At Tahfidz Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
The Journal At Tahfidz concentrates on publishing scientific papers with the theme of Quranic studies with the following coverage Study of Quran Science, Quran Translation, Study of Quranic Tafsir, Research on the Quran, Living Quran
Articles
83 Documents
Sejarah Pemikiran Al-Quran Periode Klasik
Muhammad Amin
At-Tahfidz: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 3 No. 01 (2021): Desember 2021
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.53649/at-tahfidz.v3i01.324
Artikel ini difokuskan pada kajian sejarah pemikiran al-Quran periode klasik yang meliputi sejarah pembukuan al-Quran, sejarah penafsiran al-Quran, sejarah ‘ulumul Quran, dan sejarah sosial al-Quran. Sejarah pembukuan al-Quran telah berlangsung sejak masa penurunan al-Quran itu sendiri melalui para kuttab al-wahyi, dibukukan menjadi satu mushaf pada era Abu Bakar atas saran dari Umar, dan diseragamkan cara membacanya pada era Utsman ibn ‘Affan melalui kepanitiaan Zaid ibn Tsabit, serta disempurnakan tanda bacanya oleh Abu al-Aswad, Nashr ibn ‘Ashim, dan Yahya ibn ‘Amir. Penafsiran al-Quran bermula sejak era nabi, diteruskan oleh para shahabat, dan dilembagakan melalui madrasah tafsir oleh para Tabi’in. Dari segi ‘ulumul quran, cabang kajian yang terlembaga pada periode klasik adalah qiraat al-Quran atau ragam cara baca al-Quran. Sementara secara sosial, respon masyarakat terhadap al-Quran pada era klasik dapat dibagi menjadi tiga yaitu golongan yang menolak otentisitas al-Quran, golongan yang mengakui keindahan dan kemukjizatan al-Quran, serta golongan yang sangat mencintai dan menghormati al-Quran.
Peran Imam Asy-Syathibi dalam Qira’at Al-Qur’an
Niswatul Malihah;
Tapa’ul Habdin
At-Tahfidz: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 3 No. 01 (2021): Desember 2021
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.53649/at-tahfidz.v3i01.325
Ilmu qira’at adalah salah satu ilmu yang mempunyai kedudukan tinggi dalam Islam, karena kaitannya dengan kitab suci al-Qur’an. Banyak ulama qira’at yang mendedikasikan diri dalam ilmu qira’at ini dengan mempelajari, mengkaji, mengajarkan dan mengamalkan ilmu qira’at serta memberikan karya terbaiknya, di antaranya adalah imam asy-Syathibi yang karyanya menjadi rujukan bagi para pencinta qira’at hingga saat ini. Berangkat dari latarbelakang di atas, peneliti ingin menggali tentang perjalanan imam asy-Syathibi dalam memperdalam ilmu qira’at hingga karyanya menjadi sandaran dan rujukan dalam mempelajari ilmu qira’at di penjuru dunia, oleh karena itu peneliti mengkajinya dengan menggunakan penelitian library research dengan fokus pada pembahasan peran Imam asy-Syathibi dalam qira’at al-Qur’an. Penelitian ini menggunakan sumber data primer berupa kitab matan Syathibiyyah karya imam asy-Syathibi dan didukung sumber sekundernya berupa buku qira’at, sejarah, terjemah dan buku-buku yang berkenaan dengan ilmu qira’at lainnya. Hasil penelitian yang didapat bahwa imam asy-Syathibi mempunyai kontribusi yang besar dalam perkembangan ilmu qira’at, terlebih karyanya yang fenomenal dan diterima oleh kalangan pecinta qira’at. Dengan demikian, ilmu qira’at mempunyai peranan penting dalam kehidupan imam asy-Syathibi sehingga karyanya dapat dilestarikan dan dinikmati hingga saat ini.
