cover
Contact Name
Dewi Yunita
Contact Email
dewi_yunita@usk.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jimfp@usk.ac.id
Editorial Address
Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala Jl. Tgk Hasan Krueng Kalee No. 3 Darussalam Banda Aceh, Indonesia 23111
Location
Kab. aceh besar,
Aceh
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian
ISSN : 26152878     EISSN : 26146053     DOI : http://dx.doi.org/10.17969/jimfp
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian (JIMFP) diterbitkan oleh Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala. Merupakan media jurnal elektronik sebagai wadah untuk penyebaran dan publikasi hasil penelitian dari skripsi/tugas akhir dan atau sebagian dari skripsi/tugas akhir mahasiswa strata satu (S1) Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala yang merupakan kewajiban setiap mahasiswa untuk mengunggah karya ilmiah sebagai salah satu syarat untuk yudisium dan wisuda sarjana. Artikel ditulis bersama dosen pembimbingnya serta diterbitkan secara online setelah melewati proses review oleh 2 orang reviewer dan editor JIMFP. JIMFP menerbitkan artikel ilmiah mahasiswa dari delapan Program Studi (Prodi), yaitu Prodi Agribisnis, Prodi Agroteknologi, Prodi Peternakan, Prodi Teknologi Hasil Pertanian, Prodi Teknik Pertanian, Prodi Ilmu Tanah, Prodi Proteksi Tanaman dan Prodi Kehutanan. JIMFP terbit satu volume dan empat nomor dalam setahun, yaitu setiap bulan Februari, Mei, Agustus dan November.
Articles 1,028 Documents
Aplikasi Teknologi Near Infrared Reflectance Spectroscopy (NIRS) Untuk Membedakan Beras Apek dan Tidak Apek Menggunakan Metode Principal Component Analysis (PCA) Herlina Herlina; Susi Chairani; Zulfahrizal Zulfahrizal
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 4, No 2 (2019): Mei 2019
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (940.575 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v4i2.10927

Abstract

Abstrak. Beras merupakan salah satu tanaman pangan utama hampir dari setengah populasi dunia. Beras sebagai menu pokok ini memiliki kandungan pati yang cukup besar. Selain itu, dalam beras juga mengandung vitamin, protein, mineral, dan air. Pendistribusian beras terkadang membuat beras rusak  yang disebabkan oleh beberapa faktor, seperti penyimpanan yang terlalu lama, dan suhu tempat penyimpanan beras. Beras yang terendam air juga bisa menyebabkan beras itu rusak, seperti beras yang ada dalam gudang yang terkena air hujan yang dapat menyebabkan beras tersebut  bau apek. Tujuan dari penelitian ini adalah membangun model pendugaan mutu beras berdasarkan sifat apek beras menggunakan metode Principal Component Analysis (PCA) dengan pretreatment De-Trending (DT). Penelitian ini menggunakan alat FT-IR IPTEK T-1516. Bahan yang digunakan adalah beras varietas Ciherang 20 g per sampel dengan total jumlah sebanyak 56 sampel. Untuk memperoleh beras apek dilakukan perendaman selama 2 jam dengan penyimpanan 2 hari, 4 hari dan 6 hari dan beras dikeringkan di bawah sinar matahari. Perlakuan terhadap bahan dibagi 2, pertama beras tanpa campuran dan kedua beras dengan campuran. Pencampuran beras bagus dengan beras apek dengan rasio 75% dan 25%. Akuisisi spectrum beras dilakukan dalam bentuk tumpukan. Masing-masing sampel yang telah dimasukkan ke dalam botol plastik akan dilakukan pengambilan spektrum dengan cara diletakkan masing-masing sampel tersebut pada lubang sinar. Untuk mengekplorasi kemiripan spectrum antar sampel dan untuk mencari outlier data dengan menggunakan metode Hotteling T2 ellipse. Hasil dari penelitian yang telah dilakukan diperoleh NIRS mampu menghasilkan klasifikasi beras bagus dan beras apek dengan tingkat keberhasilan di atas 80%. Pretreatment DT mampu menghasilkan model klasifikasi beras sehingga mencapai keberhasilan 83,33%. Technology Application Near Infrared Reflectance Spectroscopy (NIRS) To Distinguish The Rice Is Stale And Not Stale Using The Principal Component Analysis Method (PCA)Abstract. Rice is one of the main food crops of almost half the world's population. Rice as a staple menu has a considerable starch content. In addition, rice also contains vitamins, protein, minerals, and water. The distribution of rice sometimes destroys rice caused by several factors, such as too long storage, and the temperature where the rice is stored. Rice that is submerged in water can also cause the rice to be damaged, such as rice in a warehouse exposed to rain which can cause the rice to smell musty. The purpose of this study is to build a model for estimating the quality of rice based on the musty nature of rice using the Principal Component Analysis (PCA) method with pretreatment De-Trending (DT). This study used the FT-IR tool of Science and Technology T-1516. The material used was rice of Ciherang variety of 20 g per sample with a total amount of 56 samples. To obtain musty rice, soaking is carried out for 2 hours with storage of 2 days, 4 days and 6 days and the rice is dried in the sun. Treatment of ingredients is divided into 2, first rice without mixture and both rice with mixture. Mixing good rice with musty rice with a ratio of 75% and 25%. Acquisition of spectrum of rice is done in the form of piles. Each sample that has been inserted into a plastic bottle will be taken spectrum by placing each of these samples in a ray hole. To explore the similarity spectrum between samples and to find outliers of data using the T2 ellipse Hotteling method. The results of the research that has been done obtained by NIRS are able to produce a classification of good rice and musty rice with a success rate above 80%. DT pretreatment was able to produce a rice classification model so that it achieved 83.33% success.        
Serapan Hara dan Hasil Jagung (Zea mays L.) Akibat Pemberian Berbagai Jenis dan Metode Perhitungan Kebutuhan Kapur pada Ultisol Arief Maulana; Zuraida Zuraida; Muyassir Muyassir
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 3, No 3 (2018): Agustus 2018
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (488.16 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v3i3.8284

