cover
Contact Name
Rudy Budiatmaja
Contact Email
rudyatmaja12398@gmail.com
Phone
+6285928918217
Journal Mail Official
rudyatmaja12398@gmail.com
Editorial Address
https://e-journal.usd.ac.id/index.php/Divinitas/about/editorialTeam
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual
ISSN : 29885434     EISSN : 29882311     DOI : 10.24071
Divinitas: Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual develops contextual Philosophical and Theological discourses in dialogue with sociological, anthropological, comparative religion, religious studies, historical, cultural and psychological perspectives and takes the diversity of Asian societies and cultures as its context. The journal is open to undergraduated student, graduated student and scholars from all religious backgrounds.
Articles 74 Documents
Munus Regendi dan Rasionalitas Moral dalam Pendirian Lembaga Katolik Neonnub, Patricius; Subani, Yohanes
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 4, No 1 (2026): Divinitas January
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v4i1.13671

Abstract

This study examines the juridical and philosophical foundations of ecclesiastical authority in the establishment of public juridic persons (erectio canonica) within the Catholic Church. Using a normative–conceptual approach grounded in natural law theory and canon law, it argues that ecclesiastical authority derives its legitimacy not merely from institutional power but from moral rationality rooted in munus regendi, the pastoral office of governing in Christ’s name. The study finds that erectio canonica functions as both a legal and theological act, ensuring that Catholic institutions act in nomine Ecclesiae and maintain fidelity to the Church’s salvific mission. In Indonesia, harmonizing canon law and civil law remains essential to secure both legal validity and ecclesial legitimacy. The research concludes that genuine ecclesiastical authority integrates legality, morality, and pastoral mission toward the bonum commune ecclesiae.AbstrakPenelitian ini mengkaji dasar yuridis dan filosofis otoritas Gerejawi dalam pendirian badan hukum publik (erectio canonica) di dalam Gereja Katolik. Dengan pendekatan normatif–konseptual yang berlandaskan teori hukum alam dan hukum kanonik, penelitian ini menegaskan bahwa otoritas Gerejawi memperoleh legitimasi bukan dari kekuasaan kelembagaan, melainkan dari rasionalitas moral yang bersumber pada munus regendi—tugas pastoral untuk memimpin atas nama Kristus. Erectio canonica berfungsi sebagai tindakan hukum sekaligus teologis yang menjamin lembaga Katolik bertindak in nomine Ecclesiae dan tetap setia pada misi keselamatan Gereja. Dalam konteks Indonesia, sinergi antara hukum kanonik dan hukum sipil menjadi kunci bagi keabsahan hukum dan legitimasi eklesial. Penelitian ini menyimpulkan bahwa otoritas Gerejawi sejati menyatukan legalitas, moralitas, dan misi pastoral demi bonum commune ecclesiae.
Me-Liyan-kan Perempuan dalam Filsafat Relasionalitas Armada Riyanto dan Ata Pe’ang dalam Budaya Manggarai Hagoldin, Sebastianus; Ebak, Agustinus Renal
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 4, No 1 (2026): Divinitas January
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v4i1.13811

Abstract

Focus this paper is comparing the concept of othering women in Armada's Relational Philosophy and the concept of ata pe'ang (outsider) in Manggarai culture. The method used is a critical analysis with a comparative approach between the concept of othering women in Armada's Relational Philosophy and the concept of ata pe'ang in Manggarai culture. The author finds that the label of ata pe'ang has shackled women, thus viewing them as the other. This shackling is rooted in a misunderstanding of the concept of ata pe'ang as intended by the Manggarai ancestors. Relational Philosophy can serve as a critical lens for this reality. Relational philosophy provides a new contribution, namely that ata pe'ang must be viewed as relational subjects, and it critiques the marginalization of women in Manggarai culture. Furthermore, Armada's philosophical concept helps reconstruct unequal cultural practices and affirms that women, as ata pe'ang, can be agents of change in communal life.AbstrakFokus tulisan ini adalah membuat komparasi konsep me-liyan-kan perempuan dalam filsafat Relasionalitas Armada dan konsep ata pe’ang (orang luar) dalam budaya Manggarai. Metode yang digunakan ialah analisis kritis dengan pendekatan komparatif antara konsep me-liyan-kan perempuan filsafat Relasionlitas Armada dan konsep ata pe’ang dalam budaya Manggarai. Penulis menemukan bahwa pelabelan ata pe’ang telah membelenggu kaum perempuan sehingga perempuan dipandang sebagai liyan. Keterbelengguan tersebut berakar pada kesalahpahaman terhadap konsep ata pe’ang sebagaimana dimaksudkan oleh para leluhur orang Manggarai. Filsafat Relasionalitas dapat menjadi lensa kritik terhadap realitas tersebut. Filsafat relasionlitas memberikan sumbangan baru bahwa Ata pe’ang harus dipandang sebagai subjek relasional, filsafat relasionlitas memberikan kritik marginalisasi perempuan dalam budaya Manggarai. Selain itu, konsep filosofis Armada membantu untuk merekonstruksikan kembali praktik budaya yang timpang serta memberikan penegasan bahwa perempuan sebagai ata pe’ang dapat menjadi agen perubahan dalam kehidupan bersama.  
Menganalisis Identitas-Identitas Yesus Kristus dalam Buku Apologia Pertama Yustinus Martir Sili, Adrianus Musu
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 4, No 1 (2026): Divinitas January
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v4i1.13921

