cover
Contact Name
Fikri Mahmud
Contact Email
jurnal.alqudwah@uin-suska.ac.id
Phone
+6281371668324
Journal Mail Official
jurnal.alqudwah@uin-suska.ac.id
Editorial Address
Gedung Fakultas Ushuluddin UIN Sultan Syarif Kasim Riau. Jl. H.R. Soebrantas No. 155 KM 18, Simpang Baru Panam, Pekanbaru 28293 PO.Box. 1004 Telp. 0761-562051 Fax. 0761-562051
Location
Kab. kampar,
Riau
INDONESIA
Al-Qudwah: Jurnal Studi Al-Qur'an dan Hadis
Core Subject : Religion, Social,
Al-Qudwah is a journal published by the Quran and Tafsir Science Study Program and the Hadith Science Study Program, Faculty of Ushuluddin, State Islamic University Sultan Syarif Kasim Riau. The journal Al-Qudwah is published twice a year in January-June and July-December. Al-Qudwah is a journal that contains articles and scientific works about Quranic and Hadith Studies, Contemporary Quranic Exegesis Studies, and Quranic Manuscripts Studies.
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 1 (2024): June" : 7 Documents clear
Hadis pada Masa Pembaharuan Islam di Minangkabau: Telaah Penggunaan Hadis Dalam Majalah Alchoethbah karya Hs. Moenaaf Saputra, Doni; Rafika, Alfiah; Yasti, Suci Amalia
Al-Qudwah Vol 2, No 1 (2024): June
Publisher : UIN Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/alqudwah.v2i1.29246

Abstract

The issue of Islamic reform in Minangkabau during the twentieth century was closely linked to the development of literacy and the culture of writing. The expansion of literacy during this period served as a crucial reference point for the public’s engagement with Islam, particularly through periodicals. This article seeks to analyze the use of hadiths in Alchoethbah magazine, which was published in Minangkabau in the early twentieth century. The hadiths examined address themes such as the prohibition of prioritizing reason over religious law thereby deviating from Islamic teachings and the significance of unity. These themes were employed by Hs. Moenaaf as forms of legal and moral legitimation in his writings. Employing a qualitative research methodology, this study analyzes various library sources with a focus on the hadiths cited in Alchoethbah magazine. The collected data were critically examined through a narrative analysis approach. The findings indicate that two specific hadiths were utilized and authored by Hs. Moenaaf in Alchoethbah to advance ideas of Islamic reform within his sermon-like narratives. Broadly, these hadiths were contextually pertinent to the reformist movement of the time for two primary reasons. First, Hs. Moenaaf, as both a scholar and writer, was part of the Kaum Mudo intellectual movement, which emphasized adherence to Sharia over reason and custom. Second, Alchoethbah functioned as a medium to facilitate readers’ understanding of the teachings of Islamic reformist scholars, particularly the injunctions against prioritizing reason over the Sharia of the Prophet Muhammad and against division or sectarian fanaticism within the Muslim community.Abstrak: Isu pembaharuan Islam di Minangkabau pada abad ke-20 kental dengan kemajuan literasi tulis-menulis. Kemajuan literasi pada periode ini dijadikan sebagai bahan referensi masyarakat untuk mempelajari Islam, salah satunya melalui majalah. Artikel ini bertujuan untuk mengungkap pengunaan hadis dalam majalah Alchoethbah yang terbit di Minangkabau awal abad 20. Penggunaan hadis yang dimaksud meliputi tema larangan mengedepankan akal dibanding syariat (menyelisihi ajaran agama) dan pentingnya rasa persatuan. Kedua tema hadis tersebut digunakan oleh Hs. Moenaaf sebagai bahan legitimasi hukum dalam tulisan-tulisannya. Penelitian menggunakan metode penelitian kualitatif dengan menganalisis sumber-sumber pustaka. Penelitian ini fokus pada hadis-hadis yang dikutip dalam majalah Alchoetbah, data-data yang diperoleh kemudian dianalisis secara kritis dengan metode analisis naratif. Hasil analisis menemukan bahwa terdapat dua hadis yang digunakan dan ditulis oleh Hs. Moenaaf di dalam majalah Alchoetbah untuk megusung ide-ide pembaharuan Islam dalam narasi khotbahnya. Secara garis besar hadis-hadis ini relevan penggunaannya pada masa pembaharuan Islam, setidaknya ada dua argumen yang menjadi landasannya. Pertama, Hs Moenaaf selaku penulis merupakan bagian dari intelektual dan ulama Kaum Mudo yang mendorong untuk lebih mengedepankan syariat dibandingkan akal dan tradisi. Kedua, Alchoethbah hadir sebagai salah satu media untuk memudahkan dalam memahami ajaran para ulama pembaharu Islam, seperti larangan mengedepankan akal dan lebih mendahulukan syariat Nabi Muhammad Saw serta larangan dalam berpecah-belah dan fanatisme kelompok.
Pemikiran Tafsir Al-Qur’an Kontemporer: Studi Komparatif Metode Tafsir Amīn Al-Khūlī dan Nashr Hamīd Abū Zayd Hidayah, Saniatul; Zulfadli, Zulfadli
Al-Qudwah Vol 2, No 1 (2024): June
Publisher : UIN Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/alqudwah.v2i1.29087

