cover
Contact Name
Fikri Mahmud
Contact Email
jurnal.alqudwah@uin-suska.ac.id
Phone
+6281371668324
Journal Mail Official
jurnal.alqudwah@uin-suska.ac.id
Editorial Address
Gedung Fakultas Ushuluddin UIN Sultan Syarif Kasim Riau. Jl. H.R. Soebrantas No. 155 KM 18, Simpang Baru Panam, Pekanbaru 28293 PO.Box. 1004 Telp. 0761-562051 Fax. 0761-562051
Location
Kab. kampar,
Riau
INDONESIA
Al-Qudwah: Jurnal Studi Al-Qur'an dan Hadis
Core Subject : Religion, Social,
Al-Qudwah is a journal published by the Quran and Tafsir Science Study Program and the Hadith Science Study Program, Faculty of Ushuluddin, State Islamic University Sultan Syarif Kasim Riau. The journal Al-Qudwah is published twice a year in January-June and July-December. Al-Qudwah is a journal that contains articles and scientific works about Quranic and Hadith Studies, Contemporary Quranic Exegesis Studies, and Quranic Manuscripts Studies.
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 2 (2023): December" : 7 Documents clear
Kontestasi Penafsiran Ayat Teologi di Ruang Digital: Analisis Komparatif Tafsir Audiovisual Surat Al-Baqarah ayat 115 Oleh Musthafa Umar dan Firanda Andirja di Kanal YouTube Ananta, Pramudia; Masruro, Uliyatul; Sholihah, Safiratus; Amru, Khobiru
Al-Qudwah Vol 1, No 2 (2023): December
Publisher : UIN Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/alqudwah.v1i2.26685

Abstract

The interpretation of theological verses in the context of digital space has become an interesting phenomenon to study, considering its challenges and risks, such as the potential for inaccurate or extreme interpretations to be disseminated. Therefore, it is crucial to remain critical and verify the sources of information used in the interpretation of theological verses. This research aims to conduct a comparative analysis of the audiovisual interpretation of Surah al-Baqarah verse 115 by Musthafa Umar and Firanda Andirja on YouTube channels. This verse holds significant relevance in Islamic teachings, particularly concerning the principle of Tawhid (the oneness of God) and the change of the Qiblah direction in prayer worship. The research uses a descriptive qualitative method with a comparative analysis approach. The focus of this research is on the differences and similarities in the approaches and explanations between Musthafa Umar and Firanda Andirja in interpreting the theological verse. Data sources were obtained from their respective audiovisual interpretations delivered through the YouTube channels "kajian Tafsir Al-Ma‘rifah-Ustadz Musthafa Umar" and "Firanda Andirja." The research results indicate significant differences in their interpretations. Musthafa Umar emphasizes the social aspects of the Quran, while Firanda Andirja focuses more on the concepts of prayer (salat) and the Qiblah direction. However, both interpretations encourage flexibility in the implementation of prayer and understanding of the verse. In terms of interpretative sources, Firanda Andirja relies on the Quran and Sunnah, while Musthafa Umar combines the Quran, Sunnah, and the reasoning of ijtihad. Firanda Andirja's interpretive methods include tahlili, muqaran, and al-naqli, while Musthafa Umar uses tahlili, maudhu'i, and al-‘aqli methods. Firanda Andirja's interpretation involves theological aspects, while Musthafa Umar combines theology and linguistics. Abstrak: Penafsiran ayat teologi dalam konteks ruang digital menjadi fenomena menarik untuk dikaji, mengingat penafsirannya memiliki tantangan dan risiko, seperti penyebaran penafsiran yang tidak akurat atau ekstrem. Oleh karena itu, penting untuk tetap kritis dan memverifikasi sumber informasi yang digunakan dalam penafsiran ayat-ayat teologi. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis komparatif terhadap tafsir audiovisual Surah al-Baqarah ayat115 oleh Musthafa Umar dan Firanda Andirja di kanal YouTube. Ayat ini memiliki relevansi signifikan dalam ajaran Islam, terutama terkait dengan prinsip tauhid (keesaan Tuhan) dan perubahan arah kiblat dalam ibadah salat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan analisis komparatif. Fokus penelitian ini pada perbedaan dan persamaan terhadap pendekatan dan penjelasan antara Musthafa Umar dengan Firanda Andirja dalam menafsirkan ayat teologi tersebut. Sumber data diperoleh dari tafsir audiovisual keduanya yang disampaikan melalui kanal YouTube "kajian Tafsir Al-Ma‘rifah-Ustadz Musthafa Umar" dan "Firanda Andirja". Hasil penelitian menunjukkan perbedaan yang signifikan dalam penafsiran keduanya, yaitu Musthafa Umar lebih menekankan aspek sosial Al-Qur'an, sementara Firanda Andirja lebih memfokuskan pada konsep salat dan arah kiblat. Namun, dalam perbedaan keduanya sama-sama mendorong fleksibilitas dalam pelaksanaan salat dan pemahaman ayat tersebut. Dalam konteks sumber penafsiran, Firanda Andirja mengandalkan Al-Qur'an dan Sunnah, sedangkan Musthafa Umar memadukan Al-Qur'an, Sunnah, dan nalar ijtihad. Metode penafsiran Firanda Andirja mencakup tahlili, muqaran, dan al-naqli, sedangkan Musthafa Umar menggunakan metode tahlili, maudhu'i, dan al-‘aqli. Corak penafsiran Firanda Andirja melibatkan aspek teologi, sementara Musthafa Umar menggabungkan teologi dan lughawi.
Ekspresi Dakwah Mahasiswi Ilmu Hadis UIN Sultan Syarif Kasim Riau di TikTok Perspektif Hadis Adynata, Adynata; Aprianti, Sindy; Yeli, Salmaini; Ma'ali, Dasman Yahya
Al-Qudwah Vol 1, No 2 (2023): December
Publisher : UIN Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/alqudwah.v1i2.27992

