cover
Contact Name
Rudy Budiatmaja
Contact Email
rudyatmaja12398@gmail.com
Phone
+6285928918217
Journal Mail Official
rudyatmaja12398@gmail.com
Editorial Address
https://e-journal.usd.ac.id/index.php/Divinitas/about/editorialTeam
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual
ISSN : 29885434     EISSN : 29882311     DOI : 10.24071
Divinitas: Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual develops contextual Philosophical and Theological discourses in dialogue with sociological, anthropological, comparative religion, religious studies, historical, cultural and psychological perspectives and takes the diversity of Asian societies and cultures as its context. The journal is open to undergraduated student, graduated student and scholars from all religious backgrounds.
Articles 74 Documents
Perspektif Iman Remaja akan Keselamatan tentang Pacaran dan Pernikahan Beda Agama Budiatmaja, Rudy; Djojosuroto, Kinayati
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 2, No 2 (2024): Divinitas July
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v2i2.7892

Abstract

Many teenagers say that love can be blind and that love can be carried out by men and women of different religions because of the wrong understanding which states that it is just a momentary pleasure and only satisfies a man's lust without following the current rules or norms of decency. The aim of the current research is to prioritize Soteriology as a spiritual provision for teenagers to face changes in their attitudes and face the wider social circle of all teenagers who are entering the transition period from childhood to adulthood, which includes all growth and development in relationships because of this the church and family are present. to teach the truth about the realities of life. Qualitative literature study methods are used to obtain accurate data related to this scientific work, the sources are the Bible, books and other articles related to the title discussed. The research results show the doctrine of soteriology and the role of the church as a teaching "agent" in teaching the Word of God because Soterology is the certainty of salvation in the Lord Jesus and is the basis for Christian teenagers to face changes in growth and development including dating up to marriage and refusing to date up to interfaith marriages . The conclusion of this research states that the church and family play a full role in being responsible for the future of teenagers so that they do not choose the wrong boyfriend or girlfriend as their lifelong companion and the church and family advise against choosing a boyfriend who has a different belief, let alone until marriage.AbstrakBanyak kalangan remaja mengatakan cinta itu bisa buta dikarenakan adanya pemahaman yang keliru yang menyebutkan bahwa hanya sekedar nikmat sesaat dan hanya memuaskan hawa nafsu seorang laki-laki tanpa mengikuti aturan atau norma kesusilaan yang berlaku saat ini. Tujuan riset saat ini mengutamakan Soteriologi sebagai pembekalan secara rohani kepada remaja untuk menghadapi perubahan sikapnya dan menghadapi pergaulan yang semakin luas kepada semua remaja yang memasuki masa peralihan dari masa anak ke masa dewasa, yang meliputi semua pertumbuhan dan perkembangan dalam pergaulan karena itu gereja dan keluarga hadir untuk mengajarkan tentang kebenaran atas kenyataan hidup. Metode kualitatif studi pustaka digunakan untuk memperoleh data yang akurat berhubungan dengan karya ilmiah ini, sumbernya dari Alkitab, buku-buku dan artikel artikel lainnya yang sehubungan dengan judul yang dibahas. Hasil riset menunjukkan doktrin soteriologi dan peran gereja sebagai “agen” pengajar dalam mengajarkan Firman Tuhan sebab Soterologi sebagai kepastian keselamatan dalam Tuhan Yesus dan menjadi dasar bagi anak remaja Kristen menghadapi perubahan pertumbuhan dan perkembangan termasuk berpacaran sampai pada pernikahan. Simpulan riset ini menyatakan Gereja dan keluarga berperan penuh atas tanggung jawab masa depan para remaja agar tidak salah memilih pacar sebagai pendamping hidupya seumur hidup dan pihak gereja dan keluarga menyarankan agar tidak memilih pacar yang berbeda keyakinan apalagi sampai pernikahan.
Teologi Belaskasih Allah dalam Puisi “Sepotong Hati Di Angkringan” (2022) Karya Joko Pinurbo Prihartanti, Marcellina; Andalas, Patricius Mutiara
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 2, No 1 (2024): Divinitas January
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v2i1.7510

