cover
Contact Name
Evy Yunihastuti
Contact Email
redaksi.jurnalpenyakitdalam@ui.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
redaksi.jurnalpenyakitdalam@ui.ac.id
Editorial Address
Departemen Ilmu Penyakit Dalam, FKUI/RSCM Jln Diponegoro No.71, Jakarta. 10430
Location
Kota depok,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia
Published by Universitas Indonesia
ISSN : 24068969     EISSN : 25490621     DOI : https://doi.org/10.7454/
Core Subject : Health,
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia contains the publication of scientific papers that can fulfill the purpose of publishing this journal, which is to disseminate original articles, case reports, evidence-based case reports, and literature reviews in the field of internal medicine for internal medicine and general practitioners throughout Indonesia. Articles should provide new information, attract interest and be able to broaden practitioners insights in the field of internal medicine, as well as provide alternative solutions to problems, diagnosis, therapy, and prevention.
Articles 414 Documents
Skor Malnutrisi-Inflamasi, C-Reactive Protein dan Soluble Tumor Necrosis Factor Receptor-1 pada pasien Hemodialisis yang mengalami Aterosklerosis Sarwono, J.; Suhardjono, Suhardjono; Siregar, Parlindungan; Suwarto, Suhendro
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol. 1, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan. Hemodialisis (HD) berkaitan erat dengan proses inflamasi yang persisten, inflamasi ini berhubungan dengan terjadinya kontak darah dengan membran dialisis, cairan dialisat, akses vaskuler dan infeksi. Peningkatan sitokin pro-inflamasi berperan penting terhadap terjadinya aterosklerosis selain faktor tradisional Framingham. Inflamasi juga berakibat anoreksia dan kondisi hiperkatabolik yang menyebabkan malnutrisi. Keadaan ini disebut sebagai Sindrom Malnutrisi-Inflamasi-Aterosklerosis. Karakteristik HD di Indonesia berbeda dengan negara maju, perbedaan tersebut terkait penggunaan dialyzer pakai ulang dan tipe low-flux, belum menggunakan dialisat ultrapure dan dosis HD yang tidak adekuat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat beda rerata antara jumlah Skor-MI, hsCRP dan sTNFR-1 pada pasien HD yang mengalami aterosklerosis Metode. Desain studi potong lintang pada pasien HD yang dalam keadaan stabil yang sudah menjalani HD antara 3 bulan sampai 5 tahun di RSUP Fatmawati. Jumlah subyek 60 orang yang dikumpulkan dalam kurun waktu Desember 2013 sampai dengan Februari 2014. Pengambilan darah untuk memeriksa kadar hsCRP, albumin, TIBC dan sTNFR-1, selain itu menentukan status nutrisi dengan menggunakan skor malnutrisi-inflamasi dan pemeriksaan USG doppler arteri Karotis untuk menentukan penebalan intima-media(CIMT). Analisis statistik dengan uji T dan uji Mann-Whitney. Hasil. Penelitian ini menunjukkan Skor-MI pada kelompok yang CIMT positif (aterosklerosis ) memiliki nilai median lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok yang non aterosklerosis demikian juga dengan kadar sTNFR-1, akan tetapi tidak bermakna secara statistik (p>0,05). Sedangkan kadar hsCRP didapatkan nilai median yang lebih rendah pada kelompok dengan CIMT yang positif tetapi tidak bermakna secara statistik (p>0,05). Simpulan.Tidak terdapat beda rerata antara Skor-MI, hsCRP dan sTNFR-1 dengan CIMT atau terjadinya aterosklerosis pada pasien HD.
Kardiomiopati pada Penderita Infeksi HIV Sejati, Arif; Wijaya, Ika Prasetya
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol. 1, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jantung adalah salah satu organ yang dapat menjadi sumber morbiditas dan mortalitas pada penderita Human Immunodeficiency Virus (HIV)/ Acquired Immunodeificiency Syndrome (AIDS) namun jarang mendapat perhatian khusus. Sebelum era penggunaan highly active antiretroviral therapy (HAART) kelainan jantung khususnya kardiomiopati cukup sering ditemukan. Kardiomiopati didefinisikan sebagai kelompok penyakit heterogen yang dihubungkan dengan disfungsi mekanik dan/atau elektrik yang biasanya (namun tidak selalu) didapatkan hipertrofi atau dilatasi ventrikel yang abnormal dan disebabkan oleh beragam penyebab, kebanyakan genetik. Kardiomiopati pada pasien dengan HIV dapat digolongkan ke dalam kardiomiopati dilatasi yang didapat. Kardiomiopati pada penderita HIV/AIDS disebabkan oleh berbagai faktor: virus HIV, miokarditis, obat-obatan, dan status nutrisi. Pencegahan dan pengobatan dini HIV/AIDS menjadi faktor penting dalam mengurangi morbiditas dan mortalitas akibat kardiomiopati.
