cover
Contact Name
Evy Yunihastuti
Contact Email
redaksi.jurnalpenyakitdalam@ui.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
redaksi.jurnalpenyakitdalam@ui.ac.id
Editorial Address
Departemen Ilmu Penyakit Dalam, FKUI/RSCM Jln Diponegoro No.71, Jakarta. 10430
Location
Kota depok,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia
Published by Universitas Indonesia
ISSN : 24068969     EISSN : 25490621     DOI : https://doi.org/10.7454/
Core Subject : Health,
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia contains the publication of scientific papers that can fulfill the purpose of publishing this journal, which is to disseminate original articles, case reports, evidence-based case reports, and literature reviews in the field of internal medicine for internal medicine and general practitioners throughout Indonesia. Articles should provide new information, attract interest and be able to broaden practitioners insights in the field of internal medicine, as well as provide alternative solutions to problems, diagnosis, therapy, and prevention.
Articles 414 Documents
Probabilitas Temuan Kanker Kolorektal pada Pasien Simtomatik Berdasarkan Unsur-Unsur Asia Pacific Colorectal Screening (APCS) Lubis, Muhammad Yamin; Abdullah, Murdani; Hasan, Irsan; Suwarto, Suhendro
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol. 2, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan. Kanker Kolorektal (KKR) masih menjadi masalah besar di dunia pada umumnya dan di Indonesia pada khususnya. Kolonoskopi dapat melihat lesi di kolon tetapi biayanya mahal bila dilakukan pada semua pasien asimtomatik. Memakai komponen unsur-unsur Asia Pacific Colorectal Screening (APCS) dapat memprediksi KKR pada pasien simtomatik sehingga kolonoskopi hanya merupakan modalitas untuk menstratifikasi KKR. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui probabilitas kanker kolorektal menggunakan unsur-unsur APCS pada penderita simtomatik. Metode. Penelitian kasus-kontrol retrospektif dilakukan di RS Cipto Mangunkusumo Jakarta, sejak bulan Februari 2014 hingga Mei 2014. Data dikumpulkan dari catatan rekam medis pasien di RSCM. Kelompok kasus adalah subjek dengan kanker kolorektal, kelompok kontrol adalah subjek non-kanker kolorektal. Analisis bivariat dilakukan pada 4 variabel bebas dari unsur-unsur APCS yaitu usia, jenis kelamin, riwayat keluarga menderita KKR dan merokok. Semua variabel yang mempunyai nilai p Hasil. Pada 246 subjek, didapatkan wanita 127 (51,6 %), laki-laki 119 (48,4 %). Rerata usia 53 tahun, rentang usia 17 sampai 90 tahun. Berdasarkan hasil analisis multivariat terdapat dua variabel probabilitas terjadinya KKR berdasarkan unsur-unsur APCS yang memiliki kemaknaan secara statistik, yaitu usia, ≥50 tahun (OR 1,682; IK95% 1,002-2,823; p=0,049) dan riwayat keluarga menderita KKR (OR 4,865; IK95% 1,340-17,665; p=0,016). Probabilitas terjadinya KKR usia ≥50 tahun: 53,33%; penderita yang ada riwayat keluarga menderita KKR: 76,49%, usia ≥50 tahun serta ada riwayat keluarga menderita KKR : 84,74%. Probabilitas terjadinya KKR penderita simtomatik pada jenis kelamin dan merokok tidak bisa digunakan pada penelitian ini. Simpulan. Probabilitas terjadinya KKR pada populasi simtomatik paling tinggi pada usia diatas 50 tahun disertai dengan riwayat keluarga KKR.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan Terapi Antibiotik Empirik pada Pasien Sepsis Berat dan Syok Sepsis di Bangsal Rawat Inap Penyakit Dalam Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Katu, Sudirman; Suwarto, Suhendro; Pohan, Herdiman T.; Abdullah, Murdani
