cover
Contact Name
Dewi Yunita
Contact Email
dewi_yunita@usk.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jimfp@usk.ac.id
Editorial Address
Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala Jl. Tgk Hasan Krueng Kalee No. 3 Darussalam Banda Aceh, Indonesia 23111
Location
Kab. aceh besar,
Aceh
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian
ISSN : 26152878     EISSN : 26146053     DOI : http://dx.doi.org/10.17969/jimfp
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian (JIMFP) diterbitkan oleh Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala. Merupakan media jurnal elektronik sebagai wadah untuk penyebaran dan publikasi hasil penelitian dari skripsi/tugas akhir dan atau sebagian dari skripsi/tugas akhir mahasiswa strata satu (S1) Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala yang merupakan kewajiban setiap mahasiswa untuk mengunggah karya ilmiah sebagai salah satu syarat untuk yudisium dan wisuda sarjana. Artikel ditulis bersama dosen pembimbingnya serta diterbitkan secara online setelah melewati proses review oleh 2 orang reviewer dan editor JIMFP. JIMFP menerbitkan artikel ilmiah mahasiswa dari delapan Program Studi (Prodi), yaitu Prodi Agribisnis, Prodi Agroteknologi, Prodi Peternakan, Prodi Teknologi Hasil Pertanian, Prodi Teknik Pertanian, Prodi Ilmu Tanah, Prodi Proteksi Tanaman dan Prodi Kehutanan. JIMFP terbit satu volume dan empat nomor dalam setahun, yaitu setiap bulan Februari, Mei, Agustus dan November.
Articles 1,028 Documents
Biodiversitas Serangga Herbivora pada Beberapa Varietas Padi di Ekosistem Persawahan Zahratul Mahfuzah; Muhammad Sayuthi; Hasnah Hasnah
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 8, No 2 (2023): Mei 2023
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (423.192 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v8i2.24736

Abstract

Abstrak. Serangga herbivora merupakan salah satu kelompok serangga yang dominan pada ekosistem persawahan dan merupakan serangga pemakan tumbuhan yang dapat menimbulkan kerusakan pada tanaman sehingga dapat menurunkan produktivitas tanaman. Serangga herbivora dianggap hama oleh petani dan sebagai faktor penyebab utama terjadinya penurunan hasil, baik secara langsung memakan jaringan tanaman dan menurunkan kualitas maupun kuantitasnya yang berdampak pada kerugian ekonomi. Keberadaan serangga herbivora pada lahan persawahan secara tidak langsung dipengaruhi oleh varietas padi yang ditanam. Penelitian dilaksanakan di lahan padi sawah Varietas Inpari 16, Ciherang dan IR 64 di Desa Lam Reh Kecamatan Darussalam Kabupaten Aceh Besar dan serangga diidentifikasi di Laboratorium Dasar Perlindungan Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dan menggunakan perangkap Sweep net, Pitfall trap, dan secara mekanis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, secara keseluruhan ditemukan 6 ordo, 28 famili, 38 morfospesies dan 2669 individu serangga herbivora. Pada Varietas Inpari 16 terdapat 5 ordo, 22 famili, 29 morfospesies, 225 individu dan pada Varietas Ciherang terdapat 6 ordo, 18 famili, 22 morfospesies, 281 individu serta pada Varietas IR 64 terdapat 5 ordo, 21 famili, 27 morfospesies, 2063 individu. Populasi paling banyak didapatkan adalah pada Varietas IR 64 yang disebabkan terdapat morfospesies yang sangat mendominasi yaitu Leptocorisa oratorius (Hemiptera: Alydidae).Kata kunci : Serangga Herbivora, Keanekaragaman, Varietas Padi, Ekosistem SawahAbstract. Herbivorous insects are one of the dominant insect groups in the paddy field ecosystem and are plant-eating insects that can cause damage to plants so that they can reduce plant productivity. Herbivorous insects are considered pests by farmers and are the main factor causing a decrease in yield, both directly eating plant tissue and reducing the quality and quantity which results in economic losses. The presence of herbivorous insects in paddy fields is indirectly influenced by the variety of rice planted. The research was carried out on rice fields of the Inpari 16, Ciherang and IR 64 varieties in Lam Reh Village, Darussalam District, Aceh Besar District and the insects were identified at the Basic Laboratory of Plant Protection, Faculty of Agriculture, University of Syiah Kuala. This study used a descriptive method and used Sweep net traps, Pitfall traps, and mechanically. The results showed that overall, there were 6 orders, 28 families, 38 morphospecies and 2669 individual herbivorous insects. In the Inpari 16 variety there were 5 orders, 22 families, 29 morphospecies, 225 individuals and in the Ciherang variety there were 6 orders, 18 families, 22 morphospecies, 281 individuals and in the IR 64 variety there were 5 orders, 21 families, 27 morphospecies, 2063 individuals. The most abundant population was found in the IR 64 variety due to the dominating morphospecies, Leptocorisa oratorius (Hemiptera: Alydidae).Keywords: Insect, Biodiversity, variety of paddy, rice ecosystem
Potensi Produksi Getah Pinus (Pinus merkusii) Pada Kelas Diameter Batang berbeda Menggunakan Sistem Koakan Yeriana Samis; Tuti Arlita; Dahlan Dahlan
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 8, No 1 (2023): Februari 2023
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (172.966 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v8i1.23318

