cover
Contact Name
-
Contact Email
sabuaunsrat@unsrat.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
sabuaunsrat@unsrat.ac.id
Editorial Address
Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Sam Ratulangi Jl. Kampus Unsrat - Manado 95115
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur
ISSN : 20857020     EISSN : 28286324     DOI : 10.35793
Core Subject : Social, Engineering,
SABUA adalah jurnal lingkungan binaan dan arsitektur merupakan media informasi, komunikasi, dan pertukaran informasi mengenail masalah-masalah tentang bidang perencanaan wilayah dan kota, isu lingkungan binaan, interaksi manusia dengan karya-karya arsitektur serta interaksi antara manusia, karya-karya arsitektur dengan lingkungan binaan (kota dan desa).Artikel dapat berupa hasil penelitian, konsep perencanaan dan perancangan, kajian dan analisis kritis yang dapat ditulis dalam bahasa Inggris atau bahasa Indonesia. Jurnal ini diterbitkan setiap enam bulanan (Mei dan November)
Articles 132 Documents
Pengaruh Eksistensi UNSRAT dan Perkembangan Kota Manado Terhadap Permukiman di Sekitar Kampus Rico Londah
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 9 No. 1 (2020): SABUA : JURNAL LINGKUNGAN BINAAN DAN ARSITEKTUR
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/sabua.v9i1.31725

Abstract

The capital of the province of North Sulawesi, Manado City is classified as a middle city, in terms of population. The city of Manado has become a destination city for the inhabitants of the surrounding area in fulfilling the necessities of life, both work, education, and health. Sam Ratulangi University (UNSRAT) Manado, is the largest campus in the city of Manado. Related to this problem, there are two problems identified as follows: The existence of the UNSRAT Campus brings benefits to the surrounding community, this causes the development of the environment around the campus to be out of control. Furthermore, due to the development of the campus, population growth and surrounding settlements are growing rapidly, this condition causes the environment to become less beautiful. The method used is a qualitative descriptive method. The data used in this study are primary and secondary data. Primary data collection is carried out through: Direct observation /observation, interviews with research resource persons, mapping the area and running a questionnaire. Secondary data obtained through agencies include sub-district and kelurahan maps, and micro maps (map of research locations and maps of existing buildings and areas). The research area is divided into four sections namely North, East, South and West Site. There are several aspects that become the focus of this research, those aspects are the Housing Settlement Aspect; Generally, the surrounding population is affected by the existence of the UNSRAT campus itself, but there are also those who have reasons: close to the workplace, close to children's education facilities, a comfortable environment. For the residential aspect, boarding houses thrive with additional patterns: rooms, new buildings, and dormitory construction. Infrastructure Aspects and Environmental Infrastructure; has complete infrastructure such as electricity networks, clean water, roads, sidewalks, landfills. Having supporting facilities, both on campus and outside campus such as health facilities, worship facilities, primary and secondary education facilities, sports facilities and other facilities. Legal Aspects and Area Management; The average land ownership is already certified, although it has not yet taken into account the building boundary factors. Socio-Economic Aspects; In the study site has 1116 boarding houses with a pattern of growing houses, and dozens of Student Dorms. Citizenship Services Business is a positive thing felt by the people around the existence of the UNSRAT Campus. The existence of the UNSRAT Campus brings benefits to the surrounding community, this has caused the development of the environment around the campus to be out of control. This can be seen by the mushrooming of boarding houses and businesses around the residents. Residents of boarding rooms are no longer dominated by students, but also has been inhabited by various groups. The mushrooming of boarding houses and student dormitories, responded by residents of the settlement as a business opportunity. Criminal cases that occur in the campus environment are a bad influence of the residential environment on the UNSRAT campus, and try to be overcome by the UNSRAT by building a parapet around the campus. Keywords: Manado City, UNSRAT, Settlements Around the Campus
Kajian Kondisi Lanskap Pegunungan Rudi Purwono; Lely Mustika
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 9 No. 1 (2020): SABUA : JURNAL LINGKUNGAN BINAAN DAN ARSITEKTUR
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/sabua.v9i1.31726

