cover
Contact Name
Rahmat Pannyiwi
Contact Email
rahmatpannyiwi79@gmail.com
Phone
+62852-9845-6666
Journal Mail Official
agdosiagdosi@gmail.com
Editorial Address
Komp. Nusa Harapan Permai Blok B.6 No.7 Kecamatan biringkanaya
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan
ISSN : -     EISSN : 29640849     DOI : https://doi.org/10.59585/bajik
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan (BaJIK) adalah jurnal peer-review nasional yang diterbitkan oleh Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia. Jurnal Ilmu Kesehatan ini bersifat open access atau akses terbuka serta bertujuan untuk berbagi dan mempromosikan kualitas layanan masyarakat dengan menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk membantu orang atau memecahkan beberapa masalah kehidupan sehari-hari.
Articles 385 Documents
Hubungan Tingkat Pendidikan dan Paritas dengan Pemilihan Metode Kontrasepsi pada Wanita Usia Subur Elvira Safidni; Rezqiqah Aulia Rahmat
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2026): Barongko : Jurna Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1402

Abstract

Latar Belakang: Program Keluarga Berencana (KB) merupakan salah satu strategi pemerintah dalam menurunkan angka kelahiran, meningkatkan kesehatan ibu dan anak, serta mewujudkan keluarga yang berkualitas. Keberhasilan program KB dipengaruhi oleh pemilihan metode kontrasepsi yang tepat sesuai dengan kondisi kesehatan dan kebutuhan pasangan usia subur. Tingkat pendidikan dan paritas merupakan faktor yang diduga memengaruhi pengambilan keputusan wanita usia subur dalam memilih metode kontrasepsi. Tujuan: Menganalisis hubungan tingkat pendidikan dan paritas dengan pemilihan metode kontrasepsi pada wanita usia subur. Metode: Penelitian menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian sebanyak 120 wanita usia subur yang menjadi akseptor KB dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan dianalisis dengan uji Chi-square pada tingkat kepercayaan 95%. Hasil: Sebagian besar responden memiliki tingkat pendidikan menengah (55,0%), multipara (60,8%), dan menggunakan kontrasepsi hormonal (66,7%). Hasil uji Chi-square menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan dengan pemilihan metode kontrasepsi (p=0,003) serta antara paritas dengan pemilihan metode kontrasepsi (p=0,001). Kesimpulan: Tingkat pendidikan dan paritas berhubungan secara signifikan dengan pemilihan metode kontrasepsi pada wanita usia subur. Peningkatan edukasi dan konseling keluarga berencana diperlukan agar wanita usia subur dapat memilih metode kontrasepsi yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan reproduksinya
Analisis Mutu Pelayanan Kesehatan Berdasarkan Dimensi Tangibles, Reliability, Responsiveness, Assurance, Dan Empathy Nuryanti Thahir; Rezqiqah Aulia Rahmat
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2026): Barongko : Jurna Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1403

Abstract

Latar Belakang: Mutu pelayanan kesehatan merupakan salah satu indikator utama dalam menilai keberhasilan pelayanan di fasilitas kesehatan. Pelayanan yang bermutu tidak hanya ditentukan oleh kompetensi tenaga kesehatan, tetapi juga dipengaruhi oleh ketersediaan sarana prasarana, ketepatan pelayanan, kecepatan respons, jaminan keamanan, serta kepedulian terhadap pasien. Model SERVQUAL yang dikembangkan oleh Parasuraman mengukur mutu pelayanan melalui lima dimensi, yaitu Tangibles, Reliability, Responsiveness, Assurance, dan Empathy. Evaluasi terhadap kelima dimensi tersebut penting untuk mengetahui tingkat kepuasan pasien sekaligus menjadi dasar perbaikan mutu pelayanan kesehatan. Tujuan: Menganalisis mutu pelayanan kesehatan berdasarkan dimensi Tangibles, Reliability, Responsiveness, Assurance, dan Empathy di fasilitas pelayanan kesehatan. Metode: Penelitian menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Sebanyak 150 responden dipilih menggunakan teknik accidental sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner SERVQUAL dan dianalisis secara univariat serta bivariat menggunakan uji Chi-square dengan tingkat signifikansi 95%. Hasil: Sebagian besar responden menilai dimensi Tangibles (70,0%), Reliability (72,7%), Responsiveness (68,0%), Assurance (74,0%), dan Empathy (71,3%) dalam kategori baik. Analisis menunjukkan bahwa seluruh dimensi SERVQUAL memiliki hubungan yang signifikan dengan mutu pelayanan kesehatan (p<0,05). Kesimpulan: Dimensi Tangibles, Reliability, Responsiveness, Assurance, dan Empathy berhubungan secara signifikan dengan mutu pelayanan kesehatan. Peningkatan kualitas sarana prasarana, kompetensi tenaga kesehatan, kecepatan pelayanan, jaminan keamanan, serta komunikasi yang berpusat pada pasien diperlukan untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan.
Analisis Faktor Yang Berhubungan Dengan Keberhasilan Resusitasi Jantung Paru Pada Pasien Henti Jantung Di Instalasi Gawat Darurat Andi Agustang; Rahayu Setyaningsih
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2026): Barongko : Jurna Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1404

