cover
Contact Name
Maria Evvy Yanti
Contact Email
jurnalefata@gmail.com
Phone
+6281312414725
Journal Mail Official
jurnalefata@gmail.com
Editorial Address
Jl. Wijaya I No.29-31, RT.2/RW.4, Petogogan, Kec. Kebayoran Baru, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12170
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Efata: Jurnal Teologi dan Pelayanan
ISSN : 24771333     EISSN : 27228215     DOI : https://doi.org/10.47543
Jurnal EFATA merupakan wadah publikasi online hasil penelitian para dosen di Sekolah Tinggi Teologi Iman Jakarta, pada bidang teologi dan pelayanan Kristiani. Jurnal EFATA diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Iman Jakarta, dengan Focus and Scope adalah: 1. Teologi Sistematika 2. Teologi Biblika 3. Teologi Pastoral 4. Misiologi 5. Pelayanan Kristiani
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 8, No 1: Desember 2021" : 6 Documents clear
Gereja Menyikapi Arus Globalisasi Digital Samarenna, Desti
Jurnal EFATA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 8, No 1: Desember 2021
Publisher : STT Iman Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47543/efata.v8i1.54

Abstract

This article focuses on the situation that occurred in the current of globalization from the beginning of its development and attitudes towards the situation. The influence of digital globalization has provided a lot of progress and convenience for many people, especially the church. This article is a literature review with a qualitative approach to churches responding to digital globalization. The purpose of writing is to understand the development of the church situation in the era of digital globalization and find solutions for how the church responds to the flow of digital globalization. The method used in this research is library research, namely research conducted through collecting scientific data aimed at the object of research or data collection that is a library in nature, or studies carried out to solve a problem which is basically focused on critical and in-depth study. to relevant library materials. Therefore there are several things that the church does as follows: First, the church needs to “show up” on the internet. A digital church presence requires a simple website that has a legible sign and a name so that it can be found on Google Maps, Facebook, and Instagram showing where people are looking. Second, the church incorporates a digital strategy into all levels of ministry.AbstrakArtikel ini berfokus pada sitausi yang terjadi dalam arus globalisasi dari awal perkembangannya dan sikap terhadap situasi tersebut. Pengaruh globalisasi digital telah memberikan banyak kemajuan dan kemudahan bagi banyak orang terlebih gereja. Artikel ini merupakan kajian literatur dengan pendekatan kualitatif tentang gereja menyikapi arus globalisasi digital. Tujuan penulisan adalah memahami perkembangan situasi gereja di era globalisasi digital dan menemukan solusi bagaimana gereja menyikapi arus globalisasi digital. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kepustakaan atau library research, yakni penelitian yang dilakukan melalui mengum-pulkan data ilmiah yang bertujuan dengan obyek penelitian atau pengumpulan data yang bersifat kepustakaan, atau telaah yang dilaksanakan untuk memecahkan suatu masalah yang pada dasarnya tertumpu pada penelaahan kritis dan mendalam terhadap bahan-bahan pustaka yang relevan. Oleh karena itu ada beberapa hal yang dilakukan oleh gereja sebagai berikut: Pertama, gereja perlu “muncul” di internet. Kehadiran gereja digital membutuhkan website sederhana yang memiliki tanda yang dapat dibaca dan nama sehingga dapat ditemukan di Google Map, facebook, Instagram yang menunjukkan tempat yang dilihat orang. Kedua, gereja memasukkan strategi digital ke dalam semua tingkat pelayanan.
Kajian Isu Toxic Masculinity di Era Digital dalam Perspektif Sosial dan Teologi Novalina, Martina; Flegon, Akedka Starde; Valentino, Benaya; Gea, For Sukur Iman
Jurnal EFATA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 8, No 1: Desember 2021
Publisher : STT Iman Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47543/efata.v8i1.56

