cover
Contact Name
Rofiatun Nisa
Contact Email
p3m.stitaf.1@gmail.com
Phone
+6285764147330
Journal Mail Official
p3m.stitaf.1@gmail.com
Editorial Address
Komplek Pondok Pesantren Al-Fattah Siman Sekaran Lamongan Jawa Timur 62261
Location
Kab. lamongan,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Cendekia : Media Komunikasi Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Islam
ISSN : 20860641     EISSN : 2685046X     DOI : https://doi.org/10.37850/cendekia.v12i1.86
Core Subject : Religion, Education,
The Focus in Jurnal Cendekia: Media Komunikasi Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Islam is on publishing articles that contain ideas, ideas, research results, and literature reviews in the field of Islamic Education Scope of the Jurnal Cendekia: Media Komunikasi Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Islam includes: 1. Islamic education based on Al-Quran and Hadith 2. Media and Learning Resources in Islamic Education 3. Study of Islamic Education Figures 4. Islamic Education Curriculum 5. History of Islamic Education 6. Philosophy of Islamic Education 7. Research on Islamic Education 8. Issues on Islamic Education 9. Psychology of Islamic Education 10. Management of Islamic Religious Education 11. Islamic Religious Education Guidance and Counseling
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 208 Documents
Ibadah Umrah sebagai Gaya Hidup, Eksistensi Diri dan Komoditas Industri Zaini Miftah
CENDEKIA Vol. 8 No. 01 (2016): Cendekia March 2016
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Billfath

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (356.481 KB) | DOI: 10.37850/cendekia.v8i01.37

Abstract

Fenomena umrah sebagai komoditas dan gaya hidup memberi pengaruh dalam transformasi sosial yang berdampak pada transformasi perilaku sosial keagamaan. Sejatinya agama merupakan pondasi dan tuntunan hidup (way of life) yang akan membawa manusia pada kehidupannya yang menjunjung tinggi nilai-nilai etika dan moral yang tercermin dari perilaku kehidupannya sehari-hari, akan tetapi ritual keagamaan disubversi untuk kampanye dan iklan komoditas-komoditas untuk ekpresi diri dan sebagai ritual agama. Kegiatan seremoni yang sacral ini sejatinya memberikan pengalaman terhadap pengamalan nilai-nilai agama bagi kehidupan manusia, baik orang perorang maupun dalam hubungannya dengan kehidupan bermasyarakat, selain itu agama juga telah terkikis untuk memberi dampak bagi kehidupan sehari- hari.
Pengentasan Kemiskinan sebagai Tanda Kemabruran Haji Nur Salim
CENDEKIA Vol. 8 No. 02 (2016): Cendekia October 2016
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Billfath

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1147.785 KB) | DOI: 10.37850/cendekia.v8i02.40

Abstract

Haji adalah karakteristik Islam kelima yang harus dilakukan untuk orang yang memiliki kemampuan sekali seumur hidup. Di dalam haji berisi ritual dan sosialitas, keduanya disebut ibadah. Selama ini Islam atau Muslim memiliki persepsi yang salah untuk memahaminya dan memberi batasan pada ibadah ritual. Ada begitu banyak Muslim yang sibuk dengan mahdhah. Mereka melakukan haji berkali-kali, tetapi mereka tidak mematuhi atau mengabaikan kemiskinan, kebodohan, kelaparan, penderitaan dan kehidupan keras saudara-saudara mereka. Terlalu banyak Muslim yang kaya memiliki upacara mengelilingi Ka'bah (tawaf) dan berlari di antara bukit-bukit Shafa dan Marwah (sa'i), sementara di sekeliling mereka ditemukan mayat-mayat lemah tumbuh penyakit dan kunci nutrisi, atau betapa mudahnya jutaan rupiah dihabiskan untuk upacara haji, pada saat yang sama ribuan anak-anak menghentikan sekolah mereka, ribuan orang sakit berbaring menunggu kematian, karena mereka tidak dapat membayar rumah sakit dan bahkan ketika ribuan Muslim terpaksa harus menjual sekolah mereka iman dan kepercayaan mereka kepada anggota lain di tangan dengan "penuh cinta". Haji sebagai pendidikan agama memastikan bahwa itu bersifat pribadi dan ritual tetapi berbeda dengan yang lain, sosialnya juga, daripada yang disebutkan di atas di masa lalu, satu aspek yang hilang dari tekanannya pada abad terakhir dalam sejarah perkembangan. Bahkan pada dasarnya hal itu bertentangan, haji lebih bersifat sosialitas daripada pribadi dan ritual.
Paradigma Baru dalam Kepemimpinan : Prinsip-Prisip Spiritualis Etis Abdul Halim
CENDEKIA Vol. 8 No. 02 (2016): Cendekia October 2016
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Billfath

