cover
Contact Name
Sarah Wassar
Contact Email
jurnalredominate@gmail.com
Phone
+6281314842590
Journal Mail Official
jurnalredominate@gmail.com
Editorial Address
STT Kerusso Indonesia Jl. Bambu Kuning Selatan RT 003 RW 004 Bekasi 17114
Location
Kota bekasi,
Jawa barat
INDONESIA
Redominate : Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristiani
ISSN : -     EISSN : 27162877     DOI : https://doi.org/10.59947
REDOMINATE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristiani, merupakan wadah publikasi ilmiah dari hasil penelitian Teologi dan Pendidikan Agama Kristiani, serta diperuntukkan bagi semua dosen maupun peneliti, baik di lingkungan Sekolah Tinggi Teologi Kerusso Indonesia maupun institusi lain yang memiliki bidang kajian yang sama. Jurnal Redominate menggunakan sistem double-blind review. Adapun yang menjadi Fokus dan Ruang Lingkup dalam Jurnal REDOMINATE adalah: 1. Teologi Biblikal 2. Teologis sistematika 3. Kepemimpinan Kirsten 4. Pelayanan Kristiani 5. Pendidikan Kristiani 6. Konseling Kristen
Articles 51 Documents
Tinjauan Teologis tentang Tarian dan Manfaatnya bagi Pertumbuhan Rohani Eunike Eunike
REDOMINATE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 3, No 1: Juni 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kerusso Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59947/redominate.v3i1.21

Abstract

Dance is strongly connected to life, freedom, salvation, restoration and victory over the enemies. The Bible uses the word dance for the first time in the verse when Miriam took her tambourine and led the Israelites in a victorious dance after they had been set free from the Egyptians, who chased them into the red sea. God gave them salvation, victory, deliverance, and life. Miriam’s dance was a respond and expression of victory over the enemies (Ex. 15:20). Dance or body movement is a language of communication equal to words, music, or other expressed art. For this reason, when a dance is communicating the word of God, for certain people or in certain situations then it could be called a prophetic dance. To be a dancer is a great calling. A calling to bring back what has been taken from heaven, a calling to love God more and more, a calling to make a new covenant between men and God. Prophetic dance is a way to serve God through dance. In this way a dancer is not an artist who chooses to be served rather than to serve. But the principle is when one is appointed to be a leader, the more is his responsibility to serve his brethrens. Every movement is a body language to communicate the messages. Within the context of dance, every movement should carry a message in a way that people would understand the meaning when they see the dance. Abstrak Tarian mempunyai hubungan yang sangat kuat dengan kehidupan, kebebasan, keselamatan, pemulihan, dan kemenangan atas musuh-musuh. Alkitab menyebutkan kata tarian yang pertama di ayat tentang Miryam. Ketika dia mengambil tambourinenya dan memimpin orang Israel dalam sebuah tarian kemengangan setelah mereka dibebaskan dari orang-orang Mesir yang mengejar mereka di Laut Merah. Tuhan memberikan keselamatan, kemenangan, kebebasan, dan kehidupan. Tarian Miryam adalah respon dan ekspresi kemenangan atas musuh-musuh (Kel.15:20). Tarian atau gerakan tubuh adalah sebuah bahasa komunikasi sama seperti kata-kata, musik, atau kesenian yang dapat dilihat. Maka dari itu, ketika tarian sedang mengkomunikasikan Firman Tuhan untuk sebagian orang dan dalam situasi tertentu, inilah yang disebut profetik. Menjadi penari adalah sebuah panggilan yang sangat besar. Panggilan untuk mengembalikan apa yang pernah hilang dari Sorga, panggilan untuk mencintai Tuhan lebih dan lebih lagi, panggilan untuk membuat sebuah perjanjian yang baru antara umat manusia dengan Tuhan. Pelayanan tarian adalah cara melayani Tuhan melalui tarian. Artinya seorang penari bukanlah menjadi artis yang ingin untuk dilayani daripada melayani. Tetapi prinsip adalah semakin diangkat menjadi pemimpin, maka semakin besar tanggung jawab untuk melayani saudara-saudara. Setiap gerakan adalah bahasa tubuh yang mengkomunikasikan setiap pesan. Di dalam konteks tarian, setiap gerakan harus menyampaikan makna yang dapat dimengerti oleh orang yang melihatnya.