Abstract

Every human being longs for intimacy with God, receiving His merciful grace. Many of Joko Pinurbo's poems raise the theme of the closeness of human relations. One of Pinurbo's articulate poems voicing social compassion is entitled "A Piece of Heart in Angkringan." However, the theological reading of God's mercy in the poem "A Piece of Heart in Angkringan" has not been explored among professional Indonesian theologians. Pope Francis encouraged pastoral theologians as "influencers of the Gospel" to utilize narrative, aesthetic and digital sources to communicate the Catholic faith to the world. Theological research on this poem can contribute to deepening the theology of God's mercy amidst the challenges of globalization of indifference. Both authors are interested in exploring the theology of God's mercy in the poem "A Piece of Heart in Angkringan" by Joko Pinurbo. How does poet Joko Pinurbo describe God's mercy in the poem "A Piece of Heart in Angkringan?" The two authors want to connect the social compassion implied in the poem "A Piece of Heart in Angkringan" with the theology of God's mercy. This research applies a theological reading method to poetry. The research results show the theological content of God's mercy in the words and metaphors that poet Joko Pinurbo explores in the poem "A Piece of Heart in Angkringan." The poet Joko Pinurbo's poetic exploration aligns with Pope Francis' exploration of the theology of God's mercy: "God is present amid His people, a presence that expresses His compassion and solidarity" (Misericordiae Vultus)AbstrakSetiap manusia merindukan intimitas dengan Allah, menerima rahmat belas kasihan-Nya. Banyak puisi karya Joko Pinurbo mengangkat tema intimitas relasi antarmanusia. Salah satu puisinya yang sangat artikulatif menyuarakan kerahiman sosial berjudul “Sepotong Hati di Angkringan.” Namun, pembacaan teologis atas belaskasih Allah dalam puisi “Sepotong hati di Angkringan” belum mendapatkan eksplorasi di antara teolog profesional Indonesia. Paus Fransiskus mendorong para teolog pastoral sebagai “influencer Injil” untuk memanfaatkan sumber naratif, estetik, dan digital untuk mengkomunikasikan iman Katolik kepada dunia. Penelitian teologis atas puisi ini dapat berkontribusi dalam pendalaman atas teologi belaskasih Allah di tengah tantangan globalisasi ketidakpedulian. Kedua penulis tertarik mengeksplorasi teologi belaskasih Allah yang terkandung puisi “Sepotong Hati di Angkringan”. Bagaimana penyair Joko Pinurbo menggambarkan belaskasih Allah dalam puisi “Sepotong Hati di Angkringan?” Kedua penulis hendak menghubungkan kerahiman sosial yang tersirat dalam puisi “Sepotong Hati di Angkringan” dengan teologi belaskasih Allah. Penelitian ini menerapkan metode pembacaan teologis atas karya sastra puisi. Hasil penelitian menunjukkan kandungan teologi belaskasih Allah dalam kata-kata dan metafor-metafor yang penyair Joko Pinurbo eksplorasi dalam puisi “Sepotong Hati di Angkringan.” Eksplorasi poetik penyair Joko Pinurbo selaras dengan eksplorasi teologi belaskasih Allah oleh Paus Fransiskus bahwa “Allah hadir di tengah-tengah umat-Nya, kehadiran yang menyatakan belarasa dan solidaritas-Nya Nya” (Misericordia Vultus).  
Negara dan Warga Negara: Refleksi Buku La Politica Karta Aristoteles Yuslih, Muhammad; Ayu Naw Tika, Titian
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 2, No 1 (2024): Divinitas January
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v2i1.7367