Abstract

Lanskap alam berupa gunung dan pegunungan adalah kenampakan alam yang indah, oleh sebab itu akan menjadi tujuan wisata dan tempat yang dicari oleh masyarakat untuk dijadikan kawasan wisata, tempat tinggal, dan aktifitas lainnya oleh sebab itu tak heran masyarakat semakin meningkatkan intensitas pembangunan di lereng gunung dan di punggung gunung, dari citra satelit google earth terlihat bahwa kenampakan hutan alamiah di sejumlah gunung dan perbukitan sudah mulai rusak, hanya berkisar 15% yang masih alamiah, ditambah pembangunan dilakukan hanya menyisakan sedikit resapan, sehingga air tidak dapat meresap ke dalam tanah, hal ini yang menimbulkan banjir, tanah longsor, air bah, susahnya air tanah, intrusi air laut dan kenaikan suhu kawasan, oleh sebab itu berdasarkan rumus debit sangat jelas bahwa luas lahan dan coeefisien limpasan adalah indikator yang harus diperhatikan, dari pembahasan dapat dilihat bahwa lanskap pegunungan dengan hutan alamiahnya harus dipertahankan dan tidak boleh ada lagi pengrusakan atau perambahan, ataupun alih fungsi kawasan hutan, sedangkan untuk kawasan punggung dan keliling punggung gunung pembangunan dan penutupan lahan tidak boleh melebihi 20%, dan sisanya adalah hutan buatan ataupun hutan tanaman industri sedangkan untuk kawasan penyangga, kawasan terbangun dan penutupan lahan maksimal 60% dan 40% adalah murni berupa tanah dan tumbuhan untuk resapan air sebagai ruang terbuka hijau. Kata Kunci: lanskap pegunungan, hutan alamiah, kawasan terbangun, penutupan lahan
Pengembangan Kawasan Pariwisata Alam di Kecamatan Motoling dan Motoling Barat Tirsani Bella; Pingkan P Egam; Frits O.P Siregar
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 9 No. 1 (2020): SABUA : JURNAL LINGKUNGAN BINAAN DAN ARSITEKTUR
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/sabua.v9i1.31728

Abstract

AbstrakObjek wisata di Kecamatan Motoling dan Motoling Barat memiliki daya tarik tersendiri seperti objek wisata air mujizat Lalumpe, air terjun Lalumpe, dan air terjun Toyopon. Objek-objek tersebut tidak dikembangkan sehingga tampil apa adanya. Tujuan penelitian untuk mengidentifikasi faktor-faktor penyebab kurang berkembangnya objek wisata dan mengetahui strategi pengembangan apa yang perlu dilakukan pengelola dalam pengembangan di objek wisata tersebut. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif, untuk mengukur ifas dan efas menggunakan metode pengukuran analisis SWOT dan analisis distribusi frekuensi dengan bantuan software SPSS, dan ArcGIS dalam pemetaan. Hasil menunjukkan bahwa fasilitas umum yang masih kurang dan perlu adanya lahan parkir memadai yang membuat ketiga objek wisata tidak berkembang juga rencana jalan sepanjang 294m untuk air mujizat, 1029m untuk air terjun Lalumpe, 511m untuk air terjun Toyopon dan rencana jalan penghubung sepanjang 7303m atau 7km. Dari hasil analisis SWOT ketiga objek wisata masuk di kuadran I, kuadran ini menempatkan posisi usaha sangat menguntungkan. Strategi yang dapat dilakukan adalah strategi agresif atau strategi pertumbuhan (Growth Strategy). Dari hasil perhitungan kategorisasi Ifas dan efas program prioritas utama ketiga objek wisata berpusat pada pengembangan spot-spot tempat berfoto serta tambahan jaringan listrik di objek wisata. Kata kunci: Pengembangan, Pariwisata Alam, SWOT, Motoling, Motoling BaratAbstractTourist attractions in Motoling and Motoling Barat Districts have their own specialties such as the Lalumpe miracle water tourist attraction, Lalumpe waterfall, and Toyopon waterfall. These objects are not developed so that they appear as they are. The research objective is to identify the factors that cause the underdevelopment of tourist objects and to find out what development strategies the manager needs to do in developing these attractions. This research used quantitative descriptive method, to measure ifas and efas using SWOT analysis measurement method and frequency distribution analysis with the help of SPSS software, and ArcGIS in mapping. The results show that public facilities are still lacking and there is a need for adequate parking which makes the three tourist objects not developing as well as a 294m long road plan for miracle water, 1029m for Lalumpe waterfall, 511m for Toyopon waterfall and a connecting road plan of 7303m or 7km. From the results of the SWOT analysis, the three tourist objects are included in quadrant I, this quadrant puts a very profitable business position. Strategies that can be used are aggressive strategies or growth strategies. From the calculation results of Ifas categorization and efas, the three main priority programs are centered on developing photo spots as well as additional electricity networks at tourist attractions. Keyword: Development, Nature Tourism, SWOT, Motoling, Motoling Barat
Analisis Kebijakan Transportasi Kota Tomohon Berdasarkan Pola Pergerakan Masyarakat Sebagai Indikator Struktur Ruang Kota Winda Palindang; Octavianus H.A Rogi; Johannes Van Rate
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 9 No. 1 (2020): SABUA : JURNAL LINGKUNGAN BINAAN DAN ARSITEKTUR
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/sabua.v9i1.31729

