Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

TAMAN SAFARI KLABAT, MINAHASA UTARA: Architecture Sense of Place David G. William; Frits O. P. Siregar; Ingerid L. Moniaga
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 11 No. 1 (2022): DASENG Volume 11, Nomor 1, Mei 2022
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Minahasa Utara merupakan salah satu daerah yang dikhusukan pemerintah Sulawesi Utara sebagai daerah wisata, dimana terdapat berbagai macam objek wisata yang ada pada kabupaten ini, seperti wisata pantai Pantai Pall dan juga wisata pegunungan Kaki Dian. Namun semua objek wisata tersebut hanya memberikan hiburan semata bagi pengunjungnya, maka dari itu diperlukan sebuah objek wisata yang memiliki manfaat lebih dari itu. Taman Safari adalah jawaban yang tepat untuk menjadi salah satu bagian objek wisata di Minahasa Utara, dimana Taman Safari bukan saja memiliki fungsi rekreasi, melainkan juga edukasi, konservasi juga riset dan penelitian. Sehingga pengunjung yang datang nantinya akan merasakan pengalaman berkunjung ke objek wisata yang lebih berkesan. Pembuatan Taman Safari juga sangat membantu dalam hal melestarikan hewan-hewan yang terancam punah, dalam hal ini hewan-hewan endemic Sulawesi Utara yakni Yaki dan Tarsius. Berbeda dengan Taman Safari yang ada pada umumnya, pengunjung akan merasakan sebuah suasana yang berbeda ketika mereka berkunjung ke dalam Taman Safari Klabat ini, dimana pendekatan tema Architecture Sense of Place akan membawa pengunjung mengelilingi setiap sudut taman ini dengan perasaan “Sense” yang berbeda-beda. Dimana permainan penataan lanskap dan desain bangunan akan berbeda dengan Taman Safari yang pernah ada sebelumnya. Perancangan Taman Safari Klabat tidak dilakukan secara asal namun melaikan menggunakan metode dan analisis yang baik dan benar, dalam hal ini metode yang digunakan dalam perancangan yakni metode Glass Box. Dengan metode ini perancang mengidetifikasi terlebih dahulu rancangan apa yang akan dirancangkan, diamana dalam hal ini adalah Taman Safari. Meneliti jenis hewan dan habitat hewan yang akan ditempatkan pada Taman Safari Klabat merupakan salah satu Langkah dari metode Glass Box, dimana studi yang didapatkan dapat diterapkan agar dapat merancang sebuah habitat yang baik bagi para hewan nantinya. Dari latar belakang, tujuan perancangan dan metode yang dipaparkan diharapkan perancangan Taman Safari Klabat akan menjadi sebuah tempat yang baik dan bermanfaat bagi Minahasa Utara. Dimana objek wisata ini bisa menjadi daya pikat wisatawan dalam negri maupun luar negri, sehingga kualitas wisata di daerah ini akan meningkat. Kata Kunci : Minahasa Utara, Taman Safari Klabat, Architecture Sense of Place
RESORT GEOTERMAL DI MINAHASA: Arsitektur Ekologi Sheren A. A. Lumolos; Rieneke L. E. Sela; Ingerid L. Moniaga
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 11 No. 1 (2022): DASENG Volume 11, Nomor 1, Mei 2022
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kawasan wisata panas bumi tidak pernah luput dari perhatian wisatawan baik dalam negeri maupun mancanegara. Kawasan ini apabila dikelola dengan baik dan benar dapat membantu kemajuan sektor pariwisata daerah, dalam hal ini kabupaten Minahasa. Adanya perancangan Resort Geotermal ini bertujuan agar wisatawan dapat menikmati fasilitas penginapan dan rekreasi sekaligus mendekatkan diri dengan potensi sumber daya alam yang ada. Untuk memperoleh hasil perancangan yang maksimal, tentunya landasan perancangan ini harus didukung oleh tema yang mendukung hubungan antara manusia dan alam itu sendiri, yaitu arsitektur ekologi. Proses untuk menghadirkan perancangan resort geotermal juga perlu melewati tahap analisa dan juga penerapan tema ekologi yang