Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

Analisis Proses dan Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa dalam Matematika Melalui Tugas Open-Ended Fardah, Dini Kinati
Kreano, Jurnal Matematika Kreatif-Inovatif Vol 3, No 2 (2012): Kreano, Jurnal Matematika Kreatif-Inovatif
Publisher : Jurusan Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Sema

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/kreano.v3i2.2616

Abstract

Berpikir kreatif merupakan masalah penting dalam belajar matematika. Banyak guru di sekolah dasar atau menengah masih kurang memperhatikan kemampuan ini. Dengan mengetahui kemampuan dan proses berpikir kreatif siswa guru memperolah wawasan yang luas tentang potensi dan bakat yang dimiliki siswa-siswinya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses berpikir kreatif dan kemampuan siswa melalui tugas open-ended. Siswa yang akan dianalisis proses berpikir kreatifnya dikategorikan sebagai: a) siswa berkemampuan berpikir kreatif tinggi; b) siswa berkemampuan berpikir kreatif sedang; dan c) siswa berkemampuan berpikir kreatif rendah. Kemampuan berpikir kreatif menekankan pada aspek kelancaran, keluwesan, keaslian, dan keterincian, sementara proses berpikir kreatif meliputi tahap: 1) mengetahui adanya masalah, kesenjangan informasi, unsur yang hilang, 2) memahami masalah, 3) membuat dugaan dan merumuskan hipotesis, 4) menguji hipotesis dan evaluasi; 5) mengkomunikasikan ide. Beberapa hal yang penulis lakukan pada saat penelitian adalah: merancang kegiatan pembelajaran melalui pembelajaran open-ended untuk membiasakan siswa dengan soal open-ended; memberikan tes kemampuan berpikir kreatif menggunakan soal open-ended; menentukan subyek penelitian sebagai wakil dari masing-masing kategori; melakukan wawancara mendalam untuk membuat triangulasi data. Hasil dari penelitian ini adalah berupa pola berpikir kreatif siswa kategori tinggi sebanyak 20% dari jumlah siswa, sedang  sebanyak 33,33%, dan rendah sebanyak 46,67%.
Analisis Proses dan Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa dalam Matematika Melalui Tugas Open-Ended Fardah, Dini Kinati
Kreano, Jurnal Matematika Kreatif-Inovatif Vol 3, No 2 (2012): Kreano, Jurnal Matematika Kreatif-Inovatif
Publisher : Jurusan Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Sema

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/kreano.v3i2.2616

Abstract

Berpikir kreatif merupakan masalah penting dalam belajar matematika. Banyak guru di sekolah dasar atau menengah masih kurang memperhatikan kemampuan ini. Dengan mengetahui kemampuan dan proses berpikir kreatif siswa guru memperolah wawasan yang luas tentang potensi dan bakat yang dimiliki siswa-siswinya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses berpikir kreatif dan kemampuan siswa melalui tugas open-ended. Siswa yang akan dianalisis proses berpikir kreatifnya dikategorikan sebagai: a) siswa berkemampuan berpikir kreatif tinggi; b) siswa berkemampuan berpikir kreatif sedang; dan c) siswa berkemampuan berpikir kreatif rendah. Kemampuan berpikir kreatif menekankan pada aspek kelancaran, keluwesan, keaslian, dan keterincian, sementara proses berpikir kreatif meliputi tahap: 1) mengetahui adanya masalah, kesenjangan informasi, unsur yang hilang, 2) memahami masalah, 3) membuat dugaan dan merumuskan hipotesis, 4) menguji hipotesis dan evaluasi; 5) mengkomunikasikan ide. Beberapa hal yang penulis lakukan pada saat penelitian adalah: merancang kegiatan pembelajaran melalui pembelajaran open-ended untuk membiasakan siswa dengan soal open-ended; memberikan tes kemampuan berpikir kreatif menggunakan soal open-ended; menentukan subyek penelitian sebagai wakil dari masing-masing kategori; melakukan wawancara mendalam untuk membuat triangulasi data. Hasil dari penelitian ini adalah berupa pola berpikir kreatif siswa kategori tinggi sebanyak 20% dari jumlah siswa, sedang  sebanyak 33,33%, dan rendah sebanyak 46,67%.Creative thinking is an important problem in learning mathematics. Many teachers in primary or secondary schools still pay little attention to this ability. By knowing the abilities and creative thinking processes of students, teachers obtain broad insights about the potential and talents of their students. This study aims to analyze the process of creative thinking and students' abilities through open-ended assignments. Students who will be analyzed their creative thinking processes are categorized as: a) students with high creative thinking abilities; b) students who are able to think creatively; and c) students with low creative thinking ability. The ability to think creatively emphasizes the aspects of fluency, flexibility, authenticity, and detail, while the creative thinking process includes the stages: 1) knowing that there are problems, information gaps, missing elements, 2) understanding the problem, 3) making guesses and formulating hypotheses, 4) test hypotheses and evaluations; 5) communicating ideas. Some things that the writer did at the time of the study were: designing learning activities through open-ended learning to familiarize students with open-ended questions; provide tests of creative thinking skills using open-ended questions; determine the research subjects as representatives of each category; conduct in-depth interviews to make data triangulation. The results of this study are in the form of creative thinking patterns of high category students by 20% of the number of students, moderate by 33.33%, and low by 46.67%.
PELATIHAN PEMBUATAN MEDIA PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI SD KARAH I SURABAYA Susanah, Susanah Susanah; Palupi, Evangelista Lus Windyana; Fardah, Dini Kinati
Jurnal ABDI: Media Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 5, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/ja.v5n2.p83-88

