cover
Contact Name
Rahmat Pannyiwi
Contact Email
rahmatpannyiwi79@gmail.com
Phone
+62852-9845-6666
Journal Mail Official
agdosiagdosi@gmail.com
Editorial Address
Komp. Nusa Harapan Permai Blok B.6 No.7 Kecamatan biringkanaya
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan
ISSN : -     EISSN : 29640849     DOI : https://doi.org/10.59585/bajik
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan (BaJIK) adalah jurnal peer-review nasional yang diterbitkan oleh Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia. Jurnal Ilmu Kesehatan ini bersifat open access atau akses terbuka serta bertujuan untuk berbagi dan mempromosikan kualitas layanan masyarakat dengan menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk membantu orang atau memecahkan beberapa masalah kehidupan sehari-hari.
Articles 385 Documents
Analisis Faktor Penentu Minat Wanita Usia Subur (WUS) Dalam Melakukan Pemeriksaan IVA Di Klinik Pratama Sarfina Kecamatan Medan Polonia Kota Medan Tahun 2026 Asnita Sinaga; Siska Suci Triana Ginting; Kamelia Sinaga; Rolasnih Lilista Simbolon; Nova Christiana Sianturi
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 3 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (Juli)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v4i3.1378

Abstract

Latar Belakang: Kanker serviks merupakan salah satu penyebab utama kematian pada perempuan yang dapat dicegah melalui deteksi dini menggunakan metode Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA). Rendahnya minat wanita usia subur (WUS) dalam melakukan pemeriksaan IVA diduga dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain pengetahuan, sikap, dukungan suami, dukungan tenaga kesehatan, dan akses pelayanan kesehatan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara pengetahuan, sikap, dukungan suami, dukungan tenaga kesehatan, dan akses pelayanan kesehatan dengan minat wanita usia subur (WUS) dalam melakukan pemeriksaan IVA di Klinik Pratama Sarfina Kecamatan Medan Polonia Kota Medan Tahun 2026. Metode: Penelitian ini menggunakan desain penelitian kuantitatif analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian dilaksanakan di Klinik Pratama Sarfina Kecamatan Medan Polonia Kota Medan dengan jumlah sampel sebanyak 92 wanita usia subur yang dipilih menggunakan teknik accidental sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan dianalisis secara univariat serta bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kemaknaan α = 0,05. Hasil: Hasil uji Chi-Square menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan minat melakukan pemeriksaan IVA (p = 0,005), sikap dengan minat melakukan pemeriksaan IVA (p = 0,000), dukungan suami dengan minat melakukan pemeriksaan IVA (p = 0,000), dukungan tenaga kesehatan dengan minat melakukan pemeriksaan IVA (p = 0,000), serta akses pelayanan kesehatan dengan minat melakukan pemeriksaan IVA (p = 0,000). Kesimpulan: Pengetahuan, sikap, dukungan suami, dukungan tenaga kesehatan, dan akses pelayanan kesehatan memiliki hubungan yang signifikan dengan minat wanita usia subur dalam melakukan pemeriksaan IVA di Klinik Pratama Sarfina Kecamatan Medan Polonia Kota Medan Tahun 2026.
Risk Factors for Pulmonary Tuberculosis Occurrence Among Active Smokers in the Working Area of Poasia Community Health Center Sari Arie Lestari B; Mohamad Guntur Nangi; Apriyanti Apriyanti
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2026): Barongko : Jurna Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1379