tentunya melibatkan beberapa aspek perancangan. Metode yang akan digunakan pada perancangan ini ialah metode glass box yang dikemukakan oleh J. Christopher dengan analisa pendekatan tipologi, lokasi dan tema. Tujuannya adalah mewujudkan perancangan Resort Geotermal sebagai objek wisata yang dapat memaksimalkan potensi panas bumi yang ada, memajukan potensi pariwisata daerah, dan memberikan kesadaran tentang hubungan dekat antara manusia, arsitektur, dan lingkungan alam sekitar. Kata Kunci : Kabupaten Minahasa, Resort Geotermal, Panas Bumi, Arsitektur Ekologi
E-SPORT ARENA DI MANADO : High-tech Architecture Yordan A. A. Kainage; Raymond D. Ch. Tarore; Ingerid L. Moniaga
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 11 No. 2 (2022): DASENG Volume 11, Nomor 2, November 2022
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kemajuan E-Sport di Indonesia dalam tahun-tahun terakhir mengalami peningkatan yang begitu pesat. Ini dikarenakan teknologi yang terus berkembang sehingga banyak bermunculan game-game mobile yang sangat populer, seperti Mobile Legend, PUBG Mobile, Free Fire, dsb. Dukungan dari pemerintah terhadap industri E-Sport sudah terbukti dengan adanya Turnamen Piala Presiden Esport dan Piala Menpora Esport, dan E-Sport juga sudah masuk dalam cabang yang dipertandingkan pada PON, SEA GAMES, ASIAN GAMES. Maksud dari perancangan ini adalah mendesain E-SPORT ARENA di Kota Manado yang dapat mewadahi minat masyarakat dan kegiatan E-Sport yang ada di Indonesia khususnya di Kota Manado dengan tujuan merancang bangunan E-Sport Arena yang menunjang Visi Kota Manado sebagai Kota Pariwisata serta merancang bangunan E-Sport Arena dengan penerapan tema High Tech Architecture.Pendekatan perancangan yang dilakukan adalah pendekatan terhadap tipologi objek, pendekatan lokasional, dan pendekatan tematik. Serta menggunakan metode perancangan lima langkah menurut Tim Mc. GINTY adalah mengubah sesuatu yang sudah ada menjadi sesuatu yang lebih baik. Perancangan di dalamnya termasuk mengidentifikasi masalah, menggunakan metode dan melakukan sintesa. Implementasi tema rancangan yang berdasarkan pada kajian tematik didapatkan prinsip-prinsip tematik, seperti Fleksibilitas Ruang, Plug In Pod, Structural Expression yang telah diimplementasikan kedalam aspek-aspek rancangan, seperti Konfigurasi bentuk bangunan, Ruang dalam, Selubung, Struktur. E-Sports Arena memiliki geometri dasar segi empat karena mengikuti bentuk asli tapak, tapi dilakukan transformasi substraktif bentuk massa agar tidak terlalu monoton. Interior Arena Turnamen menggunakan warna-warna gelap dengan pengaturan penchayaan RGB (red, green, blue) yang memberikan kesan ekspresif dan juga dinamis. Terdapat panggung fleksibel yang dapat berubah sesuai dengan kebutuhan, serta terdapat LED screen raksasa ditengah arena untuk memanjakan mata para penonton. Pada ruang luar RTH dan RTNH terdapat beberapa elemen softscape dan hardscape yaitu vegetasi, taman, air, entry gate, pedestrian way, serta lampu.Secara umum dapat disimpulkan bahwa dengan adanya E-Sport Arena di Manado tidak hanya dapat menjadi wadah penyaluran bakat kaum muda dalam dunia E-Sports tapi dapat juga berdampak baik terhadap perekonomian Indonesia khususnya di Kota Manado. Dengan perancangan E-Sport Arena yang menerapkan tema High tech Architecture dapat menjadi citra baru untuk Kota Manado sekaligus juga dapat menjadi ikon Kota Manado. Kata Kunci: E-Sport, Arena, High-tech, Turnamen, Manado
ANALISIS PERUBAHAN LUAS KAWASAN RESAPAN AIR DI KOTA MANADO Amiko Anderson Seng; Veronica A. Kumurur; Ingerid L. Moniaga
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 7 No. 1 (2015)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/sabua.v7i1.8277

