cover
Contact Name
Nugroho Heri Cahyono
Contact Email
jurnalcilpa@ustjogja.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalcilpa@ustjogja.ac.id
Editorial Address
Program Studi Pendidikan Seni Rupa, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Kompleks Pendopo Agung Taman Siswa Jl. Tamansiswa No.25, Wirogunan, Kec. Mergangsan, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta Indonesia 55151
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Cilpa : Jurnal Ilmiah Pendidikan Seni Rupa
ISSN : 23559691     EISSN : 28092260     DOI : 10.30738
Cilpa: Jurnal Ilmiah Pendidikan Seni Rupa is a blind peer-reviewed journal dedicated to the publication of quality thoughts and research results in the field of Fine Arts and Fine Arts Education, the study or creation of fine arts but is flexible and not implicitly limited. All publications in CILPA are open access, allowing articles to be freely available without any violation.
Articles 13 Documents
Search results for , issue "Vol 8 No 1 (2023): Januari" : 13 Documents clear
Nilai Nilai Artistik Rumah Adat Tradisional di Kabupaten Belitung Widia, Widia; Sugiyamin, Sugiyamin; Pamungkas, Dharmawati Dewi; Cahyono, Nugroho Heri
CILPA Vol 8 No 1 (2023): Januari
Publisher : Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30738/cilpa.v8i1.13848

Abstract

ABSTRAK Rumah panggung adalah rumah tradisional yang dibuat diatas tanah tetapi tidak menyentuh tanah dengan cara batu atau kayu sebagai alas pondasi. Rumah adat ini dibuat dibuat dengan bahan baku kayu yang terkenal kuat yaitu kayu Bulin. Tujuan penelitian untuk mengetahui (1) Mendeskripsikan Ruangan apa yang ada di Rumah Adat Belitung, (2) Mendeskripsikan Elemen Interior apa  yang ada di Rumah Adat Belitung, (3) Mendeskripsikan Nilai Artistik seperti apakah yang ada pada Rumah Adat Belitung. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Variabelnya adalah ruangan  dan elemen interior pada Rumah Adat Tradisional Belitung. Subjek pada penelitian ini adalah Rumah Adat Belitung. Objek penelitiannya adalah Nilai Nilai Artistik pada Rumah Adat Belitung. Hasil Penelitian dapat disimpulkan (1) Mengetahui Ruangan yang ada di Rumah Adat Belitung tersebut memiliki tiga ruangan yaitu ruangan utama, loss, dan ruangan dapur, (2) Elemen Interior pada Rumah Adat Tradisional Belitung terdapat pada elemen pembentuk, Elemen pendukung, dan Elemen penunjang, (3) Nilai Nilai Artistik Interiornya pada setiap ruangan yang ada di Rumah Adat tersebut. Kesimpulan penelitian pada rumah adat tradisional Belitung memiliki 3 ruangan. Terdapat elemen-elemen pada rumah adat ini yaitu elemen pembentuk, pendukung, dan penunjang. Rumah adat ini juga memiliki nilai-nilai artistik yang sesuai dengan kebudayaannya. Abstract: The background of Belitung Island has a traditional house called a stilt house. A stilt house is a traditional house that is made on the ground but does not touch the ground by means of stone or wood as a foundation base. This traditional house is made with a famously strong wood raw material, namely Bulin wood. The purpose of the study is to find out (1) Describe what space is in Traditional House Belitung, (2) Describe what  Interior Elements are in Traditional House Belitung, (3) Describe what kind of Artistic Artist Value is in Traditional House Belitung. This Research uses the qualitative descriptive method. The variables are the room and interior elements in the Belitung Traditional House. The subject of this research is the Belitung Traditional House. The object of his research is the Value of Artistic Value in the Belitung Traditional House. Research can conclude (1) that the Belitung Traditional House has three rooms, namely the main room, loss, and kitchen room; (2) Interior Elements in the Belitung Traditional House are found in the forming elements, supporting elements, and supporting elements, (3) The Value of Artistic Indigo Interior in each room in Traditional House. Research conclusions on traditional Belitung traditional houses have three rooms. There are elements in this traditional house, namely forming and supporting elements. This traditional house also has artistic values that are in accordance with its culture.      
Tradisi Selasa Wage Di Malioboro Sebagai Sumber Ide Penciptaan Seni Lukis Kuswardana, Bima Arindra; Dewobroto, Bambang Trisilo; Musfalri, Andrik
CILPA Vol 8 No 1 (2023): Januari
Publisher : Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30738/cilpa.v8i1.13935

