cover
Contact Name
Wulan Purnama Sari
Contact Email
wulanp@fikom.untar.ac.id
Phone
+6281584336003
Journal Mail Official
kiwari@untar.ac.id
Editorial Address
Jl. Letjen S. Parman No.1 Gedung Utama Lantai 11 Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Kiwari
ISSN : -     EISSN : 28278763     DOI : 10.24912/ki
Core Subject : Humanities, Social,
Kiwari (EISSN: 2827-8763) merupakan jurnal hasil karya tulis dari mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara. Jurnal ini menjadi forum publikasi bagi hasil karya mahasiswa. Artikel yang diterbitkan masih jauh dari sempurna dan terbuka untuk saran serta kritik yang membangun. Kiwari menerbitkan artikel hasil penelitian dalam bidang ilmu komunikasi, yang meliputi komunikasi politik, komunikasi antar budaya, komunikasi bisnis, komunikasi digital, komunikasi antar pribadi, komunikasi organisasi, dll.
Articles 478 Documents
Persepsi Fans terhadap Upaya Promotor dalam Mengelola Krisis Komunikasi Padilah, Adela Suci Nur; Erdiansyah, Rezi
Kiwari Vol. 5 No. 1 (2026): Kiwari
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ki.v5i1.37002

Abstract

This study examines fans' understanding of the communication crisis management carried out by the promoter during the SEVENTEEN concert ticket exchange process in Jakarta. Problems arose due to extremely long queues, sudden changes to the exchange process, and inconsistent instructions, leading to discomfort and confusion among the audience. This situation sparked complaints on social media and escalated into an issue that damaged the promoter's image. The study used a qualitative approach by conducting in-depth interviews with three respondents who directly experienced the ticket exchange process. The analysis was conducted to describe how fans assessed the promoter's operational readiness, information delivery, and attitude toward critical situations. The results of the study show that fans consider the promoter to be unprepared in terms of technical planning, unable to convey information clearly, and lacking empathy for the audience who had to wait in long lines. Social media became the main source of information due to the lack of official communication, thereby reinforcing negative perceptions. This study concludes that poor coordination and a lack of responsive communication resulted in a decline in trust in the promoter. Improvements in the exchange process, information clarity, and rapid response are needed to increase the effectiveness of crisis management at large-scale events. Penelitian ini mengkaji pemahaman fans terhadap penanganan krisis komunikasi yang dilakukan promotor pada proses penukaran tiket konser SEVENTEEN di Jakarta. Permasalahan muncul karena antrean yang sangat panjang, perubahan alur penukaran secara mendadak, serta instruksi yang tidak konsisten sehingga menimbulkan ketidaknyamanan dan kebingungan bagi penonton. Situasi ini memicu keluhan di media sosial dan berkembang menjadi isu yang memengaruhi citra promotor. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan melakukan wawancara mendalam dengan tiga responden yang mengalami langsung proses penukaran tiket. Analisis dilakukan untuk menggambarkan bagaimana fans menilai kesiapan operasional promotor, penyampaian informasi, serta sikap mereka dalam menghadapi situasi genting. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fans menganggap promotor kurang siap dalam perencanaan teknis, tidak mampu menyampaikan informasi secara jelas, dan tidak menunjukkan empati terhadap kondisi penonton yang harus menunggu dalam antrean panjang. Media sosial menjadi sumber utama informasi karena minimnya komunikasi resmi, sehingga persepsi negatif semakin menguat. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kelemahan koordinasi dan kurangnya komunikasi yang responsif mengakibatkan penurunan kepercayaan terhadap promotor. Perbaikan pada alur penukaran, kejelasan informasi, serta respons cepat diperlukan untuk meningkatkan efektivitas penanganan krisis pada acara berskala besar.
Kesamaan Ketertarikan Referensi Musik dalam Membangun Kedekatan Komunikasi Interpersonal pada Mahasiswa FSRD Universitas Tarumanagara 2025 Afdal, Afdal; Rusdi, Farid
Kiwari Vol. 5 No. 1 (2026): Kiwari
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ki.v5i1.37003