Abstract

This study aims to investigate the dynamics of contemporary Qur’anic exegesis through a comparative analysis of the intellectual contributions of Amīn al-Khūlī and Nashr Hamīd Abū Zayd, two reformist scholars who prioritize linguistic and literary methodologies in Qur’anic interpretation. The primary objective is to delineate the methodological convergences and divergences between these scholars, who share a mentor-mentee relationship. Employing a qualitative research design with a comparative framework, this study traces their conceptual developments as articulated in their principal works. The findings indicate that Amīn al-Khūlī, influenced by Western literary criticism, foregrounds literary devices in Qur’anic interpretation, emphasizing linguistic structures, rhetorical techniques, and literary composition. Conversely, Nashr Hamīd Abū Zayd adopts a more expansive hermeneutical approach that incorporates the social, cultural, and historical contexts of revelation, while also accentuating the significance of classical Arabic, metaphor, and symbolism in the transmission of divine messages. The study’s implications highlight the necessity of cultivating an interpretive methodology that is responsive to contemporary intellectual currents while remaining grounded in Islamic scholarly traditions, thereby contributing to the advancement of Qur’anic studies in the modern era.Abstrak: Penelitian ini bertujuan mengkaji dinamika tafsir Al-Qur’an kontemporer melalui perbandingan pemikiran Amīn al-Khūlī dan Nashr Hamīd AbūZayd, dua tokoh pembaharu yang menekankan pendekatan linguistik dan sastra dalam memahami Al-Qur’an. Fokus utama penelitian ini adalah mengidentifikasi persamaan dan perbedaan metodologis di antara keduanya yang memiliki hubungan intelektual guru dan murid. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan komparatif untuk menelusuri pemikiran kedua tokoh melalui karya-karya utama mereka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Amīn al-Khūlī, yang terpengaruh oleh metode analisis sastra Barat, menekankan penggunaan perangkat sastra dalam menafsirkan Al-Qur’an dengan fokus pada struktur bahasa, gaya retorika, dan komposisi sastra. Sebaliknya, Nashr Hamīd Abū Zayd menerapkan pendekatan hermeneutik yang lebih luas dengan mempertimbangkan konteks sosial, budaya, dan historis masa pewahyuan, serta menyoroti peran bahasa Arab klasik, metafora, dan simbolisme dalam memahami pesan Ilahi. Implikasi dari studi ini menunjukkan pentingnya pengembangan metodologi tafsir yang adaptif terhadap dinamika keilmuan modern tanpa mengabaikan akar tradisi keislaman, sehingga dapat memperkaya khazanah studi tafsir di era kontemporer.
Tafsir Al-Qur’an dan Kekuasaan: Membaca Pandangan Bakri Syahid Tentang Nasionalisme Dalam Tafsir Al-Huda Maulidiyah, Izatul Muhidah; Sultani, Hikmawati
Al-Qudwah Vol 2, No 1 (2024): June
Publisher : UIN Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/alqudwah.v2i1.29202

