cover
Contact Name
Wulan Purnama Sari
Contact Email
wulanp@fikom.untar.ac.id
Phone
+6281584336003
Journal Mail Official
kiwari@untar.ac.id
Editorial Address
Jl. Letjen S. Parman No.1 Gedung Utama Lantai 11 Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Kiwari
ISSN : -     EISSN : 28278763     DOI : 10.24912/ki
Core Subject : Humanities, Social,
Kiwari (EISSN: 2827-8763) merupakan jurnal hasil karya tulis dari mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara. Jurnal ini menjadi forum publikasi bagi hasil karya mahasiswa. Artikel yang diterbitkan masih jauh dari sempurna dan terbuka untuk saran serta kritik yang membangun. Kiwari menerbitkan artikel hasil penelitian dalam bidang ilmu komunikasi, yang meliputi komunikasi politik, komunikasi antar budaya, komunikasi bisnis, komunikasi digital, komunikasi antar pribadi, komunikasi organisasi, dll.
Articles 506 Documents
Front Matters Vol. 5 No. 2 Lydia Irena
Kiwari Vol. 5 No. 2 (2026): Kiwari
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ki.v5i2.37561

Abstract

Front Matters Vol. 5 No. 2
Komunikasi Interpersonal dalam Pengalaman Kehilangan Figur Ayah Agnes Rosandi; Sinta Paramita
Kiwari Vol. 5 No. 2 (2026): Kiwari
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ki.v5i2.37597

Abstract

This research explores the role of interpersonal communication in early adults who experienced fatherlessness. The study focuses on how the absence of a father figure affects individual emotional formation, communication patterns, and social relationships. Using the constructivist paradigm and qualitative descriptive method, this research involved informants who experienced the absence of a father figure during their growth period. Data were collected through in-depth interviews and analyzed thematically. The results show that fatherlessness impacts the ability to express emotions, build trust, and form meaningful relationships. The findings also reveal coping mechanisms such as self-reliance, self-talk, and selective communication as adaptive responses. In conclusion, interpersonal communication plays a vital role as a medium for self-expression, emotional regulation, and social adaptation among early adults with fatherless experiences. Penelitian ini membahas peran komunikasi interpersonal pada individu dewasa awal yang mengalami kehilangan figur ayah. Fokus penelitian ini adalah memahami bagaimana ketiadaan figur ayah mempengaruhi pembentukan emosional, pola komunikasi, dan hubungan sosial individu. Penelitian menggunakan paradigma konstruktivis dengan metode deskriptif kualitatif. Subjek penelitian adalah informan yang kehilangan figur ayah sejak masa pertumbuhan. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dan dianalisis menggunakan pendekatan tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kehilangan figur ayah berpengaruh terhadap kemampuan mengekspresikan emosi, membangun kepercayaan, serta menjalin hubungan interpersonal yang bermakna. Selain itu, ditemukan mekanisme coping seperti kemandirian, self-talk, dan komunikasi selektif sebagai bentuk adaptasi psikologis. Kesimpulannya, komunikasi interpersonal memiliki peran penting sebagai sarana ekspresi diri, pengaturan emosi, dan penyesuaian sosial bagi dewasa awal yang kehilangan figur ayah.
Kredibilitas dan Pembingkaian Influencer Politik dalam Pembentukan Opini Gen Z pada Demonstrasi Jakarta 2025 Ahmad Dzaki Khairullah; Rezi Erdiansyah
Kiwari Vol. 5 No. 2 (2026): Kiwari
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ki.v5i2.37598

