cover
Contact Name
Rahmat Pannyiwi
Contact Email
rahmatpannyiwi79@gmail.com
Phone
+62852-9845-6666
Journal Mail Official
agdosiagdosi@gmail.com
Editorial Address
Komp. Nusa Harapan Permai Blok B.6 No.7 Kecamatan biringkanaya
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan
ISSN : -     EISSN : 29640849     DOI : https://doi.org/10.59585/bajik
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan (BaJIK) adalah jurnal peer-review nasional yang diterbitkan oleh Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia. Jurnal Ilmu Kesehatan ini bersifat open access atau akses terbuka serta bertujuan untuk berbagi dan mempromosikan kualitas layanan masyarakat dengan menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk membantu orang atau memecahkan beberapa masalah kehidupan sehari-hari.
Articles 385 Documents
Pengaruh Pursed Lip Breathing Terhadap Frekuensi Pernapasan Pada Pasien PPOK Sofyan Sofyan; Rosida Rosida
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2026): Barongko : Jurna Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1392

Abstract

Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) merupakan penyakit paru kronis yang ditandai oleh hambatan aliran udara yang bersifat persisten dan progresif. Salah satu gejala utama PPOK adalah sesak napas yang menyebabkan peningkatan frekuensi pernapasan dan menurunkan kualitas hidup pasien. Teknik Pursed Lip Breathing (PLB) merupakan latihan pernapasan sederhana yang bertujuan memperlambat ekspirasi, mengurangi air trapping, meningkatkan ventilasi alveoli, serta menurunkan kerja otot pernapasan. Menganalisis pengaruh Pursed Lip Breathing terhadap frekuensi pernapasan pada pasien PPOK. Penelitian menggunakan desain pre-experimental one-group pretest-posttest. Sebanyak 30 pasien PPOK dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Intervensi berupa latihan Pursed Lip Breathing selama 10–15 menit sebanyak dua kali sehari selama lima hari. Frekuensi pernapasan diukur sebelum dan sesudah intervensi. Analisis data menggunakan uji Paired t-test dengan tingkat signifikansi 95%. Rata-rata frekuensi pernapasan sebelum intervensi adalah 28,13 ± 3,42 kali/menit dan menurun menjadi 22,47 ± 2,85 kali/menit setelah intervensi. Hasil uji Paired t-test menunjukkan terdapat pengaruh yang signifikan Pursed Lip Breathing terhadap penurunan frekuensi pernapasan (p<0,001). Pursed Lip Breathing efektif menurunkan frekuensi pernapasan pada pasien PPOK sehingga dapat dijadikan sebagai terapi nonfarmakologis dalam membantu mengurangi sesak napas
Hubungan Pendidikan Seksualitas Komprehensif Dengan Perilaku Pencegahan Risiko Seksual Pada Siswa Sekolah Menengah Iin Fadhilah; Rezqiqah Aulia Rahmat
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2026): Barongko : Jurna Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1393

Abstract

Remaja merupakan kelompok usia yang rentan terhadap berbagai permasalahan kesehatan reproduksi akibat perubahan biologis, psikologis, dan sosial yang terjadi selama masa pubertas. Kurangnya pemahaman mengenai seksualitas dapat meningkatkan risiko terjadinya perilaku seksual berisiko, seperti hubungan seksual pranikah, infeksi menular seksual (IMS), kehamilan yang tidak direncanakan, serta penyalahgunaan media digital. Pendidikan seksualitas komprehensif merupakan salah satu pendekatan pendidikan kesehatan yang bertujuan memberikan pengetahuan, membentuk sikap positif, serta meningkatkan keterampilan remaja dalam mengambil keputusan yang bertanggung jawab terkait kesehatan reproduksi. Namun, penerapan pendidikan seksualitas di lingkungan sekolah masih belum optimal sehingga diperlukan penelitian mengenai hubungannya dengan perilaku pencegahan risiko seksual. Menganalisis hubungan pendidikan seksualitas komprehensif dengan perilaku pencegahan risiko seksual pada siswa sekolah menengah. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain analitik observasional menggunakan rancangan cross-sectional. Sampel penelitian sebanyak 200 siswa dipilih menggunakan teknik proportionate stratified random sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner mengenai pendidikan seksualitas komprehensif dan perilaku pencegahan risiko seksual. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square dan regresi logistik berganda dengan tingkat signifikansi 95% (α = 0,05). Analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara pendidikan seksualitas komprehensif dengan perilaku pencegahan risiko seksual (p = 0,001). Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa siswa yang memperoleh pendidikan seksualitas komprehensif yang baik memiliki peluang 4,13 kali lebih besar untuk memiliki perilaku pencegahan risiko seksual yang baik (OR = 4,13; 95% CI = 2,08–8,19; p = 0,001). Pendidikan seksualitas komprehensif berhubungan secara signifikan dengan perilaku pencegahan risiko seksual pada siswa sekolah menengah. Penguatan program pendidikan seksualitas di sekolah perlu dilakukan secara berkelanjutan melalui kolaborasi antara sekolah, tenaga kesehatan, dan keluarga.
Dampak Paparan Asap Rokok Terhadap Kesehatan Perokok Pasif Dalam Keluarga Faharuddin Faharuddin; Rezqiqah Aulia Rahmat
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2026): Barongko : Jurna Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1394