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol. 2, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan. Salah satu faktor utama yang berperan pada keberhasilan terapi pada pasien sepsis berat dan syok sepsis adalah penggunaan antibiotika empirik yang adekuat. Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui faktor utama apa yang paling berpengaruh terhadap keberhasilan pengobatan antibiotika empirik pada pasien sepsis berat dan syok sepsis. Metode. Studi kohort retrospektif dengan subjek dari data rekam medik (RM) pasien yang telah di rawat inap di ruang ICU dan perawatan Penyakit dalam RSCM Jakarta antara bulan Januari 2011 - Juni 2012. Kriteria inklusi adalah semua data RM pasien dewasa dengan sepsis, sepsis berat dan syok sepsis yang di rawat di ruang rawat inap penyakit dalam/HCU/ICU RSCM. Kriteria eksklusi adalah data tidak lengkap dan SOFA skor >14. Analisis multivariat dilakukan untuk menilai kuat hubungan relative risk (RR) di antara masing-masing variabel determinan yang memiliki kemaknaan statistik sebagai prediktor kesesuaian dosis, jenis, kombinasi dan waktu pemberian antibiotika empirik terhadap akhir perawatan sepsis berat dan syok sepsis dengan ROC (receiver operator curve) dan nilai AUC (area under curve) serta mencari faktor yang paling berperan dari variabel determinan tersebut. Hasil. Waktu pemberian antibiotika empirik lebih dari 6 jam, pemberian jenis antibiotika empirik yang tidak sesuai berdasarkan sumber infeksi, pemberian dosis antibiotika empirik yang tidak sesuai, pemberian antibiotika empirik tunggal, jumlah disfungsi organ yang lebih dari 3 berdasarkan skor SOFA berpengaruh terhadap meningkatnya angka kematian pada pasien sepsis berat dan syok sepsis. Dari faktor tersebut di atas yang paling berpengaruh terhadap meningkatnya angka kematian adalah waktu pemberian antibiotika lebih dari 6 jam, dosis antibiotika yang tidak sesuai, penggunaan antibiotika empirik tunggal dan skor SOFA yang lebih dari 8. Simpulan. Hal yang paling berpengaruh terhadap meningkatnya angka kematian adalah waktu pemberian antibiotika lebih dari 6 jam, dosis antibiotika yang tidak sesuai, penggunaan antibiotika empirik tunggal dan skor SOFA yang lebih dari 8.
Diagnosis dan Tata Laksana Paroksismal Nokturnal Hemoglobinuria Pramono, Laurentius A; Karim, Birry; Iskandar, Marha; Yanto, Asnawi
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol. 2, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Paroksismal nokturnal hemoglobinuria (PNH) merupakan kelainan darah yang sangat jarang. Penegakan diagnosis PNH cukup panjang, mulai darianamnesis, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan laboratorium (darah dan urin) dimulai dari yang sederhana sampai lanjutan. Penyelidikan ini tidak saja memerlukan perencanaan klinis yang matang, melainkan juga waktu dan tenaga yang banyak, serta biaya yang mahal. Selain itu, sampai saat ini, pilihan pengobatan untuk PNH masih sangat terbatas, dengan keberhasilan yang belum memuaskan sepenuhnya. Berikut kami laporkan sebuah kasus PNH pada seorang perempuan 18 tahun.
Peran Procalcitonin sebagai Penanda Inflamasi Sistemik pada Sepsis Dharaniyadewi, Dana; Lie, Khie Chen; Suwarto, Suhendro
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol. 2, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Terapi antibiotika awal dan tepat merupakan faktor yang penting untuk kesintasan pasien sehingga diperlukan pemeriksaan yang cepat dan akurat untuk deteksi adanya bakteri di sirkulasi. PCT merupakan biomarker yang paling sering dipelajari dan rutin digunakan dalam praktik klinik dan rekomendasi saat ini di beberapa negara. Kadar PCT serum meningkat pada sepsis. Kadar PCT normal di bawah 0,5 ng/mL dan kadar PCT > 2 ng/mL memiliki risiko tinggi untuk sepsis. PCT lebih unggul daripada CRP untuk diagnosis dan prognosis sepsis pada pasien kritis tetapi penggunaannya harus tetap diiringi dengan penilaian secara klinis. Hal ini terutama penting pada awal infeksi atau pasien dengan infeksi fokal dan pasien pembedahan. PCT mungkin lebih baik untuk menyingkirkan diagnosis sepsis daripada untuk diagnosis sepsis itu sendiri pada pasien kritis terutama jika dilakukan pemeriksaan PCT serial. Pemeriksaan PCT juga dapat digunakan untuk membantu dalam penggunaan antibiotika. Pemeriksaan PCT dapat digunakan untuk menghindari penggunaan antibiotika yang tidak diperlukan pada pasien kritis dengan gejala SIRS tanpa infeksi; walaupun demikian, emeriksaan PCT tetap harus diinterpretasikan sesuai dengan temuan klinis dan parameter laboratoris lainnya.
