cover
Contact Name
Rudy Budiatmaja
Contact Email
rudyatmaja12398@gmail.com
Phone
+6285928918217
Journal Mail Official
rudyatmaja12398@gmail.com
Editorial Address
https://e-journal.usd.ac.id/index.php/Divinitas/about/editorialTeam
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual
ISSN : 29885434     EISSN : 29882311     DOI : 10.24071
Divinitas: Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual develops contextual Philosophical and Theological discourses in dialogue with sociological, anthropological, comparative religion, religious studies, historical, cultural and psychological perspectives and takes the diversity of Asian societies and cultures as its context. The journal is open to undergraduated student, graduated student and scholars from all religious backgrounds.
Articles 74 Documents
Arti Persaudaraan Menurut Paus Fransiskus dan Gus Dur Widiasena, Stefanus Albert Putra
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 2, No 2 (2024): Divinitas July
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v2i2.8828

Abstract

In the midst of the weakening of fraternal relations between people, there are two important figures who write their ideas related to "brotherhood". These two figures are Pope Francis and Gus Dur. According to Pope Francis, brotherhood means treating all beings as brothers and sisters. The language used by Pope Francis is the call to be a neighbor to others. Meanwhile, according to Gus Dur, brotherhood means loving the different (plurality) in human life. Gus Dur strongly emphasizes the importance of tolerance and respect for differences between human beings, especially religions. In this article, the author wants to compare the thoughts of the two figures on the theme of "brotherhood". In addition, this paper also aims to contribute thoughts for everyone to increase the spirit of building brotherhood that is able to transcend existing boundaries.AbstrakDi tengah arus merenggangnya relasi persaudaraan antar manusia, ada dua tokoh penting yang menuliskan gagasannya berkaitan dengan “persaudaraan”. Kedua tokoh tersebut ialah Paus Fransiskus dan Gus Dur. Menurut Paus Fransiskus, persaudaraan berarti memperlakukan segenap makhluk sebagai saudara dan saudari. Bahasa yang digunakan oleh Paus Fransiskus ialah panggilan menjadi sesama bagi yang lain. Sementara itu menurut Gus Dur, persaudaraan berarti sikap menyayangi yang berbeda (pluralitas) dalam kehidupan umat manusia. Gus Dur sangat menekankan pentingnya toleransi dan sikap menghargai perbedaaan antar umat manusia, khususnya agama. Dalam artikel ini, penulis hendak membandingkan pemikiran kedua tokoh mengenai tema “persaudaraan”. Selain itu, tulisan ini juga hendak memberikan kontribusi pemikiran bagi setiap orang untuk meningkatkan semangat membangun persaudaraan yang mampu melampaui batas-batas yang ada.
Kelenteng Kong Fuk Nio dan Masjid Jami Muntok dalam Worldview Toleransi Kota Muntok Primayudha, Novrizal; Santosa, Imam; Syarief, Achmad; Destiarmand, Achmad Haldani
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 2, No 1 (2024): Divinitas January
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v2i1.7481

