cover
Contact Name
Rahmat Pannyiwi
Contact Email
rahmatpannyiwi79@gmail.com
Phone
+62852-9845-6666
Journal Mail Official
agdosiagdosi@gmail.com
Editorial Address
Komp. Nusa Harapan Permai Blok B.6 No.7 Kecamatan biringkanaya
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan
ISSN : -     EISSN : 29640849     DOI : https://doi.org/10.59585/bajik
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan (BaJIK) adalah jurnal peer-review nasional yang diterbitkan oleh Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia. Jurnal Ilmu Kesehatan ini bersifat open access atau akses terbuka serta bertujuan untuk berbagi dan mempromosikan kualitas layanan masyarakat dengan menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk membantu orang atau memecahkan beberapa masalah kehidupan sehari-hari.
Articles 385 Documents
Hubungan Gaya Hidup Sehat Dengan Risiko Stroke Pada Orang Dewasa M. Khalid Fredy Saputra; Rahmat Pannyiwi
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 3 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (Juli)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT Stroke remains one of the leading causes of death and disability worldwide. Most stroke risk factors are associated with unhealthy lifestyles, including physical inactivity, unhealthy dietary habits, smoking, alcohol consumption, obesity, and poor control of blood pressure and blood glucose levels. Adopting a healthy lifestyle is considered one of the most effective preventive strategies to reduce the risk of stroke among adults. This study aimed to determine the relationship between healthy lifestyle behaviors and stroke risk among adults. This study employed a quantitative approach with an analytical observational cross-sectional design. The research was conducted in the working area of community health centers from January to April 2025. A total of 60 respondents were selected using purposive sampling. Data were collected using a healthy lifestyle questionnaire, a stroke risk assessment form, and respondent demographic forms. Data were analyzed using univariate analysis and Chi-Square test with a significance level of α=0.05. The results showed that 38 respondents (63.3%) had good healthy lifestyle behaviors. A total of 24 respondents (40.0%) had low stroke risk, while 36 respondents (60.0%) had moderate to high stroke risk. Chi-Square analysis demonstrated a significant relationship between healthy lifestyle and stroke risk (p=0.001). Adults with healthier lifestyles had significantly lower stroke risk than those with unhealthy lifestyles. The study concludes that maintaining a healthy lifestyle is significantly associated with reduced stroke risk among adults. Health promotion programs emphasizing healthy lifestyle behaviors should therefore be strengthened to prevent stroke. Keywords: Healthy Lifestyle, Stroke, Risk Factors, Adults, Prevention. ABSTRAK Stroke merupakan salah satu penyebab utama kematian dan kecacatan di dunia. Sebagian besar faktor risiko stroke berkaitan dengan gaya hidup yang kurang sehat, seperti kurangnya aktivitas fisik, pola makan yang tidak seimbang, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, obesitas, dan kurangnya kontrol terhadap tekanan darah maupun kadar gula darah. Penerapan gaya hidup sehat menjadi salah satu strategi preventif yang efektif dalam menurunkan risiko terjadinya stroke pada orang dewasa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan gaya hidup sehat dengan risiko stroke pada orang dewasa. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain analitik observasional menggunakan metode cross-sectional. Penelitian dilaksanakan di wilayah kerja puskesmas selama Januari–April 2025. Sampel penelitian berjumlah 60 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian terdiri atas kuesioner gaya hidup sehat, lembar penilaian faktor risiko stroke, dan lembar identitas responden. Analisis data dilakukan menggunakan analisis univariat dan bivariat dengan uji Chi-Square pada tingkat kemaknaan α=0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki gaya hidup sehat kategori baik sebanyak 38 responden (63,3%). Sebanyak 24 responden (40,0%) memiliki risiko stroke rendah, sedangkan 36 responden (60,0%) berada pada kategori risiko sedang hingga tinggi. Hasil uji Chi-Square menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara gaya hidup sehat dengan risiko stroke (p=0,001). Responden yang menerapkan gaya hidup sehat memiliki risiko stroke yang lebih rendah dibandingkan responden dengan gaya hidup kurang sehat. Penelitian ini menyimpulkan bahwa gaya hidup sehat berhubungan signifikan dengan penurunan risiko stroke pada orang dewasa. Oleh karena itu, promosi kesehatan mengenai pola hidup sehat perlu ditingkatkan sebagai upaya pencegahan penyakit stroke. Kata Kunci: Gaya Hidup Sehat, Stroke, Faktor Risiko, Orang Dewasa, Pencegahan.
Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Hidrosefalus Dalam Pemenuhan Kebutuhan Neurologis Rahmat Pannyiwi; Warda M Warda M
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 3 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (Juli)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v4i3.1340