Abstract

aparan asap rokok merupakan salah satu faktor risiko utama berbagai penyakit tidak menular. Perokok pasif adalah individu yang tidak merokok tetapi menghirup asap rokok dari lingkungan sekitarnya. Dalam lingkungan keluarga, paparan asap rokok sering terjadi di dalam rumah sehingga meningkatkan risiko gangguan kesehatan pada pasangan, anak, dan anggota keluarga lainnya. Paparan asap rokok terbukti berhubungan dengan peningkatan risiko penyakit saluran pernapasan, penyakit kardiovaskular, kanker paru, serta gangguan kesehatan pada ibu hamil dan anak. Menganalisis dampak paparan asap rokok terhadap kesehatan perokok pasif dalam keluarga. Penelitian menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian terdiri dari 150 anggota keluarga nonperokok yang tinggal serumah dengan perokok aktif. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-square dengan tingkat signifikansi 95% (α = 0,05). Sebanyak 60,7% responden terpapar asap rokok setiap hari. Gangguan kesehatan yang paling banyak ditemukan adalah batuk kronis (35,3%), infeksi saluran pernapasan akut (28,7%), sesak napas (18,0%), dan kekambuhan asma (12,7%). Hasil uji Chi-square menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara paparan asap rokok di dalam rumah dengan kejadian gangguan kesehatan pada perokok pasif (p = 0,001).Paparan asap rokok dalam lingkungan keluarga berhubungan secara signifikan dengan meningkatnya risiko gangguan kesehatan pada perokok pasif. Penerapan rumah bebas asap rokok serta edukasi mengenai bahaya asap rokok perlu ditingkatkan untuk melindungi seluruh anggota keluarga
Pengaruh Iklan Rokok Terhadap Perilaku Merokok Pada Remaja Rosmiati Rosmiati; Rahmat Pannyiwi
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2026): Barongko : Jurna Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1395

Abstract

Perilaku merokok pada remaja masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat yang berdampak terhadap meningkatnya risiko penyakit tidak menular di masa dewasa. Salah satu faktor yang diduga memengaruhi perilaku merokok remaja adalah paparan iklan rokok melalui televisi, media sosial, internet, sponsor kegiatan, maupun media luar ruang. Iklan rokok umumnya menampilkan citra maskulinitas, kebebasan, petualangan, dan keberhasilan yang dapat memengaruhi persepsi serta mendorong remaja untuk mencoba merokok. Menganalisis pengaruh paparan iklan rokok terhadap perilaku merokok pada remaja. Penelitian menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian sebanyak 180 remaja berusia 15–19 tahun dipilih menggunakan teknik stratified random sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner mengenai paparan iklan rokok dan perilaku merokok. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-square dengan tingkat kemaknaan 95% (α = 0,05). Sebanyak 61,1% responden memiliki tingkat paparan iklan rokok yang tinggi, sedangkan 38,9% memiliki paparan rendah. Remaja yang memiliki perilaku merokok sebanyak 42,8%. Hasil uji Chi-square menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara paparan iklan rokok dengan perilaku merokok pada remaja (p = 0,001). Paparan iklan rokok berpengaruh terhadap perilaku merokok pada remaja. Semakin tinggi paparan iklan rokok, semakin besar kecenderungan remaja untuk mencoba dan mempertahankan kebiasaan merokok. Penguatan regulasi iklan rokok dan edukasi kesehatan perlu dilakukan untuk mencegah perilaku merokok pada remaja.
Studi Kualitatif Implementasi Biosafety Dan Biosecurity Pada Laboratorium Mikrobiologi Rizky Rahadian Wicaksono; Muhammad Hanif
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2026): Barongko : Jurna Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1396

