cover
Contact Name
Ichsan Setiawan
Contact Email
ichsansetiawan@usk.ac.id
Phone
+6285220189228
Journal Mail Official
depik@usk.ac.id
Editorial Address
Faculty of Marine and Fisheries Universitas Syiah Kuala Jalan Meureubo No. 1, Kopelma Darussalam Banda Aceh, 23111, Indonesia
Location
Kab. aceh besar,
Aceh
INDONESIA
Depik Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan, Pesisir dan Perikanan
ISSN : 20897790     EISSN : 25026194     DOI : 10.13170/depik
Depik Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan, Pesisir dan Perikanan is a peer review international journal, this journal is publishing high-quality articles in aquatic sciences and fisheries in general. The aim of the journal is to publish and disseminate the current or new findings of the research, and give a significant contribution to the development of fisheries and aquatic sciences in several topics, but not limited to: Fisheries (Aquaculture, Capture Fisheries, Fish Processing) Aquatic Ecology (Freshwater, Marine, and Brackishwater) Aquatic Biology (Fish, Mollusk, Crustacean, Plankton, Coral reefs) Oceanography
Articles 40 Documents
Search results for , issue "Vol 9, No 3 (2020): December 2020" : 40 Documents clear
Kajian kualitas air laut di perairan Kota Banda Aceh Koko Ondara; Ulung Jantama; Sri Agustina; Ichsan Setiawan; Syahrul Purnawan
Depik Vol 9, No 3 (2020): December 2020
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1434.391 KB) | DOI: 10.13170/depik.9.3.16981

Abstract

Studying the water quality is significant to protect and for coastal area-use planning in Banda Aceh City, Aceh Province. This study took seawater samples from 13 stations in the northern waters of Banda Aceh on September 10-11 2019. Surface water samples were taken using Van Dorn bottle, which were then tested on 22 types of parameters to evaluate the water quality in the area. In general, the results of tests on various water parameters indicate that the sea waters in Banda Aceh are in good condition. Attention needs to be paid to nitrates and phosphates, which indicate values that exceed water quality standards, thus possible to trigger algal blooms.Keywords:Water qualityNitrateFisheryABSTRAKKajian kualitas air sangat penting untuk melindungi serta untuk perencanaan pemanfaatan ruang pesisir di Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh. Penelitian ini mengambil sampel air laut dari 13 stasiun yang di perairan utara Banda Aceh pada 10 – 11 September 2019. Sampel air permukaan laut diambil menggunakan botol Van Dorn, yang kemudian dilakukan uji terhadap 22 jenis parameter untuk mengevaluasi kualitas air di perairan utara Kota Banda Aceh. Secara umum, hasil pengujian pada berbagai parameter air menunjukkan bahwa air laut di Banda Aceh dalam kondisi baik. Perhatian perlu diberikan pada kadar nitrat dan fosfat, yang menunjukkan nilai yang melebihi baku mutu air, dimana memungkinkan untuk memicu pertumbuhan alga yang berlebihan di kawasan tersebut.Kata kunci:Kualitas perairanNitratPerikanan
Karakteristik mutu dan keamanan ikan kembung (Rastrelliger sp) pada pasar domestik di DKI Jakarta Resmi Rumenta Siregar; Sugeng Hari Wisodo; Tri Wiji Nuraini; Sugeng Heri Suseno
Depik Vol 9, No 3 (2020): December 2020
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (716.446 KB) | DOI: 10.13170/depik.9.3.17542

