cover
Contact Name
Rudy Budiatmaja
Contact Email
rudyatmaja12398@gmail.com
Phone
+6285928918217
Journal Mail Official
rudyatmaja12398@gmail.com
Editorial Address
https://e-journal.usd.ac.id/index.php/Divinitas/about/editorialTeam
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual
ISSN : 29885434     EISSN : 29882311     DOI : 10.24071
Divinitas: Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual develops contextual Philosophical and Theological discourses in dialogue with sociological, anthropological, comparative religion, religious studies, historical, cultural and psychological perspectives and takes the diversity of Asian societies and cultures as its context. The journal is open to undergraduated student, graduated student and scholars from all religious backgrounds.
Articles 74 Documents
Paham Ketuhanan dalam Kepercayaan Dewi Ibu (Đạo Mẫu) pada Masyarakat Adat di Vietnam Lã, Huy Quốc; Sitorus, Desima Erlinda Agnesia; Prasaja, Leo Agung Tyas; Widodo, Agus
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 3, No 1 (2025): Divinitas January
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v3i1.11598

Abstract

There are many religions and beliefs in the world. Among them, we must mention five major religions such as Christianity, Hinduism, Islam, Judaism and Buddhism. Besides these major religions, other religious beliefs still exist, namely the Đạo Mẫu Belief, Thờ Kính Tổ Tiên Belief (ancestor worship belief), Thờ Trời Belief, and others. These beliefs often originate from local cultures. Although belief is not as universal and strong as religion, it is imbued with the characteristics and identity of indigenous people's belief in a Supreme Being. In this article, the writer will clarify the identity of indigenous people's belief in their own beliefs, specifically the Mother Goddess belief (Đạo Mẫu) of the Vietnamese people. This study also focuses on the belief in divinity in the Đạo Mẫu traditional belief. Using the library research method, the writer traces official sources of information through books, articles, and etc to give an overview of the Mother Goddess belief. Specifically, this article will present the origins of the formation of the Đạo Mẫu belief and also mention the divine system in the Đạo Mẫu belief. Apart from that, the author presents the unique rituals in the Mother Goddess belief, as well as the meaning of these rituals. Finally, the researcher will explain the views and role of the Mother Goddess in the Đạo Mẫu Belief.AbstrakAda banyak kepercayaan dan agama di dunia, diantaranya lima agama besar seperti Kristen, Hindu, Islam, Yudaisme, dan Budha. Selain agama-agama besar tersebut, masih ada kepercayaan lain yang berasal dari budaya lokal yaitu Kepercayaan Đạo Mẫu, Kepercayanan Thờ Kính Tổ Tiên (kepercayaan pemujaan leluhur), Kepercayaan Thờ Trời, dan lain lain. Meski kepercayaan ini tidak bersifat universal dan sekuat agama, namun kepercayaan tersebut dijiwai dengan ciri dan identitas kepercayaan adat terhadap Yang Maha Esa. Dalam artikel ini, penulis akan memperjelas identitas kepercayaan masyarakat adat terhadap kepercayaan mereka sendiri, khususnya kepercayaan Đạo Mẫu masyarakat Vietnam. Penelitian ini juga berfokus pada paham ketuhanan dalam kepercayaan adat Đạo Mẫu. Dengan menggunakan metode studi literatur, penulis menelusuri sumber informasi resmi melalui buku, artikel, dan lain-lain untuk memberikan gambaran tentang kepercayaan Đạo Mẫu. Secara khusus artikel ini akan memaparkan asal mula terbentuknya kepercayaan Đạo Mẫu dan juga menyebutkan sistem ketuhanan dalam kepercayaan Đạo Mẫu. Selain itu, penulis menyajikan keunikan ritual-ritual dalam kepercayaan Đạo Mẫu, serta makna dari ritual-ritual tersebut. Terakhir, peneliti akan memaparkan pandangan pandangan dan peran Dewi Ibu dalam Kepercayaan Đạo Mẫu.
Pendidikan bagi Calon Pemimpin yang Berciri Kalos Kagathos menurut Plato dan Driyarkara dalam Konteks Demokrasi di Tengah Masyarakat Plural di Indonesia Iswandi, Ferdinandus Iswandi; Nefrindo, Oktavianus Nefrindo; Prakosa, JB Heru
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 3, No 1 (2025): Divinitas January
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v3i1.11627

