cover
Contact Name
Wulan Purnama Sari
Contact Email
wulanp@fikom.untar.ac.id
Phone
+6281584336003
Journal Mail Official
kiwari@untar.ac.id
Editorial Address
Jl. Letjen S. Parman No.1 Gedung Utama Lantai 11 Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Kiwari
ISSN : -     EISSN : 28278763     DOI : 10.24912/ki
Core Subject : Humanities, Social,
Kiwari (EISSN: 2827-8763) merupakan jurnal hasil karya tulis dari mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara. Jurnal ini menjadi forum publikasi bagi hasil karya mahasiswa. Artikel yang diterbitkan masih jauh dari sempurna dan terbuka untuk saran serta kritik yang membangun. Kiwari menerbitkan artikel hasil penelitian dalam bidang ilmu komunikasi, yang meliputi komunikasi politik, komunikasi antar budaya, komunikasi bisnis, komunikasi digital, komunikasi antar pribadi, komunikasi organisasi, dll.
Articles 506 Documents
Analisis Efektivitas Endorsement Laneige di Instagram dalam Membangun Kepercayaan Konsumen Gen Z Harry Darmawan; Sisca Aulia
Kiwari Vol. 5 No. 2 (2026): Kiwari
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ki.v5i2.37634

Abstract

In the rapidly evolving digital era, social media marketing strategies have become one of the most widely used approaches by brands to reach a wider audience. As part of this phenomenon, this research arose from the need to understand how influencer marketing, particularly through Instagram endorsements, can shape consumer behavior and trust in the beauty industry. This study examines the influence of Laneige skincare endorsement advertising on Instagram on consumer trust among Generation Z. Instagram has become a major digital marketing medium in which influencer credibility, authenticity, and content quality play a central role in shaping audience perceptions. This research uses the source credibility theory and consumer trust framework to understand how influencer attractiveness, expertise, and brand–endorser fit contribute to trust formation. Using a quantitative survey of 403 respondents aged 17–28, data were collected through a Likert-scale questionnaire and analyzed through validity tests, reliability tests, descriptive analysis, and simple linear regression. The results show that influencer credibility, content attractiveness, and alignment between Kim Seok Jin and Laneige significantly strengthen consumer trust. The study concludes that Instagram endorsements effectively build consumer trust in skincare brands when credibility, authenticity, and content quality are well managed. Dalam era digital yang semakin berkembang pesat, strategi pemasaran melalui media sosial menjadi salah satu pendekatan yang paling banyak digunakan oleh brand untuk menjangkau audiens yang lebih luas. Sebagai bagian dari fenomena tersebut, penelitian ini lahir dari kebutuhan untuk memahami bagaimana peran influencer marketing, khususnya melalui endorsement di Instagram, memengaruhi perilaku dan kepercayaan konsumen di industri kecantikan. Latar Belakang Penelitian ini mengkaji pengaruh iklan endorsement skincare Laneige di Instagram terhadap kepercayaan konsumen, khususnya Generasi Z sebagai pengguna aktif media sosial. Instagram menjadi medium utama pemasaran digital karena influencer dianggap memiliki kedekatan emosional, kredibilitas, serta keaslian yang lebih tinggi dibandingkan dengan iklan konvensional. Penelitian ini menggunakan teori kredibilitas sumber dan konsep kepercayaan konsumen untuk melihat bagaimana daya tarik, keahlian, kepercayaan, serta kesesuaian antara brand dan influencer membentuk trust. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan survei terhadap 403 responden berusia 17–28 tahun. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner skala Likert dan dianalisis menggunakan uji validitas, reliabilitas, analisis deskriptif, serta regresi linier sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kredibilitas influencer, kualitas konten, dan kesesuaian brand endorsement berpengaruh signifikan terhadap peningkatan kepercayaan konsumen terhadap Laneige. Dengan demikian, endorsement di Instagram terbukti efektif dalam membangun kepercayaan konsumen terhadap kategori skincare.
Pola Komunikasi Kelompok dan Pengambilan Keputusan pada Tim Mobile Legends: Bang Bang Kevin S; Sisca Aulia
Kiwari Vol. 5 No. 2 (2026): Kiwari
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ki.v5i2.37635