Faktor-faktor Risiko Terjadinya Proktitis Radiasi Kronik pada Pasien Kanker Leher Rahim yang Mendapatkan Terapi Radiasi Mulia, Mulia; Makmun, Dadang; Abdullah, Murdani; Supriana, Nana
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol. 2, No. 3
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan. Proktitis radiasi merupakan komplikasi yang sering dijumpai akibat terapi radiasi pada pasien keganasan pelvis. Berbeda dengan proktitis radiasi akut yang umumnya self-limiting, proktitis radiasi kronik (PRK) dapat berdampak pada menurunnya kualitas hidup dan meningkatnya biaya kesehatan, morbiditas, dan bahkan mortalitas pasien. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi insidens dan faktor-faktor risiko terjadinya PRK pada pasien kanker leher rahim (KLR) yang mendapatkan terapi radiasi. Metode. Dilakukan analisis retrospektif pada pasien-pasien KLR yang mendapatkan terapi radiasi di Departemen Radioterapi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta selama kurun waktu 1 Januari 2010 sampai dengan 31 Desember 2010. Data mengenai pasien, faktor yang berhubungan dengan terapi radiasi, dan PRK akibat komplikasi lanjut dari terapi radiasi dikumpulkan dari catatan medik pasien. Hasil. Selama periode tersebut, terdapat 234 pasien yang memenuhi kriteria penelitian. Dengan median follow-up selama 30 bulan, didapatkan 12 pasien [5,1% (IK 95% 2,28-7,92%)] mengalami PRK (6 proktitis, 6 proktosigmoiditis). PRK terjadi pada 7-29 bulan setelah terapi radiasi selesai (median 14,5 bulan) dan 87% dari seluruh PRK terjadi dalam 24 bulan pertama setelah terapi radiasi. Dengan analisis multivariat Cox regresi, didapatkan hubungan bermakna antara dosis total radiasi yang diterima rektum >65 Gy (HR 7,96; IK 95% 2,30-27,50; p=0,001) dan usia ≥60 tahun (HR 5,42; IK 95% 1,65-17,86; p=0,005) dengan terjadinya PRK. Tidak didapatkan hubungan bermakna antara teknik radiasi 2 dimensional external radiation therapy (2D-XRT) (HR 1,36; IK 95% 0,41-4,51; p=0,616), riwayat histerektomi (HR 1,14; IK 95% 0,34-3,79; p=0,83), dan indeks massa tubuh (IMT) Simpulan. Insidens kumulatif PRK selama 3 tahun pada pasien KLR yang mendapatkan terapi radiasi adalah 5,1% (IK 95% 2,28-7,92%). Dosis total radiasi yang diterima rektum >65 Gy dan usia ≥60 tahun merupakan faktor risiko potensial terjadinya PRK pada pasien KLR yang mendapatkan terapi radiasi. Teknik radiasi 2D-XRT, riwayat histerektomi, dan IMT
Pengaruh Status Nutrisi terhadap Kesintasan 30 Hari Pasien Geriatri yang Dirawat di Rumah Sakit Lugito, Nata Pratama Hardjo; Soejono, Czeresna Heriawan; Wahyudi, Edy Rizal; Dewiasty, Esthika
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol. 2, No. 3
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan: Dengan meningkatnya jumlah populasi usia lanjut, masalah kesehatan yang dialami juga semakin banyak, salah satunya malnutrisi. Studi di luar negeri menunjukkan malnutrisi pada pasien geriatri yang dirawat di rumah sakit menurunkan kesintasan. Pasien usia lanjut di Indonesia mempunyai karakteristik yang berbeda dengan pasien usia lanjut di luar negeri. Di Indonesia belum ada studi tentang status nutrisi pasien usia lanjut yang dirawat di rumah sakit dan pengaruhnya terhadap kesintasan. