cover
Contact Name
Rudy Budiatmaja
Contact Email
rudyatmaja12398@gmail.com
Phone
+6285928918217
Journal Mail Official
rudyatmaja12398@gmail.com
Editorial Address
https://e-journal.usd.ac.id/index.php/Divinitas/about/editorialTeam
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual
ISSN : 29885434     EISSN : 29882311     DOI : 10.24071
Divinitas: Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual develops contextual Philosophical and Theological discourses in dialogue with sociological, anthropological, comparative religion, religious studies, historical, cultural and psychological perspectives and takes the diversity of Asian societies and cultures as its context. The journal is open to undergraduated student, graduated student and scholars from all religious backgrounds.
Articles 84 Documents
Perspektif Filsafat Sejarah Ibnu Khaldun dalam Pengkajian Sejarah Kerajaan Islam Demak Aji Abdul Muslim; Adi Saputra
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 4, No 2 (2026): Divinitas July
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v4i2.14741

Abstract

Indonesia is the largest country in Southeast Asia. Its territory stretches from the city of Sabang in Sumatra to Merauke in Papua. Indonesia has a very long history. Among the existing historical relics is the Islamic Kingdom of Demak. The Demak Kingdom is one of the oldest Islamic kingdoms on the island of Java, which played a significant role in the history of the development of Islam in Indonesia. This study aims to analyze the history of the Demak Kingdom using the perspective of Ibn Khaldun's philosophy of history, focusing on socio-economic concepts, historical cycles, and analysis through ilm al-Umran. The perspective of the philosophy of history is used to analyze the history of the Islamic Kingdom of Demak because it is very suitable for Ibn Khaldun's lifetime, namely the period of the Islamic kingdom. Because of this compatibility, it is expected that many new facts will be revealed through the research to be conducted. The research methodology used is a literature study by analyzing secondary data obtained from sources such as books and journals that discuss the thoughts of Ibn Khaldun's philosophy of history as well as the history of the Islamic Kingdom of Demak. The results of the research that has been conducted show that the history of the Demak Kingdom can be understood in the context of Ibn Khaldun's ashabiyah theory, namely through social solidarity and strong economic factors, and the Demak people's desire for a new Islamic government. The conclusion of this study is that Ibn Khaldun's philosophy of history can provide a deeper and more complex understanding of the history of the Demak Kingdom and its role in the history of Islam in the Nusantara.AbstrakIndonesia merupakan negara terbesar di Asia Tenggara. Wilayahnya membentang dari kota Sabang di Sumatera hingga Merauke di pulau Papua. Indonesia memiliki sejarah yang sangat panjang. Diantara peninggalan sejarah yang ada adalaha Kerajaan Islam Demak. Kerajaan Demak merupakan salah satu kerajaan Islam yang paling tua di pulau Jawa, dimana memiliki peran penting dalam sejarah perkembangan Islam di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sejarah Kerajaan Demak menggunakan perspektif filsafat sejarah Ibnu Khaldun, dengan fokus pada konsep sosial ekonomi, siklus sejarah dan analisa melalui ilm al-Umran. Prespektif filsafat sejarah digunakan untuk menganalisa sejarah Kerajaan Islam Demak karena sangat cocok dengan masa hidup Ibnu Khaldun yaitu masa kerajaan Islam. Karena kecocokan tersebutlah, diharapkan banyak fakta-fakta baru yang terungkap melalui penelitian yang akan dilakukan. Metodologi penelitian yang digunakan menggunakan studi literatur dengan cara menganalisis data sekunder yang didapatkan dari sumber-sumber seperti buku dan jurnal yang membahas pemikiran filsafat sejarah Ibnu Khaldun maupun mengenai sejarah Kerajaan Islam Demak. Hasil dari penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa sejarah Kerajaan Demak dapat dipahami dalam konteks teori ashabiyah Ibnu Khaldun, yaitu melalui solidaritas sosial dan faktor ekonomi yang kuat, serta masyarakat Demak yang menginginkan pemerintahan baru yang bercorak Islam. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa filsafat sejarah Ibnu Khaldun dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam dan kompleks tentang sejarah Kerajaan Demak dan peranannya dalam sejarah Islam di Nusantara.
Deep Ecology Arne Næss dan Ekologi Integral Paus Fransiskus sebagai Kritik Filosofis terhadap Paham Konsumerisme Anggi Wahyu Nugroho
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 4, No 2 (2026): Divinitas July
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v4i2.14759

