cover
Contact Name
Hasna Khairunnisa
Contact Email
hasna@ak-tekstilsolo.ac.id
Phone
+62271-6792696
Journal Mail Official
uppm@ak-tekstilsolo.ac.id
Editorial Address
Jl. Ki Hajar Dewantara, Jebres, Kec. Jebres, Kota Surakarta, Jawa Tengah 57126, Indonesia
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Tekstil: Jurnal Keilmuan dan Aplikasi Bidang Tekstil dan Manajemen lndustri
ISSN : 30249295     EISSN : 27979229     DOI : https://doi.org/10.59432/jute
Jurnal Teksil (JUTE) ISSN 2797-9229(online) is a peer-reviewed Open Access Journal (OJS) that publishes original research articles as well as review articles in several engineering fields. The subject areas covered by this journal covers broad themes in the fields of textile, apparel and garment, engineering, and industrial management both related to the production process and other supporting processes. The scope includes textile and apparel manufacturing process, textile industrial management, textile material and products, process optimization and textile industrial systems, as well as other supporting processes such as supply chain management, maintenance management, quality control, and ergonomics. Detailed focus and scope for this journal can be accessed on the focus and scope menu
Articles 92 Documents
Analisis Keandalan Mesin Blowing dengan OEE, RCA, dan Pendekatan Siklus PDCA Ferdinand, Aldho; Widiasih, Wiwin
Jurnal Tekstil Vol 8 No 1 (2025): Vol 8 No 1 Juni 2025
Publisher : Akademi Komunitas Industri Tekstil Dan Produk Tekstil Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59432/jute.v8i1.136

Abstract

Penelitian ini menganalisis keandalan mesin blowing di PT XYZ dengan pendekatan Overall Equipment Effectiveness (OEE), Root Cause Analysis (RCA), dan siklus Plan-Do-Check-Act (PDCA) untuk meningkatkan efisiensi produksi. Evaluasi awal menunjukkan bahwa nilai OEE mesin berada dalam kisaran 75%–81%, dengan faktor utama penyebab rendahnya availability adalah downtime inspeksi berkala dan pergantian moulding. Dengan RCA, penyebab utama downtime diidentifikasi, dan melalui penerapan PDCA, perbaikan dilakukan dengan menghilangkan downtime inspeksi berkala serta mengoptimalkan proses pergantian moulding. Hasil perbaikan menunjukkan peningkatan availability dari 80% menjadi 90%, yang berdampak langsung pada kenaikan nilai OEE menjadi 83%. Selain itu, target produksi yang sebelumnya tidak tercapai kini mengalami peningkatan stabil, dengan pencapaian 89%–93% dari target produksi di semua minggu bulan November. Kesimpulannya, kombinasi metode OEE, RCA, dan PDCA efektif dalam meningkatkan keandalan mesin blowing dengan mengurangi downtime dan meningkatkan produktivitas.
PENGARUH VARIASI BINDER PADA PENCAPAN ZAT WARNA PIGMEN TERHADAP KETAHANAN LUNTUR WARNA DAN PEGANGAN KAIN POLYESTER Kusumadewi, Afriani; Luciana; Nurherawati, Feny; Pravitasari, Filly; Riswandi, Andri; Maulinawati, Susi
Jurnal Tekstil Vol 8 No 1 (2025): Vol 8 No 1 Juni 2025
Publisher : Akademi Komunitas Industri Tekstil Dan Produk Tekstil Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59432/jute.v8i1.140

