cover
Contact Name
Wulan Purnama Sari
Contact Email
wulanp@fikom.untar.ac.id
Phone
+6281584336003
Journal Mail Official
kiwari@untar.ac.id
Editorial Address
Jl. Letjen S. Parman No.1 Gedung Utama Lantai 11 Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Kiwari
ISSN : -     EISSN : 28278763     DOI : 10.24912/ki
Core Subject : Humanities, Social,
Kiwari (EISSN: 2827-8763) merupakan jurnal hasil karya tulis dari mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara. Jurnal ini menjadi forum publikasi bagi hasil karya mahasiswa. Artikel yang diterbitkan masih jauh dari sempurna dan terbuka untuk saran serta kritik yang membangun. Kiwari menerbitkan artikel hasil penelitian dalam bidang ilmu komunikasi, yang meliputi komunikasi politik, komunikasi antar budaya, komunikasi bisnis, komunikasi digital, komunikasi antar pribadi, komunikasi organisasi, dll.
Articles 506 Documents
Pengaruh Paparan Konten Media Sosial terhadap Opini Publik Generasi Z dalam Komunikasi Politik Digital Felicia Ioandes; Riris Loisa
Kiwari Vol. 5 No. 2 (2026): Kiwari
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ki.v5i2.37607

Abstract

Social media platforms, particularly TikTok, have increasingly emerged as influential spaces for political communication, especially among younger generations. This study investigates the effect of exposure to TikTok content associated with the hashtag #kaburajadulu on the formation of public opinion among Generation Z users. The research is grounded in Computer-Mediated Communication (CMC) theory to examine how interaction and meaning-making processes occur within digitally mediated environments. Using a quantitative research design, the study employed a survey method involving 111 Generation Z respondents aged 13–28 who actively use TikTok. Data were analyzed through validity, reliability, and normality testing, followed by Pearson correlation and simple linear regression analysis. The findings demonstrate that the research instruments are both valid and reliable, while the data meet the assumption of normal distribution. Correlation analysis indicates a strong and statistically significant relationship between exposure to TikTok content and public opinion formation (r = 0.719). Furthermore, regression analysis reveals that TikTok content exposure has a significant positive effect on public opinion, accounting for 51.7% of the variance. These findings suggest that TikTok functions not merely as an entertainment platform, but also as a powerful arena for digital political communication capable of shaping public opinion among Generation Z. The study contributes to contemporary discussions on social media influence by highlighting the growing role of algorithm-driven content exposure in the construction of political perceptions and attitudes among young audiences. Media sosial, khususnya TikTok, semakin berperan sebagai medium komunikasi politik yang memengaruhi pembentukan opini publik di kalangan generasi muda. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh paparan konten TikTok dengan tagar #kaburajadulu terhadap opini publik Generasi Z. Penelitian ini menggunakan teori Computer Mediated Communication (CMC) untuk memahami proses interaksi dan konstruksi makna dalam komunikasi berbasis media digital. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif melalui survei terhadap 111 responden Generasi Z berusia 13–28 tahun yang aktif menggunakan TikTok. Data dianalisis menggunakan uji validitas, reliabilitas, normalitas, korelasi Pearson, dan regresi linier sederhana. Hasil analisis menunjukkan bahwa instrumen penelitian valid dan reliabel serta data berdistribusi normal. Uji korelasi menunjukkan hubungan yang kuat dan signifikan antara paparan konten TikTok dan opini publik (r = 0,719). Hasil regresi menunjukkan pengaruh positif yang signifikan dengan nilai koefisien determinasi sebesar 51,7%. Temuan ini menegaskan bahwa konten TikTok memiliki peran penting dalam membentuk opini publik Generasi Z dalam konteks komunikasi politik digital.
Representasi Rasisme Pada Serial Warrior (Analisis Semiotika Roland Barthes) Gladwin Jonathan; Rezi Erdiansyah; Budi Utami
Kiwari Vol. 5 No. 2 (2026): Kiwari
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ki.v5i2.37608