Perubahan Hasrat Dalam Kisah Hidup Sayyid Qutb: Kajian Psikoanalisis Jacques Lacan
Faisal Diaulhaq Subur
At-Tahfidz: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 4 No. 1 (2022): Desember 2022
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.53649/at-tahfidz.v4i1.330
Sayyid Qutb merupakan salah satu pemikir yang berpengaruh dalam dunia Islam. Dalam perjalanan hidupnya ia banyak mengalami problematika sehingga mempengaruhi hasrat pemikiran dan tindak tanduknya dalam berkarya dan bergerak. Tulisan ini meneliti tentang perubahan hasrat Sayyid Qutb yang termanifestasikan dalam kisah hidupnya. Untuk menjawab permasalahan tersebut, digunakan teori dan metode psikoanalisis Jacques Lacan. Psikoanalisis Lacan membahasa hasrat manusia yang diungkapkan melalui tindakan atau bahasa melalui dialektika little other (orang lain) dan big other (lingkungan sekeliling). Hasil penelitian ini membuktikan bahwa dalam perjalanan hidup Sayyid Qutb terjadi berbagai macam problematika yang memunculkan adanya lack (kekurangan), baik yang dilatarbelakangi oleh aspek little other maupun big other. Manifestasi hasrat dan kekurangan Sayyid Qutb sebagai subjek yang dikaji, menyalurkan hasratnya dengan berbagai tindakan, baik hasrat memiliki maupun hasrat menjadi demi mencapai keutuhan diri. Dalam penelitian ini juga ditemukan bahwa sebagai subjek berhasrat dan berkekurangan, Sayyid Qutb melakukan perlawanan terhadap Yang Simbolik (hukum) melalui tindakannya, dengan demikian dalam teori psikoanalisis Lacan, Sayyid Qutb adalah subjek yang mengalami kekurangan karena adanya banyak hukum yang membatasinya.
Poligami dalam Tradisi Tafsir dan Relevansinya terhadap Bangsa Indonesia
Aghnia Faradits
At-Tahfidz: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 4 No. 2 (2023): Juni 2023
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.53649/at-tahfidz.v4i2.331
Poligami yang hingga saat ini masih hangat dbahas, apalagi sekarang para ‘pelaku’ banyak mendirikan lembaga khusus seolah menandakan bahwa poligami dianjurkan bahkan mendekati wajib, Sebenarnya beberapa tahun pasca wafatnya Nabi Muhammad, para mufassir sudah menafsirkan ayat poligami (an-Nisa’:3) untuk kemudian dicari asbab annuzul, tasir hinngga hikmah yang di dapat. Salah satu Mufassir yang turut menafsirkan ayat ini adalah Muhammad Abduh dalam karya tafsirnya al-Manar. Muhammad Abduh berkata: “Siapa yang merenungkan dua ayat tersebut (QS. Al-Nisâ’ [4]: 3 & 129), maka ia akan tahu bahwa ruang kebolehan berpoligami dalam Islam adalah ruang sempit. Seakan-akan ia merupakan suatu darurat yang hanya bisa dibolehkan bagi yang membutuhkannya dengan syarat yang bersangkutan diyakini bisa menegakkan keadilan dan tidak mungkin melakukan kezaliman. Ia juga menuturkan bahwa ruang kebolehan berpoligami itu adalah ruang sempit. Selain itu Perundang-Undangan Republik Indonesia sebenarnya sudah menjelaskan dalam beberapa pasal untuk dijadikan pedoman jika ingin berpoligami. Lantas apakah UUD Republik Indonesia sejalan dengan penafsiran para mufassir klasik dan kontemporer?
Analisis Intertekstualitas Julia Kristeva Terhadap Kemukjizatan Nabi Isa As Dalam Al-Qur’an dan Bible
Hasanuddin Koto, Nadia Agita
At-Tahfidz: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 5 No. 1 (2023): Desember 2023
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.53649/at-tahfidz.v5i1.349
Mukjizat merupakan suatu hal yang istimewa diluar nalar manusia yang Allah berikan kepada para Nabi dan RasulNya. Karena hal tersebut tidak dapat dirasakan ataupun dimiliki oleh manusia biasa pada umumnya. Salah satu Nabi yang Allah anugerahi keistimewaan mukjizat sampai diabadikan didalam al-Qur’an maupun Bible yakni Nabi Isa as. Salah satu mukjizat Nabi Isa as ialah dapat menghidupkan orang yang sudah meninggal. Penelitian ini berusaha untuk memaparkan komparatif kemukjizatan Nabi Isa as didalam al-Qur’an dan Bible serta mengungkap hubungan/keterkaitan mukjizat dari kedua teks kitab suci tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan menggunakan pendekatan studi kepustakaan (library research). Serta dipertajam dengan menggunakan teori intertekstualitas Julia Kristeva sebagai pisau analisinya. Adapun hasil dari penelitian ini ialah bahwa adanya keterkaitan atau intertekstualitas teks dintara kedua kitab suci yakni al-Qur’an dan Bible terhadap kemukjizatan yang dimiliki Nabi Isa as. Serta ditemukannya prinsip-prinsip teori intertekstualitas Kristeva yakni prinsip pararel, modifikasi dan defamilirasi. Dimana terdapat kesamaan penyebutan mukjizat Nabi Isa baik dari al-Qur’an dan Bible dan juga terdapat banyak mukjizat yang disebutkan didalam Bible yang tidak terdapat didalam al-Qur’an.