Abstract

Ideal leadership in a democratic system demands a leader who is not only intelligent but also possesses moral wisdom and integrity. The concept of *kaloskagathos*, introduced by Plato, describes an individual who excels both intellectually and ethically, making them worthy of leadership. On the other hand, N. Driyarkara emphasizes education as a process of humanization aimed at shaping individuals who are socially responsible and aware of communal solidarity.  This article examines the concept of education for future leaders according to Plato and Driyarkara and its relevance in shaping democratic and pluralistic leadership in Indonesia. Through a literature review method, this study finds that leadership education should focus on character development, wisdom, and an understanding of diversity. An ideal education system for leaders in a pluralistic society like Indonesia must integrate philosophical approaches, leadership ethics, and humanistic values to foster social justice and harmony.AbstrakDalam tulisan ini, penulis mengkaji pemikiran Filsuf Plato dan Driyarkara mengenai proses pendidikan dan pencarian pemimpin kalos kagathos . Istilah kalos kagathos Merujuk pada konsep kesatuan antara kebaikan ( kalos ) dan kebajikan ( kagathos ) yang dikenakan pada seorang pemimpin yang ideal. Dalam karya-karyanya, Plato berbicara tentang pentingnya pendidikan untuk membentuk pemimpin yang berkarakter, bijaksana, dan adil. Sedangkan dalam pandangan Nicolaus Driyarkara, ditekankan nilai-nilai kemanusiaan atau humanisasi dan spiritual dalam pendidikan. Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana mendidik dan mencari calon pemimpin yang berciri Kalos kagathos dalam konteks demokrasi Indonesia saat ini. Demokrasi sendiri bisa dimaknai pula sebagai ajang perjumpaan antara berbagai elemen masyarakat yang berbeda dalam semangat keterbukaan dan dianugerahi demi kebaikan bersama ( bonum commune ). Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif melalui studi pustaka, penulis menggali pandangan kedua filsafat tersebut, kemudian menerapkan konsep-konsep yang relevan dalam konteks pendidikan kepemimpinan di Indonesia saat ini. Hasil penelitian menunjukkan, dengan menganalisis pemikiran dari kedua tokoh ini, bahwa upaya identifikasi inti pendidikan yang ideal harus dilakukan dengan membentuk karakter pemimpin yang tidak hanya berkompeten tetapi juga memiliki nilai etika dan moral yang kuat. 
Bukti dan Kebenaran Ilmiah: Dua Sisi Mata Uang Onoyi, Nona Jane
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 3, No 1 (2025): Divinitas January
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v3i1.11500

