cover
Contact Name
Safni Elivia
Contact Email
safni@iphorr.com
Phone
+6282282204653
Journal Mail Official
mail@iphorr.com
Editorial Address
Jl. Raden Imba Kusuma Ratu Gang Durian No.40, Sukadana Ham, Kota Bandar Lampung 52473
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
JOURNAL OF Mental Health Concerns
ISSN : 29645042     EISSN : 29645034     DOI : 10.56922
Core Subject : Health,
Jurnal penelitian dibidang kesehatan jiwa meliputi kegiatan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif pada semua tingkat usia baik secara individu, maupun kelompok rentan. Penelitian kesehatan jiwa susuai tren kekinian.
Articles 104 Documents
Pengaruh terapi musik alam untuk menurunkan anxiety pada fase quarter life crisis bagi mahasiswa ners Devita, Yeni; Juwita, Ratna; Nita, Yureya; Puswati, Desti; alfianur, alfianur; Oktaviani, Yoneta
JOURNAL OF Mental Health Concerns Vol. 4 No. 2 (2025): July Edition 2025
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/mhc.v4i2.1080

Abstract

Background: Individual responses to developmental tasks and demands vary. Some individuals feel ready to face change, while others experience confusion and anxiety. This phenomenon is known as a quarter life crisis which describes a condition of uncertainty, hopelessness, and confusion in determining the direction of life, which is often experienced by university students. Stress, anxiety and loss of direction can have a negative impact on physical and psychological well-being, particularly in dealing with academic and social demands. Previous research shows that anxiety that arises during this phase can be reduced through non-pharmacological therapies, one of which is through nature music therapy. Purpose: To determine whether there is an effect of natural music therapy to reduce anxiety in the quarter life crisis phase for ners professional students. Method: A quantitative research with a quasi-experimental design with a pre-test and post-test nonequivalent control group approach. The number of respondents 68 consisted of 34 intervention groups and 34 control groups. The research used quarter life crisis and SAI instruments. Results: Age characteristics more than half of the respondents were 22 years old and for gender more than half were female. For the results of the average anxiety level of the intervention group 47.24 to 36.56 and the control group 44.56 to 40.97 for the statistical test results obtained p value 0.001 <0.005 then Ha is accepted and H0 is rejected. Conclusion based on the research results is that there is an effect of natural music therapy to reduce anxiety in the quarter life crisis phase for Ners Profession students. Keywords: Anxiety; College Students; Nature Music therapy; Quarter Life Crisis. Pendahuluan: Respon individu terhadap tugas perkembangan dan tuntutan berbeda-beda. Sebagian individu merasa siap menghadapi perubahan, sementara sebagian lainnya mengalami kebingungan dan kecemasan. Fenomena ini dikenal dengan istilah quarter life crisis yang menggambarkan kondisi ketidakpastian, keputusasaan, dan kebingungan dalam menentukan arah hidup, yang sering dialami oleh mahasiswa. Stres, kecemasan, dan kehilangan arah dapat berdampak negatif pada kesejahteraan fisik dan psikologis, khususnya dalam menghadapi tuntutan akademik dan sosial. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa kecemasan yang muncul selama fase ini dapat diturunkan melalui terapi non-farmakologis, salah satunya melalui terapi musik alam. Tujuan: Untuk mengetahui apakah ada pengaruh terapi musik alam untuk menurunkan anxiety pada fase quarter life crisis bagi mahasiswa profesi ners. Metode: Jenis penelitian kuantitatif dengan desain quasi eksperimen dengan pendekatan pre-test and post-test nonequivalent control group. Jumlah responden 68 terdiri dari 34 kelompok intervensi dan 34 kelompok kontrol. Penelitian menggunakan instrumen quarter life crisis dan SAI. Hasil: Karakteristik usia lebih dari separuh responden berusia 22 tahun dan untuk jenis kelamin lebih dari separuh perempuan. Untuk hasil rata-rata tingkat anxiety kelompok intervensi 47.24 menjadi 36.56 dan kelompok kontrol 44.56 menjadi 40.97 untuk hasil uji statistik didapatkan nilai p value 0.001 < 0.005 maka Ha diterima dan H0 ditolak. Simpulan: Ada pengaruh terapi musik alam untuk menurunkan anxiety pada fase quarter life crisis bagi mahasiswa Profesi Ners. Kata Kunci: Anxiety; Mahasiswa; Quarter Life Crisis; Terapi Musik Alam
Hubungan sikap dengan kepatuhan diet diabetes melitus pada lansia di posyandu lansia Siagian, Martha; Ethyca Sari; Pradesty, Citra Nawang
JOURNAL OF Mental Health Concerns Vol. 4 No. 2 (2025): July Edition 2025
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/mhc.v4i2.1113

