cover
Contact Name
Supartina Hakim
Contact Email
supartinahakim@poltekkes-mks.ac.id
Phone
+6281355940558
Journal Mail Official
supartinahakim@poltekkes-mks.ac.id
Editorial Address
Jl. Paccerakkang No.82, Paccerakkang, Kec. Biringkanaya, Kota Makassar, Sulawesi Selatan 90241, Indonesia
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Jurnal Media Fisioterapi Poltekkes Kemenkes Makassar
ISSN : 20865937     EISSN : 27157288     DOI : https://doi.org/10.32382/fis.v15i2
Ruang lingkup media fisioterapi adalah jurnal kesehatan yang mengelola artikel kesehatan dalam rumpun ilmu fisioterapi : 1. Fisioterapi Muskuloskeletal 2. Fisioterapi Neuromuskular 3. Fisioterapi Kardiovaskular dan Respirasi 4. Fisioterapi Geriatrik 5. Fisioterapi Pediatrik 6. Fisioterapi Ergonomi dan Kesehatan Kerja 7. Fisioterapi Olahraga, dan 8. Fisioterapi Kesehatan Masyarakat
Articles 84 Documents
HUBUNGAN ANTARA PERFORMA FISIK DAN FUNGSI KOGNITIF PADA LANSIA: The Relationship Between Physical Performance and Cognitive Function in Older Adults Muthiah; Yusfina
Media Fisioterapi Politeknik Kesehatan Makassar Vol 17 No 2 (2025): Media Fisioterapi Politeknik Kesehatan Makassar
Publisher : Jurusan Fisioterapi Poltekkes Kemenkes Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/fis.v17i2.1884

Abstract

Fenomena ageing population menjadi tantangan signifikan dalam mempertahankan performa fisik dan fungsi kognitif pada lanjut usia. Seiring bertambahnya usia, lansia mengalami berbagai perubahan fisik dan kognitif yang dapat memengaruhi kualitas hidup. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara performa fisik dan fungsi kognitif pada lansia. Penelitian kuantitatif ini menggunakan rancangan deskriptif analitik dengan pendekatan cross-sectional, melibatkan 56 lansia yang memenuhi kriteria inklusi. Performa fisik dinilai menggunakan Short Physical Performance Battery (SPPB), sedangkan fungsi kognitif diukur menggunakan Montreal Cognitive Assessment versi Indonesia (MoCA-Ina).  Hasil penelitian menunjukkan 58,9% responden memiliki performa fisik sedang, sementara 89,3% mengalami gangguan fungsi kognitif. Analisis statistik menggunakan korelasi spearman’s rho  menunjukkan hubungan positif yang signifikan antara performa fisik dan fungsi kognitif (p<0,001, r=0,619). Dari data tersebut dapat dismpulkan performa fisik berkorelasi kuat dengan fungsi kognitif pada lansia, menekankan pentingnya menjaga aktivitas fisik untuk mendukung kesehatan kognitif pada populasi lansia. Kata Kunci: Fungsi kognitif; Lanjut Usia; Performa Fisik;   The ageing population phenomenon presents a significant challenge in maintaining physical performance and cognitive function among older adults. As individuals age, they undergo various physical and cognitive changes that may impact their quality of life. This study aims to examine the association between physical performance and cognitive function in older adults. A quantitative study with a descriptive-analytic design and a cross-sectional approach was conducted, involving 56 older adults who met the inclusion criteria. Physical performance was assessed using the Short Physical Performance Battery (SPPB), while cognitive function was measured using the Indonesian version of the Montreal Cognitive Assessment (MoCA-Ina). The results showed that 58.9% of participants had moderate physical performance, while 89.3% experienced cognitive impairment. Statistical analysis using Spearman’s rho correlation revealed a significant positive relationship between physical performance and cognitive function (p < 0.001, r = 0.619). These findings suggest that physical performance is strongly correlated with cognitive function in older adults, highlighting the importance of maintaining physical activity to support cognitive health in the ageing population. Keywords: Cognitive Function, Older Adults, Physical Performance
HUBUNGAN ANTARA OBESITAS DENGAN SATURASI OKSIGEN PADA MAHASISWA FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS HASANUDDIN: The Correlation Between Obesity And Oxygen Saturation In Students Of Faculty Of Nursing Hasanuddin University Sadmita, Salki; Putri Maharani, Nadia
Media Fisioterapi Politeknik Kesehatan Makassar Vol 17 No 2 (2025): Media Fisioterapi Politeknik Kesehatan Makassar
Publisher : Jurusan Fisioterapi Poltekkes Kemenkes Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/fis.v17i2.1927

