cover
Contact Name
-
Contact Email
sabuaunsrat@unsrat.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
sabuaunsrat@unsrat.ac.id
Editorial Address
Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Sam Ratulangi Jl. Kampus Unsrat - Manado 95115
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur
ISSN : 20857020     EISSN : 28286324     DOI : 10.35793
Core Subject : Social, Engineering,
SABUA adalah jurnal lingkungan binaan dan arsitektur merupakan media informasi, komunikasi, dan pertukaran informasi mengenail masalah-masalah tentang bidang perencanaan wilayah dan kota, isu lingkungan binaan, interaksi manusia dengan karya-karya arsitektur serta interaksi antara manusia, karya-karya arsitektur dengan lingkungan binaan (kota dan desa).Artikel dapat berupa hasil penelitian, konsep perencanaan dan perancangan, kajian dan analisis kritis yang dapat ditulis dalam bahasa Inggris atau bahasa Indonesia. Jurnal ini diterbitkan setiap enam bulanan (Mei dan November)
Articles 132 Documents
ANALISIS PENGELOLAAN LUMPUR TINJA DI KECAMATAN SARIO KOTA MANADO Brilsya Moningka; Veronica A. Kumurur; Ingerid L. Moniaga
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 7 No. 2 (2015)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/sabua.v7i2.9588

Abstract

Pengelolaan lumpur tinja dimaksudkan sebagai upaya untuk mencapai salah satu tujuan penataan ruang, yakni mewujudkan ruang wilayah nasional yang aman, nyaman, produktif, dan berkelanjutan melalui perlindungan fungsi ruang dan pencegahan dampak negative terhadap lingkungan akibat pemanfaatan ruang (Pasal 3 Undang-undang No. 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang). Oleh sebab itu,pengelolaan lumpur tinja yang memadai dan terpadu secara menyeluruh sangat diperlukan sebagai solusi untuk mengatasi permasalahan peningkatan timbulan lumpur tinja akibat tingginya jumlah dan kepadatan penduduk di kawasan perkotaan. Dalam hal ini, khususnya untuk kawasan padat penduduk memerlukan komunalisasi pengelolaan lumpur tinja, dan penyediaan fasilitas pengolah yang bersifat lanjutan dari tangki septic. Maka dari itu peneliti bermaksud melakukan penelitian tentang analisis pengelolaan lumpur tinja di Kecamatan Sario Kota Manado. Penelitian ini bertujuan untuk Mengetahui cara mengelola lumpur tinja pada pemukiman padat penduduk di Kecamatan Sario dan Menentukan kebutuhan pengelolaan dan lokasi sarana pengelolaan lumpur tinja pada pemukiman padat penduduk di Kecamatan Sario. Tahapan analisis untuk mencapai tujuan penelitian terdiri atas 4 tahap yakni : identifikasi permukiman padat padat penduduk di Kecamatan Sario atau penentuan lokasi penelitian; deskripsi kondisi eksisting pengelolaan lumpur tinja pada lokasi penelitian; proyeksi jumlah penduduk, kepadatan penduduk dan timbulan lumpur tinja tahun 2014-2034; dan penentuan kebutuhan dan lokasi sarana pengelolaan lumpur tinja tahun 2014-2034. Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa : Pengelolaan lumpur tinja yang  saat ini diterapkan masyarakat pada permukiman padat penduduk di Kecamatan Sario adalah system setempat dan Kebutuhan pengelolaan lumpur tinja yang cocok untuk diterapkan pada permukiman padat penduduk di Kecamatan Sario hingga tahun 2034 adalah system setempat dilengkapi dengan pengolahan tambahan berupa anaerobic baffled reactor sebanyak 23 unit.
ANALISIS KESESUAIAN LAHAN PERMUKIMAN DI KAWASAN SEKITAR KORIDOR RINGROAD I MANADO Nofrendy Utubulang; Veronica Kumurur; Ingerid Moniaga
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 7 No. 2 (2015)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/sabua.v7i2.10107