Abstract

Article written by the author focuses on examining Aristotle's ideas and thoughts regarding Citizens and the State. Reflections from Aristotle's book La Politica. The author wants to know how good citizens and states should be, according to Aristotle?, and how is the relationship between the state, citizens and the existing constitution?. So this paper attempts to provide answers to these two questions. In a country there are several important elements such as identity, obligations, rights, participation and the application of shared social values. In the book La Politica. Aristotle says that citizens take part of the life of a country. To be a good citizen is how to get involved and take part in the life of the state. And for Aristotle a good state is one that is able to combine the systems of aristocracy and democracy. Then the middle path taken by Aristotle in this case to become a good country, the results of this study show that a good country must need good citizens as well. The dependence and the relationship between the two cannot be separated from each other. The constitution in a country aims to regulate its citizens. Constitutional rules are very important in a country as long as the constitution is shaped by the happiness and justice of its citizens, this is the main and highest goal in societyAbstrakArtikel yang ditulis oleh penulis ini berfokus pada pembahasan ide dan pemikiran Aristoteles mengenai warga negara dan negara. Refleksi dari buku Aristoteles, La Politica. Penulis ingin mengetahui bagaimana seharusnya warga negara dan negara yang baik menurut Aristoteles?, serta bagaimana hubungan antara negara, warga negara, dan konstitusi yang berlaku?. Oleh karena itu, makalah ini berusaha memberikan jawaban atas dua pertanyaan tersebut. Di suatu negara terdapat beberapa unsur penting seperti identitas, kewajiban, hak, partisipasi, dan penerapan nilai-nilai sosial bersama. Dalam buku La Politica, Aristoteles menyatakan bahwa warga negara turut serta dalam kehidupan negara. Menjadi warga negara yang baik berarti terlibat dan turut serta dalam kehidupan negara. Bagi Aristoteles, negara yang baik adalah negara yang mampu menggabungkan sistem aristokrasi dan demokrasi. Lalu, jalan tengah yang diambil Aristoteles dalam hal ini untuk menjadi negara yang baik, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa negara yang baik juga membutuhkan warga negara yang baik. Ketergantungan dan hubungan antara keduanya tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Konstitusi di suatu negara bertujuan untuk mengatur warganya. Aturan konstitusional sangat penting di suatu negara selama konstitusi dibentuk berdasarkan kebahagiaan dan keadilan warganya, ini adalah tujuan utama dan tertinggi dalam masyarakat.
Muslihat Yakub dalam Mendapatkan Hak Kesulungan Dari Esau Siprianus Leu, Kornelius
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 2, No 2 (2024): Divinitas July
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v2i2.8653

Abstract

The lives of Jacob and Esau, Isaac's twin sons, were filled with tension and competition. Genesis 25:23 tells how the competition between the two was even prophesied by God himself from the time they were conceived. The rivalry between the two continued in the event of Jacob taking away the blessing and birthright from Esau through "deception". Through literature study, this research will attempt to understand the "deceptive" actions carried out by Jacob in taking over the blessing and birthright from Esau, thus making Jacob the ancestor of the Israelites. This research proves that Jacob's action of deceiving Esau was the writers' strategy to explain one of the laws followed by the Israelites, namely the law of retribution. Jacob who "cheated" would receive the same treatment, namely from Laban, his uncle and father-in-law and also by his own children in the event of the sale of Joseph by his own brother (Gen. 37:12-36).AbstrakKehidupan Yakub dan Esau, kedua putra kembar Ishak diwarnai dengan ketegangan dan persaingan. Kejadian 25:23 mengisahkan bagaimana persaingan antara keduanya bahkan telah dinubuatkan oleh Allah sendiri sejak keduanya dikandung. Persaingan keduanya berlanjut pada peristiwa perampasan berkat dan hak kesulungan oleh Yakub dari Esau lewat “penipuan”. Melalui studi kepustakaan, penelitian ini akan berusaha memahami tindakan “penipuan” yang dilakukan oleh Yakub dalam mengambil alih berkat dan hak kesulungan dari Esau, hingga menjadikan Yakub sebagai leluhur Bangsa Israel. Penelitian ini membuktikan bahwa tindakan Yakub yang menipu Esau adalah strategi para penulis untuk menerangkan salah satu hukum yang dianut Bangsa Israel yakni hukum retribusi. Yakub yang “menipu” akan mendapat perlakuan yang sama yakni dari Laban, paman sekaligus ayah mertuanya dan juga oleh anak-anaknya sendiri dalam peristiwa penjualan Yusuf oleh saudaranya sendiri (Kej. 37:12-36).
Memanusiakan Manusia Melalui Pendidikan di Dalam Keluarga Menurut Pemikiran Driyarkara dan Ki Hajar Dewantara Sutanto, Gaudensius Krisantus
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 3, No 1 (2025): Divinitas January
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v3i1.8812