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1065.027 KB) | DOI: 10.37850/cendekia.v8i02.41

Abstract

Tumbunya budaya mutu dalam pendidikan merupakan faktor yang cukup domonan dalam menentukan pertumbuhan sekolah dan managemen pendidikan. Dalam hal ini sekolah harus selalu mengadakan peningkatan mutu, yaitu kepuasan pelanggan, baik internal maupun eksternal. Nilai-nilai relegius dan nilai-nilai etis juga punya andil yang cukup besar. karena manusia yang diciptakan dari “ruh” Tuhan, merupakan puncak ciptaan Tuhan yang ditasbihkan sebagai kholifah-Nya di bumi sudah seharusnya menjadikan nilai-nilai ketuhanan sebagai paradigma dalam berprilaku termasuk dalam mengembangkan kepemimpinan. Dalam konteks kepemimpinan, sudah seharusnya manusia mengembangkan kepemimpinan dalam nama Tuhan, mencontoh prilaku kepemimpinan Tuhan, dan mengharap ridlo Tuhan dalam mengembangkan kepemimpinanya. Inilah kepemimpinan spiritual, yaitu kepemimpinan yang menggunakan seluruh potensi kecerdasan, memimpin dengan “ruh” (lead by soul) memimpin dengan hati, (lad by hert), memimpin dengan kepala (lead by head) dan memimpin dengan tangan, profesional (laed by hand). Kepemimpianan spritual adalah puncak kepemimpinan (the ultimate leadership).
Pendidikan sebagai Pemersatu Bangsa Saifuddin
CENDEKIA Vol. 8 No. 02 (2016): Cendekia October 2016
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Billfath

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (925.051 KB) | DOI: 10.37850/cendekia.v8i02.42

Abstract

Pendidikan merupakan suatu proses yang berkesinambungan, proses tersebut berimplikasi bahwa di dalam peserta didik terdapat kemampuan kemampuan yang immanen sebagai mahluk yang hidup di dalam suatu masyarakat. Pendidikan yang telah dilaksanakan oleh satuan pendidikan berperan untuk menumbukhan sikap nasionalis. Dengan sikap ini diharapkan agar keutuhan dan kesatuan bangsa dapat terwujud.
Strategi Pembelajaran Rasulullah dalam Konteks Keindonesiaan Masa Kini Malik Zuhri
CENDEKIA Vol. 8 No. 02 (2016): Cendekia October 2016
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Billfath

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (907.35 KB) | DOI: 10.37850/cendekia.v8i02.43

Abstract

Rasulullah SAW merupakan sosok pendidik yang luar biasa. Dalam menjalankan dakwahnya, beliau menggunakan beberapa strategi pembelajaran sehingga hampir sepertiga penduduk dunia mengikuti ajarannya. Diantara beberapa metode pembelajaran Rasulullah sebagai berikut: (1) metode ceramah, (2) dialog, (3) metode perumpamaan, (4) diskusi, (5) demonstrasi, (6) pembiasaan, (7) hafalan, (8) kisah, (9) tegur langsung. Metode-metode tersebut telah terbukti keberhasilannya dan perlu dikembangkan sesuai dengan konteks Indonesia saat ini.
Golput dalam Pemilihan Umum Perspektif Fiqih Siyasah Hasyim
CENDEKIA Vol. 8 No. 02 (2016): Cendekia October 2016
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Billfath

