilakukan dengan metode kuantitatif menggunakan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian terdiri dari mahasiswi program studi D3 dan S1 Kebidanan angkatan 2023-2025. Sampel penelitian berjumlah 158 responden yang diambil menggunakan tenik total sampling. Pengukuran tingkat stres dilakukan menggunakan kuesioner Perceived Stress Scale (PSS-10), sedangkan siklus menstruasi dikategorikan menjadi normal dan tidak normal. Analisis data dilakukan menggunakan uji chi-square. Mayoritas responden berada dalam kondisi tingkat stres sedang (80,4%) dan memiliki siklus menstruasi normal (75,9%). Hasil uji chi-square diperoleh nilai p-value yaitu 0,489 (p > 0,05), yang artinya tidak terdapat hubungan antara tingkat stres dengan siklus menstruasi pada mahasiswa kebidanan. Tingkat stres yang dialami responden sebagian besar masih berada dalam batas adaptif sehingga belum berdampak signifikan terhadap siklus menstruasi. selain itu, terdapat faktor lain seperti indeks massa tubuh (IMT), kelelahan, pola hidup dan kemampuan coping individu yang menjadi faktor perancu dalam mempengaruhi keteraturan menstruasi. Tingkat stres tidak berhubungan secara signifikan dengan keteraturan menstruasi pada mahasiswa kebidanan dan bukan merupakan satu-satunya faktor yang mempengaruhi keteraturan menstruasi.
Hubungan Paritas dan Umur Kehamilan Terhadap Kejadian Anemia pada Ibu Hamil: The Relationship Between Parity and Gestational Age with the Incidence of Anemia in Pregnant Women Pramitayani, Ni Kadek Gina; Sekarini, Ni Nyoman Ayu Desy; Pratiwi, Putu Irma
Indonesian Journal of Midwifery (IJM) Vol. 9 No. 1 (2026): Maret 2026
Publisher : Universitas Ngudi waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijm.v9i1.4960

Abstract

Anemia during pregnancy remains a public health problem that carries the risk of increasing maternal and neonatal morbidity, including preterm birth, low birth weight, and other obstetric complications. Parity and gestational age are thought to contribute to the incidence of anemia, but previous studies have shown inconsistent findings. This study aims to analyze the relationship between parity and gestational age with the incidence of anemia in pregnant women. This study used an analytical observational design with a cross-sectional approach and utilized secondary data from the antenatal care (ANC) service register. The study population was all pregnant women registered at the TPMB "PA" in 2025. The sample was determined using a total sampling technique with 124 respondents who met the inclusion criteria. Data were analyzed using univariate and bivariate analysis. The Chi-Square test was initially applied, and when the assumptions were not met (expected count <5), Fisher’s Exact Test was used with a significance level of  p<0.05. The results showed no significant relationship between parity and the incidence of anemia in pregnant women (Fisher’s Exact test, p = 0.457). Similarly, gestational age was not significantly associated with the incidence of anemia (Fisher’s Exact test, p = 0.598). Parity and gestational age were not significantly associated with the incidence of anemia in pregnant women. These findings indicate that anemia in pregnancy is multifactorial and may be influenced by other factors such as nutritional status, adherence to iron tablet consumption, and regular antenatal care (ANC) checkups. Therefore, anemia prevention efforts need to focus on optimizing nutritional needs, adherence to iron supplementation, and improving the quality of antenatal care.   Abstrak Anemia selama kehamilan masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat yang berisiko meningkatkan morbiditas maternal dan neonatal, termasuk persalinan prematur, berat badan lahir rendah, serta komplikasi obstetri lainnya. Paritas dan umur kehamilan diduga berkontribusi terhadap kejadian anemia, namun hasil penelitian sebelumnya menujukkan temuan yang belum konsisten. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara paritas dan umur kehamilan dengan kejadian anemia pada ibu hamil.  Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross sectional dan memanfaatkan data sekunder dari register pelayanan antenatal care (ANC). Populasi penelitian adalah seluruh ibu hamil yang tercatat di TPMB “PA” tahun 2025. Sampel ditentukan menggunakan teknik total sampling dengan jumlah responden 124 orang yang memenuhi kriteria inklusi.  Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat. Uji Chi Square  digunakan pada tahap awal, dan apabila asumsi tidak terpenuhi (frekuensi harapan <5) maka digunakan uji Fisher’s Exact dengan tingkat signifikansi p<0,05. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara paritas dengan kejadian anemia pada ibu hamil dengan (Fisher’s Exact test, p = 0.457). Demikian pula, umur kehamilan tidak berhubungan secara signifikan dengan kejadian anemia (Fisher’s Exact test, p = 0.598). Paritas dan umur kehamilan tidak berhubungan signifikan dengan kejadian anemia pada ibu hamil. Temuan ini mengindikasikan bahwa anemia pada kehamilan bersifat multifaktorial dan dapat dipengaruhi oleh faktor lain seperti status gizi, kepatuhan konsumsi tablet Fe, serta keteraturan pemeriksaan ANC. Oleh karena itu, upaya pencegahan anemia perlu difokuskan pada optimalisasi pemenuhan gizi, kepatuhan suplementasi zat besi, dan peningkatan kualitas pelayanan antenatal.
Gambaran Status Gizi Balita di Posyandu Desa Selat Kabupaten Buleleng: Overview of Toddler Nutritional Status at Integrated Health Posts (Posyandu) in Selat Village, Buleleng Regency Badrawati, Ni Komang Aprilia; Pratiwi, Putu Irma; Sekarini , Ni Nyoman Ayu Desy
Indonesian Journal of Midwifery (IJM) Vol. 9 No. 1 (2026): Maret 2026
Publisher : Universitas Ngudi waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijm.v9i1.4962

