cover
Contact Name
Evy Yunihastuti
Contact Email
redaksi.jurnalpenyakitdalam@ui.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
redaksi.jurnalpenyakitdalam@ui.ac.id
Editorial Address
Departemen Ilmu Penyakit Dalam, FKUI/RSCM Jln Diponegoro No.71, Jakarta. 10430
Location
Kota depok,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia
Published by Universitas Indonesia
ISSN : 24068969     EISSN : 25490621     DOI : https://doi.org/10.7454/
Core Subject : Health,
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia contains the publication of scientific papers that can fulfill the purpose of publishing this journal, which is to disseminate original articles, case reports, evidence-based case reports, and literature reviews in the field of internal medicine for internal medicine and general practitioners throughout Indonesia. Articles should provide new information, attract interest and be able to broaden practitioners insights in the field of internal medicine, as well as provide alternative solutions to problems, diagnosis, therapy, and prevention.
Articles 414 Documents
Peran Tindakan Revaskularisasi terhadap Kesintasan Pasien Non ST Elevation Myocardial Infarction (NSTEMI) Amarendra, Gerie; Makmun, Lukman H.; Antono, Dono; Dewiasty, Esthika
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol. 1, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan. Pengaruh revaskularisasi terhadap kesintasan pasien non ST elevation myocardial infarction (NSTEMI) masih belum jelas. Waktu revaskularisasi yang optimal pada pasien NSTEMI belum ditemukan. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh revaskularisasi terhadap kesintasan pasien NSTEMI, juga mengetahui pengaruh waktu revaskularisasi terhadap kesintasan pasien NSTEMI. Metode. Penelitian dengan disain kohort retrospektif diakukan terhadap 300 pasien non ST elevation myocardial infarction yang dirawat di RSUPNCM pada kurun waktu Desember 2006-Maret 2011. Data klinis, laboratorium, elektrokardiografi (EKG), ekokardiografi, dan angiografi koroner dikumpulkan. Pasien yang telah terhitung enam bulan setelah onset kemudian dihubungi melalui telepon untuk melihat status mortalitasnya. Perbedaan kesintasan revaskularisasi ditampilkan dalam kurva Kaplan Meier dan perbedaan kesintasan diantara dua kelompok diuji dengan Log-rank test dengan batas kemaknaan Hasil. Terdapat perbedaan kesintasan yang bermakna pada uji log rank (p Simpulan. Kesintasan enam bulan pasien NSTEMI yang menjalani terapi medikamentosa dan revaskularisasi lebih baik dibandingkan dengan terapi medikamentosa saja. Tidak terdapat perbedaan kesintasan enam bulan pasien NSTEMI berdasarkan waktu revaskularisasi.
Pengaruh Penggunaan Antibiotika Terhadap Lama Hari Sakit dan Lama Kehilangan Hari Kerja pada Pasien Infeksi Pernapasan Akut Bagian Atas pada Pelayanan Kesehatan Primer Gunawan, Gunawan; Suwarto, Suhendro; Rumende, Cleopas Martin; Harimurti, Kuntjoro
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol. 1, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan: Prevalensi infeksi saluran pernapasan bagian atas akut (ISPA) di komunitas masih tinggi dan menyebabkan morbiditas dan penurunan kualitas hidup masyarakat secara luas. Etiologi tersering dari infeksi pernapasan akut di luar negeri adalah virus, selain itu terdapat etiologi bakteri yang memerlukan terapi antibiotika yang spesifik. Penggunaan antibiotika untuk infeksi pernapasan akut berlebihan, dan hal ini menyebabkan peningkatan resistensi bakteri terhadap antibiotika. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola etiologi infeksi pernapasan akut, kesesuaian pemberian antibiotika dan perbedaan rerata lama sakit dan lama kehilangan hari kerja. