cover
Contact Name
Heffry V. Dien
Contact Email
Jurnal.itpt@unsrat.ac.id
Phone
+62811432676
Journal Mail Official
Jurnal.itpt@unsrat.ac.id
Editorial Address
Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Sam Ratulangi, Kampus Unsrat, Manado 95115
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP
Memuat hasil penelitian dan critical review (tinjauan kritis) tentang ilmu dan teknologi perikanan dan kelautan yang mencakup, tapi tidak terbatas pada bidang: rancang bangun dan hidrodinamika alat tangkap ikan, rancang bangun dan hidrodinamika kapal perikanan, operasi penangkapan ikan, meteo-oseanografi perikanan dan kelautan, daerah penangkapan ikan, biologi perikanan, pengelolaan perikanan dan kelautan
Articles 209 Documents
Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Pelabuhan Perikanan Pantai Tumumpa, Manado Sulawesi Utara Asrul Libuon; Lefrand Manoppo; Revols D. Ch. Pamikiran; Franky E. Kaparang; Vivanda O. J. Modaso; Alfret Luasunaung
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol. 7 No. 2 (2022): Juli-Desember
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.7.2.2022.41683

Abstract

Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) adalah semua Ilmu dan Penerapannya untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja, penyakit akibat kerja, kebakaran, peledakan dan pencemaran lingkungan. Pelabuhan perikanan adalah sebagai sarana pokok untuk kegiatan usaha penangkapan ikan dan mempunyai peranan yang sangat strategis penting di dalam pengelolaan sumberdaya perikanan tangkap. Penelitian ini bersifat deskriptif yang dimaksudkan untuk mengeksplorasi dan mengklarifikasi terkait aspek keselamatan kerja di pelabuhan perikanan pantai tumumpa.Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mengembangkan keselamatan dan kesehatan kerja di pelabuhan perikanan pantai tumumpa; sedangkan secara khusus bertujuan untuk mengetahui ketersedian fasilitas keselamatan dan kesehatan kerja di pelabuhan perikanan pantai tumumpa dan mengetahui prosedur keselamatan dan kesehatan kerja di pelabuhan perikanan pantai tumumpa. Analisis data yang digunakan dari hasil wawancara dirubah secara numerik, cara melakukan perhitungan terhadap data yang diperoleh. Data yang diperoleh dibagi dalam beberapa kriteria dan diberi skor yang selanjutnya disajikan dalam bentuk tabulasi kemudian diinterpretasikan sesuai dengan tujuan.Secara umum dapat dikategorikan pemenuhan fasilitas keselamatan kerja pelabuhan perikanan pantai tumumpa sebagian besar sudah tersdia, tetapi beberapa fasilitas kurang terawat atau tidak tersedia seperti contoh ruangan pertolongan pertama pada kecelakaan. Dalam penelitian diperoleh hasil dari responden syabandar 76% baik, 18% cukup baik, 6% menyatakan kurang sedangkan pada Kapten kapal memiliki hasil respoden 35% dikategorikan baik, 47% cukup baik dan 18% menyatakan kurang, untuk anak buah kapal (ABK) memiliki hasil  9% dikatakan baik, 51% cukup baik dan 40% kurang.
Studi tentang tahanan perahu pelang di desa Rap-Rap Kabupaten Minahasa Selatan Rachim Sjah Agung Renato Waworoentoe; Heffry V Dien; Patrice N.I. Kalangi; Franky E Kaparang; Vivanda O.J. Modaso; Fransisco P.T Pangalila
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol. 7 No. 2 (2022): Juli-Desember
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.7.2.2022.41745