Abstract

The popularity of the TikTok application has garnered attention due to its content, which has been proven to capture the interest of internet users. These contents are uploaded and widely disseminated in the online world, reaching thousands of internet users. TikTok, in addition to being entertainment, serves as a platform for various purposes such as self-expression, promotion, education, and religious propagation. The aim of this research is to understand the motivations of female students in creating TikTok content and the types of content they produce and to evaluate them from the perspective of hadith. The research question is how the hadith perspective views the expression content of female students at the State Islamic University Sultan Syarif Kasim Riau on TikTok on their respective accounts and what motivates them. This research involves field research and library research using a mixed-method approach. In data collection, the researcher uses observation, interviews, and documentation techniques. The findings of this research are as follows: First, there are various motivations among female students in the Hadith Studies Program at UIN Sultan Syarif Kasim Riau to create content, such as religious propagation, knowledge sharing, and leisure. Second, there are two types of content created by female students in the Hadith Studies Program, namely content that adheres to Sharia, such as Islamic propagation, education, and motivation. Additionally, there is content that contradicts Sharia, containing elements of revealing aurat (intimate parts) and tabarruj (excessive adornment), ikhtilath (intermingling of genders), and tasyabbuh (resembling a particular group). In the hadith perspective, content that adheres to Sharia is seen as promoting goodness and will be a continuous reward for the content creator. On the other hand, content that contradicts Sharia is considered to promote wrongdoing and will result in a continuous sin for the content creator. Abstrak: Popularitas aplikasi TikTok mendapat sorotan karena konten yang disajikan terbukti mampu menarik perhatian para pengguna internet. Konten-konten tersebut diupload dan tersebar luas di dunia maya sehingga disaksikan oleh ribuan pengguna internet. Tiktok, di samping sebagai hiburan juga menjadi media untuk berbagai kepentingan seperti berekpresi, promosi, pendidikan, dakwah dan lain sebagainya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui motivasi mahasiswi dalam pembuatan konten Tiktok, jenis-jenis konten yang dibuat dan tinjauannya dilihat dari perspektif hadis. Sedangkan rumusan masalah adalah bagaimana perspektif hadis terhadap konten ekspresi mahasiswi Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau di Tiktok pada akun-akun mereka serta motivasinya. Jenis penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research) dan studi pustaka (library research) dengan menggunakan metode campuran. Dalam pengumpulan data, peneliti menggunakan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Adapun hasil dari penelitian ini yaitu,  Pertama, terdapat beragam motivasi mahasiswi Program Studi Ilmu Hadis UIN Sultan Syarif Kasim Riau dalam pembuatan konten, seperti berdakwah, berbagi ilmu dan mengisi waktu luang. Kedua, terdapat dua jenis konten yang dibuat oleh mahasiswi Program Studi Ilmu Hadis yaitu konten yang sesuai dengan syari’at berupa konten dakwah Islam, edukasi dan motivasi. Selain itu ada juga konten yang bertentangan dengan syari’at berupa konten yang mengandung unsur menampakkan aurat dan tabarruj, ikhtilath (campur baur) serta tasyabbuh (menyerupai suatu kaum). Adapun dalam tinjauan hadis konten yang sesuai dengan syari’at berisi tentang kebaikan akan menjadikan pahala jariyah bagi pembuat konten, sedangkan konten yang bertentangan dengan syari’at berisi tentang keburukan akan menjadikan dosa jariyah bagi pembuat konten.
Kaidah Rasm Dalam Manuskrip Mushaf Al-Qur'an Nagari Tuo Pariangan Rosa, Elfira; Wendry, Novizal; Hanif, Muhammad
Al-Qudwah Vol 1, No 2 (2023): December
Publisher : UIN Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/alqudwah.v1i2.25446

