cover
Contact Name
Eko Nur Hermansyah
Contact Email
ekonurhermansyah@unw.ac.id
Phone
+6282192115123
Journal Mail Official
melatiaprilliana90@gmail.com
Editorial Address
Jl. Diponegoro no 186 Gedanganak - Ungaran Timur, Kab. Semarang Jawa Tengah
Location
Kab. semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Indonesian Journal of Pharmacy and Natural Product
ISSN : 26563215     EISSN : 26156903     DOI : 10.35473
Core Subject : Health,
This journal is aimed as promoting principled approach to research on pharmacy that covers a broad range of topics engaging a good relationship in theoretical and practical. This journal covers: Pharmacology Pharmacognosy Analytical Chemistry Pharmaceutical Technology Social and Management Pharmacy
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol. 3 No. 1 (2020)" : 7 Documents clear
Pengaruh Lama Pemakaian Sediaan Kosmetik Bedak Padat Terhadap Cemaran Mikroba Munira, Munira; Fardilla, Cut; Zakiah, Noni; Rasidah, Rasidah; Nasir, Muhammad
Indonesian Journal of Pharmacy and Natural Product Vol. 3 No. 1 (2020)
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (400.169 KB) | DOI: 10.35473/ijpnp.v3i1.421

Abstract

Bedak adalah salah satu sediaan kosmetik yang dipakai dalam jangka waktu yang lama. Bedak yang digunakan akan terjadi kontaminasi bahkan semakin meningkat seiring dengan lamanya pemakaian. Faktor-faktor yang mempengaruhi antara lain penyimpanan, lingkungan, dan spons bedak. Penggunaan spons bedak merupakan salah satu sumber cemaran bakteri. Di mana penggunaan spons yang sama secara berulang-ulang dan bersentuhan langsung pada kulit dapat meningkatkan jumlah mikroba. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh lamanya penyimpanan, pemakaian suatu sediaan kosmetik bedak padat terhadap tingkat cemaran mikroba. Sampel yang diuji adalah bedak padat yang belum dipakai dan yang telah dipakai selama 2 minggu. Hasil penelitian berupa jumlah cemaran bakteri (ALT) dibandingkan dengan syarat menurut Peraturan Kepala Pengawasan Obat dan Makanan RI No.HK.03.1.23.07.11.6662 Tahun 2011 yaitu tidak boleh melebihi 103 koloni/g. Hasil uji cemaran bakteripada sediaan bedak padat sebelum pemakaian mempunyai nilai rata-rata ALT 2,6 x 101koloni/g dan sesudah pemakaian mempunyai nilai rata-rata ALT 9,2 x 101 koloni/g. Nilai ALT yang diperoleh dari masing-masing sediaan kosmetik bedak padat telah memenuhi syarat.Hasil uji t dependen menunjukkan adanya perbedaan jumlah bakteri pada bedak padat sebelum dipakai dengan setelah dipakai selama 2 minggu (t = 0.000). Kata Kunci: Kosmetik, bedak padat, Angka Lempeng Total ABSTRACTPowder is one of the cosmetic preparations used for a long time. Powder that is used will occur contamination even increasing along with the length of usage. This can be caused by several factors including storage, environment, powder sponges and others. The use of powder sponges is one source of bacterial contamination. Where the use of the same sponge repeatedly and in direct contact with the skin can increase the number of microbes. The objective of study was to determine the effect of the duration of use of a compact powder cosmetic preparation on the level of microbial contamination. The samples tested were solid powder that has not been used and that has been used for 2 weeks. The results of the study were the Total Plate Count (TPC) compared to the Regulation of the Head of the Republic of Indonesia Drug and Food Control Number HK.03.1.23.07.11.6662 of 2011 concerning the Requirements for Microbial Pollution and Heavy Metals in Cosmetics which should not exceed 103 colonies / g. The test results of bacterial contamination on solid powder preparations before use have an average value of ALT 2,6 x 101 colony / g and after use have an average ALT value of 9.2 x 101 colony / g. The ALT value obtained from each compact powder cosmetic preparation has met the requirements. The results of the dependent t test showed a difference in the number of bacteria on solid powder before use with after being used for 2 weeks (t = 0.000). Keywords: Cosmetics, Compact Powder, Total Plate Count
Skrining Fitokimia Dan Penetapan Kadar Flavonoid Total Serta Fenolik Total Ekstrak Daun Insulin (Tithonia diversifolia) Dengan Maserasi Menggunakan Pelarut Etanol 96 % Ramadhani, Melati Aprilliana; Hati, Anita Kumala; Lukitasari, Novel Fibriani; Jusman, Armin Hari
Indonesian Journal of Pharmacy and Natural Product Vol. 3 No. 1 (2020)
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (520.64 KB) | DOI: 10.35473/ijpnp.v3i1.481