Abstract

Abstrak. Hutan adalah kesatuan ekosistem berupa lahan yang mengandung sumber daya hayati yang didominasi pepohonan dalam lingkungan alamnya, hutan memberikan banyak manfaat bagi kehidupan manusia, baik dalam bentuk kayu maupun non kayu. Salah satu hasil hutan bukan kayu (HHBK) adalah pinus. Pohon pinus adalah anggota dari pinaceace dengan batang yang lurus, membulat dan biasanya tidak bercabang. Hasil dari analisis data Kelas diameter pinus yang disadap di sekitar kampus PSDKU USK Gayo Lues ukuran dimeter pohon pinus sangat berpengaruh nyata terhadap produksi getah pinus kelas diameter 6 (36-40 cm) = 853.67 gram/kelas/6 ulangan, kelas diameter 5 (31-35 cm)  = 669.17 gram/kelas/6 ulangan, kelas diameter 4 ( 26- 30 cm) = 317.67 gram/kelas/6 ulangan, kelas diameter 3 ( 21-25 cm) = 275.67  gram/kelas/6 ulangan, kelas diameter 2 (16-20 cm) = 135.67 gram/kelas/6 ulangan, kelas diameter 1 (10-15 cm) = 98.83gram/kelas/6 ulangan. Produksi getah pinus yang dihasilkan sangat beragam dimulai dari kelas diameter 1 diameter batang  10-15 cm dengan rata-rata 98.83 gram/kelas/6 ulangan  merupakan  hasil getah pinus paling rendah, hasil getah  paling besar ada pada kelas diameter 6 diameter batang 36-40 cm menghasilkan rata-rata  getah pinus 853.67 gram/kelas/6 ulangan. Semakin besar diameter batang pinus maka getah yang dihasilkan juga semakin banyak selain itu jumlah koakan pada pohon juga mempengaruhi produksi getah pinus yang dihasilkan karena semakin banyak jumlah koakan semakin banyak getah pinus yang dihasilkan.Production Potential of Pine Sap (Pinus merkusii) in Different Stem Diameter Classes Using the Quare SystemAbstract. Forest is an ecosystem unit in the form of land containing biological resources dominated by trees in its natural environment. Forests provide many benefits for human life, both in the form of wood and non-timber. One of the non-timber forest products (HHBK) is pine. The pine tree is a member of the pinaceae family with straight, rounded and usually unbranched trunks. The results of the data analysis of the diameter class of pine tapped around the PSDKU USK Gayo Lues campus, the diameter of the pine tree has a significant effect on the production of pine resin, diameter class 6 (36-40 cm) = 853.67 gram/class/6 replicates, diameter class 5 (31 -35 cm) = 669.17 grams/class/6 repetitions, diameter class 4 (26-30 cm) = 317.67 grams/class/6 repetitions, diameter class 3 (21-25 cm) = 275.67 grams/class/6 repetitions, class diameter 2 (16-20 cm) = 135.67 gram/class/6 repetitions, diameter class 1 (10-15 cm) = 98.83 grams/class/6 repetitions. The production of pine sap produced is very diverse, starting from class 1 diameter, stem diameter 10-15 cm with an average of 98.83 gram/class/6 replicates, which is the lowest pine resin yield, the highest sap yield is in class 6 diameter, stem diameter 36-40 cm produced an average of 853.67 gram/class/6 replications of pine resin. The larger the diameter of the pine trunk, the more sap produced. In addition, the amount of sap on the tree also affects the production of the resulting pine sap because the greater the number of sap, the more pine sap is produced
Analisis Faktor Penentu Kesediaan Perempuan Untuk Bekerja Pada Perkebunan Kelapa Sawit Rakyat Di Desa Cot Putoh Jihan Faiza; T Fauzi; Zulkarnain Zulkarnain
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 7, No 4 (2022): November 2022
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (327.054 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v7i4.21947