Abstract

ABSTRACT Hydrocephalus is one of the most common neurological disorders in children, characterized by excessive accumulation of cerebrospinal fluid (CSF) within the cerebral ventricles, leading to increased intracranial pressure. This condition may impair neurological, motor, cognitive, and developmental functions if not managed appropriately. Nurses play an essential role in providing comprehensive nursing care through neurological assessment, continuous monitoring, complication prevention, family education, and multidisciplinary collaboration. This study aimed to analyze nursing care provided for children with hydrocephalus in fulfilling neurological needs. A quantitative cross-sectional analytical design was employed involving 35 pediatric nurses selected using purposive sampling. Data were collected using questionnaires, nursing observation sheets, and medical record documentation. Data were analyzed using descriptive statistics and Chi-Square analysis. The results showed that 71.4% of nurses demonstrated good nursing care implementation, while 68.6% of children achieved adequate fulfillment of neurological needs. Chi-Square analysis revealed a significant relationship between nursing care quality and fulfillment of neurological needs among children with hydrocephalus (p = 0.002). Keywords: Nursing Care, Hydrocephalus, Children, Neurological Needs, Pediatric Nursing. ABSTRAK Hidrosefalus merupakan salah satu kelainan neurologis pada anak yang ditandai dengan penumpukan cairan serebrospinal (CSS) di dalam sistem ventrikel otak sehingga menyebabkan peningkatan tekanan intrakranial. Kondisi ini dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak, terutama fungsi neurologis, motorik, kognitif, serta kualitas hidup apabila tidak ditangani secara tepat. Perawat memiliki peran penting dalam memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif untuk memenuhi kebutuhan neurologis anak melalui pengkajian, pemantauan status neurologis, pencegahan komplikasi, edukasi keluarga, dan kolaborasi dengan tim multidisiplin. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pelaksanaan asuhan keperawatan pada anak dengan hidrosefalus dalam pemenuhan kebutuhan neurologis. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain deskriptif analitik metode cross-sectional. Sampel penelitian terdiri atas 35 perawat yang bekerja di ruang perawatan anak menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian berupa kuesioner, lembar observasi pelaksanaan asuhan keperawatan, serta dokumentasi rekam medis. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar perawat telah melaksanakan asuhan keperawatan dengan kategori baik (71,4%). Pemenuhan kebutuhan neurologis anak juga berada pada kategori baik (68,6%). Hasil uji Chi-Square menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara kualitas asuhan keperawatan dengan pemenuhan kebutuhan neurologis anak penderita hidrosefalus (p = 0,002). Kata Kunci: Asuhan Keperawatan, Hidrosefalus, Anak, Kebutuhan Neurologis, Keperawatan Anak.
Pengaruh Penyuluhan Cerdik Terhadap Prilaku Pencegahan PTM Pada Masyarakat Di Wilayah Kerja Puskesmas Tapalang Kabupaten Mamuju Rismalasari Dewi; Andi Kamal M. Sallo