Abstract

This study attempts to examine philosophical and theological critiques of modern consumerism through the ecological ideas of Arne Næss in deep ecology and Pope Francis in integral ecology.Both indeed come from different traditions, namely environmental philosophy and the social teachings of the Catholic Church. However, both share a common view of the ecological crisis as a moral and spiritual problem rooted in anthropocentrism, materialism, and the commodification of nature. Deep ecology challenges the view of humans as the center. This view also affirms the intrinsic value of all beings and calls for a radical transformation of lifestyle.One such transformation is excessive consumption patterns. Integral ecology emphasizes the interconnectedness of social, economic, cultural, and environmental dimensions. Integral ecology also invites ecological conversion as a change in perspective and way of life. Through literature review and comparative and hermeneutic analysis, this study shows that both schools of thought offer sharp criticism of consumerism. Consumerism has become a destructive cultural paradigm that accelerates ecological degradation. The shared emphasis on ethical responsibility, relationality, and simplicity of life produces a constructive synthesis in formulating an ecological spirituality relevant to the current context. Thus, the combination of Næss and Pope Francis' ideas offers a holistic framework that not only criticizes consumerism. They also encourage transformative ecological practices for the sustainability and well-being of the entire community of life.AbstrakPenelitian ini berusaha mengkaji kritik filosofis dan teologis terhadap konsumerisme modern melalui gagasan ekologi Arne Næss dalam deep ecology dan Paus Fransiskus dalam integral ecology. Keduanya memang berasal dari tradisi yang berbeda, yakni dari filsafat lingkungan dan ajaran sosial Gereja Katolik. Namun, keduanya memiliki kesamaan dalam melihat krisis ekologi sebagai persoalan moral dan spiritual yang berakar pada antroposentrisme, materialisme, dan komodifikasi alam. Deep ecology menantang pandangan manusia sebagai pusat. Pandangan ini juga menegaskan nilai intrinsik seluruh makhluk serta menyerukan transformasi radikal gaya hidup. Salah satu transformasi tersebut adalah pola konsumsi yang berlebihan. Ekologi integral menekankan keterhubungan antara dimensi sosial, ekonomi, budaya, dan lingkungan. Ekologi integral juga mengundang pada pertobatan ekologis sebagai perubahan cara pandang dan cara hidup. Melalui metode studi pustaka dan analisis komparatif serta hermeneutis, penelitian ini menunjukkan bahwa kedua pemikiran tersebut memberikan kritik tajam terhadap konsumerisme. Konsumerisme menjadi paradigma budaya yang merusak dan mempercepat degradasi ekologis. Penekanan bersama pada tanggung jawab etis, relasionalitas, dan kesederhanaan hidup menghasilkan sintesis konstruktif dalam merumuskan spiritualitas ekologis yang relevan bagi konteks masa kini. Dengan demikian, perpaduan gagasan Næss dan Paus Fransiskus menawarkan kerangka holistik yang tidak hanya mengkritik konsumerisme. Mereka juga mendorong praktik ekologis transformatif demi keberlanjutan dan kesejahteraan seluruh komunitas kehidupan.
Perbandingan Kambing Azazel dalam Perjanjian Lama dan Witi Lera Wulang dalam Budaya Tenawahang Yohanes Jemiandro Bala Kelen
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 4, No 2 (2026): Divinitas July
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v4i2.14761