Abstract

LDaun insulin (Tithonia diversifolia) secara empiris digunakan oleh masyarakat Indonesia untuk menurunkan kadar gula darah. Senyawa aktif dalam ekstrak etanol daun insulin yang diprediksi memiliki aktivitas penurunan kadar gula darah adalah senyawa flavonoid dan fenolik. Ekstraksi dengan metode maserasi diharapkan dapat menjaga flavonoid dan fenolik dari kerusakan akibat pemanasan. Penelitian dilakukan untuk mengetahui metabolit sekunder dan kadar flavonoid total serta fenolik total dalam ekstrak etanol 96% daun Insulin (Tithonia diversifolia) yang diekstraksi dengan metode maserasi. Penelitian ini merupakan eksperimental laboratorium untuk skrining fitokimia dan menetapkan kadar flavonoid total serta fenolik total daun insulin (Tithonia diversifolia) dengan metode maserasi. Kadar flavonoid dan kadar fenolik ditetapkan menggunakan metode spektrofotometri visible. Flavonoid ditetapkan kadarnya berdasarkan pembentukan senyawa kompleks aluminium klorida, dengan standar baku kuersetin. Kadar fenolik ditetapkan berdasarkan pembentukan senyawa kompleks momolibdenum-tungsten, dengan standar baku asam galat. Hasil penelitian adalah skrining fitokimia ekstrak daun insulin menunjukkan bahwa daun insulin mengandung senyawa flavonoid, alkaloid, saponin, tanin dan fenolik. Kadar flavonoid dalam ekstrak etanol 96% daun insulin (Tithonia diversifolia) yang diperoleh metode ekstraksi maserasi adalah sebesar 90,58 mgEQ/gram ekstrak dan kadar fenolik sebesar 67,41 mgEAG/gram ekstrak. Kadar Flavonoid total dalam ekstrak etanol 96% daun Insulin lebih tinggi daripada kadar Fenolik total.Kata kunci : Tithonia diversifolia, Flavonoid, Fenolik, MaserasiInsulin leaf (Tithonia diversifolia) is empirically used by Indonesian people to reduce blood sugar levels. The active compounds in the ethanol extract of insulin leaves which are predicted to have decreased blood sugar levels are flavonoids and phenolic compounds. Extraction using maceration method is expected to be able to protect Flavonoids and Phenolics from heating damage. The study was conducted to find out the secondary metabolites, anda determine total flavonoid and total phenolic levels in ethanol 96% extract of Insulin (Tithonia diversifolia) leaves extracted by maceration method. This research is an experimental laboratory to phytochemical screening, and determine the levels of total flavonoids and total phenolic of insulin leaves (Tithonia diversifolia) by maceration method. Flavonoid levels and phenolic levels were determined using visible spectrophotometry methods. Flavonoid levels are determined based on the formation of aluminum chloride complex compounds, with the standard of quercetin. Phenolic levels are determined based on the formation of the compound momolybdenum-tungsten complex, with gallic acid standard. The result of this research are phytochemical screening of insulin leaf extracts shows that insulin leaves contain flavonoid, alkaloid, saponin, tannin, and phenolic. The results showed average concentration of flavonoids in the extract are 90,58 mgQE/ gram extract and  concentration of phenolic 67,41 mgGAE/ gram extract.nTotal flavonoid levels in ethanol extract 96% of Insulin leaves are higher than total phenolic levels.Keywords : Tithonia diversifolia, Flavonoid, Phenolic, Maceration 
Skreening Fitokimia Formula Masker Gel Peel-off Nano Ekstrak Daging Labu Kuning ( Cucurbita maxima) Sunnah, Istianatus; Erwiyani, Agitya Resti; Yunisa, Krismelinda Octavia; Pratama, Nyai Melati
Indonesian Journal of Pharmacy and Natural Product Vol. 3 No. 1 (2020)
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (426.212 KB) | DOI: 10.35473/ijpnp.v3i1.493

