Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

PROFIL SALINITAS DAN SUHU DI TELUK MANADO PADA HARI-HARI HUJAN DAN TIDAK HUJAN Kalangi, Patrice NI; Masengi, Kawilarang WA; Iwata, Masamitsu; Pangalila, Fransisco PT; Mandagi, Ixchel F
JURNAL PERIKANAN DAN KELAUTAN TROPIS Vol 8, No 3 (2012)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (783.032 KB) | DOI: 10.35800/jpkt.8.3.2012.2443

Abstract

Pengukuran salinitas dan suhu perairan dilakukan pada hari-hari hujan dan tidak hujan di dua tempat di perairan Teluk Manado, yang memiliki lima sungai utama di pinggirannya, untuk menyelidiki profil vertikal dari salinitas dan suhu, serta ketebalan air tawar. Profil salinitas dan suhu perairan pada hari yang sama di kedua tempat adalah mirip. Pada hari-hari hujan, salinitas rata-rata lapisan permukaan perairan adalah 33,9 lebih rendah 0,3 dibandingkan pada hari-hari tidak hujan. Salinitas permukaan ini setara dengan ketebalan lapisan air tawar sebesar 0,45 m. di lapisan permukaan, profil suhu cukup mirip. Akan tetapi, pada lapisan yang lebih dalam, suhu berosilasi pada fase yang berbeda dengan bertambahnya kedalaman. Kata kunci: ketebalan lapisan air tawar, termoklin, Bunaken.   Salinity and temperature measurements were carried out on rainy days and non rainy days in two locations in Manado Bay, which is the outlet of fresh water masses from five main rivers, to investigate vertical profiles of salinity and temperature, and the thickness of the fresh water layer. Same day salinity and temperature profiles in both places is similar. On rainy days, the average salinity in the surface layer was 33.9, 0.3 lower than that of non rainy days. The surface salinity is equivalent to the thickness of the freshwater layer thickness of 0.45 m. In the surface layer, the temperature profile is quite similar. However, in the deeper layers, the temperature oscillates at different phases according to the increasing depths. Keywords: freshwater thickness, thermocline, Bunaken.
New localities of the Oryzias woworae species group (Adrianichthyidae) Kazunori Yamahira; Koji Mochida; Shingo Fujimoto; Daniel F. Mokodongan; Javier Montenegro; Takuma Kaito; Asano Ishikawa; Jun Kitano; Taketoshi Sue; Mulis Mulis; Renny K. Hadiaty; Ixchel F. Mandagi; K.W. Alex Maseng
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 16 No 2 (2016): June 2016
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v16i2.35

Abstract

The Oryzias woworae species group, composed of O. asinua, O. wolasi, and O. woworae, is a group of the family Adrianichthyidae endemic to Sulawesi Tenggara (Southeast Sulawesi). Here, we report new localities of each of the three species in this group, which were collected during our field expeditions in 2014-2015. In total, six new localities were discovered throughout Sulawesi Tenggara, including Muna Island, suggesting that they may have wider species ranges than currently recognized. Some of the new localities were independent of the river systems of the known localities, suggesting that each species is genetically structured, and that the unit for conservation should be considered not as each species but as each local population. Abstrak Kelompok spesies Oryzias woworae, family Adrianichthyidae, terdiri atas O. asinua, O. wolasi, dan O. woworae, merupakan spesies endemik di Sulawesi Tenggara. Selama ekspedisi lapangan tahun 2014-2015, kami mencatat setiap spesies dari ketiga spesies dalam grup ini dijumpai di beberapa lokasi baru. Secara keseluruhan, enam lokasi baru telah ditemukan sepanjang daerah Sulawesi Tenggara, termasuk Pulau Muna, yang menunjukkan bahwa grup tersebut kemungkinan memiliki daerah persebaran lebih luas dari yang diketahui saat ini. Sebagian lokasi baru berasal dari sistem aliran sungai yang berbeda dengan lokasi yang telah diketahui selama ini. Hal ini menunjukkan bahwa tiap spesies terstruktur secara genetik, dan bahwa unit konservasi harus dipertimbangkan bukan untuk tiap spesies tetapi untuk tiap populasi lokal.
Aplikasi remotely operated vehicle (ROV) dalam penelitian kelautan dan perikanan di sekitar perairan Sulawesi Utara dan Biak Papua Tirza H. Samosir; Kawilarang W.A. Masengi; Patrice N.I. Kalangi; Masamitsu Iwata; Ixchel F. Mandagi
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol. 1 No. 1: Juni 2012
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.1.1.2012.703

