cover
Contact Name
Rahmat Pannyiwi
Contact Email
rahmatpannyiwi79@gmail.com
Phone
+62852-9845-6666
Journal Mail Official
agdosiagdosi@gmail.com
Editorial Address
Komp. Nusa Harapan Permai Blok B.6 No.7 Kecamatan biringkanaya
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan
ISSN : -     EISSN : 29640849     DOI : https://doi.org/10.59585/bajik
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan (BaJIK) adalah jurnal peer-review nasional yang diterbitkan oleh Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia. Jurnal Ilmu Kesehatan ini bersifat open access atau akses terbuka serta bertujuan untuk berbagi dan mempromosikan kualitas layanan masyarakat dengan menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk membantu orang atau memecahkan beberapa masalah kehidupan sehari-hari.
Articles 385 Documents
Korelasi Tingkat Pengetahuan Dan Dukungan Layanan Kesehatan Dengan Kepatuhan Skrining IMS Pada Kelompok Berisiko Achmad Hilal; Rezqiqah Aulia Rahmat
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 3 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (Juli)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v4i3.1328

Abstract

ABSTRACT Sexually Transmitted Infections (STIs) remain a major public health concern, particularly among high-risk groups. Limited knowledge about STIs and inadequate support from healthcare services may reduce the utilization of STI screening programs. Early screening is essential for detecting infections, preventing transmission, and reducing complications. This study aimed to determine the correlation between the level of knowledge and healthcare service support with compliance with STI screening among high-risk groups. This study used a quantitative analytical observational design with a cross-sectional approach. The study involved 100 respondents selected using purposive sampling. Data were collected using questionnaires measuring STI knowledge, healthcare service support, and STI screening compliance. Data analysis was performed using the Chi-Square test with a significance level of α=0.05. The results showed that 62% of respondents had good knowledge about STIs, 58% received good healthcare service support, and 65% complied with STI screening. Statistical analysis showed a significant correlation between knowledge level and STI screening compliance (p=0.001). A significant correlation was also found between healthcare service support and STI screening compliance (p=0.003). Higher STI knowledge levels and better healthcare service support are associated with increased compliance with STI screening among high-risk groups. Strengthening sexual health education, improving accessibility, and providing stigma-free healthcare services are important strategies to increase STI screening participation. Keywords: Knowledge, Healthcare Service Support, Compliance, STI Screening, High-Risk Groups   ABSTRAK Infeksi Menular Seksual (IMS) merupakan masalah kesehatan masyarakat yang masih banyak ditemukan pada kelompok berisiko. Rendahnya pengetahuan mengenai IMS serta keterbatasan dukungan layanan kesehatan dapat menjadi hambatan dalam pelaksanaan skrining secara rutin. Skrining IMS berperan penting dalam deteksi dini, pencegahan penularan, dan pengendalian komplikasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan tentang IMS dan dukungan layanan kesehatan dengan kepatuhan melakukan skrining IMS pada kelompok berisiko. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian sebanyak 100 responden dari kelompok berisiko yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner mengenai tingkat pengetahuan IMS, dukungan layanan kesehatan, dan kepatuhan skrining IMS. Analisis data menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan IMS kategori baik (62%), mendapatkan dukungan layanan kesehatan yang baik (58%), dan patuh melakukan skrining IMS (65%). Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dengan kepatuhan skrining IMS (p=0,001) serta antara dukungan layanan kesehatan dengan kepatuhan skrining IMS (p=0,003). Tingkat pengetahuan yang baik dan dukungan layanan kesehatan yang memadai berhubungan dengan meningkatnya kepatuhan skrining IMS pada kelompok berisiko. Peningkatan edukasi kesehatan seksual dan penguatan layanan kesehatan yang ramah kelompok berisiko diperlukan untuk meningkatkan cakupan skrining IMS. Kata Kunci: Pengetahuan, Dukungan Layanan Kesehatan, Kepatuhan, Skrining IMS, Kelompok Berisiko
Model Hubungan Pengetahuan Kesehatan Reproduksi, Kesetaraan Gender, Dan Perilaku Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender Cakrawati R Cakrawati R; Raissa Patrisia; Natalia Debi Subani
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 3 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (Juli)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v4i3.1329