Abstract

Article written by the author focuses on explaining about Driyarka and Ki Hajar Dewantara’s ideas and taught about education in the family. Ki Hajar Dewantara, put forward the concept of the Three Centers of Education, which states that education occurs in the family, school and social community, with the family as the first and main educational environment. His famous principle, "Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani," describes the role of parents in various positions to educate children: providing example, and encouragement. According to Ki Hajar Dewantara, education in the family must also foster children's independence and responsibility, as well as giving them the freedom to explore their interests and talents. Meanwhile, Driyarkara emphasized that the family is the first place of a persons's presence as a human being, and the family is the first step in the process of his journey towards becoming a full human being. Overall, Driyarkara and Ki Hajar Dewantara's ideas about education in the family are related each other. Both agree that effective education starts from the family with an active and loving role of parents. While Driyarkara places more emphasis on holistic education and love, Ki Hajar Dewantara focuses on independence, freedom and the role of parents in supporting children from various educational positions. This writing uses a library research method sourced from both books and journals regarding the concept of family education according to Driyarkara and Ki Hadjar Dewantara. Through library sources, the author reads, adapts, summarizes and reports back ideas related to this article. Library study is also called text study. Using this method is very important because it is able to understand deeply and comprehensively the concept of family education according to Driyarkara and Ki Hajar Dewantara.AbstrakArtikel ini menampilkan pemikiran serta gagasan Driyarkara dan Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan di dalam keluarga. Ki Hajar Dewantara, mengemukakan konsep Tri Pusat Pendidikan, yang menyatakan bahwa pendidikan terjadi di keluarga, sekolah, dan masyarakat, dengan keluarga sebagai lingkungan pendidikan pertama dan utama. Prinsipnya yang terkenal, "Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani," menggambarkan peran orang tua dalam berbagai posisi untuk mendidik anak: memberi teladan, semangat, dan dorongan. Pendidikan dalam keluarga menurut Ki Hajar Dewantara juga harus menumbuhkan kemandirian dan tanggung jawab anak, serta memberikan kebebasan untuk mengeksplorasi minat dan bakat mereka. Secara keseluruhan, pandangan Driyarkara dan Ki Hajar Dewantara mengenai pendidikan dalam keluarga saling melengkapi. Keduanya sepakat bahwa pendidikan yang efektif dimulai dari keluarga dengan peran orang tua yang aktif dan penuh kasih sayang. Sementara Driyarkara lebih menekankan pada pendidikan holistik dan cinta kasih, Ki Hajar Dewantara fokus pada kemandirian, kebebasan, dan peran orang tua dalam mendukung anak dari berbagai posisi pendidikan.
Pahlawan dengan Menipu dan Membunuh? Menelaah Moralitas Kisah Yudit Tjen, Melia
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 3, No 1 (2025): Divinitas January
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v3i1.9710

Abstract

This study examines the moral problem posed by Judith’s story in the Bible: how to morally justify the deception and murder committed by Judith against Holofernes. Using insights from feminist readings, the author emphasizes the importance of ethics of care to cope with the problem. Judith is not seen only as an individual figure, but a figure who is connected to the suffering and struggles of her community. Thus, deception and murder are seen as the last and legitimate attempt and strategy of a weak community to resist the hegemony of the oppressor. The purpose of this research is to present a more balanced way to read and assess the morality of Judith’s story, by utilizing insights from feminist ethics and cultural anthropology. The author uses literature review method to show that Juidth is indeed rightly called a Jewish heroine, despite all  her lies and deceptions, and also the murder she committed.AbtsrakPenelitian ini menelusuri masalah moral yang ditimbulkan oleh kisah Yudit dalam Alkitab: bagaimana secara moral membenarkan penipuan dan pembunuhan yang dilakukan oleh Yudit terhadap Holofernes. Dengan menggunakan wawasan dari pembacaan feminis, penulis menekankan pentingnya etika kepedulian untuk mengatasi masalah tersebut. Yudit tidak hanya dilihat sebagai sosok individu, tetapi sosok yang terhubung dengan penderitaan dan perjuangan komunitasnya. Dengan demikian, penipuan dan pembunuhan dipandang sebagai upaya dan strategi terakhir dan sah dari komunitas yang lemah untuk melawan hegemoni penindas. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyajikan cara membaca dan menilai moralitas cerita Yudit secara lebih seimbang, dengan memanfaatkan wawasan dari etika feminis dan antropologi budaya. Penulis menggunakan metode tinjauan literatur untuk menunjukkan bahwa Yudit memang tepat disebut sebagai Srikandi Yahudi, kendati semua kebohongan dan penipuannya, juga pembunuhan yang dia lakukan. 
Dikotomi Kendali Menurut Stoikisme dalam Pembinaan Calon Imam Gerald, Angelus Narwastu; Pasapan, Reinaldy Noval; Selang, Klaudius Regis
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 3, No 1 (2025): Divinitas January
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v3i1.10584