Abstract

Telah dilakukan penelitian terhadap kandungan senyawa metabolit pada sediaan masker gel peel-off ekstrak nanopartikel daging buah labu kuning (Cucurbita maxima). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kandungan dan kadar flavonoid dalam ekstrak nano partikel daging labu kuning dan sediaan masker gel peel-off.  Proses diawali dengan pembuatan simplisia labu kuning kemudian dikeringkan dilanjutkan  dengan maserasi menggunakan etanol 96%. Ekstrak dibuat dalam ukuran nanopartikel menggunakan metode gelasi ionik dengan kitosan-Na TPP  dan diformulasikan dalam sediaan masker gel peel-off menggunakan komposisi basis PVA, karbomer dan polietilenglikol. Skrining fitokimia secara kualitatif menggunakan KLT dan secara kuantitatif menggunakan spektrofotometri UV-Vis. Butanol: asam asetat glasial: air (4:1:5) merupakan komposisi eluen yang digunakan sebagai fase gerak. Deteksi bercak diamati dalam lampu UV 366 nm dan dilakukan identifikasi senyawa flavonoid setelah ditambahkan pereaksi semprot ammonia. Pola pemisahan dan warna bercak yang muncul dihitung untuk menentukan nilai Rf. Hasil skrining fitokimia secara kualitatif  dalam ekstrak nanopartikel didapatkan kandungan flavonoid tinggi  yang diduga sebagai antioksidan golongan flavon dan golongan flavonol. Secara kuantitatif, dalam ekstrak mengandung flavonoid sebesar 4,433 mg/mL dan dalam sediaan masker peel-off mengandung flavonoid sebesar 0,093mgQE/mL.  Kata kunci : ekstrak, Cucurbita maxima, nanopartikel, peel-off, flavonoidResearch on the content of metabolite compounds in peel-off gel mask nanoparticle extracts of pumpkin fruit (Cucurbita maxima) was conducted. This study aims to analyze the content and levels of flavonoids in pumpkin fruit nano extracts and peel-off gel mask form. The process begins with the manufacture of pumpkin fruits then dried followed by maceration using ethanol 96 %. The extract was made in nanoparticle size using an ionic gelation method with chitosan-Na TPP and formulated in a peel-off gel mask  using a base composition of PVA, carbomer and polyethylenglycol. Phytochemical screening is qualitatively using TLC and quantitatively using UV-Vis spectrophotometry. Butanol: glacial acetic acid: water (4: 1: 5) are an eluent composition used as a mobile phase. Spotting detection was observed in a 366 nm UV lamp and identification of the flavonoid compound after ammonia spray reagent was added. Separation patterns and spotting colors that appear are calculated to determine of  Rf values. The results of qualitative phytochemical screening in nanoparticle extracts obtained high flavonoids which are suspected as antioxidants of flavones and flavonol. Quantitatively, the extract contained flavonoids of 4.433 mg / mL and in the preparation of peel-off masks containing flavonoids of 0.093mgQE/ mL.Keywords: extract, Cucurbita maxima, nanoparticle, peel-off, flavonoid
Pengaruh Formulasi Terhadap Mutu Fisik Body Butter Ekstrak Etanol Kulit Buah Naga (Hylocereus polyrhizus) Sawiji, Repining Tiyas; Jawa La, Elisabeth Oriana; Yuliawati, Agustina Nila
Indonesian Journal of Pharmacy and Natural Product Vol. 3 No. 1 (2020)
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (473.898 KB) | DOI: 10.35473/ijpnp.v3i1.501