Abstract

Pencapan dengan zat warna pigmen dapat digunakan pada semua jenis serat. Zat warna pigmen tidak mempunyai afinitas terhadap serat, maka fiksasinya ke dalam serat diperlukan bantuan zat pengikat yaitu binder. Kekuatan ikatan antara zat warna pigmen dengan serat tergantung pada daya ikat dari binder yang digunakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi binder terhadap ketahanan luntur warna dan handfeel kain poliester yang dicap dengan zat warna pigmen. Variasi konsentrasi binder yang digunakan adalah 7%, 10%, dan 20%. Pada  penelitian ini akan mengevaluasi dari sifat kelunturan warnanya dan daya handfeel dari hasil pencapan tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi binder memiliki pengaruh yang signifikan terhadap ketahanan luntur warna dan handfeel terhadap hasil pencapan kain poliester dengan zat warna pigmen. Semakin tinggi konsentrasi binder, semakin baik ketahanan luntur warna kain terhadap gosokan kering, gosokan basah, dan pencucian. Namun, semakin tinggi konsentrasi binder juga akan membuat handfeel kain semakin kaku. Berdasarkan hasil pengujian, konsentrasi binder 7% pada proses pencapan kain polyester dengan zat warna pigmen menghasilkan ketahanan luntur warna yang  kurang baik dilihat dari nilai gray staining-nya pada angka 3,walaupun daya handfeel-nya lembut. Sedangkan binder dengan konsentrasi 20%, memiliki kelunturan warna yang sangat baik dilihat dari nilai staining gray scale-nya pada angka 4-5, namun daya handfeel kainnya begitu kaku. Binder dengan konsetrasi 10% memberikan hasil yang lebih seimbang, dengan memiliki nilai staining gray scale 3-4 dan daya handfeel kain yang masih cukup nyaman. sehingga dapat disimpulkan bahwa konsentrasi binder 10% memberikan hasil yang optimal baik dari segi kelunturan warnanya dan sifat handfeel-nya.
Pendekatan Kuantitatif Terhadap Peningkatan Kualitas Sliver melalui Intervensi Pembersihan Top Roll Pada Mesin Drawing Harianto, Dedy; Sugiyarto, Sugiyarto; Surya Setyowati, Monika
Jurnal Tekstil Vol 8 No 1 (2025): Vol 8 No 1 Juni 2025
Publisher : Akademi Komunitas Industri Tekstil Dan Produk Tekstil Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59432/jute.v8i1.141

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas penggunaan alkohol teknis 70% dalam menurunkan nilai unevenness (U%) sliver sebagai indikator mutu produk semi jadi dalam industri tekstil. Melalui pendekatan kuantitatif pre-post design di lingkungan produksi nyata PT XYXY, Tbk, nilai U% diukur sebelum dan sesudah intervensi pembersihan top roll. Hasil menunjukkan penurunan signifikan nilai U% dari 1,97% menjadi 1,88% (p < 0,001) dengan ukuran efek besar (Cohen’s d = 2,07). Selain itu, analisis Fishbone Diagram mengidentifikasi lima faktor utama penyebab lapping: mesin, material, metode kerja, lingkungan, dan manusia. Temuan ini menegaskan bahwa intervensi sederhana dapat memberikan dampak signifikan secara teknis dan praktis, namun belum cukup untuk memenuhi standar mutu internal. Implikasi praktis mencakup adopsi prosedur pembersihan standar, pelatihan rutin operator, serta pengembangan protokol perawatan terpadu berbasis data. Studi ini merekomendasikan evaluasi lanjutan terhadap umur pakai komponen serta eksplorasi pelarut alternatif yang lebih berkelanjutan.
Analisis Tingginya Total Imperfection Index (IPI) Benang CD41 di Area Drafting Zone Mesin Ring Spinning Pujianto, Hendri; Yulianto, Bambang; Anwar Apriyanto, Muhammad
Jurnal Tekstil Vol 8 No 2 (2025): Vol 8 No 2 Desember 2025
Publisher : Akademi Komunitas Industri Tekstil Dan Produk Tekstil Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59432/jurnaltekstil.v8i2.143