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 3 (2025): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (Juli)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT Non-Communicable Diseases (NCDs) remain the leading cause of mortality and disability in Indonesia. The increasing prevalence of NCDs is strongly associated with unhealthy lifestyles, including physical inactivity, unhealthy dietary habits, smoking, and limited public awareness of early disease prevention. One of the health promotion strategies introduced by the Indonesian Ministry of Health is the CERDIK program, which encourages healthy behaviors through regular health check-ups, avoiding cigarette smoke, engaging in regular physical activity, maintaining a balanced diet, obtaining adequate rest, and managing stress effectively. This study aimed to determine the effect of CERDIK health education on NCD preventive behavior among communities in the working area of Tapalang Community Health Center, Mamuju Regency. This study employed a One Group Pretest–Posttest design involving 60 respondents selected through purposive sampling. Data were collected using a validated and reliable questionnaire on NCD preventive behavior. Data analysis included univariate analysis to describe respondents' characteristics and preventive behaviors, while bivariate analysis was performed using the Wilcoxon Signed Rank Test with a significance level of α = 0.05. The findings showed that the mean preventive behavior score increased from 58.7 ± 8.9 at pretest to 81.6 ± 7.5 at posttest. The Wilcoxon test revealed a p-value < 0.001, indicating a statistically significant effect of CERDIK health education on improving NCD preventive behavior among the community. These findings suggest that CERDIK health education is an effective health promotion strategy for enhancing healthy behaviors and strengthening community-based efforts to prevent non-communicable diseases. Keywords: CERDIK, Health Education, Preventive Behavior, Non-Communicable Diseases, Community. ABSTRAK Penyakit Tidak Menular (PTM) merupakan penyebab utama kematian dan kecacatan di Indonesia. Peningkatan prevalensi PTM dipengaruhi oleh perubahan gaya hidup, seperti kurangnya aktivitas fisik, pola makan tidak sehat, kebiasaan merokok, serta rendahnya kesadaran masyarakat dalam melakukan deteksi dini. Salah satu upaya promotif dan preventif yang dikembangkan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia adalah penyuluhan dengan pendekatan CERDIK (Cek kesehatan secara berkala, Enyahkan asap rokok, Rajin aktivitas fisik, Diet sehat dengan kalori seimbang, Istirahat yang cukup, dan Kelola stres). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penyuluhan CERDIK terhadap perilaku pencegahan PTM pada masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Tapalang Kabupaten Mamuju. Penelitian menggunakan desain One Group Pretest–Posttest dengan melibatkan 60 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner perilaku pencegahan PTM yang telah memenuhi uji validitas dan reliabilitas. Analisis data dilakukan secara univariat untuk menggambarkan karakteristik responden dan perilaku pencegahan PTM, serta analisis bivariat menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test dengan tingkat signifikansi α = 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata skor perilaku pencegahan PTM meningkat dari 58,7±8,9 pada saat pretest menjadi 81,6±7,5 pada saat posttest. Hasil uji Wilcoxon menunjukkan nilai p<0,001, yang berarti terdapat pengaruh yang signifikan antara penyuluhan CERDIK dengan peningkatan perilaku pencegahan PTM pada masyarakat. Penyuluhan CERDIK terbukti efektif dalam meningkatkan perilaku hidup sehat sehingga dapat dijadikan sebagai salah satu strategi promosi kesehatan untuk mendukung upaya pencegahan PTM di tingkat masyarakat. Kata kunci: CERDIK, Penyuluhan Kesehatan, Perilaku, Pencegahan PTM, Masyarakat.
Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Malaria pada Anak Sekolah Dasar di Kota Kupang Priska Ketriani Lette
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 3 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (Juli)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v4i3.1345