Abstract

Pembangunan Kota Manado diarahkan ke lahan-lahan bertopografi berbukit yang berfungsi lindung sehingga banyak kawasan yang berubah fungsi menjadi kawasan pemukiman. Oleh sebab itu dilakukan penelitian yang bertujuan mengetahui sebaran kawasan resapan air dan kelas kesesuaiannya di Kota Manado serta untuk mengetahui luas perubahan kawasan resapan air periode tahun 2000-2012. Metode yang digunakan yaitu skoring dan overlay menggunakan sistem Informasi Geografi (SIG). Data-data yang digunakan yakni peta curah hujan, peta kemiringan lahan, peta eksisting penggunaan tahun 2000 dan tahun 2012, dan peta tekstur tanah. Hasil penelitian memperlihatkan Kota Manado pada tahun 2000 tidak ada kawasan yang memiliki  sebaran kawasan  resapan air dengan kelas sesuai. Kelas kesesuaian yang ada hanyalah kelas cukup sesuai, kelas kurang sesuai dan kelas tidak sesuai. Kelas kesesuaian kawasan resapan air tersebar di seluruh wilayah penelitian. Perubahan  luas kawasan resapan air di Kota Manado adalah sebagai berikut: (a) Kelas kesesuaian kurang sesuai mengalami perubahan penggunaan lahan seluas 967,45 Ha atau 22,87 % dari kawasan-kawasan yang terjadi alih fungsi lahan  atau sebesar 16,14 % dari seluruh luas kelas kurang sesuai; (b) Kelas kesesuaian cukup sesuai mengalami perubahan penggunaan lahan seluas 764,9 Ha atau 23,12% dari seluruh kelas cukup sesuai. Secara keseluruhan perubahan luas penggunaan lahan di kawasan resapan air Kota Manado periode tahun 2000-2012 baik kelas kesesuaian kurang sesuai maupun kelas kesesuaian cukup sesuai yakni sebesar 18,61% dari luas kawasan resapan air yakni seluas 9.307,87 Ha.
PERSEPSI PEDAGANG KAKI LIMA TERHADAP AREA BERJUALAN SEPANJANG JALAN PASAR PINASUNGKULAN KAROMBASAN MANADO Beatrix Sister Duwit; Veronica A. Kumurur; Ingerid L. Moniaga
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 7 No. 2 (2015)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/sabua.v7i2.9586

Abstract

Penelitian ini dilatar-belakangi oleh keberadaan PKL (Pedagang Kaki Lima) yang seringkali dianggap menghambat ruang gerak masyarakat di pusat kota, dimana lokasi pasar  tampak kotor karena sampah, sering terjadi kerawanan sosial serta tata ruang kota menjadi tidak teratur. Disisi lain PKL juga memberikan kontribusi yang besar dalam pendapatan daerah. Namun keberadaan PKL  dalam hal ini (bidang sektor informal) sangat menyulitkan pemerintah untuk melakukan penataan dilokasi Pasar Pinasungkulan Kota manado. Berdasarkan pengamatan dilapangan terdapat masalah terkait dengan persepsi pedagang kaki lima pada area tempat berjualan disepanjang jalan pasar pinasungkulan karombasan kota manado. Persepsi PKL pada area tempat berjualan di sepanjang jalan pasar pinasungkulan  menghasilkan interprestasi yang berbeda-beda. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui karakteristik dan untuk mengetahui persepsi  pedagang kaki lima yang berjualan di sepanjang jalan Pasar Pinasungkulan Karombasan dengan menggunakan metode kuantitatif dengan teknik pengambilan sampel Random Sampling.
ANALISIS PENGELOLAAN LUMPUR TINJA DI KECAMATAN SARIO KOTA MANADO Brilsya Moningka; Veronica A. Kumurur; Ingerid L. Moniaga
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 7 No. 2 (2015)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/sabua.v7i2.9588

