cover
Contact Name
Rudy Budiatmaja
Contact Email
rudyatmaja12398@gmail.com
Phone
+6285928918217
Journal Mail Official
rudyatmaja12398@gmail.com
Editorial Address
https://e-journal.usd.ac.id/index.php/Divinitas/about/editorialTeam
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual
ISSN : 29885434     EISSN : 29882311     DOI : 10.24071
Divinitas: Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual develops contextual Philosophical and Theological discourses in dialogue with sociological, anthropological, comparative religion, religious studies, historical, cultural and psychological perspectives and takes the diversity of Asian societies and cultures as its context. The journal is open to undergraduated student, graduated student and scholars from all religious backgrounds.
Articles 84 Documents
Munus Regendi dan Rasionalitas Moral dalam Pendirian Lembaga Katolik Patricius Neonnub; Yohanes Subani
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 4, No 1 (2026): Divinitas January
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v4i1.13671

Abstract

This study examines the juridical and philosophical foundations of ecclesiastical authority in the establishment of public juridic persons (erectio canonica) within the Catholic Church. Using a normative–conceptual approach grounded in natural law theory and canon law, it argues that ecclesiastical authority derives its legitimacy not merely from institutional power but from moral rationality rooted in munus regendi, the pastoral office of governing in Christ’s name. The study finds that erectio canonica functions as both a legal and theological act, ensuring that Catholic institutions act in nomine Ecclesiae and maintain fidelity to the Church’s salvific mission. In Indonesia, harmonizing canon law and civil law remains essential to secure both legal validity and ecclesial legitimacy. The research concludes that genuine ecclesiastical authority integrates legality, morality, and pastoral mission toward the bonum commune ecclesiae.AbstrakPenelitian ini mengkaji dasar yuridis dan filosofis otoritas Gerejawi dalam pendirian badan hukum publik (erectio canonica) di dalam Gereja Katolik. Dengan pendekatan normatif–konseptual yang berlandaskan teori hukum alam dan hukum kanonik, penelitian ini menegaskan bahwa otoritas Gerejawi memperoleh legitimasi bukan dari kekuasaan kelembagaan, melainkan dari rasionalitas moral yang bersumber pada munus regendi—tugas pastoral untuk memimpin atas nama Kristus. Erectio canonica berfungsi sebagai tindakan hukum sekaligus teologis yang menjamin lembaga Katolik bertindak in nomine Ecclesiae dan tetap setia pada misi keselamatan Gereja. Dalam konteks Indonesia, sinergi antara hukum kanonik dan hukum sipil menjadi kunci bagi keabsahan hukum dan legitimasi eklesial. Penelitian ini menyimpulkan bahwa otoritas Gerejawi sejati menyatukan legalitas, moralitas, dan misi pastoral demi bonum commune ecclesiae.
Me-Liyan-kan Perempuan dalam Filsafat Relasionalitas Armada Riyanto dan Ata Pe’ang dalam Budaya Manggarai Sebastianus Hagoldin; Agustinus Renal Ebak
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 4, No 1 (2026): Divinitas January
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v4i1.13811