Abstract

Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk melihat metode kebutuhan kapur dan jenis kapur yang  efektif terhadap serapan hara dan hasil jagung (Zea mays L.) pada Ultisol dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial dengan 9 perlakuan dan ulangan sebanyak 3 kali sehingga didapatkan 27 satuan unit percobaan. Faktor yang diteliti adalah metode perhitungan kebutuhan kapur sebagai faktor 1 dan jenis kapur sebagai faktor 2. Faktor 1 metode perhitungan kebutuhan kapur terdiri dari 3 taraf yaitu : metode Corey (M1), metode berdasarkan Aldd (M2), dan metode Knooti (M3). Faktor 2 adalah jenis kapur yang terdiri dari 3 taraf yaitu : dolomit (K1), kalsit (K2), dan gypsum (K3). Untuk melihat perbedaan hasil perlakuan digunakan uji F dan dilanjutkan dengan uji (BNT0,05). Hasil penelitian didapatkan serapan hara dan komponen hasil jagung yang bervariasi secara nyata akibat interaksi metode perhitungan kebutuhan kapur. Gypsum yang dihitung dengan  metode Corey  menghasilkan kadar dan serapan tanaman jagung yang lebih baik dari jenis kapur yang dihitung dengan metode perhitungan lainnya, demikian juga halnya dengan komponen hasil jagung yang ditanam pada Ultisol.Nutrient Absorption and Corn Result (Zea Mays L.) Due To The Growth of Types And Calculation Methods on UltisolAbstract. The study aims to see the lime and lime lime requirement method that was effective against nutrient uptake and corn yield (Zea mays L.) on Ultisol using Factorial Randomized Block Design (RAK) with 9 treatments and replicates 3 times so that 27 units of experiments. Factor of research is calculation method of lime requirement as factor 1 and lime type as factor 2. Factor 1 calculation method of lime requirement consists of 3 levels that is: Corey method (M1), method based on Aldd (M2), and Knooti (M3) method. Factor 2 is a type of lime which consists of 3 levels, namely: dolomite (K1), calcite (K2), and gypsum (K3). To see difference between treatment result used F tests and continued with test (BNT0,05). The results showed nutrient uptake and corn yield components that varied significantly due to the interaction of calculation method of lime requirement. Gypsum calculated by Corey method yields better corn absorption rate and absorption of lime species calculated by other calculation methods, as well as corn components grown on Ultisol. 
Analisis Pemasaran Pupuk Urea Di Kabupaten Pidie (Studi Kasus Produk PT. Pupuk Iskandar Muda Aceh Utara) Zeveni Zulisma Sari; Edy Marsudi; Sofyan sofyan
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 2, No 4 (2017): November 2017
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (303.853 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v2i4.5564