Abstract

Kulit buah naga memiliki beragam manfaat walaupun sering dianggap sebagai limbah. Kulit buah naga mengandung banyak pigmen warna, salah satunya antosianin yang berfungsi sebagai antioksidan. Kandungan ini mampu mencegah radikal bebas yang menyebabkan penuaan dini maupun penyakit lainnya. Antioksidan yang terdapat didalam kulit buah naga dapat dimanfaatkan sebagai zat aktif sediaan kosmetika tubuh salah satunya body butter. Salah satu faktor yang mempengaruhi stabilitas sediaan body butter adalah emulgator. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh formulasi, yaitu adanya variasi konsentrasi kadar emulgator (tween 60 : span 60) terhadap stabilitas fisik body butter. Sediaan dibuat dengan 3 macam konsentrasi emulgator tween 60 : span 60 yaitu 1%, 2%, dan 3%. Ketiga formula diuji stabilitas fisiknya dengan uji organoleptis, homogenitas, pH, daya lekat, daya sebar, dan daya proteksi. Uji stabilitas fisik dilakukan pada minggu I, II, III, dan IV di suhu ruang. Data pengamatan dianalisis statistik dengan taraf kepercayaan 95%. Hasil evaluasi sediaan body butter menunjukkan bahwa variasi emulgator tidak memberikan pengaruh tehadap sifat fisik body butter meliputi organoleptis, homogenitas, pH dan daya sebar. Namun mempengaruhi uji daya lekat dan daya proteksi (p>0.05). Berdasarkan hasil pengujian, didapatkan hasil yaitu formula III lebih stabil dalam penyimpanan selama 4 minggu daripada formula I dan II.Kata kunci : ekstrak kulit buah naga, emulgator, body butter, stabilitas fisikDragon fruit peels has a variety of benefits although it is often considered a waste. Dragon fruit peels contains many color pigments, one of which is anthocyanin which functions as an antioxidant. This content is able to prevent free radicals that cause premature aging and other diseases. Antioxidants found in dragon fruit peels can be used as active ingredients for cosmetics, one of which is body butter. One of the factors that influence the stability of the body butter preparation is an emulgator. This study aims to determine the effect of the formulation, namely the variation in the concentration of emulgator levels (tween 60: span 60) on the physical stability of body butter. The preparations were made with 3 kinds of 60: span 60 emulsifier concentrations of 1%, 2%, and 3%. The three formulas were tested for physical stability by organoleptic, homogeneity, pH, adhesion, dispersion, and protection. Physical stability tests were carried out at weeks I, II, III, and IV at room temperature. Observation data were analyzed statistically with a confidence level of 95%. The results of the evaluation of body butter preparations showed that variations in the emulgator had no effect on the physical properties of the body butter including organoleptic, homogeneity, pH, and dispersion. But it affects the test of adhesion and protection (p> 0.05). Based on the test results, the results obtained are formula III is more stable in storage for 4 weeks than formulas I and II.Keywords: Hylocereus polyrhizus, emulgators, body butter, physical evaluation
Skrining Fitokimia Dan Analisis Kromatografi Lapis Tipis Ekstrak Etanol Kulit Buah Naga Merah (Hylocereus polyrhizus) Jawa La, Elisabeth Oriana; Sawiji, Repining Tiyas; Yuliawati, Agustina Nila
Indonesian Journal of Pharmacy and Natural Product Vol. 3 No. 1 (2020)
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (558.572 KB) | DOI: 10.35473/ijpnp.v3i1.503

