cover
Contact Name
Safni Elivia
Contact Email
safni@iphorr.com
Phone
+6282282204653
Journal Mail Official
mail@iphorr.com
Editorial Address
Jl. Raden Imba Kusuma Ratu Gang Durian No.40, Sukadana Ham, Kota Bandar Lampung 52473
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
JOURNAL OF Mental Health Concerns
ISSN : 29645042     EISSN : 29645034     DOI : 10.56922
Core Subject : Health,
Jurnal penelitian dibidang kesehatan jiwa meliputi kegiatan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif pada semua tingkat usia baik secara individu, maupun kelompok rentan. Penelitian kesehatan jiwa susuai tren kekinian.
Articles 104 Documents
Hubungan tingkat kecemasan dengan perubahan tanda-tanda vital pasien pra operasi di Rumah Sakit Advent azahra, putri; Sujiah, Sujiah; Sari, Septi Kurnia Sari
JOURNAL OF Mental Health Concerns Vol. 3 No. 2 (2024): October Edition 2024
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/mhc.v3i2.950

Abstract

Bacground: Anxiety is a psychological response that patients often experience before undergoing surgery. It can affect the patient's physiological state, characterized by an increase in vital signs. Preoperative anxiety impacts surgical outcomes and increases the likelihood of postoperative complications. Purpose: To determine the relationship between anxiety level and vital signs of preoperative patients. Method: Quantitative with a cross sectional approach. The sampling technique used was purposive sampling technique, namely 171 people. The population of this study was preoperative patients with a total of 300 preoperative patients at Advent Hospital Bandar Lampung. The data analysis used was univariate analysis and biavariate analysis using the chi square test. Results: The results of the chi square test obtained a p value at blood pressure of 0.008, at pulse rate of 0.003, at respiration of 0.000 at oxygen saturation of 0.007, and at temperature of 0.001. It is known that if the p value <0.05 there is a relationship between changes in blood pressure, pulse rate, respiration, oxygen saturation and temperature in preoperative patients. Conclution: These findings confirm the importance of efforts to reduce anxiety in preoperative patients so that physiological conditions remain stable and the risk of postoperative complications can be minimized. Keyword: Anxiety; Preoperative Patients; Vital Signs. Pendahuluan: Kecemasan merupakan respons psikologis yang sering dialami pasien sebelum menjalani tindakan operasi. Kecemasan ini dapat memengaruhi kondisi fisiologis pasien, ditandai dengan peningkatan tanda-tanda vital. Kecemasan sebelum operasi berdampak pada hasil operasi dan meningkatkan kemungkinan terjadinya komplikasi post operasi. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan tingkat kecemasan terhadap perubahan tanda-tanda vital pasien pra operasi. Metode: Kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Teknik pengambilan sampel yang digunakan teknik purposive sampling yaitu 171 responden. Populasi dari penelitian ini pasien pra operasi dengan jumlah 300 seluruh pasien pra operasi di RS Advent Bandar Lampung. Analisis data yang digunakan adalah analisis univariat dan analisis biavariat dengan menggunakan uji chi square. Hasil: Hasil uji chi square didapatkan p value pada tekanan darah 0.008, pada denyut nadi 0.003, pada pernapasan 0.000 pada saturasi oksigen 0.007, dan pada suhu 0.001 Diketahui bahwa jika nilai p<0.05 ada hubungan perubahan tekanan darah, denyut nadi, pernapasan, saturasi oksigen dan suhu pada pasien pra operasi. Simpulan: Temuan ini menegaskan pentingnya upaya menurunkan kecemasan pada pasien pra operasi agar kondisi fisiologis tetap stabil dan risiko komplikasi pasca operasi dapat diminimalkan. Kata Kunci: Kecemasan; Pasien Pra Operasi; Tanda-Tanda Vital.
Gambaran stres akademik pada mahasiswa pendidikan kepelatihan olahraga semester vi Iskandar, Iskandar
JOURNAL OF Mental Health Concerns Vol. 4 No. 1 (2025): April Edition 2025
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/mhc.v4i1.1006