Abstract

Background: Attitude can be defined as a person's assessment (opinion) of a stimulus or object (in this case a health problem). Diabetes Mellitus or diabetes is a metabolic disorder that arises due to an increase and decrease in blood sugar levels from the normal value of random blood sugar levels >> 200mg / dl or fasting blood sugar levels >> 120 mg / dl, which occurs acutely or chronically. Diabetes can occur in anyone, but this condition is more common in the elderly. In the elderly, there are physical and biological changes so that the performance of each organ function decreases. Elderly compliance with the DM diet is how the elderly regulate their food which is known as 3J, namely the number of calories needed, the meal schedule that must be followed, and the types of food that must be considered. Purpose: To determine the relationship between attitudes and DM diet compliance in the elderly. Method: Cross Sectional research design. The sampling method used is Total Sampling. The sample taken was 40 respondents, namely Elderly people with Diabetes Mellitus at the Elderly Posyandu, Pagerwojo Village, RW 06 Buduran Sidoarjo, in the 4th week of October. The data for this study were taken using a questionnaire. After being tabulated, the existing data was analyzed using the Chi Square test with a significance level of 0.05, p value = 0.000 (<0.05) indicating a relationship between attitudes and DM diet compliance in the elderly. Results: It was found that 30 people (75%) had poor attitudes and diet compliance in the non-compliant category, so the suggestion for this research location is to hold regular DM diet counseling. Conclusion: The attitudes of DM sufferers are mostly in the poor category. The compliance of DM sufferers' diet is mostly in the non-compliant category. There is a relationship between attitudes and DM diet compliance in the elderly. Keywords: Attitude; Compliance; Diabetes Mellitus Diet; Elderly. Pendahuluan: Sikap bisa didefinisikan sebagai penilaian (pendapat) seseorang terhadap stimulus atau objek (dalam hal ini adalah masalah kesehatan). Diabetes Melitus atau penyakit kencing manis merupakan gangguan metabolisme yang timbul akibat peningkatan dan penurunan kadar gula darah dari nilai normal kadar gula darah sewaktu >> 200mg/dl atau kadar gula darah puasa >> 120 mg/dl, yang berlangsung secara akut maupun kronis. Diabetes dapat terjadi pada siapa saja, tetapi kondisi ini lebih sering dialami oleh lansia. Pada lansia mengalami perubahan fisik dan biologis sehingga kinerja fungsi setiap organ menurun. Kepatuhan lansia menjalankan diet DM adalah bagaimana lansia mengatur makanannya yang dikenal dengan 3J yaitu jumlah kalori yang dibutuhkan, jadwal makanan yang harus diikuti, dan jenis makanan yang harus diperhatikan. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan sikap dengan kepatuhan diet DM pada lansia. Metode: Desain penelitian Cross Sectional. Metode sampling yang digunakan adalah Total Sampling. Sampel yang diambil 40 responden yaitu Lansia penderita Diabetes Melitus di Posyandu Lansia Desa Pagerwojo RW 06 Buduran Sidoarjo, pada bulan oktober minggu ke 4. Data penelitian ini diambil menggunakan kuesioner. Setelah ditabulasi data yang ada dianalisis dengan menggunakan uji Chi Square dengan tingkat kemaknaan 0.05, p value = 0.000 ( < 0.05 ) menunjukan ada hubungan sikap dan kepatuhan diet DM pada lansia. Hasil: Didapatkan 30 orang (75%) memiliki sikap kurang dan kepatuhan diet kategori tidak patuh, sehingga saran bagi tempat penelitian ini sebaiknya diadakan penyuluhan diet DM secara berkala. Simpulan: Sikap penderita DM sebagian besar kategori kurang. Kepatuhan diet penderita DM  sebagian besar kategori tidak patuh. Terdapat hubungan antara sikap dengan kepatuhan diet DM pada lansia. Kata Kunci: Diet Diabetes Melitus; Kepatuhan; Lanjut Usia; Sikap.
Mindful parenting sebagai pendekatan untuk mengatasi work-family conflict pada ibu bekerja Dewi, Rini Liana; Riady, Muhammad Antos; Sari, Putri Puspita; Hanifah, Rulia
JOURNAL OF Mental Health Concerns Vol. 4 No. 2 (2025): July Edition 2025
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/mhc.v4i2.1126