Abstract

Abstrak “Tradisi Selasa Wage” atau biasa masyarakat sekitar dan para pedagang kaki lima area Malioboro dengan julukan “Jogja Reresik Malioboro Selasa Wage”, salah satu aktivitas sosial dimana kendaraan umum tidak diperbolehkan untuk melintas atau melewati sepanjang Jalan Malioboro, sehingga para wisatawan baik dari lokal maupun mancanegara yang sedang berlibur di Malioboro sangat menikmati suasana tradisional tersebut.  Tujuan penciptaan ini adalah menjadikan sebuah media yang dapat mengembangkan sebuah ide, konsep, gagasan, dan teknik lukis dalam menciptakan suatu karya. Mengekspresikan sebuah konsep pada moment aktivitas “Tradisi Selasa Wage” dalam sajian karya lukis kontemporer. Menggali proses kreatif secara Teknik yang pada akhirnya dapat menemukan sebuah karakter yang khas dalam proses kreatifnya. Penciptaan karya ini yang terinspirasi dari aktivitas masyarakat Malioboro melakukan gotong royong, guna untuk menjaga kelestarian, kebersihan lingkungan sepanjang jalan Malioboro. Metode penciptaan dengan melakukan eksplorasi, dari segi eksplorasi visual, eksplorasi bentuk, eksplorasi konsep, eksplorasi teknik, dan analisis data yang meliputi data premier, data sekunder. Tema yang dipilih adalah pengenalan tradisi di daerah Yogyakarta. Hasil penelitian ini menggambarkan suasana kegiatan Tradisi Selasa Wage di Malioboro yang menjadi objek dalam membuat karya-Karya seni Lukis, yang menghasilkan sebanyak 7 karya lukisan dengan berbagai jenis ukuran dan teknik, diantaranya yang berjudul Gelap Malam Tengah Kota, Hiburan Jalanan, Guyup Rukun, Reresik Malioboro, Tarian Anak, Talk Show, dan Berjalan Bebas. Abstrak "Tuesday Wage Tradition" or commonly the local community and street vendors in the Malioboro area with the nickname "Jogja Reresik Malioboro Tuesday Wage", one of the social activities where public vehicles are not allowed to pass or pass along Jalan Malioboro, so tourists both local and foreigners who are on vacation in Malioboro really enjoy the atmosphere of this tradition. The purpose of this creation is to make a medium that can develop an idea, concept, ideas, and painting techniques in creating a work. Expressing a concept at the moment of the “Tuesday Wage Tradition” activity in the presentation of contemporary paintings. Exploring the creative process technically which in the end can find a specific characteristic in the creative process.The creation of this work was inspired by the activities of the Malioboro people doing mutual cooperation, in order to maintain sustainability, clean the environment along the Malioboro road. The creation method is by exploring, in terms of visual exploration, form exploration, concept exploration, technical exploration, and data analysis which includes premier data, secondary data. The chosen theme is the introduction of traditions in the Yogyakarta area, the atmosphere of the Tuesday Wage Tradition activities in Malioboro which are the objects in making works.7 painting works with various types of sizes, techniques, and creation of works in 2021 entitled Dark Midnight City, Street Entertainment, Guyup Rukun, Malioboro Rehearsal, Children's Dance, Talk Show, and Free Walking
Tradisi Adat Muang Jong Suku Sawang Di Belitung Sebagai Inspirasi Penciptaan Karya Seni Lukis Febratama, Therta; Chandra, Dio Pamola; Cahyono, Nugroho Heri
CILPA Vol 8 No 1 (2023): Januari
Publisher : Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30738/cilpa.v8i1.14064