Abstract

Interpersonal communication plays an important role in building closeness and the quality of social relationships among university students. One factor that can influence the effectiveness of such communication is the similarity of music references, because music is often used as a symbol of identity and a medium for self-expression. This study aims to determine the influence of similarity in music references on interpersonal communication closeness among students. The research uses the Similarity Attraction Theory, which explains that similarity in preferences can foster interpersonal attraction and facilitate the creation of more intimate communication. The method used is quantitative by distributing questionnaires to students as respondents. The survey data were then statistically analyzed to determine the relationship between the variables studied. The results show a significant positive influence of similarity in music references on interpersonal communication closeness. The higher the similarity of musical preferences individuals have, the easier it is for them to build interaction, closeness, and a sense of comfort in communication. Thus, similarity in music references can be one of the supporting factors in building effective interpersonal communication among university students. Komunikasi interpersonal penting untuk membangun kedekatan dan kualitas hubungan sosial di kalangan mahasiswa. Salah satu faktor yang dapat memengaruhi efektivitas komunikasi tersebut adalah kesamaan ketertarikan terhadap referensi musik, karena musik sering digunakan sebagai simbol identitas serta sarana untuk mengekspresikan diri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kesamaan ketertarikan terhadap referensi musik terhadap kedekatan komunikasi interpersonal pada mahasiswa. Penelitian menggunakan teori Similarity Attraction Theory yang menjelaskan bahwa kesamaan preferensi dapat menumbuhkan ketertarikan interpersonal dan mempermudah terciptanya komunikasi yang lebih akrab. Metode yang digunakan yaitu kuantitatif dengan penyebaran kuesioner kepada mahasiswa sebagai responden. Data hasil survei kemudian dianalisis secara statistik untuk mengetahui hubungan antara variabel yang diteliti. Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh positif yang signifikan antara kesamaan ketertarikan terhadap referensi musik dan kedekatan komunikasi interpersonal. Semakin tinggi kesamaan preferensi musik yang dimiliki individu, semakin mudah mereka membangun interaksi, kedekatan, serta rasa nyaman dalam berkomunikasi. Dengan demikian, kesamaan ketertarikan terhadap referensi musik dapat menjadi salah satu faktor pendukung dalam membangun komunikasi interpersonal yang efektif pada mahasiswa.
Peran Instagram Reels dalam Strategi Digital Public Relations Event Megabuild 2025 Virlinda, Alicia; Candraningrum, Diah Ayu
Kiwari Vol. 5 No. 1 (2026): Kiwari
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ki.v5i1.37004

Abstract

In the digital era, social media has become an important medium for organizations to build relationships with audiences through Digital Public Relations. This study aims to examine the role of Instagram Reels in the Digital Public Relations strategy of Megabuild Indonesia 2025, particularly in facilitating audience engagement. This research is grounded in Excellence Theory with a Two-Way Symmetrical Communication approach, the concept of Digital Public Relations, and audience engagement theory. A qualitative approach with a case study method was applied in this study. Data were collected through in-depth interviews with the organizing team and event participants, observation of Instagram Reels content, and analysis of internal documentation from the Megabuild Public Relations team. The findings indicate that Instagram Reels function as a two-way communication medium that enables audience participation through digital interactions and contributes to the formation of awareness and positive perceptions of Megabuild Indonesia 2025. The use of interactive and storytelling-based content encourages dialogic audience engagement. These findings suggest that content variability and the utilization of audience feedback play a crucial role in audience-oriented Digital Public Relations practices.   Di era digital, media sosial dimanfaatkan oleh organisasi sebagai sarana untuk membangun hubungan dengan audiens melalui praktik Public Relations digital. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran Instagram Reels dalam strategi Public Relations digital pada kegiatan Megabuild Indonesia 2025, khususnya dalam membangun keterlibatan audiens. Penelitian ini menggunakan teori keunggulan dengan pendekatan komunikasi dua arah simetris, konsep Public Relations digital, serta konsep keterlibatan audiens sebagai landasan teoretis. Pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus diterapkan dalam penelitian ini. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dengan tim penyelenggara dan partisipan kegiatan, observasi terhadap konten Instagram Reels, serta dokumentasi internal tim Public Relations Megabuild. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Instagram Reels berperan sebagai media komunikasi dua arah yang memfasilitasi partisipasi audiens melalui interaksi digital serta membentuk kesadaran dan persepsi positif terhadap kegiatan Megabuild Indonesia 2025. Penyajian konten yang interaktif dan berbasis penceritaan mendorong keterlibatan audiens secara dialogis. Temuan ini menunjukkan bahwa pengelolaan konten yang variatif serta pemanfaatan respons audiens menjadi bagian penting dalam praktik Public Relations digital yang berorientasi pada audiens. 
Komunikasi Dua Arah sebagai Strategi Membangun Loyalitas Penyewa (Studi Kasus Tenant Relations Mal Artha Gading) Nadia, Angela; Salman, Doddy
Kiwari Vol. 5 No. 1 (2026): Kiwari
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ki.v5i1.37005

