cover
Contact Name
Maria Evvy Yanti
Contact Email
jurnalefata@gmail.com
Phone
+6281312414725
Journal Mail Official
jurnalefata@gmail.com
Editorial Address
Jl. Wijaya I No.29-31, RT.2/RW.4, Petogogan, Kec. Kebayoran Baru, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12170
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Efata: Jurnal Teologi dan Pelayanan
ISSN : 24771333     EISSN : 27228215     DOI : https://doi.org/10.47543
Jurnal EFATA merupakan wadah publikasi online hasil penelitian para dosen di Sekolah Tinggi Teologi Iman Jakarta, pada bidang teologi dan pelayanan Kristiani. Jurnal EFATA diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Iman Jakarta, dengan Focus and Scope adalah: 1. Teologi Sistematika 2. Teologi Biblika 3. Teologi Pastoral 4. Misiologi 5. Pelayanan Kristiani
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 11, No 2: Juni 2025" : 7 Documents clear
Koinonia sebagai Spiritualitas Persahabatan Lintas Iman: Sebuah Tawaran Konstruktif Teologi Kristen Siahaan, Harls Evan R.; Putri, Agustin Soewitomo; Pardede, Nurmalia; Sumakul, Nicolien Meggy
Jurnal EFATA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 11, No 2: Juni 2025
Publisher : STT Iman Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47543/efata.v11i2.188

Abstract

This constructive theological study examines the potential of koinonia as a theological foundation for authentic interfaith spiritual friendship. This research demonstrates that koinonia has universal aspects rooted in the Trinity that can inform interfaith relationships while preserving the distinctiveness of Christian beliefs. This study employs a constructive theology methodology alongside a library research approach to analyze primary biblical sources and secondary scholarship from both classical and contemporary traditions. The research demonstrates that koinonia's ability to involve and transform people, primarily through the work of the Holy Spirit, facilitates an understanding of the Spirit's life-giving role even outside of church settings. Friendship spirituality, which serves as a mode of interfaith koinonia, offers deeper personal engagement than formal dialogue models; it is characterized by mutual vulnerability, a commitment to shared flourishing, and the celebration of diversity as a divine gift. For Indonesian churches, this framework provides practical guidance for navigating pluralistic contexts while maintaining theological integrity. The study contributes to global interfaith discourse by bridging international scholarship with Indonesian contextual wisdom, offering an innovative synthesis between Trinitarian theology and interfaith engagement. Abstrak Studi teologi konstruktif ini mengeksplorasi potensi koinonia sebagai fondasi teologis bagi spiritualitas persahabatan lintas iman yang autentik. Kajian ini menunjukkan bahwa koinonia memiliki aspek yang bersifat umum yang berakar pada konsep Trinitas dan bisa menjadi model untuk hubungan antaragama tanpa menghilangkan ciri khas Kristen. Dengan menggunakan metode teologi konstruktif dan penelitian pustaka, studi ini memeriksa sumber-sumber utama dari Alkitab dan penelitian tambahan dari tradisi lama dan baru. Penelitian menunjukkan bahwa sifat partisipatif dan mengubah dari koinonia, terutama aspek yang berkaitan dengan Roh Kudus, memberikan ruang teologis untuk mengakui kerja Roh Kudus yang memberi kehidupan di luar batas-batas gereja. Spiritualitas persahabatan sebagai cara koinonia antaragama memberikan keterlibatan pribadi yang lebih mendalam dibandingkan dengan model dialog formal, yang ditandai oleh kerentanan bersama, komitmen untuk kesejahteraan bersama, dan perayaan keragaman sebagai anugerah ilahi. Bagi gereja-gereja di Indonesia, kerangka ini memberikan panduan praktis untuk menghadapi berbagai kepercayaan sambil tetap menjaga keyakinan teologis mereka. Studi ini menambah pembicaraan tentang hubungan antaragama di seluruh dunia dengan menghubungkan penelitian internasional dengan kebijaksanaan yang ada di Indonesia, serta memberikan gabungan baru antara teologi Trinitarian dan keterlibatan antaragama.
Pemberdayaan Jemaat dalam Pelestarian Lingkungan Berbasis Etika Alkitabiah Marbun, Ernida
Jurnal EFATA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 11, No 2: Juni 2025
Publisher : STT Iman Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47543/efata.v11i2.206