Abstract

Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki luas perairan yang lebih besar dibandingkan daratan. Dengan semua hal itu, banyak yang bekerja sebagai petani dan nelayan tradisional. Setiap wilayah pasti memiliki kebudayaan karakter yang beda begitu juga dengan nelayan tradisonal memiliki alat tangkap yang berbeda, alat tangkap juga membutuhkan alat bantu yaitu kapal tradisional.Perahu tradisional di Sulawesi Utara seperti londe, pelang, dan lain lain berbahan  dasar kayu dengan seiringnya zaman dan meningkatnya harga kayu dikarenakan sulitnya untuk mendapat kayu sebagai bahan dasar pembuatan kapal tradisional beralih bahan dasar lain yaitu FRP, sudah banyak ditemui kapal perikanan yang berbahan dasar FRP (Fiber Reinforced Plastic) sebagai pengganti bahan kayu penggantian ini dikarenakan bahan baku kayu sudah semakin sulit dicari dan semakin mahal.Dalam pengoperasiannya, kapal bergerak melalui media air karena adanya gaya dorong dari sistem penggerak kapal. Air memiliki pengaruh terhadap kapal karena memberikan gaya menahan  dari pergerakan kapal yang disebut boat resistanceTahanan mempelajari reaksi fluida terhadap gerakan kapal pada saat melalui fluida tersebut. Tahanan juga disebut resistance drag  adalah besarnya gaya fluida yang melawan gerakan kapal sedemikian rupa yang sejajar dengan sumbu gerak kecepatan kapal (Rosmani  2013).Ada beberapa perbedaan dalam penggunaan metode Kaper pada aplikasi Delftship dan Freeship. Metode Kaper pada aplikasi Delftship metode ini menghasilkan diagram data yang membahas tahanan kapal berdasarkan kecepatan dalam satuan kN dan kecepatan N, sedangkan pada data hasil perhitungan tahanan yang muncul pada perhitungan terakhir yang dicantumkan dalam table data meliputi data kecepatan kapal, meter per detik, Froude Number, tahanan gesek, tahanan sisa, dan tahanan total.Perahu pelang yang diukur bentuk lambungnya telah digambar pada aplikasi Freeship dan menghasilkan linesplan yang menyerupai dengan kapal pelang yang diukur. Hasil penggambaran ini kemudian digunakan dalam penghitungan tahanan pada Freeship menggunakan metode Kaper dan Delft yacht. Hasil output perhitungan diberikan dalam bentuk grafik dan tabel laju kapal, speed lenght ratio, tahanan gesek, tahanan sisa, dan tahanan total. Pada metode Delft ada output tambahan yaitu power.Ada beberapa perbedaan dalam output metode Kaper pada aplikasi Delftship dan Freeship. Metode Kaper pada aplikasi Delftship menghasilkan grafik data yang membahas tahanan kapal berdasarkan laju dalam satuan kn dan kecepatan knot. Data hasil perhitungan tahanan yang muncul pada perhitungan terakhir atau final calculation yang dicantumkan dalam grafik meliputi data laju kapal, speed length ratio, Froude Number, tahanan gesek, tahanan sisa, dan tahanan total.
Jenis dan jumlah hasil tangkapan ikan pelagis kecil di Kabupaten Kepulauan Sangihe Masia Eirene Saselah; Lusia Manu
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol. 7 No. 2 (2022): Juli-Desember
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.7.2.2022.41848

Abstract

Penelitian ini dilakukan di Kabupaten  Kepulauan  Sangihe dengan tujuan mengetahui jenis ikan dan jumlah hasil tangkapan periode tahun 2016 – 2020. Metode deskriptif  digunakan dengan pengambilan data melalui survei dan wawancara. Jenis ikan pelagis kecil yang tertangkap adalah selar (Selaroides leptolepis), teri (Stolephorus commersoni), lemuru (Sardinella lemuru), kembung ( Rastrelliger faughni), layang (Decapterus russelli), tembang (Sardinella gibbosa), kuwe (Carangoides armatus), ikan terbang (Cypselurus opisthopus), sunglir (Elagatis bipinnulata) dan julung-julung (Hemiramphus far). Ikan yang dominan tertangkap adalah layang. Produksi ikan menunjukan peningkatan dari tahun 2016 sampai tahun 2019 dan mengalami sedikit penurunan (604.811 ton) di tahun 2020.  Hasil tangkapan ikan terbanyak di tahun 2019 dengan jumlah 8.363,46 ton dan yang terendah di tahun 2016 sebanyak 4950,26 ton.
Analisis kelayakan usaha perikanan pukat pantai di kecamatan Pusomaen kabupaten Minahasa Tenggara Billy Bierhoff Rampengan; Lefrand Manoppo; Ivor L Labaro; Mariana E. Kayadoe
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol. 7 No. 2 (2022): Juli-Desember
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.7.2.2022.42282