Abstract

Kondisi perairan laut pada kedalaman tertentu sangatlah tidak mudah dipahami secara menyeluruh jika hanya mengandalkan kemampuan manusia tanpa didukung oleh fasilitas pendukung seperti ketersediaan peralatan dan teknologi yang memadai, seperti Remotely Operated Vehicle (ROV). ROV merupakan robot bawah air yang dikontrol oleh orang yang telah professional untuk mengendalikan alat tersebut. Dalam bidang kelautan dan perikanan penelitian dengan menggunakan ROV dapat mempermudah proses penelitian organisme-organisme laut dalam. ROV diklasifikasikan berdasarkan ukuran, berat dan kekuatannya yang dikategorikan sebagai berikut: Micro ROV, Mini ROV, General ROV, Light Workclass, Heavy Workclass dan Trenching/Burial. Penelitian ini menggunakan General ROV dengan panjang 1076 mm, lebar 640 mm dan tinggi 515 mm. Penelitian dilaksanakan di dua tempat yakni di perairan Sulawesi Utara dan Biak Provinsi Papua.
Aktivitas pendaratan hasil tangkapan terhadap mutu ikan di Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Bitung Shanice Rotama Sitorus; Ixchel Feibie Mandagi; Lusia Manu; Frangky Ernes Kaparang; Lefrand Manoppo; Fransisco Philep Theodorus Pangalila
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol. 7 No. 2 (2022): Juli-Desember
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.7.2.2022.40237

Abstract

Seperti kita ketahui, ikan merupakan suatu komoditas yang mudah busuk dan cepat rusak sehingga sangat rentan terhadap penurunan kualitas ikannya, hal ini dapat disebabkan oleh beberapa aktivitas mulai dari pendaratan ikan sampai pendistribusian menuju konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas pendaratan hasil tangkapan terhadap mutu ikan Malalugis (Decapterus spp.) dan mengetahui proses pemasaran hasil tangkapan yang didaratkan di Pelabuhan Perikanan Samudera Bitung. Kami menggunakan metode deskriptif untuk mengumpulkan semua data pada empat kapal Pukat Cincin berukuran 20-30 GT (KM 01, KM 03, KM 08 dan KM 1) sebagai target dalam pengumpulan data.  Pengamatan dan wawancara telah dilakukan  untuk mengetahui kondisi pelabuhanan perikanan, aktivitas pendaratan hasil tangkapan, dan waktu proses dari palka sampai ke TPI karena aspek-aspek diatas berpengaruh terhadap mutu ikan. Kami menemukan bahwa, proses penurunan dan pengangkutan hasil tangkapan di PPS Bitung belum memperhatikan aspek kebersihan dan kehigienisan. Hal ini dapat dilihat dari penggunaan air untuk mencuci ikan, keadaan dermaga yang dipenuhi genangan air bekas mencuci ikan dan juga penggunaan es yang diletakkan sembarangan di lantai dermaga tanpa alas. Disamping itu, hasil analisa uji organoleptik berkisar 7-8, hal ini sesuai dengan standar SNI. Berdasarkan data hasil penelitian kami berkesimpulan bahwa peranan aktivitas pendaratan kelihatannya tidak terlalu mempengaruhi mutu ikan yang didaratkan meskipun penanganan terhadap ikan belum terlalu baik dimana cara penanganan ikan belum menerapkan prinsip penanganan ikan yang baik atau 3C1Q yaitu Cold (dingin), Clean (bersih), Carefull (baik) dan Quick (cepat).
Studi tentang penggunaan bahan kayu pembuatan kapal ikan di galangan kapal Desa Pangi Kabupaten Bolaang Mongondow Hernita Paputungan; Vivanda O.J. Modaso; Revold D.Ch. Pamikiran; Frangky E. Kaparang; Heffry V. Dien; Akira W.R. Masengi; Ixchel F. Mandagi; Kawilarang W.A. Masengi
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol. 7 No. 2 (2022): Juli-Desember
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.7.2.2022.41573