Abstract

ABSTRACT Gender-based violence is a public health issue affecting physical, psychological, social, and reproductive health outcomes. Prevention efforts require not only legal interventions but also improvements in reproductive health knowledge and understanding of gender equality.This study aimed to analyze the relationship between reproductive health knowledge, gender equality, and prevention behavior toward gender-based violence.This study used a quantitative analytical observational design with a cross-sectional approach. A total of 100 respondents were selected using purposive sampling. Data were collected through questionnaires measuring reproductive health knowledge, gender equality attitudes, and gender-based violence prevention behaviors. Data were analyzed using Chi-Square tests and logistic regression analysis.The results showed that 68% of respondents had good reproductive health knowledge, 65% demonstrated positive gender equality attitudes, and 62% showed good prevention behaviors. There were significant relationships between reproductive health knowledge and prevention behavior (p=0.002), as well as between gender equality attitudes and prevention behavior (p=0.001).Reproductive health knowledge and gender equality awareness are associated with better prevention behaviors toward gender-based violence. Strengthening reproductive health education and gender equality programs is important for preventing gender-based violence. Keywords: Reproductive Health, Gender Equality, Gender-Based Violence, Prevention, Behavior ABSTRAK Kekerasan berbasis gender merupakan masalah kesehatan masyarakat yang berdampak terhadap fisik, psikologis, sosial, dan kesehatan reproduksi korban. Upaya pencegahan kekerasan berbasis gender tidak hanya bergantung pada penegakan hukum, tetapi juga dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan kesehatan reproduksi dan pemahaman mengenai kesetaraan gender dalam masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara pengetahuan kesehatan reproduksi, kesetaraan gender, dan perilaku pencegahan kekerasan berbasis gender. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan analitik observasional dan metode cross-sectional. Sampel penelitian sebanyak 100 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner mengenai pengetahuan kesehatan reproduksi, sikap kesetaraan gender, dan perilaku pencegahan kekerasan berbasis gender. Analisis data menggunakan uji Chi-Square dan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 68% responden memiliki pengetahuan kesehatan reproduksi yang baik, 65% memiliki pemahaman kesetaraan gender yang positif, dan 62% memiliki perilaku pencegahan kekerasan berbasis gender yang baik. Terdapat hubungan signifikan antara pengetahuan kesehatan reproduksi dengan perilaku pencegahan kekerasan berbasis gender (p=0,002) serta antara kesetaraan gender dengan perilaku pencegahan kekerasan berbasis gender (p=0,001). Pengetahuan kesehatan reproduksi dan pemahaman kesetaraan gender berhubungan dengan peningkatan perilaku pencegahan kekerasan berbasis gender. Pendidikan kesehatan reproduksi dan penguatan nilai kesetaraan gender perlu ditingkatkan sebagai strategi pencegahan kekerasan. Kata Kunci: Kesehatan Reproduksi, Kesetaraan Gender, Kekerasan Berbasis Gender, Pencegahan, Perilaku
Dampak Paparan Asap Rokok Terhadap Kesehatan Perokok Pasif Dalam Keluarga Nurul Aisyiyah Puspitarini; Hasanuddin Hasanuddin; Lely Meriaya Sari; Djunaedi Djunaedi
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 3 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (Juli)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v4i3.1330