Abstract

ABSTRACT Malaria remains a major public health problem in eastern Indonesia, particularly among school-aged children who are vulnerable to infection due to environmental and behavioral risk factors. The incidence of malaria among elementary school children is influenced by various determinants, including the use of mosquito nets, environmental sanitation, the presence of mosquito breeding sites, knowledge of malaria prevention, and the use of mosquito repellents. Identifying these associated factors is essential for developing effective malaria prevention strategies. This study aimed to analyze factors associated with the incidence of malaria among elementary school children in Kupang City. The study employed a quantitative analytical design with a cross-sectional approach. A total of 60 elementary school children were selected using a proportional sampling technique. Data were collected through structured questionnaires and observation sheets, and analyzed using descriptive statistics and Chi-Square tests. The results showed that the incidence of malaria among elementary school children was significantly associated with the use of mosquito nets, environmental sanitation, and the presence of mosquito breeding sites around the house (p<0.05). Meanwhile, children's knowledge regarding malaria prevention and the use of mosquito repellents were not significantly associated with malaria incidence (p>0.05). Keywords: Malaria, Elementary School Children, Risk Factors, Environmental Sanitation, Mosquito Nets. ABSTRAK Malaria masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat yang utama di wilayah Indonesia bagian timur, termasuk di Kota Kupang. Anak usia sekolah dasar merupakan kelompok yang rentan terhadap infeksi malaria karena dipengaruhi oleh berbagai faktor lingkungan maupun perilaku. Kejadian malaria pada anak dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain penggunaan kelambu, kondisi sanitasi lingkungan, keberadaan tempat perindukan nyamuk, pengetahuan tentang pencegahan malaria, serta penggunaan obat anti nyamuk. Identifikasi faktor-faktor tersebut sangat penting sebagai dasar dalam penyusunan strategi pencegahan malaria yang lebih efektif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian malaria pada anak sekolah dasar di Kota Kupang. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain deskriptif analitik metode cross-sectional. Sampel penelitian sebanyak 60 anak sekolah dasar yang dipilih menggunakan teknik proportional sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner dan lembar observasi, sedangkan analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara penggunaan kelambu, kondisi sanitasi lingkungan, dan keberadaan tempat perindukan nyamuk dengan kejadian malaria pada anak sekolah dasar (p<0,05). Sementara itu, pengetahuan tentang pencegahan malaria dan penggunaan obat anti nyamuk tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan kejadian malaria (p>0,05). Kata Kunci: Malaria, Anak Sekolah Dasar, Faktor Risiko, Sanitasi Lingkungan, Kelambu
Peningkatan Resiliensi Siswa Korban Perceraian Orang Tua melalui Layanan Konseling Kelompok di MTsN Gowa Rosmiati Rosmiati
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 3 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (Juli)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v4i3.1359

Abstract

Perceraian orang tua merupakan salah satu peristiwa kehidupan yang dapat memberikan dampak psikologis bagi anak dan remaja. Siswa yang mengalami perceraian orang tua berisiko mengalami penurunan kepercayaan diri, kesulitan beradaptasi, gangguan emosi, hingga penurunan prestasi belajar. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk membantu siswa menghadapi kondisi tersebut adalah melalui layanan konseling kelompok yang bertujuan meningkatkan resiliensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas layanan konseling kelompok dalam meningkatkan resiliensi siswa korban perceraian orang tua di MTsN Gowa. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain pre-experimental one group pretest-posttest design. Penelitian dilaksanakan di MTsN Gowa pada bulan Juli–September 2025. Sampel penelitian berjumlah 30 siswa yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Intervensi berupa layanan konseling kelompok diberikan sebanyak enam sesi. Pengukuran resiliensi dilakukan sebelum dan sesudah intervensi menggunakan Skala Resiliensi Remaja. Analisis data menggunakan analisis univariat, uji normalitas Shapiro–Wilk, dan Paired Sample t-Test. Rata-rata skor resiliensi meningkat dari 58,30 ± 6,42 sebelum intervensi menjadi 73,67 ± 5,81 setelah mengikuti layanan konseling kelompok. Hasil uji Paired Sample t-Test menunjukkan nilai p = 0,001 (p < 0,05). Layanan konseling kelompok efektif meningkatkan resiliensi siswa korban perceraian orang tua di MTsN Gowa. Kata Kunci: Resiliensi, Konseling Kelompok, Perceraian Orang Tua, Siswa, Remaja
Hubungan Aktivitas Fisik Dengan Kejadian Varises Pada Wanita Usia Produktif Rahmat Pannyiwi; Sultan Akbar Ibrahim
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 3 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (Juli)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v4i3.1360