Abstract

Melalui penelitian tahun 2017, Norlyvia Jaya Toding P1 , Octavianus H.A. Rogi², & Raymond Ch Tarore3, “Komparasi Struktur Ruang Kota Tomohon dan Kota Kotamobagu Berdasarkan Distribusi dan Profil Densitas” peneliti telah mencoba mengidentifikasikan tipe struktur spasial kota Tomohon yang ditelusuri melalui pendekatan densitas statis dengan indikator distribusi dan profil densitas yang menunjukan tendensi struktur spasial yang polisentris. Hal ini masih perlu diverifikasi atau validasi lagi melalui penelusuran berdasarkan densitas dinamis, Dari pernyataan ini lah peneliti ingin meneliti tentang densitas “dinamis” pada Kota Tomohon melalui indikator pola pergerakan harian. Tujuan dari penelitian ini adalah Mengidentifikasi pola struktur spasial kota Tomohon berdasarkan parameter pola pergerakan harian masyarakat serta Mengelaborasi opsi tipe kebijakan sistem trasnportasi yang kompatibel dengan pola struktur spasial kota yang teridentifikasi. Metode yang digunakan secara khusus ialah teknik kuantifikasi dan tabulasi untuk pengembangan “matriks asal-tujuan (Origin Destination Survey) dengan format kuesioner atau wawancara terstruktur, serta visualisasi matriks asal- tujuan tersebut dalam wujud peta pola perjalanan harian yang juga sering disebut dengan peta “desire line”. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu; (1) Berdasarkan hasil analisa pola pergerakan masyarakat sebagai indikator struktur ruang kota, yang terepresentasikan pada desire line map struktur spasial Kota Tomohon dapat dikategorikan sebagai struktur polisentris. (2) berdasarkan Struktur Ruang Kota Tomohon yang berciri Polisentris, kebijakan yang perlu dipertimbangkan mencakup :Penyiapan jalur transportasi publik yang menghubungkan pusat-pusat pelayanan sekunder / lokal dengan titik-titik terminal transit pada segmen pusat- pusat pelayanan primer kota,Penguatan daya dukung pusat-pusat pelayanan lokal yang dapat menjadi alternative tujuan perjalanan selain pusat pelayanan primer, Peningkatan kuantitas dan kualitas infrastruktur jaringan jalan yang memfasilitasi pergerakan mobiltas interkoneksi serta pergerakan antar zona peri urban atau antar pusat- pusat pelayanan lokal / sekunder secara langsung melalui peningkatan kapasitas dan kualitas jalur-jalur jalan lingkar kota. Kata kunci: Struktur Spasial,Transportasi, Pola Pergerakan Harian, Origin Destination Survey
Dampak Keterkenalan Objek Wisata Terhadap Perubahan Guna Lahan di Kota Tomohon Allfia Esterlita Mengko; Veronica A Kumurur; Suryono Suryono
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 9 No. 2 (2020): SABUA : JURNAL LINGKUNGAN BINAAN DAN ARSITEKTUR
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/sabua.v9i2.31731

