cover
Contact Name
putri khairina masta
Contact Email
putrikhairinamasta@gmail.com
Phone
+6281270247587
Journal Mail Official
fotografi.isipadangpanjang@gmail.com
Editorial Address
Jalan Bahder Johan no 35 , Guguak Malintang, Padangpanjang Timur
Location
Kota padang panjang,
Sumatera barat
INDONESIA
Matalensa Journal of Photography and Media
ISSN : -     EISSN : 28095812     DOI : 10.26887/matalensa.v2i1
Matalensa: Journal of Photography and Media (ISSN- 2809-5812) is a peer-reviewed journal dedicated to the promotion and dissemination of scholarly research on photography and media. Particular attention is paid to works dealing with photography and media studies using an interdisciplinary perspective, especially within photography and media. The journal is published biannually, in February and August, by the Department of Photography, Faculty of Arts and Design, Institut Seni Indonesia Padang Panjang.
Articles 94 Documents
Makanan di Nagari Pariangan dalam Food Photography gemi junilda; Dira Herawati
Matalensa: Journal of Photography and Media Vol 6, No 2 (2026): Matalensa: Journal Of Photography and Media
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/matalensa.v6i2.31172

Abstract

Penelitian skripsi karya ini bertujuan untuk mendokumentasikan dan memvisualisasikan keanekaragaman makanan tradisional di Nagari Pariangan, Kabupaten Tanah Datar, ke dalam karya seni fotografi makanan (Food Photography) sebagai upaya pelestarian warisan identitas budaya kuliner lokal yang mulai langka akibat perkembangan zaman dan maraknya makanan modern. Nagari Pariangan, yang dikenal sebagai nagari tertua (Nagari Nan Tuo) dalam historiografi Minangkabau sekaligus salah satu desa terindah di dunia, memiliki kekayaan kuliner berbasis pemanfaatan bahan baku lokal dan teknik pengolahan tradisional yang erat kaitannya dengan struktur sosial serta upacara adat masyarakat setempat. Melalui pendekatan Food Photography sebagai bagian dari cabang fotografi still life, pengkarya mengeksplorasi dan memvisualisasikan 20 jenis hidangan khas yang kini mulai jarang dijumpai dan umumnya hanya muncul pada momen tertentu seperti pernikahan, mando'a, baralek anak daro, turun mandi, batagak batu (pemasangan nisan), keluarga berkabung, hingga sunat rasul. Objek penciptaan tersebut meliputi: Pangek Kacang Paga, Timaba, Samba Lado Cangkuak, Samba Lado Karok, Lado Tanak, Kuah Lamak, Nasi Pangek, Sagun, Sarabai Bakarambia, Pinyaram, Kacimuih, Darai Karambia, Situai, Nasi Randan, Limbadua, Maco Panggang, Timandi, Galu-Galu, Dendeng Pisang Hijau, serta Sagu Gonai. Guna mengatasi kurangnya dokumentasi visual yang memadai dan berkualitas bagi generasi muda, proses pewujudan karya seni ini dirancang menggunakan konsep tradisional minimalis dengan menerapkan komposisi fotografi, teknik fotografi, serta teknik pengambilan foto yang tepat, sehingga menghasilkan representasi visual yang estetik,
Kehidupan Pengrajin Kapuk Lansia Simawang dalam Fotografi Dokumenter Dilla Lisa Amanda; Yuli Hendra Multi Albar
Matalensa: Journal of Photography and Media Vol 6, No 2 (2026): Matalensa: Journal Of Photography and Media
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/matalensa.v6i2.31179