Abstract

The global environmental crisis demands a comprehensive response from various institutions, including religious communities. This study explores the potential for empowering Christian congregations in environmental conservation efforts through a biblical ethical approach. This study analyzes the theological foundations of environmental conservation, an effective model of congregational empowerment, and the practical implementation of biblical ethics in a contemporary ecological context by using a qualitative methodology that includes a hermeneutic-theological approach and a participatory case study. The research findings indicate that the concept of stewardship in the Christian tradition provides a strong ethical foundation for active congregational involvement in environmental conservation. The developed empowerment model integrates spiritual, educational, and practical dimensions through a participatory approach involving all congregation members. Program implementation demonstrated a significant increase in ecological awareness, changes in environmentally friendly behavior, and communal engagement in conservation initiatives. This study contributes to the development of practical ecological theology, providing a framework for mobilizing religious communities to address environmental challenges. Practical implications include the development of faith-based ecological education curricula, ecotheological communication strategies, and partnership models between religious institutions and environmental organizations. Abstrak Krisis lingkungan global menuntut respons komprehensif dari berbagai institusi, termasuk komunitas religius. Penelitian ini mengeksplorasi potensi pemberdayaan jemaat Kristen dalam upaya pelestarian lingkungan melalui pendekatan etika Alkitabiah. Menggunakan metodologi kualitatif dengan pendekatan hermeneutik-teologis dan studi kasus partisipatif, penelitian ini menganalisis landasan teologis pelestarian lingkungan, model pemberdayaan jemaat yang efektif, dan implementasi praktis etika Alkitabiah dalam konteks ekologis kontemporer. Temuan penelitian menunjukkan bahwa konsep stewardship (penatalayanan) dalam tradisi Kristen menyediakan fondasi etis yang kuat untuk keterlibatan aktif jemaat dalam pelestarian lingkungan. Model pemberdayaan yang dikembangkan mengintegrasikan dimensi spiritual, edukatif, dan praktis melalui pendekatan partisipatif yang melibatkan seluruh anggota jemaat. Implementasi program menunjukkan peningkatan signifikan dalam kesadaran ekologis, perubahan perilaku ramah lingkungan, dan keterlibatan komunal dalam inisiatif pelestarian. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan teologi ekologi praktis dan memberikan bingkai kerja untuk mobilisasi komunitas religius dalam menghadapi tantangan lingkungan. Implikasi praktis mencakup pengembangan kurikulum pendidikan lingkungan berbasis iman, strategi komunikasi ekoteologi, dan model kemitraan antara institusi religious dan organisasi lingkungan.
Revitalisasi Prinsip Pendidikan Hieronimus bagi Pendidikan Perempuan di Indonesia: Kajian Historis dan Kontekstual Cahyono, Heru; Hasiholan, Anggi Maringan
Jurnal EFATA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 11, No 2: Juni 2025
Publisher : STT Iman Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47543/efata.v11i2.223