Abstract

West Sumatra is one of the regions that has a substantial collection of Quranic manuscript in the Nusantara. One notable location is Nagari Tuo Pariangan, which houses a number of Quranic manuscript that have been handed down through generations. This article investigates the scriptural aspects (rasm) of the Quranic manuscript preserved by Aswardi, specifically with the identification numbers or codes No. 019 NM and No. 029 NM. The analysis focuses on the origin of the manuscripts and the consistency of the rasm copying in utilizing the script. This research employs a qualitative method, specifically field research, which involves collecting data from the field using observation and documentation techniques on the Quranic manuscript and interviews with the owner or custodian of the manuscripts. The results of this study indicate that the Qur'anic manuscripts from Nagari Tuo Pariangan originate from Surau Tinggi. However, due to the non-functional status of the surau, the manuscripts were brought to a house for personal preservation and became an inherited legacy. Two manuscripts were discovered, both originating from the same source. The identification process of script usage in these manuscripts revealed the utilization of two different scripts: the 'Uthmani script and the Imla'i script. The use of rasm in these manuscripts tends to be inconsistent, as both script types are employed in different verses, with 'Uthmani script used in one verse and Imla'i script in another. This inconsistency in rasm usage indicates that the tradition of copying Qur'anic manuscripts in Nagari Tuo Paringan is motivated by a tradition of writing without incorporating sufficient knowledge of rasm rules. Abstrak: Sumatera Barat merupakan satu daerah yang memiliki koleksi manuskrip mushaf Al-Qur’an cukup banyak di Nusantara. Diantaranya yaitu Nagari Tuo Pariangan yang memiliki sejumlah manuskrip mushaf Al-Qur’an dan telah diwariskan secara turun temurun. Artikel ini bertujuan untuk menginvestigasi aspek rasm manuskrip mushaf Al-Qur’an yang disimpan oleh Aswardi dengan nomor atau kode mushaf dengan No. 019. NM dan No. 029 NM. Analisis difokus pada asal usul manuskrip serta konsistensi penyalin manuskrip dalam menggunakan rasm. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis penelitian field research, yaitu mengumpulkan data dari lapangan menggunakan teknik observasi dan dokumentasi terhadap manuskrip mushaf Al-Qur’an, serta wawancara dengan pemiliki atau pemelihara manuskrip. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa manuskrip al-Qur’an Nagari Tuo Pariangan berasal dari Surau Tinggi, namun karena surau yang tidak lagi berfungsi maka naskah tersebut dibawa ke rumah untuk disimpan secara pribadi dan menjadi warisan turun temurun. Ada dua manuskrip yang ditemukan dan berasal dari sumber yang sama. Proses identifikasi penggunaan rasm dalam manuskrip tersebut menghasilkan adanya penggunaan dua rasm yang berbeda dalam penulisannya yaitu rasm ‘uṡmānī dan rasm imlā’i. Penggunaan rasm dalam manuskrip ini cenderung tidak konsisten karena dalam penulisannya menggunakan kedua jenis rasm ini, rasm ‘utṡmānī pada satu ayat dan rasm imlā’i pada ayat lain. Inkonsistensi penggunaan rasm ini menandakan tradisi penyalinan mushaf di Nagari Tuo Paringan tersebut termotivasi dari tradisi tulis menulis yang hidup tanpa diikutsertakan dengan pengetahuan yang cukup tentang kaidah penulisan rasm.
Dialog Ayah Dan Anak Dalam Al-Qur’an: Analisis Tafsir Maqashidi Terhadap Fenomena Fatherless Zahrotun, Zahrotun; Anwar, Mohammad Khoiril
Al-Qudwah Vol 1, No 2 (2023): December
Publisher : UIN Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/alqudwah.v1i2.27593