Kolaborasi Tata Laksana dan Pengendalian Tuberkulosis dan Diabetes Melitus Ujainah, Anna
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol. 2, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada akhir tahun 2014, diabetes mellitus (DM) diperkirakan menjadi kontributor 15% kasus tuberkulosis (TB) di dunia. Ancaman kesehatan akibat TB potensial meningkat seiring dengan peningkatan angka penyandang DM.
Faktor-faktor yang Berkorelasi dengan Status Nutrisi pada Pasien Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD) Yulianti, Mira; Suhardjono, Suhardjono; Kresnawan, Triyani; Harimurti, Kuntjoro
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol. 2, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan: Perubahan status nutrisi dikaitkan dengan tingginya mortalitas pada kelompok pasien penyakit ginjal tahap akhir (PGTA). Berbagai penelitian menunjukkan tingginya prevalensi malnutrisi pada pasien dialisis kronik, namun hingga saat ini, penelitian lebih banyak dilakukan pada pasien yang menjalani hemodialisis. Dengan latar belakang berkembangnya CAPD di Indonesia, perlu diteliti faktor-faktor yang berkaitan dengan kesintasan pasien CAPD untuk menekan tingginya morbiditas dan mortalitas pada kelompok pasien tersebut, salah satunya adalah faktor nutrisi. Metode: Penelitian ini merupakan studi potong lintang pada kelompok pasien PGTA yang menjalani CAPD yang kontrol ke RSCM dan RS Satelit. Dilakukan pengumpulan data denga wawancara, pemeriksaan fisik, penjelasan mengenai metode pencatatan makanan dengan food record oleh dietisian dengan menggunakan alat bantu food model. Pada saat kontrol berikutnya pasien diminta untuk mengembalikan food record dan menjalani pemeriksaan darah (hsCRP dan AGD vena). Hasil: Sebanyak 33 (75%) subjek penelitian memiliki status nutrisi baik dan 11 (25%) pasien memiliki status nutrisi kurang. Pada analisis bivariat penelitian ini didapatkan korelasi (r=0,433 ; p=0,003) antara hsCRP dan status nutrisi. Simpulan: Faktor yang berkorelasi dengan status nutrisi pada pasien CAPD adalah inflamasi.
Determinan Diagnostik Klinis Defisiensi Vitamin D pada Wanita Berusia Lebih dari 50 Tahun Vera, Vera; Setiati, Siti; Govinda, Arya
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol. 2, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan: Prevalensi deifisiensi vitamin D pada wanita 50 tahun ke atas di Indonesia cukup tinggi namun pemeriksaan kadar vitamin D serum sangat mahal. Oleh karena itu, diperlukan alat penyaring defisiensi vitamin D yang cukup ekonomis dan sederhana untuk dikerjakan di layanan kesehatan primer. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian diagnostik, menggunakan desain potong lintang (cross-sectional) sehubungan dengan pengambilan data hanya dilakukan sewaktu saja. Penelitian ini dilakukan di Kotamadia Bandung selama Agustus–Oktober 2012. Pada 240 subjek, dilakukan pengumpulan data berupa karakteristik responden, diabetes mellitus, penyakit ginjal kronik, riwayat jatuh, riwayat fraktur setelah menopause, nyeri tulang, skor paparan sinar matahari, skor proteksi sinar matahari, status gizi, kinerja fisik (5 timed chair-stands dan uji sikap tandem), status kesehatan (jumlah dan derajat berat penyakit kronis), kadar vitamin D serum. Untuk pengujian statistik hubungan antara dua variabel kualitatif dikotom dilakukan dengan uji Chi-square dilanjutkan dengan uji multivariat. Hasil: Penelitian ini menemukan hubungan yang bermakna secara statistik antara diabetes mellitus, skor proteksi matahari, kelemaan otot ekstremitas bawah dengan defiisensi vitamin D. Berdasarkan ketiga determinan tersebut, dapat dibuat sistem skoring yang dapat digunakan untuk menyaring kelompok wanita 50 tahun ke atas yang mempunyai probabilitas besar menderita defisiensi vitamin D. Simpulan: Determinan diagnostik defisiensi vitamin D berat yang ditemukan pada penelitian ini meliputi: adanya diabetes melitus, skor proteksi matahari, kelemahan otot tungkai bawah. Sistem skoring untuk menyaring defisiensi vitamin D berat pada wanita berusia 50 tahun ke atas dapat dibuat berdasarkan ketiga determinan tersebut di atas. Bobot untuk masing-masing determinan adalah: 1 untuk diabetes mellitus dan kelemahan otot tungkai bawah serta 2 untuk skor proteksi matahari. Bila penjumlahan dari skor ketiga komponen tersebut ³2, maka subjek tersebut diprediksi menderita defisiensi vitamin D berat.