Abstract

Abstrak. Situasi ekonomi keluarga dapat berdampak besar pada kesetaraan perempuan untuk berpartisipasi dalam pasar tenaga kerja dan dapat membantu perekonomian keluarga. Semakin banyak anggota keluarga maka semakin banyak beban yang ditanggung kepala rumah tangga. Salah satu alasan perempuan berpartisipasi dalam dunia kerja adalah karena kepala keluarga seringkali memiliki tanggung jawab yang besar. Selain itu pendapatan suami yang cenderung rendah, sehingga mempengaruhi keinginan perempuan untuk bekerja. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi kesediaan perempuan untuk bekerja di perkebunan kelapa sawit rakyat di Desa Cot Putoh. Objek dari penenlitian ini adalah para perempuan yang sudah menikah yang berada di Desa Cot Putoh. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive. Data yang digunakan adalah data primer. Kuesioner digunakan untuk mengumpulkan data primer. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif dan analisis regresi probit. Hasil penelitian menununjukkan bahwa variabel pendapatan suami dan variabel jumlah anggota keluarga yang bekerja secara signifikan mempengaruhi penentu tenaga kerja perempuan untuk bersedia bekerja pada perkebunan kelapa sawit rakyat di Desa cot Putoh. Serta variabel bebas lain nya tidak signifikan mempengaruhi penentu tenaga kerja perempuan untuk bersedia bekerja pada perkebunan kelapa sawit rakyat di Desa Cot putoh.Analysis of Determinants of Women's Willingness to  Work  on  People's  Oil  Palm  Plantations  in  Cot Putoh VillageAbstract. The economic situation of the family affects the tendency of women to participate in the labor market, with the aim of helping to improve the family economy. The more the number of family members, the more the amount borne by the head of the family. The large burden of the head of the family is one of the reasons for women to participate in the world of work. In addition, the husband's income which tends to be low also affects a woman to participate in the world of work. This study aims to determine the determinants of women being willing to work on smallholder oil palm plantations in Cet Putoh village. The object of this research is the women in the village of Cet Putoh, Nisam District, North Aceh. The sampling technique was carried out by purposive sampling technique. The types of data used are primary. Primary data was obtained through a questionnaire that had been compiled. The analytical method used in this research is descriptive analysis method and probit regression analysis. The results showed that the husband's acceptance variable and the number of working family members significantly influenced the determination of female workers to be willing to work on smallholder oil palm plantations in Cet Putoh Village. And the other independent variables did not significantly influence the determinants of female workers willing to work on smallholder oil palm plantations in Cet Putoh Village.
Pengaruh Penambahan Pati Pada Inokulum Feses Luwak Terhadap pH Biji Kopi Arabika (Coffea Arabica L) Selama Fermentasi Hapirayani Hapirayani; Sri Hartuti; Darwin Darwin
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 7, No 4 (2022): November 2022
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (75.678 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v7i4.22140