Abstract

loyalty at Artha Gading Mall. Intense competition in the retail industry requires mall management to maintain tenant satisfaction through supportive and sustainable communication practices. This research employs a qualitative case study approach using in-depth interviews, participant observation, and document analysis. The theoretical framework includes Two-Way Symmetrical Communication by Grunig and Hunt (1984), Interpersonal Communication by DeVito (2017), and the RACE Model by Cutlip, Center, and Broom (2006). The findings indicate that Tenant Relations implements adaptive two-way communication through face-to-face interactions, WhatsApp, email, and intranet platforms, supported by cross-departmental internal coordination and HRD training programs. These communication strategies are helping handle complaints, increase satisfaction, build trust, and strengthen tenant loyalty. The results are consistent with previous studies emphasizing the importance of symmetrical and interpersonal communication in organizational relationships. This study contributes to the development of organizational communication research and provides practical recommendations for mall management to strategically enhance competitiveness. Penelitian ini menelaah strategi komunikasi staf Tenant Relations dalam membangun loyalitas penyewa di Mal Artha Gading. Persaingan industri ritel menuntut pengelola mal menjaga kepuasan tenant melalui praktik komunikasi yang mendukung dan berkelanjutan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, serta analisis dokumen internal. Kerangka teori yang digunakan meliputi Two-Way Symmetrical Communication dari Grunig dan Hunt (1984), Komunikasi Interpersonal menurut Devito (2017), serta RACE Model oleh Cutlip, Center, dan Broom (2006). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tenant Relations menerapkan komunikasi dua arah yang adaptif melalui tatap muka, WhatsApp, email, dan intranet, didukung oleh koordinasi internal lintas divisi serta pelatihan oleh HRD. Strategi komunikasi ini membantu dalam menangani keluhan, meningkatkan kepuasan, membangun kepercayaan, dan memperkuat loyalitas tenant. Temuan penelitian sejalan dengan literatur sebelumnya yang menekankan pentingnya komunikasi simetris dan interpersonal dalam hubungan organisasi. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan kajian komunikasi organisasi serta memberikan rekomendasi praktis bagi pengelola mal secara strategis.
Personal Branding Kreator Gen Z dalam Membentuk Literasi Keuangan di TikTok Wee, Angeline; Paramita, Sinta; Utami, Budi
Kiwari Vol. 5 No. 1 (2026): Kiwari
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ki.v5i1.37007