Abstract

The long history of ethnic and religious tolerance in Indonesia has always tended to tell a story about expressions of indifference, and even hidden persuasiveness, which scrutinizes the problems of large organizations such as religion and culture. By concentrating on two contiguous places of worship of two religious’ communities in Muntok City, West Bangka, this article strives to identification from a side that is rarely exposed. The observation, interviews, and the acquisition of literature data elucidate how the application of amalgamated components in the two places of worship is a product of tolerance practices negotiated in the past hence it is of utmost significance to refrain from disregarding this historical substance through the interpretation of anomalous forms or idealized occasionalism. Thus, through Rainer Forst's concept of "Toleration", this article attempts to provide research significance to comprehending the concept of tolerance by discussing the relationship between physical cultural relics and tolerance practices to gain the worldview of the cultural proprietors. In this discourse, the presence of a building that represents a form of tolerance in a region is not only seen from its physical appearance, but also by careful consideration of the intangible relationships that operate in the realm of history and societal change.AbstrakSejarah panjang toleransi dari keragaman etnis dan agama di Indonesia senantiasa memiliki kecenderungan untuk menceritakan sebuah kisah mengenai ungkapan ketidakpedulian dan keterpaksaan, yang menganalisis permasalahan dari organisasi besar seperti agama dan budaya. Dengan mengambil fokus pada dua tempat peribadatan dari dua umat beragama yang berdampingan di Kota Muntok, Bangka Barat, artikel ini akan mencoba mengidentifikasi dari sisi yang jarang terekspos. Hasil observasi, wawancara dan perolehan data literatur, menunjukkan bagaimana penerapan elemen yang dipadukan pada dua bangunan peribadatan tersebut merupakan produk dari praktik toleransi yang dinegosiasikan di masa lampau sehingga penting sekali untuk tidak mengabaikan sejarah material ini dengan memaknai toleransi pada bentuk yang anomali, perpaduan yang kebetulan, atau oksidentalisme yang diidealkan. Melalui, konsepsi “Toleration” dari Rainer Forst, artikel ini mencoba untuk memberikan signifikasi penelitian terhadap konsep toleransi dengan mendiskusikan relasi antara artefak budaya fisik dan praktik toleransi serta worldview (pandangan-dunia) masyarakat pemiliknya. Dalam artikel ini, keberadaan sebuah bangunan yang digunakan untuk merepresentasikan toleransi dalam sebuah wilayah, tidak serta merta melihat secara fisik saja, namun harus juga melihat relasi-relasi nonfisik yang bergerak dalam dimensi sejarah maupun perkembangan masyarakatnya. 
Hubungan Manusia dan Alam dalam Lirik Lagu Syifa Sativa: Kajian Ekokritik Dewi, Stefani Kartika
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 2, No 1 (2024): Divinitas January
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v2i1.7463

Abstract

This study aims to describe the pastoral narrative in the lyrics of the songs "Tanam Sawi di Bulan" and "Waktu yang Membentang" by Syifa Sativa. The purpose is to show the relationship between humans and nature. Through content analysis, the two lyrics of Syifa Sativa's songs were read based on the study of ecocriticism of pastoral narratives. The results of the content analysis show that the two Syifa Sativa songs contain pastoral narratives. The pastoral narrative presented in the two Syifa Sativa songs contains the elements of bucolic (shepherd), arcadia construction, and retreat and return discourse. The two Syifa Sativa songs show the relationship between humans and nature. Humans whose environment has changed become alienated from nature. Humans who are alienated from nature yearn for village life with a well-preserved natural condition. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan narasi pastoral dalam lirik lagu “Tanam Sawi di Bulan” dan “Waktu yang Membentang” karya Syifa Sativa. Tujuannya adalah untuk menunjukkan adanya hubungan manusia dan alam. Melalui metode analisis isi dilakukan pembacaan terhadap kedua lirik lagu karya Syifa Sativa berdasarkan kajian ekokritik narasi pastoral. Hasil analisis isi menunjukkan bahwa kedua lirik lagu Syifa Sativa mengandung narasi pastoral. Narasi pastoral yang diusung dalam kedua lirik lagu Syifa Sativa mengandung unsur bucolic (penggembala), konstruksi arcadia, dan wacana retreat dan return. Kedua lirik lagu Syifa Sativa menunjukkan adanya hubungan manusia dan alam. Manusia yang lingkungannya telah mengalami perubahan menjadi terasing dari alam. Manusia yang terasing dari alam merindukan kehidupan desa dengan kondisi alam yang masih terjaga.
Analisis Peran dan Program Pendidikan Sekolah Katolik dalam Pembentukan Karakter Siswa di Wilayah Kevikepan Kedu Kevin, Stefanus Kristian; Pramesti, Maria Chika; Siregar, Tiur Valentina; Gulo, Mateayani Fili
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 2, No 1 (2024): Divinitas January
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v2i1.7438

