cover
Contact Name
Kurniawan
Contact Email
admin@iaisragen.org
Phone
+628112807435
Journal Mail Official
admin@iaisragen.org
Editorial Address
Apotek Nayla, Jl. Pungkruk-Gabugan km 3 Taraman, Kec Sidoarjo, Kab. Sragen, Provinsi Jawa Tengah
Location
Kab. sragen,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Global Farmasi
ISSN : -     EISSN : 29874742     DOI : https://doi.org/10.21111/jigf
Core Subject : Health,
Jurnal Ilmiah Global Farmasi (JIGF) is a journal managed by the Indonesian Pharmacist Association Sragen Indonesia. This journal is designed as a place of dissemination original article and/or article review. This journal publishes research on a detailed variety of topics in pharmacy including pharmaceutical science and technology as well as biomedical science, clinical pharmacy and community pharmacy. As a forum for ideas and information discussions between researchers, academics, and practitioners, this journal is expected to be able to support and initiate the latest studies in pharmacy. The research results reported in this journal will hopefully contribute to the development of pharmaceutical science as well as health science. This journal has been established since 2023 as Jurnal Ilmiah Global Farmasi.
Articles 40 Documents
Penetapan Kadar Senyawa Flavonoid Ekstrak Etanol 96%, Metanol 96%, Etil Asetat 96% Rimpang Lengkuas Merah (Alpinia purpurata K.Schum) Dengan Spektrofotometri Uv-Vis Assolikhatul Mubarokah; Kurniawan; Nadia Mira Kusumaningtyas
Jurnal Ilmiah Global Farmasi (JIGF) Vol. 1 No. 1 (2023): JIGF - Mei
Publisher : PC IAI Sragen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/jigf.v1i1.1

Abstract

Indonesia merupakan negara yang terletak di daerah tropis dengan keanekaragaman hayati. Sehingga memiliki banyak potensi dalam mengembangkan produk obat herbal yang berkualitas baik seperti dengan produk obat modern. Salah satu tanaman yang dapat dimanfaatkan menjadi tanaman obat adalah laos atau lengkuas (Alpinia purpurata K.Schum) sebagai obat antijamur, antigatal, antiinflamasi, antialergi, dan antioksidan. Senyawa metabolit sekunder yang bertanggung jawab sebagai efek tersebut yaitu flavonoid.Efek antioksidan dapat disebabkan karena adanya senyawa radikal bebas melalui atom hidrogen dari gugus hidroksil pada flavonoid Efek antioksidan dapat disebabkan karena adanya senyawa radikal bebas melalui atom hidrogen dari gugus hidroksil pada flavonoid Efek antioksidan dapat disebabkan karena adanya senyawa radikal bebas melalui atom hidrogen dari gugus hidroksil pada flavonoid Tujuan penelitian ini untuk mengetahu kadar flavonoid eksrak rimpang lengkuas merah dari 3 jenis pelarut (etanol 96%, metanol 96%, dan etil asetat 96%) dengan metode spektrofotometri UV-Vis. Hasil nilai absorbansi pada kurva dihitung persamaan regresi linier kurva baku yaitu y = ax + b. pada kurva standar kuersetin dengan menghitung persamaan regresi linier kurva baku yaitu y = ax + b.Rata-rata kadar flavonoid ekstrak rimpang lengkuas merah sebesar 45,662 mgQE/g ekstrak etanol 96%, 66,476 mgQE/g ekstrak metanol 96%, dan 5,52 mgQE/g ekstrak etil asetat 96%. Perbedaan Janis pelarut menunjukkan hasil kadar tertinggi diperoleh pada ekstrak metanol 96%.
Perbandingan Kadar Total Flavonoid Metode Infusa Dan Rendaman Buah Kurma Ajwa (Phoenix Dactylifera L.) Menggunakan Spektrofotometri Uv-Vis Aural Miftahul Hasanah; K Kurniawan; Amal Fadholah
Jurnal Ilmiah Global Farmasi (JIGF) Vol. 1 No. 1 (2023): JIGF - Mei
Publisher : PC IAI Sragen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/jigf.v1i1.2