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan pengambilan data secara potong lintang dan kohort prospektif dengan sampel yang diambil secara berurutan dari pasien ISPA yang berobat ke Puskesmas Kecamatan Pulogadung, Jakarta Timur dan KDK “Kayu Putih” serta “Kiara” pada bulan Agustus hingga Desember 2011. Pada 100 pasien ISPA yang berobat dilakukan pemeriksaan kultur resistensi bakteri dan uji antigen influenza melalui swab tenggorok dan nasofaring, dan pemeriksaan darah perifer rutin. Perbedaan lama hari sakit dan lama kehilangan hari kerja dianalisa menggunakan uji beda dua median Mann Whitney karena data berdistribusi bukan normal. Hasil: Hasil kultur bakteri positif pada 34% pasien ISPA, hasil uji antigen influenza positif untuk influenza A pada 3% pasien, dan 63 % pasien belum diketahui penyebabnya. Hasil kultur bakteri terbanyak berturut-turut adalah Klebsiella pneumonia (47,1%), Streptococcus pyogenes (14,7%) dan Staphylococcus aureus (14,7%). Jenis antibiotika terbanyak yang mengalami resistensi adalah ampicillin (20 isolat), tetracycline (8 isolat), benzylpenicillin (4 isolat), amoxicillin/clavulanic acid (3 isolat). Kesesuaian pemberian antibiotika dengan hasil kultur bakteri ditemukan pada 56 pasien ISPA (56%). Median lama hari sakit pada kelompok pasien ISPA yang mendapatkan pengobatan antibiotika tidak berbeda dibandingkan dengan tanpa pengobatan antibiotika (4 hari dengan 3,5 hari; p=0,054). Median lama kehilangan hari kerja pada kelompok pasien ISPA yang mendapatkan pengobatan antibiotika tidak berbeda dibandingkan dengan tanpa pengobatan antibiotika (1 hari dengan 1 hari; p=0,629). Simpulan: Penyebab infeksi saluran pernapasan akut bagian atas pada penelitian ini adalah bakteri sebanyak 34% dengan bakteri Gram negatif terbanyak adalah Klebsiella pneumonia dengan antibiotika yang sensitif dengan antibiotika golongan Penicillin beta laktamase dan golongan aminoglikosida serta makrolid, virus influenza A sebanyak 3% dan etiologi yang belum diketahui sebanyak 63%. Proporsi kesesuaian penggunaan antibiotika di Puskesmas Kecamatan Pulogadung dan Klinik Kedokteran Keluarga Kayu Putih serta Kiara sebesar 56%. Pemberian antibiotika tidak memberikan perbedaan lama hari sakit dan lama kehilangan hari kerja.
Perubahan Kendali Glikemik dan Plasminogen Activator Inhibitor-1 (PAI-1) pada Penyandang Diabetes Melitus Tipe-2 yang Berpuasa Ramadhan di RSUPN Cipto Mangunkusumo Khomimah, Khomimah; Waspadji, Sarwono; Yunir, Em; Abdullah, Murdani
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol. 1, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan: Penyandang diabetes melitus (DM) mempunyai risiko tinggi mengalami penyakit kardiovaskular (PKV), yang progresivitasnya dipercepat oleh penurunan kapasitas fibrinolisis. Penyandang DM yang berpuasa Ramadhan mengalami berbagai perubahan yang dapat memengaruhi kendali glikemik dan status fibrinolisisnya. Penelitian ini bertujuan mengetahui penurunan fruktosamin dan plasminogen activator inhibitor-1 (PAI-1). Metode: Penelitian dikerjakan dengan metode kuasi eksperimental one group design self control study pada penyandang DM tipe-2 yang berpuasa Ramadhan dan berusia 40-60 tahun. Hasil: Penelitian ini menunjukkan sebagian besar subjek memiliki 3 faktor risiko PKV dan dengan kendali glikemik yang jelek sebelum puasa Ramadhan. Terdapat penurunan yang bermakna pada glukosa puasa plasma, tetapi tidak bermakna pada glukosa darah 2 jam setelah makan. Tidak terdapat perbedaan asupan kalori pada 18 subjek yang dianalisis. Tidak didapatkan penurunan yang bermakna pada fruktosamin serum maupun PAI-1 plasma. Kendali glikemik yang dicapai sebelum dan asupan kalori selama berpuasa Ramadhan kemungkinan merupakan faktor yang memengaruhi penurunan fruktosamin. Selain glukosa darah, faktor yang memengaruhi kadar PAI-1 plasma di antaranya adalah insulin plasma, angiotensin II, faktor pertumbuhan dan inflamasi, yang tidak diukur dalam penelitian ini. Simpulan: Tidak terdapat penurunan kadar fruktosamin serum sesudah berpuasa Ramadhan lebih dari sama dengan 21 hari pada penyandang DM tipe-2. Tidak terdapat penurunan kadar plasminogen activator inhibitor-1 (PAI-1) plasma sesudah berpuasa Ramadhan lebih dari sama dengan 21 hari pada penyandang DM tipe-2.