Abstract

The high number of juvenile delinquency cases has become a concern in Catholic education in terms of shaping and developing quality character. This study aims to analyze the role and programs of Catholic schools in shaping the character of students in the Kedu vicariate. The method used in this study is a qualitative method with a phenomenological approach. There were 150 subjects involved in Catholic school education in the Kedu Vicariate, including parents, school administrators, teachers, school employees, and students. The subjects participated in Focus Group Discussions (FGDs), and the results of the FGDs were transcribed and written into a g-form as a qualitative survey. Based on the results of this study, it can be concluded that Catholic education in the Kedu Vicariate has a very important role and program in character building, such as faith-based education, good teacher role models, retreat and live-in activities, education in the church, modern technology, and an adequate curriculum, thereby forming characters that are faithful, disciplined, moral, reflective, able to adapt to technology, and knowledgeableAbstrakBanyaknya kasus kenakalan remaja menjadi perhatian dalam pendidikan katolik untuk membentuk dan mengembangkan karakter yang berkualitas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana peran dan program pendidikan sekolah Katolik dalam pembentukan karakter siswa di wilayah kevikepan Kedu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologis. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 150 orang yang terlibat dalam pendidikan sekolah Katolik di Kevikepan Kedu, seperti orang tua, pengurus sekolah, guru, karyawan sekolah dan para murid. Subjek melakukan Focus Group Discussion (FGD) dan hasil FGD tersebut dinotulensikan dan ditulis ke dalam g-form sebagai survei kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa pendidikan Katolik di wilayah Kevikepan Kedu memiliki peran dan program yang sangat penting dalam pembentukan karakter seperti pendidikan berbasis iman, role model guru yang baik, kegiatan retret dan live-in, pendidikan dalam menggereja, teknologi yang modern, dan kurikulum yang memadai sehingga membentuk karakter yang beriman, disiplin, bermoral, reflektif, kemampuan beradaptasi dengan teknologi, dan kompetensi pengetahuan 
Inkulturasi dalam Pertunjukan Wayang Wahyu: Katekese Iman Melalui Seni Faisal, Stephanus Agus; Wahyudi, Rifqi; Dwi Setiawan, Edwin Wahyu
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 2, No 2 (2024): Divinitas July
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v2i2.8286

Abstract

After the Second Vatican Council, the Church showed an open attitude towards local cultural influences as an integral part of its pastoral mission. In Indonesia, the Church responded to this current by adopting various forms of inculturation that went beyond ritual and worship aspects. Br. L. Timotius Wignyosubroto, FIC, responded to this challenge by developing the concept of Wayang Wahyu as an innovative means of faith catechesis through art. Through the establishment of the Ngajab Rahayu group in Surakarta, Wayang Wahyu became a medium that combines elements of traditional Wayang Kulit art with biblical narratives from the Old and New Testaments, as well as religious figures such as the founder of the Order and saints. In every Wayang Wahyu performance, theological dimensions are manifested, such as the Trinity, Christology, Pneumatology, Ecclesiology, and Anthropology. Wayang Wahyu is not just a performing art, but also a creative instrument to instill Christian values and deepen faith catechesis in the local cultural context.AbstrakPasca Konsili Vatikan II, Gereja menunjukkan sikap terbuka terhadap pengaruh budaya lokal sebagai bagian integral dari misi pastoralnya. Di Indonesia, Gereja merespon arus ini dengan mengadopsi berbagai bentuk inkulturasi yang melampaui aspek ritual dan peribadatan. Br. L. Timotius Wignyosubroto, FIC, merespons tantangan ini dengan mengembangkan konsep Wayang Wahyu sebagai sarana inovatif katekese iman melalui seni. Melalui pendirian kelompok Ngajab Rahayu di Surakarta, Wayang Wahyu menjadi medium yang menggabungkan unsur seni tradisional Wayang Kulit dengan narasi Alkitab dari Perjanjian Lama dan Baru, serta tokoh-tokoh keagamaan seperti pendiri Tarekat dan santo-santa. Dalam setiap pertunjukan Wayang Wahyu, terwujud dimensi-dimensi teologis, seperti Trinitas, Kristologi, Pneumatologi, Eklesiologi, dan Antropologi. Wayang Wahyu bukan hanya sekadar seni pertunjukan, tetapi juga menjadi instrumen kreatif untuk menanamkan nilai-nilai Kristen dan memperdalam katekese iman dalam konteks budaya lokal
Pengaruh Enuma Elish dalam Penafsiran Kitab Daniel 7:2-14 Sili, Adrianus Musu
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 2, No 2 (2024): Divinitas July
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v2i2.7810