Pengaruh Karakteristik Kepemimpinan Yosua bagi Kepemimpinan Kristen di Era Modern Joshua Christian
REDOMINATE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 2, No 1: Juni 2020
Publisher : REDOMINATE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The topic of leadership becomes increasingly important because people are increasingly talking about and fighting over it as a determinant factor of the success of a job. Leadership plays an important role in determining the advance or setback of an organization or group. Joshua can be used as a figure in today's leadership. Speaking of character, Joshua is a very consistent person. This fact can be seen when Joshua became a servant of Moses. His life shows an example of great loyalty, obedience, commitment, determination, communicative and a strong faith. The incident of sending spies to the land of Canaan, Joshua and Caleb were not only determined to do what was assigned, but the determination that was in them was also shown in concrete actions. This event showed when the tasks and responsibilities are completed, the ten spies from the ten tribes of Israel gave exaggerated report about the condition of the land of Canaan and displayed pessimism and an exaggerated impression on the Israelites. Abstrak Mengenai topik kepemimpinan terasa semakin penting sebab tatkala orang semakin gencar membicarakan dan memperebutkannya sebagai penentu keberhasilan dari suatu pekerjaan. Tidak bisa dipungkiri bahwa kepemimpinan memiliki peranan penting dalam menentukan maju mundurnya suatu organisasi atau kelompok. Figur Yosua dapat dijadikan teladan dalam kepemimpinan masa kini. Berbicara tentang karakter, Yosua merupakan orang yang sangat konsisten. Kenyataan ini bisa dilihat ketika Yosua menjadi abdi Musa. Ia menunjukan kesetiaan, ketaatan, komitmen, keteguhan hati, komunikatif dan memiliki iman yang kokoh. Peristiwa pengiriman intelegen ke tanah Kanaan Yosua dan Kaleb tidak hanya bertekad untuk melakukan apa yang ditugaskan, tetapi tekad yang ada pada keduanya juga ditampilkan dalam tindakan-tindakan nyata. Ini terbukti ketika tugas dan tanggung jawab selesai, sepuluh pengintai dari sepuluh suku Israel membesar-besarkan keadaan segenap keberadaan tanah Kanaan serta menampilkan pesimisme dan kesan yang berlebihan pada bangsa Israel.
Mandat Ilahi tentang Menggembalakan Domba Indriati Tjipto Purnomo
REDOMINATE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 4, No 2: Desember 2022
Publisher : REDOMINATE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Shepherd is one of the four kinds of offices that are given responsibility by God and placed in the church and function for building the body of Christ. The shepherd is the leader who brings the congregation to maturity in Christ, Ephesians 4:11. God calls and places someone to be a shepherd to carry out the Divine mandate, which is to shepherd the sheep. The linguists in this study use a qualitative method, namely a theological review presented using literature or literature studies.  AbstrakGembala merupakan salah satu jawatan  dari empat macam jawatan yang diberikan tanggung jawab oleh Tuhan dan ditempatkan dalam gereja serta berfungsi untuk pembangunan tubuh Kristus. Gembala adalah pemimpin yang membawa jemat untuk mencapai kedewasaan di dalam Kristus, Efesus 4:11. Tuhan memanggil dan menempatkan seseorang menjadi gembala untuk melaksanakan mandat Ilahi yaitu menggembalakan domba-domba. Pembahasan dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif yaitu tinjauan teologis yang dipaparkan dengan menggunakan studi pustaka atau literatur. 