Abstract

Kondisi bentang alam pada jalan arteri Ringroad I ini sangat beragam aspek biofisiknya antara lain topografis, jenis tanah dan kelerengan. Keragaman aspek tersebut menyebabkan perlunya analisis kesesuaian lahan permukiman untuk mengetahui kelayakan lahan yang hendak di bangun guna perwujudan ruang ekologis yang berkelanjutan. Penelitian ini mengkaji mengenai kesesuaian lahan untuk permukiman di kawasan sekitar koridor Ringroad I Sulawesi Utara berdasarkan atribut fisik lahan dan evaluasi kesesuaian penggunaan lahan permukiman dengan kesesuaian lahan serta evaluasi kesesauaian peruntukan lahan permukiman dengan kesesuaian lahan permukiman. Metode analisis pada penelitian ini antara lain skoring dan overlay dengan GIS seperti analisis fungsi kawasan dan analisis kesesuaian lahan permukiman berdasarkan kondisi fisik lahan, metode analisis spasial seperti, analisis peruntukan lahan (rencana). Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah tingkatan kesesuaian lahan untuk permukiman dikawasan sekitar koridor Ringroad I Sulawesi utara adalah kesesuaian lahan untuk permukiman pada kawasan budidaya di kawasan sekitar koridor Ringroad I, Lahan yang sesuai untuk permukiman yang sesuai sebesar 2071.89 Ha atau 82.10% dari luas kawasan budidaya dan yang tidak sesaui sebesar 451.82 Ha.atau 17.90% dari luas kawasan budidaya. Untuk evaluasi peruntukan lahan permukiman dengan kesesuaian lahan permukiman yang sesuai sebesar 312.14 Ha atau 12.37% dan peruntukan lahan yang tidak sesuai dengan kesesuaian lahan sebesar 29.13 Ha atau 1.15%.
PENGARUH FAKTOR PEMBENTUK RUANG PADA TIPOLOGI RUANG LUAR DI KAMPUNG NOTOYUDAN RW 25 DAN KAMPUNG PAKUNCEN RW 8, KOTA YOGYAKARTA Sriana Delfiati; Paulus Bawole
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 8 No. 3 (2017): sabua
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/sabua.v8i3.18919

Abstract

Kampung Notoyudan RW 25 dan kampung Pakuncen RW 8 adalah Kampung padat penduduk yang terletak di pusat kota Yogyakarta. Kedua Kampung ini saling berhadapan di sepanjang tepi sungai Winongo. Banyak warga dari kedua Kampung memanfaatkan ruang luar sebagai ruang alternatif untuk kegiatan keluarga dan pekerjaan. Makalah ini membahas hasil penelitian tentang tipologi ruang terbuka dan faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan Kampong Notoyudan di RW 25 dan Kampong Pakuncen di RW 8. Diskusi tentang kampung terkait dengan tipologi ruang terbuka dan permukiman perkotaan. Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif kualitatif untuk mendapatkan gambaran atau gambaran faktor - faktor yang mempengaruhi pembentukan ruang luar. Pendekatan kuantitatif juga dilakukan dengan mengukur ruang terbuka agar bisa tipologi ruang terbuka di kedua Kampung. Dalam mengidentifikasi penduduk pemukiman Kampung faktor-faktor yang perlu diperhatikan antara lain: faktor sosial dan ekonomi masyarakat. Sedangkan faktor yang perlu diperhatikan dalam mengidentifikasi karakteristik fisik hunian adalah masalah hunian, ruang terbuka yang ada, bangunan dan kepemilikan rumah dan fasilitas di dalam Kampung. Hasil diskusi menunjukkan bahwa tipologi dasar ruang terbuka di Notoyudan RW 25 dan desa Pakuncen RW 8 memiliki pola linier. Dari bentuk dasarnya ada beberapa bentuk / pola yang berbeda yang ditemukan. Faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan ruang terbuka di kedua desa adalah faktor hunian, topografi dan aktivitas penghuni. 
OPTIMALISASI KOMPOSISI PRODUKSI TIPE RUMAH UNTUK MENCAPAI KONSEP HUNIAN BERIMBANG DENGAN MENGGUNAKAN METODE SIMPLEK (Studi Kasus: Perumahan “X” Di Jatimulia, Bekasi) Ima Rachima Nazir; Maulina Dian; Rossa Turpuk Gabe
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 8 No. 3 (2017): sabua
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/sabua.v8i3.18920