Abstract

This article explores the intricate relationship between evidence and scientific truth, likened to two sides of the same coin. Evidence serves as the fundamental basis for building scientific knowledge, while scientific truth remains tentative and evolves with new discoveries. The discussion delves into the concepts of evidence and truth from the perspective of the philosophy of science, identifying various types of evidence, from empirical to spectral, and examining theories of truth such as coherence, correspondence, and pragmatism. The correlation between evidence and truth is reviewed as a systematic scientific process, although contradictions arise due to evidence limitations, interpretative biases, and the dynamics of scientific paradigms. Through this analysis, the article underscores the importance of critical thinking and awareness of limitations in evaluating scientific claims to support the development of valid and rational knowledge.AbstrakArtikel ini mengeksplorasi hubungan kompleks antara bukti dan kebenaran ilmiah yang diibaratkan sebagai dua sisi mata uang. Bukti menjadi dasar utama dalam membangun ilmu pengetahuan, sementara kebenaran ilmiah bersifat tentatif dan terus berkembang seiring dengan munculnya bukti baru. Kajian ini menganalisis konsep bukti dan kebenaran dari perspektif filsafat ilmu, mengidentifikasi berbagai jenis bukti, serta membahas teori kebenaran. Artikel ini juga mengulas bagaimana korelasi antara bukti dan kebenaran terbentuk dalam proses ilmiah, serta bagaimana kontradiksi dapat muncul akibat keterbatasan bukti, bias interpretasi, dan perubahan paradigma ilmiah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research).  Data yang digunakan dalam penelitian ini bersumber dari berbagai literatur ilmiah. Pemahaman yang kritis terhadap hubungan bukti dan kebenaran memiliki implikasi penting dalam pengambilan keputusan berbasis bukti, literasi sains, serta pengembangan teknologi. Oleh karena itu, sikap terbuka terhadap revisi ilmiah dan kesadaran akan sifat dinamis kebenaran menjadi kunci dalam mendukung perkembangan ilmu pengetahuan yang rasional, objektif, dan bermanfaat bagi masyarakat.
Keselarasan antara Kristologi Origen dari Aleksandria dan Kristologi Konsili Nicea 325: Sebuah Observasi Wijaya, Jonathan Cristian
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 3, No 1 (2025): Divinitas January
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v3i1.11405

Abstract

This study aims to show the harmony between the Christology of Origen of Alexandria and the Christology produced by the Council of Nicaea in 325. Some scholars argue that Origen was the forerunner of Arius' Christology, because when compared there are many similarities between Origen's Christology and Arius' Christology. Meanwhile, some other scholars see that Origen's Christology is in harmony with the Christology of the Council of Nicaea, because Origen taught the divinity of Jesus and the consubstantiality of Christ and the Father. To mediate the two views that see Origen's Christology from different perspectives, some scholars offer a third view. The third view emphasizes that some points in Origen's Christology can be said to be in harmony with Arius' Christology, while some other points are more in harmony with the Christology of the Council of Nicaea. However, previous research has not discussed much about which writings of Origen's works can be said to be in harmony with the Christology of the Council of Nicaea that refers to the Nicene Creed. Through this writing, the author shows the harmony between the two verbatim by comparing Origen's writings related to Christology, with the Nicene Creed, Paragraph 2, which talks about Christ, as well as the Christology of Orthodox figures who attended the Council of Nicea, such as Alexander and Athanasius. The author uses literature studies in this essay to support the author's thesis that there is harmony between Origen's and Nicene's Christology verbatim. Although the author emphasizes the harmony between Origen's and Nicene's Christology in this writing, the author does not attempt to state an opinion that claims Origen's Christology is close to Arius' is a wrong viewpoint. Because if compared carefully, there are indeed significant similarities between Origen's and Arius' Christology.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menunjukkan adanya keselarasan antara Kristologi Origen dari Aleksandria dan Kristologi yang dihasilkan oleh Konsili Nicea pada tahun 325. Beberapa sarjana berpendapat bahwa Origen merupakan pelopor dari kristologi Arius, karena bila dibandingkan terdapat banyak kesamaan antara Kristologi Origen dan kristologi Arius. Sementara itu beberapa sarjana lain justru melihat bahwa Kristologi Origen selaras dengan Kristologi Konsili Nicea, karena Origen mengajarkan keallahan Yesus dan kesehakikatan antara Kristus dan Bapa. Untuk menengahi kedua pandangan yang melihat Kristologi Origen dengan sudut pandang berbeda, beberapa sarjana menawarkan pandangan ketiga. Pandangan ketiga menekankan bahwa beberapa poin dalam Kristologi Origen dapat dikatakan selaras dengan Kristologi Arius, sementara beberapa poin lain lebih selaras dengan kristologi Konsili Nicea. Meski demikian, penelitian sebelumnya belum banyak membahas tulisan-tulisan mana dari karya-karya Origen yang dapat dikatakan selaras dengan Kristologi Konsili Nicea yang merujuk pada Kredo Nicea. Melalui tulisan ini, penulis menunjukkan keselarasan antara keduanya secara verbatim dengan cara membandingkan tulisan-tulisan Origen terkait Kristologi, dengan Kredo Nicea Alinea ke-2 yang berbicara tentang Kristus juga dengan Kristologi tokoh-tokoh ortodoks yang menghadiri Konsili Nicea seperti Aleksander dan Athanasius. Penulis memakai studi pustaka dalam tulisan ini untuk mendukung tesis penulis yang menyatakan bahwa ada keselarasan antara Kristologi Origen dan Nicea secara verbatim. Meski penulis lebih menekankan keselarasan antara Kristologi Origen dan Nicea dalam tulisan ini, penulis tidak berupaya untuk menyatakan pendapat yang mengklaim Kristologi Origen dekat dengan Arius adalah cara pandang yang salah. Sebab jika dibandingkan secara seksama, memang terdapat kesamaan signifikan antara Kristologi Origen dan Arius.
Dialog antara Amsal 17:17 dan Siri’ na Pacce: Eksplorasi Nilai Kebijaksanaan Abraham, Agustinus
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 3, No 2 (2025): Divinitas July
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v3i2.13250