Abstract

This study aims to analyze the representation of racism in the Netflix series Warrior using Roland Barthes’ semiotic analysis approach. The study also employs a qualitative method by analyzing selected scenes which, based on the focus of this research, depict violence, discrimination, and unequal power relations experienced by minority groups, particularly the Chinese ethnic community. The data were obtained through direct observation of the Warrior series, which in the course of this research was supported by expert interviews and literature studies to validate the credibility of the data. Roland Barthes’ semiotic analysis of Warrior was conducted through three levels of meaning: denotation, connotation, and myth. The findings of this study indicate that racism in Warrior is represented not only through explicit discriminatory actions, but also through symbolic practices and ideological narratives, stereotyping, superiority, and systemic policies which, based on the results of the analysis, legitimize white racial dominance and marginalize minority groups. Overall, the series functions as a cultural text that, within the context of the research findings, both reveals and reproduces race-based power relations, while emphasizing the role of media in shaping public awareness of racism. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi rasisme dalam serial Warrior yang ditayangkan di Netflix dengan menggunakan pendekatan analisis semiotika Roland Barthes. Kemudian penelitian ini juga menggunakan metode kualitatif dengan menganalisis adegan-adegan terpilih yang, berdasarkan fokus penelitian ini, menampilkan kekerasan, diskriminasi, dan ketimpangan relasi kuasa yang dialami kelompok minoritas, khususnya etnis Tionghoa. Data didapat melalui observasi langsung peneliti terhadap serial Warrior, yang dalam proses penelitian ini didukung dengan wawancara pakar serta studi kepustakaan untuk memvalidasi keabsahan data. Analisis semiotika Roland Barthes terhadap serial Warrior dilakukan melalui tiga tingkat pemaknaan, yaitu denotasi, konotasi, dan mitos. Hasil dari temuan penelitian ini menunjukkan bahwa rasisme dalam Warrior direpresentasikan tidak hanya melalui tindakan diskriminatif yang bersifat eksplisit, tetapi juga melalui praktik simbolik dan narasi ideologis, stereotipisasi, superioritas, serta kebijakan sistemik yang, berdasarkan hasil analisis, melegitimasi ras kulit putih dan meminggirkan kelompok minoritas. Secara keseluruhan, serial ini berfungsi sebagai teks budaya yang, dalam konteks hasil penelitian, mengungkap sekaligus mereproduksi relasi kuasa berbasis ras, serta menegaskan peran media dalam membentuk kesadaran masyarakat (publik) terhadap isu rasisme.
Optimalisasi Strategi Public Relations dalam Meningkatkan Citra Night Club Pink Panther di Jakarta Grace Ketty Wilandar; Doddy Salman
Kiwari Vol. 5 No. 2 (2026): Kiwari
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ki.v5i2.37609