Abstract

The growing use of social media among Gen Z has made political influencers key players in shaping public opinion in the digital sphere. Today, influencers not only serve as information disseminators but also as advocates for specific issues through content that can influence how audiences perceive political events. This study aims to examine the influence of political influencers’ credibility and issue framing on Gen Z’s opinions regarding the demonstrations in Jakarta during August–September 2025. The research employs a quantitative correlational approach using purposive sampling. Data collection was conducted via a social media survey targeting individuals aged 18–25. The results indicate that influencer credibility and issue framing significantly influence Gen Z’s opinions, with credibility being the most dominant variable. This study underscores the importance of the quality of information sources and issue presentation in digital political communication and offers practical benefits for strengthening media literacy among the younger generation. This research is valuable for advancing communication studies, particularly regarding influencer credibility, issue framing, and public opinion. Fenomena meningkatnya penggunaan media sosial di kalangan Gen Z menjadikan influencer politik sebagai aktor penting dalam proses pembentukan opini publik di ruang digital. Saat ini influencer tidak hanya berperan sebagai penyampai informasi, namun berperan sebagai penekan isu melalui konten-konten yang dapat memengaruhi cara audiens memahami peristiwa politik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kredibilitas influencer politik dan framing isu terhadap opini Gen Z mengenai demonstrasi di Jakarta pada Agustus–September 2025. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif korelasional, dengan teknik purposive sampling. Pengambilan data dilakukan melalui metode survei melalui media sosial berusia 18-25 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kredibilitas influencer dan framing isu berpengaruh signifikan terhadap opini Gen Z, dengan kredibilitas sebagai variabel yang paling dominan. Penelitian ini menegaskan pentingnya kualitas sumber informasi dan penyajian isu dalam komunikasi politik digital serta memberikan manfaat praktis bagi penguatan literasi media generasi muda. Penelitian ini berguna untuk membantu pengembangan ilmu komunikasi terutama pada kredibilitas influencer, framing isu, dan opini publik.
Pengaruh Personal Branding Komedian terhadap Minat Pembelian Tiket Pertunjukan Komedi Arifriyanto Wibowo; Farid Rusdi
Kiwari Vol. 5 No. 2 (2026): Kiwari
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ki.v5i2.37599

Abstract

The growth of the digital entertainment industry has prompted public figures to build strong personal branding to influence audience consumption decisions, including in the context of purchasing tickets for comedy shows. This study examines the extent to which Indonesian comedian Raditya Dika’s personal branding, developed through Instagram, can increase interest in purchasing tickets for comedy shows advertised via the @ekresaofficial account. This study aims to evaluate the impact of personal branding based on self-image theory. This study employs a quantitative methodology using a survey technique. The findings indicate that Raditya Dika’s personal branding exerts a beneficial and significant influence on audiences’ propensity to purchase comedy show tickets. These results reinforce the notion that a stronger personal brand positively correlates with audiences’ propensity to make purchasing decisions. Thus, personal branding is proven to be a crucial element in shaping consumer behavior within the digital entertainment sector. Pertumbuhan industri hiburan digital mendorong tokoh publik untuk membangun personal branding yang kuat guna memengaruhi keputusan konsumsi audiens, termasuk dalam konteks pembelian tiket pertunjukan komedi. Penelitian ini mengkaji sejauh mana personal branding komedian Indonesia, Raditya Dika, yang dikembangkan melalui media Instagram, dapat meningkatkan minat untuk membeli tiket pertunjukan komedi yang diiklankan melalui akun @ekresaofficial. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dampak personal branding yang berlandaskan teori citra diri. Studi ini menggunakan metodologi kuantitatif, dengan menggunakan teknik survei. Temuan menunjukkan bahwa personal branding Raditya Dika memberikan pengaruh yang bermanfaat dan signifikan terhadap kecenderungan penonton untuk membeli tiket pertunjukan komedi. Hasil ini memperkuat anggapan bahwa citra pribadi yang lebih baik berkorelasi positif dengan kecenderungan penonton untuk mengambil keputusan pembelian. Dengan demikian, personal branding terbukti sebagai elemen penting dalam membentuk perilaku konsumen di sektor hiburan digital.
Peran Konten Interaktif Instagram @chatimeindo dalam Membangun Brand Image dan Meningkatkan Engagement Axel Jagwani; Moehammad Gafar Yoedtadi
Kiwari Vol. 5 No. 2 (2026): Kiwari
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ki.v5i2.37600