Abstract

Flavonoid merupakan senyawa metabolit sekunder dari polifenol, yang ditemukan secara luas pada tanaman serta makanan dan juga memiliki berbagai efek bioaktif termasuk anti-inflamasi anti virus, kardioprotektif, anti-diabetes, anti penuaan, anti kanker dan antioksidan. Salah satu tanaman yang memiliki kandungan flavonoid adalah buah kurma (Phoenix dactylifera L.). Kandungan kadar total flavonoid kurma ajwa (Phoenix dactylifera L.) diketahui dengan menggunakan metode infusa dan rendaman. Infusa dan rendaman kurma ajwa dilakukan dengan menimbang sampel buah kurma sebanyak 50 gram yang dipisahkan dengan bijinya, lalu ditambahkan aquades sebanyak 200 ml hingga kurma ajwa terendam seluruhnya, pada infusa dipanaskan dalam penangas air selama 15 menit, dihitung ketika suhu dalam panci telah mencapai 90°C dan rendaman didiamkan selama 24 jam. Adanya perbandingan kadar total flavonoid metode infusa dan rendaman buah kurma ajwa (Phoenix dactylifera L.) diketahui dengan analisis kualitatif dengan metode Wilstater dan analisis kuantitatif spektrofotometri Uv-Vis. Perbedaan metode yang digunakan menghasilkan kadar flavonoid yang berbeda. Kadar senyawa flavonoid metode rendaman lebih tinggi (0.1564 % dibandingkan dengan metode infusa (0.0628 %) sesuai dengan hasil uji SPSS dengan nilai sgnifikan < 0.05. Kata kunci: Kadar total flavonoid, infusa ajwa, rendaman ajwa, spektrofotometri Uv-Visible.
Uji Aktivitas Antibakteri Kombinasi Ekstrak Buah Labu Air (Lagenaria Siceraria (Molina) Standl.) Dan Madu Multiflora Terhadap Salmonella Typhi Secara In Vitro Desta Astarina Saputri Toasa; K Kurniawan; Solikah Ana Estikomah
Jurnal Ilmiah Global Farmasi (JIGF) Vol. 1 No. 1 (2023): JIGF - Mei
Publisher : PC IAI Sragen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/jigf.v1i1.3

Abstract

Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui senyawa metabolit sekunder yang terkandung dalam ekstrak buah labu air (Lagenaria siceraria (Molina) Standl.) dan madu multiflora, serta aktivitas kombinasi keduanya dalam menghambat pertumbuhan bakteri Salmonella typhi secara in vitro. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorium dengan 7 kelompok perlakuan yang terdiri dari 5 kelompok kombinasi ekstrak buah air dan madu multiflora yaitu konsentrasi 100%:0%, 75%:25%, 50%:50%, 25%:75%, 0%:100% v/v dan 2 kelompok kontrol positif dan negatif. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 kali pengulangan. Hasil: Hasil identifikasi senyawa menunjukkan bahwa ekstrak buah labu air mengandung saponin dan polifenol. Sedangkan madu multiflora tidak mengandung satupun senyawa metabolit sekunder baik alkaloid, flavonoid, saponin, steroid, dan polifenol. Hasil uji antibakteri dengan metode difusi cakram menunjukkan bahwa semua konsentrasi kombinasi eksrak buah labu air dan madu multiflora memiliki aktivitas dalam menghambat pertumbuhan Salmonella typhi. Kesimpulan: Konsentrasi teraktif dari kombinasi ekstrak buah labu air dan madu multiflora dalam menghambat pertumbuhan Salmonella typhi adalah konsentrasi 0%:100% v/v dengan diamter zona hambat sebesar 20.13 mm.
Uji Perbandingan Aktifitas Antioksidan Ekstrak Daun Kenikir (Cosmos Caudatus Kunth) Dan Daun Leunca (Solanum Ningrum L) Dengan Metode Dpph (2,2-Difenil-1-Pikrilhidrazil) Ivo Silvani; K Kurniawan; Indah Tri Lestari
Jurnal Ilmiah Global Farmasi (JIGF) Vol. 1 No. 1 (2023): JIGF - Mei
Publisher : PC IAI Sragen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/jigf.v1i1.4