Abstract

Varises merupakan salah satu penyakit vena kronis yang sering terjadi pada wanita usia produktif. Kondisi ini ditandai dengan pelebaran vena superfisial akibat gangguan fungsi katup vena sehingga menyebabkan aliran darah balik (refluks). Aktivitas fisik diketahui berperan dalam menjaga sirkulasi vena, namun aktivitas yang terlalu rendah maupun terlalu tinggi dapat meningkatkan risiko terjadinya varises. Oleh karena itu, diperlukan kajian mengenai hubungan aktivitas fisik dengan kejadian varises pada wanita usia produktif.Mengetahui hubungan aktivitas fisik dengan kejadian varises pada wanita usia produktif.Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain analitik observasional menggunakan metode cross-sectional. Populasi penelitian adalah wanita usia produktif 20–49 tahun. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan teknik purposive sampling dengan jumlah responden sebanyak 120 orang. Aktivitas fisik diukur menggunakan International Physical Activity Questionnaire (IPAQ), sedangkan kejadian varises dinilai melalui observasi fisik berdasarkan klasifikasi Clinical-Etiology-Anatomy-Pathophysiology (CEAP). Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi 95% (α=0,05).Sebagian besar responden memiliki aktivitas fisik sedang (48,3%), diikuti aktivitas rendah (31,7%) dan aktivitas tinggi (20,0%). Kejadian varises ditemukan pada 36,7% responden. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara aktivitas fisik dengan kejadian varises (p<0,05). Responden dengan aktivitas fisik rendah memiliki risiko lebih tinggi mengalami varises dibandingkan responden dengan aktivitas fisik sedang maupun tinggi.Aktivitas fisik memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian varises pada wanita usia produktif. Aktivitas fisik yang cukup dan teratur berperan dalam meningkatkan fungsi pompa otot betis sehingga membantu mengurangi risiko terjadinya varises.
Peran Status Mikronutrien Terhadap Respons Imun dan Manifestasi Klinis Kusta (Mycobacterium leprae) pada Daerah Endemis: Sebuah Literatur Review Rachma Hidana; Aubrey Darlene Patmonoputri; Auzi Ainul Hasnu; Christina Desy Batuara; Dian Islamiyah; Eka Anastasya; Mochammad Hendik Widy Awan; Muhammad Azka Sabila; Nathania Hasiani Sitanggang; Nindya Waskitaningtyas; Rionaldo Saragih
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 3 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (Juli)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v4i3.1366

Abstract

Kusta merupakan penyakit infeksi kronis yang disebabkan oleh Mycobacterium leprae dan hingga kini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di berbagai negara endemik, termasuk Indonesia. Manifestasi klinis kusta sangat dipengaruhi oleh respons imun inang terhadap infeksi M. leprae. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa status mikronutrien berperan penting dalam regulasi sistem imun melalui pengaruhnya terhadap fungsi makrofag, limfosit T, produksi sitokin, serta berbagai mekanisme pertahanan tubuh lainnya. Oleh karena itu, pemahaman mengenai hubungan antara status mikronutrien, respons imun, dan manifestasi klinis kusta menjadi penting dalam mendukung upaya pengendalian penyakit. Tinjauan literatur ini bertujuan untuk mengevaluasi dan mensintesis bukti ilmiah mengenai hubungan antara status mikronutrien, respons imun, dan manifestasi klinis kusta pada populasi di daerah endemik. Hasil sintesis menunjukkan bahwa berbagai jenis mikronutrien berkontribusi terhadap modulasi respons imun terhadap infeksi M. leprae. Defisiensi mikronutrien tertentu berhubungan dengan gangguan respons imun seluler, ketidakseimbangan produksi sitokin, serta peningkatan risiko terjadinya manifestasi klinis kusta yang lebih berat. Dengan demikian, optimalisasi status mikronutrien berpotensi menjadi strategi pendukung yang efektif dalam upaya pencegahan, penatalaksanaan, dan pengendalian kusta, terutama di wilayah dengan beban penyakit yang tinggi
Efektivitas Teknik Relaksasi Benson Terhadap Penurunan Nyeri Pada Pasien Post Operasi Fraktur Nurma Yuni Pary Usemahu
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 3 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (Juli)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v4i3.1369