Abstract

This study focuses on analyzing how customer engagement among followers of Chatime Indonesia’s Instagram account is influenced by two main variables: brand image and interactive advertising. The theoretical framework of this research is grounded in the concepts of interactive marketing, branding theory, and consumer engagement. The research methodology employed a quantitative approach involving 120 participants who are followers of Chatime Indonesia’s Instagram account. The research findings confirm that there is a positive and significant impact of interactive advertising content and brand image on customer engagement. The magnitude of the influence of these two independent variables explains 76.5% of the variation in consumer engagement. This underscores the urgency of content personalization strategies and branding reinforcement to maintain competitiveness and foster long-term relationships with consumers amid the current competition in the modern beverage industry. Studi ini difokuskan pada analisis bagaimana keterlibatan pelanggan pada pengikut akun Instagram Chatime Indonesia dipengaruhi oleh dua variabel utama, yakni citra merek dan iklan yang bersifat interaktif. Landasan teoritis riset ini berpijak pada konsep pemasaran interaktif, teori branding, serta keterlibatan konsumen. Metodologi penelitian dijalankan melalui pendekatan kuantitatif terhadap 120 partisipan yang merupakan pengikut instagram Chatime Indonesia. Temuan riset mengonfirmasi bahwa terdapat dampak positif dan signifikan dari konten iklan interaktif serta brand image terhadap customer engagement. Besarnya pengaruh kedua variabel independen tersebut mampu menjelaskan 76,5% variasi dalam keterlibatan konsumen. Hal ini menggarisbawahi urgensi strategi personalisasi konten dan penguatan branding demi menjaga daya saing serta membina relasi jangka panjang dengan konsumen di tengah kompetisi industri minuman kekinian saat ini.
Strategi Storytelling dalam Media Sosial TikTok Aylmer Zhang Guo Xiong; Diah Ayu Candraningrum
Kiwari Vol. 5 No. 2 (2026): Kiwari
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ki.v5i2.37602

Abstract

Business owners must have a strong strategy for promoting their products in order to compete in the market; one such business is Multi-Level Marketing. This study examines the business strategy employed by Rudy Sanusi, a distributor for the MLM company BE International. The distributor uses the social media platform TikTok (@rudy.s4nus1) to reach his target audience and encourage consumers to purchase the flagship product Aulora. This study aims to analyze the storytelling techniques employed on the TikTok account. The theories and concepts utilized include marketing communication, the narrative paradigm, media richness, generational differences, and storytelling techniques. This study employs a qualitative research approach in the form of a case study. Observations were conducted on uploaded content, along with in-depth interviews with the account owner, an economist, and product buyers from four different generations. This study shows that the audience has a deep interest in testimonial content uploaded to TikTok accounts. This not only confirms the characteristics of testimonial content but also provides an overview of such content. Pelaku bisnis harus memiliki strategi yang kuat dalam mempromosikan produk agar dapat bersaing dalam pemasarannya, salah satunya bisnis Multi-Level Marketing. Penelitian ini mengkaji strategi bisnis yang dilakukan Rudy Sanusi, salah satu distributor MLM, BE International. Distributor menggunakan media sosial TikTok @rudy.s4nus1untuk menjangkau sasaran audiens dan konsumennya agar membeli produk unggulan Aulora. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis teknik storytelling yang dilakukan pada akun TikTok. Teori dan konsep yang digunakan yakni komunikasi pemasaran, paradigma naratif, kekayaan media, perbedaan generasi, dan teknik storytelling. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif berupa studi kasus. Observasi dilakukan pada konten yang diunggah, wawancara mendalam pemilik akun, ahli ekonomi, dan pembeli-pembeli produk dari empat generasi berbeda. Penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat ketertarikan mendalam khalayak pada konten testimoni yang diunggah pada akun TikTok. Hal tersebut tidak hanya memberikan konfirmasi mengenai karakteristik dari konten testimoni, melainkan juga memberikan gambaran tentang konten testimoni.
Penggunaan Voice Over sebagai Elemen Audiovisual dalam Konten Fashion TikTok dari Perspektif Audiens Perempuan Gen Z Definta Aurelia Nurul Fauziah; Gregorius Genep Sukendro
Kiwari Vol. 5 No. 2 (2026): Kiwari
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ki.v5i2.37603