Abstract

Abstrak Tradisi Muang Jong merupakan tradisi adat yang diselenggarakan oleh masyarakat Suku Sawang di Kabupaten Belitung Timur, Kepulauan Bangka Belitung. Selama berabad-abad masyarakat ini menetap didekat laut dengan memegang nilai-nilai kehidupan leluhurnya serta memiliki kebudayaan yang unik. Nilai-nilai leluhur tersebut hingga sekarang masih dilestarikan. Oleh karena itu, fokus dari permasalahan yang dapat di ambil adalah kurangnya visualisasi mengenai Tradisi Adat Muang Jong Suku Sawang melalui hasil karya Seni Lukis, kurangnya keinginan masyarakat untuk belajar tradisi budaya khususnya tradisi muang jong yang ada di Belitung sebagai salah satu kebudayaan di Indonesia, kurangnya keinginan masyarakat untuk memahami dan memaknai pesan moral dalam tradisi muang jong. Tujuan karya tulis ini adalah  menjelaskan konsep dari penciptaan lukisan, dapat memvisualisasikan makna pada suasana ide penciptaan seni lukis dengan tujuan tradisi muang jong yang berasal dari kabupaten belitung timur, dan dapat mendeskripsikan tema, bentuk dan teknik penciptaan lukisan. Metode penciptaan tugas akhir ini menggunakan metode skema penciptaanya yaitu Eksplorasi, Analisis Data, Perancangan Karya dan Perwujudan Karya Hasil perwujudan karya ini adalah karya seni lukis menggunakan media kanvas. Karya ini menceritakan tentang tradisi adat muang jong suku sawang yang terletak di Belitung provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Karya ini diharapkan sebagai media edukasi kebudayaan dan adat istiadat bagi masyarakat luas. Abstrak The Muang Jong tradition is a traditional tradition held by the Sawang Tribe community in East Belitung Regency, Bangka Belitung Islands. For centuries these people have lived near the sea by holding the values of their ancestral lives and having a unique culture. These ancestral values are still preserved today. Therefore, the focus of the problem that can be taken is the lack of visualization of the Muang Jong Customary Tradition of the Sawang Tribe through the results of Painting, the lack of public desire to learn cultural traditions, especially the Muang Jong tradition in Belitung as one of the cultures in Indonesia, the lack of the desire of the people to understand and interpret the moral messages in the Muang Jong tradition. The purpose of this paper is to explain the concept of creating paintings, to be able to visualize the meaning in the atmosphere of the idea of creating paintings with the aim of the Muang Jong tradition originating from East Belitung Regency, and to be able to describe the themes, forms and techniques of creating paintings.The method of creating this final project uses the creation scheme method, namely Exploration, Data Analysis, Work Design and Realization The work that results from the embodiment of this work is a work of art using canvas media. This work tells about the traditional traditions of Muang Jong, the Sawang tribe, which is located in Belitung, the province of the Bangka Belitung Islands. This work is expected to be a medium for educating culture and customs for the wider community.
Perahu Pinisi Sebagai Inspirasi Penciptaan Karya Seni Logam Akbar, Andi Muh. Fadlullah; Triyono
CILPA Vol 8 No 1 (2023): Januari
Publisher : Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30738/cilpa.v8i1.14282