Abstract

Background: Working mothers face challenges in juggling their dual roles as employees and primary caregivers at home, which often leads to work-family conflict. This conflict is exacerbated by feelings of guilt for not being able to fully accompany their children, as well as concerns about the quality of substitute care. Purpose: To examine the relationship between mindful parenting and work-family conflict among working mothers who leave their children in childcare, in order to determine the extent to which mindful parenting can contribute to reducing conflict between work and family demands. Method: The approach used in this study was quantitative with a correlational design involving working mothers who left their children in Aceh. The instruments used were the Mindful Parenting Questionnaire and the Work-Family Conflict Scale.Results: Pearson's correlation test showed no significant relationship between mindful parenting and work-family conflict, indicating that mindful parenting is not the only factor that influences the role conflict of working mothers.Conclusion: These findings open up opportunities to explore other factors that contribute to work-family conflict. Keyword: Mindful Parenting; Working Mother; Work-Family Conflict. Pendahuluan: Ibu bekerja menghadapi tantangan dalam menjalani peran ganda sebagai pekerja dan pengasuh utama anak di rumah yang kerap menimbulkan work-family conflict. Konflik ini diperburuk oleh perasaan bersalah karena tidak dapat mendampingi anak secara penuh, serta kekhawatiran terhadap kualitas pengasuhan pengganti. Tujuan: Untuk mengkaji hubungan antara mindful parenting dan work-family conflict pada ibu bekerja yang menitipkan anak, guna mengetahui sejauh mana kesadaran penuh dalam pengasuhan dapat berkontribusi dalam menurunkan konflik antara tuntutan pekerjaan dan keluarga. Metode: Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif dengan rancangan korelasional dengan partisipan ibu bekerja yang menitipkan anak di Aceh. Instrumen yang digunakan adalah Mindful Parenting Questionnaire dan Work-Family Conflict Scale. Hasil: Uji korelasi Pearson menunjukkan tidak terdapat hubungan signifikan antara mindful parenting dan work-family conflict yang mengindikasikan bahwa mindful parenting bukan satu-satunya factor yang memengaruhi konflik peran ibu bekerja.Simpulan: Temuan ini membuka peluang untuk menelusuri factor-faktor lain yang berkontribusi terhadap work-family conflict. Kata Kunci: Ibu Bekerja; Mindful Parenting; Work-Family Conflict.
Profil kesehatan mental mahasiswa psikologi ditinjau dari gender dan tendensi gangguan mental Aidina, Wenny; Riady, Muhammad Antos; Mirza, Mirza
JOURNAL OF Mental Health Concerns Vol. 4 No. 2 (2025): July Edition 2025
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/mhc.v4i2.1171