Abstract

Baground: Academic stress is a state in which a student feels incapable dealing with the pressures and demands faced in the academic world and considering These demands are seen as a disturbance. Students need to manage academic stress. by dealing with anxiety, thinking positively when facing problems, and so on. the most important thing is to seek social support from parents or family Purpose: To dentified the picture of academic stress in sports coaching education students in semester VI. Methods: A quantitative type with a descriptive design.SThe sample of this research was 96 students of the PKO Study Program, semester VI, IKIP PGRI Kaltim, using the sampling technique.proportional stratified random sampling.  Instruments used Perceived Academic Stres Scale (PASS).   Results: Based on the characteristics of respondents by age, almost all of them are aged 17-25 years as many as 94 students (97.9%), gender is mostly male as many as 72 students (75.0%), employment status is almost all unemployed as many as 81 students (84.4%), and almost half of them live in boarding houses/rented accommodation/dormitories as many as 45 students (46.9%). Based on academic stress, almost all of them experience moderate academic stress as many as 71 students (74.0%). Conclusion: Almost all PKO semester VI experience moderate academic stress. It is expected that educational institutions can monitor the psychological conditions of students such as preparing counseling guidance and providing knowledge through seminars on stress management for students so that they are able to manage stress well and adaptively. Keywords: Academic Stress; Education; Students. Pendahuluan: Stres akademik keadaan seorang mahasiswa merasa tidak mampu menangani tekanan dan tuntutan yang dihadapi dalam dunia akademis serta menganggap tuntutan tersebut sebagai suatu gangguan. Mahasiswa perlu mengelola stres akademik dengan cara menangani kecemasan, berpikir positif ketika menghadapi masalah, dan yang terpenting mencari dukungan sosial dari orang tua atau keluarga Tujuan: Untuk mengidentifikasi gambaran stres akademik pada mahasiswa pendidikan kepelatihan olahraga semester VI IKIP PGRI Kaltim tahun akademik 2024/2025. Metode: Jenis kuantitatif dengan desain deskriptif. Sampel penelitian ini mahasiswa Prodi PKO semester VI IKIP PGRI Kaltim berjumlah 96 orang, teknik pengambilan sampel menggunakan teknik proportional stratified random sampling. Instrumen menggunakan Perceived Academic Stres Scale (PASS). Hasil: Berdasarkan karakteristik responden berdasarkan usia, hampir seluruhnya berusia 17-25 tahun sebanyak 94 mahasiswa (97.9%), jenis kelamin sebagian besar laki-laki sebanyak 72 mahasiswa (75.0%), status pekerjaan hampir seluruhnya belum bekerja sebanyak 81 mahasiswa (84.4%), dan hampir setengahnya tinggal di kost/kontrakan/asrama sebanyak 45 mahasiswa (46.9%). Berdasarkan stres akademik hampir seluruhnya mengalami stres akademik sedang sebanyak 71 mahasiswa (74.0%). Simpulan: Hampir seluruh mahasiswa PKO semester VI IKIP PGRI Kaltim mengalami stres akademik sedang. Diharapakan intitusi pendidikan dapat memonitor kondisi psikologis mahasiswa seperti menyiapkan bimbingan konseling dan memberikan pengetahuan melalui seminar tentang manajemen stres untuk mahasiswa agar mereka mampu mengelola stres dengan baik dan adaptif. Kata Kunci: Stres Akademik; Mahasiswa; Pendidikan.  
Perilaku bullying tanpa disadari pada mahasiswa Waluyo, Agus; Deska, Rini
JOURNAL OF Mental Health Concerns Vol. 4 No. 1 (2025): April Edition 2025
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/mhc.v4i1.1008