Abstract

Pengelolaan lumpur tinja dimaksudkan sebagai upaya untuk mencapai salah satu tujuan penataan ruang, yakni mewujudkan ruang wilayah nasional yang aman, nyaman, produktif, dan berkelanjutan melalui perlindungan fungsi ruang dan pencegahan dampak negative terhadap lingkungan akibat pemanfaatan ruang (Pasal 3 Undang-undang No. 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang). Oleh sebab itu,pengelolaan lumpur tinja yang memadai dan terpadu secara menyeluruh sangat diperlukan sebagai solusi untuk mengatasi permasalahan peningkatan timbulan lumpur tinja akibat tingginya jumlah dan kepadatan penduduk di kawasan perkotaan. Dalam hal ini, khususnya untuk kawasan padat penduduk memerlukan komunalisasi pengelolaan lumpur tinja, dan penyediaan fasilitas pengolah yang bersifat lanjutan dari tangki septic. Maka dari itu peneliti bermaksud melakukan penelitian tentang analisis pengelolaan lumpur tinja di Kecamatan Sario Kota Manado. Penelitian ini bertujuan untuk Mengetahui cara mengelola lumpur tinja pada pemukiman padat penduduk di Kecamatan Sario dan Menentukan kebutuhan pengelolaan dan lokasi sarana pengelolaan lumpur tinja pada pemukiman padat penduduk di Kecamatan Sario. Tahapan analisis untuk mencapai tujuan penelitian terdiri atas 4 tahap yakni : identifikasi permukiman padat padat penduduk di Kecamatan Sario atau penentuan lokasi penelitian; deskripsi kondisi eksisting pengelolaan lumpur tinja pada lokasi penelitian; proyeksi jumlah penduduk, kepadatan penduduk dan timbulan lumpur tinja tahun 2014-2034; dan penentuan kebutuhan dan lokasi sarana pengelolaan lumpur tinja tahun 2014-2034. Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa : Pengelolaan lumpur tinja yang  saat ini diterapkan masyarakat pada permukiman padat penduduk di Kecamatan Sario adalah system setempat dan Kebutuhan pengelolaan lumpur tinja yang cocok untuk diterapkan pada permukiman padat penduduk di Kecamatan Sario hingga tahun 2034 adalah system setempat dilengkapi dengan pengolahan tambahan berupa anaerobic baffled reactor sebanyak 23 unit.
PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP POTENSI PENGEMBANGAN TAMAN HUTAN RAYA (TAHURA) GUNUNG TUMPA SEBAGAI PRODUK EKOWISATA DI KECAMATAN BUNAKEN Louis E.M.Wongkar Wongkar; Ingerid L. Moniaga; ulianus A.R Sondakh
SPASIAL Vol. 11 No. 1 (2023): Volume 11 no.1 2023
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Taman Hutan Distrik H.V. Worang Gunung Tumpa menawarkan pemandangan alam yang indah dan keanekaragaman hayati yang besar karena memiliki nilai konservasi yang harus dijaga dan dilestarikan. Bermanfaat dalam penerapan model wisata berbasis alam sebagai alternatif wisata berkelanjutan dan bermanfaat bagi kesejahteraan ekonomi masyarakat lokal di sekitar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi masyarakat terhadap TAHURA Gunung Tumpa H.V. potensi pengembangan. Sebagai produk ekowisata di Kecamatan Bunaken. Metode analisis yang digunakan adalah deskriptif dan teknik analisis kuantitatif skala Likert. Hasil kajian menunjukkan bahwa masyarakat sudah memahami apa itu Tahura dan Ekowisata, sehingga ada kesadaran untuk menjaga dan melindungi potensi keanekaragaman hayati yang ada. Masyarakat dilibatkan dalam administrasi. Namun pendapatan masyarakat belum berkembang dengan adanya objek wisata alam tersebut. Masyarakat berharap para tokoh dapat mengembangkan tempat wisata tersebut agar banyak dikunjungi wisatawan dan masyarakat dapat memperoleh penghasilan dengan berjualan di daerah tersebut. Perhatian khusus harus diberikan pada infrastruktur yang ada agar wisatawan dapat menikmati dan merasa nyaman berwisata di kawasan wisata alam Tahura Gunung Tumpa. Kata Kunci : Persepsi Masyarakat; Ekowisata; Atraksi Wisata
RE-DESAIN STADION DUASUDARA BITUNG. High-Tech Architecture Rinny Karina Lungkang; Ingerid L. Moniaga; Steven Lintong
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 8 No. 1 (2019): DASENG Volume 8, Nomor 1, Mei 2019
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v8i1.24992