Abstract

  Latar belakang. Obesitas jadi sebuah permasalahan kesehatan yang ada di dunia yang diakibatkan ketidakseimbangan asupan energi serta pengeluaran energi. Di Indonesia, prevalensi obesitas terus meningkat, terutama di kalangan mahasiswa, yang menjadi kelompok usia dengan prevalensi tertinggi. Obesitas diukur dengan Indeks Massa Tubuh (IMT), yang berhubungan positif dengan total lemak pada tubuh. IMT tinggi dapat berdampak negatif terhadap kesehatan, termasuk penurunan fungsi kardiorespirasi yang berakibat pada penurunan kadar saturasi oksigen, Mengingat pentingnya kesehatan mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa, pengkajian mengenai hubungan antara obesitas dengan saturasi oksigen menjadi hal yang krusial. Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara obesitas dengan saturasi oksigen pada Mahasiswa Fakultas Keperawatan Universitas Hasanuddin. Hasil. Dari 69 total responden, diperoleh hasil untuk nilai rata-rata IMT adalah 29,05, serta untuk nilai rata-rata saturasi oksigen ialah 97,71. Hasil pengujian hubungan spearman memperlihatkan signifikansi (<0,05). Kesimpulan. Ada korelasi yang signifikan antara obesitas dengan saturasi oksigen pada Mahasiswa Fakultas Keperawatan Universitas Hasanuddin. Kata kunci : Obesitas, Indeks Massa Tubuh (IMT), Saturasi Oksigen, Mahasiswa   Background. Obesity is a global public health concern caused by an imbalance between energy intake and expenditure. In Indonesia, the prevalence of obesity continues to rise, particularly among university students, who represent the age group with the highest rates. Obesity, commonly assessed using Body Mass Index (BMI), is positively correlated with total body fat. A high BMI may adversely affect health, including a decline in cardiorespiratory function, which can result in reduced oxygen saturation levels. Given the crucial role of students as the nation's future generation, examining the association between obesity and oxygen saturation is essential. Aim. This study aims to determine the relationship between obesity and oxygen saturation in students of the Faculty of Nursing, Hasanuddin University. Results. The mean BMI among respondents was 29.05, and the average oxygen saturation level was 97.71%. The Spearman correlation test revealed a statistically significant association between BMI and oxygen saturation (p < 0.05). Conclusion. There is a significant relationship between obesity and oxygen saturation in students of the Faculty of Nursing, Hasanuddin University. Keywords : Obesity, Body Mass Indeks (BMI), Oxygen Saturation, College Students
PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA GANGGUAN FUNGSIONAL SHOULDER AKIBAT FROZEN SHOULDER DI RS BHAYANGKARA KOTA MAKASSAR: Physiotherapy Management of Functional Shoulder Disorders Due To Frozen Shoulder At Bhayangkara Hospital Makassar City Sudaryanto; Hasbiah; Erawan, Tiar; Ahmad, Hasnia; Ramba, Yonathan; Muthiah, Siti
Media Fisioterapi Politeknik Kesehatan Makassar Vol 17 No 2 (2025): Media Fisioterapi Politeknik Kesehatan Makassar
Publisher : Jurusan Fisioterapi Poltekkes Kemenkes Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Frozen shoulder adalah peradangan progresif yang memicu kontraktur pada kapsul sendi glenohumeral. Keadaan ini menyebabkan nyeri dan keterbatasan gerak aktif dan pasif dengan pola kapsular. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penatalaksanaan fisioterapi pada gangguan fungsional shoulder joint akibat frozen shoulder. Jenis penelitian adalah studi kasus, dilaksanakan di RS. Bhayangkara Makassar dengan jumlah sampel sebanyak 2 orang. Pengumpulan data diperoleh melalui pengukuran nyeri menggunakan VAS dan pengukuran ROM menggunakan Goniometer. Intervensi yang diberikan US, anterior-posterior glide, dan codman pendulum exercise. Setelah delapan kali intervensi, kedua pasien menunjukkan penurunan nyeri yang bermakna serta peningkatan rentang gerak sendi. Pada gerakan rotasi eksternal, rotasi internal, maupun abduksi, terjadi penurunan intensitas nyeri yang disertai dengan peningkatan kemampuan gerak aktif. Kesimpulan penelitian ini adalah penatalaksanaan fisioterapi dengan Ultrasound, anterior-posterior glide, dan codman pendulum exercise, dapat menghasilkan penurunan nyeri gerak dan peningkatan ROM shoulder pada kondisi frozen shoulder. Kata kunci : Anterior-Posterior Glide, Codman Pendulum Exercise, Frozen Shoulder, Nyeri, ROM Shoulder, Ultrasound   Frozen shoulder is a progressive inflammation that triggers contracture of the glenohumeral joint capsule. This situation causes pain and limitation of active and passive movements with a capsular pattern. The purpose of this study was to determine the physiotherapy management of functional disorders of the shoulder joint due to frozen shoulder. This type of research is a case study, conducted at Bhayangkara Makassar Hospital with a total sample of 2 people. Data collection was obtained through pain measurement using VAS and ROM measurement using Goniometer. Interventions provided US, anterior-posterior glide, and codman pendulum exercise. After eight interventions, both patients showed a significant decrease in pain and an increase in joint range of motion. In external rotation, internal rotation, and abduction movements, there was a decrease in pain intensity accompanied by an increase in active movement ability. The conclusion of this study is that physiotherapy treatment with ultrasound, anterior-posterior glide, and codman pendulum exercise, can result in decreased motion pain and increased ROM of the shoulder in a frozen shoulder condition. Keywords : Anterior-Posterior Glide, Codman Pendulum Exercise, Frozen Shoulder, Pain, ROM Shoulder, Ultrasound
PEMANFAATAN DUKUNGAN DIGITAL DALAM PRAKTIK BERBASIS BUKTI DAN TANTANGANNYA DI KALANGAN FISIOTERAPIS INDONESIA: Digital Support In Evidence-Based Practice And Related Challenges Among Indonesian Physiotherapists Risa Kusuma Anggraeni; Sri Gunda Fahriana Fahruddin
Media Fisioterapi Politeknik Kesehatan Makassar Vol 18 No 1 (2026): Media Fisioterapi Politeknik Kesehatan Makassar
Publisher : Jurusan Fisioterapi Poltekkes Kemenkes Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/fis.v18i1.1507