Abstract

The Church authorities have established a number of criteria and indicators in the formation of candidates for the priesthood. In fulfilling these requirements, candidates are likely to have emotions of anxiety and worry. By using the literature review method of data collection, the author would like to show that the practice of Stoicism's Dichotomy of Control can be a way to prevent negative emotions in candidates for the priesthood. A proper understanding of the Dichotomy of Control and its application in the daily lives of priestly candidates can help them to direct their focus only on things that can be controlled. The study shows that the practice of the Dichotomy of Control according to Stoicism can help priestly candidates to avoid the psychological pressure that appears in the formation period. The results also show that the Dichotomy of Control can help direct the priest candidates' concern to things that can be controlled within themselves. Therefore, they can develop a mature personality freely, without psycholgical pressure and negative emotions. Abstrak Otoritas Gerejawi telah menetapkan sejumlah pedoman dan indikator dalam pembinaan calon imam. Dalam usaha memenuhi sejumlah syarat tersebut para calon imam rentan untuk mengalami perasaan khawatir dan cemas. Dengan menggunakan metode pengumpulan data studi pustaka penulis ingin memperlihatkan penerapan Dikotomi Kendali ala Stoikisme dapat menjadi jalan untuk mencegah emosi negatif dalam diri para calon imam. Pemahaman yang tepat mengenai Dikotomi Kendali dan penerapannya dalam kehidupan para calon imam dapat membantu para calon imam untuk mengarahkan fokus hanya pada hal-hal yang dapat dikendalikan. Dengan demikian para calon imam bisa membangun kepribadian yang matang secara merdeka, tanpa tekanan psikolgis dan emosi negatif.
Yesus: Mengubah Duka Menjadi Sukacita sebuah Studi Naratif atas Teks Lukas 7:11-17 (Yesus Membangkitkan Anak Muda di Nain) Eldi, Rikardo; Intan Godat, Patrisiana
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 3, No 1 (2025): Divinitas January
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v3i1.10373