Abstract

ABSTRACT Exposure to cigarette smoke is a major environmental health problem that significantly affects public health. Passive smokers, especially family members living with active smokers, are at risk of developing various health problems due to continuous exposure to tobacco smoke. Cigarette smoke contains harmful substances that increase the risk of respiratory diseases, cardiovascular diseases, and other health complications. This study aimed to analyze the impact of cigarette smoke exposure on the health of passive smokers within families and identify factors associated with increased health risks due to secondhand smoke exposure. This study used a quantitative analytical observational design with a cross-sectional approach. The sample consisted of 100 family members living with active smokers. Data were collected using questionnaires assessing cigarette smoke exposure intensity, characteristics of active smokers, and respondents’ health conditions. Data were analyzed using the Chi-Square test with a significance level of α=0.05. The findings showed that most respondents experienced high levels of cigarette smoke exposure (58%). The most common health complaints were recurrent cough (42%), shortness of breath (35%), and throat irritation (31%). Statistical analysis showed a significant association between cigarette smoke exposure and respiratory health problems among passive smokers (p=0.002). Household cigarette smoke exposure is associated with increased health risks among passive smokers. Family education and implementation of smoke-free homes are needed to reduce exposure and protect family health. Keywords: Cigarette Smoke, Passive Smokers, Family Health, Respiratory Disorders, Environmental Exposure ABSTRAK Paparan asap rokok merupakan salah satu masalah kesehatan lingkungan yang berdampak besar terhadap kesehatan masyarakat. Perokok pasif, terutama anggota keluarga yang tinggal bersama perokok aktif, berisiko mengalami berbagai gangguan kesehatan akibat menghirup asap rokok secara terus-menerus. Asap rokok mengandung berbagai zat berbahaya yang dapat meningkatkan risiko penyakit pernapasan, penyakit kardiovaskular, serta gangguan kesehatan lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak paparan asap rokok terhadap kesehatan perokok pasif dalam keluarga serta mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan peningkatan risiko gangguan kesehatan akibat paparan asap rokok. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan analitik observasional. Desain penelitian yang digunakan adalah cross-sectional. Sampel penelitian terdiri dari 100 anggota keluarga yang tinggal bersama perokok aktif. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner mengenai intensitas paparan asap rokok, karakteristik perokok aktif dalam keluarga, serta kondisi kesehatan responden. Analisis data menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kemaknaan α=0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden mengalami paparan asap rokok dalam kategori tinggi (58%). Keluhan kesehatan yang paling banyak ditemukan adalah batuk berulang (42%), sesak napas (35%), dan keluhan iritasi tenggorokan (31%). Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara paparan asap rokok dengan gangguan kesehatan pernapasan pada perokok pasif (p=0,002). Paparan asap rokok dalam lingkungan keluarga berhubungan dengan peningkatan risiko gangguan kesehatan pada perokok pasif. Upaya pengendalian asap rokok dalam rumah melalui edukasi keluarga dan penerapan rumah bebas asap rokok diperlukan untuk melindungi kesehatan anggota keluarga. Kata Kunci: Asap Rokok, Perokok Pasif, Kesehatan Keluarga, Gangguan Pernapasan, Paparan Lingkungan
Epidemiologi Sosial: Pengaruh Determinan Sosial Terhadap Status Kesehatan Masyarakat Achmad Hilal; Nurhaedah Nurhaedah
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 3 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (Juli)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v4i3.1332

Abstract

ABSTRACT Public health status is influenced not only by biological factors and healthcare services but also by social, economic, cultural, environmental, and policy-related factors. Social epidemiology examines how social conditions influence the distribution of diseases and health inequalities within populations. This article aims to explain the influence of social determinants on public health status and identify social factors contributing to health disparities. This article used a literature review approach by analyzing scientific sources related to social epidemiology, social determinants of health, and health inequalities. Social determinants such as education level, income, employment, living environment, healthcare access, social support, and public policies significantly influence individual and population health outcomes. Communities with lower socioeconomic conditions tend to experience higher risks of infectious diseases, non-communicable diseases, and barriers to accessing adequate healthcare services. Social determinants have a substantial impact on public health status. Improving population health requires not only medical interventions but also multisectoral approaches addressing social, economic, and environmental factors. Keywords: Social Epidemiology, Social Determinants of Health, Health Status, Health Inequality, Population Health ABSTRAK Status kesehatan masyarakat tidak hanya dipengaruhi oleh faktor biologis dan pelayanan kesehatan, tetapi juga dipengaruhi oleh kondisi sosial, ekonomi, budaya, lingkungan, dan kebijakan. Epidemiologi sosial mempelajari bagaimana faktor sosial memengaruhi distribusi penyakit dan ketimpangan kesehatan dalam suatu populasi. Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan pengaruh determinan sosial terhadap status kesehatan masyarakat serta mengidentifikasi faktor sosial yang berperan dalam munculnya kesenjangan kesehatan. Artikel ini menggunakan metode kajian literatur dengan menelaah berbagai sumber ilmiah mengenai epidemiologi sosial, determinan sosial kesehatan, dan ketimpangan kesehatan masyarakat. Determinan sosial seperti tingkat pendidikan, pendapatan, pekerjaan, lingkungan tempat tinggal, akses pelayanan kesehatan, dukungan sosial, dan kebijakan publik terbukti memiliki hubungan dengan tingkat kesehatan individu maupun kelompok. Masyarakat dengan kondisi sosial ekonomi rendah cenderung memiliki risiko lebih tinggi mengalami penyakit infeksi, penyakit tidak menular, serta hambatan dalam memperoleh pelayanan kesehatan yang optimal. Determinan sosial memiliki pengaruh besar terhadap status kesehatan masyarakat. Upaya peningkatan kesehatan tidak cukup hanya melalui intervensi medis, tetapi membutuhkan pendekatan multisektor yang memperhatikan faktor sosial, ekonomi, dan lingkungan. Kata Kunci: Epidemiologi Sosial, Determinan Sosial Kesehatan, Status Kesehatan, Ketimpangan Kesehatan, Masyarakat
Determinan Status Gizi Balita Dalam Situasi Darurat Bencana: Studi Cross-Sectional Pada Wilayah Pengungsian Rumiris Simatupang; Warda M Warda M; Rezqiqah Aulia Rahmat
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 3 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (Juli)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v4i3.1333