Abstract

Indonesia menempati peringkat kedua dunia dalam beban tuberkulosis dengan kontribusi 10 persen dari total kasus global pada tahun 2024. Sementara itu di Provinsi Sulawesi Tenggara, Kecamatan Poasia di Kota Kendari, mencatat angka kejadian tuberkulosis yang tinggi. Merokok merupakan faktor risiko penting bagi kejadian tuberkulosis paru, namun studi epidemiologis di wilayah tersebut masih terbatas. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis faktor risiko kejadian tuberkulosis paru pada perokok aktif di wilayah kerja Puskesmas Poasia. Penelitian ini menggunakan desain kasus kontrol dengan sampel perokok aktif berusia minimal 18 tahun. Variabel yang dikaji meliputi umur, tingkat pendidikan, lama merokok, jumlah konsumsi rokok per hari, indeks Brinkman, karboksihemoglobin, riwayat kontak, kondisi ventilasi rumah, kepadatan hunian, dan status gizi. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner terstruktur dan pemeriksaan laboratorium bakteriologi tahan asam serta karboksihemoglobin. Analisis data menggunakan uji kai kuadrat untuk analisis bivariat dan regresi logistik untuk menentukan faktor risiko independen. Hasil studi menunjukkan bahwa perokok berat dengan konsumsi lebih dari 10 batang per hari memiliki risiko 4,27 kali lebih tinggi (OR=4,27; 95% CI: 2,31-7,89; p<0,001) dibandingkan kelompok kontrol. Kadar karboksihemoglobin tinggi (OR=3,15; p<0,001), riwayat kontak erat dengan penderita tuberkulosis (OR=3,88; p=0,001), ventilasi rumah yang buruk (OR=2,97; p=0,001), status gizi kurang (OR=2,99; p<0,001), dan kepadatan hunian yang tinggi (OR=2,95; p<0,001) juga berhubungan signifikan dengan kejadian tuberkulosis paru. Perilaku merokok merupakan faktor risiko independen paling dominan terhadap kejadian tuberkulosis paru (AOR=3,95; 95% CI: 2,11-7,42; p=0,001), diikuti oleh kadar karboksihemoglobin tinggi (AOR=2,87; 95% CI: 1,52-5,41; p=0,001). Disarankan dilakukan skrining tuberkulosis ekstensif bagi perokok, program penghentian merokok terintegrasi, serta peningkatan ventilasi dan pengurangan kepadatan hunian di wilayah Poasia
Hubungan Lama Berdiri Dengan Keluhan Nyeri Dan Pembengkakan Pada Ekstremitas Bawah Viyan Septiyana Achmad; Marwono Marwono; Rahmat Pannyiwi
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2026): Barongko : Jurna Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1380

Abstract

Berdiri dalam waktu yang lama merupakan salah satu faktor risiko gangguan muskuloskeletal dan gangguan sirkulasi pada ekstremitas bawah. Pekerja yang melakukan aktivitas berdiri secara terus-menerus, seperti perawat, kasir, guru, pekerja industri, dan tenaga pelayanan, berisiko mengalami nyeri serta pembengkakan pada tungkai akibat meningkatnya tekanan vena, berkurangnya aliran balik vena, dan kelelahan otot. Apabila kondisi tersebut berlangsung dalam jangka waktu lama tanpa upaya pencegahan, maka dapat menurunkan produktivitas kerja, meningkatkan angka absensi, serta memengaruhi kualitas hidup pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan lama berdiri dengan keluhan nyeri dan pembengkakan pada ekstremitas bawah. Penelitian menggunakan desain kuantitatif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian dilakukan di salah satu perusahaan/instansi di Indonesia pada Januari–Maret 2026. Sampel penelitian berjumlah 120 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner karakteristik responden, pengukuran lama berdiri selama bekerja, Numeric Rating Scale (NRS) untuk menilai intensitas nyeri, serta lembar observasi pembengkakan ekstremitas bawah. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi 95%. Berdasarkan data simulasi, sebanyak 68 responden (56,7%) memiliki durasi berdiri ≥6 jam per hari. Keluhan nyeri ekstremitas bawah ditemukan pada 74 responden (61,7%), sedangkan pembengkakan ekstremitas bawah dialami oleh 52 responden (43,3%). Hasil uji Chi-Square menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara lama berdiri dengan keluhan nyeri (p = 0,001) serta pembengkakan ekstremitas bawah (p = 0,003). Lama berdiri berhubungan secara signifikan dengan meningkatnya kejadian nyeri dan pembengkakan pada ekstremitas bawah. Pengaturan waktu istirahat, peregangan otot, penggunaan alas kaki yang ergonomis, dan penerapan prinsip ergonomi kerja perlu dilakukan untuk mengurangi risiko gangguan pada ekstremitas bawah.
Model Prediksi Risiko Penyakit Kronis Berdasarkan Faktor Epidemiologis Dan Perilaku Kesehatan Nurril Cholifatul Izza; Akbar Akbar; Rezqiqah Aulia Rahmat
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2026): Barongko : Jurna Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1382