Abstract

Desa Pangi terletak di Kecamatan Lolak, Kabupaten Bolaang Mongondow, Provinsi Sulawesi Utara, Indonesia. Desa pangi memanjang dari timur ke barat denagn luas ± 9.240 Ha. Keadaan topografi desa pangi pada umumnya adalah dataran rendah, ketinggian dari permukaan laut 2 ≤ 10m, dan mempunyai iklim kemarau dan penghujan tropis. Kayu merupakan benda yang paling banyak digunakan umat manusia. Mulai dari hal kecil hingga hal yang besar, kayu digunakan sebagai kayu bakar. Adapula yang menggunakannya sebagai bahan bangunan.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penggunaan jenis-jenis bahan kayu yang digunakan pada galangan kapal di desa Pangi-Sauk Kecamatan Lolak Kabupaten Bolaang Mongondow. Mengetahui prosentasi penggunaan bahan kayu menurut jenis dan menetahui klas awetdan kuat suatu bahan kayu.Adapun manfaat penelitian ini adalah penggunaan kayu yang baik yang digunakan untuk pembuatan kapal perikanan, dapat mengetahui jenis-jenis kayu yang digunakan serta mengintroduksi jenis-jenis kayu yang awet, kuat sebagai bahan baku pembuatan kapal perikanan.Kayu yang digunakan untuk material kapal tersebut tidak sembarangan jenis. Perlu diperhatikan struktur dan kekuatan dari kayu tersebut karena jika tidak diperhatikan akan berdampak buruk jika salah dalam memilih kayu. Karena penggunaan kayu untuk suatu tujuan tertentu tergantung dari sifat – sifat kayu yang bersangkutan dan persyaratan teknis yang diperlukan, yang mengarah ke jenis kayu yang akan dipilih, misalkan untuk kontruksi (kayu harus kuat, keras, mempunyai keawetan alam yang tinggi di air) biasanya untuk material kapal ada beberapa jenis kayu yang dapat dipilih seperti : jati, gopasa, balau, bungur, bangkirai dll. Untuk lantai (yang harus bersifat keras dan tahan terhadap keasaman) biasanya jenis kayu yang digunakan adalah kayu gopasa, kayu jati, kayu bungur dan lain – lain.Dalam pengambilan data ini dilakukan secara langsung dengan cara mewawancarai pengrajin kapal didesa pangi. Dari hasil wawancara dan melihat langsung proses pemanfaatan material kayu digalangan kapal ikan di desa pangi-sauk terlihat bahwa kayu untuk pembuatan dinding dan lantai kapal yang sangat membutuhkan banyak material kayu. Jenis – jenis kayu yang dominan adalah kayu gopasa, kayu keng, dan dangsa serta jati. Sedangkan untuk penulangan kayu talisei dan kapuraca sangat dominan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembuatan kapal didesa pangi dominan menggunakan kayu gopasa, kayu jati, kayu keng, kayu dansa dan kayu jati.
Analisis kepuasan nelayan atas pelayanan di Pangkalan Pendaratan Ikan Pelabuhan Labuan Uki Kabupaten Bolaang Mongondow Sridelianti Liulondo; Ixchel F. Mandagi; Fanny Silooy; Ivor L. Labaro; Alfret Luasunaung; Kawilarang W. A Masengi
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol. 7 No. 2 (2022): Juli-Desember
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.7.2.2022.41605