Abstract

This study examines the digital public relations strategy implemented by Pink Panther PIK 2 on Instagram to shape its brand image among visitors and potential audiences. The research focuses on visual content, caption strategies, posting consistency, engagement patterns, and content differentiation as essential elements of online communication. Using a qualitative descriptive approach, data were collected through in-depth interviews and documentation of Instagram posts, including feed uploads, reels, and user interactions. The findings indicate that Pink Panther positions Instagram as its primary digital platform to enhance brand visibility, highlight differentiation, and manage audience perceptions. Content differentiation emerges as a key strategy, particularly in emphasizing permissive policies such as allowing customers to bring their own bottles, which distinguishes the club from competitors. The study also identifies a significant improvement in content quality, shifting from previously vulgar styled visuals to more curated, aesthetic, and professional content aligned with current digital branding trends. This transformation contributes to a stronger and more positive brand image, portraying Pink Panther as an exclusive, secure, and professionally managed entertainment venue. Overall, the research shows that strategic digital public relations on Instagram effectively supports brand image-building in the nightlife industry. Penelitian ini menganalisis strategi Digital Public Relations yang diterapkan Pink Panther PIK 2 melalui Instagram dalam membangun citra di kalangan pengunjung maupun calon audiens. Fokus penelitian diarahkan pada pemanfaatan konten visual, strategi penulisan caption, konsistensi unggahan, pola interaksi digital, serta diferensiasi konten sebagai elemen utama komunikasi publik yang dijalankan secara daring. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam dan dokumentasi konten Instagram, mencakup unggahan feed, reels, serta interaksi pengguna. Temuan menunjukkan bahwa Pink Panther menempatkan Instagram sebagai kanal digital utama untuk memperkuat visibilitas merek, menonjolkan diferensiasi, serta mengelola persepsi audiens. Diferensiasi konten menjadi strategi yang paling menonjol, terutama melalui penekanan pada kebijakan yang membedakan Pink Panther dari klub lain, seperti diperbolehkannya pengunjung membawa botol minuman dari luar. Penelitian juga menemukan adanya peningkatan kualitas konten, dari gaya yang sebelumnya lebih vulgar menjadi visual yang lebih terkurasi, estetis, dan profesional sesuai tren branding digital saat ini. Transformasi ini berkontribusi pada pembentukan citra Pink Panther sebagai tempat hiburan yang eksklusif, aman, dan dikelola secara profesional. Secara keseluruhan, strategi Digital Public Relations melalui Instagram terbukti efektif dalam mendukung pembangunan citra di industri hiburan malam.
Efek Konten Media Sosial dan Musik Ibadah terhadap Keterlibatan Jemaat GBI LGF Mangga Dua Square Bryan Jeremiah; Rezi Erdiansyah
Kiwari Vol. 5 No. 2 (2026): Kiwari
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ki.v5i2.37610

Abstract

The evolution of social media has redefined church communication and congregational involvement, moving from physical services to the distribution of digital spiritual messages. This study aims to evaluate the impact of social media content quality and the intensity of worship music on the engagement of Indonesian Bethel Church (GBI) LGF Mangga Dua Square congregants. By adopting nonverbal communication theory as a foundation, a quantitative method was utilized, involving 121 respondents. Data analysis through SmartPLS-SEM shows that social media quality and worship music intensity significantly and positively affect engagement. The findings suggest that relevant, creative, and consistent digital material, along with diverse worship music that enhances the atmosphere, can stimulate active participation and emotional bonds. In conclusion, the integration of digital strategies and musical elements is a vital factor in strengthening congregational engagement both online and onsite. Perkembangan media sosial telah mengubah cara gereja berkomunikasi dan membangun keterlibatan jemaat, tidak hanya melalui ibadah tatap muka tetapi juga melalui penyampaian pesan rohani secara digital. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kualitas konten media sosial dan intensitas musik ibadah terhadap keterlibatan jemaat Gereja Bethel Indonesia LGF Mangga Dua Square. Penelitian ini menggunakan teori komunikasi nonverbal sebagai landasan konseptual, dengan pendekatan kuantitatif melalui penyebaran kuesioner kepada 121 responden jemaat. Metode analisis data menggunakan SmartPLS-SEM untuk menguji hubungan antar variabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas konten media sosial dan intensitas musik ibadah berpengaruh positif dan signifikan terhadap keterlibatan jemaat. Pembahasan mengungkap bahwa konten digital gereja yang relevan, kreatif, dan konsisten, serta penyajian musik ibadah yang variatif dan mendukung suasana penyembahan, mampu mendorong partisipasi aktif dan keterikatan emosional jemaat. Kesimpulannya, sinergi strategi komunikasi digital dan elemen musik ibadah menjadi aspek penting dalam memperkuat keterlibatan jemaat baik secara online maupun onsite.
Komunikasi Emosional Berbasis Makna dalam Lirik Lagu “Gala Bunga Matahari” Karya Sal Priadi Callysta Angelyn Wijaya; Farid Rusdi
Kiwari Vol. 5 No. 2 (2026): Kiwari
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ki.v5i2.37611