Abstract

Mackerel (Rastrelliger sp) is one of small pelagic fish that contribute animal protein intake for local community, so its quality and safety prior to be considered and maintained as follows. In this study analyzes the quality attribute and food safety of mackerel throughout the distribution chain for domestic consumption in Jakarta Province were investigated, from the fish landing, fish auction, wholesale markets, restaurants, supermarkets, until traditional markets. Field observations were used during the investigation, by taking mackerel samples at each distribution chain and testing at the laboratories. Quality characteristics were done by organoleptic test and formaldehyde content were showed the safety level of each samples. The organoleptic parameters revealed that from 100% of samples were taken from fish landing, wholesale market and restaurant comply with Indonesian National Standart, while at the supermarkets and at traditional markets was 77,42%, and 64,78% respectively. This consequently led to an increase of formaldehyde hazardous materials that exhibit during the distribution chain (4 samples from wholesale markets, 6 samples from supermarkets, and 57 samples from traditional markets). The concentrations of formaldehyde in the positive samples at three location mentioned above from 1.0-5.4 ppm, 2.5-6.6 ppm, and 0.2 - 13.4 ppm respectively. Mackerel collected from local markets had lower level of quality and safety compared to those from other locations. Monitoring of using formaldehyde for fresh fish during distribution and marketing need to be conserned.Keywords:domestic, formaldehyde, organoleptic, Quality, Rastrelliger sp.ABSTRAKIkan kembung merupakan salah satu jenis ikan pelagis kecil yang banyak diminati oleh masyarakat DKI Jakarta sehingga mutu dan keamanannya menjadi salah satu prioritas penting yang perlu diperhatikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis mutu dan keamanan ikan kembung di sepanjang rantai distribusi untuk konsumsi domestik di wilayah Provinsi DKI Jakarta, mulai dari Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI), Tempat Pelelangan Ikan (TPI), pasar grosir, restoran, pasar swalayan dan pasar tradisional. Metode penelitian yang digunakan adalah observasi lapang dengan melakukan pengambilan sampel ikan kembung pada setiap rantai distribusi dan pengujian di laboratorium. Karakteristik mutu diuji secara organoleptik dan keamanannya diuji dengan parameter kandungan formalin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase sampel yang memenuhi standar organoleptik (minimal 7) pada tahap pembongkaran, pasar grosir dan restoran adalah sebesar 100%, pada pasar swalayan dan pada pasar tradisional berturut-turut sebesar 77,42% dan 64,78%. Ikan kembung yang positif mengandung bahan berbahaya formalin masih ditemukan pada pasar grosir (4 sampel), dengan konsentrasi 2,5 – 6,6 ppm, pada pasar swalayan (6 sampel), dengan konsentrasi 1,0 – 5,4 ppm, dan pada pasar tradisional (57 sampel), dengan konsentrasi 0,2 – 13,4 ppm. Ikan kembung yang diambil dari pasar tradisional memiliki mutu dan keamanan yang lebih rendah dibandingkan dengan lokasi lainnya. Pengendalian terkait penggunaan bahan berbahaya formalin pada ikan segar selama distribusi dan pemasaran terutama pada pasar tradisional perlu ditingkatkan.Kata kunci:domestik,formalin,organoleptik, mutu, Rastrelliger sp.
Komposisi dan distribusi ukuran hasil tangkapan sampingan bubu ekor kuning di Perairan Kepulauan Seribu Mokhamad Dahri Iskandar; Sugeng Hariwisudo; Budi Hascaryo Iskandar; Mulyono S Baskoro
Depik Vol 9, No 3 (2020): December 2020
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (759.249 KB) | DOI: 10.13170/depik.9.3.18580

Abstract

Bycatch is non-target species which mostly caught at fishing operation. High quantity of bycatch mortality was predicted as one factor of fish stock depletion. Additionally, the high demand to improve fisheries production will be able to lead over fishing. This situation will affect improvement of bycatch and discarded species which will endanger the fish stock. The objective of this research was to identify bycatch composition, ratio between target species and bycatch and size distribution of dominant bycatch at yellow tail fishing operation in Seribu Islands. The research was carried out at Seribu Islands on July-August 2020. The fishing activity used pot with size length x width x height : 100 x 75 x 32.5 cm. Result of research indicated that yellow tail pot bycatch was dominated by brownstripe snapper (Lutjanus vitta) with catch amount of 330 fishes ( 15.9% of total catch) and weight of 50,861 kg (11.5% of total catch weight) followed by squirrelfishes (Sargocentron rubrum) with catch amount of 324 fishes (15.6 % of total catch) and weight of 51,181 kg (11.6%). Another dominant bycatch was striped spinecheek (Scolopsis margaritiferus) with catch amount of 289 fishes (13.9% of total catch) and weight of 40,042 kg (9.1% of total weight). Ratio of target of catch : bycatch in weight was 42.6% : 57.4%. It means, to catch 1 kg of yellow tail there will be caught 1.7 kg bycatch. Total length size of brownstripe snapper at range of 12-27 cm, squirrelfishes at range of 9-27 cm and striped spinecheek at range of 11-29 cm.Keywords:BycatchPotDiscard speciesYellow tailCatch compositionABSTRAKHasil tangkapan sampingan merupakan spesies hasil tangkapan non target yang relatif tinggi tertangkap pada operasi penangkapan. Tingginya jumlah kematian hasil tangkapan sampingan diduga menjadi salah satu penyebab menurunnya stok sumberdaya ikan di seluruh penjuru dunia. Adanya permintaan yang tinggi untuk meningkatkan produksi perikanan dapat memicu peningkatan upaya penangkapan secara berlebihan. Kondisi ini mengakibatkan hasil tangkapan sampingan akan meningkat dengan meningkatnya upaya penangkapan sehingga membahayakan stok dan populasi sumberdaya ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi komposisi hasil tangkapan sampingan, rasio antara hasil tangkapan utama dengan hasil tangkapan sampingan dan ukuran hasil tangkapan sampingan dominan yang tertangkap pada operasi penangkapan ikan ekor kuning di Perairan Kepulauan Seribu. Penelitian dilakukan di Perairan Kepulauan Seribu pada bulan Juli-Agustus 2020 dengan menggunakan bubu ekor kuning (ukuran p x l x t : 100 x 75 x 32,5 cm). Hasil penelitian menunjukan bahwa hasil tangkapan sampingan bubu ekor kuning didominasi oleh ikan kakap (Lutjanus vitta) dengan total jumlah hasil tangkapan mencapai 330 ekor ( 15,9%) dengan total bobot mencapai 50.861 kg (11,5%) disusul oleh ikan swanggi (Sargocentron rubrum) mencapai 324 ekor (15,6 %) dengan total bobot hasil tangkapan sebesar 51.181 kg (11,6%) dan ikan serak (Scolopsis margaritiferus) dengan jumlah hasil tangkapan mencapai 289 ekor (13,9%) dan bobot sebesar 40.042 kg (9,1%) dari total bobot hasil tangkapan bubu ekor kuning. Proporsi bobot hasil tangkapan utama dibanding dengan hasil tangkapan sampingan adalah 42,6% : 57,4%. Hal ini berarti untuk menangkap 1 kg ekor kuning maka akan tertangkap 1,354 kg hasil tangkapan sampingan. Ukuran hasil tangkapan sampingan dominan yang tertangkap pada bubu ekor kuning meliputi ikan kakap yang tertangkap pada selang ukuran panjang total 12-27 cm, ikan swanggi dengan selang ukuran panjang total berkisar 9-27 cm dan ikan serak dengan selang ukuran panjang total berkisar antara 11-29 cm.Kata kunci:Hasil tangkapan sampinganBubuDiscard spesiesIkan ekor kuningKomposisi hasil tangkapan
Kondisi suhu dan salinitas serta korelasinya dengan variabilitas eddy di Perairan Halmahera dan Mindanao Gadza B.T. Suharyo; Noir P Purba; Lintang P.S. Yuliandi; Mega L. Syamsuddin
Depik Vol 9, No 3 (2020): December 2020
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (599.13 KB) | DOI: 10.13170/depik.9.3.15534