Abstract

Sebagai pengguna fasilitas Pelabuhan Pendaratan Ikan Labuan Uki, nelayan pengguna pasti sangat menginginkan pelayanan yang optimal, dimana tingkat kepuasan nelayan pengguna dapat dijadikan sebagai acuan dalam pengembangan penyediaan pelayanan sehingga dapat memberikan pelayanan yang dibutuhkan oleh nelayan secara tepat, cepat dan efisien. Meskipun beberapa aktivitas ekonomi dan perikanan masih terbatas, namun tetap masih mampu menunjang sektor perekonomian bagi masyarakat sekitarnya. Menariknya belum adanya informasi sampai sejauh mana tingkat kepuasan dari nelayan pengguna fasilitas pada Pelabuhan ini. Observasi dan wawancara telah dilakukan untuk mengumpulkan data tentang tingkat kepuasan nelayan pengguna dan ketersedian BBM, Air bersih, Es Balok serta logistik makanan di Pelabuhan Perikanan Labuan Uki, dengan menggunakan pendekatan Skala Likert terhadap 16 orang responden nelayan pengguna. Analisis data menggunakan uji skoring untuk memperoleh seberapa besar persentasi respon dari nelayan pengguna dan untuk visualisasi menggunakan diagram pie. Hasil analisa dalam bentuk diagram pie menunjukkan bahwa tingkat kepuasan nelayan pengguna Pelabuhan Perikanan Labuan Uki secara menyeluruh berdasarkan respon dari 16 responden nelayan pengguna hasilnya memuaskan, dimana Pelayanan dari petugas (SP 37%; P 63%), fasilitas ruangan (SP 6%; P 88% dan  CP 6%); ketepatan waktu petugas pelayanan (SP 31%; P 69%), Sikap dan perilaku petugas (SP 50%; P 44%; CP 6%), Kenyamanan kapal yang bersandar saat berlabuh (SP 13%; P 81% dan CP 6%), Kecukupan dermaga untuk kapal yang berlaku saat bongkar muat BBM ( SP 25%; P 62%; CP 13%), Waktu layanan bongkar muat BBM ( SP 6%; P 94%), Pelayanan Petugas pada saat bongkar muat (SP 31%; P 69%), Perilaku pelayanan petugas pelelangan ikan (SP 38%; P 56% dan CP 6%). Sementara, hasil skoring ketersediaan Fasilitas Tempat Pelelangan Ikan (TPI) menunjukkan (P 62% dan CP 38%), hal ini disebabkan karena tidak adanya fasilitas TPI di Pelabuhan Labuan Uki. Disisi lain ketersediaan BBM, Air Bersih dan Es Balok menunjukkan tingkat kepuasan memuaskan sementara hasil analisa tingkat ketersediaan logistik makanan cukup memuaskan. 
KOMPOSISI DAN TINGKAT KERAMAHAN LINGKUNGAN ALAT TANGKAP BAGAN DI LABUAN UKI KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW Ernawati Paputungan; Alfret Luasunaung; Fanny Silooy; Johny Budiman; Ixchel Feiby Mandagi; Wilhelmina Patty
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol. 8 No. 1 (2023): Januari-Juni
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.8.1.2023.42523