Abstract

Abstrak: Kopi adalah komoditas hasil perkebunan pada masyarakat petani indonesia yang memiliki nilai ekonomis cukup tinggi di antara tanaman perkebunan lainnya,  serta berperan  sangat penting sebagai sumber devisa bagi negara. Selain itu, lebih dari satu setengah juta jiwa masyarakat indosesia yang penghasilannya dari kopi. Di Indonesia terdapat jenis kopi yang sangat banyak minati oleh masyarakat yaitu kopi luwak. Kopi luwak  memiliki keunikan rasa dan aroma yang khas, yaitu dipengaruhi oleh mutu biji kopi itu sendiri. Kopi luwak (Paradoxurus hermaphroditus) adalah kopi yang diperoleh dari hasil pencernaan hewan luwak tersebut. Kebutuhan akan kopi luwak semakin banyak, salah suatu cara untuk menghasilkan kopi luwak yaitu dengan cara menggunakan kopi gelondong untuk difermentasikan dengan inokulasi dari feses luwak tersebut. Pada penelitian ini digunakan fermnetasi biji kopi arabika dengan penambahan inokulum feses luwak dengan lamanya waktu 48 jam. Parameter yang diamati pada penelitian ini ialah derajat Keasaman (pH). Hasil penelitian menunjukan bahwa pH biji kopi fermentasi menggunakan feses luwak pada ulangan 1 dan ulangan 2 cenderung mengalamipenurunan dimana pada treatment 1 nilai pH pada 0 sebesar 6,23 menjadi 4,72 dan pada treatment 2 dari 6,07 menurun menjadi 4,81 seiring dengan lamanya waktu fermentasi.The Effect of Adding Starch the Inokulum of Civet on the pH of Coffee beans arabica (Coffea arabica L) during Fermentation Abstract. Coffee is a commodity from plantations in Indonesian farming communities which has a fairly high economic value compared to other plantation crops, and plays a very important role as a source of foreign exchange for the country. In addition, more than one and a half million Indonesian people earn their living from coffee. In Indonesia, there is a type of coffee that is very much interested by the public, namely civet coffee. Luwak coffee has a unique taste and distinctive aroma, which is influenced by the quality of the coffee beans themselves. Civet coffee (Paradoxurushermaphroditus) is coffee obtained from the digestion of the civet animal. The need for civet coffee is increasing, one way to produce civet coffee is by using coffee logs to be fermented by inoculation from the civet feces. In this study, Arabica coffee bean fermentation was used with the addition of mongoose faeces inoculum with a duration of 48 hours. The parameter observed in this study is the degree of acidity (pH). The results showed that the pH of fermented coffee beans using civet feces in test 1 and test 2 tended to decrease where in treatment 1 the pH value at 0 was 6.23 to 4.72 and in treatment 2 from 6.07 it decreased to 4.81 as with the length of fermentation time
Efek Aplikasi Biochar Tempurung Kelapa Terhadap Sifat Kimia Ultisol dan Pertumbuhan Jagung (Zea mays) Ghofi Yudha Rifki; Ilyas Ilyas; Munawar Khalil
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 7, No 3 (2022): Agustus 2022
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (726.417 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v7i3.20880