Abstract

Seiring dengan berkembangnya layanan kesehatan digital, fisioterapis semakin dituntut untuk tidak hanya menggunakan platform digital sebagai sumber informasi, tetapi juga sebagai alat penunjang penalaran klinis dan praktik berbasis bukti. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana fisioterapis di Indonesia, khususnya mereka yang berada di awal karier, memanfaatkan alat digital untuk mendukung pengambilan keputusan profesional. Survei potong lintang dilakukan terhadap 50 fisioterapis dari berbagai fasilitas layanan kesehatan di Indonesia. Mayoritas responden berusia di bawah 25 tahun, memiliki latar belakang pendidikan Diploma III Fisioterapi, dan pengalaman kerja kurang dari satu tahun. Meskipun masih baru dalam praktik, 82% responden menunjukkan motivasi sedang hingga tinggi untuk menggunakan alat kesehatan digital. Namun, frekuensi penggunaannya relatif rendah—hanya 2% yang mengakses setiap hari, sementara sisanya hanya beberapa kali dalam seminggu atau bulan. Platform yang paling sering digunakan adalah PubMed (40,4%) dan Google Scholar (34,3%), sedangkan basis data khusus seperti PEDro dan Cochrane Library jarang diakses. Sebanyak 58% responden menyatakan bahwa alat digital meningkatkan kualitas intervensi mereka, meskipun 42% masih ragu. Hambatan yang umum dilaporkan meliputi keterbatasan waktu praktik (29,1%), kesulitan memahami artikel berbahasa asing (24,1%), kurangnya pelatihan (20,3%), dan kendala konektivitas internet (11,4%). Temuan ini menunjukkan minat tinggi fisioterapis muda terhadap penggunaan alat digital, namun masih terdapat hambatan sistemik dan edukasional yang menghambat penerapannya. Studi ini menekankan pentingnya integrasi literasi digital dalam pendidikan fisioterapi, peningkatan akses terhadap sumber berkualitas tinggi, serta dukungan kelembagaan untuk memperkuat pemanfaatan teknologi dalam praktik klinis sehari-hari. Kata kunci: kesehatan digital, fisioterapi, praktik berbasis bukti, pengambilan keputusan klinis, Indonesia  As digital health continues to reshape healthcare delivery, physiotherapists are increasingly expected to engage with digital platforms not only as a source of information, but as a tool to support clinical reasoning and evidence based practice. This study aimed to explore how Indonesian physiotherapists, particularly those early in their careers, utilize digital tools to inform and enhance their professional decisions. A cross-sectional survey was conducted with 50 physiotherapists from diverse clinical settings across Indonesia. The majority of respondents were under 25 years old, held a Diploma III in Physiotherapy, and had less than one year of clinical experience. Despite their limited time in practice, most participants expressed strong motivation to engage with digital health tools, with 82% reporting moderate to high motivation. However, frequency of use was relatively low only 2% accessed digital tools daily, while most reported using them several times per week or month. Popular platforms included PubMed (40.4%) and Google Scholar (34.3%), whereas specialized databases such as PEDro and the Cochrane Library were accessed far less frequently. While 58% of respondents agreed that digital tools improved the quality of their interventions, a notable 42% remained unsure. Commonly cited barriers included lack of time during clinical hours (29.1%), difficulty reading articles in foreign languages (24.1%), lack of training (20.3%), and internet connectivity issues (11.4%). These findings reveal a clear interest in using digital tools among young Indonesian physiotherapists, yet highlight persistent systemic and educational barriers that limit their practical application. The study underscores the need for better integration of digital literacy in physiotherapy training, improved access to high-quality resources, and support systems that empower clinicians to fully embrace digital tools in everyday practice. Keywords: digital health, physiotherapy, evidence based practice, clinical decision making, Indonesia
MANAJEMEN FISIOTERAPI TERHADAP POST-OP TENDON ACHILLES REPAIR: Physiotherapy Management in Post-Op Tendo Achilles Repair Nopea Triramadhani; Irianto; Immanuel Maulang
Media Fisioterapi Politeknik Kesehatan Makassar Vol 18 No 1 (2026): Media Fisioterapi Politeknik Kesehatan Makassar
Publisher : Jurusan Fisioterapi Poltekkes Kemenkes Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/fis.v18i1.1546