Abstract

Potensi sumberdaya perikanan laut Indonesia diperkirakan sebesar 6,40 juta ton per tahun, di mana 4,78 juta ton (73,43%) adalah sumberdaya ikan pelagis. Provinsi Sulawesi Utara memiliki sumberdaya perikanan yang cukup potensial untuk dikelola karena masih di bawah potensial lestari yang ditetapkan oleh pemerintah. Usaha penangkapan ikan merupakan suatu kegiatan nelayan untuk menghidupi/memenuhi perekonomian yang memanfaatkan sumberdaya hayati perairan dengan tujuan mendapatkan keuntungan. Di Kecamatan Pusomaen Kabupaten Minahasa Tenggara ada satu alat tangkap soma dampar atau pukat pantai (Beach Seine). Hal ini dikarenakan usaha alat tangkap soma dampar masih sangat menjanjikan.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis kelayakan usaha perikanan pukat pantai dalam bidang teknologi penangkapan ikan di Kecamatan Pusomaen Kabupaten Minahasa Tenggara. Penelitian ini menggunakan metode survei dengan melakukan wawancara. Berdasarkan hasil penelitian terdapat empat indikator yang dijadikan fokus penelitian ini,yaitu: 1.Pendapatan usaha,2. RevenueCost Ratio (R/C Ratio),3. Payback periode (PP),4. Return of investment (ROI). Berdasarkan observasi yang dilakukan di Kecamatan Posumaen di Kabupaten Minahasa Tenggara terkait kelayakan usaha perikanan pukat pantai sudah cukup baik, akan tetapi masih terdapat beberapa kendala yang ditemui pada pengumpulan data/survei tersebut. Masyarakat nelayan di Kecamatan Pusomaen masih tetap menggunakan pukat pantai (Beach Seine) karena modal yang dikeluarkan dalam mengoperasikan alat tangkap pukat pantai cukup murah, hanya dengan menggunakan tenaga saja.
Time efficiency of catch landing using Sondong catcher at fish landing base Dumai City, Riau Province M. Hariski; Muhammad Asshiddiqi; Adriani Adriani
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol. 7 No. 2 (2022): Juli-Desember
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.7.2.2022.42413

Abstract

Efficiency is important in landing with the aim that the catch as soon as possible reaches the hands of consumers in good quality condition. Sondong fishing gear is a type of active fishing gear with an application process that is not too long so it is useful for maintaining the quality of shrimp because shrimp have organoleptic properties that rot quickly. The purpose of this study was to determine the efficiency level of landing time of catches using sondong fishing gear at the Fish Landing Base, Dumai City, Riau Province. The research was carried out at the Fish Landing Base, Dumai City, Riau Province, from June 5-25, 2021. The material in the research object was a sondong fishing boat, while the equipment needed was stationery, a stopwatch, a camera, and a laptop. The data collected are basic data, namely unloading time, effective time, wasted time, and supporting data, namely fleet size (GT), number of fish landed (kg), number of unloading personnel (people), and age of activity actors (years). The efficiency of the landing time of the catch using sondong fishing gear at the fish landing base in the city of Dumai is classified into the less efficient category, while the factors that influence fishing productivity are fishing experience, crew, and fishing time.
KOMPOSISI DAN TINGKAT KERAMAHAN LINGKUNGAN ALAT TANGKAP BAGAN DI LABUAN UKI KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW Ernawati Paputungan; Alfret Luasunaung; Fanny Silooy; Johny Budiman; Ixchel Feiby Mandagi; Wilhelmina Patty
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol. 8 No. 1 (2023): Januari-Juni
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.8.1.2023.42523