Abstract

Abstrak. Ultisol di Indonesia memiliki sebaran luas mencapai 45.794.000 ha atau 25% total luas daratan di Indonesia. Ultisol memiliki beberapa masalah seperti derajat kemasaman yang tinggi, bahan organik yang rendah, defisiensi unsur hara penting seperti N, P, K, Ca, Mg dan Mo, dan kelarutan Al, Fe dan Mn yang tinggi. Dari permasalahan tersebut maka diberikan pembenah tanah berupa biochar tempurung kelapa. Biochar dapat bermanfaat sebagai bahan pembenah tanah, mengurangi keasamaan tanah dan meningkatkan kualitas lahan pertanian. Untuk melihat efektifas dalam pembenah tanah maka digunakan tanaman sebagai indikator yang dapat diamati, maka dipilihlah tanaman jagung sebagai indikator. Penelitian untuk mengetahui pengaruh pemberian biochar tempurung kelapa terhadap perubahan sifat kimia ultisol dan pertumbuhan jagung (zea mays). Penelitian ini menggunakan pola Rancangan Acak Kelompok (RAK) Non Faktorial, yang terdiri dari 4 perlakuan dan 5 ulangan. Perlakuannya yaitu: Kontrol (B0), 5 ton/ha (B1), 15 ton/ha (B2), dan 25 ton/ha (B3). Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi biochar tempurung kelapa berpengaruh terhadap sifat kimia Ultisol seperti C-organik dan K tersedia, dan juga berpengaruh terhadap pertumbuhan tinggi tanaman pada perlakuan 25 ton/ha. C-organik meningkat dari 1,46 % menjadi 1,93 % dan K tersedia meningkat dari 1,62 mg/kg menjadi 8,77 mg/kg.Effect of Coconut Shell Biochar Application on Ultisol Chemical Properties and Corn Growth (Zea mays)Abstract. Ultisols in Indonesia have an area of 45,794,000 ha or 25% of the total land area in Indonesia. Ultisols have several problems such as high acidity, low organic matter, deficiency of essential nutrients such as N, P, K, Ca, Mg and Mo, and high solubility of Al, Fe and Mn. From these problems, a soil enhancer in the form of coconut shell biochar was given. Biochar can be useful as a soil amendment, reduce soil acidity and improve the quality of agricultural land. To see the effectiveness in improving the soil, plants are used as indicators that can be observed, then corn is chosen as an indicator. This study was to determine the effect of coconut shell biochar on changes in the chemical properties of ultisol and the growth of corn (zea mays). This study used a non-factorial randomized block design (RAK) pattern, which consisted of 4 treatments and 5 replications. The treatments were: Control (B0), 5 tons/ha (B1), 15 tons/ha (B2), and 25 tons/ha (B3). The results showed that the application of coconut shell biochar affected the chemical properties of Ultisol such as C-organic and available K, and also affected plant height growth at 25 tons/ha treatment. C-organic increased from 1.46% to 1.93% and available K increased from 1.62 mg/kg to 8.77 mg/kg.
Kajian Parameter Pengeringan pada Alat Pengering Terowongan Energi Matahari Tipe Hohenheim Aceh Generasi Ketiga Ulfa Hardiyanti; Sri Hartuti; Rita Khathir
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 7, No 2 (2022): Mei 2022
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (365.341 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v7i2.19897