Abstract

Bagan merupakan salah satu alat tangkap  yang digunakan untuk menangkap ikan pelagis kecil, dioperasikan pada malam hari dan menggunakan cahaya lampu sebagai atraktor untuk menarik ikan ke area penangkapan. Alat tangkap bagan apung telah lama digunakan oleh nelayan di Desa Labuan Uki Kabupaten Bolaang Mongondow yang terdiri dari bagan perahu dan rakit.  Hasil tangkapan  bagan apung dimanfaatkan sebagai umpan hidup pada perikanan pole and line, kebutuhan makanan sehari-hari, dan juga dikeringkan untuk dijual.  Hasil tangkapan umumnya terdiri dari ikan pelagis kecil yang tertarik pada cahaya (phototaxis positive).  Penelitian ini bertujuan untuk melihat komposisi hasil tangkapan bagan dan mengkaji tingkat keramahan lingkungan alat tangkap bagan berdasarkan target penangkapan (target spesies), tangkapan sampingan (by catch) dan tangkapan yang dibuang (discard catch). Pengumpulan data primer  menggunakan metode experimental fishing pada beberapa trip penangkapan, wawancara mendalam (deep interview) dengan nelayan mengenai keberadaan perikanan bagan yang ada di Labuan Uki. Sedangkan data sekunder diperoleh melalui pustaka dan informasi dari dinas terkait.  Analisis data untuk komposisi jenis ikan menggunakan rumus komposisi jenis ikan oleh Oktaviani (2018) dan untuk tingkat keramahan lingkungan menggunakan persamaan Akiyama (1997).  Hasil yang diperoleh bahwa 10 jenis spesies yang tertangkap selama trip penelitian yang didominasi oleh ikan teri, kembung, petek dan sarden.  Alat tangkap bagan memiliki tingkat keramahan lingkungan yang baik yakni selektif terhadap jenis tangkapan sasaran, tidak merusak habitat (destructive fishing), tidak membahayakan nelayan, menghasilkan ikan yang bermutu baik, produk tidak membahayakan kesehatan konsumen, hasil tangkapan yang terbuang minimum, memberikan dampak minimum terhadap biodiversity, tidak menangkap jenis yang dilindungi dan diterima secara sosial.
Kajian tentang jenis umpan dan waktu penangkapan bibit ikan Kuwe pancing banbu Fajri Salote; Alfret Luasunaung; Ivor Labaro; Welhelmina Patty; ixchel F. Mandagi; Vivanda O. J. Modaso
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol. 8 No. 2 (2023): Juli - Desember
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.8.2.2023.48883

Abstract

Abstract Kuwe fingerlings ( Caranax spp) are classified as important economic resources which are produced from coastal waters, especially waters near estuaries. The tool commonly used in capturing these resources is a bamboo fishing rod, because of its simple construction, relatively inexpensive and easy to operate. However, there are no fishermen who have made comparisons of bait for the catch of catfish fingerlings. This study aims to study the effect of different types of bait on the catch of giant trevally fingerlings; and learn effective catch times. This research was carried out using an experimental method, in the coastal waters of Likupang Village, Ambong Village, East Likupang District, North Minahasa Regency, during 10 days from February 7 to 16, 2023. Data collection was carried out by operating 6 bamboo fishing rods (3 units using shellfish bait and 3 units using malalugis fish bait). ). The total catch was 424 catfish fingerlings, consisting of 293 fish caught using shellfish bait and 131 fish caught using malalugis fish bait. The use of this type of shellfish bait gave a better catch of fingerlings (69%) than the type of bait for malalugis (31%). The results of the analysis of morning arrests at 06.00 - 07.00 were 51% and afternoon at 16.00 - 17.00 as many as 49%, meaning that they were not significantly different.Keywords: Kuwe fingerlings, bamboo fishing rods, bait for malalugis fish and shellfish, time of catching.Abstrak Bibit ikan kuwe (Caranax spp) tergolong sumberdaya ekonomis penting yang di hasilkan dari perairan pesisir terutama perairan dekat muara. Alat yang umum digunakan dalam menangkap sumberdaya tersebut adalah pancing bambu, karena konstruksinya sederhana, relatif murah dan mudah dioperasikan. Namun belum ada nelayan yang melakukan perbandingan umpan untuk hasil tangkapan bibit ikan kuwe. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh perbedaan jenis umpan terhadap hasil tangkapan bibit ikan kuwe; dan mempelajari waktu tangkapan yang efektif. Penelitian ini dikerjakan dengan metode eksperimental, di perairan pantai Desa Likupang Kampung Ambong Kecamatan Likupang Timur, Kabupaten Minahasa Utara, selama 10 hari dari tanggal 7 - 16 Februari 2023. Pengumpulan data dilakukan dengan cara mengoperasikan 6 unit pancing bambu (3 unit menggunakan umpan Kerang dan 3 unit menggunakan umpan ikan malalugis). Tangkapan total berjumlah 424 ekor bibit ikan kuwe, terdiri dari 293 ekor yang tertangkap dengan mengunakana umpan kerang dan 131ekor yang tertangkap dengan menggunakan umpan ikan malalugis. Penggunaan jenis umpan kerang memberikan tangkapan bibit ikan kuwe yang lebih baik (69%) daripada jenis umpan ikan malalugis (31%). Adapun hasil analisis waktu penangkapan pagi pukul 06.00 – 07.00 sebanyak 51% dan sore pukul 16.00 – 17.00 sebanyak 49% artinya tidak berbeda nyata.Kata kunci : Bibit ikan Kuwe, pancing bambu, umpan ikan malalugis dan kerang, waktu penangkapan.
Kontribusi perikanan pukat cincin yang berpangkalan di Pelabuhan Perikanan Pantai Tumumpa terhadap PDRB Kota Manado di masa Covid-19 Elvan Sembiring; Effendi P. Sitanggang; Ixchel F. Mandagi
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol. 9 No. 2 (2024): Juli-Desember
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.9.2.2024.51517

