cover
Contact Name
I Made Adi Widnyana
Contact Email
imadeadiwidnyana7@gmail.com
Phone
+6285237832582
Journal Mail Official
ijolares@gmail.com
Editorial Address
Jl. Pandu No. 48, Sumerta Kelod, Kota Denpasar Bali 80239
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Indonesian Journal of Law Research
Published by CV Tirta Pustaka Press
ISSN : 30251540     EISSN : 2988375X     DOI : https://doi.org/10.60153/ijolares
Core Subject : Social,
IJOLARES: Indonesian Journal of Law Research is an open access and peer-reviewed journal that aims to offer an international academic platform for cross-border legal research in various governance policies and civil rights law, especially in developing and developing countries. This may include but is not limited to areas such as: Civil Law; Criminal Law; Procedural Law; Constitutional Law and Administrative Law; Customary Law; Human Rights Law; Law and Society; Governance of Legal Pluralism; Other sections related to contemporary issues in legal science.
Arjuna Subject : Ilmu Sosial - Hukum
Articles 35 Documents
Polemik Sengketa Lahan Green Village Bekasi Tantangan Penegakan Hukum dan Perlindungan Hak Kepemilikan Warga Marsha Merlina Hakim
IJOLARES: Indonesian Journal of Law Research Vol. 4 No. 1 (2026): IJOLARES : Indonesian Journal of Law Research
Publisher : CV Tirta Pustaka Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.60153/ijolares.v4i1.181

Abstract

Penelitian ini mengkaji sengketa lahan di Perumahan Green Village, Bekasi, sebagai studi kasus untuk menganalisis tantangan penegakan hukum agraria dan perlindungan hak kepemilikan warga dalam perspektif kepastian hukum dan keadilan sosial. Sengketa ini muncul akibat adanya perbedaan klaim atas kepemilikan dan batas lahan antara pemilik tanah dan pihak pengembang PT Surya Mitratama Persada (SMP), yang kemudian berkembang menjadi proses hukum. Eksekusi putusan Pengadilan Negeri Bekasi memunculkan ketegangan normatif antara prinsip kepastian hukum dalam pelaksanaan putusan dan jaminan perlindungan hak dasar warga atas hunian yang layak. Konflik ini menimbulkan ketegangan sosial dan memunculkan tuntutan hukum dari warga terhadap pengembang, baik secara perdata maupun pidana. Keterlibatan Pemerintah Kota Bekasi sebagai mediator merefleksikan batas efektivitas kewenangan pemerintah daerah dalam penyelesaian sengketa pertanahan di tengah konflik antara kepastian hukum dan perlindungan hak warga. Temuan penelitian ini menegaskan, bahwa ketidakterpaduan antara kepastian hukum formal dan perlindungan hak warga dalam praktik tata kelola pertanahan menjadi akar persoalan sengketa, sehingga reformulasi pendekatan penegakan hukum agraria berbasis fungsi sosial tanah menjadi kebutuhan mendesak. Penyelesaian yang tepat diharapkan dapat mencegah terulangnya konflik serupa dan menjamin kepastian hukum serta kesejahteraan warga di kawasan perkotaan.
The Intertextuality of In Dubio Pro Reo and In Dubio Pro Natura in the Occurrence of Environmental Crimes Vincentius Patria Setyawan
IJOLARES: Indonesian Journal of Law Research Vol. 4 No. 1 (2026): IJOLARES : Indonesian Journal of Law Research
Publisher : CV Tirta Pustaka Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.60153/ijolares.v4i1.216

Abstract

Despite the increasing prosecution of environmental crimes, environmental criminal law scholarship has yet to systematically address how the presumption of innocence, embodied in the maxim in dubio pro reo, operates in cases characterized by scientific uncertainty and diffuse ecological harm, creating a doctrinal gap in balancing procedural safeguards with ecological protection. While this principle safeguards the rights of the accused, its rigid application often conflicts with the need for ecological justice in environmental crime cases, where the victims are not individuals but ecosystems themselves. The emerging principle in dubio pro natura, which promotes environmental protection as a legal priority in ambiguous situations, offers a counterbalance but remains underdeveloped in doctrinal formulation, theoretical grounding, and consistent judicial application. This study argues for a context-sensitive interpretative framework that reconciles in dubio pro reo and in dubio pro natura in the adjudication of environmental crimes. Adopting a normative juridical method grounded in doctrinal legal analysis, this study examines statutory provisions, judicial decisions, and scholarly interpretations at both national and international levels. The findings identify a doctrinal inconsistency affecting evidentiary standards, burden of proof, and preventive enforcement mechanisms In several cases, the application of in dubio pro reo has undermined preventive environmental enforcement, while the potential of in dubio pro natura remains largely rhetorical. The study concludes that a balanced and context-sensitive integration of both principles is necessary to optimize justice, not only for human defendants but also for nature as a legal subject, particularly in prosecuting complex environmental crimes.
Pacta Sunt Servanda Principles: Implementation in Agreements Managing Unanticipated Circumstances Dahris Siregar; Karolina Sitepu; Khairun Na’im
IJOLARES: Indonesian Journal of Law Research Vol. 4 No. 1 (2026): IJOLARES : Indonesian Journal of Law Research
Publisher : CV Tirta Pustaka Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.60153/ijolares.v4i1.262