Abstract

Guru sebagai salah satu komponen penting dalam penyelenggaraan pendidikan dituntut untuk memiliki keterampilan pedagogik yang baik. Salah satu ketrampilan yang dimaksud adalah keterampilan guru untuk dapat membuat dan menggunakan media pembelajaran. Usia peserta didik sekolah dasar menurut teori perkembangan intelektual Piaget dikategorikan masih pada tahap operasional konkret. Hal ini menyebabkan penggunaan media pembelajaran untuk peserta didik sekolah dasar sangat diperlukan. Faktanya, dari hasil observasi awal di SDN Karah 1 Surabaya, belum semua guru (17,4%) pernah membuat media pembelajaran dan belum semua guru (86,9%) mendapatkan pelatihan tentang pembuatan media pembelajaran matematika. Oleh karena itu pelatihan pembuatan media pembelajaran matematika di SDN Karah I dilakukan. Dari hasil pelatihan, diperoleh tujuh desain media pembelajaran diantaranya: rumah penjumlahan rumah perkalian, kartu pecahan, koin bilangan + dan koin bilangan  -, macam-macam bangun datar, tangram, dan media berbasis powerpoint. Respon yang diberikan guru-guru dari pelatihan pembuatan media ini positip dan guru-guru menginginkan adanya pelatihan atau workshop lanjutan.
PELATIHAN PENDAMPING OLIMPIADE MATEMATIKA SMP KABUPATEN TULUNGAGUNG Prawoto, Budi P.; Sulaiman, Raden; Savitri, Dian; Fardah, Dini Kinati
Jurnal ABDI: Media Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 5, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/ja.v5n1.p21-24

Abstract

This article discusses the activities of community service that raises the theme of mathematics olympiad training with the target is the teachers of math at junior level in Tulungagung regency. The reason for choosing this theme is to see competition in the increasingly rigorous world of education. School is aimed togive birth to outstanding students who can compete in the national, regional, and global arena. One of the problems faced in Tulungagung Regency related to junior high school mathematics is the lack of teachers or supervisors of the Olympics. Solutions offered to MGMP Matematika SMP Tulungagung is held training toteachers of mathematics junior high school for the future teachers can independently accompany students in the arena of mathematics olympiad. The response of the trainees' teachers showed a positive direction. The most important is the increasing insight or knowledge of the ins and outs of the mathematics olympiad.
Kemampuan Guru-guru Matematika SMP Kabupaten Ponorogo dalam mengembangkan soal Berpikir Tingkat Tinggi Endah Budi Rahaju; Dini Kinati Fardah; Pradyo Wijayanti; Ismail Ismail
Jurnal Pendidikan Matematika Raflesia Vol 5, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (338.351 KB) | DOI: 10.33369/jpmr.v5i1.10640

Abstract

Profil Pemecahan Masalah Matematika Siswa pada Soal PISA Konten Quantity Ditinjau dari Self-Efficacy Inggil Nur Fajriyah Rokhmatillah; Janet Trineke Manoy; Dini Kinati Fardah
JURNAL PENELITIAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN SAINS Vol. 3 No. 2 (2019): Vol. 3, No. 2 (2019)
Publisher : Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/jppms.v3n2.p75-88