Abstract

Kenikir dan leunca seringkali digunakan oleh masyarakat Indonesia sebagai penikmat makanan atau yang biasa disebut dengan lalapan. Kenikir (Cosmos caudatus Kunth) dan Leunca (Solanum ningrum L) merupakan salah satu tanaman yang berpotensi sebagai antioksidan. Antioksidan merupakan suatu molekul yang mampu menetralkan efek radikal bebas dalam penstabilan molekul yang berbahaya, dengan cara menerima dan juga mendonasikan elektron untuk mengeliminasi molekul dalam kondisi yang tidak berpasangan. Radikal bebas sering didapatkan dari lingkungan, seperti asap rokok, obat, makanan dalam kemasan, bahan adiktif, dan yang lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan dari ekstrak daun kenikir dan daun leunca dengan metode DPPH. Metode yang digunakan dalam pengujian kali ini adalah dengan menggunakan skrining fitokimia dan uji antioksidan dengan DPPH, DPPH merupakan radikal bebas yang stabil. Parameter yang digunakan dalam mengetahui aktivitas antioksidan adalah IC50. Hasil yang didapatkan pada penelitian ini menunjukkan bahwa estrak daun kenikir dan daun leunca memiliki aktivitas antioksidan. Aktivitas antioksidan yang tinggi terdapat pada daun leunca dengan nilai IC50 sebesar 91,43 ppm, dan pada daun kenikir menunjukkan aktivitas antioksidan yang lemah dengan nilai IC50 sebesar 706,49 ppm. Dapat disimpulkan bahwa ekstrak daun leunca memiliki aktivitas antioksidan lebih tinggi dari pada ekstrak daun kenikir.
Analisis Kadar Saponin Ekstrak Metanol Daun Sirih Merah (Piper Crocatum) Lia Farchati; Kurniawan; Indah Tri Lestari
Jurnal Ilmiah Global Farmasi (JIGF) Vol. 1 No. 1 (2023): JIGF - Mei
Publisher : PC IAI Sragen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/jigf.v1i1.5

Abstract

Tanaman sirih merah merupakan salah satu tanaman obat potensial yang diketahui secara empiris memiliki khasiat untuk menyembuhkan berbagai jenis penyakit. Dari beberapa hasil penelitian ilmiah menyatakan bahwa sirih memiliki kandungan yang berkhasiat dan berjuta manfaat bagi kesehatan. Salah satu senyawa yang bermanfaat pada sirih merah adalah saponin. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tipe saponin yang ada pada ekstrak metanol daun sirih merah dan mengetahui kadar saponin dalam pelarut metanol ekstrak daun sirih merah. Tehnik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisa penelitian secara kualitatif dengan membandingkan uji buih, uji warna dan uji kromatografi lapis tipis. Sedangkan analisa penelitian secara kuantitatif, pengukuran kadar saponin dilakukan dengan gravimetri. Dari hasil penelitian diperoleh kadar saponin ekstrak metanol daun sirih merah sebesar 2.2978 %.
Gambaran Pengetahuan dan Personal Hygiene Santriwati Terhadap Penyakit Skabies di Pondok Modern Darussalam Gontor Putri Kampus 2 balqis
Jurnal Ilmiah Global Farmasi (JIGF) Vol. 1 No. 2 (2023): JIGF - September
Publisher : PC IAI Sragen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/jigf.v1i2.16

Abstract

Skabies meruoakan penyakit kulit yang ditimbulkan oleh tungau Sarcoptes scabiei varian hominis. Skabies ini biasanya menyerang orang-orang yang hidup dalam kelompok-kelompok seperti di desa, rumah, penjara, asrama, dan panti asuhan yang memiliki layanan lingkungan yang buruk. Penyakit skabies ini mudah menular dari hewan ke manusia ataupun sebaliknya.dan juga manusia ke manusia. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan pengetahuan dan personal hygiene santriwati terhadap penyakit skabies di Pondok Modern Darussalam Gontor Putri Kampus 2 Mantingan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif retrospektif dengan desain sampel jenuh. Sampel ini diambil sebanyak 37 santriwati dengan menggunakan teknik nonprobability sampling (Skala Likert). Hasil pengetahuan berdasarkan definisi dan gejala skabies dengan persentase 59,45%, berdasarkan penyebab skabies dengan persentase 62,62%, berdasarkan pencegahan skabies dengan persentase 51,35%, berdasarkan pengobatan skabies dengan persentase 48,64%. Personal hygiene berdasarkan kebersihan kulit dengan persentase 51,35%, berdasarkan kebersihan badan dengan persentase 62,16%, berdasarkan kebersihan kuku dan tangan dengan persentase 43,24%, berdasarkan kebersihan handuk dengan persentase 64,86%, berdasarkan kebersihan genital dengan perentase 81,08%. Kesimpulan dari penelitian ini adalah sebagian besar pengetahuan santriwati termasuk dalam kategori baik dan Personal hygiene santriwati sebagian besar termasuk dalam kategori baik.
IDENTIFIKASI SAKARIN DALAM SEDIAAN JAMU PELANCAR HAID YANG BEREDAR DI PASAR KOTA KLATEN Dhiyan
Jurnal Ilmiah Global Farmasi (JIGF) Vol. 1 No. 2 (2023): JIGF - September
Publisher : PC IAI Sragen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/jigf.v1i2.17

