cover
Contact Name
Supartina Hakim
Contact Email
supartinahakim@poltekkes-mks.ac.id
Phone
+6281355940558
Journal Mail Official
supartinahakim@poltekkes-mks.ac.id
Editorial Address
Jl. Paccerakkang No.82, Paccerakkang, Kec. Biringkanaya, Kota Makassar, Sulawesi Selatan 90241, Indonesia
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Jurnal Media Fisioterapi Poltekkes Kemenkes Makassar
ISSN : 20865937     EISSN : 27157288     DOI : https://doi.org/10.32382/fis.v15i2
Ruang lingkup media fisioterapi adalah jurnal kesehatan yang mengelola artikel kesehatan dalam rumpun ilmu fisioterapi : 1. Fisioterapi Muskuloskeletal 2. Fisioterapi Neuromuskular 3. Fisioterapi Kardiovaskular dan Respirasi 4. Fisioterapi Geriatrik 5. Fisioterapi Pediatrik 6. Fisioterapi Ergonomi dan Kesehatan Kerja 7. Fisioterapi Olahraga, dan 8. Fisioterapi Kesehatan Masyarakat
Articles 73 Documents
EFEKTIVITAS TEKNIK PURSED LIP BREATHING TERHADAP PENDERITA SESAK NAPAS PADA PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIK (PPOK): TINJAUAN LITERATUR: The Effectiveness Of Pursed Lip Breathing Technique On Dyspnea Sufferers Of COPD: Literature Review Nurul Inayah, Rizqi; Fahriana , Sri Gunda; Ageng Izza, Inayah
Media Fisioterapi Politeknik Kesehatan Makassar Vol 17 No 1 (2025): Media Fisioterapi Politeknik Kesehatan Makassar
Publisher : Jurusan Fisioterapi Poltekkes Kemenkes Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/fis.v17i1.1496

Abstract

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memprediksi bahwa pada tahun 2030, Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) akan menjadi penyebab kematian ketiga di seluruh dunia. PPOK ditandai dengan obstruksi aliran udara yang progresif dan kerusakan pada jaringan paru-paru, terutama akibat peradangan kronis karena paparan partikel berbahaya dalam waktu lama. Pasien umumnya menunjukkan gejala seperti penggunaan otot aksesori, ekspirasi yang memanjang, mengi, serta peningkatan diameter anteroposterior dada (barrel chest). Mereka juga mengalami dispnea, yaitu ketidaknyamanan saat bernapas yang intensitasnya bervariasi. Teknik Pursed Lip Breathing berfungsi sebagai mekanisme kompensasi untuk membuka saluran udara yang tersumbat akibat lendir, kerusakan, atau pelebaran. Tujuan: Mengevaluasi efektivitas Pursed Lip Breathing terhadap dispnea pada pasien PPOK melalui tinjauan pustaka. Metode: Tinjauan pustaka ini menggunakan kerangka PICO (Population, Intervention, Comparison, Outcome) dengan artikel yang diambil dari Google Scholar, ScienceDirect, dan PubMed. Hasil: Dari 150 artikel yang ditemukan, delapan artikel dipilih berdasarkan relevansi, fokus pada Pursed Lip Breathing dan dispnea. Ekstraksi data dilakukan sesuai pedoman CONSORT dengan kata kunci seperti "Penyakit Paru Obstruktif Kronis," "Latihan Pernapasan Bibir Mengerut," dan "Dispnea PPOK." Kesimpulan: Intervensi Pursed Lip Breathing secara signifikan mengurangi dispnea pada pasien PPOK, berdasarkan literatur yang diterbitkan antara tahun 2019 dan 2024.
BEDA PENGARUH MAITLAND MOBILIZATION DENGAN MANUAL LUMBAL TRACTION PADA PENDERITA SPONDYLOSIS LUMBAL : Different Effects of Maitland Mobilization and Manual Lumbal Traction in Patients Spondylosis Lumbar Sudaryanto; Hasbiah; Nugraha, Rahmat; Erawan, Tiar; Anwar, Musdalipa
Media Fisioterapi Politeknik Kesehatan Makassar Vol 17 No 1 (2025): Media Fisioterapi Politeknik Kesehatan Makassar
Publisher : Jurusan Fisioterapi Poltekkes Kemenkes Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/fis.v17i1.1497