Abstract

This research discusses the identity of Jesus Christ in the book Apology I written by Justin Martyr. The researcher uses historical literature analysis to deeply examine Yustinus Martir's thoughts on the identity of Christ in his book. The results of the study found that the identity of Christ in the book Apology I highlights the historical analogy and divinity of Jesus as the Son of God to state that Jesus existed before all times. The Jewish prophets had also prophesied about Him in the Old Testament so that Jesus came to fulfill the hope of Israel. Moreover, Justin also compared  Jesus’ identity as the Son of God with that of Jupiter’s . These identities  were able to influence the views of Christian Christology in the second century AD.AbstrakPenelitian ini membahas identitas Yesus Kristus dalam buku Apologi I yang ditulis oleh Yustinus Martir. Penelitian  menggunakan analisis literatur historis untuk mengkaji lebih dalam pemikiran Yustinus Martir tentang identitas Kristus dalam bukunya. Hasil penelitian menemukan bahwa identitas Kristus dalam buku Apologi I menonjolkan analogi historis dan keilahian Yesus sebagai Anak Allah untuk menyatakan bahwa Yesus telah ada sebelum segala zaman, Para nabi Yahudi juga telah menubuatkan-Nya dalam Perjanjian Lama sehingga Yesus datang untuk menggenapi harapan Israel, dan perbandingan antara Yesus sebagai Anak Allah dengan Putra Jupiter. Idenitas-identitas Yesus Kristus tersebut mampu mempengaruhi pandangan Kristologi Kristen pada abad kedua Masehi.
Perbandingan Yahwe dalam Perjanjian Lama dan Lera Wulang Tanah Ekang dalam Budaya Tenawahang Kelen, Yohanes Jemiandro Bala
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 4, No 1 (2026): Divinitas January
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v4i1.13882

Abstract

This study examines the comparison of the concept of divinity in two cultures, Yahwe in the Old Testament and Lera Wulang Tanah Ekang in the Tenawahang culture. Based on textual and contextual analysis, this study explores the possible relationship between the concept of divinity in Israeli culture and Tenawahang culture. The purpose of this study is to identify the similarities and differences between the concept of divinity in the Old Testament and that in Tenawahang culture. The analytical method used in this study is a comparative descriptive analysis of Yahwe in the Old Testament and Lera Wulang Tanah Ekang in Tenawahang culture. The author collected data using the literature method to examine the concept of divinity in the Old Testament and the field method with interview techniques and the author's experience to examine the concept of divinity in Tenawahang culture. This article examines the comparison of the concept of divinity between the two cultures by seeking similarities and differences between them and conducting a synthesis analysis. Finally, the author found similarities and differences in the concept of divinity in these two cultures. The results of this study indicate that there are similarities between the concept of divinity in the Old Testament and Tenawahang culture. Both the Old Testament and Tenawahang culture adhere to monotheism, a relationship with humanity, and a reverence for life. The differences between the Old Testament and Tenawahang culture lie in names and representations, doctrines and laws, and the concept of the chosen people.AbstrakPenelitian ini mengkaji perbandingan konsep ketuhanan dalam dua budaya, Yahwe dalam Perjanjian Lama dan Lera Wulang Tanah Ekang dalam budaya Tenawahang. Berdasarkan analisis tekstual dan kontekstual, penelitian ini mengeksplorasi kemungkinan hubungan konsep Ketuhanan dalam budaya Israel dan budaya Tenawahang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui persamaan dan perbedaan konsep Ketuhanan dalam Perjanjian Lama dengan budaya Tenawahang. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian adalah metode analisis deskriptif komparatif terhadap Yahwe dalam Perjanjian Lama dan Lera Wulang Tanah Ekang dalam budaya Tenawahang. Penulis mengumpulkan data dengan menggunakan metode pustaka untuk melihat konsep ketuhanan dalam Perjanjian Lama dan metode lapangan dengan teknik wawancara serta pengalaman penulis untuk melihat konsep ketuhanan dalam budaya Tenawahang. Artikel ini mengkaji perbandingan konsep ketuhanan terhadap kedua budaya tersebut dengan mencari persamaan dan perbedaan di antara keduanya dan melakukan analisis sintesis. Akhirnya penulis menemukan ada persamaan dan perbedaan konsep ketuhanan dalam kedua budaya ini. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa ada persamaan antara konsep ketuhanan Perjanjian Lama dan budaya Tenahawang. Perjanjian Lama dan budaya Tenahawang sama-sama menganut monoteisme, relasi dengan manusia, dan adanya penghargaan terhadap hidup. Sedangkan perbedaan Perjanjian Lama dan budaya Tenahawang terletak pada nama dan representasi, doktrin dan hukum, serta konsep tentang umat pilihan.