Abstract

Buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) merupakan tumbuhan yang sudah banyak dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia secara alami sebagai tanaman kaya antioksidan, sebaliknya pemanfaatan dari kulit buah naga merah belum sepenuhnya dimaksimalkan. Beberapa penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa selain daging buah, kulit buah naga merah dapat dimanfaatkan sebagai sumber untuk pengobatan karena kaya akan antioksidan. Hal tersebut dapat digunakan sebagai dasar dan pilihan untuk menghasilkan produk obat tradisional dari kulit buah naga merah. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kandungan metabolit sekunder yang terdapat pada kulit buah naga merah berupa skrining fitokimia dan kromatografi lapis tipis (KLT) pada senyawa aktif yang disinyalir terkandung didalam kulit buah naga merah yang dapat dimanfaatkan dalam produk kefarmasian. Ekstraksi dilakukan dengan cara maserasi menggunakan pelarut etanol 96% diperoleh rendemen ekstrak sebanyak 2,96%. Skrining fitokimia dilakukan sebagai uji pendahuluan untuk mengidentifikasi kandungan metabolit sekunder yang terkandung dalam ekstrak kulit buah naga merah, dilanjutkan dengan KLT untuk mempertegas hasil reaksi positif. Hasil skrining dan KLT diperoleh kulit buah naga merah positif mengandung alkaloid, tanin, flavonoid, steroid dan potensial untuk dijadikan obat tradisional.Kata kunci :kulit buah naga merah, skrining fitokimia, KLT, metabolit sekunder Red dragon fruits (Hylocereus polyrhizus) generally has been widely known Indonesian as a plant that rich in antioxidant  however, the Red dragon fruits peel is not fully utilized. Some of studies have been conducted indicating that as well as its fruit flesh, Red dragon fruits peel can be beneficial as a source for treatment and traditional medicinal products since it is also rich of antioxidants.This research aims to identify the content of secondary metabolites on the Red dragon fruits peel  in the form of phytochemical screening and thin-layer chromatography (TLC) in the active compounds which can be utilized in the product of  Pharmacy. Extraction is conducted by maceration using the 96% ethanol solvent in order to produces extracts as much as 2.96 %.  Phytochemical screening is delivered as a preliminary test to identify the content of secondary metabolites contained in the peel of  Red dragon fruit peel and continued with the TLC to confirmed give positive  results. Results of  the screening and TLC obtained that the peel of  Red dragon fruits positive contains alkaloids, tannins, flavonoids, steroids and potential to be used as traditional medicineKeyword : Red dragon fruit peel, phytochemical screening, TLC, secondary metabolites 
Evaluasi Terapi Antihipertensi Pada Pasien Rawat Inap Di RS X di Semarang Oktianti, Dian; Furdiyanti, Nova Hasani; Fajriani, Windha Novia; Ambarsari, Utami
Indonesian Journal of Pharmacy and Natural Product Vol. 3 No. 1 (2020)
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (629.286 KB) | DOI: 10.35473/ijpnp.v3i1.504