Abstract

Focus this paper is comparing the concept of othering women in Armada's Relational Philosophy and the concept of ata pe'ang (outsider) in Manggarai culture. The method used is a critical analysis with a comparative approach between the concept of othering women in Armada's Relational Philosophy and the concept of ata pe'ang in Manggarai culture. The author finds that the label of ata pe'ang has shackled women, thus viewing them as the other. This shackling is rooted in a misunderstanding of the concept of ata pe'ang as intended by the Manggarai ancestors. Relational Philosophy can serve as a critical lens for this reality. Relational philosophy provides a new contribution, namely that ata pe'ang must be viewed as relational subjects, and it critiques the marginalization of women in Manggarai culture. Furthermore, Armada's philosophical concept helps reconstruct unequal cultural practices and affirms that women, as ata pe'ang, can be agents of change in communal life.AbstrakFokus tulisan ini adalah membuat komparasi konsep me-liyan-kan perempuan dalam filsafat Relasionalitas Armada dan konsep ata pe’ang (orang luar) dalam budaya Manggarai. Metode yang digunakan ialah analisis kritis dengan pendekatan komparatif antara konsep me-liyan-kan perempuan filsafat Relasionlitas Armada dan konsep ata pe’ang dalam budaya Manggarai. Penulis menemukan bahwa pelabelan ata pe’ang telah membelenggu kaum perempuan sehingga perempuan dipandang sebagai liyan. Keterbelengguan tersebut berakar pada kesalahpahaman terhadap konsep ata pe’ang sebagaimana dimaksudkan oleh para leluhur orang Manggarai. Filsafat Relasionalitas dapat menjadi lensa kritik terhadap realitas tersebut. Filsafat relasionlitas memberikan sumbangan baru bahwa Ata pe’ang harus dipandang sebagai subjek relasional, filsafat relasionlitas memberikan kritik marginalisasi perempuan dalam budaya Manggarai. Selain itu, konsep filosofis Armada membantu untuk merekonstruksikan kembali praktik budaya yang timpang serta memberikan penegasan bahwa perempuan sebagai ata pe’ang dapat menjadi agen perubahan dalam kehidupan bersama.  
Menganalisis Identitas-Identitas Yesus Kristus dalam Buku Apologia Pertama Yustinus Martir Adrianus Musu Sili
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 4, No 1 (2026): Divinitas January
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v4i1.13921

Abstract

This research discusses the identity of Jesus Christ in the book Apology I written by Justin Martyr. The researcher uses historical literature analysis to deeply examine Yustinus Martir's thoughts on the identity of Christ in his book. The results of the study found that the identity of Christ in the book Apology I highlights the historical analogy and divinity of Jesus as the Son of God to state that Jesus existed before all times. The Jewish prophets had also prophesied about Him in the Old Testament so that Jesus came to fulfill the hope of Israel. Moreover, Justin also compared  Jesus’ identity as the Son of God with that of Jupiter’s . These identities  were able to influence the views of Christian Christology in the second century AD.AbstrakPenelitian ini membahas identitas Yesus Kristus dalam buku Apologi I yang ditulis oleh Yustinus Martir. Penelitian  menggunakan analisis literatur historis untuk mengkaji lebih dalam pemikiran Yustinus Martir tentang identitas Kristus dalam bukunya. Hasil penelitian menemukan bahwa identitas Kristus dalam buku Apologi I menonjolkan analogi historis dan keilahian Yesus sebagai Anak Allah untuk menyatakan bahwa Yesus telah ada sebelum segala zaman, Para nabi Yahudi juga telah menubuatkan-Nya dalam Perjanjian Lama sehingga Yesus datang untuk menggenapi harapan Israel, dan perbandingan antara Yesus sebagai Anak Allah dengan Putra Jupiter. Idenitas-identitas Yesus Kristus tersebut mampu mempengaruhi pandangan Kristologi Kristen pada abad kedua Masehi.
Perbandingan Yahwe dalam Perjanjian Lama dan Lera Wulang Tanah Ekang dalam Budaya Tenawahang Yohanes Jemiandro Bala Kelen
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 4, No 1 (2026): Divinitas January
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v4i1.13882