Analisis Nilai-Nilai Kemanusiaan atas Pemikiran Tafsir Buya Hamka
Zuhriyandi
At-Tahfidz: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 5 No. 1 (2023): Desember 2023
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.53649/at-tahfidz.v5i1.354
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemikiran tafsir Buya Hamka tentang nilai-nilai kemanusiaan dalam al-Qur’an. Buya Hamka, sebagai seorang ulama dan intelektual terkemuka, memiliki kontribusi yang signifikan dalam memahami al-Qur’an dan menerjemahkannya ke dalam konteks kehidupan manusia. Fokus utama penelitian ini adalah untuk memahami pandangan Buya Hamka tentang martabat manusia, persaudaraan, keadilan, dan hak asasi manusia yang diungkapkan melalui tafsirnya. Metodologi penelitian ini melibatkan analisis teks al-Qur’an dan karya tafsir Buya Hamka. Tinjauan literatur tentang pandangan ulama lainnya juga dilakukan untuk membandingkan dan mengontraskan interpretasi Buya Hamka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Buya Hamka memberikan penekanan kuat pada pentingnya menghormati martabat manusia sebagai ciptaan Tuhan. Persaudaraan universal antarmanusia dianggapnya sebagai landasan untuk perdamaian dan harmoni dalam masyarakat. Pandangannya tentang keadilan tercermin dalam interpretasinya tentang hukum-hukum Islam yang adil dan inklusif. Selain itu, hak asasi manusia dipandang sebagai prinsip yang melekat pada pesan al-Qur’an dan harus dihormati dalam semua aspek kehidupan. Penelitian ini memiliki implikasi penting dalam memahami bagaimana Buya Hamka menghubungkan pesan kemanusiaan al-Qur’an dengan konteks sosial dan sejarahnya. Pemikirannya memiliki relevansi yang abadi dan dapat memberikan panduan berharga dalam menangani tantangan kemanusiaan modern. Diharapkan penelitian ini dapat memberikan wawasan yang lebih dalam tentang pandangan Buya Hamka tentang nilai-nilai kemanusiaan dalam al-Qur’an dan kontribusinya terhadap pemahaman Islam yang inklusif dan berwawasan masa depan.
Wanita Karir dalam Surah Al-Ahzab Ayat 33 ( Aplikasi Teori Hermeneutika Jeorge J.E Gracia)
Yuni Wahyuni
At-Tahfidz: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 5 No. 1 (2023): Desember 2023
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.53649/at-tahfidz.v5i1.356
Artikel ini membahas tentang wanita karir dengan menjadikan objek kajian surah al-Ahzab ayat 33 dan menggunakan pendekatan hermeneutika Jeorge J.E Gracia sebagai pisau analisis dalam ayat tersebut. wanita karier merupakan wanita yang bergerak dalam bidang pekerjaan atau disebut juga wanita mandiri secara finisia. Persoalan tentang wanita karir masih mendatangkan kontraversi dalam pandangan masyarakat. dimana wanita masih menjadi kelas kedua setelah laki laki dan sering diperlakukan secara tidak adil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interpretasi surah al-Ahzab ayat 33 menggunakan teori hermeneutika Jorge J.E Gracia. Peneliti menemukan fungsi historis ayat ini berkaitan dengan isteri-isteri nabi saw dimana masyarakat Arab Madinah saat itu bercirikan garis keturunan partriaki yaitu sistem garis keturunan yang ditarik dari ayah ataupun laki-laki. Dan suatu tradisi dengan menjadikan laki laki sebagai pemimpin sedangkan wanita mempunyai porsi yang kecil untuk menempati kedudukan public terutama peran dalam bidang sosial ataupun sebagai pekerja di luar rumah untuk mencari nafkah. Fungsi pengembangan makna tidak ada larangan bagi wanita untuk keluar rumah ataupun berkarier dengan tetap memperhatikan adab ataupun etika saat berada di luar rumah seperti tidak menghias diri secara berlebihan, berlenggak lenggok layaknya wanita Jahiliyah serta tingkah laku yang akan mendatangkan hawa nafsu bagi para lelaki. Fungsi implikasi wanita karier diberi kebebesan berperan aktif tidak hanya dalam satu bidang tetapi bebes mengembangkan sesuai dengan keahlian yang dimiliki.