Abstract

ABSTRAK Perahu pinisi merupakan kapal layar yang dibuat oleh masya rakat pesisir Sulawesi Selatan tepatnya di Kabupaten Bulukumba. Menurut sejarahnya, perahu pinisi tercipta dari serpihan kapal pangeran Sawerigading yang karam diperairan Bulukumba setelah ia menjemput sang kekasih yaitu Wacudai yang berada di daratan Cina. Dalam proses eksplorasi penulis melakukan riset langsung ke lokasi pembuatan perahu sehingga penulis dapat mengambil sudut pandang yang dinilai memiliki nilai estetik. Dimana penulis setelah mencari tau dengan pengharapan setelah terciptanya karya seni logam yang mengeksplor bentuk perahu pinisi ini dapat menjadi inspirasi dalam pembuatan karya-karya seni rupa lainnya dan banyak dikenal oleh masyarakat sekitar bahwa Indonesia memilki sebuah sejarah perairan yang sangat dikenal oleh dunia. Metode  penciptaan  ini menggunakan skema  penciptaan yang terdiri dari Eksplorasi,  Analisis  Data,  Perancangan dan Perwujudan Karya.Perwujudan karya dengan metode ini menghasilkan sebuah karya  seni relief  logam yang menggunakan media  tembaga dan kuningan. Karya  ini menceritakan tentang bentuk prahu pinisi yang merupakan warisan budaya tak benda yang berasal dari Kabupaten Bulukumba Provinsi Sulawesi Selatan. Karya ini diharapkan sebagai media edukasi dan informasi terkait warisan budaya kemaritiman Indonesia ABSTRAK Pinisi boat is a sailing ship made by the coastal community of South Sulawesi, precisely in Bulukumba Regency. Historically, the pinisi boat was created from the wreckage of the Sawerigading prince's ship that sank in the waters of Bulukumba after he picked up his lover, Wacudai, who was in mainland China. In the exploration process, the author conducted direct research to the location of the boat so that the author could take a point of view that was considered to have aesthetic value. Where the author after finding out with the hope that after the creation of a metal artwork that explores the shape of this Pinisi boat can be an inspiration in making other works of art and is widely known by the surrounding community that Indonesia has a history of waters that are well known to the world. This method of creation uses a creation scheme consisting of Exploration, Data Analysis, Design and Realisation of Work. The realisation of the work with this method produces a metal relief artwork using copper and brass media. This work tells about the shape of the pinisi boat which is an intangible cultural heritage originating from Bulukumba Regency, South Sulawesi Province. This work is expected to be a medium of education and information related to Indonesia's maritime cultural heritage.  
Ikonografi Kain Inuh Di Museum Daerah Provinsi Lampung Sasmito, Wahyu; Susanto, Moh. Rusnoto
CILPA Vol 8 No 1 (2023): Januari
Publisher : Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30738/cilpa.v8i1.14395

Abstract

Abstrak Produk seni kerajinan kain Inuh Lampung merupakan salah satu jenis dari Kain Tapis sebagai suatu bukti temuan besar dalam jejak sejarah kebudayaan Lampung. Secara klasifikasi kain Tapis Inuh tidak jauh berbeda dengan permadani yang dikenal selama ini. Contohnya, pada Webster’s New World Dictionary dijumpai kata yang menyerupai penyebutan Tapis, yakni kata Tapestries (lebih dari satu) atau tapestry (tunggal). Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mengidentifikasi melalui metode studi deskripsi analisis mengenai motif ornament yang terdapat pada peninggalan Kain Tapis Inuh di Museum daerah Provinsi Lampung. (2) Mendeskripsikan tentang makna simbolis Kain Tapis Inuh Adat Lampung bagi masyarakat secara spesifik. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif interpretatif, dimana teknik pengumpulan data menggunakan teknik dokumentasi, wawancara, dan observasi. Dengan teknik analisis data, peneliti menggunakan metode analisa semiotika model Charles Sanders Peirce. Menurut Peirce, analisis Semiotik terdiri dari tiga unsur utama yaitu Representamen, Object, dan Interpretan. Hasil penelitian menunjukan bahwa (1)Kain Inuh yang terdapat di Museum Ruwa Jurai Lampung merupakan Kain Inuh tertua dengan catatan sejarah paling kompleks diantara koleksi lainnya, dengan latar belakang penciptaan yang merepresentasikan kehidupan berbudaya masyarakat Lampung Saibatin. (2) Kain Inuh yang saat ini dikenal sebagai salah satu dari jenis Kain Tapis Lampung diketahui berbeda dari media produksi hingga pemaknaan ornament yang terkandung di dalamnya, nilai spiritual yang terkandung pada Kain Inuh menjadikan Kain Inuh menjadi istimewa. oleh sebab itu generasi muda saat ini mengetahui atau mengenali potensi sumber daya kebudayaan yang ada di daerah Lampung. Abstract Inuh Lampung cloth craft art product is one type of Tapis Cloth as a proof of major findings in the traces of Lampung cultural history. In terms of classification, Tapis Inuh cloth is not much different from the tapestries known so far. For example, in Webster's New World Dictionary, there is a word that resembles the mention of Tapis, namely the word Tapestries (more than one) or tapestry (singular). This research aims to (1) show through a descriptive analysis study method the motif ornaments found on the Tapis Inuh cloth relics at the Regional Museum of Lampung Province. (2) Describe the symbolic meaning of the Lampung Traditional Tapis Inuh cloth for the community specifically. This research is an interpretive qualitative research, where data collection techniques use documentation, interviews, and observation techniques. With data analysis techniques, researchers used Charles Sanders Peirce's semiotic analysis method. According to Peirce, semiotic analysis consists of three main elements, namely representation, object and interpretant. The results of the study show that (1) the Inuh cloth found in the Ruwa Jurai Lampung Museum is the oldest Inuh cloth with the most complex historical record among the other collections, with a background of creation that represents the cultural life of the Lampung Saibatin people. (2) Inuh cloth, which is currently known as one of the types of Lampung Tapis cloth, is known to be different from the production media to the meaning of the ornaments contained therein, the spiritual value contained in Inuh cloth makes Inuh cloth special, therefore the current younger generation know or even recognize the potential of cultural resources in the Lampung area.
Nilai Artistik Bentuk dan Makna Motif Batik Geblek Renteng di Sembung Batik Barriyah, Insanul Qisti; Rahayu, Nova
CILPA Vol 8 No 1 (2023): Januari
Publisher : Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30738/cilpa.v8i1.14650