Abstract

This study examines the comparison of the concept of divinity in two cultures, Yahwe in the Old Testament and Lera Wulang Tanah Ekang in the Tenawahang culture. Based on textual and contextual analysis, this study explores the possible relationship between the concept of divinity in Israeli culture and Tenawahang culture. The purpose of this study is to identify the similarities and differences between the concept of divinity in the Old Testament and that in Tenawahang culture. The analytical method used in this study is a comparative descriptive analysis of Yahwe in the Old Testament and Lera Wulang Tanah Ekang in Tenawahang culture. The author collected data using the literature method to examine the concept of divinity in the Old Testament and the field method with interview techniques and the author's experience to examine the concept of divinity in Tenawahang culture. This article examines the comparison of the concept of divinity between the two cultures by seeking similarities and differences between them and conducting a synthesis analysis. Finally, the author found similarities and differences in the concept of divinity in these two cultures. The results of this study indicate that there are similarities between the concept of divinity in the Old Testament and Tenawahang culture. Both the Old Testament and Tenawahang culture adhere to monotheism, a relationship with humanity, and a reverence for life. The differences between the Old Testament and Tenawahang culture lie in names and representations, doctrines and laws, and the concept of the chosen people.AbstrakPenelitian ini mengkaji perbandingan konsep ketuhanan dalam dua budaya, Yahwe dalam Perjanjian Lama dan Lera Wulang Tanah Ekang dalam budaya Tenawahang. Berdasarkan analisis tekstual dan kontekstual, penelitian ini mengeksplorasi kemungkinan hubungan konsep Ketuhanan dalam budaya Israel dan budaya Tenawahang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui persamaan dan perbedaan konsep Ketuhanan dalam Perjanjian Lama dengan budaya Tenawahang. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian adalah metode analisis deskriptif komparatif terhadap Yahwe dalam Perjanjian Lama dan Lera Wulang Tanah Ekang dalam budaya Tenawahang. Penulis mengumpulkan data dengan menggunakan metode pustaka untuk melihat konsep ketuhanan dalam Perjanjian Lama dan metode lapangan dengan teknik wawancara serta pengalaman penulis untuk melihat konsep ketuhanan dalam budaya Tenawahang. Artikel ini mengkaji perbandingan konsep ketuhanan terhadap kedua budaya tersebut dengan mencari persamaan dan perbedaan di antara keduanya dan melakukan analisis sintesis. Akhirnya penulis menemukan ada persamaan dan perbedaan konsep ketuhanan dalam kedua budaya ini. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa ada persamaan antara konsep ketuhanan Perjanjian Lama dan budaya Tenahawang. Perjanjian Lama dan budaya Tenahawang sama-sama menganut monoteisme, relasi dengan manusia, dan adanya penghargaan terhadap hidup. Sedangkan perbedaan Perjanjian Lama dan budaya Tenahawang terletak pada nama dan representasi, doktrin dan hukum, serta konsep tentang umat pilihan.
Yesus Melampaui Hukum: Kritik terhadap Kekuasaan Agama dan Pembaruan Teologis dalam Yohanes 8:1–11 L. Rio Hardianto
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 4, No 2 (2026): Divinitas July
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v4i2.13881

Abstract

The passage in John 8:1-11 not only presents the story of the forgiveness of a woman caught in adultery, but also displays the tension between law as a means of judgment and mercy as a means of forgiveness. In a situation full of traps of His enemies, Jesus used a strategy that left the crowd confused. In this passage Jesus appears as a theological reformer who uses the law as a means to forgive. Using the narrative analysis method, this research highlights how the narrator of John's Gospel designs plot, characterization, and setting to reveal the power strategy of the scribes and Pharisees in trapping Jesus. The result of this study indicates that Jesus shows how wrongdoing can not only be resolved by law, but can also be resolved by mercy. Jesus emphasized that the Law without compassion would be a killing instrument of punishment.AbstrakPerikop dalam Injil Yohanes 8:1–11 tidak hanya menampilkan kisah pengampunan terhadap seorang perempuan yang tertangkap berbuat zinah, tetapi juga menampilkan ketegangan antara hukum yang dipakai sebagai alat penghakiman dan belas kasih sebagai sarana pengampunan. Dalam situasi yang penuh dengan jebakan musuh-Nya, Yesus menggunakan strategi yang membuat orang banyak bingung. Dalam perikop ini Yesus tampil sebagai pembaharu teologis yang menggunakan hukum sebagai sarana untuk mengampuni. Dengan menggunakan metode analisis naratif, penelitian ini menyoroti bagaimana narator Injil Yohanes merancang alur, penokohan, dan setting untuk mengungkap strategi kuasa dari para ahli Taurat dan orang Farisi dalam menjebak Yesus. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa Yesus menunjukkan bagaimana kesalahan tidak hanya bisa diselesaikan dengan hukum, tetapi juga bisa diselesaikan dengan belas kasih. Yesus menegaskan bahwa Hukum tanpa belas kasih akan menjadi alat penghukuman yang membunuh.
Refleksi Biblis dalam Tragedi Human Trafficking di NTT dalam Perspektif Kisah Yusuf (Kejadian 37:1-36) Leonardus Hakeng; Adrianus Dakosta; Ferdinandus Iswand; Stefanus Rengga; Yanuarius Ponis Putra
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 4, No 2 (2026): Divinitas July
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v4i2.13883