Abstract

This study aims to analyze how a Mobile Legends: Bang Bang team applies group communication strategies to formulate and execute competitive gameplay tactics. A qualitative approach was used through in-depth interviews with five core players, a manager, and a supporting informant to explore coordination patterns that emerge during training and matches. The findings show that effective communication develops through shared playing experience, structured role division, and internal terminology that shortens instructions. The jungler and roamer hold strategic responsibility in reading game situations, setting tempo, and initiating decisions, while other players support with brief lane-based reports. Strategic adaptation occurs quickly due to stable collective understanding and consistent practice habits. Routine evaluations after scrims identify mistakes, refine communication patterns, and enhance trust among players. The results highlight that group communication influences the effectiveness of coordination and contributes to performance stability in competition. Thus, targeted communication becomes essential for building synergy, improving responsiveness, and maximizing tactical execution throughout gameplay. Additionally, emotional dynamics such as trust, pressure management, and openness to feedback support a productive working relationship and prevent internal conflict over time. These insights provide practical implications for competitive teams aiming to optimize collaboration and communication outcomes in esports contexts today. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana strategi komunikasi kelompok diterapkan oleh tim Mobile Legends Bang Bang dalam penyusunan dan pelaksanaan taktik permainan kompetitif. Pendekatan kualitatif digunakan melalui wawancara mendalam dengan lima pemain inti, satu manajer, dan satu informan pendukung untuk menggali pola koordinasi yang muncul selama latihan dan pertandingan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi efektif terbentuk melalui pengalaman bermain bersama, pembagian peran yang terstruktur, serta penggunaan istilah internal untuk mempersingkat instruksi. Jungler dan roamer memiliki tanggung jawab strategis dalam membaca situasi permainan, mengatur tempo, dan menentukan keputusan awal, sementara pemain lain mendukung dengan laporan singkat sesuai kondisi lane masing-masing. Adaptasi strategi berjalan cepat karena pemahaman kolektif yang stabil dan kebiasaan berlatih yang konsisten. Evaluasi rutin setelah scrim membantu mengidentifikasi kesalahan, memperbaiki pola komunikasi, dan meningkatkan kepercayaan antarpemain. Temuan ini menegaskan bahwa komunikasi kelompok tidak hanya memengaruhi efektivitas koordinasi, tetapi juga berperan dalam menjaga stabilitas kinerja tim dalam kompetisi. Dengan demikian, strategi komunikasi yang terarah menjadi elemen penting untuk membangun sinergi, meningkatkan responsivitas, dan memaksimalkan eksekusi taktik selama permainan berlangsung. Selain itu, penelitian ini menyoroti bahwa dinamika emosional seperti kepercayaan, kontrol tekanan, dan kemampuan menerima kritik turut mendukung hubungan kerja yang kondusif serta mencegah konflik internal dalam tim secara berkelanjutan optimal.
Tahapan Emosi dan Makna Kehilangan dalam Lirik Lagu “The Apartment We Won’t Share” Kristi Monika; Doddy Salman
Kiwari Vol. 5 No. 2 (2026): Kiwari
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ki.v5i2.37638

Abstract

The lyrics of The Apartment We Won’t Share convey a sense of loss and depict the emotional stages the character experiences through linguistic symbolism. This study applies Ferdinand de Saussure’s semiotic theory, particularly the concepts of the signifier and signified, and draws on Kübler-Ross's stages of grief. Using a qualitative descriptive method, the lyrics are analyzed as a mass communication medium that conveys emotional experiences symbolically to listeners. The analysis shows that the song represents a complex process of loss, reflecting the stages of denial, anger, bargaining, depression, and acceptance in sequence. Word symbolism, language structure, and repeated motifs in the lyrics play a crucial role in expressing the character’s emotions and psychology. The lyrics function not only as entertainment but also as a medium for communicating universal emotional experiences, providing insight into the interaction among music, psychology, and semiotics. These findings demonstrate that popular music can serve as a tool for understanding and interpreting human emotions, opening avenues for further research on the role of song lyrics in mass communication and psychological meaning-making. Lirik lagu The Apartment We Won’t Share mengandung makna kehilangan dan menampilkan tahapan emosi yang dialami tokoh melalui simbolisme bahasa. Penelitian ini menggunakan teori semiotika Ferdinand de Saussure, khususnya konsep penanda dan petanda, serta mengacu pada teori tahapan kehilangan yang dikemukakan oleh Kübler-Ross. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan menganalisis lirik lagu sebagai media komunikasi massa yang menyampaikan pengalaman emosional secara simbolik kepada pendengar. Analisis menunjukkan bahwa lagu ini merepresentasikan proses kehilangan yang kompleks, mencerminkan tahapan penolakan, kemarahan, tawar-menawar, depresi, dan penerimaan secara berurutan. Simbolisme kata, struktur bahasa, dan pengulangan motif dalam lirik berperan penting dalam mengekspresikan emosi dan psikologi tokoh. Lirik ini tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan, tetapi juga sebagai media untuk mengomunikasikan pengalaman emosional universal, sehingga memberikan wawasan tentang interaksi antara musik, psikologi, dan semiotika. Temuan ini memperlihatkan bahwa musik populer dapat menjadi alat untuk memahami dan menafsirkan emosi manusia, serta membuka ruang bagi studi lebih lanjut mengenai peran lirik lagu dalam komunikasi massa dan pemaknaan psikologis.
Pemaknaan Audiens terhadap Citra Perempuan Tangguh pada Konten Cinta Laura di Instagram dan YouTube Laura Permata; Lusia Savitri Setyo Utami
Kiwari Vol. 5 No. 2 (2026): Kiwari
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ki.v5i2.37639