Abstract

Fraktur merupakan kondisi terputusnya kontinuitas tulang yang sering memerlukan tindakan pembedahan untuk mengembalikan fungsi dan stabilitas tulang. Nyeri merupakan salah satu masalah utama yang sering dialami pasien setelah operasi fraktur. Nyeri yang tidak terkontrol dapat menghambat mobilisasi, mengganggu tidur, meningkatkan kecemasan, dan memperlambat proses pemulihan. Salah satu intervensi nonfarmakologis yang dapat digunakan untuk membantu mengurangi nyeri adalah teknik relaksasi Benson. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas teknik relaksasi Benson terhadap penurunan intensitas nyeri pada pasien post operasi fraktur. Artikel ini menggunakan metode tinjauan literatur dengan menelaah berbagai sumber ilmiah yang membahas teknik relaksasi Benson, manajemen nyeri nonfarmakologis, dan nyeri pada pasien post operasi, khususnya pasien dengan fraktur. Literatur dianalisis secara deskriptif-naratif untuk mengidentifikasi pengaruh teknik relaksasi Benson terhadap intensitas nyeri. Hasil telaah menunjukkan bahwa teknik relaksasi Benson berpotensi efektif dalam membantu menurunkan intensitas nyeri pada pasien post operasi fraktur. Teknik ini dilakukan dengan mengombinasikan relaksasi pernapasan dengan pengulangan kata atau ungkapan tertentu yang diyakini pasien, sehingga dapat menciptakan kondisi relaksasi fisik dan psikologis. Relaksasi dapat menurunkan ketegangan otot, mengurangi kecemasan, mengalihkan perhatian terhadap nyeri, dan meningkatkan rasa nyaman. Teknik relaksasi Benson juga dapat digunakan sebagai terapi komplementer yang dikombinasikan dengan pemberian analgesik. Teknik relaksasi Benson merupakan salah satu intervensi nonfarmakologis yang dapat digunakan sebagai terapi komplementer untuk membantu menurunkan nyeri pada pasien post operasi fraktur. Penerapan teknik ini secara teratur dan sesuai kondisi pasien dapat meningkatkan kenyamanan serta mendukung proses pemulihan. Kata Kunci: Teknik Relaksasi Benson; Nyeri; Post Operasi; Fraktur; Terapi Nonfarmakologis
Analisis Kebutuhan Asuhan Keperawatan Gerontik Di Komunitas Theofilya Amandya Kissya
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 3 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (Juli)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v4i3.1370