Abstract

Mesin ring spinning adalah salah satu mesin dalam industri pemintalan yang banyak dimanfaatkan karena karena berbagai kelebihannya, termasuk kualitas benang, kerataan, sedikit bulu, dan kemudahan penanganan. Namun,bagian drafting zone dalam mesin ini sering mengalami kerusakan komponen mekanis yang memiliki dampak besar pada kualitas benang pada total indeks ketidaksempurnaan benang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisi faktor yang menjadi penyebab besarnya total ketidak sempurnaan benang CD41 (Carded 41), dan berfokus pada studi kasus percobaan produksi dengan menggunakan komponen mekanis top apron dan top roll, yang sering ditemukan mengalami kerusakan. Kedua komponen mekanis ini sangat penting bagi peregangan serat pada saat pemintalan. Penelitian ini melakukan percobaan produksi benang CD41 dengan kedua komponen tersebut dengan dua macam kualitas komponen yaitu komponen baik dan buruk serta menguji hasil kualitas benang yang dihasilkan.  Hasilnya menunjukan bahwa penggunaan top apron dan top roll dengan kondisi mekanis yang baik dapat memenuhi parameter kualitas benang CD41 sesuai dengan stadar perusahaan, yaitu pada parameter indeks ketidaksempurnaan benang, serta ketidakrataan benang, dan kekasaran benang. Sebaliknya komponen yang buruk tidak dapat mencapai kualitas benang sesuai standar. Penelitian ini menggaris bawahi pentingnya penggunaan komponen mekanis yang baik pada drafting zone terhadap kualitas benang.
Biokomposit Tenun dari Serat Daun Nanas dan Limbah Kulit Jeruk: Inovasi Material untuk Tekstil Berkelanjutan Smaradhina, Ken Kayla; Widiawati, Dian
Jurnal Tekstil Vol 8 No 2 (2025): Vol 8 No 2 Desember 2025
Publisher : Akademi Komunitas Industri Tekstil Dan Produk Tekstil Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59432/jurnaltekstil.v8i2.144

Abstract

The growing urgency of sustainability in the textile industry necessitates the development of biodegradable materials derived from organic waste. This study introduces a composite material that integrates pineapple leaf fiber (PLF) with bioplastic made from orange peel waste, following the Material Driven Design (MDD) framework. The composite is produced through traditional weaving techniques (plain and twill) and cast using a gelatin–agar bioplastic matrix. Mechanical testing demonstrates tensile strength of up to 26.79 kg and elongation of 98.31%, depending on the PLF content and bioplastic thickness. User perception analysis indicates that samples combining twill weave with 300 ml of bioplastic provide the most desirable tactile and visual qualities. The resulting materials are biodegradable, locally sourced, and aesthetically engaging, positioning them as viable alternatives for accessories and interior products. This research contributes to sustainable material innovation by merging craft traditions with contemporary material experimentation.
Optimasi Tinggi Kamran untuk Mengurangi Shuttle Jamming pada Mesin Tenun Shuttle tipe GA615075 Azizah, Fatimah Nurul; Wijayono, Andrian
Jurnal Tekstil Vol 8 No 2 (2025): Vol 8 No 2 Desember 2025
Publisher : Akademi Komunitas Industri Tekstil Dan Produk Tekstil Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59432/jurnaltekstil.v8i2.145

Abstract

Shuttle Jamming atau teropong nabrak merupakan salah satu cacat dominan pada proses pertenunan dengan mesin shuttle di PT Sekar Lima Pratama. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh variasi tinggi kamran terhadap frekuensi terjadinya cacat tersebut, sekaligus mengevaluasi dampaknya terhadap jumlah putus lusi. Metode penelitian menggunakan pendekatan eksperimen dengan tiga variasi tinggi kamran, yaitu 9 cm, 10 cm, dan 11 cm pada mesin shuttle RRC tipe GA615075. Observasi dilakukan selama tiga shift produksi (A, B, dan C) untuk setiap variasi tinggi kamran. Hasil menunjukkan bahwa pengaturan tinggi kamran 10 cm menghasilkan jumlah cacat teropong nabrak paling sedikit, yaitu 10 kejadian, dengan tingkat putus lusi yang relatif lebih tinggi dibandingkan variasi 9 cm namun masih dalam batas yang dapat diterima. Kondisi ini menciptakan pembukaan mulut lusi yang lebih stabil sehingga pergerakan shuttle menjadi optimal. Penelitian ini merekomendasikan tinggi kamran 10 cm sebagai standar operasional yang seimbang untuk meminimalkan teropong nabrak sekaligus menjaga kestabilan benang lusi dalam proses produksi.
Analisis Pengaruh Penyetelan Cop Change terhadap Penurunan Cacat Pakan Tebal pada Mesin Tenun Shuttle Toyoda GH-08 Azrul, Ahmad Aulia Mufti; Wijayono, Andrian; Rumiyati, Valentina Sri Pertiwi
Jurnal Tekstil Vol 8 No 2 (2025): Vol 8 No 2 Desember 2025
Publisher : Akademi Komunitas Industri Tekstil Dan Produk Tekstil Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59432/jurnaltekstil.v8i2.146

