Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur
SABUA adalah jurnal lingkungan binaan dan arsitektur merupakan media informasi, komunikasi, dan pertukaran informasi mengenail masalah-masalah tentang bidang perencanaan wilayah dan kota, isu lingkungan binaan, interaksi manusia dengan karya-karya arsitektur serta interaksi antara manusia, karya-karya arsitektur dengan lingkungan binaan (kota dan desa).Artikel dapat berupa hasil penelitian, konsep perencanaan dan perancangan, kajian dan analisis kritis yang dapat ditulis dalam bahasa Inggris atau bahasa Indonesia. Jurnal ini diterbitkan setiap enam bulanan (Mei dan November)
Articles
132 Documents
ANALISIS KESESUAIAN PEMANFAATAN LAHAN YANG BERKELANJUTAN DI PULAU BUNAKEN MANADO
Verry Lahamendu
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 7 No. 1 (2015)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35793/sabua.v7i1.8272
Pemanfaatan lahan di pulau Bunaken sebagai kawasan wisata taman nasional terus meningkat. Hal ini terlihat dari pembangunan sarana dan prasarana pariwisata yang kecenderungannya berdampak kurang baik bagi kelestarian lingkungan karena pembangunannya tidak sesuai dengan peruntukan rencana tata ruang wilayah yang ada. Pemanfaatan lahan yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang wilayah bahkan bila sudah melebihi daya dukungnya dapat menyebabkan kerusakan lingkungan. Kerusakan lingkungan yang tidak segera diatasi dapat berdampak pada masyarakat yang tinggal di pulau Bunaken juga terhadap keberadaan Taman Laut Bunaken sebagai salah satu taman laut terindah di dunia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis kesesuaian pemanfaatan lahan yang berkelanjutan di pulau Bunaken Manado berdasarkan rencana fungsi kawasan sebagaimana yang sudah ditetapkan dalam rencana tata ruang wilayah. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan analisis overlay yaitu pendekatan pemanfaatan lahan atau landscape dalam bentuk grafis yang dibentuk dari berbagai peta individu yang memiliki informasi/data base yang pesifik. Peta yang dioverlay yaitu peta rencana pemanfaatan lahan berdasarkan RTRW dengan peta kondisi eksisting pemanfaatan lahan di pulau Bunaken. Dari penelitian ini dapat ditarik kesimpulan bahwa terjadi pemanfaatan lahan yang tidak sesuai dengan peruntukan fungsi lahan sebagaimana ditetapkan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah. Lahan untuk kebun, permukiman dan manggrove sebagian telah berubah fungsi menjadi lahan untuk kawasan pariwisata. Sedangkan sebagian lahan kebun telah berubah fungsi menjadi lahan permukiman dan sebagian lahan manggrove sudah berubah fungsi menjadi lahan kebun. Pemanfaatan lahan yang tidak sesuai dengan daya dukungnya akan menyebabkan kerusakan lahan dan lingkungan serta berdampak pada ekosistem Taman Laut Bunaken sebagai kebanggaan masyarakat Sulawesi Utara.
STUDI DATA BASE DAERAH RAWAN BENCANA BERBASIS GIS UNTUK KABUPATEN KEPULAUAN SIAU TAGULANDANG BIARO PROVINSI SULAWESI UTARA
Freddy Jansen;
James A Timboeleng;
Jefferson Londong;
Theo K Sendow
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 7 No. 1 (2015)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35793/sabua.v7i1.8273
Bencana alam adalah konsekwensi dari kombinasi aktivitas alami (suatu peristiwa fisik, seperti letusan gunung, gempa bumi, tanah longsor) dan aktivitas manusia. Karena ketidakberdayaan manusia, akibat kurang baiknya manajemen keadaan darurat, sehingga menyebabkan kerugian dalam bidang keuangan dan struktural, bahkan sampai kematian. Kerugian yang dihasilkan tergantung pada kemampuan untuk mencegah atau menghindari bencana dan daya tahan mereka. Pemahaman ini berhubungan dengan pernyataan: "bencana muncul bila ancaman bahaya bertemu dengan ketidakberdayaan". Dengan demikian, aktivitas alam yang berbahaya tidak akan menjadi bencana alam di daerah tanpa ketidakberdayaan manusia, misalnya gempa bumi di wilayah tak berpenghuni. Konsekuensinya, pemakaian istilah "alam" juga ditentang karena peristiwa tersebut bukan hanya bahaya atau malapetaka tanpa keterlibatan manusia. Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro merupakan Kabupaten Otonom yang baru dimekarkan dari Kabupaten induknya yaitu Kabupaten Kepualauan Sangihe, yang secara resmi dibentuk berdasarkan UU No. 5 Tahun 2007, tanggal 2 Januari 2007 tentang Pembentukan Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro. Keadaan tanah sangat subur dan cocok untuk pertumbuhan dan perkembangan berbagai jenis tanaman terutama tanaman pertanian dan perkebunan. Hal ini terkait dengan jalur Sirkum Pasifik yang melintasi wilayah ini yang ditandai dengan keberadaan sejumlah gunung berapi yaitu Gunung Api Karangetang di Pulau Siau dan Gunung Api Ruang di Pulau Ruang yang hingga saat ini masih aktif menyemburkan material perut bumi sebagai pupuk alami. Secara geologi dan geografis Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro terletak pada jalur gunung berapi dan merupakan daerah kapulauan dengan rawan bencana Tsunami dan bencana lainnya.