Abstract

Kota Tomohon memiliki kondisi karakteristik wilayah yang spesifik sehingga terdapat banyak objek wisata yang terkenal serta adanya pembangunan tempat-tempat wisata baru. Hal ini telah mempengaruhi perubahan guna lahan seperti lahan kosong menjadi lahan terbangun berupa sarana penunjang pariwisata. Tujuan penelitian ini mengukur tingkat keterkenalan objek wisata di Kota Tomohon dan menganalisis dampak keterkenalan objek wisata terhadap perubahan guna lahan di Kota Tomohon. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode penelitian deskriptif kuantitatif dengan menggunakan analisis formula milgram dengan kuesioner dan analisis spasial dengan menggunakan aplikasi ArcGIS. Berdasarkan hasil analisis maka tingkat keterkenalan objek wisata pertama bukit doa dengan perubahan guna lahan 31%, kedua danau linow dengan perubahan guna lahan 31%, ketiga welu dengan perubahan guna lahan 12%, keempat kaisanti dengan perubahan guna lahan 11%, kelima valentine dengan perubahan guna lahan 6%, keenam puncak tintingon dengan perubahan guna lahan 9%. Sehingga disimpulkan semakin tinggi nilai keterkenalan suatu objek wisata maka perubahan guna lahan pada kawasan sekitar objek wisata tersebut semakin bertambah dengan adanya perubahan guna lahan dari lahan tidak terbangun menjadi lahan terbangun. Perubahan penggunaan lahan juga tidak hanya di pengaruhi oleh keterkenalan objek wisata tetapi juga terjadi karena adanya pertambahan jumlah penduduk yang semakin meningkat sehingga permintaan akan lahan permukiman bertambah. Kata kunci: Keterkenalan, Objek Wisata, Perubahan Guna Lahan
Pengaruh Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat Terhadap Kualitas Permukiman di Kecamatan Tomohon Timur Andre Momuat; Rieneke Sela; Ricky Lakat
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 9 No. 2 (2020): SABUA : JURNAL LINGKUNGAN BINAAN DAN ARSITEKTUR
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/sabua.v9i2.31732

Abstract

AbstrakPermasalahan kualitas hunian seseorang sering terhalang dengan adanya permasalahan ekonomi, masyarakat yang memiliki penghasilan tinggi membuat kualitas hunian menjadi lebih baik dibandingkan dengan masyarakat yang berpenghasilan rendah, sehingga ini akan mempengaruhi kualitas permukiman yang ada pada suatu Kawasan. Terdapat dua kawasan yang mendominasi di kecamatan Tomohon Timur yaitu sebagian sebagai pusat perdagangan dan jasa dan yang satu sebagai pusat agrowisata, inilah yang akan memunculkan perbedaan kondisi sosial ekonomi masyarakat yang nantinya akan mempengaruhi kualitas permukiman di kecamatan Tomohon Timur. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengidentifikasi kondisi sosial ekonomi masyarakat di kecamatan Tomohon Timur, untuk mengidentifikasi kualitas permukiman di kecamatan Tomohon Timur dan untuk menganalisis pengaruh kondisi sosial ekonomi masyarakat terhadap kualitas permumkiman di kecamatan Tomohon Timur. Metode yang digunakan ialah metode analisis jalur (Path analysis) dengan melihat data melalui kuesioner. Hasil uji korelasi menunjukan adanya hubungan yang erat antara kondisi sosial masyarakat dan kondisi ekonomi masyarakat terhadap kualitas permukiman dan hasil uji regresi menunjukan apabila terdapat kenaikan terhadap kondisi sosial dan/atau kondisi ekonomi masyarakat maka hal inipun akan mempengaruhi nilai kualitas permukima secara positif. Kata kunci: Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat; Kualitas Permukiman; Analisis JalurAbstractThe problem of the quality of a person's occupancy is often hindered by economic problems, people with high incomes make the quality of housing better than those with low income, so this will affect the quality of settlements in an area. There are two areas that dominate in East Tomohon sub-district, namely partly as a center for trade and services and one as a center for agro-tourism, this is what will lead to differences in the socio-economic conditions of the community which will affect the quality of settlements in the East Tomohon sub-district. The purpose of this study is to identify the socio-economic conditions of the community in East Tomohon sub-district, to identify the quality of settlements in East Tomohon subdistrict and to analyze the influence of the community's socio-economic conditions on the quality of the settlements in East Tomohon sub-district. The method used is the path analysis method by looking at the data through a questionnaire. The results of the correlation test show that there is a close relationship between the social conditions of the community and the economic conditions of the community on the quality of the settlements and the results of the regression test show that if there is an increase in the social and / or economic conditions of the community then this will positively affect the value of the quality of the settlements. Keyword: Community’s socio-economic conditions, quality of settlement, path analysis
Pemodelan Harga Lahan di Kecamatan Girian dan Kecamatan Maesa Kota Bitung Celine Claudia Ticoalu; Franklin J.C Papia; Windy Mononimbar
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 9 No. 2 (2020): SABUA : JURNAL LINGKUNGAN BINAAN DAN ARSITEKTUR
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/sabua.v9i2.31735