Abstract

“Kehidupan Pengrajin Kapuk Lansia Simawang dalam Fotografi Dokumenter” merupakan fenomena sosial yang merepresentasikan ketahanan individu dalam mempertahankan mata pencaharian tradisional di tengah perubahan zaman. Aktivitas mengolah kapuk yang telah diwariskan secara turun-temurun tidak hanya menjadi sumber ekonomi, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai kerja keras, kesabaran, serta kearifan lokal yang masih bertahan dalam kehidupan masyarakat. Namun, keberadaan profesi ini semakin terancam oleh perkembangan teknologi, perubahan kebutuhan masyarakat, dan minimnya regenerasi pengrajin kapuk tradisional. Penciptaan karya fotografi dokumenter ini bertujuan untuk merepresentasikan kehidupan pengrajin kapuk lansia di Simawang melalui media fotografi sebagai upaya dokumentasi visual sekaligus bentuk apresiasi terhadap pelaku kerja tradisional. Metode yang digunakan dalam penciptaan karya adalah metode eksplorasi, dilakukan melalui observasi lapangan, pendekatan terhadap subjek, pengumpulan data visual, serta pendalaman terhadap aktivitas dan lingkungan kehidupan pengrajin kapuk lansia. Teknik photostory digunakan untuk membangun alur cerita visual yang berkesinambungan, sementara teknik naratif diterapkan untuk memperkuat penyampaian makna, emosi, dan pesan yang terkandung dalam setiap rangkaian foto. Dalam penciptaan karya fotografi ini, menghasilkan 23 karya fotografi dokumenter yang disusun berdasarkan alur dan aktivitas pengrajin kapuk lansia, mulai dari lingkungan kerja, proses kerja, interaksi sosial, hingga refleksi terhadap keberlangsungan profesi tersebut di masa depan. Keseluruhan karya menampilkan realitas kehidupan pengrajin kapuk secara autentik dan objektif. Karya ini diharapkan dapat berkontribusi dalam pelestarian warisan budaya, mata pencarian tradisional, serta memperkaya khazanah fotografi dokumenter sebagai media penelitian sosial, budaya, ekonomi, dan arsip yang berguna di masa mendatang.Kata Kunci: Fotografi Dokumenter, Simawang, Eksplorasi, Photostory, Naratif.
Legenda bujang sambilan dalam fotografi konseptual Zam Zami; Nefri Anra Saputra
Matalensa: Journal of Photography and Media Vol 6, No 2 (2026): Matalensa: Journal Of Photography and Media
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/matalensa.v6i2.31201

Abstract

The scientific article entitled “Bujang Sambilan”aims to revive the Minangkabau folktale as a medium for cultural preservation while introducing it to younger generations through a conceptual photography approach. The theoretical framework includes conceptual photography theory as the basis for conveying ideas through visual media, Roland Barthes' semiotic theory to examine the denotative and connotative meanings of the symbols presented, and photographic aesthetics theory, which encompasses composition, lighting, color, and camera angles in constructing a visual narrative. The creative process was carried out through the stages of data collection, literature review, observation, concept development, character and costume creation using action figure dummies, storyboard preparation, photography sessions, and digital processing (digital imaging). The final outcome consists of a series of photographic works that visualize the legend of Bujang Sambilan, beginning with the introduction of the characters, continuing through the conflict, and culminating in the formation of Lake Maninjau. The use of visual symbols and photographic techniques is intended to convey moral values such as honesty, justice, loyalty, and the negative consequences of slander and prejudice. This work is expected to serve as an effective educational and cultural preservation medium for reintroducing Minangkabau folklore to the public, especially the younger generation.
ANALISIS PENERAPAN KOMPOSISI JUXTAPOSITION DALAM STREET PHOTOGRAPHY KARYA TAVEPONG PRATOOMWONG PADA INSTAGRAM @TAVEPONG_STREET Wiladatul Aini; Cindi Adelia Putri Emas
Matalensa: Journal of Photography and Media Vol 6, No 2 (2026): Matalensa: Journal Of Photography and Media
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/matalensa.v6i2.31207

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan komposisi juxtaposition dalam street photography karya Tavepong Pratoomwong. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif interpretatif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan studi kepustakaan. Data berupa karya foto yang digunakan dalam penelitian ini didapatkan dari unggahan akun instagram @tavepong_street dalam rentang tahun 2014 – 2018. Analisis data dilakukan menggunakan teori komposisi juxtaposition untuk mengidentifikasi bentuk hubungan visual yang muncul dalam setiap karya foto tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam setiap karya street photography yang dihasilkan Tavepong Pratoomwong menerapkan komposisi juxtaposition dengan cara penempatan elemen-elemen yang berbeda secara berdampingan dengan posisi secara bersebelahan, berdekatan dan tumpang tindih. Juxtaposition terbentuk dari perbedaan ukuran, perbedaan aktivitas, kemiripan bentuk, kemiripan warna, serta penyatuan visual secara tumpang tindih. Hubungan visual tersebut menghasilkan berbagai kesan dan makna seperti, humor, ironi, kejutan visual dan paradoks. Selain itu, penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan penerapan komposisi juxtaposition dalam street photography dipengaruhi oleh kemampuan fotografer dalam memanfaatkan momem, sudut pandang, perspektif, serta ketajaman mata dalam mengamati lingkungan sekitar.Kata kunci: Juxtaposition, Komposisi Fotografi, Street Photography, Tavepong Pratoomwong

Page 10 of 10 | Total Record : 94