Syndrome of Inappropriate Antidiuretic Hormone Secretion (SIADH) akibat Kemoterapi pada Pasien Lansia dengan Keganasan Herwanto, Velma; Siregar, Parlindungan; Effendy, Shufrie; Rachman, Andhika
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol. 1, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hiponatremia merupakan suatu kondisi yang sering ditemukan pada pasien-pasien dengan keganasan. Keadaan hiponatremia dapat terjadi bersamaan atau mendahului diagnosis suatu keganasan. Hiponatremia terkait kanker bisa mempengaruhi respon terhadap terapi kanker maupun kesintasan pasien. Kami laporkan sebuah kasus hiponatremia pada pasien lansia dengan keganasan yang disebabkan oleh syndrome of inappropriate anti diuretic hormone secretion (SIADH).
Parameter Akhir Resusitasi Makrosirkulasi dan Mikrosirkulasi pada Sepsis Berat dan Renjatan Septik Sinto, Robert; Suwarto, Suhendro
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol. 1, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sepsis berat dan renjatan septik telah menjadi masalah kesehatan yang utama di seluruh dunia. Untuk menekan angkamortalitas dini, upaya resusitasi yang dilakukan pada keadaan sepsis berat dan renjatan septik harus ditujukan padapencapaian target parameter makrosirkulasi maupun mikrosirkulasi, khususnya yang telah terbukti berhubungan denganmortalitas dini. Parameter tersebut meliputi tekanan vena sentral, rerata tekanan arteri, produksi urin, saturasi oksigen venasentral, hematokrit, laktat, bersihan laktat, dan ekses basa standar. Kelebihan dan keterbatasan tiap parameter harusdipahami dengan baik dalam upaya interpretasi yang tepat terhadap hasil pemeriksaan parameter tersebut.
Setelah Pandemi COVID-19: Peran Penggunaan Alat Pelindung Diri bagi Tenaga Medis di Indonesia Koesnoe, Sukamto; Hermanadi, Muhammad Ikrar
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol. 10, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengaruh Terapi Metotreksat pada Pasien Artritis Reumatoid terhadap Penurunan Fungsi Kognitif: Meta-Analisis Berdasarkan Telaah Sistematik Fauzia, Fara; Prihartono, Nurhayati Adnan; Hidayat, Rudy; Araminta, Abirianti P.
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol. 10, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction. Rheumatoid arthritis (RA) is a systemic and chronic autoimmune disease involving the joints disorder as the main manifestations. Methotrexate (MTX) is currently still the drug of choice for RA treatment due to the good clinical response. However, there was a case reported by the American Geriatric Society in 2015 regarding the presence of reversible dementia after treatment with low-dose oral methotrexate. This study aimed to identify the effect of MTX treatment on cognitive disorder in RA patients. Methods. The study protocol was registered with PROSPERO (CRD42023414937). A systematic literature search was conducted in Medline Embase database, Scopus, CENTRAL to identify cohort observational studies, case controls, and randomized control trial (RCT) studies, evaluating the effect of methotrexate therapy on cognitive function disorder in RA patients. The Newcastle-Ottawa Scale (NOS Scale) was used to analyze the quality of existing observational studies and The COCHRANE was used to analyze the RCT studies which included in the journals reviewed. Results. There were 4 observational studies that met the criteria, including 2 case control studies and 2 cohort studies. Pooling was carried out in two different types of studies. The OR was 0.81 (95%CI 0.4 – 1.68) in the case control studies group, whereas the RR was 0.88 (95% CI 0 .6 – 1.3) in the cohort studies group. The heterogeneity of each type of case-control studies and cohort studies were I2 92% (p-value277% (p-value Conclusion. Methotrexate therapy has not been proven to have an effect on cognitive disorder in RA patients either as a protective factor or as a risk factor.
Perubahan Perilaku Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) Pasca Terinfeksi COVID-19 pada Dokter di Indonesia: Sebuah Survei Nasional pada Awal Pandemi Herikurniawan, Herikurniawan; Yunihastuti, Evy; Syam, Ari F; Soemarko, Dewi Sumaryani Sumaryani; Wiraguna, Andrian
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol. 10, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction. Doctors have greater risk of acquiring COVID-19 due to occupational exposure. Personal protective equipment (PPE) is an essential factor in reducing COVID-19 transmission. We aimed to evaluate the behavior changes of PPE usage among doctors in Indonesia before and after getting COVID-19 infection in early pandemic. Methods. This was a descriptive online survey with cross-sectional design. This survey was conducted from October-December 2020 among Indonesian doctors who were COVID-19 survivors. Results. A total of 389 doctors who survived COVID-19 infection across Indonesia were included in the final analysis. Most participants were general practitioners and residents (69.2%) with a median age of 40 (22-28) years. After being infected, there was an improvement in the use of N95 respirator masks in isolation rooms (always: 80.9% from 70.2%; sometimes: 13.2% from 15.8%). An improvement in the use of other PPE before and after being infected with COVID-19 was also shown by the use of other PPE such as headcap (93.9% from 83.3%), face shield (90.4% from 83.3%), goggles (70.2% from 62.3%), gown (61.4% from 53.6%), hazmat suit (88.6% from 81.6%), boots (82.5% from 71.1%), and gloves (91.3% from 86.8%). Similar results were also shown in the use of PPE in other non-isolation rooms. Conclusion. After recovering from COVID-19 infection, these doctors showed an increase usage of adequate PPE both while on duty in isolation and non-isolation rooms.