Abstract

Abstrak. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis bentuk saluran pemasaran dan lembaga pemasaran pupuk urea PT. PIM Aceh Utara di Kabupaten Pidie dan menghitung margin pemasaran serta faktor yang berperan dalam kelangkaan pupuk urea.Penelitian ini menggunakan metode survey. Jumlah sampel dari pedagang besar adalah 4 orang, dipilih dengan metode sampel total atau sensus yaitu 100% dari jumlah populasi. Sedangkan pengambilan sampel pada pedagang pengecer dipilih dengan menggunakan metode Snowball Sampling yang dimulai dengan sedikit orang dan membesar sehubungan pergerakan penelitian dan untuk sampel petani dilakukan dengan menggunakan metode Cluster Sampling atau pengambilan sampel secara kelompok atau gugus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk saluran pemasaran pupuk urea PT. PIM Aceh Utara di Kabupaten Pidie adalah bentuk saluran dua tingkat (Two Level Channel) yaitu dengan menggunakan dua perantara lembaga pemasaran seperti pedagang besar dan pedagang pengecer. Margin pemasaran di tingkat pedagang besar adalah Rp. 150/Kg lebih kecil dibandingkan dengan margin pemasaran tingkat pedagang pengecer yaitu Rp. 175/Kg. Terdapat beberapa faktor yang berperan dalam kelangkaan pupuk urea PT. PIM di Kabupaten Pidie, yaitu : realisasi penyaluran pupuk tidak sesuai dengan kebutuhan petani, adanya pihak-pihak yang melakukan penyimpangan atau kecurangan dan lemahnya pengawasan dari pihak produsen dan pemerintahan setempat.The Marketing Analysis Of Urea Fertilizer In Pidie (Case Study Product of PT. Pupuk Iskandar Muda, North Aceh)Abstract. This research aim to obtain the information and to analyze the marketing channel and organization of urea fertilizer of PT. PIM North Aceh in Pidie district, and to count the marketing margin along with the factors that influence the lack of urea fertilizer. The type of the research was survey method. The number of the traders was which chosen by the totol sampling method or the 100% census of the population. The method used for choosing the retailers was snowball sampling that started from a few samples then grew up along with the research movement. Meanwhile, the method used for choosing the farmer sample was cluster sampling. The result of the study showed that the marketing channel which had two mediator organizations such as the big traders and the retailers. Marketing margin on the big traders’ level was Rp. 150/Kg which was smaller than on the retailers’ level which was Rp. 175/Kg. There were three factors had roles in the lack of urea fertilizer in Pidie district: the realization of fertilizer distribution was not as the farmers’ needs, fraud and the lack of supervision by the producer and the government. 
Nilai Organoleptik Daging Ayam Broiler dengan Penambahan Prebiotik Immuno Forte® pada Berbagai Level Berbeda M. Reza Pangestu; Cut Aida Fitri; Sitti Wajizah
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 1, No 1 (2016): November 2016
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (240.93 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v1i1.904