Abstract

This research examines the influence of Enuma Elish, a Babylonian creation myth, on the interpretation of Daniel 7:2-14. Enuma Elish, as an ancient mythological literary work, contains cosmological elements and symbolism that may have influenced the understanding of the symbols found in the Book of Daniel. Through textual and contextual analysis, this study explores the possible relationship between the narratives of Enuma Elish and Daniel 7:2-14. The purpose of this research is to understand the meaning of the symbol of the 'Son of Man' (a similarity between the two texts). This Son of Man has a similar vision in both Enuma Elish and Daniel 7:1-14, namely to destroy evil and restore the earth to its original state. The author uses the literature review method to determine the similarities and the extent of the influence of the Enuma Elish text on Daniel 7:1-14. Finally, the author explains the meaning of these similarities and differences, namely the hope in the Son of Man and Anshar.AbstrakPenelitian ini mengkaji pengaruh Enuma Elish, sebuah mitos penciptaan Babilonia , terhadap penafsiran terhadap penafsiran Kitab Daniel 7:2-14. Enuma Elish, sebagai karya sastra mitologis kuno, memiliki unsur-unsur kosmologi dan simbolisme yang kemungkinan dapat mempengaruhi pemahaman terhadap simbol-simbol yang ditemukan dalam kitab Daniel. Melalui analisis tekstual dan kontekstual, penelitian ini mengeksplorasi kemungkinan hubungan antara narasi Enuma Elish dan Kitab Daniel 7:2-14. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui secara pemaknaan simbol anak manusia (kesamaan dari kedua teks). Anak manusia ini mempunyai visi yang sama dari teks Enuma Elish dan Daniel 7:1-14, yakni  menghancurkan yang jahat dan merestorasi kembali keadaan bumi agar normal kembali seperti mulanya. Penulis menggunakan metode Pustaka untuk menganalisa terlebih dahulu untuk mengetahui persamaan dan sejauh mana pengaruh teks Enuma Elish dalam kitab Daniel 7: 1-14. Penulis menjelaskan makna dari persamaan dan perbedaan tersebut, yakni pengharapan dalam anak manusia dan Anshar.
Agama Ekologis dan Wacana Non-Human Turn Khasri, Muhammad Rodinal Khair; Ilyas, Ali
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 2, No 1 (2024): Divinitas January
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v2i1.7530