Penggunaan Musik Klasik Sebagai Media dalam Meningkatkan Kecerdasan Emosional kepada Anak Usia Balita 0-5 Tahun Evi Sondang Pangaribuan
REDOMINATE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 3, No 2: Desember 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kerusso Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59947/redominate.v3i2.29

Abstract

Children's behavior patterns are vulnerable to environmental influences. The attitudes and responses given by children are very much determined by the patterns of upbringing and the patterns of students from their environment, especially in the toddler years (0-5 years) which is called the golden age. This is a very important period because most of the children's brain development is dominated at that time, reaching 80%, while the next 20% will develop after an early age to 18 years of age. Children's emotional intelligence is a very important aspect to be developed, because it will determine children's behavior in the future. One of the appropriate stimuli is by using music, in this case classical music. Where music is the element closest to human life. AbstrakPola perilaku anak rentan dengan pengaruh sekitar. Sikap dan respon yang diberikan anak sangat ditentukan dari pola asuh dan pola didik dari lingkungannya, terutama di masa balita (0-5 tahun) yang disebut dengan golden age.  Masa yang sangat penting karena sebagian besar perkembangan otak anak didominasi pada masa tersebut yakni mencapai 80% sedangkan 20% selanjutnya akan berkembang setelah masa usia dini hingga umur 18 tahun. Kecerdasan emosi anak merupakan aspek yang sangat penting untuk dikembangkan, sebab akan menentukan perilaku anak di masa mendatang. Rangsangan yang tepat salah satunya dengan menggunakan musik, dalam hal ini musik klasik. Di mana musik adalah unsur yang paling dekat dengan kehidupan manusia.
Makna Tuhan Menyesal dalam Kitab Kejadian Sarah Wassar
REDOMINATE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 2, No 2: Desember 2020
Publisher : REDOMINATE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

God has the highest authority over everything in the region including the living creatures in it. God saw that the evil of mankind is great on earth and that all the tendencies of his heart always produce only evil. God's hatred of human wickedness, He saw as the wounded and humiliated by man. He saw it as a gentle Father who saw the ignorance and hardness of His rebellious and disobedient heart, which not only made Him angry but also grieved. It is this sin and evil that makes God regret, that He has made man on earth, and that heartbreak (Genesis 6: 6-7). Thus God regrets causing God to be sovereign in expressing his authority over humans. Abstrak Allah berkuasa memiliki otoritas tertinggi atas segala yang ada dalam wilayah termasuk makluk hidup yang berada di dalamnya. TUHAN melihat bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata. Kebencian Allah terhadap kefasikan manusia, Ia melihat sebagai pihak yang terluka dan terhina olehnya. Ia melihatnya seperti Bapa yang lembut melihat kebodohan dan kekerasan hati anak-Nya yang memberontak dan tidak patuh, yang tidak hanya membuat-NYA murka tetapi juga berduka. Dosa dan kejahatan inilah yang membuat Allah menyesal, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hati-Nya (Kej.6:6-7). Dengan demikian Allah menyesal mengakibatkan Allah berdaulat untuk menyatakan otoritasnya terhadap manusia.