Abstract

Conventional law is built on the idea of pacta sunt servanda, which means that both sides must follow through on their deal. The study analyzes the application and limits of the pacta sunt servanda principle in cases of unforeseen circumstances, particularly economic hardship, and the legal protection available to the parties. This study uses a normative legal approach by examining contract law provisions, the doctrine of hardship, and selected Indonesian Supreme Court decisions over the past decade. Although the pacta sunt servanda concept is formally binding, it can be overturned in very rare cases of foresight, the ideals of good faith and suitability, as well as Article 1338 paragraph 3 of the Civil Code.Although Article 1338(1) of the Civil Code affirms that agreements are binding, the pacta sunt servanda principle is not absolute and must be balanced with fairness and good faith. Indonesian judges have a tendency to recognize although the theory of  unforeseen circumstances is meant to stop extreme unfairness, the most important rule for keeping commercial ties steady and clear is still "pacta sunt servanda. It is suggested that parties to an agreement plan for the chance of things changing by including suffering, force majeure, or rewriting methods in their contracts. This will make the answer simple and easier to measure when something unexpected happens. This study recommends that every agreement include clear hardship or force majeure clauses. It also suggests that Indonesian law should regulate unforeseen circumstances more clearly to ensure legal certainty for both parties.
Pancasila sebagai Grundnorm dalam Pembaharuan Hukum Pidana Indonesia I Gede Sujana; I Gusti Ngurah Santika
IJOLARES: Indonesian Journal of Law Research Vol. 4 No. 1 (2026): IJOLARES : Indonesian Journal of Law Research
Publisher : CV Tirta Pustaka Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.60153/ijolares.v4i1.264

Abstract

Pancasila secara konstitusional diposisikan sebagai dasar negara dan sumber dari segala sumber hukum di Indonesia, yang dalam perspektif teori hukum dapat dipahami sebagai grundnorm. Kedudukan tersebut menuntut agar seluruh pembentukan dan pembaharuan hukum nasional, termasuk hukum pidana, berlandaskan nilai-nilai Pancasila secara substantif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara kritis sejauh mana nilai-nilai Pancasila sebagai grundnorm terwujud dalam perumusan norma dan kebijakan pemidanaan dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, khususnya terkait aspek proporsionalitas pidana, perlindungan hak asasi manusia, dan pembatasan kewenangan negara. Penelitian ini menggunakan metode hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan, konseptual, dan filosofis, dengan menganalisis ketentuan-ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana berdasarkan kriteria kesesuaian terhadap nilai keadilan substantif, kemanusiaan, dan pembatasan kekuasaan negara sebagai parameter operasional Pancasila. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun Pancasila diakui sebagai landasan filosofis, beberapa ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana khususnya terkait perluasan delik dan dominasi pidana penjara belum sepenuhnya mencerminkan prinsip kemanusiaan dan proporsionalitas, sehingga implementasinya masih bersifat deklaratif. Terdapat kesenjangan antara idealitas Pancasila yang menekankan keadilan substantif, kemanusiaan, dan pembatasan kekuasaan negara dengan realitas pembaharuan hukum pidana yang masih dipengaruhi paradigma positivistik dan berorientasi pada kepastian hukum formal. Penelitian ini menegaskan, bahwa penguatan Pancasila sebagai grundnorm memerlukan perumusan indikator normatif berbasis nilai kemanusiaan dan keadilan substantif dalam legislasi, penataan ulang kebijakan pemidanaan yang lebih proporsional, serta pengujian konstitusionalitas norma pidana agar selaras dengan prinsip Pancasila dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.
Desain Kelembagaan Penyelenggara Pemilu dalam Perspektif Hukum Tata Negara Demokratis Indonesia I Wayan Kandia
IJOLARES: Indonesian Journal of Law Research Vol. 4 No. 1 (2026): IJOLARES : Indonesian Journal of Law Research
Publisher : CV Tirta Pustaka Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.60153/ijolares.v4i1.266

Abstract

Dalam negara demokrasi konstitusional, pemilihan umum tidak hanya berfungsi sebagai sarana perwujudan kedaulatan rakyat, tetapi juga sebagai mekanisme konstitusional yang sangat ditentukan oleh efektivitas desain kelembagaan penyelenggaranya. Dalam konteks tersebut, desain kelembagaan penyelenggara pemilu memiliki peran strategis untuk menjamin terselenggaranya pemilu yang demokratis, berintegritas, dan berkeadilan. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji secara kritis desain kelembagaan penyelenggara pemilu di Indonesia dalam perspektif hukum tata negara demokratis, khususnya untuk mengidentifikasi problem konstitusional dalam pembagian kewenangan dan relasi antar lembaga penyelenggara pemilu. Penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif yang menggunakan pendekatan perundang-undangan, konseptual, dan perbandingan untuk menilai konsistensi desain kelembagaan penyelenggara pemilu Indonesia dengan prinsip-prinsip demokrasi konstitusional yang berkembang secara universal. Bahan hukum yang dianalisis meliputi Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, peraturan perundang-undangan terkait pemilu, putusan Mahkamah Konstitusi, serta literatur hukum tata negara dan demokrasi konstitusional. Analisis dilakukan secara kualitatif dengan teknik preskriptif-argumentatif. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa desain kelembagaan penyelenggara pemilu di Indonesia secara normatif memang mencerminkan prinsip independensi dan checks and balances melalui keberadaan KPU, Bawaslu, dan DKPP, namun secara struktural masih menyisakan persoalan serius dalam pembagian kewenangan dan pola relasi kelembagaan.

Page 4 of 4 | Total Record : 35