Abstract

This article explores the dialogue between Proverbs 17:17, a part of biblical Wisdom Literature, and Siri’ na Pacce, a traditional value system of the Bugis-Makassar ethnic group. Both emphasize universal values such as love, solidarity, empathy, and human dignity within community life. Proverbs 17:17 underscores the importance of a faithful and loving friend especially in difficult times, while Siri’ na Pacce highlights honor (siri’) and compassion in suffering (pacce). This study employs a qualitative approach through literature review to analyze scriptural texts and local philosophies contextually. The findings indicate that these two traditions complement each other and enrich Christian faith expression in local cultural contexts. Their integration also supports the development of contextual theology and contributes to building a compassionate and dignified society. In an increasingly individualistic world, these values remain relevant in strengthening relationships and fostering inclusive communities of faithAbstrakArtikel ini mengeksplorasi dialog antara Amsal 17:17 sebagai bagian dari Sastra Kebijaksanaan dalam Alkitab dan falsafah hidup siri’ na pacce sebagai kearifan lokal Bugis-Makassar. Keduanya menekankan nilai-nilai universal berupa kasih, solidaritas, empati, dan martabat dalam kehidupan bermasyarakat. Amsal 17:17 menegaskan pentingnya kesetiaan dan kasih seorang sahabat terutama dalam masa sulit, sementara siri’ na pacce menyoroti pentingnya harga diri (siri’) dan solidaritas dalam penderitaan (pacce). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi pustaka untuk menganalisis teks-teks kitab suci dan filosofi lokal secara kontekstual. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai-nilai tersebut saling melengkapi dan mampu memperkaya pemahaman iman Kristen dalam konteks budaya lokal. Integrasi keduanya juga menjadi dasar pengembangan teologi kontekstual dan membangun masyarakat yang bermartabat dan penuh kasih. Dalam dunia yang cenderung individualistik, nilai-nilai ini tetap relevan untuk memperkuat relasi dan membentuk komunitas iman yang inklusif.
Terorisme Negara dan Krisis Subyektivitas: Kritik Foulcaudian terhadap Kekerasan Aparat dalam Masyarakat Kontemporer Tampilang, Risno
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 3, No 2 (2025): Divinitas July
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v3i2.11560