KAJIAN SISTEM PENGELOLAAN AIR LIMBAH PADA PERMUKIMAN DI KAWASAN SEKITAR DANAU TONDANO ( STUDI KASUS : KECAMATAN REMBOKEN KABUPATEN MINAHASA)
Jessica C.C Mende;
Veronica A Kumurur;
Ingerid L Moniaga
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 7 No. 1 (2015)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35793/sabua.v7i1.8274
Permukiman akan selalu berkembang seiring dengan meningkatnya kebutuhan akan lahan akibat meningkatnya jumlah penduduk. Pada akhirnya kawasan yang seharusnya dilindungi dimanfaatkan sebagai tempat bermukim. Pemanfaatan lahan sebagai permukiman di kawasan sekitar Danau Tondano bisa saja dilakukan namun harus memperhatikan aspek penataan lingkungan permukiman. Ada begitu banyak aspek dalam permukiman,diantaranya yang sering terabaikan adalah masalah pengelolaan air limbah. Pengelolaan air limbah perlu diperhatikan dalam menata suatu permukiman,apalagi permukiman yang menjadi objek penelitian ini adalah permukiman yang berkembang di kawasan sekitar danau Tondano ,karena memungkinkan timbulnya pencemaran di danau Tondano. Kecamatan Remboken merupakan salah satu Kecamatan di Kabupaten Minahasa yang permukimannya banyak berkembang di kawasan sekitar Danau Tondano. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif,dimana data dianalisis secara kuantitatif untuk mengetahui kondisi pembuangan air limbah serta menghitung kebutuhan sarana pengelolaan air limbah di Kecamatan Remboken lewat perencanaan Instalasi Pengelolaan Air Limbah. Hasil penelitian diketahui bahwa sebagian besar sarana dan prasarana pembuangan air limbah baik grey water maupun black water diantaranya ketersediaan WC, serta septik tank kurang memadai. Jadi dapat disimpulkan bahwa sebagian besar limbah dari permukiman Kecamatan Remboken masuk ke badan air Danau Tondano. Oleh karena itu berdasarkan hasil penelitian tersebut maka direkomendasikan perencanaan Instalasi Pembuangan Air Limbah (IPAL),dimana air limbah yang dihasilkan akan diolah untuk meminimalisir bahan- bahan pencemar untuk selanjutnya air limbah yang telah diolah dapat dimanfaatkan kembali atau dikembalikan ke badan air Danau Tondano
SISTEM AKTIVITAS DAN POLA RUANG PEMUKIMAN NELAYAN DI KELURAHAN MAASING MANADO
Widya Masengi;
J. O. Waani;
Fauziah Masttutie
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 7 No. 1 (2015)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35793/sabua.v7i1.8275
Reklamasi kawasan pesisir pantai yang dilakukan pemerintah selain membuka akses secara umum kepada masyarakat pesisir yang sekaligus meningkatkan nilai kawasan secara ekonomis, akan tetapi disisi lain juga menyebabkan masalah bagi permukiman nelayan yang telah lama ada, dimana perubahan yang terjadi di wilayah pesisir perkotaan lebih banyak diakibatkan oleh terjadinya peningkatan pembangunan yang tidak bersentuhan langsung dengan kebutuhan esensial masyarakat pesisir terutama nelayan yang menjadi penghuni pada umumnya di wilayah tersebut. Kelurahan Maasing merupakan salah satu kelurahan yang dilalui oleh garis pantai pengembangan kota Manado yang dilakukan reklamasi pantai. Manado yang merupakan salah satu kota pesisir pantai yang sedang berkembang di Sulawesi Utara, memiliki garis pantai kota terpanjang didaerah ini. Wilayah pengembangan ekonomi pesisir pantai di wilayah ini, memiliki potensi perikanan yang cukup besar. Sebagaimana yang terjadi pada pembangunan Jalan Boulevard Part one (dibagian selatan Manado yang membentang dari pusat kota hingga daerah Bahu) dampak dari desakan pengembangan wilayah kota Manado dan pembangunan diatas wilayahnya memiliki ekses baik positif maupun negatif kepada lingkungan sekitarnya. Perubahan fisik wilayah pesisir kelurahan Maasing akibat reklamasi dan pembangunannya. Pada kaitan ini peneliti berasumsi bahwa sudah pasti reklamasi dan pembangunan yang dilakukan diatasnya akan berpengaruh terhadap pola aktivitas ekonomi-sosial nelayan, termasuk juga kepada pola ruang secara arsitektural atau dengan kata lain bahwa perubahan aktivitas masyarakat yang ada akan berpengaruh terhadap perubahan ruang yang ada.