Abstract

ABSTRACT Disaster emergency situations may increase the risk of nutritional problems among children under five due to limited food access, changes in caregiving practices, poor sanitation, and restricted healthcare services. Young children are vulnerable groups requiring special attention because malnutrition during early life can affect long-term growth and development. This study aimed to analyze determinants associated with nutritional status among children under five in disaster emergency shelters. This study used a quantitative analytical observational design with a cross-sectional approach. The study was conducted among children under five living in evacuation areas. A total of 100 children were selected using purposive sampling. Data were collected through anthropometric measurements and questionnaires assessing food intake, infectious diseases, caregiving practices, and healthcare access. Data were analyzed using the Chi-Square test. The study showed that 65% of children had good nutritional status, while 35% experienced nutritional problems. Factors associated with nutritional status were food intake (p=0.002), history of infectious diseases (p=0.004), maternal caregiving practices (p=0.012), and healthcare access (p=0.018). Nutritional status among children under five in disaster situations is influenced by food availability, infectious diseases, caregiving practices, and healthcare access. Integrated emergency nutrition interventions are needed through adequate food provision, growth monitoring, disease prevention, and strengthened health services. Keywords: Nutritional Status, Children Under Five, Disaster, Evacuation Shelter, Health Determinants ABSTRAK Situasi darurat bencana dapat meningkatkan risiko gangguan status gizi pada balita akibat keterbatasan akses pangan, perubahan pola asuh, gangguan sanitasi, serta terbatasnya pelayanan kesehatan. Balita merupakan kelompok rentan yang membutuhkan perhatian khusus karena kekurangan gizi pada masa ini dapat berdampak terhadap pertumbuhan dan perkembangan jangka panjang.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan status gizi balita dalam situasi darurat bencana di wilayah pengungsian. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian dilakukan pada balita yang berada di wilayah pengungsian. Sampel penelitian sebanyak 100 balita yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui pengukuran antropometri (berat badan dan tinggi/panjang badan), wawancara kuesioner mengenai asupan makanan, penyakit infeksi, pola asuh, dan akses pelayanan kesehatan. Analisis data menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar balita memiliki status gizi baik (65%), sedangkan 35% mengalami masalah gizi. Faktor yang berhubungan dengan status gizi balita adalah asupan makanan (p=0,002), riwayat penyakit infeksi (p=0,004), pola asuh ibu (p=0,012), dan akses pelayanan kesehatan (p=0,018). Status gizi balita dalam situasi darurat bencana dipengaruhi oleh faktor konsumsi makanan, penyakit infeksi, pola asuh, dan akses pelayanan kesehatan. Intervensi gizi darurat perlu dilakukan secara terpadu melalui pemberian makanan bergizi, pemantauan pertumbuhan, pencegahan penyakit, dan penguatan layanan kesehatan di lokasi pengungsian. Kata Kunci: Status Gizi, Balita, Bencana, Pengungsian, Determinan Kesehatan
Evaluasi Implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Dalam Mendukung Generasi Emas Indonesia 2045 Nur Aida Kubangun; Riswan Riswan; Rahmat Pannyiwi; Muhammad Asikin; Yudi Muammar
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 3 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (Juli)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v4i3.1334