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses pembuatan motif batik geblek renteng di Sembung Batik dan Mendeskripsikan nilai artistik batik motif geblek renteng di Sembung Batik. serta mendeskripsikan bentuk dan makna motif batik geblek renteng di Sembung Batik. Penelitian ini dilaksanakan di Sembung Batik, Sembungan, Gulurejo, Lendah, Kulon Progo, Yogyakarta. Dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif karena menggambarkan, menceritakan, serta memaparkan data secara sistematis. Variabel dalam penelitian ini adalah Nilai Artistik Bentuk dan Makna Motif Batik Geblek Renteng di Sembung Batik. Subjek pada penelitian ini adalah motif batik geblek renteng di Sembung Batik, Sembungan, Gulurejo, Lendah, Kulonprogo sedangkan, objek penelitian ini adalah nilai artistik bentuk dan makna yang terdapat pada motif geblek renteng di Sembung Batik. Pengumpulan data penelitian ini melalui studi pustaka, observasi, wawancara, dokumentasi. Teknis analisis data dalam penelitian ini menggunakan reduksi data, penyajian data dan kesimpulan. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa (1) Proses pembuatan motif batik geblek renteng di Sembung Batik masih menggunakan cara-cara tradisional karena masih menggunakan alat tradisional (2) Nilai artistik dari motif batik geblek renteng di Sembung Batik terletak pada irama dan kesatuannya serta unsur motifnya seperti cecek, motif, warna dan garis (3) Bentuk dari motif batik geblek renteng di Sembung Batik seperti angka delapan sedangkan maknanya sebagai pemberi rezeki yang tidak akan putus-putus.   Abstract: The purpose of this research is: (1) to describe the process of making geblek jointly batik motifs in Sembung Batik, (2) to describe the artistic value of geblek jointly batik motifs in Sembung Batik, (3) to describe the shape and meaning of geblek jointly batik motifs in Sembung Batik. This research was conducted in Sebung Batik, Sembungan, Gulurejo, Lendah, Kulon Progo, and Yogyakarta. This research uses the descriptive qualitative research method because it describes, tells, and describes the data systematically. The variables in this study are the artistic value of the form and meaning of the Geblek Renteng batik motif in Sembung Batik. The subject of this research is the geblek renteng batik motif in Sembung Batik, Sembungan, Gulurejo, Lendah, and Kulon Progo while the object of this research is the artistic value of the form and meaning contained in the geblek renteng motif in Sembung Batik. This research data was collected through literature study, observation, interviews, and documentation. Technical analysis of data in this study using data reduction, data presentation, and conclusions. From the results of the study, it can be concluded that (1) The process of making geblek jointly batik motifs in Sembung Batik still uses traditional methods because it still uses traditional tools, (2) The artistic value of the geblek jointly batik motifs in Sembung Batik lies in the rhythm and unity and elements of the motif such as cecek, motifs, colors and lines (3) The shape of the geblek batik motif in Sembung Batik is like the number eight, while the meaning is as a giver of sustenance that will not falter.  
Penerapan Seni Kriya Tradisional Dalam Tradisi Budaya Pandhalungan Kabupaten Jember Provinsi Jawa Timur Alqoronie, Uwais; Susanto, Dwi
CILPA Vol 8 No 1 (2023): Januari
Publisher : Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30738/cilpa.v8i1.13054