Tatalaksana Terkini Perlemakan Hati Non Alkoholik Adiwinata, Randy; Kristanto, Andi; Christianty, Finna; Richard, Timoteus; Edbert, Daniel
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol. 2, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perlemakan Hati Non Alkoholik (Non Alcoholic Fatty Liver Disease/NAFLD) merupakan salah satu penyebab utama dari penyakit hati kronis di negara berkembang. NAFLD dapat berkembang menjadi menjadi penyakit hati yang lebih berat seperti Non Alcoholic Steatohepatis (NASH), sirosis hepatis, dan karsinoma hati. Tatalaksana NAFLD terus berkembang, dan saat ini klinisi dihadapkan dengan berbagai pilihan alternatif baik dari segi nonfarmakoterapi maupun farmakoterapi. Tulisan ini akan membahas berbagai pilihan terapi NAFLD terkini tersebut berdasarkan bukti terbaru.
Depresi di Bidang Penyakit Dalam:Tantangan Pengembangan dalam Pendidikan, Pelayanan, dan Penelitian di Indonesia Mudjaddid, E.
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol. 2, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Korelasi Trigliserida Pascaprandial dengan Penanda Biologis Aktivasi Endotel pada Artritis Reumatoid Utari, Amanda Pitarini; Isbagio, Harry; Darmowidjojo, Budiman; Effendi, Shuffrie
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol. 2, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan. Terdapat peningkatan mortalitas akibat penyakit kardiovaskular (PKV) sebesar 50% pada pasien artritis reumatoid (AR). Trigliserida pascaprandial (TGPP) saat ini dikaitkan dengan risiko penyakit jantung iskemik, infark miokard, stroke iskemik, kematian, serta peningkatan kadar molekul adhesi. Kadar molekul adhesi yang meningkat merupakan tanda terjadinya aktivasi endotel, proses awal pada terbentuknya lesi aterosklerosis. Belum ada penelitian tentang peran TGPP dalam risiko kardiovaskular pada pasien AR. Penelitian ini ingin mengetahui hubungan antara TGPP dengan penanda biologis aktivasi endotel. Metode. Penelitian ini adalah studi potong lintang, yang menggunakan analisis korelasi dengan analisis multivariat. Sampel diambil dengan metode consecutive sampling. Pada subjek penelitian dilakukan pemeriksaan profil lipid dan penanda aktivasi endotel. Sebagai penanda biologis aktivasi endotel digunakan sICAM-1 dan sE-selectin. Dilakukan uji korelasi antara TGPP dengan sE-selectin dan sICAM-1. Hasil. Tidak terdapat korelasi antara TGPP dengan kadar sE-selectin dan sICAM-1 pada analisis multivariat. HDL mempengaruhi kadar sICAM-1 (R2=0,087). Sementara itu kadar sE-selectin dipengaruhi oleh DAS-28 (R2=0,174), indeks massa tubuh (R2=0,125), dan gula darah pascaprandial (R2=0,138). Simpulan. Tidak ditemukan kaitan antara TGPP dengan kadar sE-selectin dan sICAM-1 pada pasien AR.