Abstract

The purpose of this study was to determine the dynamics of the waters around Halmahera Eddy (HE) and Mindanao Eddy (ME) both horizontally and vertically. The location of the study is in the Pacific Equator Pacific Waters with embedded at 20 - 10oN and 125o-135o E. The data used were temperature and salinity downloaded from Argo Float data centre and combined with surface currents data from MyOcean. The results showed that the two eddies have different impacts on water conditions. In HE, the characteristics are shown by convergent moving mass of water, increasing surface temperature and decreasing salinity. The characteristics of eddy in these waters indicate the existence of downwelling. In ME the mass of water moves divergently, the condition of the sea surface temperature is lower and the salinity level increases. The characteristics of eddy in these waters indicate upwelling.Keywords:EddiesUpwellingIndonesia ThroughflowArgo floatABSTRAKTujuan dari penelitian ini untuk mengetahui dinamika perairan di sekitar Halmahera Eddy (HE) dan Mindanao Eddy (ME) baik secara horizontal dan vertikal. Lokasi kajian berada di Perairan Pasifik Equator Barat dengan koordinat 2o LS – 10o LU dan 125o BT – 135o BT. Data yang digunakan adalah data suhu dan salinitas dari Argo Float dan data arus permukaan dari MyOcean. Hasil penelitian menunjukan bahwa kedua eddy ini memberikan dampak yang berbeda terhadap kondisi perairan. Di HE, karakteristiknya ditunjukkan dengan massa air yang bergerak secara konvergen, meningkatnya suhu di permukaan dan menurunnya kadar salinitas. Karakteristik eddy di perairan ini menunjukkan adanya downwelling. Di ME massa air bergerak secara divergen, kondisi suhu permukaan lautnya lebih rendah dan kadar salinitasnya meningkat. Karakteristik eddy di perairan ini ini menunjukkan adanya upwelling.Kata kunci:EddiesTaikan airArus Lintas IndonesiaArgo float
Pola pertumbuhan dan faktor kondisi ikan sembilang (Potosus canius) di Teluk Bintan Kepulauan Riau Tri Yulianto; Wiwin Kusuma Atmadja; Zulpikar Zulpikar; Risma Ariska; Ani Suryanti
Depik Vol 9, No 3 (2020): December 2020
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (401.298 KB) | DOI: 10.13170/depik.9.3.12623