Abstract

Baground: Unwitting bullying behavior is carried out, among others, by making physical appearance a joke, antagonizing, excluding, using harsh words and spreading news that is not factual. Purpose: To describe unconscious bullying behavior in a group of students in one of the study programs in Bandar Lampung. Method: This research was conducted descriptively quantitatively in one nursing study program with 54 students as respondents. The instrument used in this study was a questionnaire with 17 closed questions. Results: The results showed that out of 54 respondents: students who had never done bullying behavior without realizing it were 11 students (20.0%) and those who had done bullying behavior without realizing it were 43 students (80.0%). Bullying behavior in the group that has ever done is categorized into 3 groups: low category as many as 16 respondents (37.0%), medium category as many as 22 respondents (51.0%), high category as many as 5 respondents (12.0%). Conclusion: Only a small group of students have never committed bullying behavior and most of them still do it in their daily lives. Knowledge and understanding of bullying behavior or wrong words must be known by every person/individual. For this reason, each person / individual must get information and understanding about bullying behavior is behavior that should not be done. Keywords: Bullying; Students; Unconsciously. Pendahuluan: Perilaku bullying tanpa kita sadari dilakukan antara lain dengan menjadikan penampilan fisik sebagai bahan bercandaan, memusuhi, mengucilkan, penggunaan kata - kata kasar dan menyebarkan berita yg bukan fakta. Tujuan: Untuk menggambarkan perilaku bullying tanpa disadari pada kelompok mahasiswa disalah satu program studi di Bandar Lampung. Metode: Deskriptif kuantitatif pada satu program study keperawatan dengan jumlah responden sebanyak 54 mahasiswa. Instrument yang digunakan dalam penelitian ini berupa kuesioner dengan 17 pertanyaan tertutup. Hasil: Penelitian menunjukan dari 54 responden mahasiswa yang tidak pernah melakukan perilaku bullying tanpa di sadari berjumlah 11 mahasiswa (20.0%) dan yang pernah melakukan perilaku bullying tanpa disadari dengan jumlah 43 mahasiswa (80.0%). Perilaku bullying pada kelompok yang pernah melakukan dikategorikan dalam 3 kelompok kategori rendah sebanyak 16 responden (37.0%), kategori sedang sebanyak 22 responden (51.0%), kategori tinggi sebanyak 5 responden (12.0%). Simpulan: Hanya sebagian kecil kelompok mahasiswa yang tidak pernah melakukan perilaku bullying dan  sebagian besar masih melakukan dikehidupan keseharian mereka. Pengetahuan dan pemahaman tentang perilaku atau perkataan salah bersifat bullying wajib diketahui oleh setiap diri /individu. Untuk itu setiap diri/individu harus mendapatkan informasi dan pemahaman tentang perilaku bullying adalah perilaku yang tidak boleh dilakukan. Kata kunci: Bullying; Mahasiswa; Tanpa Disadari.
Creative minds, healthy minds: strategi menjaga kesehatan mental mahasiswa melalui kegiatan kreatif di kampus Nadiya, Roudlotul; Khojidah, Khojidah
JOURNAL OF Mental Health Concerns Vol. 4 No. 1 (2025): April Edition 2025
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/mhc.v4i1.1021

Abstract

Background: University students face various pressures such as academic stress, social transitions, and identity development that can impact their mental health. Creative activities are considered as an alternative approach to maintaining students’ emotional balance. Purpose: To determine the role of creative activities in maintaining students’ mental well-being. Method: A qualitative research with a phenomenological approach. In-depth interviews were conducted with five students from Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya to explore their experiences in engaging with creative activities. Results: The results showed that participating in activities such as writing poetry, painting, music, and performing arts helped students express emotions, boost self-confidence, reduce academic stress, and foster a sense of community. Main barriers identified were time constraints, social stigma, lack of information, and limited institutional support. Conclusion: Creative activities significantly contribute to students’ mental well-being. Therefore, institutional support is essential to ensure equitable access and sustainable implementation of creative programs in higher education. Keywords: Academic stress; Creative activities; Mental health; Self-expression; University Students. Pendahuluan: Mahasiswa menghadapi berbagai tekanan seperti stres akademik, transisi sosial, dan pencarian identitas diri yang dapat berdampak pada kesehatan mental. Kegiatan kreatif dipandang sebagai salah satu alternatif dalam menjaga keseimbangan emosional mahasiswa. Tujuan: Untuk mengetahui peran kegiatan kreatif dalam menjaga kesehatan mental mahasiswa. Metode: Kualitatif dengan metode fenomenologi. Wawancara mendalam dilakukan terhadap lima mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya untuk menggali pengalaman mereka dalam kegiatan kreatif. Hasil: Keterlibatan dalam praktik kreatif seperti menulis puisi, melukis, bermusik, dan seni pertunjukan membantu dalam mengekspresikan emosi, meningkatkan kepercayaan diri, mengurangi stres akademik, serta membantu rasa kebersamaa. Namun demikian, keterbatasan waktu, stigma, kurangnya informasi, dan dukungan institusional yang minim menjadi hambatan utama. Simpulan: Kegiatan kreatif bukan hanya hiburan semata, tetapi menjadi strategi penting dalam meningkatkan ketahanan psikologis dan kesejahteraan emosional mahasiswa. Kebijakan kampus yang inklusif dan mendukung sangat diperlukan untuk menjamin akses yang setara dan pelaksanaan program kreatif yang berkelanjutan. Kata Kunci: Ekspresi Diri; Kegiatan Kreatif; Kesehatan Mental; Mahasiswa; Stres Akademis.
Pengaruh membaca qur’an dalam kecerdasan emosional pada remaja Nur Fita Afifatur Rosyidah, Fita; Uchy Khadijah, Khadijah
JOURNAL OF Mental Health Concerns Vol. 4 No. 1 (2025): April Edition 2025
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/mhc.v4i1.1022