Abstract

Abstrak Latar belakang Penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bagaimana implementasi seni kriya tradisional dalam tradisi budaya pandhalungan di daerah Jember, dengan tujuan mengetahui makna simbolik dalam kesenian patrol dan mengetahui faktor apa saja yang dapat mendorong keberlangsungan kesenian patrol di era modern. Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, dokumentasi dan studi kepustakaan. Wawancara penelitian dilakukan kepada dinas pariwisata, seniman, dan masyarakat panhdalungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) implementasi seni kriya tradisional dapat terwujud dalam budaya pandhalungan yaitu seni musik dan alat alatnya yang memiliki corak khas budaya pandhalungan. Corak dan budaya yang khas menjadi identitas budaya patrol itu sendiri, (2) Makna simbolik masing-masing alat musik memiliki kegunaan tersendiri, seperti remo untuk berkomunikasi di laut, tiktok untuk balapan sapi dan kleter untuk membangunkan sahur orang. Sedangkan kesenian patrol pada batik memiliki warna warna dan motif batik yang khas. (3) Faktor pendorong bertahannya kesenian patrol di era modern dapat dibedakan menjadi dua, yaitu internal dan eksternal. Faktor internal antara lain: keinginan seniman, pengrajin, identitas daerah dan sumber pendapatan daerah. Sedangkan faktor eksternal adalah pengaruh budaya lain, dukungan dinas yang terkait, dan partisipasi masyarakat setempat. Abstrak The background of this research is to describe how the implementation of traditional craft art in the pandhalungan cultural tradition in the Jember area, with the aim of knowing the symbolic meaning in patrol art and knowing what factors can encourage the survival of patrol art in the modern era. This research used descriptive qualitative research methods. Data collection was done by interview, documentation and literature study. Research interviews were conducted to the tourism office, artists, and the Panhdalungan community. The results showed that: (1) the implementation of traditional craft art can be realized in pandhalungan culture, namely music and tools that have a distinctive style of pandhalungan culture. The distinctive patterns and culture become the identity of the patrol culture itself, (2) The symbolic meaning of each musical instrument has its own use, such as remo to communicate at sea, tiktok for cow races and kleter to wake up people's dawn. Meanwhile, patrol art on batik has a distinctive color and batik motif. (3) Factors driving the survival of patrol art in the modern era can be divided into two, namely internal and external. Internal factors include: the desire of artists, craftsmen, regional identity and regional income sources. While external factors are the influence of other cultures, support from related agencies, and local community participation.
Nilai Nilai Artistik Rumah Adat Tradisional di Kabupaten Belitung Widia, Widia; Sugiyamin; Pamungkas, Dharmawati Dewi
CILPA Vol 8 No 1 (2023): Januari
Publisher : Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30738/cilpa.v8i1.13848