Abstract

One of the economically important fish included in the Plotosidae family is the Sembilang Fish. This study aims to determine the growth patterns and condition factors of the Sembilang fish. The research was conducted in July 2018. The locations of the Sembilang Fish sampling station include Dompak Island Bay, Bugis Village Bay, Madong Bay, Pengujan Bay and Tanjung Uban. The total sample of Sembilang Fish that has been obtained is 150, consisting of 80 males and 70 females. Total length ranges from 19.7-66 cm, with weights ranging from 33.68-960 g. The mode of distribution of the frequency of the fish caught during the study was in the second class interval, namely 25.7-30.7. The relationship between the length and weight of male Sembilang fish is W = 0, 0268L2,5378 and the female is W = 0, 00542L2,3347. The growth pattern of Sembilang fish, both male and female, is negative allometric which shows the length growth is faster than the weight. Fish condition factors obtained during the study ranged from 0.723 to 1.166.Keywords:BintanCondition FactorLength-weight-relationshipPlotosus caniusSembilang fish ABSTRAKSalah satu ikan ekonomis penting yang termasuk dalam famili Plotosidae adalah Ikan Sembilang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola pertumbuhan dan faktor kondisi ikan sembilang. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli 2018. Lokasi stasiun pengambilan sampel Ikan Sembilang diantaranya Teluk Pulau Dompak, Teluk Kampung Bugis, Teluk Madong, Teluk Pengujan dan Tanjung Uban. Total sampel Ikan Sembilang berjumlah 150 ekor, terdiri dari 80 ekor jantan dan 70 ekor betina. Ukuran panjang total berkisar antara 19,7-66 cm, dengan berat berkisar antara 33,68-960 g. Modus distribusi frekuensi ikan sembilang yang tertangkap selama penelitian ada pada selang kelas kedua yaitu 25,7-30,7. Hubungan panjang dan bobot Ikan Sembilang jantan adalah W = 0, 0268L2,5378 dan betina adalah W = 0, 00542L2,3347. Pola pertumbuhan Ikan Sembilang baik jantan maupun betina adalah alometrik negatif yang memperlihatkan pertumbuhan panjang lebih cepat daripada bobotnya. Faktor kondisi ikan selama penelitian nilainya berkisar antara 0,723 hingga 1,166.Kata kunci: BintanFaktor kondisiHubungan panjang-bobotPlotosus caniusIkan Sembilang
Komposisi dan status guild komunitas ikan di Waduk Sempor Jawa Tengah Nuning Setyaningrum; Sugiharto Sugiharto; Priyo Susatyo
Depik Vol 9, No 3 (2020): December 2020
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1099.945 KB) | DOI: 10.13170/depik.9.3.15094

Abstract

Abstract.The functional community is described depends on the function of species in utilization food (guild). The utilization of food is a process of energy transfers in the food chain and it is represented in the pyramid of numbers. The objective of this research was to analyze the structure community of fish and the guild compositions in Sempor Reservoir. This research applied a survey with purposive random sampling technique with four station in Sempor Reservoir. Sampling at each site was taken 4 replication with interval 1 monts.  The composition and status of the guild is carried out by mesuring the guild based on the position of the mouth, tooth type, gill filter type, and ratio of body length and intestine. Guilds are composed of compositions depicted by a number pyramid based on the number of species per station. The results of this reserach captured 439 individuals consists of 14 species and belong to 6 families that dominated by Cyprinidae. The number and species of fish caught were the most at the Bangkong river inlet (142 individuals) and the lowest at the center of the reservoir (60 individuals). Comparison of the composition of fish guilds at the four stations in the Sempor Reservoir shows that the number of omnivorous and carnivorous fish is obtained more than herbivorous fish. The composition of the guild at Kalianget river inlet (72.9%) and Central reservoir (42.7%) was dominated by carnivorous fish, while at Pengantalan river inlet (52.9%) and Bangkong (58.9%) were dominated by omnivorous fish. The composition of herbivorous fish is at least at all stations so that in general the composition of fish guilds in the Sempor reservoir has not been balanced.Keywords: species composition, guild, pyramid of number,Sempor reservoir  Abstrak. Komunitas secara fungsional menggambarkan fungsi spesies yang ditentukan dengan pemanfaatan sumber makanan (guild). Pemanfaatan makanan dalam rantai makanan merupakan proses transfer energi dan digambarkan dengan piramida jumlah. Tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji komposisi dan  tingkat status guild  komunitas ikan yang tertangkap di  perairan waduk Sempor. Penelitian dilakukan dengan metode survei dan teknik purposive random sampling pada 4 stasiun di Waduk Sempor. Sampling dilakukan sebanyak 4 kali tiap bulan. Komposisi dan status guild dengan mengukur guild berdasarkan posisi mulut, tipe gigi, tipe tapis insang, dan rasio panjang tubuh dan usus. Komposisi guild digambarkan dengan piramida jumlah berdasarkan jumlah spesies per stasiun. Hasil penelitian diperoleh 439 individu terdiri dari  8 Familia dan 14 Spesies yang di dominasi familia Cyprinidae. Jumlah dan jenis individu ikan yang tertangkap paling banyak pada inlet sungai Bangkong (142 individu) dan terendah pada bagian tengah waduk (60 individu). Perbandingan komposisi guild ikan pada empat stasiun di waduk Sempor menunjukkan bahwa jumlah ikan omnivora dan karnivora lebih banyak diperoleh daripada ikan herbivora. Komposisi guild pada inlet sungai Kalianget (72,9%) dan Tengah waduk (42,7%) di dominasi oleh  ikan karnivora, sedangkan pada inlet sungai Pengantalan (52,9%) dan Bangkong (58,9%) di dominasi ikan omnivora. Komposisi ikan herbivora paling sedikit pada semua stasiun sehingga secara umum komposisi guild ikan di waduk Sempor belum seimbang.Kata kunci: komposisi jenis, guild, piramida jumlah, waduk Sempor
Variasi morfometrik tiga jenis kepiting biola jantan (Decapoda: Ocypodidae) yang ditangkap di Kawasan Mangrove Jaboi, Pulau Weh, Indonesia Djamani Rianjuanda; Ilham Zulfahmi; Kavinta Melanie; Chairun Nisa; Epa Paujiah; Irfannur Irfannur; Muliari Muliari; Rena Marlinda
Depik Vol 9, No 3 (2020): December 2020
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (618.095 KB) | DOI: 10.13170/depik.9.3.16887