Abstract

Spondylosis Lumbal menyebabkan beban kompresi yang tinggi pada facet joint lumbal akibat degenerasi diskus intervertebralis, dan terjadi penebalan pada kapsul ligamen vertebra lumbal. Hal ini menimbulkan nyeri punggung bawah disertai keterbatasan gerak fleksi-ekstensi, yang akhirnya terjadi hambatan aktivitas fungsional.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan pengaruh Maitland Mobilization dengan Manual Lumbal Traction pada penerapan Microwave Diathermy dan Core Stability Exercise terhadap perbaikan nyeri fungsional dan ROM lumbal pada penderita Spondylosis Lumbal. Penelitian merupakan penelitian quasi eksperimen dengan desain randomized pre test-post test two group, yaitu menggunakan 2 kelompok sampel dimana kelompok perlakuan 1 diberikan intervensi MWD, Core Stability, dan Manual Lumbal Traction dan kelompok perlakuan 2 diberikan intervensi MWD, Core Stability, dan Maitland Mobilization. Sampel yang didapatkan sebanyak 30 orang sesuai dengan kriteria inklusi, kemudian dirandomisasi kedalam 2 kelompok yaitu sebanyak 15 orang kelompok perlakuan 1 dan 15 orang kelompok perlakuan 2. Pengumpulan data diperoleh melalui pengukuran nyeri fungsional menggunakan skala Patient Spesific Functional Scale (PSFS) dan pengukuran ROM menggunakan metode Schober. Berdasarkan hasil uji paired sample t untuk skala PSFS didapatkan nilai p=0,000 (p<0,05) pada kelompok perlakuan 1 dan 2, serta untuk ROM fleksiekstensi lumbal didapatkan nilai p=0,000 (p<0,05) pada kelompok perlakuan 1 dan 2, hal ini menunjukkan ada pengaruh yang signifikan pada kelompok perlakuan 1 (MWD, Core Stability, dan Manual Lumbal Traction) dan kelompok perlakuan 2 (MWD, Core Stability, dan Maitland Mobilization) terhadap perbaikan nyeri fungsional dan ROM lumbal. Namun, berdasarkan uji independent sample t untuk skala PSFS didapatkan nilai p=0,000 (rerata selisih yaitu 16,87% perlakuan 2 > 9,67% perlakuan 1), dan berdasarkan uji Mann-Whitney didapatkan nilai p=0,003 (rerata selisih 2,20 perlakuan 2 > 1,33 perlakuan 1), dan p=0,000 (2,40 perlakuan 2 >  1,33 perlakuan 1), yang berarti bahwa Maitland Mobilization lebih efektif daripada Manual Lumbal Traction. Kesimpulan penelitian ini adalah pemberian Maitland Mobilization dapat menghasilkan perbaikan nyeri fungsional dan peningkatan ROM yang lebih besar secara signifikan daripada pemberian Manual Lumbal Traction pada penderita Spondylosis Lumbal.
HUBUNGAN ANTARA KESEIMBANGAN DENGAN KELINCAHAN PADA PEMAIN FUTSAL KELOMPOK UMUR 15 – 17 TAHUN DI KOTA MAKASSAR: The Relationship Between Balance And Agility In Futsal Players Aged 15 – 17 Years In Makassar City Wajdi, Hanief Naufal; Irianto
Media Fisioterapi Politeknik Kesehatan Makassar Vol 17 No 2 (2025): Media Fisioterapi Politeknik Kesehatan Makassar
Publisher : Jurusan Fisioterapi Poltekkes Kemenkes Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/fis.v17i2.1512

Abstract

Olahraga futsal sejauh ini telah berkembang pesat di Kota Makassar. Terdapat ada 28 sekolah menengah keatas/sederajat yang turut serta dalam turnamen futsal Liga Celebes 2024. Kualitas fisik yang diperlukan untuk pemain sepak bola dan futsal tidak terpaut jauh, Selain pada tingkat kemampuan teknik yang baik, seperti kecepatan (speed), daya ledak (explosive power), daya tahan (endurance), kelentukan (flexibility), kelincahan (agility), dan keseimbangan (balancing) menjadi komponen yang harus dimiliki pemain futsal. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi koreasi antara variabel keseimbangan dan kelincahan pada pemain futsal. Penelitian ini bisa menjadi data awal tenaga fisioterapis untuk menjalankan peran promotif dan preventif terhadap edukasi peningkatan kapasitas fisik dan pencegahan cedera kepada pemain futsal terutama pada pemain remaja. Metode penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif korelasional dan menggunakan desain penelitian cross sectional study. Sampel pada penelitian ini diambil menggunakan purposive sampling sebanyak 53 sampel. Pengambilan data kedua variabel menggunakan dua alat ukur seperti Y-Balance Test untuk keseimbangan dan Illinois Agility Test untuk keliincahan. Pada pengolahan data menggunakan aplikasi pengolahan data SPSS (Statistical Pack Social Package) untuk mengetahui nilai korelasi dari data yang telah dhimpun. Hasil data menunjukkan bahwa nilai siginifikansi antara kedua variabel dengan menggunakan Uji Spearmann Rho nilai keseimbangan kaki kanan dengan kelincahan sebesar 0,856 (>0,05) yang artinya tidak terdapat hubungan antara kedua variabel. Hasil uji korelasi juga ditemukan koefisien korelasi (R) sebesar 0,856 yang berarti tidak ada korelasi antara variabel yang diuji. Pada keseimbangan kaki kiri dengan kelincahan nilai siginifikansi antara kedua variabel yakni nilai keseimbangan kaki kiri dengan kelincahan sebesar 0,915 (>0,05) yang artinya tidak terdapat hubungan antara kedua variabel. Hasil uji korelasi ditemukan koefisien korelasi (R) sebesar 0,015 yang berarti hubungan antara variabel bersifat negatif dan tidak ada korelasi antara variabel yang diuji. Kesimpulan penelitian ini tidak terdapat hubungan antara keseimbangan dengan kelincahan pada pemain futsal kelompok umur 15 – 17 tahun di Kota Makassar. Kata kunci : Illinois agility test, kelincahan, keseimbangan, remaja, dan y-balance test   Futsal sport has been growing rapidly in Makassar City. There are 28 high schools that participated in the 2024 Liga Celebes futsal tournament. Physical qualities required for soccer and futsal players are not far adrift, apart from a good level of technical ability, such as speed, explosive power, endurance, flexibility, agility, and balance are components that futsal players must have. This study aims to identify the choreography between balance and agility variables in futsal players. This research can be the initial data for physiotherapists to carry out a promotive and preventive role towards education on increasing physical capacity and preventing injuries to futsal players, especially teenage players. This research method is a correlational quantitative study and uses a cross sectional study design. The sample in this study was taken using purposive sampling as many as 53 samples. Data collection for both variables uses two measuring instruments such as the Y-Balance Test for balance and the Illinois Agility Test for agility. In data processing using the SPSS (Statistical Pack Social Package) data processing application to determine the correlation value of the data that has been collected. The data results show that the significance value between the two variables using the Spearmann Rho Test of the right foot balance value with agility is 0.856 (>0.05) which means there is no relationship between the two variables. The correlation test results also found a correlation coefficient (R) of 0.856 which means there is no correlation between the variables tested. In the balance of the left foot with agility, significance value between the two variables, namely the value of the balance of the left foot with agility, is 0.915 (>0.05), which means that there is no relationship between the two variables. Correlation test results found a correlation coefficient (R) of 0.015 which means the relationship between the variables is negative and there is no correlation between the variables tested. The conclusion of this study is that there is no relationship between balance and agility in futsal players aged 15-17 years in Makassar City. Keywords : Agility, balance, illinois agility test, teenagers, and y-balance test
MANAJEMEN FISIOTERAPI OLAHRAGA DAN KEBUGARAN PADA PRE-OP MENISCUS REPAIR DALAM MENANGANI GANGGUAN AKTIVITAS FUNGSIONAL DAN OLAHRAGA LARI MARATHON: Sports And Fitness Physiotherapy Management In Pre-Op Meniscus Repair In Handling Functional Activity Disorders And Marathon Arita, Aurelia; Irianto; Maulang, Immanuel
Media Fisioterapi Politeknik Kesehatan Makassar Vol 17 No 2 (2025): Media Fisioterapi Politeknik Kesehatan Makassar
Publisher : Jurusan Fisioterapi Poltekkes Kemenkes Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/fis.v17i2.1570