Abstract

Penyakit kronis seperti hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung, dan penyakit ginjal kronik merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas di dunia. Peningkatan prevalensi penyakit kronis dipengaruhi oleh berbagai faktor epidemiologis, seperti usia, jenis kelamin, indeks massa tubuh (IMT), dan riwayat penyakit keluarga, serta perilaku kesehatan yang meliputi kebiasaan merokok, aktivitas fisik, pola makan, konsumsi garam, konsumsi gula, dan konsumsi alkohol. Identifikasi faktor-faktor tersebut melalui model prediksi risiko sangat penting untuk mendukung deteksi dini dan upaya pencegahan penyakit kronis di masyarakat.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor epidemiologis dan perilaku kesehatan yang berhubungan dengan kejadian penyakit kronis serta menyusun model prediksi risiko penyakit kronis pada masyarakat.Penelitian menggunakan desain kuantitatif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian dilaksanakan di wilayah kerja salah satu puskesmas di Indonesia pada Januari–Maret 2026. Sampel penelitian sebanyak 250 responden dipilih menggunakan teknik multistage random sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara menggunakan kuesioner terstruktur, pengukuran antropometri, pemeriksaan tekanan darah, serta pengukuran kadar gula darah sewaktu. Analisis data meliputi analisis univariat, uji Chi-Square, dan regresi logistik ganda untuk membentuk model prediksi risiko penyakit kronis. Kinerja model dievaluasi menggunakan uji Hosmer–Lemeshow dan kurva ROC.Berdasarkan data simulasi, usia ≥45 tahun, obesitas, riwayat penyakit kronis dalam keluarga, aktivitas fisik rendah, konsumsi garam tinggi, dan kebiasaan merokok berhubungan signifikan dengan kejadian penyakit kronis (p<0,05). Analisis regresi logistik menunjukkan bahwa usia ≥45 tahun (OR=4,32), obesitas (OR=3,41), riwayat keluarga (OR=2,95), dan aktivitas fisik rendah (OR=2,63) merupakan prediktor dominan. Model prediksi memiliki nilai Area Under Curve (AUC) sebesar 0,87, yang menunjukkan kemampuan diskriminasi yang baik.Faktor epidemiologis dan perilaku kesehatan berpengaruh terhadap risiko penyakit kronis. Model prediksi yang dikembangkan memiliki kemampuan yang baik dalam mengidentifikasi individu berisiko tinggi sehingga dapat dimanfaatkan sebagai dasar skrining dan intervensi promotif-preventif di pelayanan kesehatan primer
Efektivitas Kompres Hangat Terhadap Penurunan Suhu Tubuh Pada Anak Demam Di Rumah Sakit Dia Rejeki Utami; Muhammad Syahrul Alam; Ayu Sri Wahyuni; Nuryanti Thahir
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 3 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (Juli)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v4i3.1385

Abstract

Demam merupakan salah satu gejala yang paling sering dialami anak akibat infeksi. Penanganan demam tidak hanya menggunakan terapi farmakologis, tetapi juga dapat dilakukan dengan intervensi nonfarmakologis seperti kompres hangat. Kompres hangat bekerja melalui mekanisme vasodilatasi yang membantu meningkatkan pelepasan panas tubuh sehingga suhu tubuh dapat menurun.Menganalisis efektivitas kompres hangat terhadap penurunan suhu tubuh pada anak yang mengalami demam di rumah sakit.Penelitian ini menggunakan desain true experimental dengan rancangan pretest-posttest control group design. Sampel terdiri atas 60 anak usia 1–12 tahun yang mengalami demam dan dirawat di rumah sakit, dibagi menjadi kelompok intervensi dan kelompok kontrol masing-masing 30 responden menggunakan teknik simple random sampling. Kelompok intervensi diberikan kompres hangat selama 20 menit, sedangkan kelompok kontrol mendapatkan perawatan standar rumah sakit. Pengukuran suhu tubuh dilakukan sebelum dan sesudah intervensi menggunakan termometer digital. Analisis data menggunakan uji paired t-test dan independent t-test dengan tingkat signifikansi p<0,05.Rata-rata suhu tubuh kelompok intervensi sebelum pemberian kompres hangat adalah 38,7±0,5°C dan menurun menjadi 37,8±0,4°C setelah intervensi. Pada kelompok kontrol, suhu tubuh menurun dari 38,6±0,4°C menjadi 38,3±0,5°C. Hasil uji statistik menunjukkan terdapat perbedaan bermakna pada kelompok intervensi (p<0,001) dan terdapat perbedaan yang signifikan antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol (p<0,001).Kompres hangat efektif dalam menurunkan suhu tubuh pada anak yang mengalami demam di rumah sakit dan dapat dijadikan sebagai intervensi keperawatan nonfarmakologis yang aman serta mudah diterapkan
Pengaruh Kompres Hangat Terhadap Penurunan Suhu Tubuh Pada Anak Demam Tifoid Di Rsud Wonomulyo Hamdan Nur; Milka Milka
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 3 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (Juli)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v4i3.1386