Abstract

Background: Adolescence is a time of important development marked by physical, psychological, and social role changes expected by society that require the ability to respond emotionally proficiently. Emotional intelligence encompasses the ability to know, understand, and regulate one's own emotions, as well as the emotions of others. Purpose: To determine the impact or influence of reading the Qur'an on emotional intelligence in adolescents. Method: A quantitative approach with a causal research system and simple random sampling techniques. The sample consisted of 93 students aged 17 to 24 years. Data collected through questionnaires and then analyzed through the Chi-Square test with the help of SPSS statistical software data processing application version 22. Results: The results of the analysis revealed a statistically significant correlation between the frequency of reading the Qur'an and the ability to control daily emotions (p = 0.013 <0.05). Respondents who read the Qur'an more often showed a better level of emotional intelligence, especially regarding emotional control. Conclusion: This study supports the statement that reading the Qur'an can function as a mechanism that can improve adolescent emotional intelligence. This activity contributes to the cultivation of inner peace, reduces stress, and fosters empathy and self-awareness. Consequently, the influence of reading the Qur'an into adolescent routines is considered important for character development and mental health development. Keywords: Adolescent; Emotional Intelligence; Reading the Qur’an. Pendahuluan: Masa remaja merupakan masa terjadinya perkembangan penting yang ditandai dengan perubahan secara fisik, psikologis, dan peran sosial yang diharapkan oleh masyarakat yang memerlukan kemampuan dalam respons emosional yang mahir. Kecerdasan emosional mencangkum kemampuan untuk mengetahui, memahami, dan mengatur emosi diri sendiri, serta emosi orang lain. Tujuan: Untuk mengetahui dampak atau pengaruh membaca Qur’an dalam kecerdasan emosional pada remaja. Metode: Pendekatan kuantitatif dengan sistem penelitian kausal dan teknik pengambilan simple random samling. Sampel terdiri dari 93 mahasiswa berusia antara 17 hingga 24 tahun. Data yang dikumpulkan melalui penyebaran kuesioner dan kemudian dianalisis melalui uji Chi-Square dengan bantuan aplikasi olah data softwere SPSS statistic versi 22. Hasil: Hasil analisis mengungkapkan korelasi yang signifikan secara statistik antara frekuensi membaca Qur’an dan kemampuan mengontrol emosi sehari-hari (p = 0.013 <0.05). Responden yang lebih sering membaca Qur’an menunjukkan tingkat kecerdasan emosional yang lebih baik, terutama mengenai kontrol emosional. Simpulan: Penelitian ini mendukung pernyataan bahwa membaca Qur’an dapat berfungsi sebagai mekanisme yang dapat meningkatkan kecerdasan emosional remaja. Kegiatan ini berkontribusi pada penanaman kedamaian batin, mengurangi stres, dan menumbuhkan empati dan kesadaran diri. Akibatnya, pengaruh membaca Qur’an ke dalam rutinitas remaja dianggap penting untuk pengembangan karakter dan pembinaan kesehatan mental. Kata Kunci: Kecerdasan Emosional; Membaca Qur’an; Remaja.
Dampak pola asuh orang tua terhadap perkembangan emosional serta jiwa kepemimpinan (leadership) anak Warisca Dora Youlyvia; Khadijah, Uchy
JOURNAL OF Mental Health Concerns Vol. 4 No. 1 (2025): April Edition 2025
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/mhc.v4i1.1025