Abstract

Music is a communication medium capable of conveying messages and emotions through signs, figurative language, and symbols that influence the audience's interpretation. The song "Gala Bunga Matahari" by Sal Priadi is interesting to study because it contains strong natural symbols and metaphors that describe longing, loss, and hope that are emotional and universal. This study aims to describe the symbolic meaning and representation of emotional communication contained in the song's lyrics. The theory used is Roland Barthes' semiotics which divides meaning into three levels: denotation, connotation, and myth. This study uses a qualitative descriptive method with lyric text analysis techniques as primary data, supported by literature studies as secondary data. The results show that symbols such as sunflowers, rivers of milk, plant language, and images of youth again, convey the message that love, memory, and emotional connection do not stop even though the loved object is gone. This song becomes a medium of emotional communication that functions to provide a healing space through spiritual memory and hope. Musik merupakan salah satu media komunikasi yang mampu menyampaikan pesan dan emosi melalui tanda, bahasa figuratif, serta simbol yang memengaruhi pemaknaan audiens. Lagu “Gala Bunga Matahari” karya Sal Priadi menarik untuk dikaji karena mengandung simbol alam dan metafora yang kuat dalam menggambarkan kerinduan, kehilangan, serta harapan yang bersifat emosional dan universal. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan makna simbolik dan representasi komunikasi emosional yang terkandung dalam lirik lagu tersebut. Teori yang digunakan adalah semiotika Roland Barthes yang membagi makna menjadi tiga tingkatan yaitu denotasi, konotasi, dan mitos. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik analisis teks lirik sebagai data primer, didukung studi pustaka sebagai data sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa simbol seperti bunga matahari, sungai susu, bahasa tumbuhan, dan gambaran kemudaan kembali, menyampaikan pesan bahwa cinta, memori, dan keterhubungan emosional tidak berhenti meskipun objek yang dicintai telah tiada. Lagu ini menjadi medium komunikasi emosional yang berfungsi memberikan ruang penyembuhan melalui ingatan dan harapan spiritual.
Konten Review KOL Akun TikTok @onebitebigbite dalam Membentuk Preferensi Konsumen Candice Felicia Austin Ng; Sinta Paramita
Kiwari Vol. 5 No. 2 (2026): Kiwari
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ki.v5i2.37612

Abstract

TikTok not only functions as a regular social media, but has evolved into an information space that shapes public opinion and preferences. This study examines the persuasive power of food review content on the TikTok account @onebitebigbite, focusing on how the creator’s trustworthiness, expertise, and attractiveness influence consumer preferences. The research adopts Opinion Leader Theory as its conceptual framework to analyze how short-form culinary video content shapes audience perceptions and stimulates intentions to try food. A qualitative case study approach was employed, utilizing in-depth interviews with ten TikTok users aged 18–25 who actively watch and interact with @onebitebigbite’s content. The findings indicate that while trustworthiness and expertise contribute to strengthening the creator’s credibility, attractiveness—particularly visual aesthetics, shooting techniques, spontaneous delivery style, and creative editing—emerges as the most dominant factor influencing audience preferences. This visual appeal generates strong emotional engagement and enhances audience involvement, encouraging viewers to try the recommended food items. The study concludes that Key Opinion Leader characteristics, especially visual content attractiveness, play a crucial role in shaping culinary consumption behavior on social media platforms. TikTok tidak hanya berfungsi sebagai media sosial biasa, tetapi telah berkembang menjadi ruang informasi yang membentuk opini serta preferensi masyarakat. Penelitian ini mengkaji kekuatan persuasif dari konten ulasan kuliner pada akun TikTok @onebitebigbite, dengan fokus pada bagaimana unsur dapat dipercaya, keahlian, dan daya tarik kreator memengaruhi preferensi konsumen. Penelitian ini menggunakan Teori Pemimpin Opini sebagai landasan konseptual untuk menganalisis bagaimana konten video kuliner berdurasi singkat membentuk persepsi penonton dan mendorong minat mencoba makanan. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus dengan pendekatan kualitatif melalui wawancara mendalam kepada sepuluh pengguna TikTok berusia 18–25 tahun yang aktif menonton konten @onebitebigbite. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun unsur dapat dipercaya dan keahlian berperan dalam memperkuat kredibilitas kreator, aspek daya tarik—terutama visual estetis, teknik pengambilan gambar, gaya penyampaian yang spontan, serta proses penyuntingan—menjadi faktor paling dominan dalam memengaruhi preferensi penonton. Daya tarik visual tersebut menciptakan keterlibatan emosional yang kuat dan mendorong audiens untuk mencoba makanan yang direkomendasikan. Penelitian ini menegaskan bahwa karakteristik KOL, khususnya daya tarik konten visual, memiliki peran penting dalam membentuk perilaku konsumsi kuliner di media sosial.
Efektivitas Label Rekomendasi Influencer terhadap Pengambilan Keputusan Pembelian Produk Skincare Lokal Somethinc Cenny Tusiadi; Diah Ayu Candraningrum
Kiwari Vol. 5 No. 2 (2026): Kiwari
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ki.v5i2.37613