Abstract

As the great Physician, Jesus healed the sick in more or less two commonly used ways, namely by Word and action.  In His actions, Jesus used materials, such as using earth to blind people's eyes (cf. Mk 10:46-52; Jn 9:6) In addition, there are other phenomena where Jesus with His power healed the sick with His Word. For example, in the context of the resurrection of the young man in Nain (Luke 7:11-17). There are two purposes for writing this article. Firstly, to introduce the reader to the narrative method of single tradition texts such as Luke 7:11-17. Secondly, this article aims to introduce the general public to the figure of Jesus who performed miracles with His Word and actions and their correlation with the creation story of Gen 1:26 (creating man with the Word) and Gen 2:7 (creating man from the dust of the ground). The method used in writing this article is a literature study with the Bible as the main source and several books and articles that are in accordance with the theme discussed.  The researcher used narrative analysis for the text of Luke 7:11-17 because there is no interpretation that uses the narrative method for the text of Luke 7:11-17. It can be concluded that the text of Luke 7:11-17 describes the figure of Jesus who shows His divinity. Through the Word of Jesus, He is able to resurrect a dead person. In addition, the social relationship between Jesus and people who experience suffering, widows, and marginalized groups can be used as an example for Christians today.AbstrakSebagai Sang Tabib agung dan Pemilik Kehidupan, Yesus menyembuhkan orang-orang sakit kurang lebih dengan dua cara yang umumnya digunakan, yakni dengan Sabda dan tindakan. Dalam tindakan-Nya, Yesus menggunakan bahan material, seperti menggunakan tanah untuk memelekan mata orang buta (Bdk. Mrk 10:46-52; Yoh 9:6) Di samping itu, ada fenomena lain di mana Yesus dengan kuasa-Nya menyembuhkan orang sakit dengan Sabda-Nya. Sebagai misal dalam konteks kebangkitan anak muda di Nain (Lukas 7:11-17). Terdapat dua tujuan penulisan artikel ini. Pertama, untuk memperkenalkan kepada pembaca metode naratif dari teks single tradition seperti Lukas 7:11-17. Kedua, artikel ini bertujuan untuk memperkenalkan kepada khalayak umum tentang sosok Yesus yang melakukan mukjizat dengan Sabda dan tindakan-Nya serta korelasinya dengan kisah penciptaan Kej 1:26 (menciptakan manusia dengan Firman) dan Kej 2:7 (menciptakan manusia dari debu tanah). Adapun metode yang digunakan dalam penulisan artikel ini adalah studi pustaka dengan Kitab Suci sebagai sumber utama dan beberapa buku serta artikel yang sesuai dengan tema yang dibahas. Peneliti menggunakan analisis naratif untuk teks Lukas 7:11-17 karena tidak banyak tafsiran yang menggunakan metode naratif untuk teks Lukas 7:11-17. Dapat disimpulkan bahwa teks Lukas 7:11-17 menggambarkan Sosok Yesus yang menunjukan keilahian-Nya. Melalui Sabda Yesus mampu membangkitkan seorang yang telah mati. Dengan demikian, Lukas 7:11-17 menampilkan tiga poin, yakni Allah seperasaan dengan orang yang menderita, Allah berkuasa atas kehidupan dan kematian, dan menampilkan realitas sebuah teologi iman dan wahyu. Iman berarti Allah yang menyatakan diri (Yesus) dan wahyu berarti tanggapan manusia atas pernyataan diri dari Allah (janda yang membiarkan Yesus membangkitkan anaknya).
Semua Makhluk adalah Saudara: Sinergi Pemikiran Paus Fransiskus dengan Budaya Jawa Panjaitan, Firman; Kusumaningdyah, Dwi Ratna
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 3, No 1 (2025): Divinitas January
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v3i1.11441

Abstract

The world needs a contextual concept of Ecoteology, in the sense of a scientific study of theology that is friendly and caring for the environment that is increasingly in harmony with the Will of the creator. Through contextual ecoteology, humans can build harmonious relationships with God, others and the universe. Driven by these backgrounds, the purpose of this paper is to spark an understanding of contextual ecotheology through the synergy between the concept of ecotheology developed by Pope Francis, in his eksikliknya entitled Laudato Si’, Mi Signore, with the concept of Ecology in Javanese culture. This can be done because both views have parallels in view, namely placing nature and humans in one alignment that live and support each other. In this parallel, nature and man go through the process of becoming perfect in their submission and submission to God, The Creator. This study uses descriptive qualitative methods, relying on the literature approach. The results showed that the synergy between Pope Francis ' ecotheological view and the ecological view of Javanese culture can be carried out, resulting in a view of Javanese contextual ecotheology.AbstrakDunia membutuhkan sebuah konsep Ekoteologi yang kontekstual, dalam arti sebuah kajian ilmiah tentang teologi yang ramah dan peduli pada lingkungan hidup yang kian selaras dengan kehendak Sang Pencipta. Melalui ekoteologi kontekstual tersebut, manusia dapat membangun relasi yang harmonis dengan Tuhan, sesama dan alam semesta. Didorong oleh latar belakang tersebut, maka tujuan dari penulisan ini adalah untuk mencetuskan pemahaman ekoteologi kontekstual melalui sinergi antara konsep ekoteologi yang dikembangkan oleh Paus Fransiskus, dalam eksikliknya yang berjudul Laudato Si’, Mi Signore, dengan konsep ekologi dalam budaya Jawa. Hal ini bisa dilakukan karena kedua pandangan tersebut memiliki kesejajaran dalam pandangan, yaitu menempatkan alam dan manusia dalam satu kesejajaran yang saling hidup dan menghidupi satu sama lain. Dalam kesejajaran tersebut, alam dan manusia mengalami proses untuk menjadi sempurna dalam ketundukan dan penyerahan diri mereka kepada Tuhan, Sang Pencipta. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif, dengan mengandalkan pendekatan pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sinergi antara pandangan ekoteologi Paus Fransiskus dengan pandangan ekologi budaya Jawa dapat dilakukan, sehingga menghasilkan pandangan tentang ekoteologi kontekstual Jawa.
Harmoni Manusia dan Alam Menurut Spinoza: Implikasi Filsafat Terhadap Etika Lingkungan Badri Dinggit, Patrisius Juwantri
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 3, No 1 (2025): Divinitas January
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v3i1.10667