Abstract

Background: Psychology students are a group that is vulnerable to emotional and psychological stress, both due to academic burden and expectations of future professional roles. More frequent exposure to various mental health issues can contribute to students’ psychological problems. The constant influx of information can overwhelm students and make it difficult for them to cope. Purpose: To identify the mental health profile of psychology students in terms of gender and describe the tendencies of mental disorders that appear in each gender. Method: This comparative quantitative study involved 70 psychology students. Data collection was carried out using Woodworth's Questionnaire instrument. Data were analyzed using an Independent Samples T-Test to examine differences in scores based on gender, along with descriptive statistics. Results: The analysis results showed a significant difference in mental health scores between male and female students (p = 0.045), with women scoring higher. The most prominent tendency of mental disorders in women was tendency of schizophrenia (35.9%), followed by impulsivity, emotional expression, and obsession. Meanwhile, in men, the issues that emerge are impulsivity, emotional instability, and schizophrenic tendencies, although in much lower proportions. Conclusion: There is a statistically significant difference between the mental health scores of male and female students. Keywords: Gender; Mental Health; Psychology Students; Tendency of Mental Disorders.   Pendahuluan: Mahasiswa psikologi merupakan kelompok yang rawan mengalami tekanan emosional dan psikologis, baik karena beban akademik maupun ekspektasi terhadap peran profesional di masa depan. Paparan yang lebih sering pada beragam isu Kesehatan mental dapat berkontribusi pada masalah psikologis mahasiswa. Masuknya informasi yang terus-menerus dapat membuat mahasiswa kewalahan dan kesulitan mengatasinya. Tujuan: Untuk mengidentifikasi profil kesehatan mental mahasiswa psikologi ditinjau dari jenis kelamin serta mendeskripsikan kecenderungan gangguan mental yang muncul pada masing-masing gender. Metode: Penelitian kuantitatif komperatif ini melibatkan 70 mahasiswa psikologi. Pengumpulan data dilakukan menggunakan instrument Woodworth’s Quesionnaire. Data dianalisis menggunakan Independent Samples T-Test untuk melihat perbedaan skor berdasarkan gender dan analisis deksriptif. Hasil: Analisis menunjukkan perbedaan signifikan antara skor kesehatan mental mahasiswa laki-laki dan perempuan (p = 0.045), di mana perempuan menunjukkan skor yang lebih tinggi. Tendensi gangguan mental yang paling menonjol pada perempuan adalah tendensi schizophrenia (35.9%), diikuti oleh impulsivitas, ekspresi emosi, dan obsesi. Sementara pada laki-laki, isu yang muncul adalah impulsivitas, ketidakstabilan emosi, dan tendensi schizophrenia, meskipun dalam proporsi yang jauh lebih rendah. Simpulan: Terdapat perbedaan yang signifikan secara statistik antara skor kesehatan mental mahasiswa laki-laki dan perempuan. Kata Kunci: Gender; Kesehatan Mental; Mahasiswa Psikologi; Tendensi Gangguan Mental.
Asosiasi antara tingkat aktivitas fisik dan psychological distress pada remaja Mohammad Fikri; Rina Tri Agustini; Nur Rohmah; Annisa Nurrachmawati; Lies Permana; Agustin Putri Rahayu; Alma Feriyanti
JOURNAL OF Mental Health Concerns Vol. 4 No. 2 (2025): July Edition 2025
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/mhc.v4i2.1177