Abstract

In social life, we are faced with various cultures. One of them is the culture of toxic masculinity. This toxic masculinity culture actually has a significant impact on men's mentality, even though at a glance the main signs such as power, control, and violence at first glance give these men their own prestige. The impact of toxic masculinity is not only felt by men, but also by women as victims. This study wants to examine the issue of toxic masculinity from a social and biblical perspective by using a literature study approach. The results obtained are Toxic masculinity is a culture that must be abolished in social life, both within the scope of social society and the church. The wrong paradigm in society about masculinity certainly cannot be overcome by eliminating the responsibility of men as they should be, and also replacing it with feminism. Gender-based behavior should be avoided and replaced with behavior based on beneficial values. Within the scope of the church itself, may gender-based ministry be eliminated, because God himself has never distinguished His people based on gender differences. AbstrakDalam kehidupan bermasyarakat, kita diperhadapkan dengan beragam budaya. Salah satunya adalah budaya toxic maskulinity. Budaya toxic masculinity ini ternyata memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap mental laki-laki, walaupun secara kasat mata tanda-tanda utama seperti kekuasaan, kontrol, maupun kekerasan sekilas memberikan prestise tersendiri bagi kaum adam tersebut. Dampak dari toxic masculinity ini bukan hanya dirasakan oleh laki-laki, tetapi juga perempuan sebagai korban-nya. Penelitian ini ingin mengkaji isu tentang toxic masculinity dari perspektif sosial dan Alkitab dengan menggunakan pendekatan studi literatur. Hasil yang didapat adalah Toxic masculinity adalah budaya yang harus dihapuskan dalam kehidupan bermasyarakat, baik dalam ruang lingkup masyarakat sosial maupun gereja. Paradigma yang salah dalam masyarakat tentang maskulinitas tentunya tidak bisa diatasi dengan menghilangkan tanggung jawab laki-laki sebagaimana mestinya, dan juga mengganti-nya dengan feminisme. Perilaku berbasis gender sebaiknya dihindarkan dan diganti dengan perilaku berdasarkan nilai-nilai yang bermanfaat. Dalam ruang lingkup gereja sendiri, kiranya pelayanan berba-sis gender dihilangkan, karena Allah sendiripun tidak pernah membedakan umat-Nya berdasarkan perbedaan gender.  
Penderitaan Kristus dalam Formasi Spiritual yang Mengedukasi Orang Percaya Anjaya, Carolina Etnasari; Fernando, Andreas; Arifianto, Yonatan Alex
Jurnal EFATA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 8, No 1: Desember 2021
Publisher : STT Iman Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47543/efata.v8i1.52

Abstract

Di balik penderitaan Tuhan Yesus sejatinya ada prinsip-prinsip dan  makna yang sangat penting untuk dipahami dan teladani. Pemahaman penderitaan Tuhan di kayu salib tidak hanya sebatas pada perkara penebusanNya atas dosa manusia dan bukti kasihNya kepada umat manusia, namun lebih daripada itu. Tujuan penelitian memberikan pemahaman kepada pembaca mengenai makna penderitaan Kristus dari perspektif pendidikan Kristen. Bagaimana sikap dan responNya dalam menjalani rangkaian penderitaan merupakan fokus penelitian ini dan melaluinya  menjadi refleksi orang percaya tidak hanya sebatas ketika menghadapi penderitaan, namun dalam menjalani totalitas kehidupan.  Hasil penelitian ini adalah pemahaman bahwa serangkaian kisah penderitaan Kristus memiliki makna pendidikan bagi orang percaya. Melalui rangkaian pengalaman penderitaan Tuhan Yesus, orang percaya mendapatkan pendidikan  mengenai formula kehidupan yang harus dijalani umatNya secara total. Orang percaya mendapatkan teladan nyata bagaimana kehidupan harus dijalani dan karakter apa yang harus dimiliki agar berkenan padaNya. Secara garis besar formula tersebut sebagai berikut:  pertama, kasih kepada Tuhan dan sesama sebagai fondasi kehidupan. Kedua, hidup yang terus terhubung dengan Tuhan melalui doa dan firman Tuhan. Ketiga, perubahan pola pikir/akal budi dan penguasaan diri. Keempat, kekuatan bertahan dalam penderitaan. Kelima, pengampunan tanpa syarat. Keenam, rela melepaskan segala sesuatu- hidup tidak terikat dengan dunia. Ketujuh, kerendahanhati, melepaskan egoisme dan kepentingan diri. Kedelapan, bertanggungjawab secara total, berintegritas, rela berkorban, hidup penuh syukur  tanpa sungut-sungut  Kesembilan, percaya sepenuhnya kepada Tuhan dan taat serta mengandalkanNya dalam segala perkara. Metode yang digunakan adalah kualitatif melalui kajian pustaka mengenai tema penderitaan dan penebusan Tuhan Yesus.
Penggunaan Media Audio Visual dalam Pengajaran Sekolah Minggu di Gereja Kemah Tabernakel, Bumiayu, Salatiga Setiawati, Hani Martha Puji; Octavianus, Steaven; Sari, Dwi Novita
Jurnal EFATA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 8, No 1: Desember 2021
Publisher : STT Iman Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47543/efata.v8i1.58

