cover
Contact Name
Muhammad Zuhair Zahid
Contact Email
zuhairzahid@mail.unnes.ac.id
Phone
+6285729226625
Journal Mail Official
zuhairzahid@mail.unnes.ac.id
Editorial Address
Jalan Tamansiswa Kelurahan Sekaran Gunungpati Kota Semarang
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
PRISMA, Prosiding Seminar Nasional Matematika
ISSN : -     EISSN : 26139189     DOI : -
Core Subject : Education,
PRISMA, Prosiding Seminar Nasional Matematika, mempublikasikan ide, gagasan, hasil penelitian matematika atau pembelajarannya. Prisma diterbitkan berkala setiap tahun, sebagai ajang publikasi seminar nasional yang diselenggarakan oleh Jurusan Matematika Fakultas MIPA Universitas Negeri Semarang. Naskah yang dipublikasikan telah dipresentasikan dalam pertemuan ilmiah tersebut. PRISMA diterbitkan setiap Februari pada tahun setelah pelaksanaan Seminar Nasional Matematika UNNES.
Articles 837 Documents
PENERAPAN TEORI PERKEMBANGAN MENTAL JEAN PIAGET TERHADAP HUKUM KEKEKALAN VOLUME
PRISMA, Prosiding Seminar Nasional Matematika Vol 6 (2023): PRISMA, Prosiding Seminar Nasional Matematika XVI
Publisher : Jurusan Matematika FMIPA UNNES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh faktor adanya teori perkembangan mental yang telah diungkapkan oleh Jean Piaget terhadap hukum kekekalan volume serta penerapannya pada anak-anak usia 5-9 tahun. Adanya penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkatan hukum kekekalan volume berdasarkan usia anak. Dalam penelitian ini, kami menggunakan metode wawancara dan pendekatan kualitatif deskriptif. Kegiatan pokoknya, mendeskripsikan kesesuaian dan membuktikan apakah anak usia 5-9 tahun sudah memahami konsep hukum kekekalan volume yang telah diungkapkan oleh Jean Piaget. Menurut hasil penelitian yang kami lakukan terhadap 4 subjek, ada 1 subjek yang dapat memahami hukum kekekalan volume, sedangkan 3 subjek lainnya belum memahami hukum kekekalan volume. Kesimpulannya penerapan teori hukum kekekalan volume terhadap anak-anak usia 5-9 tahun masih belum sesuai.
Kemampuan Berpikir Kritis ditinjau dari Gaya Berpikir pada Model Problem Based Learning Berbasis Pemodelan Matematika Berbantuan Classwiz Emulator
PRISMA, Prosiding Seminar Nasional Matematika Vol 6 (2023): PRISMA, Prosiding Seminar Nasional Matematika XVI
Publisher : Jurusan Matematika FMIPA UNNES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis apakah model pembelajaran PBL berbasis pemodelan matematika berbantuan classwiz emulator efektif terhadap kemampuan berpikir kritis matematis siswa dan mendeskripsikan kemampuan berpikir kritis matematis siswa ditinjau dari gaya berpikir menurut Gregorc. Metode yang digunakan adalah metode kombinasi (mixed method). Populasi di penelitian ini adalah siswa kelas X di salah satu MA Negeri di Pati tahun pelajaran 2022/2023. Teknik pengambilan sampel menggunakan cluster random sampling. Subjek dipilih dari kelas eksperimen. Pemilihan subjek dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling atas pertimbangan terhadap karakteristik dari populasi. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan angket gaya berpikir, tes kemampuan berpikir kritis, dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Kemampuan berpikir kritis matematis siswa pada model PBL berbasis pemodelan matematika berbantuan classwiz emulator mencapai ketuntasan berdasarkan rata-rata, (2) rata-rata kemampuan berpikir kritis matematis siswa yang mengikuti pembelajaran PBL berbasis pemodelan matematika berbantuan classwiz emulator lebih dari rata-rata kemampuan berpikir kritis matematis siswa pada pembelajaran dengan model ekspositori, (3) peningkatan kemampuan berpikir kritis matematis siswa pada pembelajaran PBL berbasis pemodelan matematika berbantuan classwiz emulator lebih dari rata-rata peningkatan kemampuan berpikir kritis matematis siswa pada pembelajaran dengan model ekspositori. Dapat disimpulkan bahwa pembelajaran PBL berbasis pemodelan matematika berbantuan classwiz emulator efektif dengan kemampuan berpikir kritis matematis siswa. Selain itu, diperoleh deskripsi kemampuan berpikir kritis matematis siswa pada masing-masing gaya berpikir, yakni: (1) siswa dengan gaya berpikir Sekuensial Konkret tidak mampu memenuhi indikator kemampuan berpikir kritis; (2) siswa dengan gaya berpikir Sekuensial Abstrak mampu memenuhi indikator kemampuan berpikir kritis.; (3) siswa dengan gaya berpikir Acak Konkret mampu memenuhi indikator kemampuan berpikir kritis; (4) siswa dengan gaya berpikir Acak Abstrak cenderung mampu memenuhi indikator kemampuan berpikir kritis.