Abstract

Pemecahan masalah adalah suatu proses individu untuk mengatasi hambatan. Soal PISA konten quantity adalah soal PISA yang berhubungan dengan penerapan pengetahuan mengenai bilangan, pola bilangan, dan operasi bilangan. Self-efficacy adalah kepercayaan diri seseorang terhadap kemampuan atau keterampilan dirinya untuk menyelesaikan suatu pekerjaan dalam berbagai keadaan. Pemecahan masalah matematika berkaitan dengan self-efficacy siswa. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mendeskripsikan profil pemecahan masalah matematika siswa yang memiliki self-efficacy tinggi dan rendah pada soal PISA konten quantity. Jenis penelitian ini yaitu deskriptif kualitatif yang ditujukan kepada siswa kelas X SMA, dengan 2 subjek penelitian yang mana 1 subjek memiliki self-efficacy tinggi dan 1 subjek memiliki self-efficacy rendah. Instrumen yang digunakan yaitu angket self-efficacy, tes pemecahan masalah PISA konten quantity (2 soal), dan pedoman wawancara. Hasil penelitian ini yaitu pada tahap memahami masalah, siswa yang memiliki self-efficacy tinggi berusaha memahami kalimat pada soal sementara siswa yang memiliki selfefficacy rendah langsung mencari yang diketahui pada soal, serta keduanya dapat menyebutkan informasi pada soal dengan tepat. Pada tahap membuat rencana penyelesaian, siswa yang memiliki self-efficacy tinggi dapat menentukan konsep dan menerapkan konsep dengan tepat hanya pada soal nomor 1. Sedangkan siswa yang memiliki self-efficacy rendah tidak dapat menentukan konsep yang tepat. Pada tahap melaksanakan rencana, siswa yang memiliki self-efficacy tinggi menuliskan penyelesaian sesuai dengan rencana serta penyelesaian yang tepat hanya pada nomor 1. Sedangkan siswa yang memiliki self-efficacy rendah menuliskan penyelesaian sesuai dengan rencana, namun penyelesaiannya kurang tepat. Pada tahap memeriksa kembali, siswa yang memiliki self-efficacy tinggi mengevaluasi pekerjaannya dari awal hingga akhir, penyelesaiannya telah sesuai dengan rencana, serta penyelesaian yang tepat hanya pada nomor 1. Sedangkan siswa yang memiliki self-efficacy rendah hanya mengecek pekerjaannya sepintas pada soal nomor 1, sehingga penyelesaiannya kurang tepat, meskipun penyelesaiannya telah sesuai dengan rencana. Oleh karena itu, guru perlu mempertimbangkan self-efficacy siswa dalam memecahkan masalah matematika.Kata Kunci: pemecahan masalah, self-efficacy, soal PISA konten quantityProblem solving is an individual process for overcoming obstacles. The PISA content quantity problem is a PISA problem that deals with the application of knowledge about numbers, number patterns, and number operations. Self-efficacy is one's confidence in one's ability or skill to complete a job in variouscircumstances. Mathematical problem solving is related to student self-efficacy. The purpose of this study is to describe the profile of mathematical problem solving students who have high and low self-efficacy in the PISA content quantity problem. This type of research is descriptive qualitative aimed at class X high school students, with 2 research subjects where 1 subject has high self-efficacy and 1 subject has low self-efficacy. The instrument used was a self-efficacy questionnaire, PISA problem solving test content quantity (2 questions), and interview guidelines. The results of this study are in the stage of understanding the problem, students who have high self-efficacy try to understand the sentences in the problem while students who have low self-efficacy directly look for what is known in the problem, and both of them can mention information on the problem correctly. In the stage of making a completion plan, students who have high self-efficacy can determine concepts and apply concepts appropriately only on problem number 1. Whereas students who have low self-efficacy cannot determine the right concepts. At the stage of implementing the plan, students who have high self-efficacy write the completion according to the plan and the right completion is only at number 1. Whereas students who have low self-efficacy write the completion according to the plan, but the completion is less precise. In the re-checking stage, students who have high self-efficacy evaluate their work from beginning to end, the completion is according to plan, and the right completion is only at number 1. Whereas students who have low self-efficacy only check their work briefly on question number 1 , so that the solution is less precise, even though the solution is in accordance with the plan. Therefore, teachers need to consider students' self-efficacy in solving mathematical problems.Keywords: problem solving, self-efficacy, PISA content quantity questions
PELATIHAN PEMBUATAN MEDIA PEMBELAJARAN MATEMATIKA MELALUI VIDEO-BASED STUD Rooselyna Ekawati; Manuharawati Manuharawati; Evangelista Lus Windyana Palupi; Dini Kinati Fardah
Jurnal ABDI: Media Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 1 No. 2 (2016)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/ja.v1n2.p130-134