Abstract

Cabang olahraga marathon menuntut pelari menempuh jarak jauh dengan intensitas tinggi, sehingga risiko cedera pada knee joint sangat tinggi. Studi menunjukkan prevalensi lesi meniscus mencapai 72,4% pada pelari marathon amatir. Cedera meniscus berupa horizontal tear dan bucket handle tear dapat menyebabkan gangguan fungsi knee yang signifikan dan memerlukan manajemen fisioterapi komprehensif. Tujuan dari jurnal ini untuk memberikan pengetahuan dan kemampuan dasar tentang teori fisiologi olahraga dan peran fisioterapi pada kasus meniscus tear, serta merancang program intervensi fisioterapi yang tepat. Studi kasus dilakukan pada pasien laki-laki usia 25 tahun, PNS, dengan hobi lari marathon yang mengalami horizontal meniscus tear medial lateral dan bucket handle meniscus tear lateral knee joint sinistra. Asesmen meliputi pemeriksaan fisik, MMT, NRS, MRI, dan tes spesifik. Program fisioterapi pre-operasi dirancang dengan pendekatan exercise therapy, strengthening, dan balancing exercise. Evaluasi menunjukkan penurunan nyeri tekan dari NRS 6 menjadi 4, penurunan tingkat kecemasan dari HARS 25 menjadi 20, namun nilai MMT tetap sama dengan pengurangan nyeri selama aktivitas. Program fisioterapi berhasil mengurangi gejala dan mempersiapkan pasien untuk tindakan operatif selanjutnya. Manajemen fisioterapi pre-operasi pada kasus meniscus tear terbukti efektif dalam mengurangi nyeri, kecemasan, dan mempersiapkan kondisi optimal untuk prosedur pembedahan meniscus repair. Kata kunci: fisioterapi, kelemahan otot, marathon, pre-operasi, robekan meniscus   Marathon running requires runners to cover long distances at high intensity, resulting in a high risk of knee joint injuries. Studies show that the prevalence of meniscus lesions reaches 72.4% in amateur marathon runners. Meniscus injuries such as horizontal tears and bucket handle tears can cause significant knee dysfunction and require comprehensive physical therapy management. The purpose of this journal is to provide basic knowledge and skills regarding sports physiology theory and the role of physical therapy in meniscus tear cases, as well as to design an appropriate physical therapy intervention program. A case study was conducted on a 25-year-old male patient, a male civil servant (MCS), with a hobby of marathon running, who experienced a medial-lateral horizontal meniscus tear and a lateral bucket handle meniscus tear in the left knee joint. The assessment included physical examination, MMT, NRS, MRI, and specific tests. The pre-operative physical therapy program was designed using an exercise therapy, strengthening, and balancing exercise approach. The evaluation showed a decrease in pressure pain from NRS 6 to 4, a decrease in anxiety levels from HARS 25 to 20, but the MMT score remained the same with a reduction in pain during activities. The physical therapy program successfully reduced symptoms and prepared the patient for the subsequent surgical procedure. Pre-operative physical therapy management in cases of meniscus tears has proven effective in reducing pain, anxiety, and preparing optimal conditions for meniscus repair surgery. Keywords: marathon, meniscus tear, muscle weakness, physiotherapy, pre-operative  
PERBANDINGAN METODE SCHROTH DAN PILATES DALAM PERAWATAN SKOLIOSIS: ULASAN SISTEMATIS: Comparison of the Schroth Method vs Pilates in Scoliosis Treatment: Systematic Review Saragih, Hera; Abdullah, Faizah; Noviana, Mita; Farhanny, Faiza; Juvenille Aziza , Auorellia
Media Fisioterapi Politeknik Kesehatan Makassar Vol 17 No 2 (2025): Media Fisioterapi Politeknik Kesehatan Makassar
Publisher : Jurusan Fisioterapi Poltekkes Kemenkes Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/fis.v17i2.1678