Abstract

The development of social media has opened up opportunities for young people, especially Gen Z, to build digital identities and shape audience behavior through creative content. One example of this is seen in content creators on TikTok who develop personal branding to convey financial education. This study aims to determine the personal branding strategies used by Gen Z content creator @jsnnath in shaping a digital identity through financial education content, influencing audience perceptions, and its impact on the development of financial literacy. This study uses the theories of mass self communication, personal branding strategies, and impression management as a foundation. The research method used was a case study with a qualitative approach through interviews, observation, and documentation. The results showed that @jsnnath built a personal brand through consistent delivery of educational content, a simple and easy-to-understand communication style, and the use of strategies such as self-confidence, self-promotion, setting a good example, and humility and collaboration to strengthen the image of competence and humanity. Furthermore, the digital identity was formed through consistent visuals, interactive responses, and an emphasis on educational value that is free from manipulation. This strategy successfully built audience trust and strengthened its position as a reference for financial literacy among Gen Z. Perkembangan media sosial telah membuka peluang bagi generasi muda, khususnya Gen Z, untuk membangun identitas digital sekaligus membentuk perilaku audiens melalui konten kreatif. Salah satu bentuk pemanfaatannya terlihat pada content creator di TikTok yang mengembangkan personal branding untuk menyampaikan edukasi keuangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi personal branding yang digunakan oleh content creator Gen Z @jsnnath dalam membentuk identitas digital melalui konten edukasi keuangan, perannya terhadap persepsi audiens, serta kontribusinya dalam membentuk literasi keuangan. Penelitian ini menggunakan landasan teori mass self communication, strategi personal branding, dan impression management. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus dengan pendekatan kualitatif melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa @jsnnath membangun personal branding melalui konsistensi penyampaian konten edukatif, gaya komunikasi yang sederhana dan relevan, serta penggunaan strategi seperti penghargaan diri, promosi diri, pemberian contoh baik, serta kerendahan hati dan kolaborasi untuk memperkuat citra kompeten sekaligus humanis. Selain itu, identitas digital dibentuk melalui visual yang konsisten, respon interaktif, dan penekanan pada nilai edukatif yang bebas dari manipulasi. Strategi tersebut berhasil membangun kepercayaan audiens serta memperkuat posisinya sebagai rujukan literasi keuangan di kalangan Gen Z.
Brand Ambassador AESPA sebagai Penunjang Brand Image Nabati Richoco Renwarin, Angie Veronica; Pribadi, Muhammad Adi
Kiwari Vol. 5 No. 1 (2026): Kiwari
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ki.v5i1.37008

Abstract

This study explores how K-Pop brand ambassadors contribute to brand image amidst the trend of utilizing K-Pop idols in digital marketing communication strategies. This study begins with the phenomenon of utilizing collaboration campaigns, exclusive photocards, and fan engagement activities on social media to examine the emotional closeness between brands and fans. The purpose of this study is to understand the presence of Aespa as a brand ambassador to support the brand image of Nabati Richoco among K-Pop fans exposed to the collaboration campaign. The study uses a qualitative approach with a phenomenological method to explore the direct experiences of Aespa fans who learned about the collaboration, saw promotional materials, and purchased Aespa x Richoco products. Data were obtained through in-depth interviews with informants selected purposively based on their involvement. The analysis focuses on brand image factors (Strength of Brand Association, Favorability of Brand Association, and Uniqueness of Brand Association) and VisCAP indicators (visibility, credibility, attraction, power) to see how brand ambassadors are able to shape public perception of the brand image. The results show that brand collaborations, iconic jingles, and photocards are the main reasons why fans purchase products. Penelitian ini berisi bagaimana brand ambassador K-Pop berkontribusi dalam brand image di tengah tren pemanfaatan idol K‑Pop dalam strategi komunikasi pemasaran digital. Penelitian ini berangkat dari fenomena pemanfaatan kampanye kolaborasi, photocard eksklusif, dan aktivitas fan engagement di media sosial untuk melihat kedekatan emosional antara merek dan penggemar. Tujuan penelitian ini untuk memahami kehadiran Aespa sebagai brand ambassador sebagai penunjang citra merek Nabati Richoco di kalangan penggemar K‑Pop yang terpapar kampanye kolaborasi. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi untuk menggali pengalaman langsung penggemar Aespa yang mengetahui kolaborasi, melihat materi promosi, dan membeli produk Aespa x Richoco. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan informan yang dipilih secara purposif berdasarkan keterlibatan mereka. Analisis berfokus pada faktor brand image (Strength of Brand Association, Favorability of Brand Association, dan Uniqueness of Brand Association) dan indikator VisCAP (visibility, credibility, attraction, power) untuk melihat bagaimana brand ambassador seperti mampu membentuk persepsi masyarakat terhadap brand image. Hasil penelitian menunjukkan kolaborasi merek, jingle ikonik, dan photocard, menjadi alasan utama mengapa penggemar membeli produk.
Kualitas Konten dan Engagement Audiens: Faktor Penentu Persepsi Publik Terhadap Akun Instagram @keretacepat_id Deantoni, Anugerah Arya; Erdiansyah, Rezi
Kiwari Vol. 5 No. 1 (2026): Kiwari
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ki.v5i1.37009