Abstract

Abstrak. Pengeringan ialah salah satu proses pasca panen yang umum dilakukan pada berbagai produk pertanian. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji performansi alat pengering terowongan Energi matahari tipe Hohenheim Aceh generasi ketiga. Objek penelitian adalah alat pengering terowongan energi matahari tipe Hohenheim Aceh generasi ketiga dan diuji tanpa beban (uji kosong), sedangkan alat yang digunakan adalah HTC-meter, anemometer, pyranometer, dan perlengkapan pendukung lainnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama proses pengeringan terjadi fluktuasi iradiasi surya, di mana rata-rata iradiasi surya selama proses pengeringan adalah 649 W/m2. Adapun rata-rata suhu di dalam ruang pengering adalah 40,6°C sedangkan rata-rata suhu di lingkungan adalah 32,9°C. Kondisi di dalam ruang pengering sangat memenuhi syarat pengeringan karena suhu yang lebih tinggi daripada suhu lingkungan. Adapun RH rata-rata dalam ruang pengering adalah 36% dan RH rata-rata di lingkungan adalah 40%, di mana hubungan suhu dan RH adalah negatif kuat yang menunjukkan bahwa kondisi alat sangat bagus untuk proses pengeringan dengan nilai R2 sebesar 51,13%. Hubungan iradiasi surya dan suhu adalah positif kuat menunjukkan bahwa sumber energi alat pengering ini adalah ketersediaan iradiasi surya dengan nilai R2 sebesar 84,05%. Adapun aliran udara dalam ruang pengering sangat rendah sehingga tidak terdeteksi dengan alat ukur, di mana alat ini mempunyai 2 kipas inlet dan 2 kipas outlet kapasitas 12Volt 0,2A DC dengan diameter 12cm. Kecepatan aliran udara di depan kipas inlet (2,2-2,4m/s) lebih besar daripada kecepatan aliran udara di depan kipas outlet (1,9m/s), hal ini disebabkan oleh pengaruh aliran udara alamiah yang searah dengan aliran udara kipas inlet. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan melakukan modifikasi penambahan jumlah, ukuran, dan letak kipas pada alat pengering.Study of Drying Parameters in Solar Tunnel Dryer Type Hohenheim Aceh Third GenerationAbstract. Drying is one of the most common post-harvest processes for various agricultural products. The purpose of this study was to test the performance of the third generation Hohenheim Aceh type solar tunnel dryer. The object of the research was the third generation Hohenheim Aceh type solar tunnel dryer and was tested without load (empty test), while the tools used were HTC-meter, anemometer , pyranometer, and other supporting equipment. The results showed that during the drying process solar irradiation fluctuations occurred, where the average solar irradiation during the drying process was 649 W/m2. The average temperature in the drying chamber is 40.6°C while the average temperature in the environment is 32.9°C. Conditions in the drying chamber are very suitable for drying because the temperature is higher than the ambient temperature. The average RH in the drying chamber is 36% and the average RH in the environment is 40%, where the relationship between temperature and RH is a strong negative which indicates that the condition of the equipment is very good for the drying process with an R2 value of 51.13%. The relationship between solar irradiation and temperature is strong positive indicating that the energy source for this dryer is the availability of solar irradiation with an R2 value of 84.05%. The air flow in the drying chamber is so low that it cannot be detected by measuring instruments, where this tool has 2 inlet fans and 2 outlet fans with a capacity of 12Volt 0.2A DC with a diameter of 12cm. The speed of air flow in front of the inlet fan (2.2-2.4m/s) is greater than the speed of air flow in front of the outlet fan (1.9m/s), this is due to the effect of natural airflow in the direction of the fan airflow. inlets. Further research needs to be done by modifying the addition of the number, size, and location of the fan on the dryer. 
Analisis Tingkat Kepuasan Konsumen terhadap Beras Premium BULOG Kota Lhokseumawe Di Kecamatan Banda Sakti Raihan Humaira Putri Rizal; Sofyan Sofyan; Safrida Safrida
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 7, No 1 (2022): Februari 2022
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (530.375 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v7i1.18913

Abstract

This. BULOG Premium Rice is a type of rice managed by BULOG which is of premium quality with a maximum broken grain rate of 15% and must not contain groats. This study aims to analyze the level of satisfaction of general consumers and special consumers of sembako program with BULOG premium rice in Lhokseumawe City in Banda Sakti District. Based on the type of data used in this study, primary data were obtained through direct interviews and questionnaires with general consumers and special consumers of sembako program. The data analysis method used in this study is the Customer Satisfaction Index (CSI). The results of the general consumer CSI calculation show that general consumer satisfaction with BULOG's premium rice is 92.05%, which means that general consumers are very satisfied with the quality of BULOG's premium rice and the results of the CSI calculation of consumers specifically for sembako program show that consumer satisfaction specifically for sembako program for BULOG premium rice is 95.42%, which means that consumers specifically for sembako program are also very satisfied with BULOG's premium rice. 
Pengaruh Komposisi Media Tanam dan Konsentrasi Pupuk Organik Cair GDM terhadap Pertumbuhan Bibit Kakao (Theobroma cacao L.) Rizka Inda Meutia; Erida Nurahmi; Jumini Jumini
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 6, No 4 (2021): November 2021
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (228.439 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v6i4.18711