Abstract

Konsep hunian berimbang merupakan konsep dalam ilmu perencanaan kota sebagai upaya mencapai keseimbangan sosial antar masyarakat. Keberagaman kondisi masyarakat seperti status sosial, profesi, maupun tingkat ekonomi dalam satu lingkungan hunian akan mewujudkan keharmonisan antar masyarakat. Selain itu, konsep hunian berimbang dimaksudkan sebagai strategi menyediakan rumah bagi masyarakat berpendapat rendah. Dalam pelaksanaannya, konsep ini perlu mempertimbangkan komposisi tiap tipe rumah yang akan diproduksi agar layak diterapkan oleh pengembang. Dalam menentukan komposisi ini pengembang perlu mempertimbangkan batasan yang ada antara lain daya beli dan minat beli masyarakat, luas lahan, biaya produksi serta komposisi berimbang 1:2:3 (1 rumah mewah : 2 rumah menengah : rumah sederhana) serta komposisi berimbang 1:1 (1 rumah menengah : 1 rumah sederhana ) sesuai denganPermenpera Nomor 10 Tahun 2012, yang salah satu tujuannya adalah mewujudkan subsidi silang bagi tipe rumah sederhana. Kajian ini berupaya memperoleh komposisi produksi tipe rumah yang paling optimal, yang dapat memberikan keuntungan yang maksimum. Studi kasus yang digunakan dalam kajian ini adalah Perumahan yang terletak di Jatimulia, Bekasi. Pencarian komposisi optimasi diperoleh melalui Metode Simplek. Dari hasil optimasi diperoleh komposisi masing-masing tiap tipe rumah untuk komposisi 1:2:3 adalah tipe mewah 200/400 sebanyak 80 unit, tipe menengah 132/112 159unit, tipe sederhana 36/72 sebanyak 239 unit dengan keuntungan maksimal Rp. 338.923.800.000,- sedangkan untuk komposisi 1:1 adalah tipe komersil (132/112) 372 unit, tipe sederhana (36/72) 372 unit dengan keuntungan Rp. 301.901.400.000,-. Temuan dari kajian ini dapat dijadikan pertimbangan pemerintah dalam menetapkan komposisi produksi untuk mencapai hunian yang berimbang bagi pengembang serta tercapainya subsidi silang bagi rumah tipe sederhana. 
PENGARUH PEMBANGUNAN BERBASIS MASYARAKAT TERHADAP PENGURANGAN DAMPAK KERENTANAN BENCANA ALAM DAN EKONOMI DI PEDESAAN (Studi Kasus: Pembangunan Gubug Guyub, Gereja Katolik St. Theresia Lisieux Paroki Boro, Desa Banjarasri, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo, D.I Yogyakarta) Yusak Senja Utama; Paulus Bawole
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 8 No. 3 (2017): sabua
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/sabua.v8i3.18921