Abstract

The focus of this study is to examine the influence of content quality and audience engagement on public perception of the Instagram account @keretacepat_id as a communication channel for public transportation services in Indonesia. A quantitative approach was applied using a survey method involving 100 respondents who are active followers of the account. The content quality variable was operationalized by several indicators, namely informativeness, relevance, visual appeal, and interactivity, while audience engagement was measured through cognitive, emotional, and behavioral involvement. The research data was examined using multiple linear regression techniques to systematically and measurably assess the simultaneous and partial influence between variables. The results of the study explain that content quality and audience engagement have a positive impact on public perception. The coefficient of determination value of 54.8 percent shows that these independent variables explain most variance in public perception, while the remaining part is influenced by other factors outside the research indicators. This study shows emphasize that informative, relevant, visually appealing, and interactive content supported by audience engagement, plays an important role in shaping positive public perception. This research provides practical implications for the management of digital communication in public service institutions. Penelitian mengkaji pengaruh kualitas konten dan engagement audiens pada persepsi publik di akun Instagram @keretacepat_id sebagai kanal komunikasi layanan transportasi publik di Indonesia. Pendekatan kuantitatif digunakan melalui metode survei dengan melibatkan 100 responden yang merupakan pengikut aktif akun tersebut. Variabel kualitas konten dioperasionalisasikan oleh beberapa indikator yaitu informatif, relevan, atraksi visual, dan interaktifitas, sedangkan engagement audiens diukur melalui keterlibatan kognitif, emosional, dan perilaku. Data penelitian dikaji memakai teknik regresi linear berganda untuk menilai pengaruh simultan dan parsial antarvariabel secara sistematis dan terukur. Hasil studi menjelaskan bahwa kualitas konten serta engagement audiens memiliki dampak positif terhadap persepsi publik. Nilai koefisien determinasi sebesar 54,8% menjelaskan bahwa kedua variabel independen dapat menunjukkan mayoritas variabilitas persepsi publik, sementara dengan bagian sisanya dipengaruhi faktor-faktor lain di luar indikator penelitian. Penelitian ini menunjukkan bahwa suatu konten informatif, relevan, menarik pada penampilan, dan interaktif, serta didukung tingkat keterlibatan audiens tinggi, berperan penting membentuk persepsi publik positif. Penelitian ini memberikan implikasi praktis bagi pengelolaan komunikasi digital institusi layanan publik.
Representasi Budaya Korea dalam Film “Kpop Demon Hunters” (Analisis Semiotika Roland Barthes) Nanda, Bayu Dwi; Aulia, Sisca
Kiwari Vol. 5 No. 1 (2026): Kiwari
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ki.v5i1.37010