Abstract

ABSTRAK Rumah panggung adalah rumah tradisional yang dibuat diatas tanah tetapi tidak menyentuh tanah dengan cara batu atau kayu sebagai alas pondasi. Rumah adat ini dibuat dibuat dengan bahan baku kayu yang terkenal kuat yaitu kayu Bulin. Tujuan penelitian untuk mengetahui (1) Mendeskripsikan Ruangan apa yang ada di Rumah Adat Belitung, (2) Mendeskripsikan Elemen Interior apa  yang ada di Rumah Adat Belitung, (3) Mendeskripsikan Nilai Artistik seperti apakah yang ada pada Rumah Adat Belitung. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Variabelnya adalah ruangan  dan elemen interior pada Rumah Adat Tradisional Belitung. Subjek pada penelitian ini adalah Rumah Adat Belitung. Objek penelitiannya adalah Nilai Nilai Artistik pada Rumah Adat Belitung. Hasil Penelitian dapat disimpulkan (1) Mengetahui Ruangan yang ada di Rumah Adat Belitung tersebut memiliki tiga ruangan yaitu ruangan utama, loss, dan ruangan dapur, (2) Elemen Interior pada Rumah Adat Tradisional Belitung terdapat pada elemen pembentuk, Elemen pendukung, dan Elemen penunjang, (3) Nilai Nilai Artistik Interiornya pada setiap ruangan yang ada di Rumah Adat tersebut. Kesimpulan penelitian pada rumah adat tradisional Belitung memiliki 3 ruangan. Terdapat elemen-elemen pada rumah adat ini yaitu elemen pembentuk, pendukung, dan penunjang. Rumah adat ini juga memiliki nilai-nilai artistik yang sesuai dengan kebudayaannya. Abstract: The background of Belitung Island has a traditional house called a stilt house. A stilt house is a traditional house that is made on the ground but does not touch the ground by means of stone or wood as a foundation base. This traditional house is made with a famously strong wood raw material, namely Bulin wood. The purpose of the study is to find out (1) Describe what space is in Traditional House Belitung, (2) Describe what  Interior Elements are in Traditional House Belitung, (3) Describe what kind of Artistic Artist Value is in Traditional House Belitung. This Research uses the qualitative descriptive method. The variables are the room and interior elements in the Belitung Traditional House. The subject of this research is the Belitung Traditional House. The object of his research is the Value of Artistic Value in the Belitung Traditional House. Research can conclude (1) that the Belitung Traditional House has three rooms, namely the main room, loss, and kitchen room; (2) Interior Elements in the Belitung Traditional House are found in the forming elements, supporting elements, and supporting elements, (3) The Value of Artistic Indigo Interior in each room in Traditional House. Research conclusions on traditional Belitung traditional houses have three rooms. There are elements in this traditional house, namely forming and supporting elements. This traditional house also has artistic values that are in accordance with its culture.      
Tradisi Selasa Wage Di Malioboro Sebagai Sumber Ide Penciptaan Seni Lukis Kuswardana, Bima Arindra; Dewobroto, Bambang Trisilo; Musfalri, Andrik
CILPA Vol 8 No 1 (2023): Januari
Publisher : Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30738/cilpa.v8i1.13935

Abstract

Abstrak “Tradisi Selasa Wage” atau biasa masyarakat sekitar dan para pedagang kaki lima area Malioboro dengan julukan “Jogja Reresik Malioboro Selasa Wage”, salah satu aktivitas sosial dimana kendaraan umum tidak diperbolehkan untuk melintas atau melewati sepanjang Jalan Malioboro, sehingga para wisatawan baik dari lokal maupun mancanegara yang sedang berlibur di Malioboro sangat menikmati suasana tradisional tersebut.  Tujuan penciptaan ini adalah menjadikan sebuah media yang dapat mengembangkan sebuah ide, konsep, gagasan, dan teknik lukis dalam menciptakan suatu karya. Mengekspresikan sebuah konsep pada moment aktivitas “Tradisi Selasa Wage” dalam sajian karya lukis kontemporer. Menggali proses kreatif secara Teknik yang pada akhirnya dapat menemukan sebuah karakter yang khas dalam proses kreatifnya. Penciptaan karya ini yang terinspirasi dari aktivitas masyarakat Malioboro melakukan gotong royong, guna untuk menjaga kelestarian, kebersihan lingkungan sepanjang jalan Malioboro. Metode penciptaan dengan melakukan eksplorasi, dari segi eksplorasi visual, eksplorasi bentuk, eksplorasi konsep, eksplorasi teknik, dan analisis data yang meliputi data premier, data sekunder. Tema yang dipilih adalah pengenalan tradisi di daerah Yogyakarta. Hasil penelitian ini menggambarkan suasana kegiatan Tradisi Selasa Wage di Malioboro yang menjadi objek dalam membuat karya-Karya seni Lukis, yang menghasilkan sebanyak 7 karya lukisan dengan berbagai jenis ukuran dan teknik, diantaranya yang berjudul Gelap Malam Tengah Kota, Hiburan Jalanan, Guyup Rukun, Reresik Malioboro, Tarian Anak, Talk Show, dan Berjalan Bebas. Abstrak "Tuesday Wage Tradition" or commonly the local community and street vendors in the Malioboro area with the nickname "Jogja Reresik Malioboro Tuesday Wage", one of the social activities where public vehicles are not allowed to pass or pass along Jalan Malioboro, so tourists both local and foreigners who are on vacation in Malioboro really enjoy the atmosphere of this tradition. The purpose of this creation is to make a medium that can develop an idea, concept, ideas, and painting techniques in creating a work. Expressing a concept at the moment of the “Tuesday Wage Tradition” activity in the presentation of contemporary paintings. Exploring the creative process technically which in the end can find a specific characteristic in the creative process.The creation of this work was inspired by the activities of the Malioboro people doing mutual cooperation, in order to maintain sustainability, clean the environment along the Malioboro road. The creation method is by exploring, in terms of visual exploration, form exploration, concept exploration, technical exploration, and data analysis which includes premier data, secondary data. The chosen theme is the introduction of traditions in the Yogyakarta area, the atmosphere of the Tuesday Wage Tradition activities in Malioboro which are the objects in making works.7 painting works with various types of sizes, techniques, and creation of works in 2021 entitled Dark Midnight City, Street Entertainment, Guyup Rukun, Malioboro Rehearsal, Children's Dance, Talk Show, and Free Walking
Tradisi Adat Muang Jong Suku Sawang Di Belitung Sebagai Inspirasi Penciptaan Karya Seni Lukis Febratama, Therta; Chandra, Dio Pamola; Cahyono, Nugroho Heri
CILPA Vol 8 No 1 (2023): Januari
Publisher : Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30738/cilpa.v8i1.14064