Abstract

Sebuah fasilitas sepak bola dalam hal ini adalah stadion menjadi mutlak diperlukan. Keberadaan stadion sebagai wadah berkegiatan sepak bola didukung dengan fasilitas yang layak sesuai standar yang disyaratkan sebuah bangunan stadion baik nasional bahkan internasional. Stadion ini mampu memenuhi tuntutan sepak bola moderen yang memerlukan fasilitas penunjang yang sesuai standar kelayakan dan keberadaan fasilitas pelengkap, juga sebagai daya tarik lain bagi masyarakat kota Bitung. Stadion Duasudara Bitung terletak di kecamatan Matuari, Manembo-nembo tengah di Kota Bitung, Provinsi Sulawesi Utara. Kota Bitung memiliki fasilitas stadion olahraga yang menjadi salah satu pusat kegiatan olahraga utama di Kota ini. Namun Stadion Duasudara Bitung memiliki permasalahan dalam penggunaan fungsinya, sebagai sarana olaraga Kota Bitung khususnya di cabang sepak bola. Hal ini karena fasilitas, bentuk, infrastruktur, dan pengembangan luasan, Stadion masih berbeda jika di sesuaikan dengan standar FIFA, yaitu : Fasilitas Pertandingan dan Pelatihan, Pelatihan fisik, Fasilitas Perawatan medis, Fasilitas Media Massa, Fasilitas Komersia, Plaza, bentuk yang moderen, infrastuktur dan pengembangan luasan bisa menampung kebutuhan elemen ruang luar. Tujuan Re-desain sarana Stadion Duasudara Bitung yaitu untuk meningkatkan kualitas, fasilitas dan permasalahan yang ada di Stadion Duasudara Bitung, sehingga objek memiliki fungsinya yang jelas sebagai sarana olahraga. Konsep Re-desain Stadion Duasudara Bitung memilih tema High-tech Architecture. Pemilihan tema di lakukan berdasarkan pertimbangan struktur, estetika, dan fungsi yang ingin perancang wujudkan pada objek rancangan dengan penerapan architecture berteknologi tinggi kedalam desain bangunan tanpa menghilangkan fungsi dari objek.Kata kunci : Re-Desain Stadion Duasudara Bitung, High-Tech Architecture
RESORT TAMAN BUNGA DI TOMOHON. Arsitektur Ekologis Florensi V. Punuindoong; Ingerid L. Moniaga; Leidy M. Rompas
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 8 No. 2 (2019): DASENG Volume 8, Nomor 2, November 2019
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v8i2.27551