Rasio Neutrofil Limfosit dan Kadar D-Dimer berdasarkan Derajat Keparahan Pasien COVID-19 di Rumah Sakit Semen Padang : Studi Kasus Kontrol Besri, Hanifa Zahra; Efrida, Efrida; Jurnalis, Yusri Dianne; Putra, Andani Eka; Fitrina, Dewi Wahyu; Husni, Husni
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol. 10, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction. Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) is caused by Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus-2 (SARS-CoV-2) which in 2020 was declared a global pandemic. In the management of COVID-19, patients are classified according to the severity. Identifying prognostic factors at an early stage helps assess severity risks. Abnormal hematological parameters were present in COVID-19 patients such as the elevation of neutrophil lymphocyte ratio (NLR) and D-dimer patients. This study aimed to determine the NLR and D-dimer levels based on the severity of COVID-19 patients. Methods. This study was an observational analytical study that used a case-control approach using 100 medical records of COVID-19 patients who were treated at Semen Padang Hospital in 2021. Consecutive sampling was used in this study. ANOVA test and the Kruskal-Wallis test were used for bivariate analysis. The results were considered significant if the p-value <0.05. Results. Characteristics of patients treated for COVID-19 were: 51% male and 49% female, mean age 57.79 (SD 13.5) years. NLR values based on the severity (mild, moderate, severe, and critical) were 3.12 (SD 2.04), 3.51 (SD 2.87), 6.89 (SD 3.6), 12.57 (SD 10.34) respectively; p<0.05. The median value of D-dimer (ng/mL) based on the severity (mild, moderate, severe, and critical) were 444, 791, 1,610, 2,135; p<0.05. The results of this study showed that there were significant differences in the NLR values and D-dimer levels based on severity. Conclusion. RNL value and D-dimer levels increase the most in the critical degree group and shows a significant relationship in COVID-19 patients.
Hubungan Status Vitamin D dengan Risiko Jatuh pada Pasien Lansia dengan Penyakit Ginjal Kronik yang Menjalani Hemodialisis Reguler Iqbal, Muhammad; Ariestine, Dina Aprillia; Ramadhani, Sumi
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol. 10, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction. Fall is one of the main causes of hospitalization in the elderly, which is caused by several factors including gait disturbances, balance disorders, visual disturbances, chronic kidney disease (CKD), vitamin D deficiency, and so on. Chronic kidney disease can cause disruption of vitamin D metabolism, especially in the elderly population. This study aimed to assess the relationship between vitamin D status and the risk of falling in elderly patients with CKD who receive regular hemodialysis programs. Methods. We conducted a cross-sectional study by assessing the relationship between vitamin D status and the risk of fall in elderly patients undergoing regular hemodialysis at H. Adam Malik General Hospital and Rasyida Kidney Special Hospital Medan. Fall risk assessment was carried out using the Morse fall scale (MFS) and vitamin D status was examined in the Clinical Pathology Laboratory of H. Adam Malik General Hospital, Medan. The data was analyzed statistically with the chi square test. Results. This study involved 92 subjects with a median vitamin D level of 20.15 (3.9-52.1) mg/dL and a median MFS value of 65 (25-95). As many as 87% of subjects had insufficient vitamin D levels, 11% of subjects had inadequate levels, and 1% of subjects had adequate levels of vitamin D. High fall risk was found in 56% of subjects, 43% had moderate fall risk, and 1% had low fall risk. The chi square test found a significant relationship between vitamin D status and risk of falling with p value = 0.001 and an odds ratio 0.056 (95%CI 0.007-0.454). Conclusion. Reduction of vitamin D level has a significant relationship with the risk of falling in elderly patients with CKD undergoing regular hemodialysis.