Abstract

AbstrakKecamatan Girian dan Maesa adalah dua kecamatan yang berkembang pesat di Kota Bitung, dimana terjadi perubahan guna lahan dari lahan kurang produktif menjadi produktif sehingga bertambah nilai ekonominya. Lahan yang semakin bertambah harganya ini tidak diketahui batasan minimal dan maksimalnya. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi harga lahan eksisting dan membuat model harga lahan di dua kecamatan tersebut agar diketahui batasan harga yang seharusnya. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif, dengan menggunakan uji asumsi klasik dan metode analisis regresi linear berganda menggunakan software SPSS, dan ArcGIS untuk pemetaan. Hasil menunjukan bahwa harga lahan eksisting di Kecamatan Girian dan Maesa tidak memiliki patokan harga, karena masyarakat sendiri yang menentukannya. Dari hasil pengujian asumsi klasik dan regresi linear berganda, diketahui terdapat beberapa variabel yang tidak lolos dalam pengujian dan tidak dapat digunakan dalam model. Model Kecamatan Girian adalah Y(harga lahan)= -59.918,271+118.257,269 (status kepemilikan)–1,695(jarak jalan arteri) + 57,057(jarak jalan kolektor) -51,945(jarak jalan lokal) dan model Kecamatan Maesa yaitu Y(harga lahan)= 85.643,030 + 532.901,515(status kepemilikan) –1.118,029 (jarak jalan arteri) –660,805(jarak jalan lokal) + 25,755(jarak pusat kota). Berdasarkan hasil analisis, juga diketahui pada kedua model terdapat masing-masing satu variabel yang bersifat anti thesis sehingga menunjukan perbedaan yang besar antara Kecamatan Girian dan Maesa, disebabkan oleh karakteristik lokasi yang berbeda. Namun, kedua model tersebut dapat digunakan untuk perhitungan harga lahan pada masing-masing kecamatan. Kata kunci: Pemodelan; Harga Lahan; Regresi Linear Berganda; Girian; MaesaAbstractGirian and Maesa sub-districts are two districts that are growing rapidly in Bitung City, where there is a change in land use from less productive land to productive so that its economic value increases. The minimum and maximum limits for this land which is increasing in price are unknown. The purpose of this research is to identify the existing land price and to make a land price model in the two subdistricts so that the price limit should be known. This research used quantitative descriptive method, using classical assumption test and multiple linear regression analysis method using SPSS software, and ArcGIS for mapping. The results show that the existing land prices in Girian and Maesa Districts do not have a benchmark price, because the people themselves determine it. From the test results of classical assumptions and multiple linear regression, it is known that there are several variables that do not pass the test and cannot be used in the model. The Girian District model is Y (land price) = - 59,918,271 + 118,257,269 (ownership status) –1,695 (arterial road distance) +57,057 (collector road distance) -51,945 (local road distance) and Maesa District model Y ( land price) = 85,643,030 + 532,901,515 (ownership status) –1,118,029 (arterial road distance –660,805 (local road distance) +25,755 (city center distance). Based on the analysis, it is also known that both models have each one is an anti-thesis variable that shows a big difference between Girian and Maesa Districts, due to the different location characteristics, however, both models can be used to calculate land prices in each district.Keyword: Modeling; Land Prices; Multiple Linear Regression; Girian; Maesa
Strategi Pengembangan Objek Wisata Bahari di Kecamatan Lirung Kabupaten Kepulauan Talaud Daniel Harvey Tulis; Michael M Rengkung; Johannes Van Rate
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 9 No. 2 (2020): SABUA : JURNAL LINGKUNGAN BINAAN DAN ARSITEKTUR
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/sabua.v9i2.31736