Abstract

This article aims to explore the forms of paternal parenting dialogues in Surah Luqman: 13 and Surah Ash-Shaffat: 102, along with the wisdom behind the use of the term 'father' (ayah). Additionally, the researcher aims to identify the maqashid values within these two verses to address the phenomenon of fatherlessness. Fatherlessness has become a hotly discussed issue in the context of parenting, considering the increasingly modern family conditions, economic pressures, and the marginalized role of fathers as primary educators. The research method employed is thematic (maudhu'i) exegesis with a maqashidi approach. The issues to be addressed include the forms of dialogue between fathers and children in the Qur'an and the phenomenon of fatherlessness from a maqashidi exegesis perspective. The research results indicate that the phenomenon of fatherlessness contradicts the ideal role of a father as explicitly depicted in the stories of Luqman and Prophet Ibrahim in the Qur'an. The paternal role consists of three levels: biological, material provision, and loyalty. However, various factors, including economic, social, and personal emotional aspects, may hinder optimal functionality. In alignment with the understanding of the paternal role, the fatherlessness phenomenon in millennial family life can be minimized. Fathers need to recognize that, in addition to their role in meeting material needs, they play a crucial part in shaping the character and future of their children. The maqashid from Surah Luqman 13 and Surah Ash-Shaffat 102, depicting paternal dialogue, emphasize his responsibility in parenting, addressing the fatherless phenomenon, encompassing six primary maqashid, especially hifzh ad-din (preservation of religion) and hifzh al-nasl (preservation of lineage).  Abstrak: Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui bentuk-bentuk dialog pengasuhan ayah dalam QS. Luqman: 13 dan QS. Ash-Shaffat: 102 beserta hikmah di balik penggunaan diksi ayah. Selain itu peneliti juga ingin menemukan nilai-nilai maqashid dari kedua ayat tersebut dalam upaya menjawab adanya fenomena fatherless (ketidakhadiran atau kurangnya peran ayah). Fatherless menjadi isu yang hangat dibicarakan dalam konteks pengasuhan, mengingat kondisi keluarga yang makin modern, tekanan ekonomi dan peran ayah sebagai pendidik primer makin terpinggirkan. Metode yang digunakan dalam riset adalah tafsir tematik (maudhu’i) dengan pendekatan tafsir maqashidi. Adapun masalah yang hendak dijawab adalah, bagaimana bentuk-bentuk dialog antara ayah dan anak di dalam Al-Qur’an serta bagaimana fenomena fatherless perspektif tafsir maqashidi. Hasil riset ini menunjukkan bahwa fenomena fatherless tidak sesuai dengan bagaimana seharusnya seorang ayah berperan yang secara jelas dikisahkan oleh Luqman dan nabi Ibrahim dalam ayat-ayat Al-Qur’an. Peran ayah terdiri dari tiga tingkatan; tingkat biologis, tingkat pemenuhan kebutuhan materi, dan tingkat kesetiaan. Akan tetapi beberapa faktor meliputi ekonomi, sosial, dan emosional personal menyebabkan ketidakberfungsian secara maksimal. Sejalan dengan pemahaman peran ayah, fenomena fatherless di kehidupan keluarga milenial bisa diminimalisir. Ayah harus menyadari bahwa selain perannya dalam memenuhi kebutuhan materi, ia memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk karakter dan masa depan anak. Maqashid dari QS. Luqman 13 dan QS. Ash-Shaffat 102 tentang dialog ayah yang menggambarkan perannya sebagai tanggungjawab parenting di balik fenomena fatherless meliputi enam maqashid terutama hifzh ad-din dan hifzh al-nasl. 
Interpretasi Kontekstual Makna Qawwām Dalam Al-Qur’an QS. An-Nisa’ 34: Aplikasi Hermeneutika Abdullah Saeed Zakiah, Ade Rosi Siti; Nurfajriyani, Nurfajriyani
Al-Qudwah Vol 1, No 2 (2023): December
Publisher : UIN Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/alqudwah.v1i2.22972