Abstract

This research evaluates the significance of brand image and the application of the curated label "Tasya Farasya Approved" in driving purchasing decisions for Somethinc products among students at Universitas Tarumanagara. Utilizing an explanatory quantitative methodology with a sample of 103 respondents selected through purposive sampling, the data was processed using SPSS version 30. A series of tests were conducted, including instrument testing (validity and reliability), multiple linear regression, and hypothesis testing (t and F tests). The research findings confirm that both brand identity and the Model of Source Influence (MSI) have a positive impact, both partially and collectively, on purchasing actions. MSI was identified as the more dominant factor, particularly regarding the credibility indicator of the influencer. Nevertheless, the coefficient of determination reached only 2.2%, indicating that the majority of purchasing dynamics are triggered by variables outside the research model, such as product functional aspects, price, and users' personal experiences. Tasya Farasya sebagai salah satu beauty influencer terbesar di Indonesia, dengan reputasi tinggi sebagai reviewer yang kredibel, jujur, dan memiliki keahlian dalam dunia kecantikan. Riset ini bertujuan mengevaluasi signifikansi citra brand serta penggunaan label kurasi "Tasya Farasya Approved" dalam memicu keputusan pembelian produk Somethinc di lingkungan mahasiswa Universitas Tarumanagara. Menggunakan metodologi kuantitatif eksplanatif dengan sampel 103 responden yang ditentukan melalui purposive sampling, data diolah menggunakan perangkat lunak SPSS versi 30. Serangkaian pengujian dilakukan mencakup uji instrumen (validitas/reliabilitas), regresi linear berganda, hingga uji hipotesis (t dan F). Temuan riset mengonfirmasi bahwa baik identitas merek maupun Model of Source Influence (MSI) memiliki dampak positif secara parsial dan kolektif terhadap tindakan pembelian. MSI ditemukan sebagai faktor yang lebih dominan, khususnya pada indikator kredibilitas sang pemberi pengaruh. Meski demikian, koefisien determinasi menunjukkan angka 2,2%, yang mengindikasikan bahwa mayoritas dinamika pembelian dipicu oleh variabel di luar model penelitian, seperti aspek fungsional produk, harga, serta pengalaman personal pengguna.
Peran TikTok sebagai Ruang Interaksi Sosial Mahasiswa Gen Z Jakarta Cindy Aldora Cahyadi; Muhammad Adi Pribadi
Kiwari Vol. 5 No. 2 (2026): Kiwari
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ki.v5i2.37614