Abstract

Background: A child's development first begins in the family environment, which serves as the main foundation in shaping their character and personality. Every parent certainly has the same ideals and prayers, namely that their children can grow and develop optimally, achieving good character and cognitive development. To realize this good child development, parents need to implement parenting methods that are in accordance with the unique characteristics of each child. Purpose: To explain in depth and detail the relationship between parenting patterns and emotional development and leadership in early childhood to adolescence. Method: A systematic literature review was prepared based on the PRISMA 2020 guidelines (Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses). The initial stage began by formulating specific and targeted research questions using the PICO (Population, Intervention, Comparison, Outcome) framework, as a conceptual basis for determining the focus of the study. Furthermore, an article search was conducted in April 2025, with inclusion criteria including: articles published in the period 2019–2025, available in full text, and written in Indonesian or English. The search was conducted through five scientific databases, namely PubMed, Scopus, APA PsycNet, ERIC, and Google Scholar, which resulted in 1,310 articles. Results: The implications of this review provide important insights for parents, educators, mental health practitioners, and policy makers in designing interventions and programs that support optimal parenting practices for children's holistic development. Conclution: The way parents raise their children plays a very important role in character formation, influencing the development of feelings, and fostering leadership potential.   Keyword: Child Leadership; Emotional Development; Parenting Patterns; Social Competence. Pendahuluan: Perkembangan seorang anak pertama kali dimulai dalam lingkungan keluarga, yang berfungsi sebagai fondasi utama dalam membentuk karakter dan kepribadian mereka. Setiap orang tua tentu memiliki cita-cita dan do’a yang sama, yaitu agar anak-anak mereka dapat bertumbuh dan berkembang secara optimal, mencapai perkembangan karakter dan kognitif yang baik. Untuk mewujudkan perkembangan anak yang baik ini, orang tua perlu mengimplementasikan metode pola asuh yang sesuai dengan karakteristik unik yang dimiliki oleh masing-masing anak. Tujuan: Untuk memaparkan secara mendalam dan terperinci hubungan antara pola pengasuhan orang tua dan perkembangan emosional serta jiwa kepemimpinan pada anak usia dini hingga remaja. Metode: Tinjauan literatur sistematis yang disusun berdasarkan pedoman PRISMA 2020 (Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses). Tahap awal dimulai dengan merumuskan pertanyaan penelitian secara spesifik dan terarah menggunakan kerangka PICO (Population, Intervention, Comparison, Outcome), sebagai dasar konseptual dalam menentukan fokus kajian. Selanjutnya, dilakukan penelusuran artikel pada bulan April 2025, dengan kriteria inklusi meliputi: artikel yang diterbitkan dalam kurun waktu 2019–2025, tersedia dalam teks lengkap (full-text), serta ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. Penelusuran dilakukan melalui lima basis data ilmiah, yaitu PubMed, Scopus, APA PsycNet, ERIC, dan Google Scholar, yang menghasilkan 1.310 artikel. Hasil: Implikasi dari tinjauan ini memberikan sedikit banyak wawasan penting bagi orang tua, pendidik, praktisi kesehatan mental, dan pembuat kebijakan dalam merancang intervensi dan program yang mendukung praktik pengasuhan optimal untuk perkembangan holistik anak. Simpulan: Cara orang tua mengasuh anak memainkan peran yang sangat penting dalam pembentukan karakter, memengaruhi perkembangan perasaan, dan menumbuhkan potensi kepemimpinan. Kata Kunci: Jiwa Kepemimpinan Anak; Kompetensi social; Perkembangan Emosional; Pola Asuh Orang                       Tua.
Studi mendalam tentang dampak asuhan orang tua yang tidak tepat pada perkembangan kepribadian anak Asrori, Rohan; Uchy Khadijah
JOURNAL OF Mental Health Concerns Vol. 4 No. 2 (2025): July Edition 2025
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/mhc.v4i2.1030