Abstract

ABSTRACT Background: Human resource quality is a key factor in achieving Indonesia Golden Generation 2045. The Free Nutritious Meal Program (MBG) was introduced as a strategic intervention to improve nutritional fulfillment, support child growth, and strengthen educational outcomes. Large-scale nutrition programs require continuous evaluation to ensure effectiveness and sustainability. Objective: This study aimed to evaluate the implementation of the Free Nutritious Meal Program (MBG) in supporting health improvement and human resource development toward Indonesia Golden Generation 2045. Methods: This study used a descriptive evaluative design with a cross-sectional approach. The sample consisted of 100 respondents including beneficiaries, program implementers, and related stakeholders. Data were collected using questionnaires assessing program implementation, food quality, target accuracy, health benefits, and implementation challenges. Data were analyzed using descriptive statistics. Results: The results showed that most respondents assessed MBG implementation as good (72%). Positive aspects included improved access to nutritious food (78%), support for learning concentration (70%), and increased awareness of healthy eating habits (75%). However, several challenges remained, including distribution systems, food quality monitoring, implementer readiness, and evaluation mechanisms. Conclusion: The Free Nutritious Meal Program has strong potential to support Indonesia Golden Generation 2045 through improved nutrition and human resource quality. Optimization requires stronger governance, food safety monitoring, equitable distribution, and continuous evaluation. Keywords: Free Nutritious Meal Program, Program Evaluation, Child Nutrition, Golden Generation 2045, Health Policy
Determinan Perilaku Seksual Sehat Dan Bertanggung Jawab Pada Remaja Dalam Perspektif Kesehatan Reproduksi Hainas Sani Privetera; Rohmi Rohmi
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 3 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (Juli)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v4i3.1335

Abstract

ABSTRACT Background: Adolescence is a developmental stage characterized by biological, psychological, and social changes. Lack of reproductive health knowledge may increase the risk of unhealthy sexual behaviors, including risky sexual activity, sexually transmitted infections, and unintended pregnancy. Healthy and responsible sexual behavior is influenced by various factors such as knowledge, attitudes, family support, peer influence, and access to reproductive health information. Objective: This study aimed to identify determinants associated with healthy and responsible sexual behavior among adolescents from a reproductive health perspective. Methods: This study used a quantitative analytical observational design with a cross-sectional approach. A total of 100 adolescents were selected using purposive sampling. Data were collected through questionnaires assessing reproductive health knowledge, attitudes, family support, access to information, and healthy sexual behavior. Data analysis was performed using the Chi-Square test. Results: The results showed that 70% of respondents had good reproductive health knowledge, 65% had positive attitudes toward healthy sexual behavior, 60% received good family support, and 68% demonstrated healthy and responsible sexual behavior. Significant associations were found between reproductive health knowledge (p=0.001), attitudes (p=0.003), and family support (p=0.012) with healthy sexual behavior. Conclusion: Reproductive health knowledge, positive attitudes, and social support are associated with healthy and responsible sexual behavior among adolescents. Comprehensive reproductive health education is needed to improve adolescents’ ability to make safe and responsible decisions. Keywords: Adolescents, Reproductive Health, Healthy Sexual Behavior, Knowledge, Risk Prevention ABSTRAK Latar Belakang: Masa remaja merupakan periode perkembangan yang ditandai perubahan biologis, psikologis, dan sosial. Kurangnya pemahaman mengenai kesehatan reproduksi dapat meningkatkan risiko perilaku seksual tidak sehat seperti hubungan seksual berisiko, infeksi menular seksual, dan kehamilan tidak direncanakan. Perilaku seksual sehat dan bertanggung jawab dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti pengetahuan, sikap, dukungan keluarga, teman sebaya, serta akses informasi kesehatan reproduksi. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku seksual sehat dan bertanggung jawab pada remaja dalam perspektif kesehatan reproduksi. Metode: Penelitian menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan analitik observasional dan metode cross-sectional. Sampel penelitian sebanyak 100 remaja yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner mengenai pengetahuan kesehatan reproduksi, sikap, dukungan keluarga, akses informasi, dan perilaku seksual sehat. Analisis data menggunakan uji Chi-Square. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa 70% responden memiliki pengetahuan kesehatan reproduksi baik, 65% memiliki sikap positif terhadap perilaku seksual sehat, 60% memperoleh dukungan keluarga baik, dan 68% menunjukkan perilaku seksual sehat dan bertanggung jawab. Terdapat hubungan signifikan antara pengetahuan kesehatan reproduksi (p=0,001), sikap (p=0,003), dan dukungan keluarga (p=0,012) dengan perilaku seksual sehat pada remaja. Kesimpulan: Pengetahuan kesehatan reproduksi, sikap positif, dan dukungan lingkungan sosial berhubungan dengan perilaku seksual sehat dan bertanggung jawab pada remaja. Edukasi kesehatan reproduksi yang komprehensif diperlukan untuk meningkatkan kemampuan remaja dalam mengambil keputusan yang aman dan bertanggung jawab. Kata Kunci: Remaja, Kesehatan Reproduksi, Perilaku Seksual Sehat, Pengetahuan, Pencegahan Risiko
Pengaruh Edukasi Discharge Planning terhadap Kemandirian Pemenuhan Kebutuhan Dasar Pasien Gagal Jantung Devi Kristina Hutagalung; Rezqiqah Aulia Rahmat
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 3 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (Juli)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v4i3.1336