Abstract

Cacat pakan tebal merupakan salah satu permasalahan dominan pada proses pertenunan menggunakan mesin tenun shuttle Toyoda GH-08. Salah satu penyebab utamanya adalah kerusakan dan penyetelan yang kurang tepat pada sistem automatic cop change. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh variasi penyetelan cop change terhadap penurunan cacat pakan tebal. Metode penelitian dilakukan dengan melakukan pengamatan langsung di lapangan dan eksperimen penyetelan jarak cop change pada tiga variasi, yaitu 1 mm, 2 mm, dan 3 mm. Parameter yang diamati meliputi jumlah stop mesin akibat kegagalan cop change serta jumlah cacat pakan tebal yang dihasilkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyetelan jarak cop change sebesar 1 mm memberikan performa terbaik dengan penurunan signifikan jumlah stop mesin maupun cacat pakan tebal dibandingkan dengan variasi 2 mm dan 3 mm. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pengaturan cop change yang optimum merupakan hal yang penting untuk menurunkan gagal cop change dan pakan tebal. Dengan demikian, penyetelan cop change yang tepat terbukti efektif sebagai langkah perawatan preventif dalam meningkatkan kelancaran proses produksi dan mengurangi cacat kain
Penerapan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) dalam Sektor Manufaktur: Analisis Kasus pada Industri di Indonesia Bintang, Nurul Shadrina; Bintang, Hamdan S.; Bintang, Ghaly Ananda
Jurnal Tekstil Vol 8 No 2 (2025): Vol 8 No 2 Desember 2025
Publisher : Akademi Komunitas Industri Tekstil Dan Produk Tekstil Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59432/jurnaltekstil.v8i2.147

Abstract

Tujuan dari studi ini untuk menganalisis penerapan sistem manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) di bidang industri manufaktur di Indonesia. Dengan memanfaatkan pendekatan kualitatif dan kuantitatif, artikel ini menganalisis berbagai faktor pengaruh efektivitas implementasi K3, termasuk kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah, Tingkat kesadaran di kalangan pekerja, serta komitmen dari pihak manajemen. Data diperoleh melalui metode survei, wawancara mendalam, dan analisis dokumentasi dari sejumlah Perusahaan manufaktur. Hasil penelitian menunjukkan bahwasanya walaupun terdapat peningkatan dalam kesadaran serta upaya dari Perusahaan untuk mengimplementasikan K3, masih ada banyak tantangan yang menghalangi penerapan secara menyeluruh di lapangan. Beberapa faktor kunci yang berkontibusi terhadap keberhasilan adalah pelatihan yang memadai untuk pekerja, pengawsan yang rutin, dan kesediaan manajemen untuk melakukan investasi dalam teknologi keselamatan. Penelitian ini juga menawarkan rekomendasi untuk perbaikan yang dapat diterapkan dalam sistem manajemen K3 di sektor industri manufaktur, dengan harapan dapat memperbaiki keselamatan dan Kesehatan di tempat kerja dalam sektor industri.
Strategi Pengendalian Mutu melalui Root Cause Analysis (RCA) Defect Puckering pada Produk Smart Ankle Pants Sormin, Yoel Santo Andrianus; Kurniawati, Devi; Albar, Yoga Matin
Jurnal Tekstil Vol 8 No 2 (2025): Vol 8 No 2 Desember 2025
Publisher : Akademi Komunitas Industri Tekstil Dan Produk Tekstil Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59432/jurnaltekstil.v8i2.151