Interpretasi Basyiruddin Mahmud Ahmad Atas Ayat-Ayat Khatam Al-Anbiya’ (Analisis Kitab Tafsir Ahmadiyah: Quranummajid)
Sri Kurniati Yuzar
At-Tahfidz: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 3 No. 02 (2022): Juni 2022
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.53649/at-tahfidz.v3i02.357
Ahmadiyah merupakan suatu golongan yang melakukan gerakan pembaharuan dalam Islam yang memiliki jangkauan sangat luas. Kelompok yang mulanya muncul di India ini memiliki misi yang sangat kokoh yaitu menulis salinan terjemahan al-Qur’an kedalam berbagai bahasa di dunia, termasuk bahasa Indonesia. Berbagai kontroversi timbul akibat hadirnya golongan yang dinilai berbeda dari ajaran Islam pada umunya ini, terutama dalam persoalan klaim terhadap kenabian. Hadirnya terjemahan al-Qur’an versi Ahmadiyah dengan judul Quranummajid yang ditulis oleh Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad menuai respon yang beragam dari kalangan masyarakat Islam Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penafsiran Golongan Ahmadiyah dalam kitab Quranummajid terhadap ayat-ayat khatam al-Anbiya’. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan kepustakaan (library research). Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa dalam kitab tafsir Ahmadiyah, yaitu kitab Quranummajid disebutkan bahwa Nabi muhammad sebagai khatam al-anbiya’ memiliki arti bahwa beliau adalah stempel para Nabi. Artinya, semua Nabi mestilah mendapakan stempel bukti sahnya kenabian dari beliau. Ahmadiyah mengungkap bahwa ini bukan berarti Nabi Muhammad adalah Nabi yang terakhir. Ahmadiyah sangat memercayai bahwa kenabian masih tetap berlanjut sampai kiamat datang. Mereka meyakini bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah Nabi yang diutus oleh Allah setelah Nabi Muhammad yang melanjutkan syari’at Nabi, bukan membawa syariat baru.
Implikasi Kritik Abdul Syakur Yasin Terhadap Terjemahan Al-Qur'an Kementrian Agama di Media Sosial
Muhammad Faisal
At-Tahfidz: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 4 No. 2 (2023): Juni 2023
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.53649/at-tahfidz.v4i2.359
Artikel ini akan membahas tentang kritik Abdul Syakur Yasin, seorang tokoh Muslim Indonesia, terhadap terjemahan Al-Qur’an versi Kementerian Agama (Kemenag RI). Video Syakur ditonton oleh banyak orang di media sosial. Menurutnya, terjemah basmalah dan kata jamal dalam QS. Al-A’raf: 40 bermasalah. Melihat persoalan ini setidaknya ada tiga hal yang perlu dikaji: Pertama, bagaimana kritik Abdul Syakur Yasin terhadap terjemah Al-Qur’an Kemenag?. Kedua, apa saja faktor yang melatarbelakanginya. Ketiga, bagaimana implikasi teoretis dari kritik tersebut?. Guna menjawab tiga hal tersebut, artikel ini menggunakan model penelitian kualitatif. Dengan juga menerapkan pembacaan komparatif, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kritik Abdul Syakur Yasin terhadap terjemahan Al-Qur’an tidak memiliki implikasi teoretis yang serius dikarenakan hanya soal perbedaan sudut pandang semata yang wajar dalam perbedaan penafsiran. Artinya, kritik tersebut tidak merusak makna, baik makna basmalah maupun kata jamal dalam QS. Al-A’raf: 40.
Fiqh Lingkungan: Analisis Atas Qs. Ar-Rum’ [30]: 41 Prespektif Maqasidi
Matsna Afwi Nadia;
M. Riyan Hidayat
At-Tahfidz: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 5 No. 1 (2023): Desember 2023
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.53649/at-tahfidz.v5i1.360
Konservasi lingkungan telah menjadi salah satu masalah terpenting dalam perhatian manusia zaman sekarang. Dalam diskursus Al-Qur’an sudah mulai dilakukan aktifitas penafsiran yang mengarah ke hal tersebut. Artikel ini mengkaji permasalahan konservasi lingkungan atas QS. Ar-Rum’ [30]: 41 dengan menggungakan metode tafsir maqashidi. Artikel ini menemukan bahwa deskripsi ayat menunjukkan cakupan penjagaan keberlangsungan kehidupan generasi manusia (hifdz al-bi’ah) yang ditunjukkan dengan konservasi lingkungan. Keberlangsungan kehidupan manusia menjadi tujuan utama (ghayah) yang dihadirkan melalui diksi dampak kerusakan alam oleh manusia (wasilah). Dampak terjadinya kerusakan lingkungan dalam kehidupan sehari-hari disebabkan oleh ulah tangan manusia, yang menegaskan urgensi untuk menjaga dan melestarikan alam demi kelangsungan hidup kita dan generasi mendatang.