PERUBAHAN RUMAH TIPE 21 DI PERUMAHAN SIMPONY INDAH WATUTUMOU II DAN PERUMAHAN PEMDA KALAWAT MINAHASA UTARA
Grace Junita Mokolensang;
Judy O. Waani;
Rieneke Sela
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 7 No. 1 (2015)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35793/sabua.v7i1.8276
Rumah sudah menjadi kebutuhan dasar dari semua orang untuk membina keluarga dalam menjaga kelangsungan kehidupannya. Pembangunan rumah tipe 21 pertama kali hadir di Perumahan Pemda (Pemerintah Daerah) Kalawat pada tahun 1989 yang dibangun oleh Pemerintah Provinsi dan mulai ditempati pada tahun 1993. Perumahan Simpony Indah Watutumou II merupakan pembangunan rumah tipe 21 kedua setelah Perumahan Pemda Kalawat dengan pengelola yang berasal dari pihak swasta di tahun 1993. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap faktor penyebab perubahan rumah Tipe 21 di antara Perumahan Simpony Indah Watutumou II dan di Perumahan Pemda Kalawat, Minahasa Utara. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor ekonomi dan sosial yang mempengaruhi terjadinya perubahan. Dari faktor itulah akan didapati kebutuhan dari penghuni rumah. Kebutuhan meliputi kebutuhan fisiologis, kebutuhan rasa aman, kebutuhan sosial, kebutuhan akan harga diri, kehormatan, ego, dan kebutuhan penunjukkan aktualisasi diri. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa proses perubahan di Perumahan Simpony Indah Watutumou II dan Perumahan Pemda Kalawat terjadi karena adanya faktor kebutuhan sosial dan ekonomi dari penghuni rumah dengan perbedaan diantaranya berupa luasan lahan. Â
ANALISIS PERUBAHAN LUAS KAWASAN RESAPAN AIR DI KOTA MANADO
Amiko Anderson Seng;
Veronica A. Kumurur;
Ingerid L. Moniaga
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 7 No. 1 (2015)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35793/sabua.v7i1.8277
Pembangunan Kota Manado diarahkan ke lahan-lahan bertopografi berbukit yang berfungsi lindung sehingga banyak kawasan yang berubah fungsi menjadi kawasan pemukiman. Oleh sebab itu dilakukan penelitian yang bertujuan mengetahui sebaran kawasan resapan air dan kelas kesesuaiannya di Kota Manado serta untuk mengetahui luas perubahan kawasan resapan air periode tahun 2000-2012. Metode yang digunakan yaitu skoring dan overlay menggunakan sistem Informasi Geografi (SIG). Data-data yang digunakan yakni peta curah hujan, peta kemiringan lahan, peta eksisting penggunaan tahun 2000 dan tahun 2012, dan peta tekstur tanah. Hasil penelitian memperlihatkan Kota Manado pada tahun 2000 tidak ada kawasan yang memiliki sebaran kawasan resapan air dengan kelas sesuai. Kelas kesesuaian yang ada hanyalah kelas cukup sesuai, kelas kurang sesuai dan kelas tidak sesuai. Kelas kesesuaian kawasan resapan air tersebar di seluruh wilayah penelitian. Perubahan luas kawasan resapan air di Kota Manado adalah sebagai berikut: (a) Kelas kesesuaian kurang sesuai mengalami perubahan penggunaan lahan seluas 967,45 Ha atau 22,87 % dari kawasan-kawasan yang terjadi alih fungsi lahan atau sebesar 16,14 % dari seluruh luas kelas kurang sesuai; (b) Kelas kesesuaian cukup sesuai mengalami perubahan penggunaan lahan seluas 764,9 Ha atau 23,12% dari seluruh kelas cukup sesuai. Secara keseluruhan perubahan luas penggunaan lahan di kawasan resapan air Kota Manado periode tahun 2000-2012 baik kelas kesesuaian kurang sesuai maupun kelas kesesuaian cukup sesuai yakni sebesar 18,61% dari luas kawasan resapan air yakni seluas 9.307,87 Ha.