Abstract

The objective of the present study was to analyze the morphometrics variation of three male fiddler crab species collected from Jaboi mangrove area, Weh island, Indonesia. A total of 50 male fiddler crab species from each species (Tubuca dussumieri, Gelasimus vocans and Austruca perplexa) were collected from three research station used digging method and direct capture. The number of morphological characters that measured was 18 characters. The water quality and soil parameters observed were salinity, pH of water and soil, water temperature, C-organic concentration in substrate and sediment type. ANOVA (confidence interval of 95%) and Discriminant Function Analysis was used for analizing the morphometric variation beetwen species. The results showed that the mangrove area of Jaboi, Weh island provides a suitable habitat characteristic for male fiddler crab. Tubuca dussumieri and Gelasius vocans tend distributed in the area with sediment type of mud, while Austruca perplexa tends distributed in the area with sediment type of sand. The result of statistical analysis showed that there were ten separate characters between Tubuca dussumieri and Gelasimus vocans, 17 separate characters between Tubtubuca dussumieri and Austruca perplexa, and 13 separate characters between Gelasimus vocans and Austruca perplexa. Morphometrics variation can be observed in the carapace, propodus, mouth, walking legs, and eye stalks.Keywords:Morphometric variationCarapacs lengthBig propudusSmall propudusWalking legsABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui variasi morfometrik tiga jenis kepiting biola jantan yang ditangkap di kawasan mangrove Jaboi Pulau Weh, Indonesia. Sebanyak 50 ekor kepiting biola jantan dari masing masing jenis (Tubuca dussumieri, Gelasimus vocans dan Austruca perplexa) dikoleksi dari tiga titik stasiun penelitian menggunakan metode digging dan pengambilan langsung. Jumlah karakter morfometrik kepiting jantan yang diukur adalah sebanyak 18 karakter. Parameter kualitas air dan tanah yang diukur meliputi salinitas, pH air, pH tanah, suhu air, kandungan C-organik subtrat dan tipe sedimen. Analisis terhadap data morfometrik dilakukan menggunakan ANOVA (selang kepercayaan 95%) dan Discriminant Function Analysis. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa kawasan mangrove Jaboi, Pulau Weh memiliki karakteristik habitat yang sesuai bagi kepiting biola. Tubuca dussumieri dan Gelasimus vocans cenderung terdistribusi pada wilayah dengan persentase tipe sedimen lumpur yang lebih tinggi, sementara Austruca perplexa cenderung terdistribusi pada wilayah dengan persentase tipe sedimen pasir yang lebih tinggi. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa terdapat 10 karakter pembeda antara Tubuca dussumieri dengan Gelasimus vocans, 17 karakter pembeda antara Tubtubuca dussumieri dengan Austruca perplexa dan 13 karakter pembeda antara Gelasimus vocans dengan Austruca perplexa. Variasi morfometrik tersebut dapat terlihat pada bagian karapas, capit, mulut, kaki gerak dan tangkai mata.Kata kunci:Variasi morfometrikPanjang karapasCapit besarCapit kecilKaki gerak
Karakteristik morfologi dan pertumbuhan lamun Halophila ovalis pada beberapa kawasan pesisir Pulau Bintan Aditya Hikmat Nugraha; Hazrul Hazrul; Susiana Susiana; Try Febrianto
Depik Vol 9, No 3 (2020): December 2020
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (876.322 KB) | DOI: 10.13170/depik.9.3.17781