Abstract

Film as a communication medium combines sound and image, reaching widely, delivering messages quickly, effectively. This study examines the representation of Korean culture in the Netflix animated film “K-pop Demon Hunters”. In the context of globalization, the film is compelling for its fusion of contemporary pop culture with Korea’s local traditions. The research aims to explore how cultural symbols both traditional and modern are constructed through the film’s visual elements. The analysis reveals that the film successfully represents Korean identity by blending visual symbols with the modern lifestyle of K-pop idols. Applying Roland Barthes’ semiotic theory, the study uncovers denotative and connotative meanings that shape a myth of cultural adaptation. Ancient spiritual practices such as shamanism are heroically portrayed as world-saving forces, reflecting Korea’s creative strategy in packaging ancestral mysticism into fantasy narratives appealing to international audiences. Thus, the film introduces traditional elements to global viewers without erasing their original meaning, while illustrating how local culture can transform and interact with global pop currents. The analysis also highlights the role of visual aesthetics, music, costumes, and character narratives in reinforcing cultural messages, opening discussions on the commodification of tradition and the evolving dynamics of identity within the rapidly expanding transnational entertainment industry. Film sebagai media komunikasi memadukan suara dan gambar, menjangkau luas, menyampaikan pesan cepat, efektif. Penelitian ini mengkaji representasi budaya Korea dalam film animasi Netflix “K-pop Demon Hunters”. Dalam konteks globalisasi, film tersebut menarik karena memadukan budaya populer kontemporer dengan tradisi lokal Korea. Tujuan penelitian adalah menelaah bagaimana simbol-simbol budaya, baik yang bersifat tradisional maupun modern, dibangun melalui elemen visual film. Hasil analisis menunjukkan bahwa film mampu merepresentasikan identitas Korea melalui kombinasi simbol visual yang berpadu dengan gaya hidup modern para idola K-pop. Dengan menerapkan teori semiotika Roland Barthes, studi ini mengungkap makna denotatif dan konotatif yang membentuk mitos adaptasi budaya. Praktik spiritual kuno seperti shamanisme digambarkan secara heroik sebagai kekuatan pelindung dunia, yang mencerminkan strategi kreatif Korea dalam mengemas aspek mistis leluhur menjadi narasi fantasi yang menarik bagi penonton internasional. Dengan demikian, film ini berhasil memperkenalkan unsur-unsur tradisional kepada audiens global tanpa menghilangkan makna aslinya, sekaligus menunjukkan bagaimana budaya lokal dapat bertransformasi dan berinteraksi dengan arus budaya populer global. Analisis ini juga menyoroti peran estetika visual, musik, kostum, dan narasi karakter dalam memperkuat pesan budaya, serta membuka ruang diskusi tentang komodifikasi tradisi dan dinamika identitas dalam industri hiburan transnasional yang terus berkembang pesat kini.
Aktivitas Fan Labor dalam Fenomena Shipping Culture di Media Sosial X Budi, Clarisa Oktaviani; Utami, Lusia Savitri Setyo
Kiwari Vol. 5 No. 1 (2026): Kiwari
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ki.v5i1.37011