Abstract

The purpose of this paper is to show the harmony that exists between humans and nature according to Spinoza's philosophical view. The harmony is expected to manifest in the real form of harmonization, but the fact shows that the existence of harmony does not always create a harmonious relationship or relationship. This fact becomes the basis of urgency for the author to show the harmony of humans and nature in the present day. To achieve this goal, this paper focuses on the description of the philosophical view of man and nature based on the concept of substance according to Spinoza. Based on these descriptions, this paper reveals the harmony between humans and nature that has consequences for human ethics towards the environment or the earth they live on. The writing methodology used is a literature study of various sources, especially those that are Spinoza's original works such as “Ethics” and “A Theological Political Treatise”, as well as other works related to Spinoza's philosophical thought. The findings of this paper are first, harmony between man and nature according to Spinoza is within the deterministic concept. Second, the deterministic view of the harmony between nature and humans is the basis for humans to obey natural law. Third, obeying natural law is the best way or method for humans to create a harmonious relationship with nature. The result of this paper enriches the way humans think and act towards nature appropriately, as well as the way they treat nature.AbstrakTujuan tulisan ini adalah menunjukkan harmoni yang terdapat di antara manusia dan alam menurut pandangan filosofis Spinoza. Harmoni tersebut diharapkan mewujud dalam bentuk nyata yaitu harmonisasi, namun fakta menunjukkan bahwa adanya harmoni tidak selalu menjadi menciptakan hubungan atau relasi yang harmonis. Fakta ini menjadi landasan urgensitas bagi penulis untuk menunjukkan harmoni manusia dan alam di zaman sekarang. Untuk mencapai tujuan tersebut, tulisan ini berfokus pada uraian pandangan filosofis tentang manusia dan alam yang didasarkan pada konsep substansi menurut Spinoza. Berdasarkan uraian-uraian tersebut, tulisan ini menampakkan harmoni antara manusia dan alam yang memiliki konsekuensi pada etika manusia terhadap lingkungan atau bumi yang ia tempati. Metodologi penulisan yang digunakan adalah studi pustaka dari berbagai sumber terutama yang merupakan karya asli Spinoza seperti Ethics dan A Thelogical-Political Treatise, serta karya-karya lain yang berkaitan dengan pemikiran filosofis Spinoza. Temuan dari karya tulis ini yaitu pertama, harmoni antara manusia dan alam menurut Spinoza berada di dalam konsep deterministik. Kedua, pandangan deterministik mengenai harmoni alam dan manusia merupakan landasan bagi manusia untuk patuh pada hukum alam. Ketiga, patuh pada hukum alam merupakan jalan atau metode terbaik bagi manusia untuk menciptakan relasi harmonis dengan alam. Hasil tulisan ini memperkaya cara berpikir dan bertindak manusia terhadap alam secara tepat, serta memberikan pemaknaan baru mengenai kebebasan manusia yang sejatinya memiliki nilai tanggung jawab secara khusus dalam tulisan ini berkaitan dengan alam.