Membangun Budaya Literasi Mahasiswa Pascapandemi melalui Optimalisasi Perpustakaan: Studi Kasus pada Perpustakaan STT Intheos Surakarta Pebrina Dwi Sari; Rifai Rifai; Ayub E Lande
REDOMINATE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 4, No 2: Desember 2022
Publisher : REDOMINATE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The Covid 19 pandemic, entering its third year, has brought many changes in all fields, including activities in the campus library. Libraries can no longer fully carry out complete face-to-face services, but various restrictions have been placed on reducing mobility and suppressing the transmission of the COVID-19 virus. Therefore, it is urgent for the recovery of the library after the pandemic, namely by optimizing the campus library so that library services can be felt again by the campus students. In addition, to re-earth the literacy culture and student interest in reading which has decreased due to the pandemic. Because one of the benchmarks for competent students in the 21st century is students who think critically, have global insight, and have high character and spiritualism. This study uses a descriptive qualitative research method with a case study approach that is focused on students of STT Intheos Surakarta and the efforts made by the campus library to optimize the library, including launching a campus literacy movement, socializing the program, creating a lecture reading corner, increasing the competence of librarians in digital libraries, digitizing theology books, maximizing social media as a means of promoting new book catalogs and improving modern library supporting infrastructure.  AbstrakMasa pandemi Covid 19 memasuki tahun ketiga ini telah membawa banyak perubahan dalam segala bidang, tidak terkecuali aktivitas di perpustakaan kampus. Perpustakaaan tidak bisa lagi sepenuhnya melakukan layanan tatap muka penuh tetapi dilakukan berbagai pembatasan guna mengurangi mobilitas dan menekan penularan virus Covid-19. Oleh sebab itu menjadi suatu urgensi guna pemulihan perpustakaan pasca pandemi yaitu dengan optimalisasi perpustakaan kampus sehingga layanan perpustakaan dapat kembali dirasakan oleh mahasiwa kampus tersebut. Selain itu mem-bumikan kembali budaya literasi dan minat baca mahasiswa yang menurun akibat pandemi. Karena salah satu tolok ukur mahasiswa yang kompeten di abad 21 adalah mahasiswa yang berfikir kritis, berwawasan global dan memiliki karakter serta spiritualisme yang tinggi. Penelitian ini meng-gunakan metode penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus yaitu difokuskan pada mahasiswa STT Intheos Surakarta dan upaya yang dilakukanperpustakaan kampus untuk optima-lisasi perpustakaan yaitu diantaranya: mencanangkan gerakan literasi kampus, mensosialisasikan program tersebut, membuat pojok baca kuliah, peningkatan kompetensi pustakawan dalam perpusta-kaan digital, digitalisasi buku – buku Teologi, memaksimalkan media sosial sebagai sarana promosi katalog buku baru dan peningkatan sarana prasarana penunjang perpustakaan masa kini.  
Kreativitas Guru dalam Meningkatkan Kemampuan Berhitung Kelompok B melalui Permainan Congklak Eny Suprihatin; Merci Padaela
REDOMINATE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 1, No 1 (2019): Desember 2019
Publisher : REDOMINATE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Play and games are an inseparable part of the learning process to develop early childhood skills. Knowledge of arithmetic can be delivered to early childhood, ages 5-6 years, by playing a game. The game is a game of congklak. Congklak is a traditional game that has the benefit of stimulating fine motor skills, and training the child's concentration. Research on Teacher Creativity in Improving Counting Ability of Group B Through the Congklak Game in the Integrated Mahanaim Christian Kindergarten, using the Classroom Action Research methodology. The research model used is the Kurt Lewin model. Four stages are carried out: planning, implementing, observing and reflecting. From the four cycles carried out the results are: of the 20 subjects studied the average achievement value was 6.6. 15 children in the high achievement category, 2 children in the moderate category, and 3 children in the low achievement category. Based on initial observations, it was concluded that there was a significant increase in numeracy skills. Abstrak Bermain dan permainan merupakan bagian tidak terpisahkan dalam proses pembelajaran untuk menumbuh kembangkan keterampilan anak usia dini. Pengetahuan berhitung dapat disampaikan kepada anak usia dini, usia 5-6 tahun, dengan memainkan suatu permainan. Permainan yang dimaksud adalah permainan congklak. Congklak merupakan permainan tradisional yang memiliki manfaat menstimulasi kemampuan motorik halus, dan melatih daya kosentrasi anak. Penelitian tentang Kreativitas Guru Dalam Meningkatkan Kemampuan Berhitung Kelompok B Melalui Permainan Congklak di TK Kristen Mahanaim Terpadu, menggunakan metodologi Penelitian Tindakan Kelas. Model PTK menurut Kurt Lewin. Empat tahapan yang dijalankan: perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Dari empat siklus yang dilaksanakan hasilnya adalah: dari 20 subjek yang diteliti rata-rata nilai pencapaian adalah 6,6. 15 anak masuk kategori pencapaian tinggi, 2 anak masuk kategori cukup, dan 3 anak masuk kategori pencapaian kurang. Berdasar observasi awal maka disimpulkan ada peningkatan kemampuan berhitung yang signifikan.