Abstract

This article discusses the difference between posthuman discourse and nonhuman discourse in the context of ecological religion. Unlike posthuman discourse, which has teleological elements, nonhuman discourse emphasizes that humans interact with nonhuman entities without seeking the transformation of humans into non-humans. The article proposes that it is important to understand the relationship between humans and nature as a nonhuman agency, rather than merely as nonhuman entities. This is aimed at reconstructing the ontological basis of ecological religious discourse to avoid being trapped in an anthropocentric paradigm. This research adopts the conceptual frameworks of Actor-Network Theory and the Politics of Things developed by Bruno Latour to view the relationship between humans and nature in a broader and non-teleological context. The analytical methods used in this research are philosophical approaches and literature review. Both approaches are used to find the philosophical foundation of ecological religious discourse and its correlation with the Non-human Turn. The research results show that at the epistemic level, human subjectivity is crucial in determining attitudes toward the conceived reality. However, at the ontological level, there is a space untouched by human thought and consciousness, implying a postponement/suspension of moral judgment that is not final. In particular, in moral consensus, the actors involved also include non-human entities. Consequently, the understanding of the ideal attitude toward nature should use a phenomenological approach that focuses on the consequences of the objectification of the subject toward the world beyond itself.AbstrakArtikel ini membahas perbedaan antara wacana posthuman dan wacana nonhuman dalam konteks agama ekologis. Berbeda dengan wacana posthuman yang memiliki elemen teleologis, wacana nonhuman menekankan bahwa manusia berinteraksi dengan entitas nonhuman tanpa mencari transformasi manusia menjadi non-manusia. Artikel ini mengusulkan bahwa penting untuk memahami hubungan manusia dengan alam sebagai nonhuman agency, bukan sekadar sebagai entitas nonhuman. Hal ini bertujuan untuk merekonstruksi basis ontologis wacana agama ekologis agar tidak terperangkap dalam paradigma antroposentrisme. Penelitian ini mengadopsi kerangka pikir Actor-network Theory dan Political of Things yang dikembangkan oleh Bruno Latour untuk memandang hubungan antara manusia dan alam dalam konteks yang lebih luas dan tidak teleologis. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan filsafat dan literature review. Kedua pendekatan ini digunakan untuk menemukan fondasi filosofis perihal wacana agama ekologis dan korelasinya dengan Non-human Turn. Adapun hasil penelitian menunjukkan bahwa di level epistemik, subjektivitas manusia krusial dalam penentuan sikap terhadap realitas yang dikonsepsikan. Namun, di level ontologis, ada ruang sisa yang tak terjamah oleh pikiran dan kesadaran manusia yang mengimplikasikan adanya penundaan/ penangguhan moral judgement sehingga tidak bersifat final. Terutama, di dalam konsensus moral, aktor yang terlibat juga mencakup entitas non-human. Konsekuensinya, pemahaman tentang ideal sikap terhadap alam semestinya menggunakan pendekatan fenomenologis yang berfokus pada konsekuensi objektivikasi subjek terhadap dunia di luar dirinya.  
Kontribusi Spiritualitas Pelayanan Prodiakon di Paroki Kristus Raja Baciro dalam Memaknai Tugasnya Enda, Matius; Rukiyanto, Bernardus Agus
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 2, No 1 (2024): Divinitas January
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v2i1.7359

Abstract

Prodiakon of Christ the King Baciro Parish is one of the forms of lay involvement in taking part in the service of the Church. The call to be a prodiakon is not only to relieve the priest's duties, but the prodiakon is expected to realise his special service specifically during the Eucharist celebration. The purpose of the study was to find out the description of the spirituality of prodiakon service in interpreting their duties. Prodiakon has a noble service in the celebration of the Eucharist, God's own means of channeling His grace through the gift of His Body and Blood for the Christian faithful. The author uses qualitative research methods. Data sources were obtained from interviews and observations. From the results of the research, the author found that the spirituality lived by prodiakon can support the task of service and can live it with joy, love, and humility.AbstrakProdiakon Paroki Kristus Raja Baciro menjadi salah satu bentuk keterlibatan kaum awam dalam ambil bagian pelayanan di Gereja. Panggilan Menjadi prodiakon tidak hanya sekedar meringankan tugas imam, tetapi prodiakon diharapkan menyadari pelayanannya yang istimewa secara khusus saat perayaan Ekaristi. Tujuan dari penelitian untuk mengetahui gambaran spiritualitas pelayanan prodiakon dalam memaknai tugasnya. Prodiakon memiliki pelayanan yang mulia dalam perayaan Ekaristi, sarana Allah sendiri dalam menyalurkan rahmat-Nya melalui anugerah Tubuh dan Darah-Nya bagi umat beriman kristiani. Penulis menggunakan metode penelitian kualitatif. Sumber data diperoleh dari wawancara dan observasi. Dari hasil penelitian, penulis menemukan bahwa spiritualitas yang dihidupi oleh prodiakon dapat mendukung tugas pelayanan dan dapat menjalaninya dengan penuh sukacita, kasih, dan kerendahan hati.
Menjadi Sahabat bagi yang Terbully: Implementasi Konsep Persahabatan Menurut Etika Nikomakean Aristoteles Gio, Badri
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 2, No 2 (2024): Divinitas July
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v2i2.8751