Abstract

Background: Adolescents is a vulnerable age group susceptible to mental health issues, particularly psychological distress, which includes symptoms of depression and anxiety. While physical activity is known to benefit mental health, its direct relationship with psychological distress in adolescents has shown inconsistent findings. Purpose: To analyze the relationship between physical activity levels and psychological distress in adolescents. Method: A cross-sectional design, involving 386 students from three high schools in East Kalimantan. Data were collected using questionnaires, adopting the Kessler Psychological distress Scale (K10) and the Global Physical Activity Questionnaire (GPAQ). Results: The majority of respondents (88.6%) were categorized as having high physical activity. Analysis revealed no significant association between physical activity levels and psychological distress (p = 0.802; OR = 1.141; 95% CI: 0.609–2.140). However, these results indicated a non-significant trend towards an increased risk of distress in the low physical activity group. Conclusion: No significant association was found between physical activity levels and psychological distress in adolescents. Nevertheless, a notable proportion of adolescents with low physical activity remains, warranting attention. Interventions to promote physical activity are still important. Keyword: Adolescents; Physical Activity; Psychological Distress. Pendahuluan: Remaja merupakan kelompok usia yang rentan terhadap gangguan kesehatan mental, terutama psychological distress, yang mencakup gejala depresi dan kecemasan. Aktivitas fisik diketahui memberikan manfaat terhadap kesehatan mental, namun hubungan langsungnya dengan psychological distress pada remaja masih belum konsisten. Tujuan: Untuk menganalisis hubungan antara tingkat aktivitas fisik dengan psychological distress pada remaja. Metode: Desain cross-sectional dengan melibatkan 386 siswa dari tiga SMA di Kalimantan Timur. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang mengadopsi Kessler Psychological distress Scale (K10) dan Global Physical Activity Questionnaire (GPAQ). Hasil: Sebagian besar responden (88.6%) tergolong memiliki aktivitas fisik tinggi. Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat aktivitas fisik dengan psychological distress (p = 0.802; OR = 1.141; CI 95%: 0.609–2.140). Namun, hasil ini menunjukkan adanya kecenderungan peningkatan risiko distress pada kelompok dengan aktivitas rendah, meskipun tidak signifikan secara statistik. Simpulan:Tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara tingkat aktivitas fisik dan psychological distress pada remaja. Meskipun demikian, masih terdapat proporsi remaja dengan aktivitas fisik rendah yang perlu menjadi perhatian. Intervensi peningkatan aktivitas fisik tetap penting untuk menunjang kesehatan mental remaja secara umum. Kata Kunci: Aktivitas Fisik; Psychological Distress; Remaja.
Relationship between psychosocial and consumption patterns among high school adolescents in the national capital city buffer area Rahayu, Agustin Putri; Rohmah, Nur; Nurrachmawati, Annisa; Permana, Lies; Agustini, Rina Tri; Fikri, Mohammad; Feriyanti, Alma
JOURNAL OF Mental Health Concerns Vol. 4 No. 2 (2025): July Edition 2025
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/mhc.v4i2.1181

Abstract

Background: Inappropriate consumption patterns among adolescents increase chronic disease risk later in life, potentially influenced by psychosocial factors. This study analyzed relationships between psychosocial factors and consumption patterns among high school students in the NCC buffer area. Purpose: To examine the relationship between psychosocial and consumption in high school adolescents in NCC buffer area Method: Using a cross-sectional design, 386 high school students were selected through proportional random sampling. Data collection employed the Kessler questionnaire for psychological distress, and questionnaires measuring family and peer support, family mental health influence, school support, and consumption patterns. Chi-square tests analyzed bivariate relationships with significance at p < 0.05. Results: Results showed no significant relationships between consumption patterns and psychological distress (p = 0.798), family and peer support (p = 0.887), family mental health influence (p = 0.951), or school support (p = 0.301). Conclusion: The study concluded that psychosocial factors do not significantly impact consumption patterns among high school adolescents in the NCC buffer area. Despite non-significant findings, this research provides important baseline data on adolescent consumption patterns in this strategic buffer area and suggests investigating other factors that may influence consumption behavior in this population.   Keyword: Adolescents; Consumption Patterns; Family Mental Health; Psychological Distres; Social Support.
Terapi kognitif perilaku (cbt) dalam mengelola emosi untuk meningkatkan keseimbangan mental pada pasien dengan gangguan bipolar: literature review Maulana, Indra; Hastuti, Widia; Platini, Hesti
JOURNAL OF Mental Health Concerns Vol. 4 No. 2 (2025): July Edition 2025
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/mhc.v4i2.1183