Abstract

Malnutrition among toddlers remains a major public health concern in Indonesia, marked by the coexistence of undernutrition and overnutrition. This study aimed to describe the nutritional status of toddlers using height-for-age, weight-for-height, and weight-for-age indicators at Integrated Health Posts (Posyandu) in Selat Village, Buleleng Regency . This study applied a descriptive quantitative design with a total sampling approach. All toddlers who attended Posyandu activities and were recorded during the study period were included. A total of 214 toddlers from six Posyandu in Selat Village were analyzed. Secondary data were obtained from routine Posyandu records, including age, sex, body weight, and height. Nutritional status was assessed using the World Health Organization Child Growth Standards, and Z-scores were calculated with WHO Anthro software. Data analysis was conducted univariately and presented in the form of frequency distributions and percentages. The findings showed that most toddlers were in the 24–59 months age group. Based on height-for-age, the majority of toddlers had normal growth status, although cases of stunting and severe stunting were still identified across all Posyandu. Assessment using weight-for-height indicated that most toddlers had normal nutritional status, while undernutrition, overweight, and obesity were also observed. Similarly, weight-for-age analysis revealed that most toddlers had normal body weight, but underweight and risk of overweight conditions remained present. These results indicate a double burden of malnutrition in Selat Village. Strengthening routine growth monitoring, improving the competence of health workers and Posyandu cadres in anthropometric assessment, and enhancing parental nutrition education are essential to prevent and manage nutritional problems among toddlers.   Abstrak Masalah gizi pada anak balita masih menjadi isu kesehatan masyarakat yang penting di Indonesia, ditandai dengan masih ditemukannya kondisi stunting, wasting, underweight, serta overweight. Ketidakseimbangan antara asupan zat gizi dan kebutuhan tubuh pada masa balita dapat berdampak pada hambatan pertumbuhan fisik, gangguan perkembangan kognitif, serta peningkatan risiko kesakitan dan kematian pada usia dini. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan status gizi balita berdasarkan indikator tinggi badan menurut umur (TB/U), berat badan menurut tinggi badan (BB/TB), dan berat badan menurut umur (BB/U) di Posyandu Desa Selat, Kabupaten Buleleng. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan teknik total sampling, yaitu melibatkan seluruh balita yang tercatat dan hadir pada kegiatan posyandu saat penelitian dilaksanakan. Jumlah sampel sebanyak 214 balita yang tersebar di enam posyandu, yaitu Posyandu Dauh Margi Srilestari II, Angsoka I, Melati, Mawar, Teratai, dan Sakura. Data diperoleh dari pencatatan kegiatan posyandu yang meliputi umur, jenis kelamin, berat badan, dan tinggi badan balita. Penilaian status gizi dilakukan menggunakan standar antropometri WHO berdasarkan nilai Z-score. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar balita berada pada kelompok usia 24–59 bulan. Berdasarkan indikator TB/U, mayoritas balita memiliki tinggi badan normal, namun masih ditemukan balita dengan kategori pendek dan sangat pendek di seluruh posyandu. Penilaian status gizi berdasarkan indikator BB/TB menunjukkan bahwa sebagian besar balita berada pada kategori gizi baik, meskipun masih terdapat balita dengan gizi kurang, gizi lebih, dan obesitas. Sementara itu, berdasarkan indikator BB/U, sebagian besar balita memiliki berat badan normal, namun masih dijumpai balita dengan berat badan kurang serta risiko berat badan lebih.
Hubungan Status Gizi Berdasarkan IMT dan Umur Menarche dengan Kejadian Dismenore pada Mahasiswi Kebidanan Fakultas Kedokteran Undiksha: The Association of Nutritional Status Based on Body Mass Index and Age at Menarche with the Incidence of Dysmenorrhea Among Midwifery Students at the Faculty of Medicine, Universitas Pendidikan Ganesha Sutiartini, Komang Putri Natia; Sekarini , Ni Nyoman Ayu Desy; Pratiwi, Putu Irma
Indonesian Journal of Midwifery (IJM) Vol. 9 No. 1 (2026): Maret 2026
Publisher : Universitas Ngudi waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijm.v9i1.4966