Teori Perkembangan Kognitif Jean Piaget Tahap Operasional Konkret Pada Anak Usia 6-11 Tahun Terhadap Hukum Kekekalan Luas
PRISMA, Prosiding Seminar Nasional Matematika Vol 6 (2023): PRISMA, Prosiding Seminar Nasional Matematika XVI
Publisher : Jurusan Matematika FMIPA UNNES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesesuaian teori perkembangan kognitif oleh Jean Piaget pada tahap Operasional Konkret terhadap pemahaman konsep hukum kekekalan luas pada anak usia 8 – 9 tahun. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Subjek dalam penelitian ini adalah enam orang anak yang berusia 6 – 11 tahun, dimana satu orang anak berjenis kelamin laki-laki dan lima orang anak lainnya berjenis kelamin perempuan. Ada dua cara dalam melakukan penelitian ini, yaitu melihat video dan melakukan percobaan secara langsung. Berdasarkan hasil pembahasan penelitian, maka simpulan dari penelitian ini adalah bahwa anak pada usia tahap Operasional Konkret belum semuanya mampu memahami konsep hukum kekekalan luas. Hal ini berarti, hukum kekekalan luas teori Piaget yang menjadi dasar penelitian ini belum tentu terbukti kebenarannya. Selain itu, perlunya pembelajaran yang berbasis penemuan diajarkan kepada anak, sehingga anak akan lebih berkembang tingkat pemikirannya serta dapat mandiri dan kreatif.
Implementasi Teori Perkembangan Piaget Pada Perkembangan Mental Anak Ditinjau dari Hukum Kekekalan Berat
PRISMA, Prosiding Seminar Nasional Matematika Vol 6 (2023): PRISMA, Prosiding Seminar Nasional Matematika XVI
Publisher : Jurusan Matematika FMIPA UNNES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Menurut Piaget ada enam tahap dalam perkembangan belajar anak yang disebut dengan hukum kekekalan. Salah satu dari hukum kekekalan tersebut adalah hukum kekekalan berat. Hukum kekekalan berat menyatakan bahwa berat suatu benda akan tetap, meskipun bentuk, tempat, dan atau penimbangan benda tersebut berbeda. Pada umumnya anak akan memahami hukum kekekalan berat setelah berusia sekitar 9-10 tahun. Tujuan : penelitian ini (1) untuk mengetahui pemahaman hukum kekekalan berat pada anak dan (2) untuk membuktikan benar atau tidaknya teori dari Piaget. Metode : Metode yang digunakan adalah penelitian dan wawancara terhadap anak yang berusia lebih dari 9-10 tahun, kurang dari 9-10 tahun dan tepat berusia 9-10 tahun. Hasil Penelitian : menunjukkan bahwa (1) ternyata anak belum mampu memahami hukum kekekalan berat. Hal ini dikarenakan (2) anak masih mudah terkecoh oleh bentuk yang lebih besar. Kesimpulan : Jadi, kesimpulan yang terbentuk dari penelitian ini adalah anak belum mampu memahami hukum kekekalan berat dan teori Piaget tidak selamanya terbukti.
Penerapan Teori Perkembangan Mental dalam Hukum Kekekalan Volume Menurut Jean Piaget
PRISMA, Prosiding Seminar Nasional Matematika Vol 6 (2023): PRISMA, Prosiding Seminar Nasional Matematika XVI
Publisher : Jurusan Matematika FMIPA UNNES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesesuaian perkembangan mental anak berusia 11-12 tahun dalam memahami konsep kekekalan volume menurut teori perkembangan mental Jean Piaget. Penelitian ini berjenis kuantitatif dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Populasi dalam penelitian ini diambil 8 sampel penelitian diantaranya adalah 2 anak yang usianya dibawah teori, 5 anak yang usianya sesuai teori, dan 1 anak yang usianya di atas teori. Instrumen yang digunakan adalah berupa tes wawancara dan dipadukan dengan eksperimen sederhana yang dilakukan langsung di depan anak. Dalam penelitian ini, menggunakan gelas dan mangkuk sebagai wadah dengan zat yang digunakan yaitu air. Berdasarkan hasil analisis data, diketahui ternyata 1 anak yang usianya di bawah teori kurang mampu memahami konsep kekekalan volume, sedangkan 1 anak lainnya yang usianya di bawah teori, 5 anak yang usianya sesuai teori dan 1 anak yang usianya di atas teori sudah mampu memahami konsep kekekalan volume dengan baik dan benar sesuai dengan teori perkembangan mental Jean Piaget.