Abstract

The revitalization of women's education requires an approach that emphasizes not only cognitive development but also spirituality, ethics, and social engagement. The principle of Disciplina Christiana, derived from Jerome's ascetic thought, provides an alternative curricular framework for addressing the challenges of women's education in Indonesia's plural and patriarchal context. The focus lies in shaping women as autonomous subjects—faithful, critical, and compassionate—rather than passive objects within the educational system. This study aims to formulate a transformative educational model by employing a qualitative method with a historical-hermeneutical approach and theological analysis. Three key areas are highlighted: lectio sacra as a spiritual practice that helps women connect with their faith, disciplina vitae to develop strong morals and self-discipline, and actio caritatis as a way to engage in helping others and promoting social justice actively. These pillars are integrated into the contextual and transformative praxis of Christian religious education. The result is a curricular model that not only shapes character but also strengthens women's agency and participation in building a more just and compassionate society. Abstrak Revitalisasi pendidikan perempuan membutuhkan pendekatan yang tidak hanya menekankan aspek kognitif, tetapi juga spiritualitas, etika, dan keberpihakan sosial. Prinsip Disciplina Christiana dari pemikiran asketik Hieronimus memberikan ide untuk kurikulum alternatif yang cocok untuk mengatasi tantangan pendidikan perempuan di Indonesia yang beragam dan patriarkal. Fokusnya adalah pada pembentukan perempuan sebagai subjek otonom yang beriman, kritis, dan berbelarasa, bukan sebagai objek pasif dalam sistem pendidikan. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan model pendidikan yang transformatif dengan menggunakan metode kualitatif dan pendekatan hermeneutik historis serta analisis teologis. Tiga pilar utama yang dikembangkan adalah lectio sacra sebagai praktik spiritual yang membantu perempuan mengenali identitas religius, disciplina vitae sebagai cara untuk membangun ketahanan moral dan keteraturan hidup, serta actio caritatis sebagai motivasi untuk terlibat aktif dalam pelayanan dan keadilan sosial. Ketiga pilar ini diintegrasikan ke dalam praksis Pendidikan Agama Kris-ten yang kontekstual dan transformatif. Hasilnya adalah model kurikulum yang tidak hanya membentuk karakter, tetapi juga memperkuat agensi dan partisipasi perempuan dalam masyarakat yang lebih adil dan penuh kasih.
Pembalasan Setimpal (Lex Talionis) dalam Kitab Obaja: Telaah Teologis terhadap Konsep Keadilan Allah Yanti, Maria Evvy; Lamsir, Seno
Jurnal EFATA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 11, No 2: Juni 2025
Publisher : STT Iman Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47543/efata.v11i2.220

Abstract

The Book of Obadiah is the shortest book among the minor prophets, with various interpretations, especially in interpreting the principle of lex talionis in Obadiah 1:15b. Different approaches certainly produce diverse theologies. For example, some interpret the prophetic theology of lex talionis as the context of God's judgment on the Edomites. Some write that the principle of lex talionis is the basis for punishment for the Edomites, and the evidence shows that Edom's actions that bring evil to Israel will be repaid with the same suffering. There is also an opinion that prophetic theology, as exemplified in the tradition of lex talionis and Obadiah 1:15b, encompasses not only vengeance but also God's justice, His faithfulness to His people, and a warning to nations that commit evil. The purpose of writing this article is to undertake a study of the practice of lex talionis in Obadiah 1:15b as a form of God's justice. The method used is the analysis of prophetic theology through the interpretation of social history. The interpretation of lex talionis in Obadiah 1:15b reveals three key aspects: (1) the consequences of punishment for the nations' crimes, (2) the application of lex talionis as a manifestation of God's justice, and (3) salvation as the hope for those who endure punishment as a form of justice. Abstrak Kitab Obaja merupakan kitab terpendek di antara kitab nabi-nabi kecil dengan beragam penafsiran, khususnya dalam menafsirkan prinsip lex talionis, dalam Obaja 1:15b. Pendekatan yang berbeda tentu menghasilkan teologi yang beragam pula. Misalnya, ada yang menafsirkan bahwa teologi kenabian tentang lex talionis sebagai konteks penghakiman Allah atas bangsa Edom. Ada juga yang menuliskan bahwa prinsip lex talionis sebagai dasar hukuman bagi bangsa Edom dan ini menunjukkan bahwa tindakan Edom yang mendatangkan kejahatan bagi Israel akan dibalas dengan penderitaan yang sama. Terdapat pula pendapat bahwa teologi kenabian melalui tradisi lex talionis Obaja 1:15b bukan hanya tentang pembalasan, tetapi juga tentang keadilan Allah, kesetiaan-Nya kepada umat-Nya, dan peringatan bagi bangsa-bangsa yang berbuat jahat. Tujuan penulisan artikel ini ialah untuk menemukan telaah praktik lex talionis dalam Obaja 1:15b sebagai bentuk keadilan Allah. Metode yang digunakan ialah analisis teologi kenabian melalui tafsir sejarah sosial. Hasilnya ialah bahwa interpretasi lex talionis dalam Obaja 1:15b meliputi (1) konsekuensi hukuman bagi kejahatan bangsa-bangsa, (2) berlakunya prinsip lex talionis sebagai bentuk keadilan Allah, dan (3) adanya keselamatan sebagai pengharapan umat dibalik penghukuman yang dialami umat sebagai bentuk keadilan.
Transformasi Paradigmatik Pendidikan Kristiani melalui Spiritualitas Persahabatan: Rekonstruksi Teologis-Pedagogis Berdasarkan Yohanes 15:12-15 Putri, Ayu; Poroe, Herman; Sonata, Valeria
Jurnal EFATA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 11, No 2: Juni 2025
Publisher : STT Iman Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47543/efata.v%vi%i.221