Abstract

Dysmenorrhea is a common pain complaint experienced during menstruation among women of reproductive age and may affect daily activities, including academic performance among students. Nutritional status and age at menarche are biological factors that are theoretically associated with the occurrence of dysmenorrhea; however, previous studies have reported inconsistent findings. This study aimed to examine the relationship between nutritional status and age at menarche with the occurrence of dysmenorrhea among midwifery students at Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha). This study employed a quantitative approach with an analytic cross-sectional design. The study population included all active midwifery students from the 2023, 2024, and 2025 cohorts. A total sampling technique was applied. Of the 177 students in the study population, 159 had complete data and were included in the analysis. Data were collected using a structured questionnaire developed by the researchers according to the study variables, including nutritional status, age at menarche, and dysmenorrhea, and distributed online via Google Forms. Nutritional status was determined based on body mass index (BMI) calculated from self-reported body weight and height. To minimize potential bias, respondents were provided with clear instructions for reporting their most recent measurements, and data screening was conducted to identify implausible values prior to analysis. BMI values were then categorized as underweight, normal, and overweight according to the World Health Organization (WHO) criteria. Data analysis was performed using descriptive statistics for univariate analysis and the Chi-square test for bivariate analysis. The results showed that most respondents experienced dysmenorrhea (68.6%). The majority of respondents had normal nutritional status (54.1%) and experienced menarche within the normal age range (84.9%). The Chi-square test indicated no significant association between nutritional status and dysmenorrhea (p = 0.547). Similarly, age at menarche was not significantly associated with dysmenorrhea (p = 0.931). Based on these findings, it can be concluded that nutritional status and age at menarche are not significantly associated with the occurrence of dysmenorrhea among midwifery students. Reproductive health promotion in educational settings should adopt a more comprehensive approach by addressing not only biological factors but also psychological aspects and healthy lifestyle behaviors. Midwifery students are encouraged to maintain healthy lifestyles, increase physical activity, and manage stress as non-pharmacological strategies to reduce dysmenorrhea. Future studies are recommended to explore other factors potentially associated with dysmenorrhea using broader study designs or multivariate analysis.   Abstrak Dismenore merupakan keluhan nyeri yang sering muncul selama menstruasi pada perempuan usia reproduktif dan dapat berdampak pada aktivitas sehari-hari, termasuk kegiatan akademik pada mahasiswa. Status gizi serta umur menarche merupakan faktor biologis yang secara teoritis dikaitkan dengan terjadinya dismenore, meskipun hasil penelitian terdahulu masih memperlihatkan temuan yang beragam. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara status gizi dan umur menarche dengan kejadian dismenore pada mahasiswi kebidanan undiksha. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan survei analitik melalui desain potong lintang (cross sectional). Populasi penelitian mencakup seluruh mahasiswi jurusan Kebidanan angkatan 2023, 2024, dan 2025 yang berstatus aktif secara akademik. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah total sampling. Dari total 177 mahasiswi yang menjadi populasi penelitian, sebanyak 159 mahasiswi memiliki data lengkap dan dianalisis dalam penelitian ini. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner terstruktur yang disusun oleh peneliti sesuai dengan variabel penelitian, meliputi status gizi, usia menarche, dan kejadian dismenore, yang disebarkan secara daring melalui Google Form. Status gizi ditentukan berdasarkan indeks massa tubuh (IMT) yang dihitung dari data berat badan dan tinggi badan yang dilaporkan sendiri oleh responden, dengan upaya meminimalkan potensi bias melalui pemberian petunjuk pengisian yang jelas dan pemeriksaan kelogisan data sebelum analisis. Nilai IMT kemudian dikategorikan menjadi status gizi kurus, normal, dan lebih berdasarkan kriteria World Health Organization (WHO). Analisis data dilakukan secara univariat menggunakan statistik deskriptif dan secara bivariat menggunakan uji Chi-square. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa sebagian besar responden mengalami dismenore (68,6%). Mayoritas responden memiliki status gizi normal (54,1%) dan mengalami menarche pada rentang usia normal (84,9%). Hasil uji chi-square tidak ditemukan hubungan yang bermakna antara status gizi dengan kejadian dismenore (p = 0,547). Demikian pula, umur menarche tidak menunjukkan hubungan yang bermakna dengan kejadian dismenore (p = 0,931). Berdasarkan temuan tersebut, dapat disimpulkan bahwa status gizi dan umur menarche tidak berkaitan secara signifikan dengan kejadian dismenore pada mahasiswi kebidanan. Promosi kesehatan reproduksi di lingkungan pendidikan perlu diarahkan pada pendekatan yang lebih komprehensif, tidak hanya menekankan faktor biologis tetapi juga faktor psikologis dan gaya hidup sehat. Mahasiswi kebidanan disarankan untuk menerapkan pola hidup sehat, meningkatkan aktivitas fisik, serta mengelola stres sebagai upaya non farmakologis dalam mengurangi keluhan dismenore. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat mengkaji faktor lain yang berpotensi berhubungan dengan dismenore menggunakan desain penelitian yang lebih luas atau analisis multivariat.