Abstract

Abstrak.  Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi pengaruh penggunaan prebiotik Immuno forte® selama pemeliharaan terhadap nilai organoleptik daging ayam broiler meliputi warna, rasa, aroma dan tekstur. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Lapangan Peternakan (LLP) Program Studi Peternakan Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, mulai tanggal 22 Agustus sampai dengan 21 September 2015. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah 100 ekor DOC ayam broiler CP 707 Strain Arbor Acres produksi PT. Charoen Pokphand, yang diberi ransum komersial R511 hi pro vitepriode starterdan R512 bravo priode finisher. Penelitian ini terdiri atas 4 perlakuan yaitu: P0(0 mL Immuno forte®/3 L air ), P1 (0,5 mL Immuno forte®/3 L air), P2(1 mL Immuno forte®/3 L air), P3 (1.5 mL Immuno forte®/3 L air) dan P4 (2 mL Immuno forte®/3 L air). Peubah yang dinilai secara organoleptik meliputi warna, aroma, rasa, dan tekstur daging dada ayam broiler yang telah dipanggang, dengan melibatkan 25 orang panelis semi terlatih. Penilaian organoleptik berdasarkan skala hedonik 1 sampai 5, dimana 1= sangat tidak suka, 2 = tidak suka, 3 = netral, 4 = suka, 5 = sangat suka. Hasil penelitian menunjukkan penambahan Immuno forte® dalam air minum selama pemeliharaan tidak berpengaruh negatif terhadap nilai organoleptik yang meliputi warna, aroma, rasa, dan tekstur daging ayam broiler. Secara umum, semua parameter pada  perlakuan masih berada pada  kisaran skor 3,57 – 3,79 yang berarti dapat diterima oleh panelis dengan kategori pada umumnya mendekati suka. Organoleptic Values of Broiler Meat  Administrated With With Different Levels of Prebiotic Immuno Forte® Abstract. The purpose of this study was to evaluate the effect of prebiotic immuno forte® administration with different levels on organoleptic values of broiler meat, include color, flavor, aroma and texture. This study conducted at Experimental Farm, Animal Husbandry Department, Agricultural Faculty Syiah Kuala University from August 22 to September 19, 2015.  As many as 100 unsex day old chicks (DOC) CP 707 Strain Abror Acres, produced by Charoen Pokphand was used in this study, fed with commercial diet   R511 hi pro viteon the starterperiod and R512 bravo on the finisher period. Treatments consisted of: P0 (0 mL Immuno forte® / 3 L water), P1 (0.5 mL Immuno forte® / 3 L water), P2 (1 mL Immuno forte® / 3 L water), P3 (1.5 Immuno forte® mL / 3 L water) and P4 (2 mL Immuno forte® / 3 L water). Parameters assessed by organoleptic test include color, aroma, flavor, and texture of grilled broiler breast meat, involving 25 semi-trained panelists. Organoleptic assessment based on hedonic scale of 1 to 5, where 1 = strongly dislike, 2 = dislike, 3 = neutral, 4 = likes, 5 = very fond. The results showed that the administration of Immuno forte® in drinking water for maintenance is not negatively affect the organoleptic values include color, aroma, flavor, and texture of broiler meat. In general, all the parameters of the treatment is still in the range of scores from 3.57 to 3.79 which means it can be accepted by the panelists with a category generally approaches like
Rancang Bangun Mesin Cold Storage Sistem Pendinginan Kompresi Uap Pada Penyimpanan Buah Nanas (Annanas comosus) Al Hulil Akbar Ferdynanda; Ratna Ratna; Kiman Siregar
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 3, No 1 (2018): Februari 2018
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1238.69 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v3i1.6618