Abstract

Gereja Katolik St. Theresia Lisieux Paroki Boro merupakan salah satu gereja Katolik yang berada di dalam wilayah administratif Kabupaten Kulon Progo, D.I. Yogyakarta. Wilayah pelayanan Paroki Boro berada pada kawasan pedesaan dengan masyarakat yang bergantung dengan keadaan alamnya. Tanah dan air digunakan sebagai salah satu alat produksi untuk menyukupi kebutuhan hidup. Sementara itu pada kawasan pedesaan ini terjadi kerentanan terhadap bencana alam dan kemiskinan. Pembangunan berbasis masyarakat melalui proses serial workshop pembangunan balai komunitas diselenggarakan oleh Paroki Boro dan difasilitatori oleh lembaga swadaya masyarakat Arkom Jogja yang bekerja sama dengan Bambu Bos untuk mengurangi dampak kerantanan bencana alam dan ekonomi umat. Oleh karena itu akan dilihat pengaruh pembangunan berbasis masyarakat terhadap pengurangan dampak kerentanan bencana alam dan kekeringan serta kemiskinan di pedesan. Metode yang digunakan adalah dengan melakukan observasi lapangan dan wawancara mendalam untuk melihat fakta yang terjadi di lapangan. Focus Group Discussion (FGD) dilakukan untuk cross check data dan melengkapi jika ada kekurangan. Penelitian ini menemukan pengaruh kegiatan pembangunan berbasis masyarakat dapat meningkatkan kesadaran potensi dan masalah masyarakat, muncul kemauan untuk berpartisipasi, dan terbentuk lembaga untuk melakukan usaha demi perbaikan kualitas hidup. 
REKAYASA LANSEKAP UNTUK PENANGANAN BANJIR (Studi Kasus: Bukit Duri, Kampung Pulo, Kampung Melayu dan Kali Bata Jakarta) Rudi Purwono; Lely Mustika
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 8 No. 3 (2017): sabua
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/sabua.v8i3.18922

Abstract

Banjir merupakan permasalahan yang rutin untuk DKI Jakarta, salah satu penyebabnya adalah meluapnya air Sungai Ciliwung. Pada kondisi normal tinggi muka air 0.5-2 m, dengan debit 5-60 m3/detik. Pada waktu tertentu di musim penghujan di hulu, aliran yang dibawanya ≥250 m3/detik, ditambah dengan intensitas hujan >100 mm dan berdurasi >1 jam di wilayah Jakarta, menyebabkan muka air sungai naik menjadi ±3-4 m, yang merendam bantaran sungai di Kali Bata, Kampung Melayu, Kampung Pulo, dan Bukit Duri. Bantaran sungai menjadi tempat perdagangan, permukiman, bengkel funitur, dsb, kurangnya vegetasi dan Ruang Terbuka Hijau, KDB rata-rata 95% dan menyempitnya sungai menjadi ±16-20 m, dengan kedalaman ±1 meter. Berdasarkan hal tersebut dilakukan kajian analisis dimensi sungai untuk mengalirkan debit sungai dari hulu dan debit larian, dengan asumsi lebar sungai 16-70 m, kedalaman 2-3 m, tinggi tanggul 1 m. Hasil analisis lebar sungai 50-70 m, pada debit 600 m3/detik dan RTH 50% dari wilayah tangkapan, terjadi kondisi muka air -0.50 m dari tanggul, untuk itu konsep Rekayasa Lanskap sungai dibuat lebar 50-70 m, kedalaman 3 m, tinggi tanggul 1 m, dengan sempadan ±10-25 m untuk wilayah perkotaan, dan ≥50 m untuk wilayah hulu. Vegetasi peneduh, pelindung dan penutup tanah, dipilih untuk mengurangi erosi, longsor, dan menurunkan aliran permukaan, dan material dibuat dari batu kali sebagai penjaga ekosistem sungai. 
Mitigasi Risiko Bencana Banjir di Kota Makassar Anastasia Bongi; Octavianus H.A Rogi; Rieneke L.E Sela
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 9 No. 1 (2020): SABUA : JURNAL LINGKUNGAN BINAAN DAN ARSITEKTUR
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/sabua.v9i1.31720