Abstract

The increasing brutality of state apparatuses in recent years has disrupted communal life and poses a significant threat to individual subjectivity. This phenomenon—often referred to as “state terrorism”—manifests under the pretext of maintaining public security and social order, yet frequently targets specific community groups, functioning as a mechanism of control rather than protection. This study draws on secondary data from reports, media coverage, and human rights documentation from 2021-2022 to examine the extent and impact of such violence. Using Michel Foucault’s critical-philosophical framework, the analysis reveals that state apparatuses often act as agents of systemic brutality, undermining human rights and fostering a climate of fear. Moreover, the entanglement of capitalism, racism, and discrimination transforms social relationships, encouraging mutual surveillance among citizens and masking state coercion as mediationAbstrakBrutalitas aparat beberapa tahun terakhir menjadi sebuah fenomena yang mengganggu kehidupan bermasyarakat, bahkan menimbulkan ancaman terhadap subjektivitas individu. Brutalitas aparat atau bisa disebut sebagai “terorisme negara” adalah salah satu ketakutan terhadap aparat keamanan dengan berdalih mengamankan dan menertibkan, namun justru menjadi subjek eksekutor terhadap masyarakat. Berkedok “mengayomi masyarakat” padahal bentuk lain dari “mengontrol masyarakat” dengan menargetkan kelompok masyarakat tertentu dan memiliki motif menebarkan ketakutan dengan dalih mencegah kegaduhan. Data dari 2021-2022 menunjukkan signifikansi brutalitas aparat sebagai eksekutor hak asasi manusia. Secara metodologis, penelitian ini bertumpu pada perspektif kritis-filosofis Michel Foucault. Hasil memperlihatkan bahwa aparat negara menjadi penyebab terjadinya brutalitas terhadap kehidupan manusia dan mengancam hak asasi manusia. Aparat negara menjadi teroris bagi rakyat. Kapitalisme dengan bercampur rasisme dan diskriminasi mengecam hubungan masyarakat yang saling peduli menjadi saling mengawasi, maka membuat aparatus negara dibuat seolah menengahi persoalan.
Makna Perayaan Ekaristi Terhadap Pemulihan Korban Adiksi Narkoba di Rehabilitasi ‘Rumah Kita’ Sianturi, Liana
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 3, No 2 (2025): Divinitas July
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v3i2.11630

Abstract

Drug addicts are typically considered as morally, spiritually, and physically shattered individuals. Pastoral care is provided through the existence of the KSSY-managed drug recovery clinic "Rumah Kita." According to the research question, partaking in the Eucharist is a holistic approach to drug addiction recovery. Using a descriptive analysis methodology and qualitative research methods, this study focuses on former drug users receiving treatment at "Rumah Kita." The goal is to comprehend the Eucharistic meaning for those in the process of healing and to examine the ways in which this meaning influences their spiritual and social development. As a transforming experience, a wellspring of spiritual fortitude, and a healing community for the celebration of new life, the Eucharist functions as a comprehensive encounter. Addicts who have taken drugs believe that attending Eucharistic celebrations makes them more conscious of their transgressions. Through the love of the Father, they are fully formed and prepared to face the outside world. For those overcoming addiction who are working toward recovery, the Eucharistic celebration transforms into a profoundly holistic experience.AbstrakPecandu narkoba sering dipandang sebagai manusia yang rusak secara moral, spritual, dan fisik. Kehadiran rehabilitasi narkoba “Rumah Kita” yang di kelola para suster KSSY, menjadi sarana yang memberikan pendampingan pastoral. Rumusan penelitian: Perayaan Ekaristi menjadi perjumpaaan holistik terhadap pemulihan adiksi narkoba. Metode penelitian menggunakan penelitian kualitatif dengan desain analisis diskriptif terhadap mantan adiksi narkoba di rehabilitasi “Rumah Kita”. Tujuannya untuk mengetahui makna Ekaristi bagi individu yang menjalani pemulihan dan menganalisis bagaimana makna tersebut berkontribusi terhadap traspormasi sosial dan spritual mereka. Ekaristi menjadi perjumpaan yang holistik yakni pengalaman trasformatif, sumber kekuatan spritual, dan komunitas penyembuhan untuk perayaan hidup baru. Korban adiksi narkoba merasa bahwa perayaan Ekaristi membawa mereka pada kesadaran akan keberdosaanya. Kasih Bapa merangkul mereka untuk menjadi manusia yang utuh dan siap menghadapi dunia baru. Perayaan ekaristi menjadi sarana perjumpaan holistik yang mendalam bagi korban adiksi yang berjuang untuk pulih.
Memaknai Kolekte dalam Gereja Katolik Berpijak dari Persepuluhan dalam Kitab Taurat Tyas Prasaja, Leo Agung; Frendy Styawan, Fransiskus; La Quoc Huy, John
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 3, No 2 (2025): Divinitas July
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v3i2.11833