Abstract

Laboratorium mikrobiologi memiliki peran penting dalam diagnosis penyakit, penelitian, pendidikan, dan pengembangan ilmu pengetahuan. Aktivitas laboratorium melibatkan berbagai agen biologis yang berpotensi menimbulkan risiko infeksi bagi petugas, masyarakat, maupun lingkungan apabila tidak dikelola sesuai prinsip biosafety dan biosecurity. Biosafety bertujuan melindungi petugas laboratorium, masyarakat, dan lingkungan dari paparan agen biologis melalui penerapan praktik laboratorium yang aman, penggunaan alat pelindung diri (APD), pengendalian teknik, serta prosedur operasional standar. Sementara itu, biosecurity bertujuan mencegah kehilangan, pencurian, penyalahgunaan, atau pelepasan agen biologis yang dapat membahayakan keamanan publik. Keberhasilan implementasi kedua prinsip tersebut dipengaruhi oleh kebijakan institusi, kompetensi sumber daya manusia, ketersediaan sarana prasarana, budaya keselamatan kerja, dan sistem pengawasan yang berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi implementasi biosafety dan biosecurity pada laboratorium mikrobiologi, mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat pelaksanaannya, serta menggambarkan upaya peningkatan budaya keselamatan laboratorium. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Informan dipilih secara purposive yang terdiri atas kepala laboratorium, analis laboratorium, dosen atau peneliti, serta petugas penjamin mutu. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi langsung terhadap aktivitas laboratorium, dan telaah dokumen berupa SOP, kebijakan, serta catatan pelatihan. Analisis data dilakukan menggunakan analisis tematik melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data dijaga melalui triangulasi sumber, triangulasi metode, dan member checking. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi biosafety telah berjalan melalui penggunaan APD, penerapan SOP, pengelolaan limbah infeksius, serta pelatihan keselamatan kerja secara berkala. Namun, masih ditemukan beberapa kendala, antara lain kepatuhan penggunaan APD yang belum konsisten, keterbatasan fasilitas tertentu, dan belum optimalnya dokumentasi evaluasi risiko. Implementasi biosecurity telah diterapkan melalui pembatasan akses laboratorium, pencatatan penggunaan bahan biologis, dan pengamanan ruang penyimpanan, meskipun masih diperlukan penguatan sistem pengawasan serta peningkatan kesadaran seluruh personel laboratorium. Implementasi biosafety dan biosecurity pada laboratorium mikrobiologi telah dilaksanakan, namun masih memerlukan penguatan dalam aspek budaya keselamatan, kepatuhan terhadap prosedur, peningkatan kompetensi petugas, serta pengembangan sistem monitoring dan evaluasi secara berkelanjutan.
Peran Keselamatan Pasien Sebagai Pilar Utama Dalam Peningkatan Mutu Pelayanan Kesehatan: Studi Analitik Moh. Nisyar Sy. Abd. Azis; Rezqiqah Aulia Rahmat
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2026): Barongko : Jurna Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1397

Abstract

Keselamatan pasien (patient safety) merupakan komponen fundamental dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang bermutu. Penerapan budaya keselamatan pasien bertujuan untuk mencegah terjadinya insiden keselamatan pasien, mengurangi risiko cedera, serta meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan. Berbagai faktor seperti komunikasi efektif, kepatuhan terhadap identifikasi pasien, pelaporan insiden, kepemimpinan, dan kerja sama tim berkontribusi terhadap keberhasilan implementasi keselamatan pasien. Menganalisis peran keselamatan pasien sebagai pilar utama dalam peningkatan mutu pelayanan kesehatan di rumah sakit. Penelitian menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian terdiri atas 150 tenaga kesehatan yang bekerja di rumah sakit, dipilih menggunakan teknik proportionate stratified random sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner budaya keselamatan pasien dan dianalisis menggunakan uji Chi-square dengan tingkat kemaknaan 95% (α = 0,05). Sebagian besar responden memiliki penerapan keselamatan pasien yang baik (72,7%) dan menilai mutu pelayanan kesehatan dalam kategori baik (76,0%). Analisis menunjukkan bahwa budaya keselamatan pasien (p=0,001), komunikasi efektif (p=0,003), kepatuhan identifikasi pasien (p=0,002), pelaporan insiden keselamatan pasien (p=0,011), dan kerja sama tim (p=0,004) berhubungan secara signifikan dengan mutu pelayanan kesehatan. Keselamatan pasien memiliki peran penting dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan. Penguatan budaya keselamatan pasien, peningkatan kompetensi tenaga kesehatan, serta kepatuhan terhadap standar keselamatan pasien diperlukan untuk mendukung pelayanan yang aman, efektif, dan berpusat pada pasien.
Efektivitas Metode Diskusi Kelompok Dalam Meningkatkan Pemahaman Dan Perilaku Seksual Sehat Remaja Raissa Patrisia; Djunaedi Djunaedi
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2026): Barongko : Jurna Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1398