ANALISIS KETERSEDIAAN SARANA PENGELOLAAN AIR LIMBAH DOMESTIK (Studi Kasus: Kelurahan Mongkonai Kecamatan Kotamobagu Barat)
Indah Cipta Gobel;
Faizah Mastutie;
Windy Mononimbar
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 7 No. 1 (2015)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35793/sabua.v7i1.8278
Permasalahan sanitasi lingkungan terhadap sistem pengelolaan air limbah domestik masih kurang memadai pada wilayah–wilayah yang termasuk dalam lingkup wilayah pusat kota dan hal ini terjadi pula pada wilayah Kelurahan Mongkonai sebagai bagian dari pusat Kota. Dengan bertambahnya volume air limbah yang dihasilkan masyarakat maka diperlukan proses pengelolaan air limbah yang tepat agar tidak berdampak buruk bagi kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat. Airlimbah domestik khususnya black water di Kelurahan Mongkonai hingga saat ini masih dibuang pada saluran terbuka dan ke badan air sungai. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisiscara pengelolaan air limbahdomestik di KelurahanMongkonai. Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif. Data diperoleh melalui observasi lapangan serta wawancara/kuesioner. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa pengelolaan air limbah domestik khususnya black water di Kelurahan Mongkonai hanya mencapai 35% atau belum memenuhi Standar Pelayanan Minimal.
GAYA BANGUNAN ARSITEKTUR KOLONIAL PADA BANGUNAN UMUM BERSEJARAH DI KOTA MANADO
Fanny Alfrits Wulur;
Veronica A. Kumurur;
Ivan R.B Kaunang
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 7 No. 1 (2015)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35793/sabua.v7i1.8279
Kota Manado adalah salah satu kota yang dibangun oleh kolonial Belanda. Pusat kegiatan VOC berada di kawasan kota lama, yang mestinya bangunan-bangunan bergaya arsitektur kolonial Belanda masih terbangun di kawasan ini. Saat ini, kota Manado kehilang makna bangunan-bangunan kolonial bersejarah yang mampu memberikan arti bagi generasi sekarang agar mampu membedakan antara kesejarahan kekuasaan-kekuasaan dan kesejarahan karya rancang-bangunnya.. Perlahan, kawasan kota lama Manado mulai kehilangan bangunan-bangunan berwajah kolonial, seiring dengan hilangnya eksistensi bangunan bersejarah berwajah kolonial yang mampu membentuk nilai-nilai lokalitas dalam wujud arsitektural bagi kota Manado. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan tipologi wajah arsitektur kolonial Belanda pada 5 bangunan umum bersejarah yang ada di kawasan kota lama Manado. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-eksploratif, analisa deskriptif-kualitatif dengan pendekatan tipologi wajah arsitektur kolonial Belanda pada lima bangunan di kawasan kota lama Manado. Disimpulkan bahwa: (a) Tipologi bangunan Kapel Biara Santo Yosep Keuskupan Manado adalah: 23% mendekati Indische Empire (Abad 18-19), 43% mendekati tipologi gaya Arsitektur Peralihan (1890-1915), dan 34% mendekati gaya Arsitektur Kolonial Moderen (1915-1940); (b) Tipologi bangunan Gereja Santu Ignatius (Kompleks Persekolahan Don Bosco Manado) 7% mendekati Indische Empire (Abad 18-19); 25% mendekati gaya Arsitektur Peralihan (1890-1915); dan 45% mendekati gaya Arsitektur Kolonial Moderen (1915-1940); (c) tipologi Bangunan Bank Indonesia (dahulu Javasche Bank) 28% mendekati Indische Empire Style (Abad 18-19); 29% mendekati gaya Arsitektur Peralihan (1890-1915); dan 28% mendekati gaya Arsitektur Kolonial Moderen (1915-1940); (d) tipologi Bangunan Ex Bioskop Benteng 17% mendekati Indische Empire Style (Abad 18-19); 25% mendekati gaya Arsitektur Peralihan (1890-1915); dan 31% mendekati gaya Arsitektur Kolonial Moderen (1915-1940); dan (e) tipologi Bangunan Minahasa Raad diperoleh bahwa Bangunan Minahasa Raad 31% mendekati Indische Empire Style (Abad 18-19); 43% mendekati gaya Arsitektur Peralihan (1890-1915); dan 30% mendekati gaya Arsitektur Kolonial Moderen (1915-1940).