Abstract

The phenomenon of shipping culture on social media is a result of participatory culture. This phenomenon allows shippers to create their own content without being confined to original content. Shipping culture is studied because of negative societal stigma and prejudice against the practice. Using qualitative descriptive research methodology through in-depth interviews with six informants, digital observation, and content documentation, this research explores how fan labor in the shipping culture phenomenon manifests in three main forms: specialized labor (AU and fanfiction production), managerial labor (community event management), and unskilled labor (voting and streaming campaigns). The research demonstrates that platform X facilitates shippers to actively participate in participatory culture, mobilizing thousands of followers to undertake collective actions that have tangible economic impact on idols' careers. The @kalewrittings account represents good fan labor practices by combining creativity with authentic support for idols. However, the research also identifies complexities within Indonesian shipping culture, including fetishization phenomena and the importance of boundaries between fantasy and reality. This research provides an evidence-based framework for understanding how fan labor in shipping culture can be managed ethically and sustainably without harming idols. Fenomena shipping culture di media sosial merupakan hasil dari budaya partisipatori. Fenomena ini mengizinkan para shipper untuk membuat konten sendiri tanpa harus berpatok dengan konten orisinil. Shipping culture diteliti karena stigma masyarakat yang beranggapan negatif dengan shipping culture. Dengan menggunakan metodologi penelitian kualitatif deskriptif melalui wawancara mendalam, observasi digital, dan dokumentasi konten, penelitian mengeksplorasi bagaimana fan labor pada fenomena shipping culture terbentuk dalam tiga bentuk utama: specialized labor (produksi AU dan fanfiction), managerial labor (pengelolaan acara komunitas), dan unskilled labor (kampanye voting dan streaming). Penelitian menunjukkan platform X memfasilitasi shipper untuk berpartisipasi aktif dalam budaya partisipatori, menggerakkan ribuan pengikut untuk melakukan tindakan kolektif yang memiliki dampak ekonomis nyata bagi karier idola. Akun @kalewrittings merepresentasikan aktivitas dari fan labor yang baik dengan menggabungkan kreativitas dengan dukungan autentik terhadap idola. Penelitian mengidentifikasi kompleksitas dalam shipping culture di Indonesia, termasuk fenomena fetishisasi, dan pentingnya batasan antara fantasi dan realita. Penelitian ini memberikan kerangka berbasis bukti tentang bagaimana fan labor dalam shipping culture dapat dikelola secara etis dan berkelanjutan tanpa harus merugikan idola.
Persepsi Konsumen terhadap Narasi Black Campaign: Studi Kualitatif tentang Reputasi Merek Deodoran X di Media Sosial Syaharani, Pricilla Tirta Ayu; Winduwati, Septia
Kiwari Vol. 5 No. 1 (2026): Kiwari
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ki.v5i1.37012

Abstract

This study analyzed consumer perceptions formed against the Black campaign narrative about deodorant X on social media. Using a qualitative approach through in-depth interviews thematic analysis, observation of the spread of questionnaires, traces of digital analysis on social media. The study linked the findings to theoretical frameworks ELM, source credibility, prosumer theory, negativity bias, and E-WOM. The results show that negative perceptions are primarily formed through repeated exposure to content on platforms such as X (Twitter) and TikTok. Consumers with no usage experience are more receptive to negative narratives because they rely on peripheral cues, whereas experienced users tend to reject issues through more critical evaluation. Communicator credibility, negative E-WOM, and social proof strengthen the formation of public opinion, especially in vulnerable consumer groups. These findings confirm the perception of the black campaign is a social construct that is influenced by the interaction between platform algorithms, source credibility, and personal experience. Consumers without experience are more easily affected, while experienced users are more critical. Perception arises from the interaction of algorithms, message sources, and personal experiences. Penelitian ini menganalisis persepsi konsumen terbentuk terhadap narasi black campaign mengenai Deodoran X di media sosial. Menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif melalui wawancara mendalam, observasi penyebaran kuesioner, jejak analisis digital di media sosial. Penelitian mengaitkan temuan dengan kerangka teori ELM, source credibility, prosumer theory, negativity bias, dan E-WOM. Hasil menunjukkan bahwa persepsi negatif terutama terbentuk melalui paparan konten yang berulang di platform seperti X (Twitter) dan TikTok. Konsumen tanpa pengalaman penggunaan lebih mudah menerima narasi negatif karena mengandalkan isyarat periferal, sedangkan pengguna berpengalaman cenderung menolak isu melalui evaluasi yang lebih kritis. Kredibilitas komunikator, E-WOM negatif, dan social proof memperkuat pembentukan opini publik, terutama pada kelompok konsumen yang rentan. Temuan ini menegaskan persepsi terhadap black campaign merupakan konstruksi sosial yang dipengaruhi interaksi antara algoritma platform, kredibilitas sumber, dan pengalaman personal. Konsumen tanpa pengalaman lebih mudah terpengaruh, sedangkan pengguna berpengalaman lebih kritis. Persepsi muncul dari interaksi algoritma, sumber pesan, dan pengalaman personal.