Abstract

Robekan pada tendon Achilles (AT rupture) adalah salah satu cedera tendon yang paling sering terjadi, menyumbang sekitar 10,7% dari seluruh kasus. AT rupture dapat dikategorikan menjadi dua jenis: robekan parsial, di mana tendon hanya putus sebagian, atau rupture total, yang berarti tendon putus sepenuhnya. Penanganan cedera AT rupture dapat dibagi menjadi dua pendekatan utama, yaitu konservatif dan operatif. Program rehabilitasi yang dirancang secara tepat berkontribusi signifikan tidak hanya pada restorasi kekuatan otot dan fungsi sendi, tetapi juga pada akselerasi proses penyembuhan tendon, prevensi kekakuan, serta reduksi risiko re-rupture atau komplikasi jangka panjang. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran manajemen fisioterapi pada kasus post-op AT repair. Penelitian ini merupakan case report, data primer diperoleh melalui autoanamnesis, dan pemeriksaan fisik. Hasil: Pasien berusia 28 tahun menjalani AT repair sejak 5 bulan yang lalu diberikan penanganan fisioterapi berupa IRR, electrical stimulant serta exercise therapy. Penanganan fisioterapi penting untuk peningkatan kekuatan otot setelah prosedur AT repair, untuk pasien kembali melakukan aktivitas sehari-hari tanpa hambatan dan kembali ke tingkat aktivitas olahraga sebelumnya. Kata Kunci: Tendon achilles repair, kekuatan otot, penatalaksanaan fisioterapi. Achilles tendon (AT) rupture is one of the most frequently occurring tendon injuries, accounting for approximately 10.7% of all cases. AT rupture can be categorized into two types: partial rupture, where the tendon only partially tears, or total rupture, which means the tendon tears completely. Management of AT rupture injuries can be divided into two main approaches: conservative and operative. A properly designed rehabilitation program contributes significantly not only to the restoration of muscle strength and joint function but also to the acceleration of the tendon healing process, prevention of stiffness, and reduction of the risk of re-rupture or long-term complications. This study aims to provide an overview of physiotherapy management in post-op AT repair cases. This research is a case report; primary data were obtained through autoanamnesis and physical examination. Results: A 28-year-old patient who underwent AT repair 5 months ago was given physiotherapy management in the form of IRR, electrical stimulation, and exercise therapy. Physiotherapy management is important for increasing muscle strength after the AT repair procedure, for patients to return to daily activities without obstacles and return to their previous level of sports activity. Keywords: Achilles tendon repair, muscle strength,physiotherapy management.
DURASI PAPARAN LAYAR SMARTPHONE TERKAIT FORWARD HEAD POSTURE PADA SISWA-SISWI SMA NEGERI 2 MAKASSAR: Screen Time Duration Associated with Forward Head Posture Among Students of SMA Negeri 2 Makassar Syahdina Putri Arsyad; Yery Mustari; Djohan Aras; Asdar Fajrin Multazam
Media Fisioterapi Politeknik Kesehatan Makassar Vol 18 No 1 (2026): Media Fisioterapi Politeknik Kesehatan Makassar
Publisher : Jurusan Fisioterapi Poltekkes Kemenkes Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/fis.v18i1.2032