Abstract

Abstrak. Buah nanas (Ananas Comosus) merupakan salah satu buah yang banyak digemari oleh masyarakat Indonesia, memiliki nilai gizi yang tinggi, kaya akan vitamin A, B, C, dan mineral (kalsium, fosfor, dan besi), dan mengandung senyawa yang berpotensi sebagai antioksidan (polifenol dan flavonoid). Masalah yang sering timbul pada buah nanas yaitu mempertahankan mutu dan kualitas. Hal tersebut dapat dipertahankan jika dilakukan penanganan pasca panen yang stepat salah satunya penyimpanan suhu rendah. Tujuan penelitian ini yaitu merancang mesin cold storage sistem pendinginan kompresi uap dengan suhu yang harus dicapai yaitu 7°C, menghitung lama pencapaian suhu 7°C, beban pendinginan bahan, dan COP mesin. Penelitian ini dilakukan berdasarkan 3 tahapan, pertama menggambar rancangan cold storage dengan software AutoCad. Kedua pemasangan alat dan bahan sesuai dengan gambar rancangan. Ketiga pengujian mesin cold storage dengan suhu yang harus tercapai yaitu 7°C dan pengambilan data dengan menggunakan bahan nanas sebanyak 4 buah dengan berat total 5,58 kg serta dihitung parameter penelitian seperti lama pencapaian suhu 7°C, beban pendinginan bahan, dan COP mesin. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa lama waktu pencapaian suhu 7°C dari pengujian bahan dengan suhu awal 30°C dan suhu akhir 7°C yaitu 16.883 detik (4 jam 41 menit 23 detik). Beban pendinginan bahan dengan berat total nanas utuh sebesar 5,58 kg dan cp buah nanas 3,68 kJ/kg°C yaitu 472,19 kJ. COP mesin cold Storage dari penelitian ini adalah 2,45, jika nilai pada mesin cold storage semakin besar maka semakin efisien hasil kerja mesin tersebut, mesin cold storage dalam penelitian ini termasuk kedalam mesin pendinginan lambat.Design Cold Storage Machine Based on Steam Compressed Cooling System For Pineapple Fruit Storage (Annanas comosus)Abstrack. Pineapple fruit (Ananas Comosus) is one of the most popular fruits of Indonesian society, has high nutritional value, is rich in vitamins A, B, C, and minerals (calcium, phosphorus and iron), and contains potentially antioxidant compounds (polyphenols and flavonoids). Problems often arise in the pineapple is to maintain grade and quality. This can be maintained if post-harvest handling is correctly treated, one of which is cold storage. The purpose of this research is to design cold storage engine of vapor compression cooling system with temperature that must be reached that is 7 ° C, to calculate the duration of temperature 7 ° C, material cooling load, and COP of machine. The research was conducted based on 3 stages, first drawing cold storage design by using AutoCad software. The second one is to install the tools and materials in accordance with the design drawings. The third is to test the cold storage machine with temperature that must be reached is 7 ° C and data retrieval using pineapple as much as 4 pieces with total weight 5,58 kg and calculated research parameters such as temperature 7 ° C, material cooling, and COP machine . The results of this study indicate that the duration of temperature 7 ° C from material testing with the initial temperature of 30 ° C and the final temperature of 7 ° C is 16,883 seconds (4 hours 41 minutes 23 seconds). The cooling load of the material with the total weight of whole pineapple is 5.58 kg and cp pineapple 3.68 kJ / kg ° C is 472.19 kJ. COP cold storage engine of this research is 2.45, if the value of the cold storage machine is greater then the more efficient the work of the machine, cold storage engine in this study included into the slow rate cooling machine.
Desain dan Pengujian Alat Tanam Benih Jagung Muhammad Iskandar; Mustaqimah Mustaqimah; Syafriandi Syafriandi
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 2, No 1 (2017): Februari 2017
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (246 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v2i1.2385