Abstract

ABSTRACT Heart failure is a chronic cardiovascular disease characterized by the inability of the heart to pump blood adequately to meet the body's metabolic demands. Patients with heart failure often experience limitations in performing activities of daily living and require continuous self-care after hospital discharge. Inadequate discharge planning may contribute to poor treatment adherence, recurrent hospitalization, and decreased independence in fulfilling basic needs. Educational discharge planning is considered an effective intervention to improve patients' understanding, self-management skills, and independence after discharge. This study aimed to determine the effect of discharge planning education on the independence of fulfilling basic needs among patients with heart failure. This study employed a quantitative pre-experimental design using a one-group pretest-posttest approach. The study involved 60 hospitalized heart failure patients selected through purposive sampling. The intervention consisted of structured discharge planning education covering medication adherence, dietary management, physical activity, symptom recognition, fluid restriction, and follow-up care. Data were collected using the Barthel Index and Self-Care of Heart Failure Index questionnaires. Data were analyzed using the Wilcoxon Signed Rank Test with a significance level of α = 0.05. Before the intervention, 61.7% of respondents demonstrated moderate independence, while only 20.0% had high independence. After receiving discharge planning education, the proportion of respondents with high independence increased to 71.7%. Statistical analysis showed a significant improvement in patients' independence after the intervention (p = 0.001). Discharge planning education significantly improves the independence of patients with heart failure in fulfilling their basic needs. Comprehensive discharge planning should become an integral component of nursing care to reduce readmission rates and improve patients' quality of life. Keywords: Discharge Planning, Heart Failure, Independence, Self-Care, Nursing Education ABSTRAK Gagal jantung merupakan penyakit kardiovaskular kronis yang ditandai dengan ketidakmampuan jantung memompa darah secara optimal sehingga kebutuhan metabolisme tubuh tidak terpenuhi. Kondisi tersebut menyebabkan pasien mengalami keterbatasan dalam melakukan aktivitas sehari-hari dan membutuhkan kemampuan perawatan diri yang baik setelah pulang dari rumah sakit. Pelaksanaan discharge planning yang belum optimal sering menyebabkan rendahnya kepatuhan terapi, tingginya angka rehospitalisasi, dan menurunnya kemandirian pasien dalam memenuhi kebutuhan dasar. Edukasi discharge planning menjadi salah satu intervensi keperawatan yang diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kemandirian pasien. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh edukasi discharge planning terhadap kemandirian pemenuhan kebutuhan dasar pasien gagal jantung. Penelitian menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan pre-experimental one group pretest-posttest. Sampel penelitian sebanyak 60 pasien gagal jantung yang dirawat di rumah sakit dan dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Intervensi berupa edukasi discharge planning terstruktur mengenai kepatuhan minum obat, pengaturan diet, aktivitas fisik, pembatasan cairan, pengenalan tanda bahaya, dan jadwal kontrol. Pengumpulan data menggunakan kuesioner Self-Care of Heart Failure Index dan Barthel Index. Analisis data dilakukan menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test dengan tingkat kemaknaan α = 0,05. Sebelum edukasi discharge planning sebanyak 61,7% responden memiliki tingkat kemandirian sedang dan hanya 20,0% memiliki kemandirian tinggi. Setelah diberikan edukasi discharge planning, proporsi responden dengan tingkat kemandirian tinggi meningkat menjadi 71,7%. Hasil analisis menunjukkan terdapat pengaruh signifikan edukasi discharge planning terhadap peningkatan kemandirian pemenuhan kebutuhan dasar pasien gagal jantung (p = 0,001). Edukasi discharge planning berpengaruh signifikan terhadap peningkatan kemandirian pemenuhan kebutuhan dasar pasien gagal jantung. Pelaksanaan discharge planning yang komprehensif perlu diterapkan secara konsisten sebagai bagian integral pelayanan keperawatan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien dan menurunkan angka rawat ulang. Kata Kunci: Discharge Planning, Gagal Jantung, Kemandirian, Self-Care, Edukasi Keperawatan
Penerapan Air Rebusan Daun Jambu Biji (Psidium Guajava L.) Terhadap Tingkat Malodor Pada Luka Penderita Ulkus Diabetikum Di Puskesmas Aek Parombunan Piuskosmas Fau; Dian Kristiani Tafonao
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 3 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (Juli)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v4i3.1337