Abstract

Perkembangan teknologi meningkatkan penggunaan smartphone, terutama di kalangan remaja. Pada 2024, diperkirakan ada 4,88 miliar pengguna smartphone global dan di Indonesia, penetrasi internet meningkat dari 64,85% menjadi 78,19% pada 2018–2023. Remaja usia 13–18 tahun menunjukkan tingkat kepemilikan smartphone 98,20%. Penggunaan berlebihan dapat menyebabkan gangguan muskuloskeletal, salah satunya FHP. Sebuah studi menunjukkan 59,5% individu mengalami FHP akibat durasi paparan smartphone yang berlebihan. Studi pendahuluan menunjukkan 8 dari 30 siswa terindikasi FHP dengan rata-rata durasi penggunaan layar 7–8 jam/hari. Pengambilan subjek menggunakan metode purposive sampling sesuai kriteria inklusi, dan diperoleh total sampel sebanyak 296 responden. Durasi paparan layar diukur menggunakan fitur screen time  pada smartphone dan FHP diukur menggunakan aplikasi Apecs. Terdapat 91 responden (30.7%) terindikasi mengalami FHP. Kemudian, uji Chi-Square diperoleh nilai p-value sebesar 0.001 (p<0.05). Koefisien kontingensi 0.209 yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan dengan korelasi lemah antara kedua variabel tersebut. Kata kunci : durasi paparan layar, forward head posture (FHP), gangguan muskuloskeletal, siswa, smartphone The rapid development of technology has increased smartphone usage, particularly among adolescents. In 2024, it is estimated that there will be 4.88 billion global smartphone users, and in Indonesia, internet penetration has increased from 64.85% to 78.19% between 2018 and 2023. Adolescents aged 13–18 show a smartphone ownership rate of 98.20%. Excessive use can lead to musculoskeletal disorders, one of which is Forward head posture (FHP). A study showed that 59.5% of individuals experienced FHP due to excessive smartphone exposure. Preliminary studies showed that 8 out of 30 students were found to have FHP, with an average screen time of 7–8 hours per day. The subjects were selected using purposive sampling based on inclusion criteria, resulting in a total sample of 296 respondents. Screen time duration was measured using the screen time feature on respondents' smartphones, and FHP was measured using the Apecs application. A total of 91 respondents (30.7%) were found to be experiencing FHP. A chi-square test yielded a p-value of 0.001 (p <0.05). The contingency coefficient of 0.209 indicates a significant relationship with a weak correlation between the two variables. Keywords : forward head posture (FHP), muskuloskeletal disorders, screen time duration, smartphone, students  
EFEK FOREST WALKING TERHADAP TINGKAT SUASANA HATI MAHASISWA: ULASAN SISTEMATIS: The Efficacy of Forest Walking to Mood State College Student: Systematic Review Faiza Farhanny Putri; Mita Noviana; Faizah Abdullah Djawas; Hera Listi Warni Sargih; Aourellia Juvenille Aziza Akbar
Media Fisioterapi Politeknik Kesehatan Makassar Vol 18 No 1 (2026): Media Fisioterapi Politeknik Kesehatan Makassar
Publisher : Jurusan Fisioterapi Poltekkes Kemenkes Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/fis.v18i1.2109