Abstract

Background: The implementation of permissive, authoritarian, and low-responsive parenting patterns tends to encourage negative behavior in children, such as aggressiveness, lack of social awareness, low discipline, and a tendency to violate prevailing norms in the community. In addition, the dynamics of communication within the family, the influence of the external environment, and the psychological and emotional conditions of parents are also important factors that shape parenting patterns. Purpose: To analyze the influence of parenting patterns applied by parents on the formation of negative characters in children. Method: A qualitative approach with a descriptive method, data collection techniques were carried out through in-depth interviews, direct observation, and documentation studies of purposively selected informants. Results: The results of the study showed that permissive, authoritarian, and low-responsive parenting patterns from parents contributed to the emergence of negative characters in children, such as aggressiveness, low discipline, lack of social awareness, and a tendency to violate norms. Other factors that influence the formation of parenting patterns include the dynamics of communication within the family, the influence of the external environment, and the psychological and emotional conditions of parents. Conclusion: Balanced, caring, and consistent parenting is very important in forming a child's character that is positive, adaptive, and has noble morals from an early age. Keyword: Children's Behavior; Family Communication; Negative Character; Parenting Pattern; Qualitative                     Approach. Pendahuluan: Penerapan pola asuh yang permisif, otoriter, dan minim responsivitas cenderung mendorong munculnya perilaku negatif pada anak, seperti agresivitas, kurangnya kepedulian sosial, rendahnya kedisiplinan, serta kecenderungan untuk melanggar norma yang berlaku di lingkungan masyarakat. Selain itu, dinamika komunikasi dalam keluarga, pengaruh lingkungan eksternal, serta kondisi psikologis dan emosional orang tua turut menjadi faktor penting yang membentuk pola pengasuhan. Tujuan: Untuk menganalisis pengaruh pola asuh yang diterapkan oleh orang tua terhadap terbentuknya karakter negatif pada anak. Metode: Pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif, teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara secara mendalam, observasi langsung, serta studi dokumentasi terhadap informan yang dipilih secara purposive. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola asuh permisif, otoriter, dan minim responsivitas dari orang tua berkontribusi terhadap munculnya karakter negatif pada anak, seperti agresivitas, rendahnya kedisiplinan, kurangnya kepedulian sosial, serta kecenderungan melanggar norma. Faktor lain yang turut memengaruhi terbentuknya pola asuh meliputi dinamika komunikasi dalam keluarga, pengaruh lingkungan eksternal, dan kondisi psikologis serta emosional orang tua. Simpulan: Pola asuh yang seimbang, penuh perhatian, dan konsisten sangat penting dalam membentuk karakter anak yang positif, adaptif, dan berakhlak mulia sejak usia dini. Kata Kunci: Karakter Negatif; Komunikasi Keluarga; Pendekatan Kualitatif; Perilaku Anak; Pola Asuh.
Hubungan kecemasan dan kemandirian adl pada lansia hipertensi Holida, Siti Solihat; Amrulloh, Erik
JOURNAL OF Mental Health Concerns Vol. 4 No. 2 (2025): July Edition 2025
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/mhc.v4i2.1057