Abstract

The development of social media has created new ways for audiences to interpret the image of women, particularly through content presented by public figures. Cinta Laura, as a prominent public figure, consistently delivers inspirational content on Instagram and YouTube that represents strong women. This study aims to explore and describe how audiences interpret Cinta Laura's strong female image across these platforms. Drawing on Stuart Hall’s audience reception theory, concepts of representation, image, and digital communication, the study emphasizes the active role of audiences in constructing the meanings of media messages. A qualitative descriptive approach using a phenomenological method was employed to examine audiences’ subjective experiences and interpretations, with data collected through in-depth interviews with six followers of the Instagram account @claurakiehl and subscribers to the YouTube channel Puella. Findings indicate that audiences interpret Cinta Laura’s strong female image through three positions of meaning: dominant, negotiated, and oppositional readings. Audiences perceive Cinta Laura as intelligent, independent, and principled, while also adjusting these meanings in light of personal experiences and social contexts. Some content is considered overly idealistic, highlighting that interpretations of a strong female image are subjective, dynamic, and influenced by audience backgrounds. Perkembangan media sosial telah menciptakan cara baru bagi audiens untuk memahami citra perempuan, terutama melalui konten yang disajikan oleh figur publik. Cinta Laura, sebagai salah satu figur publik, secara konsisten menyajikan konten inspiratif di Instagram dan YouTube yang merepresentasikan perempuan tangguh. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan mendeskripsikan bagaimana audiens menafsirkan citra perempuan tangguh yang ditampilkan oleh Cinta Laura melalui kedua platform tersebut. Mengacu pada teori audience reception Stuart Hall, konsep representasi, citra, dan komunikasi digital, penelitian ini menekankan peran aktif audiens dalam membentuk makna pesan media. Pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode fenomenologi digunakan untuk menggali pengalaman dan pemaknaan subjektif audiens, dengan data yang dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap enam pengikut Instagram @claurakiehl dan subscriber YouTube Puella. Hasil penelitian menunjukkan bahwa audiens menafsirkan citra perempuan tangguh Cinta Laura melalui tiga posisi pemaknaan, yakni dominant, negotiated, dan oppositional reading. Audiens melihat Cinta Laura sebagai sosok cerdas, mandiri, dan berprinsip, tetapi juga menyesuaikan makna tersebut dengan pengalaman pribadi dan konteks sosial masing-masing. Beberapa konten dianggap terlalu idealis, menegaskan bahwa pemaknaan citra perempuan tangguh bersifat subjektif, dinamis, dan dipengaruhi oleh latar belakang audiens.
Representasi Feminitas dan Kekuasaan Dalam Film Wicked: Analisis Semiotika Prulicia Maharani Nitami; Wulan Purnama Sari
Kiwari Vol. 5 No. 2 (2026): Kiwari
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ki.v5i2.37640