Abstract

Abstrak. Alat tanam merupakan suatu alat yang digunakan untuk menempatkan benih tanaman yaitu biji-bijian, bibit, batang atau sebagian tubuh tanaman lain diatas atau dibawah permukaan tanah. Alat tanam didesain memiliki fungsi untuk mempercepat proses penanaman pada lahan jagung dan mempermudah serta tidak memakan waktu yang lama. Tugal ini diharapkan mampu mengatasi permasalahan perkebunan yaitu keterbatasan waktu. Cara kerja tugal penanam jagung semi  mekanis menggunakan pegas pada saat  mata tugal  masuk ke dalam tanah. Pengatur pengeluaran benih tertekan  keatas oleh permukaan tanah. Kemudian mendorong tangkai pegas,  sehingga  lubang  benih  terbuka  dan  benih  pun  terjatuh  ke  bawah yang dibuat oleh mata tugal. Selanjutnya pada saat tugal diangkat dari permukaan tanah, tugal kembali pada posisi semula karena kerja dari pegas.Pengujian kapasitas kerja tugal semi mekanis ditentukan dengan kecepatan penanaman. Pada pengujian ini untuk jarak benih perbaris menggunakan jarak yang umum digunakan yaitu 50 cm. Pengambilan data kecepatan kerja alat dilakukan sebanyak 3 kali pengulangan pada jarak 17 meter. Dengan asumsi sepanjang 17 meter bila jarak antar benih tiap baris 50 cm maka sebanyak 36 lubang tanam. Dari hasil perhitungan kapasitas kerja tugal penanam ini yaitu 0.02 ha/jam. Hasil kedalaman tanam pada pengulangan ke 1 kedalaman tanam benih rata-rata jatuh pada lubang tanam adalah 4,08 cm. Pada pengulangan ke 2 kedalaman tanam benih rata-rata jatuh pada lubang tanam adalah 3,94 cm. Sedangkan pada pengulangan ke 3 kedalaman tanam benih rata-rata jatuh pada lubang tanam adalah 4,05 cm. Design and Testing Tools Planting Corn SeedsAbstract. A planting tool is a tool that is used to place the seed crop is grain, seed, stem or any part of the body other plants above or below the ground surface. A planting tool designed to have a function to accelerate the process of planting the corn field and enables easy and does not take a long time. A planting tool is expected to overcome the problems of plantation that time constraints workings drill corn planter mechanically using spring when the eyes drill into the ground. Regulatory seed depressed spending upwards by the soil surface. Then push the stalk of the spring, so that the holes open seeds and seeds also fell down created by the drill eye. Furthermore, when the drill is lifted from the ground, drill back to its original position due to the work of the working capacity spring. Examination semi mechanical drill is determined by the speed of planting. In this test for distance using a distance line seeds commonly used is 50 cm. Speed data retrieval tool work done 3 times a repetition at a distance of 17 meters. Assuming a 17-meter when the distance between seeds in each row 50 cm by 36 planting holes. From the calculation of working capacity drill this planter is 0.02 ha / hour. Planting depth results on repeatability to 1 seed planting depth average on hole fall planting is 4.08 cm. on repetition to 2 seed planting depth average on hole fall planting is 3.94 cm. while at repetition to 3 seed planting depth average on hole fall planting is 4.05 cm.
Identifikasi Komoditi Hasil Hutan Bukan Kayu di Kabupaten Bener Meriah Adelin Putri Shabila; Ali M. Muslih; Yusya Abubakar
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 8, No 2 (2023): Mei 2023
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (188.665 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v8i2.24463

Abstract

Abstrak. Bener Meriah merupakan salah satu Kabupaten di Provinsi Aceh yang memiliki kawasan hutan yang cukup luas. Data tim Geographic Information System Yayasan Hutan Alam dan Lingkungan Aceh menunjukkan bahwa Luas tutupan hutan tahun 2019 di Kabupaten Bener Meriah sekitar 99,986 hektar. Semakin luas Kawasan hutan maka semakin banyak pula potensi yang ada didalamnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui  jenis komoditi Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) yang terdapat di sekitar hutan Kabupaten Bener Meriah. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif, yang memanfaatkan data kualitatif yang didapat di lapangan lalu kemudian dijelaskan secara deskriptif. Data tersebut berasal dari data primer yang merupakan hasil wawancara petani dan instansi, serta data sekunder yang bersumber dari instansi terkait seperti KPH, BPHP, dan BPS. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa komoditi HHBK yang ada di Bener Meriah adalah Getah Pinus (Pinus merkusii), Madu (Apis dorsata), Sereh Wangi (Cymbopogon mardus), Akar Kuning (Arcangelisia flava Merr.), Jernang (Daemonorops spp.), Getah Damar (Agathis Dammara), dan Rotan (Calameae).Identification of non timber forest product commodities in Bener Meriah, AcehAbstract. Bener Meriah is one of the districts in Aceh Province that has a large forest area. Based on data from the Aceh Natural Forest and Environment Foundation's Geographic Information System team, the 2019 forest cover area in Bener Meriah Regency is around 99,986 hectares. The wider the area, the more potential there is in it. This study aims to determine the types of Non-Timber Forest Products (NTFP) commodities found around the forests of Bener Meriah Regency. This research is a descriptive qualitative research, which utilizes qualitative data obtained in the field and then explained descriptively. The data comes from primary data which is the result of interviews with farmers and agencies, as well as secondary data sourced from related agencies such as KPH, BPHP, and BPS. The results of this study indicate that NTFP commodities in Bener Meriah are Pine Sap (Pinus merkusii), Honey (Apis Dorsata), Sereh Wangi (Cymbopogon mardus), Akar Kuning (Arcangelisia flava Merr.), Jernang (Daemonorops spp.), Damar Sap (Agathis Dammara), and Rattan (Calameae).
Analisis Rendemen Biodiesel yang Dihasilkan CPO (Crude Palm Oil) dengan Metode Elektrolisis Muhammad Thifal; Mustaqimah Mustaqimah; Darwin Darwin
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 8, No 1 (2023): Februari 2023
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (110.933 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v8i1.23049