Abstract

Halophila ovalis is one of the pioneer seagrass species. The physico-chemical factors of the waters greatly influence the life processes of the seagrass. This study aims to compare the morphometric characteristics and growth of H. ovalis seagrass on water quality in several coastal areas in Bintan Island. Observation of morphometric characteristics includes measurement of rhizome diameter, leaf length, leaf of width, root length, internode length and number of leaves. Observation of growth rate was done by using the cutting method for leaves and marking method for rhizome. Observations of the growth rate were carried out twice, namely on the 14th and 28th days. The results showed that the H. ovalis type of seagrass found at Dompak Station had greater morphological characters than other stations. The condition of the bottom substrate is related to the morphological characters of the seagrass. The growth pattern of the seagrass leaves for one month of observation has a decline in growth trend. The rhizome growth pattern at all observation stations has an increasing trend. The results of the principal component analysis and correspondence analysis show that environmental parameters such as substrate type and nutrient concentration have a role in the morphological structure and growth of H. ovalis.Keywords:BintanGrowthHalophila ovalisMorphologySeagrassABSTRAKHalophila ovalis merupakan salah satu jenis lamun pionir. Faktor fisika-kimia perairan sangat mempengaruhi proses kehidupan lamun tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan karakteristik morfometrik dan pertumbuhan lamun H. ovalis pada beberapa kawasan pesisir di Pulau Bintan yang memiliki kondisi lingkungan berbeda. Pengamatan karakteristik morfologi meliputi pengukuran diameter rhizome, panjang daun, lebar daun, panjang akar, panjang internode dan jumlah daun. Pengamatan laju pertumbuhan dilakukan dengan metode pemangkasan untuk daun dan metode penandaan untuk rhizome. Pengamatan terhadap laju pertumbuhan dilakukan sebanyak dua kali yaitu pada hari ke-14 dan ke-28. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lamun jenis H. ovalis yang terdapat di Stasiun Dompak memiliki karakter morfologi lebih besar dibandingkan dengan stasiun lainnya. Adapun kondisi substrat dasar perairan memiliki keterkaitan dengan karakter morfologi lamun. Pola pertumbuhan daun lamun selama satu bulan pengamatan memiliki trend penurunan pertumbuhan. Pola pertumbuhan rhizome pada seluruh stasiun pengamatan memiliki trend peningkatan. Hasil analisis komponen utama dan analisis koresponden menunjukkan bahwa parameter lingkungan seperti tipe substrat dan konsentrasi nutrien memiliki peran terhadap struktur morfologi dan pertumbuhan lamun H. ovalis.Kata kunci:BintanHalophila ovalisLamunMorfologiPertumbuhan
Intensitas dan prevalensi ektoparasit dan endoparasit pada ikan belanak Liza macrolepis (Smith, 1846) di perairan pantai Barat-Selatan Aceh Muamar Abdan; Agung S. Batubara; Firman M. Nur; Derita Yulianto; Sugito Sugito; Zainal A. Muchlisin
Depik Vol 9, No 3 (2020): December 2020
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (693.484 KB) | DOI: 10.13170/depik.9.3.17959