Abstract

The Catholic Church practices a monetary offering commonly called a collection. If you look at the Torah, offerings are also practiced by the Jews. The Jews practice tithing in their religious practices. Tithing is the offering of ten percent of the produce of the land and livestock (Lev 27:30.32). This article will study the meaning of the collection in the Catholic Church based on the practice of tithing by the Jews in the Torah. There is a basic meaning taught by Jesus regarding the offering which is then applied by the Catholic Church in the practice of Christian faith. The method used to complete this research is literature study and scriptural interpretation. This paper aims to understand tithing in the practice of the Jewish faith according to the Torah and help Catholics interpret the offering (collect) practiced in the faith life of the Catholic Church.AbstrakGereja Katolik mempraktikkan persembahan berupa uang yang biasa disebut kolekte.Jika melihat Kitab Taurat persembahan juga dipraktikkan oleh orang-orang Yahudi. Orang-orang Yahudi melaksanakan persepuluhan dalam praktik keagamaan mereka. Persepuluhanadalah persembahan sepuluh persen dari hasil bumi dan ternak (Im 27:30.32). Penelitian inimempelajari makna kolekte dalam Gereja Katolik berpijak dari praktik persepuluhan orangYahudi di dalam Kitab Taurat. Ada dasar pemaknaan yang diajarkan oleh Yesus mengenaipersembahan yang kemudian diterapkan oleh Gereja Katolik dalam praktik iman Kristiani.Metode yang dipakai untuk melengkapi penelitian ini adalah studi pustaka dan tafsir kitabsuci. Penelitian ini bertujuan untuk memahami persepuluhan dalam praktik iman orangYahudi menurut Kitab Taurat dan membantu umat Katolik memaknai persembahan (kolekte)yang dipraktikan dalam kehidupan iman Gereja Katolik.
Peran Asisten Imam dalam Pendampingan Iman Orang Sakit di Paroki Santa Maria dengan Tidak Bernoda Asal Tulungagung Awan, Marsel; Winarto, Agustinus Rudi
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 3, No 2 (2025): Divinitas July
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v3i2.9581

Abstract

This title was chosen because it sees the role of the assistant priest which is so important in assisting the faith of the sick and seeing the picture of the faith assistance of the sick that has been going on so far. The assistant priest is the spearhead of the church's pastoral ministry work. Assistant priests have many roles in the church. One of them is to provide faith assistance as well as send communion for the sick. The problem that arises is that there are many assistant priests, but there are few who serve the faith assistance of the sick. In response to this problem, the author conducted a research on the role of assistant priests and faith assistance for the sick. Observation was made to see firsthand the role of the assistant priest in assisting the faith of the sick. The author uses qualitative research by conducting in-depth interviews with assistant priests by paying attention to their age and tenure. The selection of informants was carried out on the proposal and discussion with the head of the liturgical section and the coordinator of the assistant priest. The results of the study show that the role of assistant priests in assisting the faith of the sick is very important and missed by the people. However, the provisions owned by this assistant priest still need to be increased, developed, and improved, especially the provisions for faith assistance for the sick. The competence of assistant priests needs to be improved in order to serve well. The faith assistance carried out must be able to bring enthusiasm, motivation, joy, and comfort to the sick and their families. Faith assistance, faith confirmation, and gratitude for the assistant priest who serves. Assisting the faith of the sick is not just a task but a call from the heart.AbstrakJudul ini dipilih karena melihat peran asisten imam yang begitu penting dalam pendampingan iman orang sakit sekaligus melihat gambaran pendampingan iman orang sakit yang telah berlangsung selama ini. Asisten imam adalah ujung tombak karya pelayanan pastoral gereja. Asisten imam memiliki peran yang banyak dalam gereja. Salah satunya adalah memberikan pendampingan iman sekaligus mengirimkan komuni bagi orang sakit. Persoalan yang muncul adalah asisten imam itu banyak, namun yang melayani pendampingan iman orang sakit itu sedikit. Menanggapi pokok permasalahan ini, penulis melakukan penelitian mengenai peran asisten imam dan pendampingan iman orang sakit. Observasi dilakukan untuk melihat secara langsung mengenai gambaran peran asisten imam dalam pendampingan iman orang sakit. Penulis memakai penelitian kualitatif dengan melaksanakan wawancara mendalam dengan asisten imam dengan memperhatikan usia dan masa baktinya. Pemilihan informan dilakukan atas usul dan diskusi dengan ketua seksi liturgi dan koordinator asisten imam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran asisten imam dalam pendampingan iman orang sakit itu sangat penting dan dirindukan oleh umat. Namun, bekal yang dimiliki oleh asisten imam ini masih perlu ditambah, dikembangkan, dan ditingkatkan, khususnya bekal untuk pendampingan iman orang sakit. Kompetensi asisten imam perlu ditingkatkan agar bisa melayani dengan baik. Pendampingan iman yang dilakukan harus bisa membawa semangat, motivasi, sukacita, dan penghiburan bagi yang sakit dan keluarganya. Pendampingan iman peneguhan iman dan rasa syukur bagi asisten imam yang melayani. Pendampingan iman orang sakit bukanlah sekedar tugas melainkan panggilan dari dalam hati.
Pendidikan Anak Masyarakat Wewewa: Study Komparatif Nasihat Lokal Wisdom dan Kitab Hikmat Ngara, Martinus Dendo
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 3, No 2 (2025): Divinitas July
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v3i2.12635