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh status nutrisi terhadap kesintasan 30 hari pasien usia lanjut yang dirawat di ruang rawat akut geriatri dan ruang rawat penyakit dalam rumah sakit. Metode: Penelitian kohort retrospektif, dengan pendekatan analisis kesintasan, dilakukan terhadap 177 pasien geriatri yang dirawat di ruang rawat akut geriatri dan ruang rawat penyakit dalam Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo selama bulan April–September 2011. Data demografis, diagnosis medis, kadar albumin, indeks ADL Barthel, geriatric depression scale, status nutrisi dengan mini nutritional assessment (MNA) dikumpulkan, dan diamati selama 30 hari sejak mulai dirawat untuk melihat ada tidaknya mortalitas. Perbedaan kesintasan kelompok pasien dengan status nutrisi baik, berisiko malnutrisi dan malnutrisi ditampilkan dalam kurva Kaplan-Meier, diuji dengan uji Log-rank, serta analisis multivariat dengan Cox proportional hazard regression model untuk menghitung adjusted Hazard Ratio dan interval kepercayaan 95% terjadinya mortalitas 30 hari dengan memasukkan variabel-variabel perancu sebagai kovariat. Hasil: Kesintasan antara subyek yang status nutrisinya baik, berisiko malnutrisi dan malnutrisi ialah 94,7% dengan 89,0% dan 80,7%, namun perbedaan kesintasan 30 hari tak bermakna dengan uji Log-rank (p=0,106). Pada analisis multivariat didapatkan adjusted HR setelah penambahan variabel perancu sebesar 1,49 (IK 95% 0,29 – 7,77) untuk kelompok berisiko malnutrisi dan 2,65 (IK 95% 0,47 – 14,99) untuk kelompok malnutrisi dibandingkan dengan pasien nutrisi baik. Simpulan: Perbedaan kesintasan 30 hari pasien geriatri yang dirawat di rumah sakit yang menderita malnutrisi dan berisiko malnutrisi dibandingkan dengan status nutrisi baik pada awal perawatan belum dapat dibuktikan.
Pendekatan Diagnosis dan Tatalaksana Sindrom Mirizzi Putra, Ario Perbowo; Christine, Griskalia; Amin, Zulkifli; Fauzi, Achmad
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol. 2, No. 3
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyakit batu empedu telah menjadi masalah kesehatan penting di banyak negara. Estimasi prevalensi penyakit batu saluran empedu yang menyertai penyakit batu empedu adalah sekitar 10-15% dan meningkat dengan usia lanjut. Sindrom Mirizzi adalah komplikasi dari penyakit batu empedu yang jarang terjadi. Karakteristik yang khas yaitu adanya impaksi batu empedu di duktus sistikus atau di leher kandung empedu sehingga menghasilkan obstruksi mekanik di duktus hepatikus dan menghasilkan striktur inflamasi di saluran empedu, sehingga menyebabkan ikterus obstruktif berkelanjutan. Kami laporkan sebuah kasus Sindrom Mirizzi pada laki-laki dewasa yang menyebabkan iketerus obstruktif dengan kolelitiasis.
Diagnosis dan Tata Laksana Enteropati akibat Obat Anti Inflamasi Non Steroid (OAINS) Mardhiyah, Radhiyatam; Fauzi, Achmad; Syam, Ari Fahrial
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol. 2, No. 3
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Obat anti inflamasi non steroid (OAINS) merupakan salah satu golongan obat yang paling banyak dan paling sering diresepkan di Indonesia. Meskipun mampu mengurangi gejala inflamasi, penggunaan OAINS juga menimbulkan gangguan dalam mekanisme pertahanan mukosa saluran pencernaan. Kerusakan mukosa saluran pencernaan akibat OAINS tidak hanya dialami lambung, namun juga dialami oleh usus halus yang disebut enteropati. Namun demikian, enteropati akibat OAINS masih belum mendapat perhatian yang besar.