Telaah Model Challenge Based Learning Bernuansa STEM Terintegrasi Video Pembelajaran terhadap Kemampuan Berpikir Kreatif
PRISMA, Prosiding Seminar Nasional Matematika Vol 6 (2023): PRISMA, Prosiding Seminar Nasional Matematika XVI
Publisher : Jurusan Matematika FMIPA UNNES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mempersiapkan lulusan yang siap menghadapi tuntutan abad ke-21 merupakan salah satu hal yang perlu disiapkan dalam bidang pendidikan. Berpikir kreatif menjadi salah satu keterampilan 4C, keterampilan 4C merupakan tututan bagi lulusan di abad ke-21. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana pengaruh pembelajaran berbasis STEM-CBL terintegrasi video pembelajaran terhadap kemampuan berpikir kreatif siswa. Kajian studi literatur dilakukan melalui analisis hasil studi nasional dan internasional untuk menemukan inovasi pembelajaran matematika yang dapat mengembangkan kemampuan berpikir kreatif siswa. Inovasi model Challenge Based Learning (CBL) bernuansa Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) terintegrasi video pembelajaran menjadi salah satu alternatif dalam menyiapkan lulusan yang memiliki kemampuan berpikir kreatif. Tercatat bahwa penggunaan model CBL membuat siswa berkreasi dan berinovasi sehingga dapat mengembangkan kemampuan berpikir kreatif mereka. Pembelajaran bernuansa STEM yang bermakna memberikan sentuhan tersendiri dalam mengembangan kemampuan berpikir kreatif siswa. Integrasi video pembelajaran akan memunculkan kreativitas siswa, meningkatkan partisipasi dan pemahaman siswa, dan menciptakan komunikasi yang lebih efektif dan efisien. Dengan demikian, inovasi model CBL bernuansa STEM terintegrasi video pembelajaran dapat memberikan dampak yang baik terhadap kemampuan berpikir kreatif siswa. Lebih lanjut, dapat dikembangkan bahan ajar yang terintegrasi dengan inovasi pembelajaran tersebut untuk meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa.
Analisis Kemampuan Berpikir Kritis Peserta Didik dalam Menunjang Penguatan Profil Pelajar Pancasila
PRISMA, Prosiding Seminar Nasional Matematika Vol 6 (2023): PRISMA, Prosiding Seminar Nasional Matematika XVI
Publisher : Jurusan Matematika FMIPA UNNES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kemampuan berpikir kritis merupakan bagian dari salah satu elemen projek penguatan profil pelajar Pancasila yaitu bernalar kritis. Pelajar yang berpikir kritis mampu secara objektif memproses informasi, membangun keterkaitan antara berbagai informasi, mengevaluasi dan menyimpulkannya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan berpikir kritis peserta didik dalam menyelesaikan soal barisan dan deret. Penelitian dengan pendekatan deskriptif kualitatif ini mengumpulkan data menggunakan teknik tes dan wawancara. Sebanyak 33 orang peserta didik SMAN 1 Kampar mengerjakan soal tes kemampuan berpikir kritis. Hasil tes kemampuan berpikir kritis yang diperoleh pada indikator interpretasi, analisis, evaluasi, dan inferensi berturut-turut adalah 18%, 23%, 30% dan 24%. Hasil penelitan ini menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kritis peserta didik masih tergolong rendah pada materi barisan dan deret. Informasi yang mendalam melalui wawancara diperoleh dari 6 orang subjek penelitian yang menyatakan bahwa peserta didik belum terbiasa menyelesaikan soal-soal berpikir kritis saat pembelajaran di kelas. Guru disarankan untuk melatih kemampuan berpikir kritis peserta didik dalam proses pembelajaran dalam rangka menunjang penguatan profil pelajar Pancasila.