Abstract

The phrase "arrijalu qawwāmuna ‘ala an-nisa’" from the excerpt of Surah An-Nisa' verse 34 in classical and medieval exegesis has been used as a justification for depicting the superiority of male leadership, later known as patriarchal culture. This culture has led to the perception that women are incapable of assuming roles equal to men, both in the domestic and public spheres. In fact, this verse has been used as an argument by many to prevent women from becoming leaders. The aim of this research is to understand the meaning of "qawwām" in the interpretation of Surah An-Nisa' verse 34 and to explore the contextualization and value hierarchy of this verse in contemporary times. This study falls into the category of library research with a normative-historical approach. The analytical theory used is the contextual hermeneutics of Abdullah Saeed. The findings of this study reveal that the intended leadership of men over women as desired by the Qur'an is a leadership that signifies protection, care, authority, and fulfilling the needs of women. The value hierarchy based on this verse emphasizes justice in the form of equal opportunities for men and women to be leaders in both the domestic and public spheres. Therefore, it is clear that female leadership is not prohibited or even forbidden. Women can assume leadership roles in any field without being hindered by patriarchal culture. The substantive meaning derived from the application of this contextual hermeneutical method can be applied in different times and places, such as when understanding this verse in the current context of Indonesian society.  Abstrak: Kalimat arrijalu qawwāmuna ‘ala an-nisa’ pada penggalan surah an-Nisa’ ayat 34 dalam tafsir klasik dan abad pertengahan digunakan sebagai pembenaran untuk menggambarkan superioritas kepemimpinan laki-laki dan kemudian dikenal dengan budaya patriarki. Budaya ini menyebabkan perempuan dianggap tidak mampu menduduki peran laki-laki baik di ranah domestik maupun publik. Bahkan, ayat ini dijadikan dasar argumentasi oleh banyak pihak untuk mencegah perempuan menjadi pemimpin. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui bagaimana makna qawwām dalam penafsiran surah An-Nisa’ ayat 34 dan bagaimana kontekstualisasi serta hierarki nilai surah an-Nisa’ ayat 34 di masa kini. Kajian ini termasuk pada kategori penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan normatif-historis. Teori analisis yang digunakan ialah hermeneutika kontekstual Abdullah Saeed. Adapun hasil dari kajian ini menemukan bahwa maksud kepemimpinan laki-laki terhadap perempuan yang dikehendaki Al-Qur’an ialah kepemimpinan yang memiliki arti menjaga, melindungi, menguasai, dan mencukupi kebutuhan perempuan. Adapun hierarki nilai berdasarkan ayat ini adalah bentuk keadilan berupa kesempatan bagi laki-laki dan perempuan untuk menjadi pemimpin di ranah domestik maupun publik. Dengan demikian, jelaslah bahwa kepemimpinan perempuan itu tidaklah dilarang atau bahkan diharamkan. Perempuan dapat menjadi pemimpin dalam bidang apapun tanpa didorong oleh adanya budaya patriarki. Makna substansi yang didapatkan dari penerapan metode hermeneutika kontekstual ini dapat diaplikasikan dalam waktu dan tempat yang berbeda, seperti ketika ayat ini dipahami dengan konteks bangsa Indonesia saat ini.
Eksistensi Ilmu Sebagai Pembentuk Akhlak: Studi Analisis Tafsir Khuluqun 'Azhim Terhadap QS. Al-Qalam: 1-6 Auni, Nuruzzakiyah; Indriati, Isna
Al-Qudwah Vol 1, No 2 (2023): December
Publisher : UIN Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/alqudwah.v1i2.23872