Abstract

Remaja merupakan kelompok usia yang mengalami perubahan fisik, psikologis, dan sosial yang sangat cepat. Kurangnya pemahaman mengenai kesehatan reproduksi dan perilaku seksual sehat dapat meningkatkan risiko terjadinya kehamilan tidak direncanakan, infeksi menular seksual (IMS), serta perilaku seksual berisiko. Salah satu metode pendidikan kesehatan yang dinilai efektif adalah metode diskusi kelompok karena memberikan kesempatan kepada remaja untuk bertukar pengalaman, menyampaikan pendapat, dan memperoleh informasi secara aktif. Menganalisis efektivitas metode diskusi kelompok dalam meningkatkan pemahaman dan perilaku seksual sehat pada remaja. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain pre-experimental One Group Pretest–Posttest Design. Sampel penelitian berjumlah 60 remaja yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Intervensi dilakukan melalui empat sesi diskusi kelompok mengenai kesehatan reproduksi dan perilaku seksual sehat. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner pengetahuan dan perilaku seksual sehat, kemudian dianalisis menggunakan uji paired t-test dengan tingkat signifikansi 95% (α = 0,05). Rata-rata skor pemahaman remaja meningkat dari 61,42 ± 8,73 sebelum intervensi menjadi 82,75 ± 6,54 setelah intervensi. Rata-rata skor perilaku seksual sehat meningkat dari 64,18 ± 7,95 menjadi 80,63 ± 6,88. Hasil uji paired t-test menunjukkan nilai p = 0,000 (p < 0,05), yang menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan setelah pemberian metode diskusi kelompok. Metode diskusi kelompok efektif meningkatkan pemahaman dan perilaku seksual sehat pada remaja. Metode ini dapat dijadikan salah satu strategi pendidikan kesehatan reproduksi di sekolah maupun di masyarakat.
Pengaruh Promosi Kesehatan Berbasis Digital Terhadap Perubahan Perilaku Pencegahan Penyakit Pada Generasi Z Rita Rena Pudyastuti; Rahmat Pannyiwi
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2026): Barongko : Jurna Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1399

Abstract

Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara masyarakat memperoleh informasi kesehatan, terutama pada Generasi Z yang dikenal sebagai digital native. Media digital seperti media sosial, aplikasi kesehatan, situs web, video edukasi, dan platform komunikasi daring menjadi sarana utama dalam penyebaran informasi kesehatan. Promosi kesehatan berbasis digital memiliki potensi besar dalam meningkatkan pengetahuan, membentuk sikap, dan mendorong perubahan perilaku pencegahan penyakit. Namun, efektivitas promosi kesehatan digital dipengaruhi oleh kualitas informasi, intensitas paparan, literasi kesehatan digital, serta kemampuan individu dalam memanfaatkan informasi tersebut. Oleh karena itu, diperlukan penelitian untuk mengetahui pengaruh promosi kesehatan berbasis digital terhadap perubahan perilaku pencegahan penyakit pada Generasi Z. Menganalisis pengaruh promosi kesehatan berbasis digital terhadap perubahan perilaku pencegahan penyakit pada Generasi Z. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sampel penelitian sebanyak 180 responden Generasi Z yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner mengenai paparan promosi kesehatan digital dan perilaku pencegahan penyakit. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan uji Chi-square, dan multivariat menggunakan regresi logistik dengan tingkat signifikansi 95%. Sebagian besar responden memiliki tingkat paparan promosi kesehatan digital yang tinggi (72,2%) dan menunjukkan perilaku pencegahan penyakit yang baik (69,4%). Hasil analisis menunjukkan terdapat pengaruh yang signifikan antara promosi kesehatan berbasis digital terhadap perubahan perilaku pencegahan penyakit (p<0,001). Promosi kesehatan berbasis digital berpengaruh positif terhadap perubahan perilaku pencegahan penyakit pada Generasi Z. Pemanfaatan media digital yang inovatif dan interaktif perlu terus dikembangkan untuk meningkatkan efektivitas promosi kesehatan.
Faktor Sosiodemografi Yang Mempengaruhi Status Kesehatan Masyarakat Sahabuddin Sahabuddin; Nurhaedah Nurhaedah
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2026): Barongko : Jurna Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1400