Abstract

Bagan merupakan salah satu alat tangkap  yang digunakan untuk menangkap ikan pelagis kecil, dioperasikan pada malam hari dan menggunakan cahaya lampu sebagai atraktor untuk menarik ikan ke area penangkapan. Alat tangkap bagan apung telah lama digunakan oleh nelayan di Desa Labuan Uki Kabupaten Bolaang Mongondow yang terdiri dari bagan perahu dan rakit.  Hasil tangkapan  bagan apung dimanfaatkan sebagai umpan hidup pada perikanan pole and line, kebutuhan makanan sehari-hari, dan juga dikeringkan untuk dijual.  Hasil tangkapan umumnya terdiri dari ikan pelagis kecil yang tertarik pada cahaya (phototaxis positive).  Penelitian ini bertujuan untuk melihat komposisi hasil tangkapan bagan dan mengkaji tingkat keramahan lingkungan alat tangkap bagan berdasarkan target penangkapan (target spesies), tangkapan sampingan (by catch) dan tangkapan yang dibuang (discard catch). Pengumpulan data primer  menggunakan metode experimental fishing pada beberapa trip penangkapan, wawancara mendalam (deep interview) dengan nelayan mengenai keberadaan perikanan bagan yang ada di Labuan Uki. Sedangkan data sekunder diperoleh melalui pustaka dan informasi dari dinas terkait.  Analisis data untuk komposisi jenis ikan menggunakan rumus komposisi jenis ikan oleh Oktaviani (2018) dan untuk tingkat keramahan lingkungan menggunakan persamaan Akiyama (1997).  Hasil yang diperoleh bahwa 10 jenis spesies yang tertangkap selama trip penelitian yang didominasi oleh ikan teri, kembung, petek dan sarden.  Alat tangkap bagan memiliki tingkat keramahan lingkungan yang baik yakni selektif terhadap jenis tangkapan sasaran, tidak merusak habitat (destructive fishing), tidak membahayakan nelayan, menghasilkan ikan yang bermutu baik, produk tidak membahayakan kesehatan konsumen, hasil tangkapan yang terbuang minimum, memberikan dampak minimum terhadap biodiversity, tidak menangkap jenis yang dilindungi dan diterima secara sosial.
Pengaruh Umur Bulan Terhadap Hasil Tangkapan Sero Reza Pebrian; Mariana E. Kayadoe; Lefrand Manoppo
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol. 8 No. 1 (2023): Januari-Juni
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.8.1.2023.43868

Abstract

Bambanipa Village is one of the villages in Palasa District, Parigi Moutong Regency, Central Sulawesi Province. Based on direct observations and interviews with local fishermen, the number of fishermen in the village of Bambanipa is 37 people. The research method used is descriptive and participatory. descriptive methods used are surveys and interviews. for data analysis using a randomized block design (RBD) model, with a mathematical formulation. During the research in the village of Bambanipa, the total number of catches was 318 individuals. With details based on the type of fish caught, namely Baronang (Siganus lineatus) 19 individuals, Grouper (Cromileptes altivelis) 1 individuals, Botana (Ctenochaetus striatus) 1 individual, Katamba (Lethrinus lentjan) 3 individuals, Dayah beard (Upeneus moluccensis) 3 individuals, Rengginan (Myripristis hexagonatus) 69 individuals, Tiger snapper (Plectorhinchus chaetodontoides) 2 individuals, Kuwe (Pseudocaranx dentex) 5 individuals, Black point snapper (Lutjanus fulviflamma) 3 individuals, Selar (Selar boops) 10 individuals, Sembilang (Euristhmus microceps) 200 individuals , 2 individuals of Cuttlefish (Sepia sp.).
Studi perbandingan penggunaan bahan bakar gas dan bahan bakar minyak pada mesin katinting Levandri Alski Lumi; Fransisco P.T. Pangalila; Revols D. CH. Pamikiran; Kawilarang W.A. Masengi; Lefrand Manoppo; Heffry V. Dien
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol. 8 No. 1 (2023): Januari-Juni
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.8.1.2023.44262