Kesesuaian teori perkembangan kognitif piaget dalam memahami hukum kekekalan bilangan pada anak usia 3-11 tahun
PRISMA, Prosiding Seminar Nasional Matematika Vol 6 (2023): PRISMA, Prosiding Seminar Nasional Matematika XVI
Publisher : Jurusan Matematika FMIPA UNNES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesesuaian antara teori perkembangan kognitif yang dikemukakan oleh Jean Piaget dengan perkembangan kognitif anak-anak pada usia 6-7 tahun dalam memahami hukum kekekalan yang terfokuskan pada hukum kekekalan bilangan Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Deskripsi Kualitatif terhadap 8 anak dengan rentang usia 3-11 tahun yang meliputi kegiatan pemberian tes, wawancara, dan percobaan sederhana dengan media yang digunakan berupa kardus dan penjepit kertas (clips) yang disusun menjadi 2 formasi yaitu formasi renggang dan rapat. Penelitian ini menghasilkan kesimpulan bahwa diketahui 4 anak belum memahami hukum kekekalan bilangan dan 4 anak sudah memahami hukum kekekalan bilangan berdasarkan konsep hukum kekekalan bilangan yang dikemukakan oleh Jean Piaget.
Kemampuan Berpikir Komputasi Siswa SMP Ditinjau dari Self-Efficacy pada Model Pembelajaran Problem Based Learning Berbantuan Edmodo
PRISMA, Prosiding Seminar Nasional Matematika Vol 6 (2023): PRISMA, Prosiding Seminar Nasional Matematika XVI
Publisher : Jurusan Matematika FMIPA UNNES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Berpikir komputasi merupakan salah satu kemampuan yang penting dimiliki oleh siswa dalam menghadapi perkembangan Information and Communication Technologies di abad ke-21. Berpikir komputasi melatih seseorang untuk memecahkan masalah di dunia nyata dengan cara berpikir kreatif, efektif, dan logis. Penelitian ini bertujuan untuk menguji keefektifan Problem Based Learning berbantuan Edmodo terhadap kemampuan berpikir komputasi siswa dan mendeskripsikan kemampuan berpikir komputasi siswa ditinjau dari self-efficacy. Penelitian ini menggunakan metode campuran dengan model sequential explanatory design. Subjek penelitian adalah siswa kelas VIII SMP Negeri 5 Banjarbaru. Teknik pengambilan data yang digunakan adalah tes, angket, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran Problem Based Learning berbantuan Edmodo efektif terhadap kemampuan berpikir komputasi siswa. Dalam aspek berpikir komputasi, siswa dengan self-efficacy tinggi memiliki keyakinan dan kepercayaan diri tinggi, serta mampu memenuhi empat indikator berpikir komputasi yaitu dekomposisi, pengenalan pola, abstraksi, dan berpikir secara logaritmik. Siswa dengan self-efficacy sedang memiliki keraguan dan kurang rasa percaya diri ketika dihadapkan dengan suatu masalah, serta siswa hanya mampu memenuhi tiga indikator berpikir komputasi. Sedangkan siswa self-efficacy rendah memiliki keraguan, kurang rasa percaya diri, dan kurang yakin dalam menghadapi tantangan atau tugas yang diberikan, serta siswa hanya mampu memenuhi dua indikator berpikir komputasi.
Implementasi Teori Perkembangan Mental Piaget pada Anak Usia 5-8 Tahun Berdasarkan Konsep Hukum Kekekalan Bilangan
PRISMA, Prosiding Seminar Nasional Matematika Vol 6 (2023): PRISMA, Prosiding Seminar Nasional Matematika XVI
Publisher : Jurusan Matematika FMIPA UNNES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Berdasarkan teori perkembangan mental dari Piaget, terdapat empat tahapan perkembangan kognitif pada anak, salah satunya adalah tahap konkret. Pada tahap konkret, anak mulai memahami konsep kekekalan. Bagi pendidik, teori Piaget sangat relevan karena pendidik dapat mengetahui kemampuan berpikir anak sesuai dengan hukum kekekalannya. Namun, Piaget melakukan penelitian ini dengan anak yang ada di negara asalnya, yaitu negara Swiss, sehingga ada kemungkinan terjadi ketidaksesuaian dalam penerapan teori. Penelitian tentang perkembangan kognitif anak tergolong jarang dilakukan di Indonesia. Hal ini membuat adanya ketertarikan untuk melakukan percobaan sederhana dalam mengukur pemahaman anak tentang hukum kekekalan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsep kekekalan namun hanya terbatas pada pengujian kekekalan bilangan terhadap anak usia 5–8 tahun yang ada di lingkungan sekitar. Penelitian ini dilaksankan menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan bantuan berupa melihat gambar dan membandingkan jumlah antar dua gambar. Penelitian ini dilakukan oleh empat orang anak dengan rentang usia 5-8 tahun sebagai subjeknya. Berdasarkan dari hasil penelitian, maka disimpulakan bahwa anak yang berusia 5 tahun belum memahami hukum kekekalan bilangan sedangkan anak yang berusia 6-8 tahun sudah memahami hukum kekekalan bilangan secara normal namun masih diperlukan scaffolding.