Abstract

Education in the industrial revolution 4.0 has increased in terms of technology. Early Sunday school learning, which only used the lecture method, is now using various methods. The audio-visual teaching method is a combination of image and sound, this method makes the child's sense of hearing and sense of sight easier to understand the material presented. Audio-visual media does not only depend on laptops or LCD projectors, but teachers can provide alternative audio-visual methods using painted or printed images accompanied by spiritual song instruments using speakers or gadgets. It makes Sunday school teachers think more creatively by using existing equipment in anticipation of problems with the laptop or LCD projector. Based on this fact, the researcher gave this solution to Sunday school teachers and it was well-received. This study uses a qualitative approach with a focus group discussion technique aimed at Sunday school teachers at the Bumiayu Tabernacle Camp Church. The researcher uses this method to find alternative audio-visual methods. Based on the results of interviews, observations, and documentation, researchers found that Sunday school teachers at the Bumiayu Tabernacle Camp Church were already using alternative audio-visual methods in Sunday school learning. AbstrakPendidikan pada revolusi industry 4.0 mengalami peningkatan dalam segi teknologi. Pembelajaran sekolah minggu yang awalnya yang hanya menggunakan metode ceramah saat ini sudah menggunakan berbagai cara metode. Metode audio visual adalah penggabungan antara gambar dan suara, hal ini membuat indera pendengaran dan indera penglihatan anak menjadi lebih mudah memahami materi yang disampaikan. Media audio visual tidak hanya bergantung dari laptop atau lcd proyektor, akan tetapi pengajar dapat memberikan alternatif metode audio visual menggunakan gambar yang dilukis atau dicetak dengan diiringin instrument lagu rohani menggunakan speaker atau gawai. Hal ini membuat guru sekolah minggu untuk berpikir lebih kreatif dengan menggunakan peralatan yang ada sebagai antisipasi jika terjadi kendala pada lapto atau lcd proyektor. Untuk itu peneliti memberikan solusi ini kepada guru sekolah minggu dan diterima dengan baik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik focus group discussion yang ditujukan ke guru sekolah minggu di Gereja Kemah Tabernakel Bumiayu. Sehingga diskusi mengenai alternatif metode audio visual dapat terlaksana. Berdasarkan hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi peneliti mendapati bahwa guru sekolah minggu di Gereja Kemah Tabernakel Bumiayu sudah menggunakan alternatif metode audio visual pada pembelajaran sekolah minggu.
Dialog Kehidupan Ayub Memproklamirkan Kemahakuasaan Allah dalam Bentuk Keadilan dan Kebenaran Panjaitan, Firman; Purba, Novi Aling
Jurnal EFATA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 8, No 1: Desember 2021
Publisher : STT Iman Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47543/efata.v8i1.49