Abstract

Skoliosis adalah kelainan bentuk tulang belakang yang memengaruhi struktur dan fungsi tubuh. Metode non-bedah seperti metode Schroth dan Pilates telah digunakan dalam pengobatan skoliosis, namun efektivitas keduanya perlu dibandingkan lebih lanjut. Penelitian ini menggunakan tinjauan literatur sistematis (SLR) untuk membandingkan kedua metode tersebut. Sebanyak tujuh artikel dari Scopus, Semantic Scholar, dan Online Wiley Library yang diterbitkan antara 2015 hingga 2025 dianalisis. Hasil analisis menunjukkan bahwa metode Schroth secara konsisten signifikan mengurangi sudut Cobb dan rotasi batang tubuh. Di sisi lain, Pilates menunjukan efektivitasnya dalam mengurangi nyeri punggung bawah hingga 46,2% dan memperbaiki postur tubuh, tetapi tidak menunjukkan perubahan signifikan pada sudut Cobb. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa metode Schroth lebih unggul dalam mengoreksi deformitas struktural skoliosis, khususnya dalam pengurangan sudut Cobb dan rotasi batang tubuh. Oleh karena itu, disarankan untuk menggunakan metode Schroth sebagai pengobatan utama untuk skoliosis. Meskipun Pilates memberikan manfaat dalam meredakan nyeri dan meningkatkan postur tubuh, metode Schroth tetap lebih efektif dalam memperbaiki deformitas struktural. Penelitian ini menyarankan penggunaan metode Schroth sebagai pendekatan utama dalam pengelolaan skoliosis, dengan Pilates digunakan sebagai terapi pelengkap untuk gejala fungsional seperti nyeri dan postur tubuh. Kata kunci : Metode Schroth, Pilates, Scoliosis   Scoliosis is a spinal deformity that affects both the structure and function of the body. Non-surgical methods such as the Schroth method and Pilates have been used in scoliosis treatment, but their effectiveness needs further comparison. This study uses a systematic literature review (SLR) to compare the effectiveness of both methods. A total of 7 articles published between 2015 and 2025 were analyzed. The results show that the Schroth method significantly reduces the Cobb angle and trunk rotation. Schreiber et al. (2023) reported a reduction in the Cobb angle by 0.492° and trunk rotation by 0.471°, along with an improvement in the patients’ quality of life (effect size 1.087). On the other hand, Pilates was effective in reducing lower back pain by up to 46.2% and improving posture, but it did not show significant changes in the Cobb angle. Studies by Başaran Özden & Kuru Çolak (2023) and Quishpe Barroso et al. (2024) observed postural improvements and pain reduction, but no significant effect on spinal deformity. The results indicate that the Schroth method is superior in correcting structural deformities, particularly in reducing the Cobb angle and trunk rotation. Therefore, the use of the Schroth method is recommended as the primary treatment for scoliosis. While Pilates offers benefits in pain relief and posture improvement, Schroth remains more effective in correcting structural deformities. This study suggests adopting the Schroth method as the primary approach in scoliosis management, with Pilates used as a complementary therapy for managing functional symptoms such as pain and posture issues. Keywords : Pilates, Schroth method, Scoliosis  
KAJIAN TERHADAP BERAT DAN POSISI ANGKAT BEBAN SEBAGAI FAKTOR PEMICU NECK PAIN PADA BURUH ANGKUT DI PELABUHAN SOEKARNO – HATTA MAKASSAR: A Survey of the Weight and Position of Lifting Weights as a Triggering Factor for Neck Pain in Transport Workers at the Port of Soekarno - Hatta Makassar Putri, Melda; Masitoh, Dewi; Hasbiah , Nurhikmawaty; Leksonowaty, Sri Saadiyah
Media Fisioterapi Politeknik Kesehatan Makassar Vol 17 No 2 (2025): Media Fisioterapi Politeknik Kesehatan Makassar
Publisher : Jurusan Fisioterapi Poltekkes Kemenkes Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/fis.v17i2.1744