Abstract

The Largescale mullet Liza macrolepis is a common fish found in estuaries and coastal areas and the fish is used as a source of protein by coastal communities. This study aims to analyze the prevalence and intensity of parasitic infected on mullets harvested from the waters of the West - South Aceh. This research was conducted from March to April 2019 in 8 locations, namely; Estuary Aceh River, Gampong Jawa, Banda Aceh city, Coastal Ujong Pancu, Peukan Bada, Aceh Besar, Estuary Teunom River, Calang, Aceh Jaya, Estuary, and Coastal Kuala Bubon, Samatiga, West Aceh, Estuary Nagan River Langkak Kuala Tuha Nagan Raya, Estuary, and Coastal Susoh, Blang Pidie, Southwest Aceh, Estuary and Coastal Indra Damai, Kluet Selatan, South Aceh and Estuary Sua- Sua River and Ujong Umo River, Simeulue. A total of 343 samples were examined for ectoparasites and endoparasites at the Laboratory of Hatchery, Faculty of Marine and Fisheries, Syiah Kuala University. The results showed that there were seven species of parasites, infected the mullet samples namely; Ectoparasites (Cymanthoa sp., Ergasilus sp., Lernanthropus sp., Monstriloida sp., Myxobolus sp.) and Endoparasites (Nematodes and Trematodes). Prevalence value of Kota Banda Aceh was 33% ectoparasites and 28% endoparasites), Aceh Besar was 21% ectoparasites and 15% endoparasites, Aceh Jaya was 4% ectoparasites and 4% endoparasites, Southwest Aceh was 2% ectoparasites and 2% endoparasites, Simeulue was 9% ectoparasites and 9% endoparasites. It is concluded that the higher prevalence and intensity were found in fish samples from Banda Aceh and Aceh Besar, while no fish from Nagan Raya and Aceh Selatan were infected by parasites.Keywords:ParasiteCoastalEstuaryPollutant ABSTRAKIkan belanak Liza macrolepis sering dijumpai di muara dan pesisir pantai dan dijadikan sebagai sumber protein oleh masyarakat pesisir. Saat ini belum ada penelitian terkait jenis-jenis parasite yang menyerang ikan belanak di perairan Aceh, khususnya di pantai Barat Selatan Aceh. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis prevelensi dan intensitas parasit pada ikan belanak di perairan Barat Selatan Aceh. Penelitian dilakukan sejak Maret sampai April 2019 meliputi 8 lokasi, yaitu; Muara Krueng Aceh, Gampong Jawa Kota Banda Aceh, Ujung Pancu, Peukan Bada Aceh Besar, Muara Krueng Teunom, Calang Aceh Jaya, Muara Sungai/Pesisir Kuala Bubon, Samatiga Aceh Barat, Muara Krueng Nagan, Kuala Tuha Nagan Raya, Muara/Pesisir Susoh, Blang Pidie Aceh Barat Daya, Muara/Pesisir Indra Damai, Kluet Selatan Aceh Selatan dan Muara sungai Ujong Umo dan muara sungai Sua – Sua, tepah barat dan Simeulu Timur, Simeulu.  Metode digunakan adalah preparat ulas (Smeer method). Sebanyak 343 sampel dibedah untuk dilakukan pemeriksan ektoparasit dan endoparasit di Laborarorium Pembenihan Ikan, Fakultas Kelautan dan Perikanan, Universitas Syiah Kuala. Hasil penelitian ditemukan 7 jenis parasit, ektoparasit (Cymanthoa sp., Ergasilus sp., Lernanthropus sp., Monstriloida sp., Myxobolus sp.) dan Endoparasit (Nematoda dan Trematoda). Nilai prevalensi; Kota Banda Aceh (33% ektoparasit, 28% endoparasit), Aceh Besar (21 % ektoparasit, 15% endoparasit), Aceh Jaya (4% ektoprasit dan 4%endoparasit), Aceh Barat Daya (2% ektoprasit dan 2% endoparasit) Simeulu (9% ektoparasit dan 9% endoparasit). Disimpulkan bahwa prevelensi dan intensitas parasit tertinggi dijumpai pada sampel ikan dari Banda Aceh dan Aceh Besar, sedangkan ikan sampel dari Nagan Raya dan Aceh Selatan bebas dari serangan parasit. Kata kunci:ParasitpesisirMuara sungaiPencemaran
Penilaian pencemaran logam berat dalam sedimen di Teluk Jakarta Edward Edward
Depik Vol 9, No 3 (2020): December 2020
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (431.265 KB) | DOI: 10.13170/depik.9.3.16800