Abstract

God's justice and righteousness are central themes in living life. A life filled with God's justice and righteousness will bring happiness and prosperity. Therefore, God's justice and truth need to be dialogued so that a life filled with prosperity will be realized in real terms. However, it must be admitted that God's justice and truth are not easy to understand, therefore efforts are needed to continue to seek and find God so that humans can feel and realize God's justice and truth in life. The difficulty of understanding God's justice and righteousness is evident in the events of Job's suffering. Many opi-nions, based on an understanding of the theology of retribution, want to show that Job's suffering occurred because of Job's sinfulness. But actually, the incident of Job is a real example of God trying to dialogue His justice and truth with humans. By using a qualitative method that is realized in the form of a literature approach, this article would like to reveal that the incident of Job's suffering is God's way to invite people to be more submissive and enter into the continuous search for God. God's justice and truth need to be dialogued continuously so that humans understand God more correctly.  AbstrakKeadilan dan kebenaran Allah merupakan salah satu tema sentral dalam menjalani kehidupan. Kehidupan yang dipenuhi keadilan dan kebenaran Allah akan mendatangkan kebahagiaan dan kesejahteraan. Oleh sebab itu keadilan dan kebenaran Allah perlu untuk didialogkan agar kehidupan yang dipenuhi dengan kesejahteraan akan terwujud secara nyata. Namun harus diakui bahwa keadilan dan kebenaran Allah tidaklah mudah untuk dipahami, karena itu dibutuhkan upaya untuk terus mencari dan menemukan Allah agar manusia dapat merasakan sekaligus mewujudnyatakan keadilan dan kebenaran Allah itu di dalam kehidupan. Sulitnya memahami keadilan dan kebenaran Allah tampak dalam peristiwa penderitaan Ayub. Banyak pendapat, dengan didasarkan pada pemahaman teologi retribusi, hendak menunjukkan bahwa penderitaan Ayub terjadi karena keberdosaan Ayub. Namun sebenarnya peristiwa Ayub merupakan contoh nyata dari Allah yang berupaya mendialogkan keadilan dan kebenaran-Nya kepada manusia. Dengan menggunakan metode kualitatif yang diwujudkan dalam bentuk pendekatan literatur, artikel ini hendak mengungkap bahwa peristiwa penderitaan Ayub merupakan cara Allah untuk mengajak manusia semakin tunduk dan masuk dalam upaya pencarian Allah dengan terus menerus. Keadilan dan kebenaran Allah perlu untuk didialogkan terus menerus, agar manusia semakin memahami Allah dengan benar.  
Penguasa, Keadilan, dan Umat: Menelisik Pesan Teologi Mikha 3:1-12 sebagai Kritik Sosial Yanti, Maria Evvy; Mahlon, Mahlon
Jurnal EFATA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 8, No 1: Desember 2021
Publisher : STT Iman Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47543/efata.v8i1.57

Abstract

 Pesan teologi Mikha 3:1-12 menimbulkan beragam penafsiran bersifat multiaplikasi. Sebagai bagian dari komposisi Mikha 1-3 maka teks Mikha 3:1-12 dikatakan sebagai materi autentik dari sang Nabi. Pandangan ini menjadi problematis ketika disandingkan dengan Mikha 3:5-8 yang menunjukkan sebagai tambahan dari redaktur. Pandangan tradisional telah bergeser ketika teologi Mikha tidak berdasarkan pada satu makna teologi saja karena berakar pada periode konteks pembacanya. Terdapat usaha penulis atau redaktur yang melaporkan keluhan-keluhan dari periode yang beragam dengan perkembangan teks secara berangsur sepanjang waktu membentuk teologi sejarah. Tulisan ini memperlihatkan pesan teologi teks Mikha 3:1-12 yang terfokus pada kritik sosial terhadap para pemimpin dalam kehidupan umat. Dengan menempatkan orasi nabi dalam sejarah kehidupan umat yang menyuarakan kehadiran Tuhan dengan keadilan-Nya. 

Page 1 of 1 | Total Record : 6