Abstract

Berjalan di hutan telah dikenal sebagai cara alami dan mudah diakses untuk meningkatkan kesehatan mental. Mahasiswa dapat mengambil manfaat dari lingkungan hutan karena tingkat stres dan kecemasan yang tinggi. Tinjauan sistematis bertujuan untuk menentukan apakah berjalan di hutan dapat meningkatkan suasana hati mahasiswa.  Penelitian ini menggunakan pedoman PRISMA dengan mencari artikel melalui database elektronik: PubMed, Scopus, Semantic Scholar, Google Scholar, dan Crossref yang dipublikasikan pada tahun 2015-2025, dengan desain penelitian eksperimental untuk mahasiswa. Sembilan artikel dipilih berdasarkan hasil pencarian dan pemilihan artikel. Hasilnya secara konsisten menunjukkan bahwa berjalan singkat (15-60 menit) di hutan dapat mengurangi ketegangan, depresi, kemarahan, kelelahan, dan kebingungan, serta meningkatkan semangat dan emosi positif.  Kajian ini menekankan bahwa interaksi singkat dan berulang dengan lingkungan hutan dapat memberikan manfaat yang cukup besar bagi kesehatan mental, yang berpotensi menimbulkan efek jangka panjang. Meskipun demikian, perbedaan dalam durasi berjalan kaki dan variabel lingkungan menunjukkan bahwa penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menetapkan standar waktu paparan yang tepat.  Ulasan ini menyoroti pentingnya memasukkan intervensi berbasis alam ke dalam inisiatif kesehatan mental bagi siswa dan pembangunan perkotaan untuk meningkatkan kesejahteraan psikologis. Kata kunci : Jalan Kaki Alam, Mahasiswa, Suasana Hati Forest walking has been recognized as a natural and accessible way to improve mental health. College students may benefit from forest environments due to their high stress and anxiety levels. This systematic review analyzes experimental trials to determine if forest walking improves college students' moods. The study uses PRISMA guidelines by searching articles through electronic databases: PubMed, Scopus, Semantic Scholar, Google Scholar, and Crossref that are published in 2015-2025, experimental research design for college student. Nine articles were selected based on the search results and selection of articles. The results consistently show that brief walking (15-60 minutes) in forests leads to a decrease in tension, depression, anger, fatigue, and confusion, while enhancing vigor and positive emotions. The review emphasizes that both brief and repeated interactions with forest environments can provide considerable mental health advantages, potentially leading to lasting effects. Nonetheless, differences in walking duration and ambient variables suggest more research is needed to establish appropriate exposure time standards. This review highlights the significance of incorporating nature-based interventions into mental health initiatives for students and urban development to enhance psychological well-being. Keywords : College Student, Forest Walking or Nature Walking, and Mood State  
MENGEKSPLORASI EFEKTIVTAS METODE PILATES UNTUK SKOLIOSIS DAN IMPLIKASINYA DALAM TERAPI: ULASAN SISTEMATIS: Exploring The Effectiveness of Pilates for Scoliosis and The Implications for Therapeutic Treatment: A Systematic Review Auorellia Juvenille Aziza Akbar; Faizah Abdullah Djawas; Mita Noviana; Faiza Farhanny Putri; Hera Listi Warni Saragih
Media Fisioterapi Politeknik Kesehatan Makassar Vol 18 No 1 (2026): Media Fisioterapi Politeknik Kesehatan Makassar
Publisher : Jurusan Fisioterapi Poltekkes Kemenkes Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/fis.v18i1.2124