Abstract

Status kesehatan masyarakat dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan, termasuk karakteristik sosiodemografi. Faktor-faktor seperti umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, pekerjaan, pendapatan, status perkawinan, dan tempat tinggal berperan penting dalam menentukan akses terhadap pelayanan kesehatan, perilaku hidup sehat, serta kualitas hidup individu. Perbedaan kondisi sosiodemografi dapat menyebabkan terjadinya kesenjangan kesehatan di masyarakat. Oleh karena itu, identifikasi faktor-faktor sosiodemografi yang memengaruhi status kesehatan menjadi penting sebagai dasar dalam penyusunan kebijakan dan intervensi kesehatan masyarakat yang tepat sasaran. Menganalisis faktor-faktor sosiodemografi yang memengaruhi status kesehatan masyarakat. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain analitik observasional menggunakan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian sebanyak 220 responden dipilih menggunakan teknik stratified random sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur dan dianalisis menggunakan analisis univariat, bivariat (uji Chi-square), dan multivariat (regresi logistik) dengan tingkat kepercayaan 95%. Sebagian besar responden memiliki status kesehatan baik (67,3%). Analisis bivariat menunjukkan bahwa pendidikan (p=0,002), pendapatan (p<0,001), pekerjaan (p=0,018), dan umur (p=0,031) berhubungan signifikan dengan status kesehatan masyarakat. Analisis multivariat menunjukkan bahwa pendapatan merupakan faktor yang paling dominan memengaruhi status kesehatan (AOR=3,84; 95% CI=2,01–7,32). Faktor sosiodemografi, khususnya pendapatan, pendidikan, pekerjaan, dan umur, berpengaruh terhadap status kesehatan masyarakat. Upaya peningkatan kesehatan masyarakat perlu memperhatikan kondisi sosial ekonomi dan karakteristik demografi masyarakat sebagai dasar perencanaan program kesehatan.
Analisis Faktor Risiko Gangguan Pembekuan Darah Pada Ibu Postpartum Susi Rabuana; Cakrawati R Cakrawati R
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2026): Barongko : Jurna Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1401

Abstract

Masa postpartum merupakan periode kritis yang berlangsung hingga 42 hari setelah persalinan. Pada periode ini ibu berisiko mengalami berbagai komplikasi, termasuk gangguan pembekuan darah (koagulasi) yang dapat menyebabkan perdarahan postpartum maupun tromboemboli. Perubahan fisiologis sistem hemostasis selama kehamilan dan setelah persalinan meningkatkan risiko terjadinya gangguan koagulasi, terutama pada ibu dengan faktor risiko tertentu seperti usia maternal tinggi, obesitas, preeklampsia, persalinan seksio sesarea, infeksi, dan riwayat gangguan pembekuan darah. Identifikasi faktor-faktor risiko tersebut penting untuk mendukung deteksi dini dan pencegahan komplikasi yang dapat meningkatkan angka kesakitan dan kematian ibu. Menganalisis faktor-faktor risiko yang berhubungan dengan gangguan pembekuan darah pada ibu postpartum. Penelitian menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Sebanyak 180 ibu postpartum dipilih menggunakan teknik consecutive sampling dari ruang nifas rumah sakit dan puskesmas. Data dikumpulkan melalui rekam medis dan wawancara menggunakan kuesioner terstruktur. Analisis data meliputi analisis univariat, bivariat menggunakan uji Chi-square, dan multivariat menggunakan regresi logistik dengan tingkat kemaknaan 95%. Gangguan pembekuan darah ditemukan pada 26,1% responden. Faktor yang berhubungan secara signifikan adalah usia ≥35 tahun (p=0,021), preeklampsia (p<0,001), persalinan seksio sesarea (p=0,014), obesitas (p=0,008), dan perdarahan postpartum (p<0,001). Analisis multivariat menunjukkan bahwa preeklampsia merupakan faktor yang paling dominan (AOR=4,28; 95% CI=2,01–9,12). Preeklampsia, obesitas, usia maternal ≥35 tahun, persalinan seksio sesarea, dan perdarahan postpartum merupakan faktor risiko utama gangguan pembekuan darah pada ibu postpartum. Skrining faktor risiko sejak masa antenatal hingga postpartum diperlukan untuk mencegah komplikasi serius.