Abstract

Pelabuhan memiliki peran strategis dalam kegiatan bongkar muat dan perdagangan antarpulau, dengan buruh angkut sebagai tenaga utama dalam proses pemindahan barang. Aktivitas angkut yang dilakukan secara manual dan seringkali disangga di area leher menyebabkan beban kerja fisik tinggi dan berisiko menimbulkan keluhan muskuloskeletal, khususnya neck pain. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara berat beban dan posisi angkat beban dengan keluhan neck pain pada buruh angkut di Pelabuhan Soekarno-Hatta Kota Makassar. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan rancangan deskriptif analitik dan menggunakan desain cross sectional study yang bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan antara berat beban dan posisi angkat beban dengan keluhan neck pain pada buruh angkut di Pelabuhan Soekarno-Hatta Kota Makassar. Hasil penelitian ini diperoleh hasil bahwa buruh angkut pelabuhan dengan berat beban kategori berat sebanyak 36 orang (48%), berat beban kategori sedang 39 orang (52%) dan tidak terdapat buruh angkut dengan berat beban kategori ringan. Untuk posisi angkat , kategori risiko sedang berjumlah 4 orang (5.3%), risiko tinggi 34 orang (45.3%), risiko sangat tinggi berjumlah 37 orang (49.3%) dan tidak terdapat buruh angkut dengan posisi angkat risiko rendah. Untuk keluhan neck pain , responden dengan keluhan neck pain kategori sedang berjumlah 4 orang (5.3%), keluhan tinggi 39 orang (52%), keluhan sangat tinggi 32 orang (42.7%). Berdasarkan hasil uji Spearman-rho ditemukan adanya hubungan yang signifikan antar berat beban dan keluhan neck pain (p=0.003) dan ditemukan adanya hubungan posisi angkat dengan keluhan neck pain (p=<0.001). Kesimpulan dari penelitian ini ialah terdapat hubungan yang signifikan antara berat beban dan posisi angkat beban dengan keluhan neck pain pada buruh angkut di Pelabuhan Soekarno-Hatta Kota Makassar Kata kunci : Berat beban, Nyeri leher, Posisi angkat   Ports have a strategic role in loading and unloading activities and inter-island trade, with porters as the main workforce in the process of moving goods. Manual transport activities and often supported in the neck area cause high physical workloads and are at risk of causing musculoskeletal complaints, especially neck pain. This study aims to determine whether there is a relationship between load weight and load lifting position with neck pain complaints in porters at Soekarno-Hatta Port, Makassar City. This study is a quantitative study with a descriptive analytical design and uses a cross-sectional study design which aims to determine the relationship between load weight and load lifting position with neck pain complaints in porters at Soekarno-Hatta Port, Makassar City. The results of this study showed that port porters with heavy load categories were 36 people (48%), medium load categories were 39 people (52%) and there were no porters with light load categories. For lifting positions, the moderate risk category is 4 people (5.3%), high risk 34 people (45.3%), very high risk 37 people (49.3%) and there are no porters with low risk lifting positions. For neck pain complaints, respondents with moderate neck pain complaints are 4 people (5.3%), high complaints 39 people (52%), very high complaints 32 people (42.7%). Based on the results of the Spearman-rho test, a significant relationship was found between load weight and neck pain complaints (p = 0.003) and a relationship was found between lifting positions and neck pain complaints (p = <0.001). T`he conclusion of this study is that there is a significant relationship between load weight and lifting position with neck pain complaints in porters at Soekarno-Hatta Port, Makassar City Keywords : Weight of Load, Lifting Position, Neck Pain
PERBEDAAN PENGARUH BRAIN GYM (SENAM OTAK) DAN PERMAINAN ESTAFET LARI TERHADAP PENINGKATAN KEMAMPUAN MOTORIK KASAR PADA ANAK TK USIA 5-6th: The Difference in the Effects of Brain Gym and Relay Games on the Improvement of Gross Motor Skills in Kindergarten Children Aged 5–6 Years Zaidah, Lailatuz; Cintya, Novianda; Wulandari , Rizky
Media Fisioterapi Politeknik Kesehatan Makassar Vol 17 No 2 (2025): Media Fisioterapi Politeknik Kesehatan Makassar
Publisher : Jurusan Fisioterapi Poltekkes Kemenkes Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/fis.v17i2.1801