Abstract

The diminishing ethical values in society today are evident, starting from the younger generation who frequently engage in violations, to officials and workers in the government sector involved in deviations such as corruption. This phenomenon, among others, indicates a separation between knowledge and morality. If a person is knowledgeable, they should possess an understanding of what is good and bad, enabling the realization of knowledge as a moral shaper. This writing aims to reveal how the existence of knowledge should be a moral shaper, as found in Q.S. Al-Qalam: 1-6, using the interpretation of Khluqun ‘Azhim written by M. Yunan Yusuf. This interpretation is one of the contemporary exegeses originating from Indonesia. The research aims to address and respond to the issue of the separation between knowledge and morality, leading to the erosion of morality among knowledgeable individuals and the deterioration of civilization. This study is a literature review using a qualitative, descriptive-analytical research approach. This article found that scholarship significantly influences moral formation. As stated in Khuluqun ‘Azhim's interpretation in the first verse, the results of writing, serving as reference information for the development of knowledge, have a substantial impact on the advancement of human civilization. The presence of evolving knowledge has a strong influence on civilizational development. Writing is one of the sources of knowledge that transforms the reader from ignorance to understanding. Furthermore, in verses two through six, Allah discusses the morality of the Prophet Muhammad, characterized as khuluqun ‘azhim (noble character). The Prophet's morality serves as the best role model that should be followed by humanity, especially the Islamic community.   Abstrak: Tergerusnya akhlak masyarakat saat ini terlihat mulai dari generasi muda yang selalu melakukan pelanggaran, pejabat dan pekerja di lingkungan pemerintahan yang melakukan penyimpangan seperti korupsi, dan fenomena masyarakat lainnya menunjukkan bahwa ilmu telah terpisah dengan akhlak. Apabila seseorang berilmu, maka ia akan memiliki pengetahuan mengenai hal baik dan buruk, sehingga eksistensi ilmu menjadi pembentuk akhlak bisa terealisasikan. Tulisan ini akan mengungkap bagaimana seharusnya eksistensi ilmu menjadi pembentuk akhlak yang terdapat pada Q.S. Al-Qalam: 1-6, dengan menggunakan Tafsir Khluqun ‘Azhim karya M. Yunan Yusuf. Tafsir ini merupakan salah satu tafsir kontemporer yang berasal dari Indonesia. Penelitian ini bertujuan memecahkan masalah dan memberi respon terhadap permasalahan terpisahnya ilmu dan akhlak sehingga menyebabkan seseorang yang berilmu menjadi tergerus akhlaknya dan menyebabkan rusaknya peradaban. Penelitian ini merupakan studi kepustakaan dengan menggunakan jenis penelitian kualitatif bersifat deskriptif-analitis. Peneliti menemukan bahwa keilmuan sangatlah berpengaruh dalam pembentukan akhlak. Sebagaimana yang diungkapkan dalam Tafsir Khuluqun ‘Azhim pada ayat pertama bahwa hasil dari tulisan yang menjadi informasi rujukan bagi perkembangan ilmu pengetahuan sangat berpengaruh pada pembangunan peradaban umat manusia. Keberadaan ilmu pengetahuan yang berkembang memiliki pengaruh kuat terhadap perkembangan peradaban. Tulisan menjadi salah satu sumber pengetahuan yang menjadikan pembaca dari tidak tahu menjadi tahu. Kemudian pada ayat kedua sampai ke enam, Allah membicarakan perihal akhlak Rasulullah yang merupakan khuluqun ‘azhim (berbudi pekerti agung). Akhlak Rasulullah merupakan suri tauladan terbaik yang patutnya diikuti umat manusia terutama umat Islam.  
Integrasi Hadis Dengan Sains: Membaca Tunjuk Ajar Rasulullah Dalam Menguap Dan Antisipasi Dislokasi Rahang Yasti, Suci Amalia; Hasbi, M. Ridwan; Putra, Masyhuri; Ismail, Hidayatullah
Al-Qudwah Vol 1, No 2 (2023): December
Publisher : UIN Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/alqudwah.v1i2.24759