Abstract

The human trafficking case in East Nusa Tenggara (NTT) has garnered public attention as it victimizes numerous individuals, particularly women. This phenomenon underscores the severity of the human trafficking issue in the region. One exacerbating factor is the challenging economic conditions in NTT, where many local residents live in poverty and struggle to find suitable employment. This vulnerability makes them susceptible to deception and manipulation by human trafficking syndicates. Additionally, a lack of awareness regarding the dangers of human trafficking is a primary cause of this case. It should be acknowledged that human trafficking is not a contemporary phenomenon but has persisted for hundreds of years. One narrative illustrating involvement in human trafficking is the story of Yusuf (Genesis 37:1-11). Several elements in the Yusuf narrative can be connected to the human trafficking phenomenon. Firstly, Yusuf himself becomes a victim of human trafficking when his brothers sell him as a slave to traders. This reflects a situation commonly found in human trafficking, where individuals become commodities traded for financial gain. In this context, this writing aims to bridge the ancient Biblical text with the continuously evolving contemporary social reality. By viewing the Bible as a source of inspiration and guidance, it is hoped to provide a fresh perspective in understanding and addressing the serious issues present in society today.AbstrakKasus human trafficking di Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi sorotan publik karena mengorbankan banyak orang, terutama kaum perempuan. Fenomena ini menggambarkan betapa seriusnya masalah perdagangan manusia di wilayah tersebut. Salah satu faktor yang memperparah situasi ini adalah kondisi ekonomi yang sulit di NTT. Banyak penduduk setempat yang hidup dalam kemiskinan dan kesulitan mencari pekerjaan yang layak. Hal ini membuat mereka rentan terhadap penipuan dan manipulasi oleh sindikat perdagangan manusia. Selain itu, kurangnya kesadaran akan bahaya human trafficking juga menjadi penyebab utama kasus ini. Perlu disadari bahwa fenomena human trafficking bukan hanya terjadi masa sekarang, tetapi sudah terjadi sejak ratusan tahun yang lalu. Salah satu narasi yang menggambarkan orang terlibat dalam human trafficking adalah narasi Yusuf (kejadian 37:1-36). Ada beberapa teks kisah Yusuf, terdapat beberapa elemen yang dapat dihubungkan dengan fenomena human trafficking. Pertama, Yusuf sendiri merupakan korban perdagangan manusia ketika saudara-saudaranya menjualnya sebagai budak kepada para pedagang. Hal ini mencerminkan situasi yang sering terjadi dalam human trafficking, di mana individu menjadi barang dagangan yang diperjualbelikan untuk keuntungan finansial.  Dalam konteks ini, penulisan ini bertujuan untuk menghubungkan teks Alkitab yang kuno dengan realitas sosial kontemporer yang terus berkembang. Dengan melihat Alkitab sebagai sumber inspirasi dan pedoman, diharapkan dapat memberikan perspektif baru dalam memahami dan menghadapi permasalahan serius yang ada di masyarakat saat ini.
Model Kepemimpinan Berintegritas di Gereja dan Sekolah: Solusi Teologis dan Praktis Terhadap Tantangan Era Postmodern Ida Arwike Frans; John Abraham Christian; Agus Suhariono
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 4, No 2 (2026): Divinitas July
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v4i2.14243