Abstract

Abstrak. Biodiesel merupakan bahan bakar alternatif pengganti minyak fosil (minyak diesel) yang terbuat dari minyak nabati maupun hewani yang terdiri dari campuran mono-alkyl ester dari rantai panjang asam lemak. Biodiesel dapat dihasilkan dari berbagai macam minyak nabati, beberapa diantaranya adalah minyak kelapa sawit, minyak kelapa, minyak kedelai, dan minyak biji jarak. Untuk mempercepat proses produksi biodiesel dapat digunakan katalis pada reaksi transesterifikasi, yaitu katalis basa ataupun asam. Proses transesterifikasi dapat menggunakan katalis padat (heterogen) atau katalis cair (homogen). Tujuan dalam penelitian ini adalah menganalisis nilai rendemen biodiesel yang dihasilkan dari crude palm oil (CPO) dengan metode elektrolisis. CPO sebanyak 300 ml dilakukan proses transesterifikasi dengan dicampurkan etanol 96% ke dalam CPO dengan perbandingan mol CPO dengan metanol sebesar 1:3. Setelah itu digunakan perak sebagai elektroda dalam proses elektrolisis dan dibiarkan selama 60 menit dengan diaduk menggunakan magnetik stirrer. Setelah dilakukan elektrolisis didiamkan selama 24 jam, setelah itu biodiesel dipisahkan dari gliserol dan dicuci kemudian dianalisis nilai rendemen dari biodiesel. Adapun rendemen dari biodiesel dengan menggunakan elektrolisis yaitu 77,67% sedangkan untuk nilai rendemen non elektrolisis yaitu sebesar 75,67%. Hasil rendemen menggunakan elektrolisis lebih tinggi dibandingkan non elektrolisis, dari hasil analisis menunjukkan bahwa penggunaan elektrolisis bagus dibandingkan dengan penggunaan non elektrolisis.Analysis of Yield and Acid Number of Biodiesel Produced CPO (Crude Palm Oil) by Electrocatalyst MethodAbstract. Biodiesel is an alternative fuel to replace fossil oil (diesel oil) made from vegetable and animal oils consisting of a mixture of mono-alkyl esters from long chain fatty acids. Biodiesel can be produced from a variety of vegetable oils, some of which are palm oil, coconut oil, soybean oil and castor seed oil. To speed up the biodiesel production process, catalysts can be used in the transesterification reaction, namely alkaline or acid catalysts. The transesterification process can use solid catalysts (heterogeneous) or liquid catalysts (homogeneous). The purpose of this research is to analyze the yield value and acid number of biodiesel produced from crude palm oil (CPO) by electrolysis method. As much as 300 ml of CPO, the transesterification process was carried out by mixing 96% methanol into CPO with a mole ratio of CPO to methanol of 1:3. After that, silver was used as an electrode in the electrolysis process and left for 60 minutes by stirring using a magnetic stirrer. After electrolysis, it was left for 24 hours, after which the biodiesel was separated from the glycerol and washed and then the yield value of the biodiesel was analyzed. The yield of biodiesel using electrolysis is 77.67%, while the yield value for non-electrolysis is 75.67%. The yield results using electrolysis are higher than non-electrolysis, the results of the analysis show that the use of electrolysis is good compared to the use of non-electrolysis.
Fermentasi Kopi Robusta Dengan Kosentrasi Pati Menggunakan Inokulum Feses Luwak Faradilla Faradilla; Ratna Ratna; Darwin Darwin
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 7, No 4 (2022): November 2022
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17969/jimfp.v7i4.22139