Abstract

Perkembangan motorik kasar memegang peran penting pada anak usia 5 sampai dengan 6 tahun. Penurunan kemampuan motorik kasar secara global mencapai 23,5%, dengan tingkat nasional sebesar 13–18%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan pengaruh Brain Gym dan permainan estafet lari terhadap peningkatan kemampuan motorik kasar pada anak TK usia 5–6 tahun. Penelitian ini merupakan penelitian kuasi eksperimen dengan desain pretest-posttest dengan melibatkan 42 anak yang dibagi menjadi dua kelompok perlakuan (Brain Gym dan permainan estafet). Kemampuan motorik kasar diukur menggunakan Denver Developmental Screening Test (DDST II) sebelum dan sesudah perlakuan selama dua minggu. Hasil uji Wilcoxon menunjukkan bahwa kedua intervensi efektif dalam meningkatkan kemampuan motorik kasar (p=0,001). Namun, hasil uji Mann Whitney menunjukkan tidak terdapat perbedaan pengaruh yang signifikan antara keduanya. Disimpulkan bahwa Brain Gym dan permainan estafet sama-sama efektif, dan tidak terdapat perbedaan pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan kemampuan motorik kasar anak usia 5–6 tahun. Kata kunci: Brain Gym, DDST, Motorik Kasar, Permainan Estafet, Usia Dini   Gross motor development plays an important role in children aged 5 to 6 years. The decline in motor skills globally reaches 23.5%, with a national rate of 13–18%. This study aims to determine the difference in the effect of Brain Gym and relay games on improving gross motor skills in TK children aged 5–6 years. This quasi-experimental study used a pretest-posttest design with 42 children, divided into two treatment groups (Brain Gym and relay game). Gross motor ability was assessed using the Denver Developmental Screening Test (DDST II) before and after the intervention, conducted over two weeks. Wilcoxon test results showed both interventions effectively improved gross motor skills (p=0.001). However, Mann-Whitney test results indicated no significant difference between the two interventions. It can be concluded that Brain Gym and relay games are both effective, and there is no significant difference in their effects on improving gross motor skills in children aged 5–6 years. Keywords: Brain Gym, DDST, Gross Motor, Preschool Children, Relay Game
AKTIVITAS FISIK TERSTRUKTUR DAN KAPASITAS KARDIORESPIRASI REMAJA: ANALISIS METABOLIC EQUIVALENT OF TASK DAN PEAK EXPIRATORY FLOW RATE : Structured Physical Activity and Cardiovascular-Respiratory Capacity in Adolescents: An Analysis of METs and PEFR Hasyar, Andi Rizky Arbaim; Salsabilah, Firza Alisa; Fajrin , Asdar; Aras, Djohan
Media Fisioterapi Politeknik Kesehatan Makassar Vol 17 No 2 (2025): Media Fisioterapi Politeknik Kesehatan Makassar
Publisher : Jurusan Fisioterapi Poltekkes Kemenkes Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/fis.v17i2.1805

Abstract

Meningkatnya ketergantungan terhadap perangkat digital telah mendorong pergeseran perilaku menuju gaya hidup sedentari, yang berdampak pada penurunan aktivitas fisik dan kebugaran jasmani remaja. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan tingkat aktivitas fisik dan kapasitas paru antara remaja yang mengikuti dan tidak mengikuti ekstrakurikuler olahraga, serta mengeksplorasi hubungan antara kedua variabel tersebut. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif analitik dengan pendekatan Cross-sectional, melibatkan 186 siswa SMP yang dibagi menjadi kelompok yang mengikuti ekstrakurikuler olahraga dan non-olahraga. Aktivitas fisik diukur menggunakan Metabolic Equivalent of Task (MET) melalui International Physical Activity Questionnaire–Short Form (IPAQ-SF), sedangkan kapasitas paru diukur dengan Peak Expiratory Flow Rate (PEFR). Hasil menunjukkan bahwa kelompok olahraga memiliki rerata MET sebesar 4312,96 ± 1650,99 MET-menit/minggu dan PEFR sebesar 560,75 ± 89,17 L/menit, yang secara signifikan lebih tinggi dibandingkan kelompok non-olahraga (MET: 1066,15 ± 1202,54; PEFR: 440,00 ± 80,27; p < 0,05). Uji korelasi menunjukkan hubungan positif signifikan antara MET dan PEFR, baik pada kelompok olahraga (r = 0,419; p = 0,000) maupun non-olahraga (r = 0,292; p = 0,004). Temuan ini menunjukkan bahwa aktivitas fisik terstruktur berperan penting dalam meningkatkan kapasitas respirasi remaja dan dapat menjadi strategi promotif-preventif dalam konteks fisioterapi di lingkungan sekolah. Kata kunci: aktivitas fisik, kapasitas paru, ekstrakurikuler olahraga, remaja, fisioterapi. The increasing reliance on digital devices has led to a behavioral shift toward a sedentary lifestyle, resulting in decreased physical activity and reduced physical fitness among adolescents. This study aims to compare physical activity levels and lung capacity between adolescents who participate in sports extracurricular activities and those who do not, as well as to explore the relationship between these two variables. A descriptive analytic design with a cross-sectional approach was used, involving 186 junior high school students divided into sports and non-sports groups. Physical activity was assessed using the Metabolic Equivalent of Task (MET) through the International Physical Activity Questionnaire–Short Form (IPAQ-SF), while lung capacity was measured using Peak Expiratory Flow Rate (PEFR). The results showed that the sports group had a significantly higher average MET of 4312.96 ± 1650.99 MET-minutes/week and a PEFR of 560.75 ± 89.17 L/min compared to the non-sports group (MET: 1066.15 ± 1202.54; PEFR: 440.00 ± 80.27; p < 0.05). Correlation tests revealed a significant positive relationship between MET and PEFR in both the sports group (r = 0.419; p = 0.000) and the non-sports group (r = 0.292; p = 0.004). These findings suggest that structured physical activity plays an important role in improving respiratory capacity in adolescents and may serve as a promotive and preventive strategy within school-based physiotherapy programs. Keywords: physical activity, lung capacity, sports extracurricular activities, adolescents, physiotherapy  
EFEKTIVITAS LATIHAN STANDING JUMP DAN TUCK JUMP TERHADAP PENINGKATAN DAYA LEDAK OTOT TUNGKAI PADA PEMAIN FUTSAL: The Effectiveness of Standing Jump and Tuck Jump Training on Increasing Leg Muscle Power in Futsal Players Tang, Aco; Nur Yasin Rusdi, Sari; Halimah, Andi; Thahir, Muh; Arpandjaman; Hendrik; Awal, Muhammad; Durahim, Darwis; Islam, Fahrul
Media Fisioterapi Politeknik Kesehatan Makassar Vol 17 No 2 (2025): Media Fisioterapi Politeknik Kesehatan Makassar
Publisher : Jurusan Fisioterapi Poltekkes Kemenkes Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/fis.v17i2.1859