Abstract

Background: Bipolar disorder is characterized by extreme mood swings, which disrupt mental balance and quality of life of sufferers, thus requiring effective interventions for emotion management. Purpose: To evaluate the effectiveness of Cognitive Behavioral Therapy (CBT) in managing emotions to improve mental balance in patients with bipolar disorder, and to identify effective strategies and gaps in the literature. Method: A systematic literature review was conducted by analyzing empirical studies from academic databases, inclusion criteria such as publications in the last 10 years and a focus on CBT for bipolar disorder. Results: Through strategies such as cognitive restructuring, relaxation techniques, and coping skills training, is effective in reducing symptoms of mania and depression and improving emotion regulation, especially when therapy is carried out over the long term. Integration of meditation can enhance effectiveness, although patient compliance and integration with pharmacotherapy affect outcomes. CBT is superior to other psychosocial interventions in emotion management, but is less optimal for manic episodes and non-Western cultural contexts. Conclusion: CBT is a valuable approach to improving mental balance, but requires adjustment for specific symptoms and cultural adaptation, with further research to address these limitations.. Keywords: Bipolar Disorder; Cognitive Behavioral Therapy; Emotional Management.   Pendahuluan: Gangguan bipolar ditandai dengan fluktuasi suasana hati yang ekstrem, yang mengganggu keseimbangan mental dan kualitas hidup penderita, sehingga memerlukan intervensi yang efektif untuk pengelolaan emosi. Tujuan: Untuk mengevaluasi efektivitas Terapi Kognitif Perilaku (CBT) dalam mengelola emosi guna meningkatkan keseimbangan mental pada pasien dengan gangguan bipolar, serta mengidentifikasi strategi yang efektif dan celah dalam literatur. Metode: Kajian literatur sistematis dilakukan dengan menganalisis penelitian empiris dari basis data akademik, kriteria inklusi seperti publikasi dalam 10 tahun terakhir dan fokus pada CBT untuk gangguan bipolar. Hasil: Melalui strategi seperti restrukturisasi kognitif, teknik relaksasi, dan pelatihan keterampilan koping, efektif dalam mengurangi gejala mania dan depresi serta meningkatkan regulasi emosi, terutama bila terapi berlangsung dalam jangka panjang. Integrasi meditasi dapat memperkuat efektivitas, meskipun kepatuhan pasien dan integrasi dengan farmakoterapi memengaruhi hasil. CBT lebih unggul dibandingkan intervensi psikososial lain dalam pengelolaan emosi, tetapi kurang optimal untuk episode mania dan konteks budaya non-Barat. Simpulan: CBT merupakan pendekatan yang berharga untuk meningkatkan keseimbangan mental, namun memerlukan penyesuaian untuk gejala spesifik dan adaptasi budaya, dengan penelitian lanjutan untuk mengatasi keterbatasan ini. Kata Kunci: Gangguan Bipolar; Pengelolaan Emosi; Terapi Kognitif Perilaku.
Penerapan telehealth pada gangguan psikologis pasien perioperatif: a literature review Platini, Hesti; Arisunyoto, Wisnu; Maulana, Indra; Pebrianti, Sandra
JOURNAL OF Mental Health Concerns Vol. 4 No. 2 (2025): July Edition 2025
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/mhc.v4i2.1187