Abstract

This study aims to compare the Azazel goat in Leviticus 16 with the Witi Lera Wulang ritual in Tenawahang culture, East Flores, as ritual responses to collective purification and the restoration of cosmic harmony. Employing a qualitative approach with a descriptive-comparative design, the research analyzes primary data drawn from biblical texts and in-depth interviews with Tenawahang customary leaders, alongside secondary data from relevant scholarly publications. The findings reveal that both rituals share functional similarities in their use of a male goat as a medium for transferring collective burdens, the involvement of a ritual mediator, and the ultimate objective of restoring communal equilibrium. However, a fundamental divergence exists in their cosmological orientations: the Azazel rite emphasizes vertical reconciliation with Yahweh through the banishment of sin into the wilderness, symbolizing permanent separation from the divine presence, whereas Witi Lera Wulang prioritizes horizontal reconciliation that harmonizes relationships among humans, nature, and ancestors through a structured slaughtering sequence, communal feasting, and the distribution of blessings (kemie). Theologically and culturally, these results affirm that mechanisms of purification, reconciliation, and moral pedagogy constitute cross-culturally universal responses, while simultaneously underscoring the necessity of preserving the distinctive identity of each tradition within faith-culture dialogues. This study contributes to the advancement of contextual theology and ritual anthropology by offering a critical comparative framework for engaging indigenous knowledge systems and scriptural traditions.AbstrakPenelitian ini bertujuan membandingkan  Kambing Azazel dalam Imamat 16 dengan witi lera wulang  dalam budaya Tenawahang, Flores Timur, sebagai respons ritual terhadap pemurnian kolektif dan restorasi harmoni kosmis. Melalui pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif-komparatif, penelitian ini menganalisis data primer dari teks Alkitab dan wawancara mendalam dengan tokoh adat Tenawahang, serta data sekunder dari jurnal ilmiah terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua ritual memiliki kesamaan fungsional dalam penggunaan kambing jantan sebagai medium transfer beban kolektif, peran mediator ritual, dan tujuan akhir berupa pemulihan keseimbangan komunitas. Namun, terdapat perbedaan mendasar dalam orientasi kosmologis; Azazel menekankan pendamaian vertikal dengan Yahweh melalui pengusiran dosa ke padang gurun sebagai simbol pemisahan permanen dari hadirat ilahi, sedangkan Witi Lera Wulang berfokus pada rekonsiliasi horizontal yang menyelaraskan hubungan manusia, alam, dan leluhur melalui siklus penyembelihan terstruktur, makan bersama, dan penyaluran berkat (kemie). Secara teologis-kultural, temuan ini mengonfirmasi bahwa mekanisme pemurnian, rekonsiliasi, dan pedagogi moral merupakan respons universal lintas budaya, sekaligus menegaskan pentingnya menjaga integritas identitas masing-masing tradisi dalam dialog iman-budaya. Studi ini berkontribusi pada pengembangan teologi kontekstual dan antropologi ritual dengan menawarkan kerangka komparatif yang kritis terhadap kearifan lokal dan tradisi kitab suci.
Hermenetuika Lintas Textual: Perbandingan Tradisi Perkabungan Yahudi dan Tongkon di Toraja dalam Terang Pengkotbah 7:2 Cornelius Satrio Tonapa
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 4, No 2 (2026): Divinitas July
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v4i2.14762

Abstract

The Jewish community greatly respects death, as indicated by the words of Ecclesiastes in chapter 7:2: “It is better to go to a house of mourning than to go to a house of feasting, for death is the destiny of everyone; the living should take this to heart”. In practice, the Jewish tradition of mourning or avelut (אֲבֵלוּת) lasts for a long period of time and involves various stages of mourning. The Torajans do the same thing through the tongkon tradition in the Rambu Solo' ceremony. Because they so respect the death of family members, the Toraja people carry out tongkon in the form of Rambu Solo' for a long period of time. The qualitative method with a Cross-Textual Hermeneutics and comparative approach used in this study attempts to find a theological bridge that can bring these two mourning traditions into dialogue. The results of the study show that, in addition to differences, there are similarities in Jewish mourning and tongkon, which transform and enrich both traditions. Both traditions are forms of social support for bereaved families. Theologically, both are forms of respect for the Creator as the holder of human life.AbstrakMasyarakat Yahudi sangat menghormati kematian seseorang yang ditunjukkan kata-kata Pengkotabah dalam pasal 7:2:  Pergi ke rumah duka lebih baik dari pada pergi ke rumah pesta, karena di rumah dukalah kesudahan setiap manusia; hendaknya orang yang hidup memperhatikannya”. Dalam praktiknya, tradisi perkabungan Yahudi atau avelut (אֲבֵלוּת) berlangsung dalam kurun waktu yang lama dan berbagai tahapan perkabungan. Hal yang sama dilakukan oleh masyarakat Toraja lewat tradisi tongkon dalam upacara Rambu Solo’. Karena begitu menghoramati kematian keluarga, orang Toraja melangsungkan tongkon dalam bentuk Rambu Solo’ dalam kurun waktu yang lama. Metode kualitatif dengan pendekatan Hermenutika Lintas Tekstual dan komparasi yang digunakan dalam penelitian ini mencoba menemukan jembatan teologis yang bisa mendialogkan kedua tradisi perkabungan tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa selain perbedaan terdapat persamaan dalam perkabungan Yahudi dan tongkon sehingga kedua ini tersebut yang memberikan transformasi dan memperkaya kedua tradisi ini. Kedua tradisi sama-sama merupakan bentuk dukungan sosial kepada keluarga yang berduka. Secara teologis, keduanya merupakan bentuk penghormatan kepada Sang Pencipta sebagai pemegang kehidupan manusia.