Abstract

Indonesia merupakan negara yang sering terjadi bencana di mana salah satunya bencana banjir dan salah satu wilayah yang rawan bencana banjir adalah Kota Makassar (BNPB, 2016). Berdasarkan BMKG Kota Makassar kriteria curah hujan Kota Makassar dikategorikan sangat lebat. Secara geomorfologi Makassar merupakan daerah resapan dengan kerucut gunung api yang mengelilingi dan memanjang di sepanjang jalur utara-selatan melewati puncak Gunung Lompobatang, sehingga daerah Makassar mempunyai potensi air tanah yang besar. Kota Makassar tidak lepas dari permasalahan banjir. Kurangnya area penghijauan serta area rawa yang sebagai tempat penampungan air hujan sudah berubah ahli fungsi lahan menjadi area perumahan, perdagangan dan jasa. Terkadang pembangunan yang dilakukan memberikan dampak yang merugikan, salah satunya menimbulkan dampak banjir. Mitigasi yang dilakukan di Kota Makassar belum cukup tanggap terhadap bencana banjir karena masih cukup banyak kerugian akibat bencana tersebut, maka dari itu diperlukan mitigasi terkait kebijakan agar dapat mengurangi risiko (kerugian) pada saat terjadi bencana. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis tingkat risiko bencana banjir berdasarkan 3 aspek (ancaman, kerentanan, kapasitas) dan merumuskan kebijakan mitigasi risiko bencana banjir berdasarkan aspek tingkat risiko. Penelitian ini menggunakan analisis dengan metode penelitian kuantitaif dengan pendekatan deskriptif. Analisis dilakukan berdasarkan PERKA BNPB No. 02 Tahun 2012 tentang Pedoman Umum Pengkajian Risiko Bencana. Hasil penelitian ini yaitu didapatkan 133 kelurahan tingkat risiko tinggi, 4 kelurahan tingkat risiko sedang dan 2 kelurahan tingkat risiko rendah. Perumusan kebijakan dilakukan berdasarkan tingkat risiko dengan memeprhatikan kontributor utamanya (kerentanan) yang di bagi pada masing-masing kelurahan.KATA KUNCI: Mitigasi, Bencana Banjir, Tingkat RisikoIndonesia is a country with frequent disasters, one of which is flood disaster and one of the areas prone to flooding is Makassar City (BNPB, 2016). Based on the BMKG Makassar City, the rainfall criteria for Makassar City are categorized as very heavy. Geomorphologically, Makassar is a catchment area with volcanic cones that surround and extend along the north-south route past the summit of Mount Lompobatang, so that the Makassar area has great groundwater potential. Makassar City cannot be separated from flood problems. The lack of greening areas and swamp areas that serve as rainwater reservoirs have turned land function experts into housing, trade and service areas. Sometimes the construction carried out has an adverse impact, one of which is the impact of flooding. Mitigation carried out in Makassar City is not sufficiently responsive to flood disasters because there are still quite a lot of losses due to the disaster, therefore mitigation is needed related to policies in order to reduce risks (losses) when a disaster occurs. The purpose of this research is to analyze the level of flood risk based on 3 aspects (threat, vulnerability, capacity) and formulate a flood disaster risk mitigation policy based on the risk level aspect. This research uses analysis with quantitative research methods with a descriptive approach. The analysis was carried out based on PERKA BNPB No. 02 of 2012 concerning General Guidelines for Disaster Risk Assessment. The results of this study were 133 high-risk sub-districts, 4 medium-risk sub-districts and 2 low-risk sub-districts. The formulation of policies is carried out based on the level of risk by taking into account the main contributor (vulnerability) which is divided into each sub-district.Keyword: Mitigation, Flood Disaster, Risk Level
Analisis Perkembangan Fisik Perkotaan Berbasis GIS di Kabupaten Minahasa Utara Gabriela Fabiola Manumpil; Linda Tondobala; Esly Takumansang
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 9 No. 1 (2020): SABUA : JURNAL LINGKUNGAN BINAAN DAN ARSITEKTUR
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/sabua.v9i1.31722