Abstract

Background: Patients undergoing surgery often experience stress and anxiety, which can increase complications and hinder recovery. Effective management of psychological factors is key to improving outcomes. Preoperative anxiety is inversely correlated with the amount of information patients receive, but easily accessible personalized support is limited. Purpose: To determine the existing evidence regarding the practice of telehealth, especially telenursing in perioperative patients. Methode: A literature review with a rapid review approach. The strategy in this literature review is with PCC which is used to develop guiding questions: Population (P): surgical patients; Concept (C): telehealth; Context (C): outcomes in the peri-operative period. The study search was conducted with 3 databases namely Pubmed, EBSCO, Proquest and Google Scholar Search Engine. Result: Result in this study literature search, 21 articles were found that matched the search. 5 articles were found that met the inclusion criteria. The telehealth interventions found were 4 interventions through telenursing that could significantly reduce stress, anxiety and depression in perioperative patients. Conclusion: Telehealth, especially telenursing, can reduce stress reactions, anxiety, and depression in perioperative patients and helping patients feel more prepared and less anxious. Keywords: Psychological Disorder; Perioperative; Telehealth; Telenursing.   Pendahuluan: Pasien yang menjalani pembedahan sering mengalami stres dan kecemasan, yang dapat meningkatkan komplikasi dan menghambat pemulihan. Manajemen faktor psikologis yang efektif adalah kunci untuk meningkatkan hasil. Kecemasan sebelum operasi berkorelasi terbalik dengan jumlah informasi yang diterima pasien, tetapi dukungan pribadi yang mudah diakses masih terbatas. Tujuan: Untuk mengetahui bukti yang ada mengenai praktik telehealth, khususnya telenursing pada pasien perioperatif. Metode: Tinjauan literatur dengan pendekatan kajian cepat. Strategi dalam tinjauan literatur ini adalah dengan PCC yang digunakan untuk mengembangkan pertanyaan-pertanyaan pemandu: Populasi (P): pasien bedah; Konsep (C): telehealth; Konteks (C): hasil pada periode perioperatif. Pencarian studi dilakukan dengan 3 database yaitu Pubmed, EBSCO, Proquest dan Mesin Pencari Google Scholar. Hasil: Hasil dari pencarian literatur penelitian ini, ditemukan 21 artikel yang sesuai dengan pencarian. Ditemukan 5 artikel yang memenuhi kriteria inklusi. Intervensi telehealth yang ditemukan sebanyak 4 intervensi melalui telenursing yang secara signifikan dapat menurunkan stres, kecemasan dan depresi pada pasien perioperatif. Simpulan: Telehealth khususnya telenursing dapat menurunkan reaksi stress, kecemasan, dan depresi pada pasien perioperatif. Sehingga membantu pasien merasa lebih siap dan tidak terlalu cemas. Kata Kunci: Gangguan Psikologis; Perioperatif; Telehealth; Telenursing.
Gambaran kondisi kesehatan mental mahasiswa Muh. Amri Arfandi; Rifka Anita Rahman; Regina Lenik Gah; Nur Asma; Ahnaf Zaky Mahendra; Adella Nadhif Rosandini
JOURNAL OF Mental Health Concerns Vol. 4 No. 2 (2025): July Edition 2025
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/mhc.v4i2.1194

Abstract

vulnerable to mental health problems. Academic, social, and financial pressures can lead to depression, anxiety, and stress, negatively affecting their well-being and academic achievement. Purpose: To find out the mental condition of students. Method: A descriptive quantitative study used a cross-sectional design. A total of 275 students from 13 universities in Samarinda participated. Data were collected online using the DASS-21 questionnaire and analyzed univariately. Results: Most respondents were in the normal range for depression (67.3%) and anxiety (61.5%), but over half experienced stress (58.9%). Severe depression was found in 9.8%, severe anxiety in 13.8%, and severe stress in 16.7%. Female students tended to report higher levels of depression, anxiety, and stress compared to males. Students from private universities had higher anxiety and stress levels than those from public universities. Third- and fourth-year students reported higher stress levels than first-year students. Conclusion: Mental health problems among students are relatively high, especially stress, with differences observed based on gender, type of university, and year of study. Higher education institutions should provide psychological support services and implement promotive and preventive programs to improve student mental well-being. Keywords: Anxiety; College Students; Depression; Mental Disorders; Stress.   Pendahuluan: Mahasiswa berada pada masa transisi remaja akhir menuju dewasa awal, yang membuat mereka rentan terhadap gangguan kesehatan mental. Tekanan akademik, sosial, dan ekonomi dapat memicu gangguan seperti depresi, kecemasan, dan stres, yang berdampak negatif pada kesejahteraan dan prestasi akademik. Tujuan: Untuk mengetahui gambaran kondisi mental mahasiswa. Metode: Deskriptif kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sebanyak 275 mahasiswa dari 13 perguruan tinggi di Kota Samarinda menjadi responden. Data dikumpulkan secara daring menggunakan kuesioner DASS-21 dan dianalisis secara univariat. Hasil: Mayoritas responden berada dalam kategori normal untuk depresi (67.3%) dan kecemasan (61.5%), namun lebih dari separuh mengalami stres (58.9%). Depresi berat dialami oleh 9.8%, kecemasan berat 13.8%, dan stres berat 16.7%. Berdasarkan jenis kelamin, mahasiswa perempuan cenderung memiliki proporsi depresi, kecemasan, dan stres lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Mahasiswa perguruan tinggi swasta menunjukkan tingkat kecemasan dan stres lebih tinggi dibandingkan mahasiswa negeri. Sementara itu, mahasiswa pada masa studi tahun ketiga dan keempat cenderung mengalami stres yang lebih tinggi dibandingkan tahun pertama. Simpulan: Gangguan kesehatan mental cukup tinggi pada mahasiswa, terutama stres, dengan perbedaan yang tampak berdasarkan jenis kelamin, jenis perguruan tinggi, dan masa studi. Institusi pendidikan tinggi perlu menyediakan layanan dukungan psikologis serta program promotif dan preventif untuk meningkatkan kesejahteraan mental mahasiswa. Kata Kunci: Depresi; Gangguan Mental; Mahasiswa; Kecemasan; Stres.
Efektivitas konseling kelompok dalam meningkatkan kesehatan mental mahasiswa tahun pertama Fauzi, Rezki; Aidina, Wenny
JOURNAL OF Mental Health Concerns Vol. 4 No. 2 (2025): July Edition 2025
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/mhc.v4i2.1204