Abstract

In the community of West Wewewa, children's development and growth still receive little attention. Various life challenges arise among children and they often struggle to face them on their own. This study examines pedagogical patterns in child education in the West Wewewa community, Sumba-NTT, by combining local wisdom and the advice of the Book of Wisdom (the Book of Proverbs, the Book of Ecclesiastes, and the Book of Job). This review aims to offer a new perspective for Catholic families in educating children through the elaboration of local culture and the teachings of Scripture, so that in this way children do not feel they are struggling alone to face the reality of their life problems. The method used is a literature review study and an interview method via WhatsApp to several resource persons. The results show that parents in West Wewewa actively provide local wisdom advice to their children. This education is considered important because it passes on cultural values that motivate children in the future. In addition, this research offers a pedagogical approach that combines local culture with the advice of the Book of Wisdom in providing alternatives for educating the children of the West Wewewa community.Abstrak Dalam Masyarakat Wewewa Barat perkembangan dan pertumbuhan anak masih kurang mendapat perhatian. Berbagai tantangan hidup muncul di antara anak-anak dan sering kali mereka berjuang untuk menghadangnya sendiri. Penelitian ini mengkaji pola pedagogis dalam pendidikan anak pada masyarakat Wewewa Barat, Sumba-NTT, dengan memadukan kearifan lokal dan nasihat Kitab Hikmat (Kitab Amsal, Kitab Pengkhotbah, dan Kitab Ayub). Ulasan ini bertujuan untuk menawarkan perspektif baru bagi keluarga Katolik dalam mendidik anak melalui elaborasi budaya lokal dan ajaran Kitab Suci, sehingga dengan cara itu anak-anak tidak merasa berjuang sendiri untuk menghadapi realitas permasalahan hidup mereka. Metode yang digunakan adalah studi literatur review dan metode wawancara melalui WhatsApp kepada beberapa narasumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang tua di Wewewa Barat aktif memberikan nasihat kearifan lokal kepada anak-anak mereka. Pendidikan ini dianggap penting karena meneruskan nilai budaya yang memotivasi anak-anak di masa depan. Selain itu, penelitian ini menawarkan pendekatan pedagogis yang memadukan budaya setempat dengan nasihat Kitab Hikmat dalam memberikan alternatif untuk mendidik anak-anak masyarakat Wewewa Barat.