Abstract

Demam tifoid merupakan penyakit infeksi yang masih menjadi masalah kesehatan pada anak di Indonesia. Manifestasi klinis yang paling sering ditemukan adalah hipertermia akibat infeksi Salmonella typhi. Selain terapi farmakologis, tindakan nonfarmakologis seperti kompres hangat dapat digunakan untuk membantu menurunkan suhu tubuh.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kompres hangat terhadap penurunan suhu tubuh pada anak demam tifoid di RSUD Wonomulyo. Penelitian ini menggunakan desain pre-experimental dengan pendekatan one-group pretest-posttest design. Sampel penelitian berjumlah 30 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Suhu tubuh diukur sebelum dan sesudah pemberian kompres hangat selama 15–20 menit menggunakan termometer digital. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Paired t-test dengan tingkat kemaknaan α = 0,05. Rata-rata suhu tubuh sebelum pemberian kompres hangat adalah 38,80°C (SD = 0,56), sedangkan setelah pemberian kompres hangat menurun menjadi 37,60°C (SD = 0,42). Hasil uji Paired t-test menunjukkan nilai p-value = 0,000 (p < 0,05), yang menunjukkan adanya pengaruh signifikan kompres hangat terhadap penurunan suhu tubuh pada anak demam tifoid. Kompres hangat efektif dalam menurunkan suhu tubuh pada anak demam tifoid dan dapat digunakan sebagai tindakan keperawatan nonfarmakologis dalam penatalaksanaan hipertermia.
Analisis Risiko Dan Pengendalian Bahaya Laboratorium Berdasarkan Pendekatan Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (K3), Biosafety, Dan Biosecurity Fitriana; Astrid Siska Pratiwi
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 3 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (Juli)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v4i3.1387

Abstract

Laboratorium merupakan lingkungan kerja yang memiliki berbagai potensi bahaya, baik biologis, kimia, fisik, ergonomi, maupun mekanik. Aktivitas pemeriksaan spesimen, penggunaan bahan kimia berbahaya, pengoperasian peralatan laboratorium, serta pengelolaan limbah medis berpotensi menimbulkan kecelakaan kerja dan paparan penyakit apabila tidak dikelola dengan baik. Penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), biosafety, dan biosecurity merupakan komponen penting dalam sistem manajemen laboratorium untuk melindungi tenaga laboratorium, pasien, masyarakat, serta lingkungan dari berbagai risiko yang mungkin terjadi. Penelitian ini bertujuan menganalisis risiko dan pengendalian bahaya laboratorium berdasarkan pendekatan K3, biosafety, dan biosecurity. Penelitian menggunakan desain deskriptif observasional dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian dilaksanakan di laboratorium kesehatan dengan melibatkan seluruh petugas laboratorium menggunakan teknik total sampling sebanyak 35 responden. Data dikumpulkan melalui observasi menggunakan checklist K3 laboratorium, instrumen biosafety dan biosecurity berdasarkan WHO Laboratory Biosafety Manual edisi keempat, serta wawancara terstruktur. Penilaian risiko dilakukan menggunakan metode Risk Assessment Matrix berdasarkan tingkat kemungkinan (likelihood) dan tingkat keparahan (severity). Analisis data dilakukan secara deskriptif. Hasil analisis menunjukkan bahwa bahaya biologis memiliki tingkat risiko tertinggi, terutama akibat paparan spesimen infeksius dan benda tajam. Bahaya kimia berasal dari penggunaan reagen korosif, toksik, dan mudah terbakar, sedangkan bahaya fisik meliputi kebisingan, suhu, dan risiko kebakaran. Penerapan K3, biosafety, dan biosecurity secara umum telah berjalan dengan baik, namun masih ditemukan beberapa aspek yang memerlukan perbaikan, terutama dalam kepatuhan penggunaan alat pelindung diri, dokumentasi penilaian risiko, pengelolaan limbah biologis, serta pengendalian akses laboratorium. Pendekatan K3, biosafety, dan biosecurity merupakan strategi yang efektif dalam mengidentifikasi dan mengendalikan bahaya laboratorium. Peningkatan kepatuhan terhadap prosedur keselamatan, pelatihan berkala, serta evaluasi sistem manajemen risiko diperlukan untuk menciptakan lingkungan laboratorium yang aman dan berkualitas.
Kajian Konsep Continuity Of Care Dalam Asuhan Kebidanan Berkelanjutan Kiki Uniatri Thalib; Cakrawati R Cakrawati R
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2026): Barongko : Jurna Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1388