Abstract

ABSTRACT Diabetic ulcers are one of the chronic complications of diabetes mellitus that frequently lead to prolonged wound healing and unpleasant odor (malodor). Malodor is caused by bacterial colonization and tissue necrosis, which negatively affect patients' physical comfort, psychological well-being, and quality of life. Guava leaves (Psidium guajava L.) contain bioactive compounds such as flavonoids, tannins, saponins, and essential oils with antibacterial, anti-inflammatory, and antioxidant properties that may reduce wound odor. This study aimed to determine the effectiveness of boiled guava leaf water application in reducing the malodor level of diabetic ulcers at Aek Parombunan Public Health Center. This study employed a quantitative pre-experimental design using a one-group pretest–posttest approach. The study involved 20 patients with diabetic ulcers selected through purposive sampling. Malodor was assessed using the Teler Wound Odor Assessment Tool before and after the intervention. The intervention consisted of wound cleansing using boiled guava leaf water once daily for seven consecutive days. Data were analyzed using the Wilcoxon Signed Rank Test. The results demonstrated a significant reduction in malodor scores after the intervention (p<0.05). The application of boiled guava leaf water proved effective in reducing wound malodor and may serve as an alternative complementary therapy in diabetic wound management. Keywords: Diabetic Ulcer, Guava Leaves, Malodor, Wound Care, Complementary Therapy. ABSTRAK Ulkus diabetikum merupakan salah satu komplikasi kronis diabetes melitus yang sering menyebabkan proses penyembuhan luka berlangsung lama disertai timbulnya bau tidak sedap (malodor). Malodor pada luka terjadi akibat kolonisasi bakteri anaerob dan jaringan nekrotik yang dapat menurunkan kenyamanan, kualitas hidup, serta kondisi psikologis penderita. Daun jambu biji (Psidium guajava L.) mengandung flavonoid, tanin, saponin, dan minyak atsiri yang memiliki aktivitas antibakteri, antiinflamasi, serta antioksidan sehingga berpotensi mengurangi malodor pada luka. Penelitian ini bertujuan mengetahui efektivitas penerapan air rebusan daun jambu biji terhadap penurunan tingkat malodor pada luka penderita ulkus diabetikum di Puskesmas Aek Parombunan. Penelitian menggunakan desain pre-eksperimental dengan pendekatan one group pretest-posttest. Sampel penelitian sebanyak 20 penderita ulkus diabetikum yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Tingkat malodor diukur menggunakan Teler Wound Odor Assessment Tool sebelum dan sesudah intervensi. Intervensi dilakukan dengan membersihkan luka menggunakan air rebusan daun jambu biji satu kali sehari selama tujuh hari berturut-turut. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan skor malodor yang bermakna setelah pemberian air rebusan daun jambu biji (p<0,05). Penerapan air rebusan daun jambu biji efektif menurunkan tingkat malodor pada luka ulkus diabetikum sehingga dapat digunakan sebagai terapi komplementer dalam perawatan luka diabetik. Kata Kunci: Ulkus Diabetikum, Daun Jambu Biji, Malodor, Perawatan Luka, Terapi Komplementer
Pengaruh Terapi Range Of Motion Terhadap Pemulihan Fungsi Ekstremitas Pada Pasien Stroke M. Khalid Fredy Saputra; Rahmat Pannyiwi
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 3 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (Juli)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v4i3.1338