Abstract

TikTok has become one of the most dominant digital platforms among Generation Z in Indonesia, especially in Jakarta. This study examines how TikTok functions as a space for social interaction, focusing on the symbolic meanings constructed by its users. Using George Herbert Mead’s theory of symbolic interactionism, this research analyzes how significant symbols, role-taking, and generalized others shape users’ communication patterns. This qualitative study involved six informants who are active TikTok users and residents of West Jakarta. Data were collected through in-depth interviews and analyzed using thematic analysis. The findings indicate that TikTok serves not only as a platform for entertainment but also as a symbolic space where meanings, identities, and social interactions are negotiated. Users interpret various digital symbols such as viral sounds, content formats, and visual expressions to shape their online behavior. Additionally, TikTok facilitates identity expression while reinforcing social norms through community responses and viral trends. The study concludes that TikTok functions as a modern social arena that significantly influences Gen Z’s communication behavior and identity construction. TikTok menjadi salah satu platform digital yang paling dominan di kalangan Generasi Z di Indonesia, khususnya di Jakarta. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana TikTok berfungsi sebagai ruang interaksi sosial bagi mahasiswa Gen Z. Pendekatan teori interaksionisme simbolik George Herbert Mead digunakan untuk menjelaskan proses pembentukan makna melalui significant symbols, role-taking, dan generalized others. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan melibatkan enam informan yang merupakan pengguna aktif TikTok dan berdomisili di Jakarta Barat. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dan dianalisis menggunakan teknik analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa TikTok tidak hanya berfungsi sebagai media hiburan, tetapi juga sebagai ruang simbolik tempat mahasiswa Gen Z menegosiasikan identitas, makna sosial, dan perilaku komunikasi. Pengguna menafsirkan berbagai simbol digital seperti audio viral, gaya konten, hingga ekspresi visual sebagai acuan dalam berinteraksi. Selain itu, respons audiens dan tren yang berkembang berperan sebagai generalized others yang memengaruhi pembentukan identitas dan perilaku digital mereka. Penelitian ini menyimpulkan bahwa TikTok merupakan arena sosial modern yang memengaruhi proses komunikasi dan konstruksi identitas mahasiswa Gen Z.
Peningkatan Harmonisasi Paduan Suara Universitas Tarumanagara Melalui Komunikasi Nonverbal Konduktor Cita Marito Sitorus; Ahmad Junaidi
Kiwari Vol. 5 No. 2 (2026): Kiwari
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ki.v5i2.37615

Abstract

The success of a choir performance is critically dependent on the synergy achieved through the conductor's nonverbal communication. This research aims to deeply analyze the nonverbal communication strategies used by the conductor of the Universitas Tarumanagara Choir (PSUT), Jason Ferdison, to enhance harmonization, musical unity, and overall performance quality. Using a Qualitative Descriptive approach with a Case Study design on PSUT, the study focuses on three key nonverbal strategies derived from Green's (2019) model: Gestural Clarity Strategy, Emotional Expressiveness Strategy, and Interpersonal Regulation Strategy. Data were collected through in-depth interviews with the conductor and four key singers, passive non-participant observation, and documentation. Data analysis employed the interactive model of Miles, Huberman, and Saldana (2018). Findings reveal that the conductor consciously applies these strategies: Gestural Clarity (using clear Ictus and the Axis XYZ system for dynamics) secures technical unison; Emotional Expressiveness (facial and bodily) creates emotional unison in interpretation, aligning with Ekman's theory; and Interpersonal Regulation (Oculesics/eye contact) acts as a supportive nonverbal correction tool, reflecting transformational leadership. The high level of harmonization achieved, particularly during complex pianissimo sections, proves the efficacy of these nonverbal cues. However, a gap exists in the interpretation of complex, spontaneous gestures due to lack of singer focus, highlighting the crucial role of chemistry and repeated rehearsal exposure in bridging this nonverbal gap. Keberhasilan penampilan paduan suara sangat bergantung pada sinergi yang dicapai melalui komunikasi nonverbal konduktor. Penelitian ini bertujuan mengkaji secara mendalam strategi komunikasi nonverbal yang diterapkan konduktor Paduan Suara Universitas Tarumanagara (PSUT) untuk meningkatkan harmonisasi, kesatuan musikal, dan kualitas penampilan. Kajian ini berfokus pada tiga strategi nonverbal utama: Klarifikasi Gestur, Ekspresi Emosional, dan Regulasi Interpersonal. Pendekatan Deskriptif Kualitatif dengan desain Studi Kasus pada PSUT, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan konduktor kunci dan informan pendukung (penyanyi), observasi partisipan pasif selama latihan, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldana (Kondensasi, Penyajian, dan Penarikan Kesimpulan). Kerangka teoritis dibangun di atas Teori Komunikasi Nonverbal (Kinesics, Oculesics, Proxemics), Komunikasi Organisasi, dan Strategi Komunikasi, khususnya strategi nonverbal Klarifikasi, Ekspresi Emosional, dan Regulasi Interpersonal. Temuan awal menunjukkan bahwa penggunaan klarifikasi gestur yang presisi menghilangkan ambiguitas, sementara ekspresi emosional memandu interpretasi musikal yang lebih mendalam (unison). Regulasi interpersonal melalui kontak mata dan postur membangun kepercayaan diri dan motivasi, yang penting untuk mencapai balance dan blend optimal. Penelitian ini krusial untuk memberikan panduan praktis bagi konduktor dan memperkaya literatur tentang interaksi antara isyarat nonverbal dan kinerja musik.
Optimalisasi Strategi Komunikasi Digital Berbasis Konten Manyao untuk Membangun Loyalitas Pelanggan pada Oryza Pool and Café Clio Ionakana; Yugih Setyanto
Kiwari Vol. 5 No. 2 (2026): Kiwari
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ki.v5i2.37618