Abstract

TikTok has emerged as one of the dominant audiovisual platforms among Generation Z, characterized by short-form videos that integrate visual aesthetics, audio elements, and algorithm-driven personalization. This study examines the role of voice-over narration as an audiovisual communication strategy in fashion-related TikTok content. Specifically, the research analyzes four vocal dimensions—intonation, narrative structure, vocal personality, and emotional expression—and explores how these elements influence message clarity, narrative coherence, audience engagement, and the construction of creator identity. The study employs a descriptive qualitative approach through content observation of fashion creator Bella Clarissa and in-depth interviews with six Generation Z TikTok users and one fashion content creator. The findings demonstrate that voice-over narration functions as a narrative guide that mediates the relationship between visual presentation and audience interpretation, thereby enhancing the coherence and fidelity of fashion storytelling in short-form video content. Intonation and emotional cues contribute significantly to the construction of mood and affective engagement, while vocal personality strengthens perceptions of authenticity and reinforces creator branding and identity. The study further considers gender-based perspectives on emotional processing, particularly the tendency of female Generation Z audiences to exhibit greater sensitivity toward emotional and tonal nuances in vocal delivery. This perspective provides deeper insight into how voice-over narration shapes emotional resonance and audience connection within digital fashion communication. The study concludes that voice-over narration should not be understood merely as a supplementary audio feature, but rather as a central communicative strategy that enhances narrative comprehension, emotional engagement, and aesthetic appreciation in TikTok-based fashion content. These findings contribute to broader discussions on audiovisual communication, digital storytelling, and identity construction in contemporary social media environments. TikTok menjadi salah satu platform audiovisual paling berpengaruh di kalangan Gen Z dengan format video pendek yang menekankan perpaduan visual kreatif, musik, dan suara. Penelitian ini mengkaji fungsi voice over sebagai elemen audiovisual dalam konten fashion TikTok, dengan fokus pada empat komponen utama: intonasi, narasi, personalitas suara, dan ekspresi emosi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif melalui observasi konten kreator fashion Bella Clarissa (@bellaclrs_) serta wawancara mendalam dengan enam mahasiswa Gen Z dan seorang fashion content creator. Hasil penelitian menunjukkan bahwa voice over berperan sebagai pengikat narasi yang membantu audiens memahami konteks visual, memperkuat makna, serta menciptakan kohesi antara suara dan gambar. Intonasi menentukan daya tarik awal konten, narasi membantu proses interpretasi, personalitas suara membangun identitas kreator, sementara emosi vokal menambah kedalaman pengalaman menonton. Penelitian ini juga mempertimbangkan karakteristik audiens perempuan Gen Z yang menurut teori Gender Differences in Emotional Processing cenderung lebih teliti dalam menangkap detail vokal, sehingga memberikan pemaknaan yang lebih mendalam terhadap penggunaan voice over. Penelitian ini menyimpulkan bahwa voice over bukan hanya pelengkap visual, tetapi merupakan strategi komunikasi penting dalam membentuk kejelasan pesan, identitas kreator, serta resonansi emosional dalam konten fashion digital.
Personalisasi Iklan dan Brand Image dalam Meningkatkan Loyalitas Mahasiswa Gen Z Devin Kenneth; Gafar Yoedtadi
Kiwari Vol. 5 No. 2 (2026): Kiwari
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ki.v5i2.37604