Abstract

Skoliosis merupakan kelainan muskuloskeletal pada tulang belakang yang ditandai oleh deformitas tiga dimensi dan berpotensi menimbulkan gangguan postur, fungsi respirasi, nyeri, serta penurunan kualitas hidup. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan konservatif yang efektif dan berbasis bukti ilmiah. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi efektivitas metode Pilates dalam penatalaksanaan skoliosis serta implikasinya dalam praktik terapi fisik. Penelitian menggunakan desain deskriptif eksploratif melalui systematic literature review dengan menganalisis data sekunder dari artikel ilmiah internasional yang diperoleh melalui basis data Scopus, Google Scholar, dan Semantic Scholar. Proses seleksi dilakukan berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan, sehingga diperoleh empat studi primer yang relevan untuk dianalisis secara deskriptif. Hasil kajian menunjukkan bahwa intervensi Pilates memberikan dampak positif terhadap berbagai outcome klinis, meliputi penurunan Cobb angle pada populasi adolescent idiopathic scoliosis, peningkatan fungsi dan kekuatan otot pernapasan, perbaikan postur dan keseimbangan, penurunan nyeri muskuloskeletal, serta peningkatan kualitas hidup, khususnya pada populasi dewasa. Secara keseluruhan, Pilates dapat dipertimbangkan sebagai pendekatan rehabilitasi yang komprehensif dan berorientasi fungsi dalam terapi konservatif skoliosis, meskipun diperlukan penelitian lanjutan dengan desain metodologis yang lebih kuat untuk memperkuat bukti ilmiah yang ada. Kata Kunci : Pilates, Skoliosis, Systematic Literature Review Scoliosis is a musculoskeletal disorder of the spine characterized by three-dimensional deformities that may lead to postural imbalance, respiratory dysfunction, pain, and reduced quality of life. Therefore, effective and evidence-based conservative interventions are required. This study aimed to explore the effectiveness of the Pilates method in the management of scoliosis and its implications for physical therapy practice. A descriptive exploratory design was employed through a systematic literature review by analyzing secondary data obtained from international scientific articles accessed via Scopus, Google Scholar, and Semantic Scholar databases. Study selection was conducted based on predefined inclusion and exclusion criteria, resulting in four relevant primary studies that were analyzed descriptively and synthesized according to reported clinical outcomes. The findings indicate that Pilates interventions provide positive effects on multiple clinical parameters, including a reduction in Cobb angle in individuals with adolescent idiopathic scoliosis, improvements in respiratory function and respiratory muscle strength, enhanced postural control and balance, reduced musculoskeletal pain, and improved quality of life, particularly in adult populations. Overall, Pilates may be considered a comprehensive and function-oriented rehabilitation approach within conservative scoliosis management. However, further studies with stronger methodological designs and larger sample sizes are needed to strengthen the existing evidence. Keywords: Pilates, scoliosis, systematic literature review
PERBANDINGAN KUALITAS HIDUP ANTARA MAHASISWA PEROKOK DAN NON PEROKOK DI KOTA MALANG: A Comparative Study of Quality of Life Between Smoking and Non-Smoking Students in Malang City M. Raiz Muthohiry; Nikmatur Rosidah; Arys Hasta Baruna
Media Fisioterapi Politeknik Kesehatan Makassar Vol 18 No 1 (2026): Media Fisioterapi Politeknik Kesehatan Makassar
Publisher : Jurusan Fisioterapi Poltekkes Kemenkes Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/fis.v18i1.2202

Abstract

Perilaku merokok merupakan fenomena yang umum ditemukan pada kalangan mahasiswa dan sering dikaitkan dengan gaya hidup, mekanisme koping stres, serta interaksi sosial, namun berpotensi berdampak negatif terhadap kualitas hidup. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kualitas hidup antara mahasiswa perokok dan non-perokok. Penelitian ini menggunakan desain analitik kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional yang dilakukan di Malang. Sampel penelitian berjumlah 72 mahasiswa laki-laki yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling dan dibagi secara seimbang antara kelompok perokok dan non-perokok. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner WHOQOL-BREF untuk mengukur kualitas hidup serta Glover-Nilsson Smoking Behavioral Questionnaire untuk menilai perilaku merokok. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat. Uji normalitas menggunakan Shapiro-Wilk menunjukkan data berdistribusi normal, sehingga dilanjutkan dengan uji Independent t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berada pada usia dewasa muda dan tingkat merokok didominasi oleh kategori ringan. Secara umum, kualitas hidup responden berada pada kategori baik hingga sangat baik. Namun, mahasiswa non-perokok lebih banyak berada pada kategori sangat baik dibandingkan mahasiswa perokok. Hasil analisis menunjukkan adanya perbedaan signifikan kualitas hidup antara kedua kelompok, yang menunjukkan bahwa kebiasaan merokok memengaruhi kualitas hidup mahasiswa. Mahasiswa perokok cenderung mengalami penurunan kondisi fisik dan kesejahteraan psikologis dibandingkan non-perokok. Kesimpulannya, mahasiswa non-perokok memiliki kualitas hidup yang lebih baik dibandingkan mahasiswa perokok. Kata Kunci : kualitas hidup, mahasiswa, perokok, aktifitas fisik Smoking behavior is commonly found among university students and is often associated with lifestyle, stress coping, and social interaction, but it may negatively affect quality of life. This study aimed to compare the quality of life between smoking and non-smoking students. This research used a quantitative analytic design with a cross-sectional approach conducted at the Malang City. The sample consisted of 72 male students selected using purposive sampling, divided equally into smoking and non-smoking groups. Data were collected using the WHOQOL-BREF questionnaire to measure quality of life and the Glover-Nilsson Smoking Behavioral Questionnaire to assess smoking behavior. Data analysis included univariate and bivariate analysis. Normality was tested using Shapiro-Wilk and showed normal distribution, followed by an independent t-test to compare both groups. The results indicated that most respondents were in early adulthood and that smoking intensity varied, with the majority categorized as light smokers. Overall, the quality of life of respondents was in the good to very good category. However, non-smoking students tended to have a higher proportion in the very good category compared to smoking students. Statistical analysis showed a significant difference in quality of life between the two groups, indicating that smoking behavior influences students' quality of life. Smoking students were more likely to experience decreased physical condition and psychological well-being compared to non-smokers. In conclusion, non-smoking students have better quality of life than smoking students, highlighting the negative impact of smoking behavior on overall well-being. Keywords : quality of life, smoking behavior, behavioral, students activity
PEMBERIAN TERAPI KINESIOTAPPING VERSUS VITAMIN B KOMPLEKS TERHADAP LUMBAR DISC HERNIATION PADA IBU HAMIL TRIMESTER III: Kinesiotaping therapy versus vitamin B complex for lumbar disc herniation in pregnant women in the third trimester Ashifa Quamila; Desy Annisa Perdana; Rezky Amaliah Usman; Wahyuni Dwi Cahya; Dewi Sawitri; Syifa Apriliandi Kusniadi
Media Fisioterapi Politeknik Kesehatan Makassar Vol 18 No 1 (2026): Media Fisioterapi Politeknik Kesehatan Makassar
Publisher : Jurusan Fisioterapi Poltekkes Kemenkes Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/fis.v18i1.2227