Abstract

This study explores the digital marketing communication strategy implemented by Oryza Pool and Café in strengthening customer loyalty amid increasing competition in the entertainment and culinary industry. The shift in consumer behavior toward digital content consumption requires businesses to optimize social media as their key communication channel. Oryza utilizes TikTok and Instagram as the primary platforms to communicate its brand identity, strengthen engagement, and attract new customers through visually appealing and culturally relevant content. Using a qualitative descriptive method, the research gathers data through in-depth interviews, observation of social media activities, and documentation of content interactions. The findings indicate that Oryza’s digital strategy focuses on understanding audience preferences, particularly through Manyao and Mandarin-themed music content, consistent posting schedules, humorous and educational content formats, and responsive communication with followers. These elements contribute significantly to increasing customer interaction, emotional attachment, and repeated visits. The study also shows that customer loyalty is strengthened through personalized communication, quick feedback handling, and creating a digital environment that encourages two-way interaction. Despite several challenges, such as platform algorithm changes and resource limitations, Oryza’s digital communication efforts remain effective in building long-term customer relationships. Penelitian ini mengkaji strategi komunikasi pemasaran digital yang diterapkan oleh Oryza Pool and Café dalam memperkuat loyalitas pelanggan di tengah persaingan industri hiburan dan kuliner yang semakin meningkat. Perubahan perilaku konsumen yang kini lebih mengandalkan media sosial menuntut pelaku bisnis untuk mengoptimalkan platform digital sebagai sarana komunikasi utama. Oryza memanfaatkan TikTok dan Instagram untuk memperkuat identitas merek, meningkatkan engagement, serta menarik pelanggan baru melalui konten visual yang menarik dan relevan dengan preferensi audiens. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi aktivitas media sosial, dan dokumentasi interaksi digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi digital Oryza berfokus pada pemahaman preferensi audiens, terutama melalui konten bertema Manyao atau musik Mandarin, pola unggahan yang konsisten, penggunaan konten humor dan edukatif, serta komunikasi yang responsif terhadap pengikut. Faktor-faktor ini berperan penting dalam meningkatkan keterlibatan pelanggan, membangun kedekatan emosional, dan mendorong kunjungan ulang. Selain itu, loyalitas pelanggan diperkuat melalui komunikasi yang personal, penanganan umpan balik yang cepat, dan penciptaan lingkungan digital yang mendorong interaksi dua arah.