Abstract

Perkembangan dan pertumbuhan suatu kota dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu faktor kependudukan dan interaksi antara kota dengan kota lainnya dalam lingkup wilayah maupun luar wilayah suatu daerah. Perkembangan dan pertumbuhan faktor tersebut menjadi pemicu berkembangnya wilayah yang berdampak terhadap terjadinya penggunaan lahan dan perubahan fisik. Salah satu fenomena yang menandai perkembangan fisik kota adalah ekspansi daerah terbangun pada daerah non terbangun. Fenomena ini juga dapat dilihat pada Kabupaten Minahasa Utara. Kabupaten Minahasa Utara memiliki 4 Wilayah perkotaan yaitu di daerah Kecamatan Kalawat, Kecamatan Airmadidi sebagai pusat kota dan Kecamatan Kauditan dan Kecamatan Kema. Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengidentifikasi perkembangan fisik yang terjadi pada wilayah perkotaan di Kabupaten Minahasa Utara pada tahun 2011 & 2019; 2) menganalisis faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi perkembangan wilayah perkotaan di Kabupaten Minahasa Utara. Penelitian ini dilakukan dengan 2 metode analisis yaitu pada tujuan pertama menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan analisa spasial dan menggunakan software Arcgis 10.3 dan tujuan kedua dengan metode deskripstif. Berdasarkan hasil penelitan, perkembangan terjadi pada 4 kecamatan yaitu Kecamatan Kalawat, Airmadidi, Kauditan dan Kema cenderung mengalami perkembangan secara horizontal. Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya perubahan, berbeda di tiap kecamatan seperti adanya faktor kebijakan strategis terkait perekembangan, keadaan geografis, fungsi kota yang menjadi daya tarik masyarakat. Kata kunci: Perkembangan Fisik Perkotaan, Faktor-faktor perkembangan
Feasibility Study Pembangunan Rumah Kost di Kota Manado Hendrik S Suriandjo
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 9 No. 1 (2020): SABUA : JURNAL LINGKUNGAN BINAAN DAN ARSITEKTUR
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/sabua.v9i1.31723

Abstract

Banyaknya pekerja yang datang ke Kota Manado mengakibatkan tingginya kebutuhan akan hunian. Ini dikarenakan pekerja yang datang bekerja di Kota Manado ada yang berasal dari luar Manado seperti dari Minahasa, Minahasa Selatan, Bitung, dan dari Kabupaten dan Kota lainnya. Permukiman dan atau hunian khusus untuk pekerja masih kurang keberadaannya di Kota Manado. Disamping itu setiap tempat kerja kadang tidak menyiapkan mess khusus untuk karyawannya. Melihat fenomena tersebut kebutuhan akan rumah kost ini amat dibutuhkan pada saat sekarang ini. Tujuan penelitian ini untuk menemukan layak tidaknya pembangunan rumah kost dari sisi ekonomis dan finansial. Penelitian dilaksanakan di kota Manado tepatnya di Kelurahan Ranotana Weru, dengan menggunakan quantitative methods lewat rumus NPV, IRR, B/C dan Payback Period, untuk mendapatkan kelayakan rumah kost ini. Hasil penelitian menemukan NPV > 0, IRR > tingkat bunga yang berlaku (10%), B/C ratio lebih dari satu dan sepuluh tahun adalah Payback Period rumah kost ini. Kata Kunci : hunian; rumah kost; kelayakan.
Analisis Tipologi Wilayah Peri-Urban Di Kecamatan Mandolang Juve Tiwang; Fela Warouw; Surijadi Supardjo
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 9 No. 1 (2020): SABUA : JURNAL LINGKUNGAN BINAAN DAN ARSITEKTUR
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/sabua.v9i1.31724

Abstract

Kecamatan Mandolang merupakan salah satu wilayah peri-urban Kota Manado yang mengalami banyak perubahan fisik oleh karena pengaruh perkotaan yang sangat kuat. Penelitian tentang tipologi wilayah peri-urban bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik fisik, sosial dan ekonomi dari Kecamatan Mandolang. Untuk menentukan klasifikasi tipologi wilayah peri-urban dilakukan dengan analisis skoring yang dilanjutkan dengan overlay peta untuk mendapatkan sebaran tipologi kedesaan – kekotaan pada Kecamata Mandolang. Hasil penelitian menunjukan bahwa Kecamatan Mandolang memiliki karakteristik peri-urban sekunder dan rural peri-urban. Terdapat 11 desa di Kecamatan Mandolang yang termasuk dalam klasifikasi peri-urban sekunder yaitu Kalasey Satu, Kalasey Dua, Tateli Satu, Tateli Dua, Tateli Tiga, Tateli, Tateli Weru, Koha, Koha Barat, Koha Selatan, Agotey. Sementara karakteristik rural periurban hanya ditemukan pada desa Koha Timur. Kata kunci: Tipologi; peri urban;karakteristik;Kecamatan Mandolang.

Page 4 of 14 | Total Record : 132