Abstract

Every command and prohibition conveyed by Prophet Muhammad (S.A.W.) fundamentally contains implicit meanings for the well-being of his community. Even seemingly trivial matters, such as yawning, have significance. In hadiths, it is mentioned that when someone yawns, they should observe certain etiquettes to prevent jaw dislocation. This article aims to understand the form of integration between Hadith and Science in relevant contexts, etiquettes of yawning as described in hadiths, and ways to prevent or address jaw dislocation. The research method used is content analysis, connecting the content of hadiths with health sciences. A modernist approach is employed, incorporating scientific studies, particularly in health sciences, to provide a broader and deeper understanding of the hadiths. The results of this research indicate that Prophet Muhammad (S.A.W.) provided examples of etiquette during yawning in the hadiths. Among these etiquettes are restraining the mouth as much as possible, covering the mouth, and avoiding making noise while yawning. The correlation between the hadiths and jaw dislocation is that these etiquettes serve to anticipate jaw-related illnesses. Failure to observe these etiquettes during yawning may lead to opening the mouth too wide, potentially causing jaw dislocation. Opening the mouth excessively can cause the jaw joints to shift from their original positions, hindering the proper functioning of the jaw joints. If not promptly addressed, jaw dislocation may require surgery or the replacement of the jaw with a new one or a prosthetic jaw. Abstrak: Setiap perintah dan larangan yang disampaikan oleh Rasulullah Saw pada hakikatnya mengandung makna yang tersirat yaitu untuk kebaikan bagi umatnya. Walaupun hal tersebut terkesan sesuatu yang sepele seperti menguap. Di dalam hadis disebutkan bahwa ketika seseorang menguap hendaknya menggunakan adab-adabnya agar terhindar dari penyakit dislokasi rahang yang diakibatkan oleh menguap. Tujuan artikel ini untuk mengetahui bentuk integrasi hadis dan sains yang berkaitan adab-adab ketika menguap yang dijelaskan dalam hadis dan cara mencegah atau mengatasi penyakit dislokasi rahang. Metode penelitian yang digunakan adalah metode konten analisis yang menghubungkan kandungan hadis dengan ilmu kesehatan. Pendekatan modernis menggunakan kajian ilmiah seperti ilmu kesehatan agar dapat memahami hadis lebih luas dan memberikan pemahaman yang dalam. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa di dalam hadis Rasulullah Saw telah memberikan contoh adab ketika menguap. Di antara adabnya yaitu menahan mulut semampunya, menutup mulut dan jangan mengeluarkan suara. Korelasi antara hadis dengan penyakit dislokasi rahang ini adalah bahwa adab-adab menguap berguna untuk mengantisipasi penyakit rahang, karena jika tidak melakukan adab-adab menguap akan menyebabkan mulut terlalu lebar. Sehingga ketika membuka mulut terlalu lebar maka akan mengakibatkan penyakit yang bernama penyakit dislokasi rahang. Ketika membuka mulut terlalu lebar menyebabkan sendi-sendi yang terdapat di dalam tersebut bergeser dari tempat semulanya. Sehingga sendi rahang tidak dapat berfungsi dengan baik. Dimana penyakit dislokasi rahang ini jika tidak ditangani dengan cepat akan mengakibatkan operasi atau pertukaran rahang yang baru atau rahang tiruan.

Page 1 of 1 | Total Record : 7