Abstract

AbstrakObjek wisata bahari di Kecamatan Lirung masuk dalam Rencana Induk Pembangunan Pariwisata Daerah Kabupaten Kepulauan Talaud dan ditetapkan menjadi pariwisata unggulan serta ikon pariwisata daerah. Daya Tarik objek wisata bahari ini terletak pada keindahan dan keaslian alam serta hamparan pantai dengan pasir putih yang halus sehingga menjadi pembeda dengan yang lainnya namun lokasi yang berada jauh dari Ibukota Provinsi membuat mayoritas wisatawan yang datang hanya berasal dari dalam daerah hal tersebut membuat pemerintah kesulitan untuk menjalin kerjasama stakeholders. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi setiap potensi dan masalah yang menjadi faktor penunjang dan penghambat pengembangan sehingga dapat disusun suatu strategi yang tepat untuk dapat mempercepat pengembangan objek wisata bahari di Kecamatan Lirung ini. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan mendapatkan data primer melalui observasi, dokumentasi, dan wawancara yang ditambah dengan pembagian kuesioner kepada masyarakat dan wisatawan. Analisis data untuk mengetahui klasifikasi dari setiap faktor penunjang objek wisata yang ada menggunakan analisis ODTWA dan untuk menentukan strategi yang tepat maka digunakan analisis SWOT berdasarkan penilaian IFAS (+) 48 dan EFAS (+) 54 hasil penilaian yaitu positif maka ditemukan bahwa strategi yang tepat untuk pengembangan objek wisata bahari di Kecamatan Lirung adalah Growth Oriented Strategy yaitu mendukung setiap kebijakan pengembangan. Kata kunci: Wisata Bahari, Strategi, Pengembangan.AbstractMarine tourism objects in Lirung District is included in the Regional Tourism Development Master Plan for the Talaud Islands Regency and is designated as the leading tourism and regional tourism icons. The attraction of this marine tourism object lies in the beauty and authenticity of nature and a stretch of beach with fine white sand so that it becomes a differentiator from the others, but the location which is far from the provincial capital makes the majority of tourists who come only from within the area, making it difficult for the government to collaborating with stakeholders. The purpose of this research is to identify any potentials and problems that become supporting and inhibiting factors of development so that an appropriate strategy can be formulated to accelerate the development of marine tourism objects in Lirung District. This research uses a descriptive quantitative approach by obtaining primary data through observation, documentation, and interviews plus distributing questionnaires to the public and tourists. Data analysis to determine the classification of each supporting factor for existing tourist objects uses ODTWA analysis and to determine the right strategy, a SWOT analysis is used based on the assessment of IFAS (+) 48 and EFAS (+) 54, the results of the assessment are positive, it is found that the right strategy for The development of marine tourism objects in Lirung District is a Growth Oriented Strategy, which isto support every development policy. Keyword: Marine Tourism, Strategy, Development
Ketersediaan dan Kebutuhan Sarana pada Perumahan dan Kawasan Permukiman di Cluster Mapanget – Talawaan Kabupaten Minahasa Utara Ira Wilhelmina Janis; Veronica A Kumurur; Fela Warouw
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 9 No. 2 (2020): SABUA : JURNAL LINGKUNGAN BINAAN DAN ARSITEKTUR
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/sabua.v9i2.31737