Abstract

The integrity crisis within church leadership and Christian educational institutions in the postmodern era poses a serious challenge to the witness of faith and the moral authority of God’s people. Cases of power abuse, ethical misconduct, and lack of spiritual example indicate a failure to understand leadership rooted in the character of Christ. This study aims to describe a model of integrity-based leadership as a theological and practical solution to these challenges. Using a Theological Qualitative Analysis approach, the research explores biblical leadership principles grounded in spirituality, morality, and the ministry of love. The findings reveal that integrity in leadership requires unity between faith, character, and action manifested through service. Churches and Christian educational institutions must integrate theology, ethics, and spirituality in leadership formation to produce Christ-centered leaders who are contextually relevant and capable of bearing authentic witness to the Gospel in the postmodern world.AbstrakKrisis integritas dalam kepemimpinan gereja dan lembaga pendidikan Kristen pada era postmodern menjadi tantangan serius bagi kesaksian iman dan otoritas moral umat Allah. Fenomena penyalahgunaan jabatan, penyimpangan etika, serta lemahnya keteladanan rohani menunjukkan adanya kegagalan dalam memahami hakikat kepemimpinan yang berakar pada karakter Kristus. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan model kepemimpinan berintegritas sebagai solusi teologis dan praktis terhadap tantangan tersebut. Dengan menggunakan pendekatan Theological Qualitative Analysis, penelitian ini menggali prinsip-prinsip kepemimpinan Alkitabiah yang berlandaskan pada spiritualitas, moralitas, dan pelayanan kasih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan berintegritas menuntut kesatuan antara iman, karakter, dan tindakan yang nyata dalam pelayanan. Gereja dan lembaga pendidikan Kristen perlu mengintegrasikan teologi, etika, dan spiritualitas dalam pembinaan pemimpin agar lahir figur rohani yang kontekstual, berkarakter Kristus, dan mampu menghadirkan kesaksian Injil secara relevan di tengah dunia postmodern.
Kajian Paham Ketuhanan terhadap Pemeluk Agama Katolik sekaligus Penganut Aliran Sapta Darma di Yogyakarta Valentinus Cahyo Sindoro; Albertus Ananda Orlando
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 4, No 2 (2026): Divinitas July
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v4i2.13412

Abstract

This study discusses the phenomenon of Catholics in Yogyakarta who simultaneously adhere to the Sapta Darma belief system. Using a qualitative approach through literature review and interviews, this study aims to understand how dual adherents interpret divinity within two distinct belief systems. The findings reveal that despite differences in doctrinal structure and spiritual expression, adherents like Servas are able to harmonize both without experiencing religious conflict. The teachings of Sapta Darma are seen as complementing Catholic religious practices, emphasizing inner harmony and personal closeness to God. The Catholic Church, through the documents of the Second Vatican Council, has opened space for dialogue and inculturation of local values as long as they do not contradict dogma. This study underscores the importance of a contextual theological approach and dialogical pastoral care in responding to the spiritual pluralism of Indonesian Catholics.AbstrakPenelitian ini membahas fenomena umat Katolik di Yogyakarta yang secara bersamaan menganut aliran kepercayaan Sapta Darma. Dengan pendekatan kualitatif melalui studi pustaka dan wawancara, penelitian ini bertujuan memahami bagaimana para “penganut ganda” memaknai ketuhanan dalam dua sistem kepercayaan yang berbeda. Hasil penelitian menunjukkan kendati terdapat perbedaan dalam struktur ajaran dan ekspresi spiritual, narasumber dan informan mampu menyelaraskan keduanya tanpa konflik iman. Ajaran Sapta Darma dianggap melengkapi praktik religius Katolik dengan penekanan pada keselarasan batin dan kedekatan personal dengan Tuhan. Gereja Katolik, melalui dokumen Konsili Vatikan II, membuka ruang dialog dan inkulturasi terhadap nilai-nilai lokal asalkan tidak bertentangan dengan dogma. Penelitian ini menegaskan pentingnya pendekatan teologi kontekstual dan pastoral dialogis dalam memproses pluralitas umat Katolik Indonesia.
Sai Bumi Nengah Nyappur Filsafat Praktis Persatuan Dalam Masyarakat Adat Di Tulang Bawang Lampung dalam Perspektif Yin dan Yang Gregorius Sigit Triwayudi
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 4, No 2 (2026): Divinitas July
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v4i2.13682