Abstract

Abstrak Tradisi Muang Jong merupakan tradisi adat yang diselenggarakan oleh masyarakat Suku Sawang di Kabupaten Belitung Timur, Kepulauan Bangka Belitung. Selama berabad-abad masyarakat ini menetap didekat laut dengan memegang nilai-nilai kehidupan leluhurnya serta memiliki kebudayaan yang unik. Nilai-nilai leluhur tersebut hingga sekarang masih dilestarikan. Oleh karena itu, fokus dari permasalahan yang dapat di ambil adalah kurangnya visualisasi mengenai Tradisi Adat Muang Jong Suku Sawang melalui hasil karya Seni Lukis, kurangnya keinginan masyarakat untuk belajar tradisi budaya khususnya tradisi muang jong yang ada di Belitung sebagai salah satu kebudayaan di Indonesia, kurangnya keinginan masyarakat untuk memahami dan memaknai pesan moral dalam tradisi muang jong. Tujuan karya tulis ini adalah  menjelaskan konsep dari penciptaan lukisan, dapat memvisualisasikan makna pada suasana ide penciptaan seni lukis dengan tujuan tradisi muang jong yang berasal dari kabupaten belitung timur, dan dapat mendeskripsikan tema, bentuk dan teknik penciptaan lukisan. Metode penciptaan tugas akhir ini menggunakan metode skema penciptaanya yaitu Eksplorasi, Analisis Data, Perancangan Karya dan Perwujudan Karya Hasil perwujudan karya ini adalah karya seni lukis menggunakan media kanvas. Karya ini menceritakan tentang tradisi adat muang jong suku sawang yang terletak di Belitung provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Karya ini diharapkan sebagai media edukasi kebudayaan dan adat istiadat bagi masyarakat luas. Abstrak The Muang Jong tradition is a traditional tradition held by the Sawang Tribe community in East Belitung Regency, Bangka Belitung Islands. For centuries these people have lived near the sea by holding the values of their ancestral lives and having a unique culture. These ancestral values are still preserved today. Therefore, the focus of the problem that can be taken is the lack of visualization of the Muang Jong Customary Tradition of the Sawang Tribe through the results of Painting, the lack of public desire to learn cultural traditions, especially the Muang Jong tradition in Belitung as one of the cultures in Indonesia, the lack of the desire of the people to understand and interpret the moral messages in the Muang Jong tradition. The purpose of this paper is to explain the concept of creating paintings, to be able to visualize the meaning in the atmosphere of the idea of creating paintings with the aim of the Muang Jong tradition originating from East Belitung Regency, and to be able to describe the themes, forms and techniques of creating paintings.The method of creating this final project uses the creation scheme method, namely Exploration, Data Analysis, Work Design and Realization The work that results from the embodiment of this work is a work of art using canvas media. This work tells about the traditional traditions of Muang Jong, the Sawang tribe, which is located in Belitung, the province of the Bangka Belitung Islands. This work is expected to be a medium for educating culture and customs for the wider community.

Page 1 of 2 | Total Record : 13