Abstract

Percobaan ini dimaksudkan untuk mendapatkan informasi mengenai pengaruh komposisi media tanam dan konsentrasi pupuk organik cair GDM juga interaksi antara masing-masing perlakuan pada pertumbuhan dan perkembangan bibit kakao. Percobaan dilaksanakan di Kebun Eksperimen Fakultas Pertanian USK Darussalam Banda Aceh di April-Juni 2020. Analisis data menggunakan RAK faktorial tersusun dari 2 faktor: komposisi media tanam dan konsentrasi POC GDM. Pengulangan perlakuan 3 kali dan seluruhnya menjadi 36 satuan percobaan. Hasil percobaan melaporkan komposisi media tanaman berpengaruh sangat nyata pada parameter pertambahan tinggi bibit, peningkatan diameter pangkal batang dan pertambahan jumlah daun 30 HST, pertambahan diameter pangkal batang 60 HST, peningkatan jumlah daun, volume akar, bobot akar basah dan bobot kering 90 HST. Berpengaruh nyata pada peningkatan tinggi dan peningkatan jumlah daun 60 HST, peningkatan diameter pangkal batang, pertambahan jumlah daun dan panjang akar 90 HST. Konsentrasi POC GDM menunjukkan pengaruh sangat nyata di peningkatan jumlah daun 30 HST, peningkatan diameter pangkal batang, volume akar dan bobot basah pada 90 HST. Pengaruh nyata pada pertambahan jumlah daun 60 dan 90 HST dan panjang akar 90 HST. Tidak adanya pengaruh nyata di peningkatan tinggi dan diameter batang 30 HST, peningkatan tinggi dan diameter batang 60 HST, pertambahan tinggi dan berat kering pada 90 HST. Adanya interaksi nyata komposisi media tanam dengan konsentrasi POC GDM terhadap pertambahan diameter pangkal batang dan peningkatan jumlah daun 30 HST, peningkatan diameter pangkal batang 60 dan 90 HST. Effect of Planting Media Composition and GDM Liquid Organic Fertilizer Concentration on Cocoa Seed Growth (Theobroma cacao L.) Abstract. The experimental means to get planting media composition effect and liquid organic fertilizer GDM concentration and its interaction on cocoa beans growth. This experimental was did in Experimental Garden of  Agriculture Faculty of USK Darussalam Banda Aceh and was conducted from April to June 2020. Each treatment was repeated 3 times and the total are 36 experimental units. The results reported planting media composition is highly significant on seedling height, stem diameter and leaves number 30 DAP, stem diameter 60 DAP, increased number of leaves, root volume. , stem weight. wet stems and dry stem age weight. 90 DAS. Significantly on the seedling height and leaves number to 60 DAP, stem diameter, leaves number and root length 90 DAP. GDM liquid organic fertilizer concentration had highly significant on leaves number 30 DAP, stem diameter, root volume and wet stem weight of 90 DAP. Significantly on leaves number 60 and 90 DAP and the root length of 90 DAP. There was not significant seedling height and stem diameter 30 DAP, increasing seed height and stem diameter 60 DAP, increasing seed height and dry weight of stem 90 DAP. There was significant interaction among the plant media composition and GDM liquid organic fertilizer concentration on stem diameter and leaves number 30 DAP, stem diameter 60 and 90 DAP.
UJI KEBUSUKAN BAKSO DAGING SAPI YANG DIBERIKAN PERSENTASE TEPUNG KACANG MERAH (Phaseolus vulgaris L.) YANG BERBEDA Maulidi Rahmi
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 6, No 3 (2021): Agustus 2021
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (264.862 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v6i3.18355