Abstract

The role of the internet has evolved beyond a mere communication medium into a dominant transactional and lifestyle platform, particularly among younger generations. This study examines the influence of personalized advertising and brand image on consumer loyalty among Generation Z students at Tarumanagara University. Drawing upon theories of advertising personalization, brand image, and consumer loyalty, the study employs a quantitative research design. Data were collected from 118 respondents selected through purposive sampling and analyzed using validity and reliability testing, followed by multiple regression analysis with SPSS software. The findings reveal that both advertising personalization and brand image significantly affect consumer loyalty, with the model explaining 75.3% of the variance in customer loyalty. These results highlight the strategic importance of branding and personalized communication within the e-commerce ecosystem. Furthermore, the study demonstrates that digital communication factors—such as interactivity, user engagement intensity, and information accuracy—play a crucial role in strengthening consumer loyalty among Generation Z. The study contributes to the growing literature on digital marketing communication by emphasizing the effectiveness of personalized advertising strategies in fostering long-term customer relationships in the digital era. Fungsi internet kini telah bergeser jauh melampaui sekadar sarana komunikasi; ia telah bermetamorfosis menjadi arena transaksi utama yang secara dominan membentuk dan mendikte gaya hidup kaum muda. Studi ini difokuskan untuk menginvestigasi dampak dari personalisasi iklan serta citra merek terhadap tingkat kesetiaan konsumen, secara spesifik pada kalangan mahasiswa Gen Z di lingkungan Universitas Tarumanagara. Landasan konseptual yang digunakan berpusat pada teori-teori mengenai kustomisasi iklan, persepsi merek, dan loyalitas konsumen. Melalui pendekatan kuantitatif, data dihimpun dari 118 responden yang disaring menggunakan teknik purposive sampling. Proses pengolahan data mencakup uji validitas, reliabilitas, hingga analisis regresi dengan bantuan perangkat lunak SPSS. Temuan empiris mengonfirmasi bahwa kedua variabel independen tersebut memiliki dampak signifikan, di mana koefisien determinasi mencatat angka 75,3% dalam menjelaskan variasi loyalitas pelanggan. Hal ini menggarisbawahi urgensi strategi branding dan personalisasi pesan dalam ekosistem e-commerce. Selain itu terjelaskan juga elemen-elemen komunikasi digital, seperti tingkat interaktivitas, intensitas pelibatan pengguna, serta akurasi informasi, memegang peranan vital dalam mengokohkan loyalitas.
Pemaknaan Pesan Self Love Penggemar BTS dalam Lagu "Answer: Love Myself" Dhea Aurel; Lusia Savitri Setyo Utami
Kiwari Vol. 5 No. 2 (2026): Kiwari
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ki.v5i2.37605

Abstract

Music functions not only as a form of entertainment but also as a symbolic medium through which emotional messages are communicated and individuals’ self-understanding is shaped. One prominent theme in contemporary popular music is self-love, as exemplified in Answer: Love Myself by BTS. This study aims to explore how BTS fans, known as ARMY, interpret and internalize the self-love message conveyed in the song’s lyrics. Employing a qualitative phenomenological approach, the study examines the subjective experiences of six active BTS fans. Data were collected through in-depth interviews and complemented by expert insights from a psychologist to enrich the interpretive analysis. The findings reveal that the interpretation of the song’s self-love message is shaped by participants’ cognitive schemas, prior emotional experiences, and the social support they receive from the ARMY community. The lyrics are perceived as affirming, emotionally warm, non-patronizing, and accepting, thereby reducing listeners’ psychological defensiveness and enabling deeper emotional engagement. The process of internalization occurs through self-reflection, heightened self-awareness, and the integration of the song’s meaning into individuals’ self-concept. This study underscores the significant role of music as an effective symbolic and emotional medium in fostering self-love and emotional resilience among adolescents and young adults. It further contributes to broader discussions on the communicative and therapeutic potential of popular music in supporting psychological well-being and identity development. Musik berperan sebagai medium simbolik yang mampu menyampaikan pesan emosional dan membentuk pemaknaan individu terhadap diri sendiri. Salah satu pesan yang menonjol dalam musik populer adalah self-love, seperti yang terdapat dalam lagu “Answer: Love Myself” oleh BTS. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana penggemar BTS, yang dikenal sebagai ARMY, memaknai pesan self-love yang disampaikan dalam lirik lagu tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologi dengan melibatkan enam informan yang merupakan penggemar BTS aktif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan diperkuat dengan analisis narasumber ahli dari seorang psikolog. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemaknaan pesan self-love dipengaruhi oleh skema kognitif, pengalaman emosional masa lalu, serta dukungan sosial dari komunitas ARMY. Lirik lagu dipersepsikan sebagai pesan yang positif, hangat, tidak menggurui, dan menerima, sehingga membantu menurunkan mekanisme defensif pendengarnya. Pesan tersebut kemudian diinternalisasi melalui refleksi diri, peningkatan kesadaran diri, serta integrasi makna ke dalam konsep diri individu. Studi ini menegaskan peran musik sebagai medium efektif dalam memfasilitasi pengembangan self-love pada remaja dan dewasa muda.
Persepsi Followers pada Personal Branding Perempuan Berturban di Instagram: Studi Fenomenologi Dyah Ajeng Rayi Pangestuti; Muhammad Adi Pribadi
Kiwari Vol. 5 No. 2 (2026): Kiwari
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ki.v5i2.37606