Abstract

This research aims to explore the application of the concept of friendship in Aristotle's Nicomachean Ethics in the context of supporting victims of bullying. The problem raised is how the concept of ideal friendship according to Aristotle can help overcome and reduce the negative impacts of bullying. The method used in this research is a qualitative approach with literature analysis and case studies of individuals who experience bullying and find support through friendly relationships in accordance with Aristotelian principles. The findings suggest that friendships based on virtue, as described by Aristotle, can provide significant emotional support, increase victims' self-confidence, and promote a more positive social environment. The conclusion of this research is that the implementation of the Aristotelian concept of friendship is not only relevant, but also effective in providing assistance and recovery for victims of bullying, and has the potential to reduce bullying incidents themselves.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi penerapan konsep persahabatan dalam Etika Nikomakea Aristoteles dalam konteks mendukung korban bullying. Masalah yang diangkat adalah bagaimana konsep persahabatan yang ideal menurut Aristoteles dapat membantu mengatasi dan mengurangi dampak negatif bullying. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan analisis literatur dan studi kasus terhadap individu yang mengalami bullying dan menemukan dukungan melalui hubungan persahabatan yang sesuai dengan prinsip-prinsip Aristotelian. Hasil temuan menunjukkan bahwa persahabatan berdasarkan kebajikan, seperti yang dijelaskan oleh Aristoteles, dapat memberikan dukungan emosional yang signifikan, meningkatkan rasa percaya diri korban, dan mempromosikan lingkungan sosial yang lebih positif. Simpulan dari penelitian ini adalah bahwa implementasi konsep persahabatan Aristotelian tidak hanya relevan, tetapi juga efektif dalam memberikan bantuan dan pemulihan bagi korban bullying, serta berpotensi mengurangi insiden bullying itu sendiri.
Tradisi Mangongkal Holi sebagai Penegasan Identitas Suku Batak Cristianingsih, Antonia; Elan, Anjelita; Agnesia, Desima Erlinda; Mulyatno, Carolus Borromeus
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 2, No 2 (2024): Divinitas July
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v2i2.7762

Abstract

The Toba Batak community resides in various regions of Indonesia, yet they share traditions that unite their identity as Batak people. One such emblem of unity is the Mangongkal Holi tradition. The purpose of this research is to describe the Mangongkal Holi ceremony as an expression to affirm the identity of the Toba Batak people. The method employed to gather data for this study was through literature review. Three essential questions served as instruments in this research. First, what is the significance of the Mangongkal Holi ceremony? Second, how and when is this ceremony conducted? Third, what is the meaning behind this ceremony? The research findings reveal that despite the dispersion of Toba Batak people across different regions, after the passing of their relatives, they bring the ancestral bones to be unified at a place called the Monument. The process of collecting these bones at a monument is referred to as Mangongkal Holi. This ceremony is conducted based on family agreements, considering this tradition as a means of reunion among families. The ceremony holds significance as a gesture of reverence to the ancestors and as a symbol of kinship.AbstrakMasyarakat Batak Toba hidup tersebar di berbagai wilayah Indonesia, namun ada tradisi yang menyatukan identitas mereka sebagai orang Batak. Salah satu tanda kesatuan tersebut adalah tradisi Mangongkal Holi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan upacara Mangongkal Holi sebagai ungkapan untuk menegaskan identitas orang batak. Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data-data penelitian ini adalah melalui studi Pustaka. Tiga pertanyaan penting yang menjadi instrumen dalam penelitian ini. Pertama, apa yang dimaksud dengan upacara Mangongkal Holi? Kedua, bagaimana dan kapan upacara ini dilaksanakan? Ketiga, apa makna dari upacara ini? Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun orang Batak Toba tersebar di berbagai daerah, namun setelah meninggal para kerabatnya membawa tulang-tulang leluhur mereka untuk disatukan di tempat yang disebut Tugu. Proses pengumpulan tulang-tulang di sebuah tugu itulah yang disebut sebagai Mangongkal Holi. Upacara ini dilaksanakan sesuai kesepakatan keluarga mengingat tradisi ini sebagai sarana perjumpaan antar keluarga. Upacara ini memiliki makna sebagai upaya penghormatan kepada para leluhur dan tanda kekeluargaan.