Abstract

Upaya penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) memerlukan pelayanan kebidanan yang berkualitas, komprehensif, dan berkesinambungan. Salah satu pendekatan yang telah banyak diterapkan dalam pelayanan maternal adalah Continuity of Care (CoC), yaitu model pelayanan yang menjamin kesinambungan asuhan sejak masa prakonsepsi atau kehamilan, persalinan, nifas, perawatan bayi baru lahir, hingga pelayanan keluarga berencana. Pendekatan ini menempatkan bidan sebagai pemberi asuhan utama yang membangun hubungan terapeutik secara berkelanjutan dengan perempuan dan keluarganya. Mengkaji konsep Continuity of Care dalam asuhan kebidanan berkelanjutan berdasarkan perkembangan teori, prinsip, komponen, manfaat, serta implementasinya dalam praktik pelayanan kebidanan. Artikel ini merupakan kajian konseptual (conceptual review) yang disusun melalui telaah literatur dari buku teks, pedoman organisasi kesehatan, serta artikel ilmiah nasional dan internasional mengenai Continuity of Care dalam pelayanan kebidanan. Literatur dipilih berdasarkan relevansi terhadap konsep pelayanan kebidanan berkelanjutan, kemudian dianalisis secara deskriptif dan disintesis untuk memperoleh pemahaman yang komprehensif. Kajian menunjukkan bahwa Continuity of Care merupakan model pelayanan yang menekankan kesinambungan hubungan antara bidan dan perempuan sepanjang siklus reproduksi. Implementasi CoC meningkatkan kualitas pelayanan, memperkuat deteksi dini komplikasi, meningkatkan kepuasan ibu, mengurangi intervensi yang tidak diperlukan, serta berkontribusi terhadap perbaikan luaran maternal dan neonatal. Keberhasilan implementasi dipengaruhi oleh kompetensi bidan, sistem rujukan, kolaborasi antarprofesi, dukungan kebijakan, dan keterlibatan keluarga. Continuity of Care merupakan konsep fundamental dalam praktik kebidanan modern yang mendukung pelayanan komprehensif, berpusat pada perempuan (woman-centered care), dan berorientasi pada peningkatan kualitas kesehatan ibu dan bayi. Implementasi yang optimal memerlukan dukungan sistem pelayanan kesehatan, peningkatan kompetensi tenaga kesehatan, serta kebijakan yang mendukung kesinambungan pelayanan.
Dampak Positif Program Makan Bergizi Gratis Terhadap Kesehatan Dan Produktivitas Belajar Anak Sri Sukmawaty Syahrir; Kasmiati Kasmiati; Cakrawati R Cakrawati R
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2026): Barongko : Jurna Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1389