Abstract

Sakarin merupakan salah satu bahan kimia sintetik yang tergolong bahan tambahan makanan atau minuman. Jamu pelancar haid sering kali dikonsumsi oleh para wanita saat sedang menstruasi, dan akan menjadi buruk jika jamu tersebut mengandung sakarin. Salah satu variasi jamu pelancar haid yang sering dikonsumsi adalah kunyit asam. Kandungan sakarin yang rutin dikonsumsi dapat menyebabkan seseorang mengalami gangguan fungsi metabolisme. Penelitian ini bertujuan untuk melihat karakteristik dan mengetahui kadar sakarin pada sediaan herbal pemicu menstruasi yang beredar di Pasar Kota Klaten. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif eksperimen. Penelitian ini menggunakan metode uji warna, KLT, dan Spektroskopi FTIR. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 10 sampel obat herbal pelancar haid yang dianalisis dengan Uji Besi (III) Klorida dan Uji Absorbinol tidak ditemukan adanya sakarin. Pada Uji Kromatografi Lapis Tipis (KLT) tidak ditemukan noda atau Rf yang sama atau hampir mendekati Rf standar pembanding pemanis buatan sakarin. Dari hasil analisa dapat disimpulkan bahwa dari 10 sampel jamu pelancar haid yang diperiksa negatif mengandung pemanis buatan sakarin
STUDI PENGARUH KETINGGIAN WILAYAH TERHADAP KADAR SAPONIN PADA LABU AIR (Lagenaria siceraria (Molina) Standl) DAERAH PACET DAN PURI, MOJOKERTO JAWA TIMUR Kurniawan; R, Ramadhanty; K, Nadia Mira
Jurnal Ilmiah Global Farmasi (JIGF) Vol. 1 No. 2 (2023): JIGF - September
Publisher : PC IAI Sragen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/jigf.v1i2.18

Abstract

Salah satu tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai pengobatan tradisional adalah labu air. Buah labu air (Lagenaria siceraria (Molina) Standl) mengandung saponin yang digunakan sebagai antimikroba. saponin di dalam bidang kesehatan digunakan sebagai bahan baku untuk sintesis hormon steroid. Kadar senyawa aktif yang terkandung pada tanaman obat selain dipengaruhi oleh faktor genetik juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tipe saponin yang ada pada ekstrak labu air dengan metode sokletasi. Labu yang digunakan berasal dari daerah yang memiliki ketinggian yang berbeda yakni Pacet dengan tinggi 700 mdpl dan Puri dengan tinggi 50-100 mdpl. Dilakukan pengujian untuk menghitung kadar saponin pada ekstrak labu air dan dilakukan perhitungan serta perbandingan untuk mengetahui adanya perbedaan kadar saponin pada ekstrak labu air di daerah Pacet dan Puri dengan Metode Gravimetri. Gravimetri merupakan penetapan kuantitatif atau jumlah sampel melalui perhitungan berat zat. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa labu air mengandung saponin triterpenoid. Ditandai dengan pembentukan lingkaran cokelat pada uji Liebermann-Burchard. Hasil dari randemen ekstrak labu air di Pacet 20,05% dan Puri 22,10%. Ada perbedaan jumlah kadar saponin dari labu air, yaitu daerah Pacet sebesar 10,37% dan daerah Puri 14,61%, perbedaan tersebut dapat disebabkan oleh faktor lingkungan seperti ketinggian pada dimana sampel diambil.
PENENTUAN KADAR FLAVONOID TOTAL DAN UJI ANTIOKSIDAN EKSTRAK DAN FRAKSI N-HEKSANA-ETIL ASETAT-AIR KULIT DELIMA PUTIH (Punica Granatum L.) MENGGUNAKAN METODE FRAP Eny
Jurnal Ilmiah Global Farmasi (JIGF) Vol. 1 No. 2 (2023): JIGF - September
Publisher : PC IAI Sragen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/jigf.v1i2.19