Abstract

Background: Anxiety is a psychological disorder in which individuals often experience recurring feelings of fear or worry, leading to loss of concentration and an inability to carry out daily activities effectively. As a result, elderly individuals may experience a decline in their level of independence in performing activities of daily living (ADL). Purpose: To determine the relationship between anxiety levels and the level of independence in ADL among elderly individuals with hypertension in Maruyung Village, Pacet District, Bandung Regency. Method: A quantitative study using a correlational design with a cross-sectional approach. The sample consisted of 65 respondents. Data were collected using a questionnaire and analyzed using the Spearman rank correlation test. Results: Nearly half of the respondents experienced minimal anxiety (30 respondents or 46.2%), while a small portion experienced severe anxiety (1 respondent or 1.5%). Regarding ADL independence, nearly half of the respondents were in the Independent category (29 respondents or 44.6%), and a small number were totally dependent (1 respondent or 1.5%). Conclusion: The Spearman rank test revealed a significant relationship between anxiety levels and ADL independence, with a p-value of 0.000 < α (0.05), indicating that the null hypothesis (H₀) was rejected. Therefore, it can be concluded that there is a very strong and statistically significant negative correlation between anxiety levels and ADL independence. This means that the higher the level of anxiety, the lower the level of independence among elderly individuals. Keywords: Activities of Daily Living; Anxiety; Elderly; Independence. Pendahuluan: Kecemasan (anxiety) merupakan suatu gangguan psikologis di mana individu yang mengalaminya sering kali merasakan ketakutan atau kekhawatiran yang berulang. Kondisi ini dapat menyebabkan hilangnya konsentrasi dan menghambat individu dalam menjalankan aktivitas sehari-hari secara optimal. Pada lansia, kecemasan dapat berdampak pada penurunan tingkat kemandirian dalam melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari (Activity of Daily Living/ADL). Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara tingkat kecemasan dengan tingkat kemandirian aktivitas kehidupan sehari-hari (ADL) pada lansia hipertensi di Desa Maruyung, Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung. Metode: Pendekatan kuantitatif dengan desain studi korelasional dan pendekatan cross-sectional. Sampel berjumlah 65 responden, dan instrumen yang digunakan adalah kuesioner. Data dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman rank. Hasil: Hampir setengah dari responden memiliki tingkat kecemasan dalam kategori kecemasan minimal, yaitu sebanyak 30 orang (46.2%), dan sebagian kecil mengalami kecemasan berat, yaitu 1 orang (1.5%). Sementara itu, tingkat kemandirian ADL menunjukkan bahwa hampir setengah dari responden berada dalam kategori mandiri, yaitu 29 orang (44.6%), dan sebagian kecil berada dalam kategori ketergantungan total, yaitu 1 orang (1.5%). Simpulan: Hasil uji Spearman rank menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara tingkat kecemasan dan tingkat kemandirian ADL dengan nilai p-value (0.000) < α (0.05), sehingga H₀ ditolak. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang sangat kuat antara tingkat kecemasan dengan tingkat kemandirian ADL, dengan arah korelasi negatif. Artinya, semakin tinggi tingkat kecemasan, maka semakin rendah tingkat kemandirian lansia. Kata Kunci: Aktivitas Kehidupan Sehari-Hari; Lansia; Tingkat Kecemasan; Tingkat Kemandirian.
Implementasi seft (spiritual emotional freedom technique) terhadap kecemasan pada ibu hamil trimester III Amoy Riska, Sindi; Yunitasari, Eva; Nurhayati, Nurhayati
JOURNAL OF Mental Health Concerns Vol. 4 No. 2 (2025): July Edition 2025
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/mhc.v4i2.1058

Abstract

Background: Anxiety is an adaptation mechanism that indicates internal or external changes that are potentially threatening. anxiety symptoms such as trembling, fear, and panic. Anxiety in pregnant women can trigger stimulation of uterine contractions. As a result of these conditions can increase blood pressure which triggers bleeding, preeclampsia and miscarriage. Purpose: To determine the implementation of Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT) on anxiety in third trimester pregnant women. Method: A descriptive design with a case study approach to describe the results of nursing care Implementation of SEFT (Spiritual Emotional Freedom Technique) on anxiety in third trimester pregnant women. Data were collected using questionnaires before and after the intervention. Results: This scientific paper aims The results of the implementation of SEFT show that there is a decrease in anxiety levels in both subjects, namely from the category of moderate anxiety to no anxiety. Conclusion: SEFT therapy can increase knowledge and be applied to control anxiety in third trimester pregnant women. Keyword: Anxiety; SEFT; Trimester III Pregnant Women.   Pendahuluan: Kecemasan merupakan mekanisme adaptasi yang menunjukkan perubahan internal atau eksternal yang berpotensi mengancam. Gejala kecemasan seperti gemetar, takut, dan panik. Kecemasan pada ibu hamil dapat memicu terjadinya rangsangan kontraksi rahim. Akibat dari  kondisi  tersebut  dapat  meningkatkan  tekanan  darah  yang memicu terjadinya pendarahan,  preeklamsi  dan  keguguran. Tujuan: Untuk mengetahui Implementasi Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT) terhadap kecemasan pada ibu hamil Trimester III. Metode: Desain deskriptif dengan pendekatan studi kasus untuk mendeskripsikan hasil asuhan keperawatan Implementasi SEFT (Spiritual Emotional Freedom Technique) terhadap kecemasan pada ibu hamil trimester III. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner sebelum dan sesudah intervensi. Hasil: Implementasi SEFT menunjukan bahwa ada penurunan tingkat kecemasan pada kedua subjek yaitu dari kategori kecemasan sedang menjadi tidak ada kecemasan. Simpulan: Terapi SEFT ini dapat meningkatkan pengetahuan dan mampu diaplikasikan untuk mengontrol rasa cemas pada ibu hamil trimester III . Kata Kunci: Kecemasan; Ibu Hamil Trimester III; SEFT.
Perbedaan penerapan teknik relaksasi nafas dalam dan terapi murottal al-quran terhadap tingkat kecemasan lansia Warni, Hernida; Sari , Nova Nurwinda
JOURNAL OF Mental Health Concerns Vol. 4 No. 2 (2025): July Edition 2025
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/mhc.v4i2.1071