Abstract

Covid-19 brought their intensive effects in marine fishery subsector in Manado by the end of 2019. The research aimed at finding out how far the effect of purse seine fishery contribute on Gross Regional Domestic Product (GRDP) Manado between before and after Covid-19. Secondary data collected from of BPS Manado dan North Sulawesi in 2018 - 2022, while primary data i.e purse seiner’s catches and its value production from the annual reports of Tumumpa coastal fishing port by direct observation on board. Data was analyzed using Location Quotient (LQ) approach. The result of data analysis showed, there was a declining production during Covid-19 due to a lack of fishing operation activities, having a consequence in fish production value decreasing, because the fish distribution obstruction from the centres of producer to the centres of consumer. Before Covid-19 period, it gained the average catches of 10,7 million tons.yrs-1 (increasing 17,46% yrs-1), with production value of Rp. 159,6 billion yrs-1 (increase 23,23% yrs-1). During Covid-19, average cathes of purse seiner was 11,3 billion tons yrs-1 (decline 8,25% yrs-1) and production value of Rp. 204,3 billion yrs-1 in average (decline of 8,30% yrs-1). Purse seine fishery contribution on GRDP Manado decrease from 0,10% yrs-1 before Covid-19 (2017-2019) to - 0.42% yrs-1 during Covid-19 (2020-2012). During these two periods, (marine) fishery subsector had a LQ < 1, meant that this subsector was really not a basis of the subsector. To fulfill the Manado society consumption on fishes, it is required to supply fishes from other locations. The other side, the business of purse seiner fishery brought an agreeable advantage.
Pengaruh umpan pada pancing dasar terhadap hasil tangkapan: The influence of bait on basic fishing rods on catch results Sandrina Nellah Worang; Fransisco P. T. Pangalila; Lefrand Manoppo; Alfred Luasunaung; Ixchel F. Mandagi; Heffry Veibert Dien
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol. 9 No. 2 (2024): Juli-Desember
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.9.2.2024.53347

Abstract

Pancing adalah suatu alat penangkap ikan yang terdiri dari mata pancing dan tali atau tanpa umpan dengan memancing ikan target sehingga tertangkap pada mata pancing, salah satu jenis alat tangkap yang digunakan oleh nelayan untuk memancing yaitu pancing ulur (hand line). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi hasil tangkapan dengan pancing dasar sesuai jenis umpan yang digunakan dan membandingkan jenis umpan terbaik dari ketiga umpan. Penelitian ini dikerjakan dengan metode eksperimental, di perairan Batu Kapal Kota Bitung Provinsi Sulawesi Utara. Pengumpulan data dilakukan dengan cara mengoperasikan 3 unit pancing dasar dengan menggunakan umpan ikan malalugis,cumi dan udang yang terdiri 3 orang. Jenis-jenis ikan yang tertangkap selama pengoperasian pancing dasar terdiri dari 10 spesies ikan. Tetapi ikan yang tertangkap lebih dari 5 ekor hanya terdiri dari 4 jenis ikan, yaitu gaca sebanyak 11 ekor, Gutila 10 ekor, Sikuda 9 ekor, Gutila sirip merah 6 ekor. Dari hasil yang tangkapan bahwa jenis umpan yang terbaik dimulai dari umpan ikan malalugis, udang dan cumi.