Abstract

Hipertensi menempati proporsi terbesar kelompok penyakit tidak menular di Jawa Tengah sebesar 60,00% pada 2016 dan meningkat menjadi 64,83% pada 2017. Hipertensi adalah faktor resiko penyakit serebrovaskular, penyakit arteri koroner, dan gagal ginjal. Strategi terapi dalam pemilihan obat perlu dicermati agar diperoleh obat yang efektif dan tepat diberikan sehingga dapat menghasilkan efektifitas yang optimum dan tidak menimbulkan Drug Related Problems (DRPs). Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pemilihan dan dosis antihipertensi pada pasien hipertensi rawat inap di RS X di Semarang. Penelitian ini merupakan jenis penelitian non ekperimental. Pengumpulan data secara retrospektif dengan menganalisis data rekam medis pasien hipertensi rawat inap periode 2018. Teknik pengambilan sampel dengan purposive sampling sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Sampel yang digunakan sebanyak 79 pasien. Analisis data dilakukan menggunakan JNC VIII 2014, DIH 2018, dan DIF 2012.Hasil penelitian menunjukkan ketidaktepatan pemilihan obat sebesar 15,21% terjadi pada 11 pasien terdiri atas interaksi obat 12,67%, duplikasi 1,27%, dan terlalu banyak obat untuk 1 indikasi sebesar 1,27%, ketepatan pemilihan dosis sebesar 97,47%. Pemilihan terapi antihipertensi pada pasien hipertensi rawat inap di RS X menunjukkan sebanyak 86,08% ketepatan pemilihan dosis sebesar 97,47%memperoleh pemilihan yang sudah tepat.Kata Kunci: Antihipertensi, Pemilihan Obat, Dosis, DRPs.Hypertension had the largest proportion of non communicable diseases in Central Java, which was 60,00% in 2016 increased to 64,83% in 2017. Hypertension is a risk factor for cerebrovascular disease, coronary artery disease, and kidney failure. The therapeutic strategy in drug selection needs to be examined in order to obtain appropriate drugs that can produce optimal effectiveness and avoid Drug Related Problems (DRPs). This study aimed to evaluate the selection and evaluate the accuracy of dose of antihypertensive therapy at X Hospital. This study was non experimental research. Retrospective data collected by analyzing the medical record data from inpatient in 2018. The sampling technique was purposive sampling according to inclusion and exclusion criteria. The sample used in this study were 79 patients. Data analysis was performed using JNC VIII 2014, DIH 2018, and DIF 2012.The results showed the inaccuracy of drug selection was 15,21% on 11 inpatients consisting of drug interactions 12,67%, duplication 1,27%, and too many drugs for 1 indication 1,27%. The dose selection accuracy is high at 97,47%  The selection of antihypertensive therapy in hypertensive inpatients at X Hospital showed that 86,08% obtained the correct drug selection and The dose selection accuracy is high at 97,47%.Keywords: Antihypertension, Drug Selection, Dose, DRP.
Evaluasi Perencanaan dan Pengadaan Obat Di RSUD Pandan Arang Boyolali Candra Dewi, I Gusti Agung Ayu Adi; Dyahariesti, Niken; Yuswantina, Richa
Indonesian Journal of Pharmacy and Natural Product Vol. 3 No. 1 (2020)
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (421.817 KB) | DOI: 10.35473/ijpnp.v3i1.592

Abstract

Pengelolaan obat di rumah sakit merupakan salah satu manajemen rumah sakit yang penting terutama pada tahap perencanaan dan pengadaan. Ketidakefektifan dan ketidakefisienannya dapat berdampak negatif terhadap rumah sakit baik secara medis maupun ekonomis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keefektifan  dan efisiensi pengelolaan obat pada tahap perencanaan dan pengadaan di Instalasi Farmasi RSUD Pandan Arang Boyolali tahun 2018. Metode yang digunakan dalam penelitian ini merupakan metode deskriptif dimana pengambilan data dilakukan secara retrospektif. Data yang diperoleh berupa data primer dan data sekunder. Hasil penelitian diketahui, pada tahap perencanaan berdasarkan indikator persentase dana 101,6%, penyimpangan perencanaan 140%, pada tahap pengadaan berdasarkan indikator persentase alokasi dana pengadaan obat 33,35%, frekuensi pengadaan tiap item obat tergolong dalam frekuensi rendah (<12x/tahun) sebanyak 124 dan frekuensi sedang (12-24x/tahun) sebanyak 11 item obat, frekuensi kesalahan faktur 0%, frekuensi tertundanya pembayaran 0%. Pengelolaan obat pada tahap perencanaan sudah efisien pada indikator persentase dana dan kurang efektif pada indikator penyimpangan perencanaan, sedangkan pengelolaan obat pada tahap pengadaan yang kurang efektif pada indikator pengadaan tiap item obat, sudah efisien pada indikator alokasi dana pengadaan obat dan sudah efektif pada indikator frekuensi kesalahan faktur serta frekuensi tertundanya pembayaran.Kata kunci: Perencanaan, Pengadaan, Instalasi Farmasi Rumah Sakit. 

Page 1 of 1 | Total Record : 7