Abstract

This study analyzes the representation of femininity and the construction of women's power in Wicked: Part One (2024) using Roland Barthes' semiotic approach through three levels of meaning: denotation, connotation, and myth. The analysis aims to uncover how visual, narrative, and symbolic signs in the film work to construct meanings surrounding the two main characters, Glinda and Elphaba. The findings reveal a strong contrast between the ideal femininity represented by Glinda, who aligns with social norms and dominant aesthetics, and Elphaba’s position as 'the Other,' marked by physical differences and social stigma. This distinction serves not only as an aesthetic element but also as an ideological code exposing the power structure within the fictional society of Oz. The study also finds that the film presents two distinct modes of female power. Glinda exhibits power based on performativity, social acceptance, and patriarchal negotiation, whereas Elphaba demonstrates power through resistance, defiance, and efforts to subvert the stigma attached to her. These representations deconstruct the myth that obedience is the only way for women to be accepted within the social structure. Consequently, Wicked: Part One presents a counter-discourse asserting that femininity and women's power are complex, fluid, and intrinsically linked to the power relations that construct who is deemed "good" and who is labeled "wicked." Penelitian ini menganalisis representasi feminitas dan konstruksi kekuasaan perempuan dalam Wicked: Part One (2024) dengan menggunakan pendekatan semiotika Roland Barthes melalui tiga level makna, yaitu denotasi, konotasi, dan mitos. Analisis dilakukan untuk mengungkap bagaimana tanda visual, naratif, dan simbolik dalam film bekerja membentuk pemaknaan terhadap dua tokoh utama, yaitu Glinda dan Elphaba. Hasil penelitian menunjukkan adanya kontras yang kuat antara feminitas ideal yang direpresentasikan oleh Glinda, yang tampil sesuai norma sosial dan estetika dominan, dengan posisi Liyan pada Elphaba yang ditandai melalui perbedaan fisik dan stigma sosial. Perbedaan ini tidak hanya berfungsi sebagai elemen estetis, tetapi juga sebagai kode ideologis yang mengungkap struktur kekuasaan dalam masyarakat fiktif Oz. Penelitian ini juga menemukan bahwa film tersebut menampilkan dua mode kekuasaan perempuan yang berbeda. Glinda memperlihatkan kekuasaan berbasis performativitas, penerimaan sosial, dan negosiasi patriarki, sedangkan Elphaba menunjukkan kekuasaan melalui resistensi, pembangkangan, serta upaya membalikkan makna stigma yang dilekatkan padanya. Representasi tersebut membongkar mitos bahwa kepatuhan adalah satu-satunya cara bagi perempuan untuk diterima dalam struktur sosial. Oleh karena itu, film Wicked: Part One menghadirkan wacana tandingan yang menegaskan bahwa feminitas dan kekuasaan perempuan bersifat kompleks, cair, dan terkait erat dengan relasi kuasa yang mengonstruksi siapa yang dianggap “baik” dan siapa yang dilabeli “jahat”.
Persepsi Responden tentang Personal Branding Cosplay Host TikTok Live terhadap Audiens Engagement Descent Sagail Nicolatius; Gregorius Genep Sukendro
Kiwari Vol. 5 No. 2 (2026): Kiwari
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ki.v5i2.37662

Abstract

TikTok has emerged as a dominant social media platform, particularly through its live streaming feature utilized for marketing and real-time interaction. This study aims to analyze the personal branding strategy of the @CALDERACORNER account, which employs hosts in cosplay attributes to enhance audience engagement. Drawing on the Uses and Gratifications theory, this research adopts a quantitative method to examine how visual uniqueness and character influence follower behaviour. Data were collected via questionnaires distributed to 100 followers of @CALDERACORNER, selected through purposive sampling techniques. The gathered data were then analysed using simple linear regression. The results indicate that the cosplay host's personal branding has a significant influence on audience engagement. The dimension of consistency was identified as the primary contributor to this success. With a coefficient of determination ($R^2$) of 87.9%, this study proves that a robust personal branding strategy is highly dominant in driving audience involvement, while the remaining 12.1% is influenced by other factors outside the scope of this study. These findings emphasize that managing unique, creative, and consistent personal branding in TikTok live streaming is crucial for maximizing audience participation and loyalty in the digital era. TikTok saat ini menjadi platform media sosial paling dominan, terutama melalui fitur live streaming yang digunakan untuk pemasaran dan interaksi real-time. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi personal branding yang dilakukan oleh akun @CALDERACORNER melalui penggunaan host beratribut cosplay dalam upaya meningkatkan engagement audiens. Dengan menggunakan landasan teori Uses and Gratification, penelitian ini menerapkan metode kuantitatif untuk menguji sejauh mana keunikan visual dan karakter memengaruhi perilaku pengikut. Data dikumpulkan melalui survei kuesioner terhadap 100 responden yang merupakan pengikut akun @CALDERACORNER, yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data yang terkumpul kemudian dianalisis menggunakan metode regresi linier sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa personal branding host cosplay memiliki pengaruh yang sangat signifikan terhadap engagement audiens. Dimensi konsistensi ditemukan sebagai kontributor utama dalam keberhasilan strategi ini. Nilai koefisien determinasi sebesar 87,9% membuktikan bahwa strategi personal branding yang kuat sangat dominan dalam memengaruhi keterlibatan audiens, sementara 12,1% sisanya dipengaruhi oleh faktor lain di luar penelitian. Temuan ini menegaskan bahwa pengelolaan personal branding yang unik, kreatif, dan konsisten di TikTok live streaming sangat krusial untuk memaksimalkan partisipasi dan loyalitas audiens di era digital.