Abstract

Dalam tubuh terdapat banyak sekali radikal bebas yang diperlukan untuk kesehatan dalam jumlah tertentu radikal bebas bersifat merusak dan berbahaya agar tidak kelebihan radikal bebas tubuh memerlukan antioksidan sebagai pelindung tubuh maka dalam penelitian ini akan dilakukan uji kadar flavonoid total dan uji aktivitas antioksidan ekstrak etanol dan fraksi n-heksana, efraksi etil asetat, dan fraksi air menggunakan metode FRAP dengan tujuan mengetahui senyawa metabolit sekunder yang terkandung dalam ekstrak etanol kulit buah delima putih (Punica granatum L.) dan penentuan kadar flavonoid total pada kulit buah delima putih (Puunica granatum L.) dan mengetahui nilai aktivitas antioksidan pada ekstrak etanol kulit buah delima putih (Punica granatum L.) dengan menggunakan metode FRAP. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian eksperimental. Tahap penelitian dimulai dari pengambilan sampel, determinasi tumbuhan, pembuatan simplisia, pembuatan ekstrak, skrining fitokimia, pembuatan larutan uji, penetapan kadar flavonoid, pengujian aktivitas antioksidan, dan analisis data. Senyawa metabolit sekunder pada ekstrak etanol kulit buah delima putih (Punica granatum L.) meliputi alkaloid, flavonoid, tanin, terpenoid dan saponin. Kadar total flavonoid ekstrak kulit buah delima putih (Punica granatum L) yang dilihat menggunakan spektrofotometri UV-Vis yaitu 55,3 mg QE/g. Ekstrak etanol, fraksi n-heksan, fraksi etil asetat, dan fraksi air ekstrak kulit buah delima putih (Punica granatum L) memiliki aktivitas antioksidan dengan nilai berturut-turut 2.501 mgQE/g sampel, 3.125 mgQE/g sampel, 3.055 mgQE/g sampel, 30.516 mgQE/g sampel, jika lihat menggunakan metode FRAP.
UJI ANTIOKSIDAN EKSTRAK DAN FORMULASI SEDIAAN KRIM TABIR SURYA KULIT DELIMA PUTIH (Punica granatum L.) DENGAN METODE DPPH DAN PENENTUAN NILAI SPF Vanny
Jurnal Ilmiah Global Farmasi (JIGF) Vol. 1 No. 2 (2023): JIGF - September
Publisher : PC IAI Sragen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/jigf.v1i2.20

Abstract

White Pomegranate (Punica granatum L.) is a plant that is efficacious as an antioxidant which functions as a natural antioxidant to prevent free radicals from harming the body because it contains flavonoid compounds including flavones and flavonols which are known as natural antioxidants. This study aims to determine the IC50 value of extracts and formulations of white pomegranate skin sunscreen cream (Punica granatum L.) along with its SPF value. The extract was prepared by maceration using 96% ethanol. Testing the antioxidant activity of white pomegranate peel extract (Punica granatum L.) using UV-Vis spectrophotometry with the DPPH method (1,1-Diphenyl-2-Picrylhyrdazyl), the test results showed that white pomegranate peel extract (Punica granatum L.) had an IC50 value of 92,76 ppm in the strong category. Sunscreen cream was made into four formulas, namely F0, FI, FII and FIII with extract concentrations of 5%, 10% and 15% respectively. The physical evaluation was tested, including organoleptic test, homogeneity test, cream type test, spreadability test, adhesion test, pH test, viscosity test and organoleptic stability test which showed that the four formulas met the requirements of the physical evaluation test for sunscreen cream preparations. The four sunscreen cream formulas, an antioxidant activity test was carried out using the DPPH method (1,1-Diphenyl-2-Picrylhyrdazyl) at F0, FI, FII and FIII and obtained IC50 values ​​of 146,9 ppm (weak), 98,22 ppm (strong), 81,37 ppm (strong) and 76,88 ppm (strong). Determination of the SPF (Sun Protection Factor) value was carried out using the mansyur equation method using UV-Vis spectrophotometry at a wavelength of 290-320 nm. The results obtained for the SPF values ​​in the four formulas F0, FI, FII and FIII were 6,02 (extra), 14,39 (maximum), 22,98 (ultra) and 27,60 (ultra).

Page 1 of 4 | Total Record : 40