Abstract

Uji Kebusukan Bakso Daging Sapi Yang Diberikan Persentase Tepung Kacang Merah (Phaseolus vulgaris L.) Yang Berbeda ( Uji Kebusukan Bakso Beff yang Diberi Perbedaan Persentase Tepung Merah (Phaseolus vulgaris L.) Maulidi rahmi 1 , Prof. Dr. Ir. Amhar Abubakar, MS., IPU., ASEAN.Eng. 1 ,Ir. Cut Aida Fitri, M.Si 1 * 1 Program Studi Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala*Penulis koresponden: cutaidafitri@gmail.com Abstrak . Penelitian ini bertujuan untuk melihat kebuskan awal yang diakibatkan oleh penambahan tepung kacang merah dalam pengolahan daging bakso sapi. Uji kebusukan awal dapat dilakukan dengan metode uji eber, H 2S dan Postma. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Ilmu Teknologi Pengolahan Daging, Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala, Darussalam, Banda Aceh, dimulai pada tanggal 10 Desember 2020 sampai dengan tanggal 25 Januari 2021. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode penelitian kualitatif dengan mendeskripsikan data menggunakan notasi positif. kebusukan awal) dan negatif (belum terjadi kebusukan awal) yang terdiri dari 4 perlakuan dan 4 ulangan sehingga diperoleh 16 unit sampel percobaan. Persentase penggunaan tepung kacang merah yaitu 0%, 20%, 40% dan 60%. Berdasarkan penelitian, bakso yang menggunakan persentase tepung kacang merah dengan tingkat 40% dan 60% lebih cepat mengalami kebusukan awal dibandingkan dengan penambahan tepung kacang merah 20% dan 0%. Kata kunci : Bakso Daging Sapi, Kacang Merah, Tepung Kacang Merah, Tepung Dasar, Uji Kebusukan, Uji Eber, Uji H 2 S, Uji Postma.
Pembagian Peran Gender Pada Rumah Tangga Petani Bawang Merah Alfatin Samay; Elly Susanti; Romano Romano
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 5, No 4 (2020): November 2020
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (171.939 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v5i4.15588

Abstract

Abstrak: Permasalahan dalam penelitian ini  pembagian curahan jam kerja laki-laki dan perempuan dalam usaha tani bawang merah. Penilitian ini bertujuan mengetahui apakah ada perbedaan curahan waktu kerja laki-laki dan perempuan dalam kegiatan usahatani bawang merah. Mengetahui apa yang menyebabkan terjadi perbedaan curahan waktu kerja laki-laki dan perempuan dalam kegiatan usahatani bawang merah. Hasil penilitian ia Dari tiga tahapan usahatani bawang merah yang terdiri kegiatan pratanam, budidaya, penaganan hasil dan penjualan menunjukan terdapat perbedaan curahan waktu kerja laki-laki dan perempuan. Laki-laki lebih mencurahkan waktu pada kegiatan kegiatan persiapan lahan, persiapan bibit, penanaman, pemupukan, pengendalian OPT dan penjualan. Sedangkan perempuan lebih mencurahkan waktu pada kegiatan pengendalian gulma, pemanenan, pembersihan dan penjemuran. Perbedaan curahan waktu kerja laka-laki dan perempuan dilatarbelakangi dari bentuk beban kerja pada saat budidaya bawang merah. Laki-laki bekerja separuh waktu sedangkan perempuan masih harus menyelesaikan peran reproduktifnya.the dispasition of the gendre in the houshold of the onion farmerAbstract.. The problem in this research is the distribution of hours of work of men and women in onion farming. This research aims to find out whether there are differences in the flow of work time of men and women in onion farming activities. Know what causes differences in the outpouring of work time of men and women in onion farming activities. The results of his research Of the three stages of onion farming consisting of farming, cultivation, yield management and selling activities, there are differences in the outpouring of working time for men and women. Men devote more time to land preparation activities, seed preparation, planting, fertilizing, pest control and sales. While women devote more time to weed control activities, harvesting, cleaning and drying. The difference between male and female working time flow is based on the form of workload during onion cultivation. Men work part time while women still have to complete their reproductive role.

Page 49 of 103 | Total Record : 1028