Abstract

Abstrak. Kopi luwak adalah kopi yang dihasilkan dari proses fermentasi in vitro didalam tubuh luwak yang kemudian dikeluarkan berupa feses luwak. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Provinsi Aceh (2021) tingkat jumlah produksi kopi 34.609 ton terdapat di kabupaten Aceh Tengah dan 29.101 ton lainnya terdapat di Bener Meriah. Kedua kabupaten ini memiliki perkebunan kopi terluas di Aceh, yakni seluas 99.050 Ha  yang lebih dari setengahnya merupakan areal perkebunan yang masih produktif. Kopi yang dihasilkan dari proses percernaan dalam tubuh luwak yang kemudian dikeluarkan berupai kotoran luwak disebut sebagai feses luwak. Kopi luwak mengalami proses fermentasi alami di dalam tubuh luwak. Upaya peningkatan dari mutu kopi robusta ini adalah dengan dilakukannya fermentasi menggunakan inokulum yang bagus dan pemberian nutrisi yang memadai. Permintaan kopi luwak yang melambung tinggi menyebabkan terbatasnya produksi dari kopi tersebut sehingga menyebabkan penurunan produksi kopi luwak. Inokulum feses luwak yang mempengaruhi sifat kimia biji kopi yaitu derajat keasaman (pH). Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari proses inokulasi feses luwak dan fermentasi kopi robusta menggunakan inokulum feses luwak.Fermentation Of Robusta Coffee With Starch Concentration Using Civet Feces InoculumAbstract. Luwak coffee is coffee produced from an in vitro fermentation process in the civet's body which is then excreted in the form of civet feces. Based on data from the Central Statistics Agency for Aceh Province (2021) the level of coffee production is 34,609 tons in Central Aceh district and another 29,101 tons in Bener Meriah. These two districts have the largest coffee plantations in Aceh, covering an area of 99,050 hectares of which more than half are productive plantation areas. Coffee that is produced from the digestive process in the civet's body which is then excreted in the form of civet droppings is called civet feces. Luwak coffee undergoes a natural fermentation process in the civet's body. Efforts to improve the quality of this robusta coffee are carried out by fermentation using a good inoculum and providing adequate nutrition. The soaring demand for civet coffee causes limited production of the coffee, causing a decrease in civet coffee production. The inoculum of mongoose feces that affects the chemical properties of coffee beans is the degree of acidity (pH). This study aims to study the process of inoculation of civet feces and robusta coffee fermentation using civet feces inoculum.
Kajian Pengeringan Pisang, Ubi Jalar dan Nangka Auriza Della Satifa; Cut Nilda; Sri Haryani
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 7, No 3 (2022): Agustus 2022
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (171.213 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v7i3.20765

Abstract

Abstrak. Produk olahan pisang, ubi jalar dan nangka bertujuan untuk memperpanjang daya simpan dan meningkatkan nilai tambah. Salah satu metoda pengolahan dan pengawetan makanan adalahmelalui pengeringan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan mutu buah kering yang baik. Pada penelitian ini suhu pengeringan divariasikan pada suhu 50℃ dan 70℃. Analisis yang dilakukan terhadap produk adalah kadar air menggunakan metode oven, rasio rehidrasi dan waktu rehidrasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengeringan pisang raja pada suhu 50℃ selama 21 jam memiliki nilai kadar air sebesar 14,98%, rasio rehidrasi 46,15% dan waktu rehidrasi selama 10.28.42 menit. Pada pengeringan nangka suhu 50℃ selama 29 jam memiliki nilai kadar air 11,83%, rasio rehidrasi 56,89% dan waktu rehidrasi selama 08.19.84, sedangkan pada pengeringan ubi jalar suhu 70℃ selama 9 jam memiliki kadar air 10,99%, rasio rehidrasi 40,47% dan waktu rehidrasi 23.13.50 menit.Study of Banana, Sweet Potato and Jackfruit DryingAbstract. Banana, sweet potato and jackfruit were dried to extend  their shelf life and increase added value. Drying is one  method to preserve food. The purpose of this study was to obtain good quality dried fruits. In this study, the drying temperature was set at 50℃ and 70℃. The analysis carried out were measurement of the water content using the oven method, rehydration ratio and time. The results showed that drying of banana at 50℃ for 21 hours resulted  moisture content of 14.98%, rehydration ratio of 46.15% and  rehydration time of 10.28.42 minutes. Jackfruit drying at 50℃ for 29 hours had a moisture content of 11.83%, rehydration ratio of 56.89% and rehydration time of 08.19.84, while sweet potato drying at 70℃ for 9 hours gave  10.99% moisture content , the rehydration ratio of 40.47% and the rehydration time was 23.13.50 minutes.

Page 51 of 103 | Total Record : 1028