Abstract

Background: First-year college students are in a crucial transition from adolescence to early adulthood. This transition encompasses not only academic adjustments but also social and emotional adjustments. In the university environment, students face various demands such as a more complex study load, independent time management, pressure to achieve, and the need to build new social networks. These conditions can cause psychological stress that can lead to mental health disorders. Purpose: To examine the effectiveness of group counseling in improving the mental health of first-year students Method: A one-group pretest-posttest approach. A total of 70 students completed the WWQ questionnaire at the pretest stage, and five students with low scores were selected to participate in nine sessions of group counseling (each lasting 90 minutes). Results: A decrease in WWQ scores among all participants, with three of the five subjects shifting from the 'at risk' category to the 'normal' category. Conclusion: Group counseling is effective in enhancing the psychological well-being of first-year students Keywords: Group Counseling; Mental Health; Students.   Pendahuluan: Mahasiswa tahun pertama berada dalam masa transisi yang krusial dari kehidupan remaja menuju kedewasaan awal. Transisi ini tidak hanya mencakup penyesuaian akademik, tetapi juga penyesuaian sosial dan emosional. Di lingkungan universitas, mahasiswa dihadapkan pada berbagai tuntutan seperti beban studi yang lebih kompleks, pengelolaan waktu secara mandiri, tekanan untuk berprestasi, serta kebutuhan untuk membangun jejaring sosial baru. Kondisi ini dapat menimbulkan tekanan psikologis yang berujung pada munculnya gangguan kesehatan mental. Tujuan: Untuk menguji efektivitas konseling kelompok dalam meningkatkan kesehatan mental mahasiswa tahun pertama. Metode: Pendekatan one-group pretest-posttest. Sebanyak 70 mahasiswa mengisi kuesioner WWQ pada tahap awal (pretest), dan lima mahasiswa dengan skor rendah dipilih mengikuti intervensi konseling kelompok selama sembilan sesi (masing-masing 90 menit). Hasil: Adanya penurunan skor WWQ pada semua RESPONDEN, dan tiga dari lima subjek berpindah dari kategori 'kecenderungan gangguan' ke 'normal'. Simpulan: Konseling kelompok efektif dalam meningkatkan kesejahteraan psikologis mahasiswa tahun pertama. Kata Kunci: Kesehatan Mental; Konseling Kelompok; Mahasiswa Tahun Pertama.

Page 5 of 11 | Total Record : 104