Abstract

This research examines paradigmatic transformation in Christian education through the implementation of friendship spirituality as a response to the dichotomy between academic achievement and holistic character formation. Employing interpretive qualitative methodology with a theological hermeneutical approach to John 15:12-15, this study analyzes the relational construction between cognitive, affective, and spiritual dimensions in contemporary Christian education. Research findings suggest that spirituality of friendship, rooted in the concepts of philia and agape within the Johannine tradition, offers a theoretical framework for holistic pedagogical transformation. The implementation of friendship spirituality through virtue ethics-based character education, dialogical collaborative learning, the internalization of transformative service values, and the creation of inclusive learning communities can lead to integral Christian education. Results indicate that this approach is capable of forming students who possess intellectual competence, moral integrity, mature spirituality, and high social sensitivity within the context of a plural society. Abstrak Penelitian ini mengkaji transformasi paradigmatik dalam pendidikan Kristiani melalui implementasi spiritualitas persahabatan sebagai respons terhadap dikotomi antara pencapaian akademik dan pembentukan karakter holistik. Melalui metodologi kualitatif interpretatif dengan pendekatan hermeneutik teologis terhadap perikop Yohanes 15:12-15, penelitian ini menganalisis konstruksi relasional antara dimensi kognitif, afektif, dan spiritual dalam pendidikan Kristiani kontemporer. Temuan penelitian menunjukkan bahwa spiritualitas persahabatan yang berfundasi pada konsep philia dan agape dalam tradisi Johannine memberikan kerangka teoritis bagi transformasi pedagogis yang holistik. Implementasi spiritualitas persahabatan melalui pendidikan karakter berbasis virtue ethics, pembelajaran kolaboratif dialogis, internalisasi nilai-nilai pelayanan transformatif, dan penciptaan komunitas belajar inklusif dapat merealisasikan pendidikan Kristiani yang integral. Hasil penelitian mengindikasikan bahwa pendekatan ini mampu membentuk peserta didik yang memiliki kompetensi intelektual, integritas moral, spiritualitas yang matang, serta sensitivitas sosial yang tinggi dalam konteks masyarakat plural.
Abraham "Sahabat Allah" dalam Tawarikh 20:7 sebagai Ingatan Budaya Adi, Hery Setyo
Jurnal EFATA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 11, No 2: Juni 2025
Publisher : STT Iman Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47543/efata.v%vi%i.211