Konsep Penebusan dalam Kitab Rut Sarah Wassar
REDOMINATE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 4, No 1: Juni 2022
Publisher : REDOMINATE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Every believer who wants to experience God in daily life in making important and less important decisions, both consciously and unconsciously. The message that was conveyed was that a man by grace made the decision to redeem and renew a lost inheritance, and pure love removed all difficulties. The method used to explain the meaning of redemption in the book of Ruth is a literature study in the form of a literature study. Through the description of the literature review, the author finds the results of several biblical reviews of the concept of redemption in the book of Ruth. AbstrakSetiap orang percaya yang ingin berpengalaman dengan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari dalam membuat keputusan penting maupun kurang penting, baik sadar maupun tidak sadar. Berita yang disampaikan yaitu seorang laki-laki dengan kasih karunia membuat keputusan untuk menebus dan memperbaharui warisan yang hilang, serta kasih yang murni menghilangkan segala kesulitan. Metode yang dipakai untuk menjelaskan makna penebusan dalam kitab Rut yaitu studi literatur yang berupa kajian Pustaka. Melalui deskripsi kajian pustaka, maka Penulis menemukan hasil beberapa tinjauan yang alkitabiah tentang konsep penebusan dalam kitab Rut. 
Makna ‘’Didiklah Orang Muda’’ menurut Amsal 22:6 dan Relevansinya bagi Gereja Immanuela Deru
REDOMINATE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 3, No 1: Juni 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kerusso Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59947/redominate.v3i1.22

Abstract

Education is very vital to improve the quality of human resource. Therefore moral and spiritual education is very important for men in order to change the mindset, character, and increasing intelligence. Jesus startyed his ministry educating or teaching (Matthew 4:23). Every one who heard his teaching and believed him always experiences a change of attitude from bad to good (the apostles, Zaccheus, Samaritan woman). The Lord Jesus understood very well that education consists of very important teachings for one’s life. Teaching the Word of God contributed to the growth of the faith of the early church. It even contributed to the growth in quantity (Acts 2:41-42). The first and major Education agent here is the family. Parents are the main teacher for their children. Not only family, but then there is the church for the believers. As one of the assignments of the church is teaching (didache). The church has to teach or educate the people according to the Bible. Christian education needs to have the basic understanding that God is the source of knowledge or the Truth.3 The most important purpose of a Christian education is helping the students to know God through Jesus Christ, through His Word. To be able to achieve this, we need to have educators who deeply know God, through Jesus Christ and have experienced spiritual renewal. Abstrak Pendidikan sangat diperlukan untuk meningkatkan mutu dan kualitas sumber daya manusia. Oleh sebab itu pendidikan baik secara moral maupun keagamaan sangat penting bagi seseorang, agar dapat mengubah pola pikir, karakter, dan meningkatkan kecerdasan. Tuhan Yesus memulai pelayanan-Nya di dunia dengan mendidik atau mengajar (Matius 4:23). Setiap orang yang mendengar pengajaran-Nya dan mempercayai-Nya senantiasa mengalami suatu perubahan sikap, yaitu dari yang tidak baik menjadi baik (Para Rasul, Zakheus, Perempuan Samaria). Tuhan Yesus sangat memahami bahwa pendidikan berupa pengajaran sangat penting bagi kehidupan seseorang. Pertumbuhan jemaat mula-mula juga tidak lepas dari peranan pengajaran akan Firman Tuhan, sehingga jemaat mengalami pertumbuhan baik secara kualitas (iman) maupun kuantitas (jumlah) dengan pesat (Kis 2:41-42). Agen pendidikan yang terutama adalah keluarga. Orang tua adalah guru utama bagi para anak-anaknya. Tidak hanya keluarga, agen pendidikan lainnya bagi orang percaya adalah gereja. Salah satu tugas gereja adalah pengajaran (didache). Gereja harus memberikan pengajaran atau didikan yang benar secara Alkitabiah. Pendidikan atau pengajaran kristiani mempunyai pemahaman bahwa Allah adalah sumber pengetahuan dan kebenaran sejati.3 Maka tujuan tertinggi dari pendidikan atu pengajaran kristeaniadalah membantu peserta didik untuk belajar mengenal Allah di dalam Yesus Kristus melalui firman-Nya. Untuk mencapai tujuan itu, tentunya diperlukan pendidik yang sungguh-sungguh mengenal Allah di dalam Yesus Kristus dan mengalami pembaharuan secara spritual.