Abstract

Matematika merupakan pelajaran yang dianggap tidak menarik oleh siswa dan fenomena menunjukkan bahwa motivasi belajar matematika siswa sekolah dasar cenderung rendah. Media merupakan salah satu alat atau sarana untuk mengatasi masalah tersebut. Namun, kebanyakan guru belum memiliki kemampuan untuk membuat media pembelajaran matematika yang baik. Bahkan konsep media mereka masih terbatas kepada benda nyata yang digunakan sebagai contoh bangun ruang bukan untuk mengajarkan konsep. Kegiatan ini memfasilitasi guru untuk meningkatkan kemampuan mereka dalam hal pembuatan media pembelajaran menggunakan video based study. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa 84% dari semua partisipan telah dapat membuat media dan mengintegrasikannya dalam rencana pembelajaran. Dari semua media yang dibuat masih merupakan media manual dan sistematika urutan penyajiannya masih perlu diperbaiki. Partisipan pelatihan memberikan respon positif terhadap pelatihan pembuatan media yang dilakukan dalam kegiatan ini.
PELATIHAN PEMBUATAN MEDIA PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI SD KARAH I SURABAYA Susanah Susanah Susanah; Evangelista Lus Windyana Palupi; Dini Kinati Fardah
Jurnal ABDI: Media Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 5 No. 2 (2020)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/ja.v5n2.p83-88

Abstract

Guru sebagai salah satu komponen penting dalam penyelenggaraan pendidikan dituntut untuk memiliki keterampilan pedagogik yang baik. Salah satu ketrampilan yang dimaksud adalah keterampilan guru untuk dapat membuat dan menggunakan media pembelajaran. Usia peserta didik sekolah dasar menurut teori perkembangan intelektual Piaget dikategorikan masih pada tahap operasional konkret. Hal ini menyebabkan penggunaan media pembelajaran untuk peserta didik sekolah dasar sangat diperlukan. Faktanya, dari hasil observasi awal di SDN Karah 1 Surabaya, belum semua guru (17,4%) pernah membuat media pembelajaran dan belum semua guru (86,9%) mendapatkan pelatihan tentang pembuatan media pembelajaran matematika. Oleh karena itu pelatihan pembuatan media pembelajaran matematika di SDN Karah I dilakukan. Dari hasil pelatihan, diperoleh tujuh desain media pembelajaran diantaranya: rumah penjumlahan rumah perkalian, kartu pecahan, koin bilangan + dan koin bilangan  -, macam-macam bangun datar, tangram, dan media berbasis powerpoint. Respon yang diberikan guru-guru dari pelatihan pembuatan media ini positip dan guru-guru menginginkan adanya pelatihan atau workshop lanjutan.
PELATIHAN PENDAMPING OLIMPIADE MATEMATIKA SMP KABUPATEN TULUNGAGUNG Budi P. Prawoto; Raden Sulaiman; Dian Savitri; Dini Kinati Fardah
Jurnal ABDI: Media Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 5 No. 1 (2019)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/ja.v5n1.p21-24

Abstract

This article discusses the activities of community service that raises the theme of mathematics olympiad training with the target is the teachers of math at junior level in Tulungagung regency. The reason for choosing this theme is to see competition in the increasingly rigorous world of education. School is aimed togive birth to outstanding students who can compete in the national, regional, and global arena. One of the problems faced in Tulungagung Regency related to junior high school mathematics is the lack of teachers or supervisors of the Olympics. Solutions offered to MGMP Matematika SMP Tulungagung is held training toteachers of mathematics junior high school for the future teachers can independently accompany students in the arena of mathematics olympiad. The response of the trainees' teachers showed a positive direction. The most important is the increasing insight or knowledge of the ins and outs of the mathematics olympiad.
MISCONCEPTIONS OF PROSPECTIVE MATHEMATICS TEACHER IN LINEAR EQUATIONS SYSTEM Dini Kinati Fardah; Evangelista Lus Windyana Palupi
Prima: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 7, No 1 (2023): PRIMA : Jurnal Pendidikan Matematika
Publisher : FKIP Universitas Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31000/prima.v7i1.7379

Abstract

Misconceptions are still a problem in learning mathematics. The causes are very diverse, ranging from the cognitive abilities of students who are not good at mathematics to the teacher who is the trigger for this misconception. The misconception diagnostic test benefits readers as a reference and pressure point in conveying certain concepts that are prone to misconceptions. This study aims to diagnose the occurrence of misconceptions and to analyze the types of misconceptions in 29 prospective mathematics teachers on the two-variable (SPLDV) and three-variable (SPLTV) linear purchasing system materials. A test to detect conceptual errors was given to these prospective teacher students to diagnose conceptual errors that occurred when they studied SPLDV in junior high school and SPLTV in high school before being given linear sales system material in Elementary Linear Algebra courses. The results show that there are still classificational, correlational, and theoretical misconceptions. Theoretical misconceptions that occur in students are related to the definition of misconceptions and related to the definition and types of SPL solutions. Classificational misconceptions occur when students classify examples and non-examples of a given linear sales system. Correlational misconceptions occur in students, namely students cannot connect a statement related to SPLDV with its graphical representation of the statement given, also students are not precise in compiling mathematical models of everyday problems given so the solutions obtained are incorrect.