Abstract

Industri garmen merupakan sektor strategis yang berkontribusi besar terhadap perekonomian Indonesia. Namun, salah satu tantangan utama yang dihadapi adalah tingginya tingkat defect pada proses produksi yang dapat menurunkan mutu produk dan menyebabkan penolakan buyer. Di antara berbagai jenis defect, puckering pada bagian waistband celana formal seperti Smart Ankle Pants termasuk yang paling dominan dan berdampak signifikan terhadap kualitas estetika produk. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengendalian mutu terhadap defect puckering dengan menggunakan pendekatan Root Cause Analysis (RCA) melalui metode fishbone analysis. Data diperoleh melalui observasi langsung, wawancara semi-terstruktur, serta dokumentasi dari lini produksi di PT XYZ di daerah Boyolali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa defect puckering merupakan masalah dominan dengan persentase 40,2% dari total temuan defect. Analisis fishbone mengidentifikasi empat faktor penyebab, yaitu manusia, mesin, metode, dan lingkungan, dengan faktor manusia sebagai penyebab dominan akibat keterampilan operator yang belum optimal dan kurangnya konsentrasi saat bekerja. Temuan ini menegaskan bahwa peningkatan mutu produk garmen tidak hanya ditentukan oleh mesin, tetapi juga sangat bergantung pada keterampilan dan konsistensi operator. Penelitian ini memberikan kontribusi teoritis dalam literatur pengendalian mutu serta rekomendasi praktis berupa pelatihan operator, standardisasi pengaturan mesin, dan perbaikan ergonomi area kerja untuk menekan angka defect.
Pengaruh Pemakaian Primusan Ocean Pada Proses Pengelantangan Kain Rajut Kapas 100% Dengan Metode Exhaust Yulianti, Yulianti; Luciana, Luciana; Nurherawati, Feny; Pravitasari, Filly
Jurnal Tekstil Vol 8 No 2 (2025): Vol 8 No 2 Desember 2025
Publisher : Akademi Komunitas Industri Tekstil Dan Produk Tekstil Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59432/jurnaltekstil.v8i2.166

Abstract

Pengelantangan dalam industri tekstil bertujuan untuk menghilangkan kotoran alami, pigmen dan zat pengotor lainnya dari serat tekstil serta meningkatkan daya serap kain dan menghasilkan warna yang lebih cerah dan merata ketika proses pencelupan, pencapan dan penyempurnaan akhir. Percobaan ini bertujuan untuk mempelajari Primusan Ocean sebagai zat pemasakan 3 in 1 yang digunakan sebagai bahan pembantu dalam proses pengelantangan serat kapas maupun serat campuran. Primusan Ocean mengandung tiga komponen, yaitu zat pembasah, stabilisator dan katalis, yang memungkinkan proses pemasakan dilakukan lebih efisien. Metode pengamatan yang dilakukan adalah variasi pemakaian NaOH, variasi suhu dan variasi penetralan dan tanpa penetralan setelah proses pengelantangan. Variasi konsentrasi NaOH adalah 0.6 gram/liter, 0.8 gram/liter, 1.0 gram/liter dan 1.2 g/l dibandingkan dengan cara konvensional dengan pemakaian NaOH 2 g/l, variasi suhu 98°C x 60 menit dan 115°C x 20 menit. Variasi tersebut ada yang dilakukan penetralan dan tanpa penetralan. Proses akhir dari semua hasil pengelantangan dilakukan pencelupan dengan zat warna reaktif Synozol Blue KBR 0.5 % pada suhu 60° C x 60 menit. Pengujian hasil pengelantangan dan pencelupan dilakukan untuk menilai beberapa parameter, yaitu derajat putih, daya serap, ketuaan warna dan kerataan warna. Penggunaan Primusan Ocean menunjukkan hasil lebih baik dibandingkan metode konvensional, terutama ketika digunakan konsentrasi NaOH sebesar 1,0 gram/liter dan 1,2 gram/liter, pada suhu 115°C selama 20 menit, disertai proses penetralan setelahnya. Adapun nilai yang didapatkan yaitu derajat putih 62.4, daya serap cara tetes 0.11 detik. Sedangkan nilai ketuaan warna dengan Primusan Ocean mendapatkan ΔE 0.11 dengan ketuaan warna 99.87% dibandingkan dengan metode konvensional.

Page 9 of 10 | Total Record : 92