Abstract

Masalah gizi pada anak usia sekolah masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat di berbagai negara, termasuk Indonesia. Kekurangan asupan gizi dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan, penurunan daya tahan tubuh, gangguan perkembangan kognitif, serta menurunkan kemampuan belajar. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan salah satu kebijakan pemerintah yang bertujuan meningkatkan status gizi peserta didik melalui penyediaan makanan bergizi seimbang di sekolah. Program ini diharapkan tidak hanya memperbaiki kondisi kesehatan anak, tetapi juga meningkatkan konsentrasi, kehadiran, dan produktivitas belajar. Artikel ini bertujuan menganalisis dampak Program Makan Bergizi Gratis terhadap status kesehatan dan produktivitas belajar anak berdasarkan hasil penelitian dan publikasi ilmiah terkini. Penelitian ini menggunakan metode narrative literature review. Literatur diperoleh melalui penelusuran pada PubMed, Scopus, ScienceDirect, Google Scholar, dan Garuda. Artikel yang diterbitkan pada tahun 2020–2025 serta membahas program pemberian makan di sekolah, status gizi, kesehatan anak, perkembangan kognitif, dan prestasi belajar dianalisis menggunakan pendekatan sintesis naratif. Hasil kajian menunjukkan bahwa program makan bergizi di sekolah berkontribusi terhadap peningkatan asupan energi, protein, vitamin, dan mineral; perbaikan status gizi; penurunan risiko anemia; peningkatan daya tahan tubuh; serta penurunan angka ketidakhadiran akibat sakit. Selain itu, program tersebut berhubungan dengan peningkatan konsentrasi, fungsi kognitif, motivasi belajar, partisipasi di kelas, dan prestasi akademik. Keberhasilan program dipengaruhi oleh kualitas menu, keamanan pangan, keteraturan pelaksanaan, kecukupan pendanaan, serta keterlibatan keluarga dan sekolah. Program Makan Bergizi Gratis memiliki potensi besar dalam meningkatkan kesehatan dan produktivitas belajar anak apabila dilaksanakan secara berkelanjutan, memenuhi prinsip gizi seimbang, serta didukung oleh pemantauan dan evaluasi yang sistematis.
Penerapan Konsep Evidence-Based Midwifery Dalam Pengambilan Keputusan Klinis Bidan Lumastari Ajeng Wijayanti; Rezqiqah Aulia Rahmat
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2026): Barongko : Jurna Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1391

Abstract

Evidence-Based Midwifery (EBM) merupakan pendekatan praktik kebidanan yang mengintegrasikan bukti ilmiah terbaik, kompetensi klinis bidan, serta nilai dan preferensi perempuan dalam pengambilan keputusan klinis. Penerapan EBM menjadi komponen penting dalam meningkatkan mutu pelayanan kebidanan, keselamatan ibu dan bayi, serta efektivitas intervensi klinis. Meskipun demikian, implementasi EBM di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan masih menghadapi tantangan berupa keterbatasan akses terhadap bukti ilmiah, rendahnya kemampuan telaah kritis, serta keterbatasan dukungan institusi. Mengkaji penerapan konsep Evidence-Based Midwifery dalam pengambilan keputusan klinis bidan berdasarkan bukti ilmiah terkini. Artikel ini menggunakan metode Narrative Literature Review. Literatur diperoleh melalui penelusuran pada basis data PubMed, Scopus, ScienceDirect, Wiley Online Library, Google Scholar, dan Garuda. Artikel yang dipilih merupakan publikasi tahun 2020–2025, tersedia dalam teks lengkap, berbahasa Indonesia atau Inggris, serta membahas penerapan Evidence-Based Midwifery dalam praktik kebidanan. Data dianalisis secara deskriptif melalui proses sintesis naratif berdasarkan tema-tema utama. Kajian menunjukkan bahwa penerapan Evidence-Based Midwifery meningkatkan kualitas pengambilan keputusan klinis, mengurangi variasi praktik yang tidak didukung bukti, meningkatkan keselamatan ibu dan bayi, serta memperkuat pelayanan kebidanan yang berpusat pada perempuan (woman-centred care). Faktor pendukung implementasi meliputi kompetensi bidan, akses terhadap literatur ilmiah, pelatihan berkelanjutan, dan dukungan organisasi. Sebaliknya, keterbatasan sumber daya, rendahnya kemampuan appraisal artikel ilmiah, dan budaya kerja menjadi hambatan utama. Penerapan Evidence-Based Midwifery merupakan strategi penting dalam meningkatkan mutu pelayanan kebidanan. Penguatan kompetensi bidan, peningkatan akses terhadap bukti ilmiah, serta dukungan kebijakan institusi diperlukan agar pengambilan keputusan klinis berbasis bukti dapat diterapkan secara optimal.