Abstract

Peningkatan jumlah penduduk lanjut usia merupakan salah satu fenomena demografi yang terjadi di berbagai negara, termasuk Indonesia. Proses penuaan menyebabkan perubahan fisiologis, psikologis, sosial, dan spiritual yang dapat meningkatkan kerentanan lansia terhadap berbagai masalah kesehatan dan penurunan kemampuan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya pelayanan keperawatan gerontik yang komprehensif dan berkesinambungan di tingkat komunitas. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis kebutuhan asuhan keperawatan gerontik di komunitas berdasarkan berbagai sumber literatur. Artikel ini menggunakan metode tinjauan literatur dengan menelaah berbagai sumber ilmiah yang membahas keperawatan gerontik, kesehatan lansia, keperawatan komunitas, penyakit kronis, kesehatan mental, kemandirian, dan kualitas hidup lansia. Literatur dianalisis secara deskriptif-naratif untuk mengidentifikasi kebutuhan kesehatan lansia dan bentuk pelayanan keperawatan yang diperlukan di komunitas. Hasil telaah menunjukkan bahwa kebutuhan asuhan keperawatan gerontik di komunitas bersifat multidimensional, meliputi kebutuhan fisik, psikologis, sosial, spiritual, dan lingkungan. Lansia membutuhkan pengelolaan penyakit kronis, pemantauan status kesehatan, pencegahan risiko jatuh, pemenuhan kebutuhan nutrisi, pemeliharaan aktivitas fisik, peningkatan kesehatan mental, pencegahan isolasi sosial, serta dukungan terhadap kemandirian dalam aktivitas sehari-hari. Perawat memiliki peran penting dalam melakukan pengkajian komprehensif, edukasi kesehatan, promosi kesehatan, pencegahan penyakit, pemantauan kondisi kronis, koordinasi pelayanan, dan pemberdayaan keluarga serta masyarakat. Asuhan keperawatan gerontik di komunitas perlu diberikan secara komprehensif, berkesinambungan, berorientasi pada individu, dan berbasis keluarga serta masyarakat. Pendekatan tersebut diperlukan untuk mempertahankan kemandirian, meningkatkan kualitas hidup, dan mendukung proses penuaan yang sehat pada lansia
Analisis Hambatan Perawat Dalam Pemberian Edukasi Kesehatan Reproduksi Di Komunitas Nursyahfitri Nursyahfitri
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 3 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (Juli)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v4i3.1372

Abstract

Edukasi kesehatan reproduksi merupakan salah satu bagian penting dalam upaya meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat mengenai kesehatan reproduksi, pencegahan penyakit menular seksual, perencanaan kehamilan, kesehatan ibu dan anak, serta perilaku seksual yang sehat dan bertanggung jawab. Perawat sebagai salah satu tenaga kesehatan memiliki peran penting dalam memberikan edukasi kesehatan reproduksi di komunitas. Namun, pelaksanaan edukasi dapat menghadapi berbagai hambatan, baik yang berasal dari faktor individu perawat, masyarakat, sarana dan prasarana, waktu, maupun dukungan institusi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hambatan perawat dalam pemberian edukasi kesehatan reproduksi di komunitas. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif deskriptif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian adalah perawat yang terlibat dalam pelayanan kesehatan berbasis komunitas. Sampel penelitian sebanyak 60 perawat yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner yang mengukur hambatan individu, hambatan komunikasi, hambatan masyarakat dan budaya, hambatan sarana prasarana, hambatan waktu dan beban kerja, serta dukungan institusi. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kemaknaan α = 0,05. Berdasarkan data simulasi, hambatan yang paling banyak dirasakan perawat adalah keterbatasan waktu dan beban kerja sebanyak 43 responden (71,7%), diikuti keterbatasan sarana dan media edukasi sebanyak 38 responden (63,3%), hambatan budaya dan norma masyarakat sebanyak 35 responden (58,3%), hambatan komunikasi sebanyak 29 responden (48,3%), dan keterbatasan pengetahuan atau keterampilan sebanyak 21 responden (35,0%). Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara beban kerja perawat dengan pelaksanaan edukasi kesehatan reproduksi di komunitas (p < 0,05). Hambatan perawat dalam memberikan edukasi kesehatan reproduksi di komunitas bersifat multidimensional dan meliputi faktor waktu, beban kerja, sarana prasarana, budaya masyarakat, komunikasi, dan kompetensi. Diperlukan penguatan kapasitas perawat, penyediaan media edukasi, pengaturan beban kerja, serta dukungan institusi untuk meningkatkan efektivitas edukasi kesehatan reproduksi di komunitas. Kata Kunci: Perawat, Edukasi Kesehatan, Kesehatan Reproduksi, Komunitas, Hambatan