Abstract

Daya ledak otot tungkai merupakan salah satu komponen penting dalam performa pemain futsal, terutama dalam melakukan gerakan eksplosif seperti lompatan dan tendangan. Salah satu metode latihan yang efektif untuk meningkatkan daya ledak otot tungkai adalah Standing Jump dan Tuck Jumps, yang termasuk dalam latihan pliometrik. Penelitian  ini  bertujuan  untuk mengetahui apakah latihan jump to box efektif terhadap peningkatan daya ledak otot tungkai pada pemain voli SMAN 21 Makassar. Jenis penelitian ini adalah desain Quasi-Eksperimen dengan randomized pre test – post test two group design. Alat ukur yang digunakan yaitu Vertikal Jump. Tujuan dari penelitian ini  untuk untuk mengetahui pengaruh pemberian latihan Standing Jump dan Tuck Jumps terhadap peningkatan daya ledak otot Tungkai Pada Pemain Futsal Di SMK Laniang Makassar. Teknik pengambilan sampel menggunakan simple random sampling sampel berjumlah 18 orang yang dibagi menjadi 2 kelompok, masing-masing 9 orang. Kelompok daya ledak 1 yang di berikan Standing Jump dan kelompok daya ledak 2 diberikan latihan Tuck Jumps. Kedua kelompok melakukan latihan sebanyak 3 kali seminggu selama 4 minggu. Berdasarkan uji normalitas menggunakan Shapiro wilk diperoleh hasil dengan nilai p> 0,05 yang berarti data berdistribusi normal. Kemudian untuk hasil uji paired sample t menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada daya ledak otot tungkai di kelompok daya ledak 2 (p = 0,000), dengan rerata peningkatan 56.44 cm, dibandingkan kelompok daya ledak 1 yang juga menunjukkan peningkatan tetapi tidak sebesar kelompok daya ledak 2 (rerata 48.33 cm; p = 0,000). Berdasarkan tabel diatas diperoleh hasil uji independent sampel t yaitu nilai p=0,435 (p>0,05) yang berarti tidak ada perbedaan pengaruh baik Standing Jump maupun Tuck Jump sama-sama dapat meningkatkan daya ledak otot pada kelompok daya ledak 1 dan kelompok daya ledak 2, Namun jika diliat dari rerata pada kelompok daya ledak 2 dengan rerata 56.44 dengan simpang baku 7.020 mempunyai pengaruh yang lebih besar. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kelompok daya ledak 2 dengan pemberian Tuck Jumps lebih efektif terhadap peningkatan daya ledak otot tungkai pada pemain futsal. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa baik Standing Jump dan Tuck Jumps sama-sama dapat meningkatkan daya ledak otot tungkai akan tetapi diliihat dari rerata dan standar deviasi tuck jump lebih berpangaruh pada pemain futsal SMK Laniang Makassar. Hasil uji paired sample t-test menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan pada daya ledak otot tungkai pada kelompok Daya Ledak 2 (p = 0,000), dengan rata-rata peningkatan sebesar 11,78 cm. Sementara itu, kelompok Daya Ledak 1 juga mengalami peningkatan signifikan (p = 0,000), namun rata-ratanya lebih rendah, yaitu 10,67 cm. Selanjutnya, hasil uji independent sample t-test menunjukkan nilai p = 0,534 (p > 0,05), yang berarti tidak terdapat perbedaan pengaruh yang signifikan antara latihan Standing Jump dan Tuck Jump terhadap peningkatan daya ledak otot tungkai. Kedua jenis latihan sama-sama memberikan efek positif pada kelompok Daya Ledak 1 dan Daya Ledak 2 Kata kunci : Daya Ledak Otot Tungkai, Standing Jump, Tuck Jump, Vertikal Jump.   Leg muscle power is one of the important components in the performance of futsal players, especially in performing explosive movements such as jumps and kicks. One of the effective training methods to increase leg muscle power is Standing Jump and Tuck Jump, which are included in plyometric training. This study aims to determine whether jump to box training is effective in increasing leg muscle power in volleyball players at SMAN 21 Makassar. This type of research is a Quasi-Experimental design with a randomized pre-test - post-test two group design. The measuring instrument used is Vertical Jump. The purpose of this study was to determine the effect of providing Standing Jump and Tuck Jump training on increasing leg muscle power in Futsal Players at SMK Laniang Makassar. The sampling technique used simple random sampling with a sample of 18 people divided into 2 groups, each of 9 people. Power group 1 was given Standing Jump and power group 2 was given Tuck Jump training. Both groups did the training 3 times a week for 4 weeks. Based on the normality test using Shapiro Wilk, the results obtained with a p value> 0.05, which means the data is normally distributed. Then for the results of the paired sample t test, it shows a significant increase in the power of the leg muscles in the power group 2 (p = 0.000), with an average increase of 56.44 cm, compared to the power group 1 which also showed an increase but not as large as the power group 2 (average 48.33 cm; p = 0.000). Based on the table above, the results of the independent sample t test are p = 0.435 (p> 0.05) which means there is no difference in the effect of both Standing Jump and Tuck Jump, both of which can increase the power of the muscles in the power group 1 and the power group 2, However, if seen from the average in the power group 2 with an average of 56.44 with a standard deviation of 7,020, it has a greater influence. Thus it can be concluded that the power group 2 with the provision of Tuck Jump is more effective in increasing the power of leg muscles in futsal players. The conclusion of this study shows that both Standing Jump and Tuck Jump can increase the power of leg muscles, but seen from the mean and standard deviation of Tuck Jump, they have a greater effect on futsal players at SMK Laniang Makassar. The results of the paired sample t-test showed a significant increase in power of leg muscles in the Power group 2 (p = 0.000), with an average increase of 11.78 cm. Meanwhile, the Power group 1 also experienced a significant increase (p = 0.000), but the average was lower, namely 10.67 cm. Furthermore, the results of the independent sample t-test showed a p value = 0.534 (p > 0.05), which means there is no significant difference in the effect between Standing Jump and Tuck Jump exercises on increasing power of leg muscles. Both types of training had positive effects on the Power 1 and Power 2 groups. Keywords : Leg Muscle Power, Standing Jump, Tuck Jump, Vertical Jump.  
HUBUNGAN ANTARA AKTIVITAS FISIK DENGAN FUNGSI KOGNITIF REMAJA USIA 10-11 TAHUN DI KABUPATEN JENEPONTO: The Correlation Between Physical Activity With Adolescent Cognitive Function 10-11 Years in Kabupaten Jeneponto Martha, Al-dina; Adliah, Fadhia; Rabia; Rijal
Media Fisioterapi Politeknik Kesehatan Makassar Vol 17 No 2 (2025): Media Fisioterapi Politeknik Kesehatan Makassar
Publisher : Jurusan Fisioterapi Poltekkes Kemenkes Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/fis.v17i2.1861