Abstract

AbstrakPembangunan perumahan dan kawasan permukiman (PKP) yang ada di Provinsi Sulawesi Utara berkembang dengan pesat, hal ini sejalan dengan adanya Kawasan Metropolitan Bimindo sebagai pusat pertumbuhan wilayah di Sulawesi (RPJMN 2015-2019). Perkembangan perumahan dan kawasan permukiman ini tentunya tak lepas dari kelengkapan dasar lingkungan yaitu Penyediaan Prasarana, Sarana dan Utilitas (PSU). Kelengkapan dasar yang ada di Cluster Mapanget-Talawaan merupakan bagian terpenting dalam pembangunan, karena akan berpengaruhnya jika diantaranya tidak memiliki PSU yang memadai. Tujuan penelitian ini untuk melihat ketersediaan serta kebutuhan Sarana pada 10 hingga 20 tahun mendatang. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif dengan analisis yang digunakan yaitu analisis deskriptif dan analisis spasial dengan aplikasi ArcGIS. Analisis spasial seperti ploting, buffer dan Overlay. Berdasarkan hasil analisis, ketersediaan Sarana pada umumnya telah memadai namun membutuhkan penambahan pada semua sarana baik pendidikan, kesehatan, peribadatan, perdagangan dan ruang terbuka hijau agar sesuai dengan standar yang berlaku. Kata kunci: Perumahan; Kawasan Permukiman; SaranaAbstractHousing development and settlement areas (PKP) in North Sulawesi Province are growing rapidly, this is in line with the presence of the Bimindo Metropolitan Area as the regional growth center in Sulawesi (RPJMN 2015-2019). The development of housing and residential areas cannot be separated from the basic completeness of the environment, namely the Provision of Infrastructure, Facilities and Utilities (PSU). The basic equipment in the Mapanget-Talawaan Cluster is the most important part of development, because it will affect if one of them does not have an adequate PSU. The purpose of this research is to see the availability and need for facilities in the next 10 to 20 years. This research was conducted using a qualitative descriptive research method with the analysis used is descriptive analysis and spatial analysis with the ArcGIS application. Spatial analysis such as plotting, buffers and overlays. Based on the results of the analysis, the availability of facilities is generally adequate but requires the addition of all facilities including education, health, worship, trade and green open spaces to comply with the applicable standards. Keyword: Housing; Residential Area; Social Facilities
Analisis Pengembangan Ekowisata Bahari di Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil di Kecamatan Tatapaan Kabupaten Minahasa Selatan Marcelino Michael Weken; Dwight M Rondonuwu; Surijadi Supardjo
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 9 No. 2 (2020): SABUA : JURNAL LINGKUNGAN BINAAN DAN ARSITEKTUR
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/sabua.v9i2.31738

Abstract

AbstrakEkowisata bahari merupakan konsep yang mengkombinasikan 2 kepentingan yaitu kepentingan industri pariwisata dengan pelestarian lingkungan di wilayah pesisir. Meningkatnya kunjungan wisatawan di provinsi Sulawesi utara dan kabupaten Minahasa selatan berpengaruh pada pengembangan industri pariwisata di daerah termasuk kecamatan Tatapaan yang wilayah pesisirnya masuk wilayah penyangga taman nasional Bunaken bagian selatan dan zona perlindungan bahari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik dan kondisi ekowisata bahari di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil kecamatan Tatapaan, menganalisis faktor internal dan faktor eksternal yang mempengaruhi pengembangan ekowisata bahari di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil di kecamatan Tatapaan, dan menganalisis arah pengembangan ekowisata bahari wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil di kecamatan Tatapaan. Sumber data didapat melalui observasi, dokumentasi dan kuesioner kepada responden. Analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif, analisis daya dukung, analisis, dan analisis SWOT. Dari hasil penelitian diketahui bahwa ekowisata bahari di kecamatan Tatapaan memiliki 3 karakteristik fisik lingkungan yaitu pantai, hutan mangrove, dan pulau-pulau kecil. Faktor internal kekuatan dan faktor eksternal peluang lebih dominan daripada faktor internal kelemahan dan faktor eksternal ancaman sedangkan untuk arah pengembangan menunjuk pada hasil positif atau pada kuadran progressif atau berkembang. Kata kunci: Ekowisata Bahari, Wilayah Pesisir, Pelestarian Lingkungan.AbstractMarine ecotourism is a concept that combines 2 interests, namely the interests of the tourism industry with environmental conservation in coastal areas. The increase in tourist visits in the province of North Sulawesi and South Minahasa district has an impact on the development of the tourism industry in the area including Tatapaan sub-district, whose coastal area is part of the buffer zone of the southern part of Bunaken National Park and the marine protection zone. This study aims to determine the characteristics and conditions of marine ecotourism in the coastal areas and small islands of the Tatapaan district, to analyze internal and external factors that affect the development of marine ecotourism in coastal areas and small islands in the Tatapaan district, and analyzing the direction of marine ecotourism development in coastal areas and small islands in the Tatapaan district. Sources of data obtained through observation, documentation and questionnaires to respondents. The analysis used is descriptive analysis, carrying capacity analysis, spatial analysis, and SWOT analysis. From the research results it is known that marine ecotourism in Tatapaan sub-district has 3 physical environmental characteristics, namely beaches, mangrove forests, and small islands. Internal factors of strength and external factors of opportunity are more dominant than internal factors of weakness and external factors of threats, while the direction of development points to positive results or in the progressive or developing quadrant.Key words: Marine Ecotourism, Coastal Areas, Environmental Preservation.

Page 5 of 14 | Total Record : 132