Korelasi Antara Kadar Matriks Metalloproteinase 9, Laju Endap Darah, Faktor Reumatoid, dan Lama Sakit dengan Gambaran Radiologis pada Pasien Artritis Reumatoid Aji, Giri; Sumariyono, Sumariyono; Kusumawidjaja, Kahar; Abdullah, Murdani
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol. 2, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan. Artritis Reumatoid (AR) merupakan penyakit autoimun dengan etiologi yang belum jelas, gejala utama dari AR adalah keradangan pada sendi yang ditandai dengan sinovitis simetris dan erosi tulang, walaupun perjalanan penyakit AR sulit diduga dengan sifat kronik-remisi-eksaserbasi namun secara umum hasil akhir dari AR adalah deformitas sendi. Penelitian terakhir pada AR menunjukkan adanya overekspresi dari sejumlah enzim matrix metallopeoteinases (MMPs) yang mempunyai kemampuan degradasi komponen kolagen dam matriks ekstraseluler tulang rawan Beberapa penelitian menemukan keterlibatan MMP-2, MMP-9, MMP-1 ,MMP-8 dan MMP-3 pada penyakit AR. Penelitian di Taiwan oleh Chang Yh menunjukkan peningkatan kadar aktivitas MMP-9 pada pasien AR di Taiwan dibandingkan pada populasi normal. Giannelli melaporkan peningkatan kadar MMP-2, MMP- 9, Tissue Inhibitor Matrix proteinase 1 dan Tissue Inhibitor Matrix proteinase 2 pada pasien dengan AR dan artritis psoriasis, Gruber juga melaporkan adanya peningkatan yang bermakna dari kadar MMP-9 atau gelatinase B pada serum pasien AR. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman mengenai peran MMP-9 atau gelatinase B pada serum pasien AR, serta mencari korelasi antara kadar MMP-9, laju endap darah (LED), faktor reumatoid dan lama sakit dengan gambaran radiologis pada pasien AR. Metode. Penelitian ini menggunakan studi potong lintang analitik dengan metode sampling konsekutif yang dilakukan di poliklinik Reumatologi/Ilmu Penyakit Dalam RSUPN Cipto Mangunkusumo. Sebagai variabel bebas adalah : kadar matriks metalloproteinase 9, laju endap darah (LED) , faktor reumatoid dan lama sakit sementara variabel tergantung adalah skor radiologis Sharp. Hasil. Dari 46 subjek penelitian didapatkan peningkatan kadar rerata MMP-9 yaitu sebesar 104,82 ng/ml, rerata LED 58,5 mm/jam, rerata kadar faktor reumatoid 57,13 IU/ml dan rerata lama sakit adalah 4,83 tahun. Korelasi antara kadar MMP-9 dengan skor erosi tulang secara radiologis adalah r=0,3 dengan p=0,02 (bermakna), sementara korelasi antara lama sakit dengan gambaran radiologis ( skor Sharp) r=0,36 dengan p=0,014 (bermakna). Korelasi antara LED, dan faktor reumatoid dengan gambaran radiologis adalah r=0,10,p=0,24;dan r=0,19,p=0,09. Simpulan. Didapatkan peningkatan kadar MMP-9 pada pasien AR, kadar MMP-9 berkorelasi dengan gambaran erosi tulang secara radiologis, lama sakit berkorelasi dengan gambaran radiologis (skor Sharp), Faktor reumatoid dan LED tidak berkorelasi dengan gambaran radiologis (skor Sharp).
Gambaran Endoskopi Saluran Cerna Bagian Atas pada Pasien Dispepsia Usia Lanjut di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Agustian, Hendra; Makmun, Dadang; Soejono, Czeresna H.
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol. 2, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan. Salah satu masalah kesehatan yang sering terjadi pada pasien usia lanjut adalah gangguan saluran cerna bagian atas. Pada pasien usia lanjut dapat terjadi perubahan di lambung akibat proses penuaan antara lain perubahan integritas mukosa (berkurangnya kadar prostaglandin mukosa, integritas vaskuler menurun, dan penurunan aktivitas anti radikal bebas). Tindakan endoskopi merupakan tindakan yang relatif aman pada usia lanjut untuk menegakkan diagnosis saluran cerna bagian atas. Pemeriksaan endoskopi lebih awal sangat penting dilakukan untuk dapat mencegah penyulit yang mungkin terjadi akibat penyakit pada saluran cerna. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik pasien dispepsia usia lanjut yang telah dilakukan pemeriksaan endoskopi saluran cerna bagian atas dan distribusi kelainan endoskopi saluran cerna bawah pasien dispepsia usia lanjut yang ditemukan. Metode. Desain penelitian yang digunakan adalah studi deskriptif potong lintang. Pemilihan subjek dilakukan dengan menelusuri data sekunder laporan endoskopi pasien usia lanjut di Pusat Pelayanan Endoskopi Saluran Cerna, Divisi Gastroenterologi, Departemen Ilmu Penyakit Dalam, RSCM periode 2004-2008. Semua data subjek yang diambil dan memenuhi kriteria pemilihan subjek dimasukkan dalam penelitian. Hasil. Subjek penelitian terbanyak adalah laki-laki (51%) berbanding perempuan (49%). Suku terbanyak adalah suku Jawa (44,9%). Gambaran endoskopi yang paling sering ditemukan adalah gastritis (41,2%). Simpulan. Subjek penelitian terbanyak adalah laki dan suku Jawa. Gambaran endoskopi yang paling sering ditemukan adalah gastritis.