Abstract

Background: Anxiety is an unpleasant feeling accompanied by nervous behavior or somatic complaints and rumination. The elderly are a group that is vulnerable to anxiety due to a decline in the body's system. One of the nonpharmacological therapies to reduce anxiety is with deep breathing relaxation techniques and Al-Quran murottal therapy. Purpose: To determine the differences in the application of deep breathing relaxation therapy and Al-Quran murottal therapy on the level of anxiety in the elderly. Method: A quantitative, quasy experiment research design with a two group pretest-posttest design approach. The population in the study were elderly people who experienced anxiety at UPTD PSLU Tresna Werdha Natar, namely 30 people with an intervention group of 15 people and a control group of 15 people. Results: A difference in the level of anxiety before and after the intervention in the group given deep breathing relaxation techniques with a p-value = 0.000, there was a difference in the level of anxiety before and after Al-Quran murottal therapy with a p-value = 0.000. The results of the independent t-test analysis obtained a p-value = 0.40. Conclusion: No significant difference in the average anxiety between the deep breathing relaxation therapy group and the Al-Quran murottal therapy group. Keyword: Al-Quran Murottal Therapy; Anxiety; Deep Breathing Relaxation Technique. Pendahuluan: Kecemasan merupakan kondisi perasaan yang tidak menyenangkan yang disertai dengan perilaku gugup maupun keluhan somatik dan perenungan. Lansia merupakan kelompok yang rentan mengalami kecemasan dikarenakan adanya penurunan pada sistem tubuh. Salah satu terapi non farmakologi untuk menurunkan kecemasan adalah dengan teknik relaksasi nafas dalam dan terapi murottal Al-Quran. Tujuan: Untuk mengetahui perbedaan penerapan terapi relaksasi nafas dalam dan terapi murottal Al-Quran terhadap tingkat kecemasan lansia. Jenis penelitian adalah kuantitatif, desain penelitian Quasy Eksperiment dengan pendekatan two group pretest-postest design. Populasi dalam penelitian adalah lansia yang mengalami kecemasan di UPTD PSLU Tresna Werdha Natar yaitu sebanyak 30 orang dengan kelompok intervensi sebanyak 15 orang dan kelompok kontrol sebanyak 15 orang. Hasil: Terdapat perbedaan tingkat kecemasan sebelum dan sesudah intervensi pada kelompok yang diberikan teknik relaksasi nafas dalam dengan p-value = 0.000, terdapat perbedaan tingkat kecemasan sebelum dan sesudah terapi murottal Al-Quran dengan p-value = 0.000. Hasil analisis Uji t independent didapatkan p-value = 0.40. Simpulan: Tidak ada perbedaan, rata-rata kecemasan antara kelompok terapi relaksasi nafas dalam dengan kelompok terapi murottal Al-Quran. Kata Kunci: Kecemasan; Teknik Relaksasi Nafas Dalam; Terapi Murottal Al-Quran.

Page 4 of 11 | Total Record : 104