Abstract

Remaja beresiko mengalami gangguan fungsi otak serta gangguan kognitif usia dini sehingga dibutuhkan tindakan preventif, salah satunya dengan meningkatkan intensitas aktivitas fisik melalui aktivitas-aktivitas fisik yang dibiasakan sejak dini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat aktivitas fisik dengan fungsi kognitif remaja usia 10-11 tahun. penelitian ini menggunakan metode deskriptif  dengan rancangan cross sectional. Sampel sebanyak 50 responden yang berjumlah 25 orang laki-laki dan 25 orang perempuan. Kriteria inklusi sampel meliputi pelajar aktif sekolah dasar, usia 10-11 tahun, dan bersedia menjadi responden. Data yang dikumpulkan meliputi tingkat aktivitas fisik menggunakan Physical Activity Questionaire Children (PAQ-C) dan tes kognitif menggunakan Montreal Cognitive Assesment-Versi Indonesia (MoCA-Ina).   Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan antara tingkat aktivitas fisik dengan fungsi kognitif remaja usia 10-11 tahun melalui uji Spearman’s Coefficient of (Rank) Correlation dengan nilai signifikansi sebesar 0,044 (p < 0, 05). Penelitian ini menunjukkan beberapa remaja dengan aktivitas fisik yang tinggi memiliki fungsi kognitif normal, serta remaja dengan aktivitas yang rendah cenderung mengalami gangguan fungsi kognitif ringan. Adolescents are at risk of impaired brain function as well as early cognitive disorders so that preventive measures are needed, one of which increases the intensity of physical activity through physical activities that are familiarly used. The study aims to figure out the relationship between levels of physical activity with adolescent cognitive function aged 10-11 years. This research uses descriptive methods with cross cross-sectional design. Samples of 50 respondents totalled 25 girls and 25 boys. Sample inclusion criteria include active learners of elementary school, aged 10-11 years, and willing to become respondents. The Data collected includes the level of physical activity using the Physical Activity Questionnaire for Children (PAQ-C) and cognitive tests using the Montreal Cognitive Assessment-Indonesian version (MoCA-Ina). The results showed there was a link between levels of physical activity with adolescent cognitive function aged 10-11 years through Spearman's Coefficient of (Rank) Correlation trials with a correlation value of 0,44 (p < 0,05). This study shows that some teenagers with physical activity have normal cognitive function, as well as teenagers with low activity are likely to experience impaired cognitive function. Keywords: Adolescents, Cognitive Function, Physical Activity