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (931.61 KB) | DOI: 10.37850/cendekia.v8i02.44

Abstract

Pemilihan pemimpin dalam suatu momunitas masyarakat hukumnya adalah wajib, hadits nabi menegaskan memilih pemimpin hukumnya wajib. Sementara dalam konteks ketatanegaraan kita. Peilihan pemimpin Negara dilakukan melalui penyelenggaraan pemilu, maka pemilu humunya wajib. Secara mahfum mukholafah seseorang yang mempunyai hak pilih tetapi tidak mengikuti pemilu dengan maksud menafikan proses pemilihan pemimpin. Terlepas dari semua itu, golput dalam pemilu perlu diminimalisir dengan memahami akar permasalahan yang menyebabkannya. Jika golput disebabkan kurangnya sosialisasi yang dilakukan pihak penyelanggara dan pemberian pendidikan politik oleh setiap partai politik
Nilai Islam Wasathiyah-Toleran dalam Kurikulum Madrasah Aliyah Program Keagamaan Abu Amar
CENDEKIA Vol. 10 No. 02 (2018): Cendekia October 2018
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Billfath

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1075.501 KB) | DOI: 10.37850/cendekia.v10i02.46

Abstract

Islam wasathiyah (moderat), merupakan Islam khas Indonesia yang sudah teruji oleh sejarah, dan menjadi inspirasi muslim internasional. Islam dan muslim Indonesia tetap menemukan momentumnya sebagai agama yang mengedepankan sikap-sikap moderat, inklusif, humanis, toleran dan damai, Islam wasathiyah adalah Islam khas Indonesia. Namun akhir-akhir ini, keunikan mulai bergeser. Sejumlah fakta tentang konflik dan kekerasan yang dilakukan oleh individu maupun kelompok dengan mengatasnamakan agama bahkan dengan dalih membela agama telah merusak kebhinekaan dan toleransi itu sendiri. Madrasah Aliyah program keagamaan, selayaknya mempromosi-kan pendidikan Islam wasathiyah. Fokus tulisan ini hendak mengelaborasi sejauhmana toleransi sebagai ciri terpenting Islam wasathiyah menjadi tujuan diwujudkan dalam kurikulum MA program keagamaan. Ternyata kompetensi toleransi peserta didik lebih menekankan pada pemahaman dalam pemikiran dan keragaman keagamaan Islam, sedangkan toleransi dengan agama atau golongan di luar Islam sebatas penerimaan berbeda sebagai kehendak Tuhan, tanpa ada elaborasi mengenai dialog dan kerjasama dalam konteks sesama warga negara dalam kesedarajatan
Urgensi Studi Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Ushul Fiqih terhadap Pluralitas Hukum Islam Hasyim
CENDEKIA Vol. 10 No. 02 (2018): Cendekia October 2018
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Billfath

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (938.256 KB) | DOI: 10.37850/cendekia.v10i02.47

Abstract

Pengertian usul fikih yang sudah mapan sejak masa ulama mazhab perlu dipikirkan kembali, apakah perlu diperluas, sebagaimana penggunaan pada periode awal, sehingga cakupan usul fikih tidak hanya terbatas pada wilayah yang ada saat ini. Tujuannya, agar usul fikih bisa dikembalikan kepada "fungsinya" dan agar wilayah yang ada "diluar" masuk kedalam cakupan ilmu keislaman. Terdapat beragam metode dan pendekatan yang biasa digunakan dalam beragam disiplin ilmu, khusunya ilmu- ilmu sosial, sebenarnya bisa digunakan dalam kajian usul fikih.
Rekonstruksi Paradigma Integrasi Ilmu Pengetahuan: Sebuah Tinjauan Tafsir Al-Qur’an dan al-Hadits Muhammad Sya’roni
CENDEKIA Vol. 9 No. 01 (2017): Cendekia March 2017
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Billfath