Karakter Manusia yang Dipimpin oleh Roh tidak Hidup di bawah Hukum Berdasarkan Galatia 5:18 Ipan Morris Pangaribuan
REDOMINATE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 2, No 1: Juni 2020
Publisher : REDOMINATE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Christianity believes and have faith in the Triune God. Each Person of the Trinity has different role but has the same attribute, namely both Holy, Powerful and worthy of worship. In the Christian life, Holy Spirit is another helper but of one kind as God Himself. The Holy Spirit is the Person promised by the Lord Jesus to His disciples. The Holy Spirit dwells and leads everyone who has believed in Christ and make their lives change drastically. The Spirit-led life is called ‘Life’, in the Greeks term “Peripatusin” (Peripatousin), meaning walking, in this case refers to all activities in the life of the believer.1 1 Corinthians 1:26 shows evidence of the transformation of those who have received and are led by the Holy Spirit in their hearts. Because of the leading of the Holy Spirit or the Spirit of God, the early Church grew very rapidly despite of great persecution. The Holy Spirit also reveals new and fresh truth to each generation. And through the Holy Spirit, people can repent, know and believe in Jesus (1 Corinthians 12:3) so that by the Spirit people can follow Christ’s example (2 Corintians 3:18)2. The role of the Holy Spirit in leading the Church today is to liberate the Church as a whole and to give boldness to the Church in witnessing for Him. Abstrak Agama Kristen percaya dan mengimani Allah Tri Tunggal. Masing-masing Pribadi Allah Tritunggal mempunyai peran yang berbeda namun mempunyai kesetaraan yang sama, yaitu sama-sama Allah yang Kudus, berkuasa dan yang layak disembah. Dalam kehidupan keKristenan Roh Kudus merupakan penolong yang lain tetapi dari satu jenis yaitu Allah sendiri. Roh Kudus adalah pribadi yang dijanjikan oleh Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya. Roh Kudus mendiami dan memimpin setiap orang yang telah percaya kepada Kristus serta membuat kehidupan mereka berubah drastis. Hidup yang dipimpin Roh disebut juga sebagai ‘Hidup’, yang dalam istilah Yunaninya “Peripatusin” (Peripatousin), yang artinya berjalan, dalam hal ini menunjuk pada segala aktifitas/ kegiatan kehidupann orang percaya. Dalam I Korintus 1:26 adalah bukti tentang berubahnya orang-orang yang telah menerima dan yang dipimpin oleh Roh Kudus di dalam hati mereka. Oleh karena pimpinan Roh Kudus atau Roh Allah Jemaat mula-mula sangat pesat pertumbuhannya walaupun didera penderitaanyang sangat besar. Roh juga menyingkapkan kebenaran-kebenaran baru kepada setiap generasi. Dan melalui Roh orang dapat bertobat, mengenal dan percaya pada Yesus (1 Korintus 12:3) sehingga oleh karena Roh manusia dapat mengikuti teladan Kristus (2 Korintus 3:18). Peran Roh Kudus dalam memimpin jemaat zaman sekarang adalah dengan memerdekakan jemaat secara utuh serta memberi keberanian kepada jemaat dalam bersaksi.