Faktor Risiko Methicillin Resistant Staphylococcus aureus pada Pasien Infeksi Kulit dan Jaringan Lunak di Ruang Rawat Inap Putra, Mochamad Iqbal Hassarief; Suwarto, Suhendro; Loho, Tonny; Abdullah, Murdani
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol. 1, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan: Infeksi kulit dan jaringan lunak (IKJL) oleh MRSA di ruang rawat inap merupakan masalah nosokomial yang meningkat prevalensinya setiap tahun. Hal tersebut akan meningkatkan angka mortalitas, biaya dan lama rawat bila tidak dikelola dengan baik. Faktor-faktor risiko terjadinya infeksi MRSA pada pasien IKJL di ruang rawat inap penting untuk diketahui agar dapat dilakukan upaya-upaya pencegahan dan pengendalian terhadap faktor-faktor risiko tersebut sehingga pada gilirannya diharapkan kejadian MRSA pada pasien IKJL dapat dicegah atau dikendalikan. Tujuan: Mengetahui proporsi IKJL oleh MRSA dan mempelajari faktor-faktor yang berhubungan dengan risiko terinfeksi MRSA pada penderita IKJL di ruang rawat inap Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM). Metode: Penelitian ini menggunakan studi kasus kontrol. Data dikumpulkan dari catatan rekam medis pasien rawat inap RSCM yang memiliki IKJL. Kelompok kasus adalah subjek dengan IKJL oleh MRSA, kelompok kontrol adalah subjek dengan IKJL oleh non-MRSA. Analisis bivariat dilakukan pada 9 variabel bebas yaitu pemakaian antibiotik sebelum kultur, infeksi HIV, IVDU, penggunaan kortikosteroid, prosedur medis invasif, DM, keganasan, riwayat hospitalisasi dan ruang rawat. Semua variabel yang mempunyai nilai p Hasil: Selama periode penelitian, proporsi MRSA pada pasien IKJL yang dilakukan kultur di ruang rawat inap adalah 47% (IK 95% 42%- 52%). Terdapat 171 pasien yang memenuhi kriteria, 71 pasien terinfeksi MRSA (kasus) dan 100 pasien terinfeksi non-MRSA (kontrol). Berdasarkan hasil analisis multivariat terdapat tiga variabel yang memiliki kemaknaan secara statistik, yaitu keganasan (OR 6,139; IK 95% antara 1,81-20,86; p=0,004), antibiotik quinolone (OR 4,592; IK 95% antara 2,06-10,23; p Simpulan: Keganasan, penggunaan antibiotik quinolone dan prosedur medis invasif merupakan faktor risiko IKJL oleh MRSA di ruang rawat inap.
Proporsi dan Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Hipotensi Postprandial pada Usia Lanjut Hamonangan, Rachmat; Alwi, Idrus; Wahyudi, Edy Rizal; Setiati, Siti
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol. 1, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan: Hipotensi postprandial sebenarnya sering terjadi dan saat ini dikenal sebagai masalah klinis yang penting. Studi-studi yang ada menunjukkan bahwa prevalensi hipotensi postprandial pada usia lanjut cukup tinggi. Hipotensi postprandial merupakan prediktor mortalitas pada orang usia lanjut dan menyebabkan banyak sekuele yang signifikan pada subyek yang terkena. Hingga saat ini, penelitian-penelitian yang berkaitan dengan hipotensi postprandial lebih banyak dilakukan pada kelompok usia lanjut di negara-negara maju yang definisi usia lanjut, proporsi penyakit, proporsi obat-obatan yang digunakan serta proporsi asupan yang berbeda dengan kelompok usia lanjut di negara berkembang khususnya Indonesia. Tujuan. Mengetahui proporsi dan faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian hipotensi postprandial pada kelompok usia lanjut. Metode: Penelitian studi potong-lintang dilakukan pada subjek usia lanjut di RSCM. Dilakukan pengisian kuesioner dan pengukuran tekanan darah sebelum makan dan setiap 15 menit sampai 2 jam setelah makan. Makanan yang dimakan dicatat untuk dianalisis. Hasil: Selama periode Januari – Maret 2010 terkumpul 119 subjek usia lanjut dengan rerata umur 67,50 ± 5,92 tahun. Sebanyak 53,8% memiliki hipertensi dan menggunakan obat anti hipertensi, 36.1% memiliki riwayat diabetes mellitus dan menggunakan obat pengontrol gula darah, 9,2% pernah mengalami stroke, 7.6% menggunakan terapi digoksin, 29.4% menggunakan terapi nitrat dan 3.4% menjalani hemodialisis rutin. Hipotensi postprandial didapatkan pada 55% subjek. Penggunaan obat diuretik loop dan insulin berhubungan dengan kejadian hipotensi postprandial. Selain itu diketahui pula bahwa penurunan tekanan darah postprandial lebih besar pada subjek dengan hipertensi, menggunakan obat ACE inhibitor, menggunakan obat diuretik loop/furosemid, menggunakan diuretik HCT, menggunakan insulin dan menggunakan obat nitrat. Simpulan: Penelitian ini menyimpulkan bahwa proporsi hipotensi postprandial pada subjek usia lanjut adalah 55%. Penggunaan obat diuretik loop dan insulin berhubungan dengan kejadian hipotensi postprandial. Penurunan tekanan darah postprandial lebih besar pada subjek dengan hipertensi, menggunakan obat ACE inhibitor, menggunakan obat diuretik loop/furosemid, menggunakan diuretik HCT, menggunakan insulin dan menggunakan obat nitrat.