Abstract

Herniasi diskus lumbar sering terjadi pada ibu hamil pada trimester III karena adanya perubahan biomekanis yang terjadi selama masa kehamilan. Kinesiotaping dan suplementasi vitamin B kompleks menjadi alternatif terapi yang dapat digunakan untuk mengurangi keluhan yang dialami. Tujuan penelitian untuk mengetahui dampak terapi kinesiotaping dibandingkan dengan suplemen vitamin B kompleks terhadap aktivitas otot lokal di area lumbal pada ibu hamil trimester III yang mengalami herniasi diskus lumbar.  Penelitian ini menggunakan desain prospektif yang melibatkan 80 ibu hamil trimester III yang dibagi menjadi dua kelompok intervensi selama 6 minggu. Pengukuran ketebalan otot m. transversus abdominis dan m. lumbar multifidus dilakukan menggunakan ultrasonografi rehabilitasi dalam kondisi istirahat, kontraksi, dan rasio kontraksi selama tugas statis dan dinamis. Hasil uji ANOVA menunjukkan adanya perbedaan signifikan pada kondisi istirahat otot m. lumbar multifidus pada tugas statis (p = 0,01) dan dinamis (p = 0,04) antara kedua kelompok. Pada m. transversus abdominis, hanya kondisi istirahat selama tugas statis yang mendekati signifikan (p = 0,05). Tidak ditemukan perbedaan bermakna pada kondisi kontraksi dan rasio kontraksi. Pemberian terapi kinesiotapping versus vitamin B kompleks terhadap lumbar disc herniation pada ibu hamil trimester III memiliki pengaruh signifikan terhadap aktivitas m. lumbal multifidus dalam kondisi istirahat, namun tidak terhadap kondisi kontraksi aktif maupun rasio kontraksi. Kata Kunci : Kinesiotapping, Lumbar Disc Herniation,Trimester III, Vitamin B Kompleks Lumbar disc herniation commonly occurs in third-trimester pregnant women due to biomechanical changes during pregnancy. Kinesiotaping and vitamin B complex supplementation are potential therapeutic alternatives to alleviate symptoms. To compare the effects of kinesiotaping therapy and vitamin B complex supplementation on the activity of local lumbar muscles in third-trimester pregnant women with lumbar disc herniation. This prospective study involved 80 third-trimester pregnant women divided into two intervention groups over 6 weeks. Muscle thickness of the transversus abdominis and lumbar multifidus was assessed using rehabilitative ultrasound imaging under resting, contraction, and contraction ratio conditions during static and dynamic tasks. ANOVA analysis showed significant differences in lumbar multifidus muscle activity at rest during static (p = 0,01) and dynamic tasks (p = 0,04) between groups. In the transversus abdominis, only the rest condition during static tasks was near significant (p = 0,05). No significant differences were found during contraction and contraction ratio conditions. Kinesiotaping therapy versus vitamin B complex for lumbar disc herniation on pregnant women in the third trimester significantly influence lumbar multifidus muscle activity at rest but not during active contraction or contraction ratio. Keywords: Kinesiotapping, Lumbar Disc Herniation, Third Trimester, Vitamin B Complex