PERSEPSI PEDAGANG KAKI LIMA TERHADAP AREA BERJUALAN SEPANJANG JALAN PASAR PINASUNGKULAN KAROMBASAN MANADO
Beatrix Sister Duwit;
Veronica A. Kumurur;
Ingerid L. Moniaga
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 7 No. 2 (2015)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35793/sabua.v7i2.9586
Penelitian ini dilatar-belakangi oleh keberadaan PKL (Pedagang Kaki Lima) yang seringkali dianggap menghambat ruang gerak masyarakat di pusat kota, dimana lokasi pasar tampak kotor karena sampah, sering terjadi kerawanan sosial serta tata ruang kota menjadi tidak teratur. Disisi lain PKL juga memberikan kontribusi yang besar dalam pendapatan daerah. Namun keberadaan PKL dalam hal ini (bidang sektor informal) sangat menyulitkan pemerintah untuk melakukan penataan dilokasi Pasar Pinasungkulan Kota manado. Berdasarkan pengamatan dilapangan terdapat masalah terkait dengan persepsi pedagang kaki lima pada area tempat berjualan disepanjang jalan pasar pinasungkulan karombasan kota manado. Persepsi PKL pada area tempat berjualan di sepanjang jalan pasar pinasungkulan menghasilkan interprestasi yang berbeda-beda. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui karakteristik dan untuk mengetahui persepsi pedagang kaki lima yang berjualan di sepanjang jalan Pasar Pinasungkulan Karombasan dengan menggunakan metode kuantitatif dengan teknik pengambilan sampel Random Sampling.
ANALISIS TINGKAT KEKUMUHAN PERMUKIMAN MASYARAKAT DI KELURAHAN TANJUNG MERAH KOTA BITUNG
Gerald Mingki;
Veronica A. Kumurur;
Esly D. Takumansang
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 7 No. 2 (2015)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35793/sabua.v7i2.9587
Permukiman kumuh merupakan suatu kawasan permukiman yang seharusnya tidak dapat dihuni maupun ditinggali karena dapat membahayakan kehidupan masyarakat yang tinggal dan bermukim di dalamnya, baik dari segi keamanan terlebih lagi dari segi kesehatan. Ketidaklayakan permukiman ini bisa dilihat dari keadaan dan kenyamanan yang tidak memadai dan memprihatinkan, kepadatan bangunan yang sangat tinggi, kualitas bangunan yang sangat rendah, beserta dengan prasarana dan sarana yang tidak memenuhi syarat. Berdasarkan observasi yang dilakukan, permukiman di Kelurahan Tanjung Merah di Kota Bitung memiliki permasalahan-permasalahan yang harusnya tidak dimiliki oleh sebuah permukiman, seperti adanya kepadatan bangunan, kondisi permukiman ini yang tidak teratur, juga kurangnya sarana pendukung atau fasilitasnya yang kurang memadai. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis tingkat kekumuhan di daerah permukiman yang terletak di Kelurahan Tanjung Merah, Kecamatan Matuari, Kota Bitung, Provinsi Sulawesi Utara. Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif dan scoring atau pembobotan. Hasil dari data primer yang telah dikumpulkan berupa data kuantitatif yang disajikan berupa angka-angka, akan diolah dan selanjutnya dianalisa yang kemudian akan dijabarkan dalam bentuk analisis deskriptif. Kesimpulan yang diperoleh bahwa daerah Kelurahan Tanjung Merah memiliki tingkat kekumuhan sedang, dengan aspek drainase dan sampah memperoleh bobot yang tinggi.