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1223.575 KB) | DOI: 10.37850/cendekia.v9i01.48

Abstract

Islam sama sekali tidak mengenal dikotomi ilmu pengetahuan. Semua Ilmu bersumber dari Allah swt. Yang terjadi hanyalah penamaan atau pengelompokkan saja berdasarkan objek kajian ilmu tersebut (ontologi). Berdasrakan kajian tafsir al-Qur’an dan Hadits, Justeru Islam memerintahkan umat manusia untuk menguasi semua ilmu sesuai dengan kebutuhan dan semua ilmu menduduki status yang sama
Nilai-Nilai Pendidikan Islam dalam Tradisi Krayahan Bayi: Studi Kasus: Dusun Bendungan Desa. Banjarejo, Kec. Kedungpring, Kab. Lamongan Nur Zaini
CENDEKIA Vol. 9 No. 01 (2017): Cendekia March 2017
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Billfath

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1496.011 KB) | DOI: 10.37850/cendekia.v9i01.49

Abstract

Tradisi Jawa akan selalu berhubungan dengan ritual. Namun ritual yang dilaksanakan secara Islami akan bermanfaat sebagai penyebaran Islam, dan dapat menanamkan nilai-nilai kemanusiaan dalam masyarakat. Begitu pula dengan nilai-nilai pendidikan Islam yang terkandung dalam tradisi Krayahan di dusun Bandungan Desa Banjarjo Kec. Kedungpring Kab. Lamongan. Sebuah tardisi jawa ditengah masyarakat muslim, yang masih dipertahankan. Tradisi krayahan di dusun Bandungan tetap dipertahankan karena tidak bertentangan dengan ajaran Islam dan bahkan diyakini memiliki nilai-nilai luhur, termasuk nilai pendidikan Islam. Tradisi Krayahan merupakan tradisi yang dilakukan untuk menyambut kelahiran seorang bayi dan dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas segala rizki yang diberikan kepada manusia. Dalam tradisi ini terdapat sejumlah ritual antara lain: mendhem (mengubur) ari-ari, dan ritual slametan, perlengkapan yang digunakan untuk mendhem (mengubur) ari-ari adalah kendhil, jarum, benang, kertas, pensil, uyah grasak (garam laut), bunga tujuh rupa dan lampu. Sedangkang dalam ritual slametan yang harus disiapkan adalah nasi buceng (tumpeng), nasi golong atau bongkor, bubur abang, bubur putih, dan jajan pasar. Adapun nilai-nilai Pendidikan Islam dalam tradisi Krayahan bayi adalah: Pertama, Nilai Aqidah. Yakni keyakinan bahwa setiap kelahiran seorang bayi adalah anugrah dari Allah SWT. Kedua, Nilai Ibadah, yakni dilantunkannya ayat-ayat Al-Qur’an dan sholawat nabi sebagai wujud pengabdian kepada Allah SWT. Dalam prosesi tradisi krayahan tersebut. Ketiga, Nilai Amaliah, yakni Tradisi krayahan merupakan sarana untuk meningkatkan amal kebaikan melalui sedekah kepada sesama manusia. Sebagai wujud rasa syukur yang tak terhingga dari kedua orang tua yang baru memiliki seorang anak kemudian mereka menyediakan makanan yang digunakan untuk slametan. Keempat, Nilai Ukhuwah Islamiyah, yaitu dalam pelaksanaan tradisi krayahan dapat mewujudkan rasa kebersamaan dan memperkuat tali silaturrahim antar tetangga. Kelima, Nilai Dakwah, yaitu dalam pelaksanaan tradisi krayahan melibatkan banyak orang sehingga secara tidak langsung dapat menyampaikan ajaran islam kepada generasi penerusnya dalam bentuk pelestarian budaya jawa yang di kemas secara islami.

Page 4 of 21 | Total Record : 208