Abstract

Pengembangan potensi alam sebagai karakteristik suatu daerah merupakan faktor penting guna meningkatkan kualitas daerahnya. Kota Tomohon adalah salah satu kota di Sulawesi Utara yang mempunyai potensi alam dari bentuk wilayah, iklim serta hasil – hasil alam menjadi daya tarik kalangan masyarakat luas untuk mengenal wilayah tersebut. Sebagai daerah yang memiliki beragam kekayaan alam pemerintah kota Tomohon berupaya untuk mengadakan pengembangan di bidang pariwisata. Sebagai agenda tahunan kota Tomohon telah menghadirkan iven bertaraf internasional TIFF yaitu Tomohon International Flower Festival. TIFF adalah rangkaian acara seni budaya dengan parade kendaraan hias bunga yang memperkenalkan bunga-bunga hias yang ada di Tomohon. Hadirnya iven TIFF mempertegas citra kota sebagai Tomohon Kota Bunga dan menambah nilai atraktif bagi wisatawan. Pengadaan wadah wisata yang representatif  dapat menjadi salah satu alternatif guna merespon kunjungan para wisatawan di Tomohon.Resort Taman Bunga merupakan konsep penginapan yang memadukan hiasan taman bunga sebagai karakter resort dengan mempertegas ikon kota Tomohon sebagai Kota Bunga. Taman bunga disajikan pada tiap fasilitas sebagai visualisasi yang selaras dengan alam sekitar sehingga mampu mengambarkan suasana kota Tomohon yang asri dan ramah lingkungan. Arsitektur Ekologis sebagai ilmu pembangunan berwawasan lingkungan, yang memanfaatkan potensi alam menjadi tema yang dipilih pada objek Resort Taman Bunga di Tomohon. Pengaplikasian tema Arsitektur Ekologis pada desain ini menekankan pada aspek-aspek penghawaan, pencahayaan, penggunaan material, serta menciptakan suatu bentuk- bentuk  yang harmonis dengan lingkungan sekitar.Kata Kunci : Resort Taman Bunga, Arsitektur Ekologis, Kota Tomohon
GALERI SENI DI TOMOHON. Respect for Site Ezra W. Talibonso; Alvin J. Tinangon; Ingerid L. Moniaga
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 9 No. 1 (2020): DASENG Volume 9, Nomor 1, Mei 2020
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v9i1.30150

Abstract

Kota Tomohon Sulawesi Utara, Tomohon yang dikenal dengan julukan kota bunga di sisi lain Tomohon dikenal akan destinasi wisata alam yang indah dan menarik maupun akan seni dan kebudayaan lokal yang masih di lesatarikan hingga saat ini,  yang sangat di minati wisatawan baik dari dalam maupun luar negeri. Seni menjadi salah satu daya tarik di saat ini, Tomohon sendiri memiliki beberapa kegiatan- kegiatan seni tahunan dan memiliki seniman – seniman lokal  namun belum memiliki tempat untuk mewadahi akan kegiatan seni dan ruang  kumupul  atau ruang pameran bagi seniman,  sehingga di perlukan galeri seni , yang tidak hanya sebagai tempat pameran namun dapat berfungsi untuk aktivitas maupun edukukasi tentang seni.  Dengan melihat kondisi alam yang masih alami dengan hadirnya Galeri seni di Tomohon yang bertemakan respect for site ,  akan menjadi wadah bagi seniman untuk berkarya maupun tempat pemeran karya seni. Dengan tema respect for site. Galeri ini  tidak hanya terbatas di dalam ruangan saja namun akan ada di luar ruangan respect for site yang maksud disini yaitu bagaimana merespon keadaan alam dan menyatukan antara ruang dalam dengan alam tanpa merusak kondisi sekitar. Kata kunci: Tomohon, Galeri Seni, Respect For Site.