Abstract

Contamination and pollution of heavy metals in the bottom sediment can pose serious issues to marine organisms and human health. Jakarta Bay which is located adjacent to the capital city of Indonesia is notorious for its pollution problems. The purpose of this research was to assest the contamination levels of heavy metals Hg, Pb, and Cd in sea-bottom sediments based on an index analysis approach (contamination factors, geo accumulation index, pollution load index). Sediment samples were collected from 31 stations in Jakarta Bay. Heavy metal concentration was measured using Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS). The results showed that an average mercury (Hg) concentration ranged from 0.150 to 0.530 µg.g-1 with an total average of 0.362 µg.g-1, Lead (Pb) from 14.870 to 35.650 µg.g-1 with an total average of 21.774 µg.g-1, Cadmium (Cd) 0.110-0.280 µg.g-1 with an total average of 0.190 µg.g-1.The average concentration of Hg, Pb, and Cd is still lower than the sediment quality threshold values set by the Office of the State Minister of Environment of Indonesia  2010. The results of the index analysis showed that the average value of contamination factor (CF) are Hg 0.685, Pb 0.558, and Cd 0.380 respectively (low contamination) and geo accumulation index values are Hg 0.237, Pb -1.655, and Cd 0.069 respectively (unpolluted to moderate polluted). Overall, based on the pollution load index value is -0,511 (PLI 1), sediments in these waters are categorized as not yet polluted by Hg, Pb and Cd. This situation  is so necessary to be maintained, that in order for the preservation of marine resources will remain.Keywords: Jakarta Bay, sediment, pollution, heavy metals, assessmentABSTRAKKontaminasi dan pencemaran logam berat pada sedimen dasar dapat menimbulkan masalah yang serius bagi biota laut dan kesehatan manusia. Teluk Jakarta yang terletak berdekatan dengan ibu kota Indonesia terkenal karena masalah pencemarannya yang parah. Tujuan penelitian ini adalah untuk menilai tingkat kontaminasi logam berat Hg, Pb dan Cd dalam sedimen dasar laut berdasarkan pendekatan analisis indeks. Contoh sedimen diambil dari 31 stasiun penelitian di Teluk Jakarta. Kadar logam berat diukur dengan alat Spektrofometer Penyerapan Atom. Hasil penelitian menunjukkan kadar Hg rerata berkisar 0,150-0,530 µg. g-1 dengan rerata total 0,362 µg. g-1, Timbal (Pb) 14,870-35,650 µg. g-1 dengan rerata total 21,774 µg. g-1, Kadmium (Cd) 0,110-0,280 µg. g-1 dengan rerata total 0,190 µg.g-1. Kadar rerata Hg, Pb dan Cd masih lebih rendah dari nilai ambang batas kualitas sedimen yang ditetapkan oleh Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup Indonesia 2010. Hasil analisis indeks menunjukkan nilai rerata faktor kontaminasi (CF) berturut-turut adalah Hg 0,685, Pb 0,352 dan Cd 0,380 (kontaminasi rendah) dan nilai indeks geo akumulasi berturut-turut adalah Hg 0,227, Pb 1,098 dan Cd 0,633 (tidak tercemar sampai tercemar sedang). Secara keseluruhan, berdasarkan nilai indeks beban pencemaran yakni -3.772 (PLI 1), sedimen di perairan ini termasuk kategori belum tercemar oleh Hg, Pb dan Cd. Keadaan ini perlu dipertahankan, agar kelestarian sumberdaya laut tetap terjaga.Kata kunci: Teluk Jakarta, sedimen, pencemaran, logam berat, penilaian

Page 1 of 4 | Total Record : 40


Filter by Year

2020 2020


Filter By Issues
All Issue Vol 14, No 4 (2025): December 2025 Vol 14, No 3 (2025): SEPTEMBER 2025 Vol 14, No 2 (2025): JUNE 2025 Vol 14, No 1 (2025): MARCH 2025 2025: Special Issue ICMF Vol 13, No 3 (2024): DECEMBER 2024 Vol 13, No 2 (2024): AUGUST 2024 Vol 13, No 1 (2024): APRIL 2024 Vol 12, No 3 (2023): DECEMBER 2023 Vol 12, No 2 (2023): AUGUST 2023 Vol 12, No 2 (2023): AUGUST 2023 (IN PROGRESS) Vol 12, No 1 (2023): APRIL 2023 Vol 11, No 3 (2022): DECEMBER 2022 Vol 11, No 2 (2022): August 2022 Vol 11, No 1 (2022): April 2022 Vol 10, No 3 (2021): December 2021 Vol 10, No 2 (2021): August 2021 Vol 10, No 1 (2021): April 2021 Vol 9, No 3 (2020): December 2020 Vol 9, No 2 (2020): August 2020 Vol 9, No 1 (2020): April 2020 Vol 8, No 3 (2019): December 2019 Vol 8, No 2 (2019): August 2019 Vol 8, No 1 (2019): April 2019 Vol 7, No 3 (2018): December 2018 Vol 7, No 2 (2018): August 2018 Vol 7, No 1 (2018): April 2018 Vol 6, No 3 (2017): December 2017 Vol 6, No 2 (2017): August 2017 Vol 6, No 1 (2017): April 2017 Vol 5, No 3 (2016): December 2016 Vol 5, No 2 (2016): August 2016 Vol 5, No 1 (2016): APRIL 2016. Vol 4, No 3 (2015): DECEMBER 2015 Vol 4, No 2 (2015): AUGUST 2015 Vol 4, No 1 (2015): APRIL 2015 Vol 3, No 3 (2014): Desember 2014 Vol 3, No 2 (2014): August 2014 Vol 3, No 1 (2014): April 2014 Vol 2, No 3 (2013): December 2013 Vol 2, No 2 (2013): August 2013 Vol 2, No 1 (2013): April 2013 Vol 1, No 3 (2012): December 2012 Vol 1, No 2 (2012): August 2012 Vol 1, No 1 (2012): April 2012 More Issue