Abstract

Sai Bumi Nengah Nyappur is a local Lampung philosophy adopted as the regional motto of Tulang Bawang Regency. Literally meaning "One Earth Becomes Mixed", its purpose is to encourage the community to live blended and united despite ethnic differences, due to frequent inter-ethnic conflicts in the area. Strong primordialism poses a significant challenge to its implementation. Unity is achieved through consensus deliberation and mutual cooperation. To understand unity amidst differences, this philosophy can be linked to the harmonization teachings of Confucianism and the 'Yin and Yang' principle. The Yin and Yang principle illustrates how two different or opposing elements interact to form harmony or unity. The diverse ethnic groups in Tulang Bawang must achieve this harmony and recognize their interdependence. This philosophy remains relevant as a guide for anticipating and overcoming conflicts and fostering openness.AbstrakSai Bumi Nengah Nyappur adalah falsafah asli Lampung yang diadopsi sebagai semboyan daerah di Kabupaten Tulang Bawang. Secara literer, falsafah ini berarti Satu Bumi Menjadi Bercampur. Tujuannya adalah mendorong masyarakat untuk hidup membaur dan bersatu meskipun terdapat beragam perbedaan, terutama suku. Falsafah ini muncul karena adanya kesadaran akan potensi selisih paham dan konflik antar suku yang kerap terjadi di daerah tersebut. Sikap primordialisme yang kuat antar suku di Tulang Bawang menjadi tantangan berat dalam penerapannya. Persatuan ini direalisasikan melalui musyawarah mufakat dan gotong royong. Untuk memahami persatuan di tengah perbedaan, falsafah ini dapat dihubungkan dengan ajaran Konfusianisme dan prinsip 'Yin dan Yang'. Prinsip Yin dan Yang menggambarkan interaksi dua unsur yang berbeda, bahkan bertolak belakang, yang membentuk harmoni atau kesatuan. Masyarakat Tulang Bawang, dengan perbedaan suku yang kental, harus membentuk harmoni dan menyadari ketergantungan antar suku. Falsafah ini tetap relevan sebagai pedoman untuk mengantisipasi dan mengatasi konflik, serta mendorong keterbukaan.
Iman dan Politik: Pandangan Dietrich Bonhoeffer dan Relevansinya bagi Gereja Indonesia Masa Kini Agustinus Abraham
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 4, No 2 (2026): Divinitas July
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v4i2.14388

Abstract

This research examines Dietrich Bonhoeffer’s thought on the relationship between faith and politics and explores its relevance for the contemporary Indonesian Church. Grounded in the historical context of the Nazi regime and Bonhoeffer’s resistance to totalitarianism, this study asserts that Christian faith cannot be separated from social and political responsibility. A qualitative method with a literature review approach is used to analyze Bonhoeffer’s works and ideas and to relate them to the current reality of the Indonesian Church. The findings reveal that Bonhoeffer understands faith as the courage to confront evil, the willingness to engage concretely in the world, and the rejection of religious attitudes that remain indifferent to human suffering. His concepts of the church for others, solidarity with the marginalized, and prophetic witness offer crucial implications for the Indonesian Church amid contemporary challenges such as corruption, intolerance, poverty, and humanitarian crises. The study concludes that Bonhoeffer’s perspective provides a public theological paradigm that encourages the Church to participate actively in social and political spheres without compromising its faith identity, affirming that Christian witness must be manifested through concrete actions for the common good and social justice.AbstrakPenelitian ini mengkaji pemikiran Dietrich Bonhoeffer mengenai relasi iman dan politik serta relevansinya bagi Gereja Indonesia kontemporer. Berangkat dari konteks historis rezim Nazi dan keterlibatan Bonhoeffer dalam perjuangan melawan totalitarianisme, penelitian ini menegaskan bahwa iman Kristen tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab sosial-politik. Metode kualitatif dengan studi pustaka digunakan untuk menganalisis karya dan gagasan Bonhoeffer serta menghubungkannya dengan realitas Gereja di Indonesia. Hasil kajian menunjukkan bahwa Bonhoeffer memandang iman sebagai keberanian menghadapi kejahatan, kesediaan terlibat dalam dunia secara konkret, dan penolakan terhadap religiusitas yang apatis terhadap penderitaan manusia. Gagasannya mengenai gereja bagi sesama, keberpihakan terhadap yang lemah, dan kesaksian profetis memiliki implikasi penting bagi Gereja Indonesia dalam menghadapi tantangan kontemporer seperti korupsi, intoleransi, kemiskinan, dan krisis kemanusiaan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pemikiran Bonhoeffer memberikan paradigma teologi publik yang mendorong Gereja untuk hadir secara aktif dalam ruang sosial-politik tanpa kehilangan identitas iman, serta menegaskan bahwa kesaksian Kristen harus diwujudkan dalam tindakan nyata demi kebaikan bersama dan keadilan sosial.