Abstract

ABSTRACT Stroke is one of the leading causes of disability worldwide, resulting in impaired upper and lower extremity motor function. These impairments reduce patients' ability to perform daily activities independently. Range of Motion (ROM) therapy is widely recommended as a rehabilitation intervention to maintain joint flexibility, improve muscle strength, enhance blood circulation, and prevent contractures. To determine the effect of Range of Motion therapy on extremity functional recovery in stroke patients. This study employed a quasi-experimental one-group pretest-posttest design involving 30 stroke patients selected using purposive sampling. ROM exercises were performed twice daily for 30 minutes over four weeks. Extremity function was measured using the Fugl-Meyer Assessment (FMA). Data were analyzed using paired t-test with a significance level of 0.05. The mean extremity function score increased from 41.27 ± 8.52 before intervention to 57.84 ± 7.96 after intervention. Statistical analysis showed a significant improvement (p < 0.001). Range of Motion therapy significantly improves extremity function among stroke patients and should be integrated into nursing rehabilitation programs. Keywords: Stroke, Range of Motion, Extremity Function, Rehabilitation. ABSTRAK Stroke merupakan penyebab utama kecacatan yang menyebabkan gangguan fungsi motorik pada ekstremitas atas maupun bawah. Gangguan tersebut mengakibatkan penurunan kemampuan pasien dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Salah satu intervensi rehabilitasi yang direkomendasikan adalah terapi Range of Motion (ROM), yaitu latihan gerak sendi yang bertujuan mempertahankan fleksibilitas sendi, meningkatkan kekuatan otot, memperbaiki sirkulasi darah, serta mencegah kontraktur. Mengetahui pengaruh terapi Range of Motion terhadap pemulihan fungsi ekstremitas pada pasien stroke.Penelitian menggunakan desain quasi experiment dengan pendekatan one group pretest-posttest. Sampel penelitian berjumlah 30 pasien stroke yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Intervensi terapi ROM diberikan selama 30 menit, dua kali sehari selama empat minggu. Instrumen penelitian menggunakan Fugl-Meyer Assessment (FMA). Analisis data menggunakan uji paired t-test dengan tingkat signifikansi 0,05. Nilai rata-rata fungsi ekstremitas sebelum terapi adalah 41,27 ± 8,52 dan meningkat menjadi 57,84 ± 7,96 setelah terapi ROM. Hasil uji paired t-test menunjukkan nilai p = 0,000 (p < 0,05), yang berarti terdapat pengaruh signifikan terapi ROM terhadap pemulihan fungsi ekstremitas pasien stroke. Terapi ROM terbukti efektif meningkatkan fungsi ekstremitas pasien stroke sehingga dapat dijadikan intervensi keperawatan dalam program rehabilitasi. Kata Kunci: Stroke, Range of Motion, Fungsi Ekstremitas, Rehabilitasi, Keperawatan.