Abstract

"Abraham, your friend"—a title that appears in 2 Chronicles 20:7—holds deep theological significance for the post-exilic people of Judah. This article presents a study of that title using the cultural memory method developed by Jan Assmann alongside the historical-critical method. The findings reveal that the mention of Abraham as God’s friend in King Jehoshaphat’s public prayer serves as a means of reactivating the collective memory of Judah’s communal identity and theological foundation in the face of crisis. The redaction of the Book of Chronicles during the Persian post-exilic period demonstrates that the memory of Abraham as God’s friend functioned both as foundational memory and contra-present memory to build identity, generate hope, and strengthen the legitimacy of Judah’s post-exilic existence. The memory of Israel as the descendants of Abraham, the friend of God, shaped a collective identity that distinguished Israel from other nations and affirmed their spiritual claim to the Promised Land, despite their political subjugation under Persian rule. The contemporary implication of this study offers a theological perspective for Christian communities to uphold their faith identity amid pressure through spiritual strategies such as theological memory, perseverance in prayer, and nonviolent resistance. Abstrak “Abraham, sahabat-Mu,” sebuah julukan yang muncul dalam 2 Tawarikh 20:7, memiliki makna teologis yang mendalam bagi bangsa Yehuda pascapembuangan. Artikel ini merupakan hasil studi mengenai julukan tersebut dengan menggunakan metode ingatan budaya yang dikembangkan Jan Assmann dan metode kritik historis. Temuan menunjukkan bahwa penyebutan Abraham sebagai sahabat Allah dalam doa publik Raja Yosafat merupakan sarana mengaktifkan ingatan masa lalu tentang identitas komunal dan dasar teologis keberadaan bangsa Yehuda untuk menghadapi situasi krisis. Peredaksian kitab Tawarikh pada masa pascapembuangan periode Persia memperlihatkan ingatan tentang Abraham sahabat Allah sebagai foundational memory dan contra-present memory sekaligus guna membangun identitas, menciptakan harapan, dan memperkuat legitimasi keberadaan Yehuda pascapembuangan. Ingatan tentang Israel, keturunan dari Abraham yang adalah sahabat Allah, juga membentuk identitas kolektif untuk membedakan Israel dari bangsa-bangsa lain, serta meneguhkan klaim spiritual atas tanah perjanjian meskipun secara politis berada di bawah kekuasaan Persia. Implikasi kontemporer dari kajian ini memberikan pandangan teologis bagi komunitas Kristen untuk mempertahankan identitas imannya di tengah tekanan, melalui strategi spiritual, yakni ingatan teologis, ketekunan berdoa, dan tidak melakukan perlawanan secara fisik.
Teologi Ekologi sebagai Teologi Publik: Tanggung Jawab Kristen dalam Menghadapi Krisis Lingkungan Purwanto, Edi
Jurnal EFATA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 11, No 2: Juni 2025
Publisher : STT Iman Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47543/efata.v11i2.208

Abstract

Krisis lingkungan global akibat perubahan iklim telah menjadi tantangan multidimensi yang tidak hanya berdampak ekologis, tetapi juga sosial dan spiritual. Artikel ini menganalisis kontribusi ecotheology sebagai bentuk teologi publik Kristen dalam merespons tantangan tersebut. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi pustaka, penelitian ini mengeksplorasi dasar-dasar teologis ecotheology, peranannya dalam ruang publik, serta hambatan implementasinya dalam konteks masyarakat plural. Hasil kajian menunjukkan bahwa ecotheology menekankan nilai intrinsik ciptaan, keadilan ekologis, dan spiritualitas ekologis sebagai ekspresi iman yang mengarah pada tanggung jawab kolektif terhadap keberlanjutan bumi. Sebagai teologi publik, ecotheology mendorong gereja untuk terlibat dalam pendidikan, advokasi kebijakan, dan transformasi praksis sosial demi masa depan ciptaan yang adil dan lestari. Penelitian ini menyimpulkan bahwa integrasi teologi ekologi ke dalam misi gereja bukan hanya sebuah pilihan reflektif, melainkan bagian dari kesaksian iman Kristen di tengah krisis zaman.

Page 1 of 1 | Total Record : 7