Abstract

Fuel is an important energy in fishing operations. Fuel is very influential on operational costs. One of the ways that fishermen can make a profit is by reducing the operational costs of fishing. Fuel consumption was calculated at least the amount of fuel used by the katinting engine at three different RPMs, using a ratio of pertalite type fuel oil and 3 kg LPG gas fuel with an engine operating time of 15 minutes. The average pertalite consumption at low RPM is Rp.1,784.25, while the use of LPG is Rp.761. Based on this value, a comparison of 234.461235% found that gas fuel is more efficient than oil fuel. The average pertalite consumption cost at moderate RPM is Rp.2,926.125, while for LPG use it is Rp.1,115. Based on the value found a comparison of 262.432735% gas fuel is more efficient than fuel oil. The average pertalite consumption at high RPM is Rp.4,271.25, while the use of LPG is Rp.1,574. Based on the average value of fuel consumption at high RPM, a comparison of 271.36277 was found. Gas fuel is more economical than the use of fuel oil in the katinting engine, seen from the comparison of the percentage of the consumption of fuel oil and gas fuel at each RPM.
Studi tentang desain kapal perikanan pantai Robertus Cyrillus Manengkey; Kawilarang W. A. Masengi; Lusia Manu; Revols D. Ch. Pamikiran; Alfret Luasunaung; Heffry V. Dien
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol. 8 No. 1 (2023): Januari-Juni
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.8.1.2023.44604

Abstract

Dapat dikatakan bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi desain sebuah kapal yang dapat dikelompokkan menjadi beberapa kriteria, yaitu: sumber daya yang tersedia, alat dan metode penangkapan ikan, karakteristik geografis suatu daerah penangkapan ikan, kelayakan kapal dan keselamatan awak kapal, regulasi terkait untuk merancang kapal, pemilihan bahan yang tepat untuk konstruksi, penanganan dan penyimpanan hasil tangkapan dan faktor ekonomi. Pengumpulan data dilakukan dengan cara mengamati dan menghitung panjang keseluruhan kapal, kemudian dibagi sepuluh bagian untuk mengukur lebar kapal yang akan diteliti, kemudian data yang telah terkumpul dilanjutkan dengan penggambaran lambung kapal menggunakan pantograf, dilanjutkan dengan kegiatan desain menggunakan software Delfship. Pengukuran kapal dilakukan dua kali, menggunakan alat pengukur otomatis atau laser untuk memastikan ukuran bejana yang benar. Penggambaran lambung menggunakan pantograf harus dilakukan secara tepat agar mendapatkan hasil gambar yang tepat pula. Dengan pengukuran yang baik dan presisi, kita dapat dengan mudah mendapatkan bidang garis dan merancang hidrostatis menggunakan software Delftship.
Analisis usaha perikanan pancing ulur (handline) tuna di Aertembaga kota Bitung: Analysis of tuna handline fishing business in Aertembaga, Bitung city Christi M W Kowaas; Lefrand Manoppo; Fransisco Pangalila
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol. 8 No. 2 (2023): Juli - Desember
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.8.2.2023.45445

Abstract

Ekonomi kota Bitung juga didorong oleh sektor perikanan dimana kecamatan Aertembaga menjadi pusatnya, ditandai dengan terdapatnya Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Bitung. Sektor ini bahkan menjadi pendorong utama, maka pengolahan yang tepat kemudian dibutuhkan untuk memanfaatkan segala macam hal yang bisa memberikan dorongan positif. Berbicara soal ikan tuna sebenarnya terdapat beberapa jenis cara tangkap ikan Tuna yang perlu kita ketahui terlebih dahulu, yakni; dengan menggunakan alat tangkap pukat cincin, huhate serta pancing ulur tuna (tuna handline). Namun dalam karya tulis ini titik fokus penulis diarahkan pada cara tangkap dengan metode handline yang berlokasi di PPS kota Bitung kelurahan Aertembaga. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisa tentang keadaan sosial nelayan dan kelayakan usaha pancing ulur tuna di kelurahan Aertembaga Satu, kota Bitung. Metode yang di pakai untuk pengumpulan data diperoleh melalui wawancara, survei langsung, penyebaran kuesioner, dan studi literatur. Dalam penelitian ini data kapal yang diambil sampel adalah KM Eben Heazer. KM Eben Heazer memiliki payback period (PP) atau balik modal selama 1,7 tahun dan return of investment dari usaha pancing ulur tuna sebesar 56,9 % atau setiap 1 rupiah yang diivestasikan akan memberikan keuntungan sebesar 56,9% rupiah. Dalam satu trip pemilik kapal mendapat pendapatan bersih Rp. 54.789.825,-