Abstract

Latar Belakang: Henti jantung (cardiac arrest) merupakan kondisi kegawatdaruratan yang ditandai dengan berhentinya aktivitas mekanik jantung sehingga sirkulasi darah dan oksigen ke organ vital terhenti. Kondisi ini memerlukan tindakan Resusitasi Jantung Paru (RJP) secara cepat dan tepat untuk meningkatkan peluang terjadinya Return of Spontaneous Circulation (ROSC). Keberhasilan RJP dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti usia pasien, penyebab henti jantung, waktu respons, irama jantung awal, durasi resusitasi, dan pemberian defibrilasi. Analisis faktor-faktor tersebut penting sebagai dasar peningkatan mutu pelayanan kegawatdaruratan. Tujuan: Menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan keberhasilan Resusitasi Jantung Paru pada pasien henti jantung di Instalasi Gawat Darurat. Metode: Penelitian menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian sebanyak 110 pasien henti jantung yang memenuhi kriteria inklusi dan dipilih menggunakan teknik total sampling berdasarkan rekam medis. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-square dengan tingkat kemaknaan 95% (α = 0,05). Hasil: Sebanyak 41,8% pasien mengalami keberhasilan ROSC. Analisis menunjukkan bahwa waktu respons (p=0,001), irama jantung awal (p=0,003), durasi RJP (p=0,005), dan pemberian defibrilasi (p=0,002) berhubungan secara signifikan dengan keberhasilan RJP. Usia (p=0,081) dan jenis kelamin (p=0,427) tidak menunjukkan hubungan yang bermakna. Kesimpulan: Keberhasilan Resusitasi Jantung Paru dipengaruhi oleh waktu respons yang cepat, irama jantung awal yang dapat dilakukan defibrilasi, durasi resusitasi yang sesuai, serta tindakan defibrilasi yang tepat. Peningkatan kompetensi tenaga kesehatan dan optimalisasi sistem respons kegawatdaruratan diperlukan untuk meningkatkan angka keberhasilan RJP.
Hubungan Kebiasaan Merokok Dengan Penurunan Berat Badan Pada Orang Dewasa Nurhasanah Syaharuddin; Cakrawati R Cakrawati R
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2026): Barongko : Jurna Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1405

Abstract

Latar Belakang: Merokok merupakan salah satu faktor risiko utama berbagai penyakit tidak menular dan menjadi penyebab kematian yang dapat dicegah di seluruh dunia. Meskipun demikian, beberapa penelitian menunjukkan bahwa perokok cenderung memiliki indeks massa tubuh (IMT) yang lebih rendah dibandingkan bukan perokok. Efek nikotin terhadap penekanan nafsu makan, peningkatan metabolisme basal, dan perubahan regulasi energi diduga berkontribusi terhadap penurunan berat badan pada perokok. Namun, hubungan tersebut masih dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti usia, jenis kelamin, aktivitas fisik, pola makan, dan lama kebiasaan merokok. Tujuan: Menganalisis hubungan kebiasaan merokok dengan penurunan berat badan pada orang dewasa. Metode: Penelitian menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Sebanyak 240 responden berusia 18–60 tahun dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Data kebiasaan merokok diperoleh melalui kuesioner terstruktur, sedangkan berat badan dan tinggi badan diukur secara langsung untuk menghitung indeks massa tubuh (IMT). Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-square dan regresi logistik dengan tingkat kemaknaan 95%. Hasil: Sebanyak 42,5% responden merupakan perokok aktif. Penurunan berat badan atau status berat badan di bawah normal ditemukan pada 28,3% responden. Analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara kebiasaan merokok dan penurunan berat badan (p = 0,003). Analisis multivariat menunjukkan bahwa perokok aktif memiliki peluang 2,76 kali lebih besar mengalami penurunan berat badan dibandingkan bukan perokok (AOR = 2,76; 95% CI = 1,48–5,14). Kesimpulan: Kebiasaan merokok berhubungan signifikan dengan penurunan berat badan pada orang dewasa. Meskipun demikian, merokok tidak dapat dijadikan sebagai metode pengendalian berat badan karena dampak buruknya terhadap kesehatan jauh lebih besar dibandingkan manfaat yang dipersepsikan.
Hubungan Kepatuhan Kunjungan Antenatal Care Dengan Kejadian Komplikasi Kehamilan Pada Trimester III Hasrianti Hasrianti; Dian Meiliani Yulis; Sutrani Syarif; Nurqalbi SR Nurqalbi SR
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2026): Barongko : Jurna Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1406

Abstract

Latar Belakang: Antenatal Care (ANC) merupakan pelayanan kesehatan yang diberikan kepada ibu hamil secara terencana dan berkesinambungan untuk memantau kondisi ibu dan janin, mendeteksi faktor risiko, serta mencegah terjadinya komplikasi kehamilan. Kepatuhan ibu hamil dalam melakukan kunjungan ANC sesuai standar berperan penting dalam menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu maupun bayi. Namun, masih terdapat ibu hamil yang tidak melakukan kunjungan ANC secara lengkap sehingga komplikasi kehamilan sering terlambat terdeteksi, terutama pada trimester III. Tujuan: Menganalisis hubungan kepatuhan kunjungan Antenatal Care dengan kejadian komplikasi kehamilan pada ibu hamil trimester III. Metode: Penelitian menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian sebanyak 120 ibu hamil trimester III yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui telaah buku KIA, rekam medis, dan kuesioner karakteristik responden. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-square dengan tingkat kemaknaan 95% (α = 0,05). Hasil: Sebagian besar responden patuh melakukan kunjungan ANC sesuai standar (71,7%). Kejadian komplikasi kehamilan ditemukan pada 25,8% responden. Hasil uji Chi-square menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara kepatuhan kunjungan ANC dengan kejadian komplikasi kehamilan pada trimester III (p = 0,002). Kesimpulan: Kepatuhan kunjungan ANC berhubungan secara signifikan dengan kejadian komplikasi kehamilan pada trimester III. Ibu hamil yang patuh melakukan kunjungan ANC sesuai standar memiliki risiko lebih rendah mengalami komplikasi kehamilan dibandingkan ibu yang tidak patuh.