Abstract

Social media has become a strategic space for individuals to construct and communicate their public identities. Instagram, as a dominant visual platform, enables users to present personal images through visual content, narratives, and interactions with audiences. In this context, personal branding is no longer limited to public figures but has increasingly developed among individual content creators. One notable phenomenon is the emergence of turbaned women who consistently build their personal branding on social media. The Instagram account @rossafarahadiba, known as Ocha, is widely recognized through the identity of “the turbaned woman,” which is continuously displayed across her content. The turban functions not only as a personal style but also as a distinguishing symbol that shapes followers’ perceptions of her identity. However, previous studies have predominantly examined personal branding from the creator’s perspective, while research focusing on followers’ perceptions particularly toward turbaned women remains limited. This study aims to understand how followers interpret the personal branding of a turbaned woman on Instagram. The research employs a qualitative approach using a phenomenological method. The research subjects are followers of @rossafarahadiba who have followed the account for at least 5–7 months and actively engage through comments, likes, or story replies. Data were collected through in-depth interviews, documentation, and literature review, with data validity ensured through source triangulation. Data analysis is based on four dimensions of personal branding: clarity, consistency, credibility, and visibility. Media sosial telah menjadi ruang strategis bagi individu untuk membangun dan mengomunikasikan identitas diri secara publik. Instagram, sebagai platform visual yang dominan, memungkinkan pengguna menampilkan citra personal melalui visual, narasi, dan interaksi dengan audiens. Dalam konteks ini, personal branding tidak hanya dimiliki oleh figur publik, tetapi juga berkembang di kalangan konten kreator individu. Salah satu fenomena yang menarik adalah kemunculan perempuan berturban yang membangun personal branding secara konsisten di media sosial. Akun Instagram @rossafarahadiba atau Ocha dikenal melalui identitas “si cewek berturban” yang ditampilkan secara berkelanjutan dalam kontennya. Turban tidak hanya berfungsi sebagai gaya personal, tetapi juga menjadi simbol pembeda yang membentuk persepsi followers terhadap dirinya. Namun, penelitian terdahulu lebih banyak membahas personal branding dari sudut pandang kreator, sementara kajian yang menempatkan persepsi followers khususnya terhadap perempuan berturban masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana followers memaknai personal branding perempuan berturban di Instagram. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi. Subjek penelitian adalah followers @rossafarahadiba yang telah mengikuti akun tersebut selama minimal 5–7 bulan dan aktif berinteraksi melalui komentar, likes, atau reply story. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, dokumentasi, dan studi pustaka, dengan keabsahan data diuji melalui triangulasi sumber. Analisis data menggunakan teori empat dimensi personal branding: clarity, consistency, credibility, dan visibility.