Abstract

This study aims to examine how Bakri Syahid’s Tafsir Al-Huda constructs notions of nationalism and legitimizes political authority through its interpretation of Q. al-Tawbah [9]:122 and its interrelation with Q. al-Nisāʾ [4]:59, situated within the socio-political context of Indonesia’s New Order and Javanese cultural milieu. Employing a qualitative, descriptive-analytical methodology, the research integrates content analysis with a sociology of exegesis. The primary object of analysis is the Tafsir Al-Huda text itself, while the formal object concerns the construction of religious nationalism. Primary data are obtained through close textual reading, complemented by secondary sources encompassing studies on Indonesian exegesis, the intersection of religion and politics, and relevant cultural materials. The analytical process involves data reduction, thematic categorization, and historical-contextual interpretation. The findings reveal three principal insights. First, the interpretation of jihad in Q. 9:122 is reoriented toward an ethos of civic engagement and development, metaphorically likened to state “departments,” thereby positioning the exegesis as a form of policy discourse. Second, the concept of “ulū al-amr” in Q. 4:59 is construed as faithful leadership that ensures welfare defined as a just and prosperous social order and commands obedience insofar as it serves the public interest, drawing upon modern exegetical sources and Javanese ethical traditions for legitimation. Third, the diverse range of sources including tafsir, fiqh, social sciences, and cultural texts constitutes an intertextual framework that reinforces the alignment of religion and state under the New Order regime. This study concludes that Tafsir Al-Huda functions as an ideological exegesis that interweaves religion, culture, and statecraft, illustrating how exegesis serves as a medium for shaping religious nationalism. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana Tafsir Al-Huda karya Bakri Syahid membingkai nasionalisme dan legitimasi kekuasaan melalui penafsiran Q.S. At-Taubah [9]:122 serta keterkaitannya dengan Q.S. An-Nisa’ [4]:59, dalam konteks Orde Baru dan budaya Jawa. Metode yang digunakan bersifat kualitatif deskriptif-analitis dengan analisis isi dan sosiologi tafsir; objek materialnya ialah kitab Tafsir Al-Huda, sedangkan objek formalnya konstruksi nasionalisme religius. Data primer berasal dari telaah naskah, dan data sekunder meliputi kajian tafsir Indonesia, politik agama, serta sumber budaya; analisis dilakukan melalui reduksi, kategorisasi tema, dan interpretasi historis-kontekstual. Hasil penelitian menunjukkan tiga temuan utama. Pertama, penafsiran jihad pada Q.S. At-Taubah [9]:122 digeser menjadi etos partisipasi kewargaan dan pembangunan, dengan analogi departemen-departemen negara, sehingga tafsir berfungsi sebagai wacana kebijakan. Kedua, konsep ulū al-amr pada Q.S. An-Nisa’ [4]:59 diartikulasikan sebagai kepemimpinan beriman yang menyejahterakan (adil-makmur) dan menuntut kepatuhan selama berbasis kemaslahatan, seraya menyerap rujukan tafsir modern dan warisan Jawa sebagai legitimasi etis. Ketiga, ragam sumber rujukan tafsir, fikih, ilmu sosial, dan naskah budaya membentuk bangunan interteks yang meneguhkan sinkronisasi agama-negara pada masa Orde Baru. Penelitian ini menegaskan bahwa Tafsir Al-Huda bekerja sebagai tafsir ideologis yang merajut agama, budaya, dan negara, sekaligus memperlihatkan bagaimana tafsir menjadi medium pembentukan nasionalisme religius. 
Makkiyyah dan Madaniyyah: Telaah Mengenai Pergeseran Realitas dan Kronologis Lahirnya Sebuah Hadis Agussalim, Agussalim; Adrikna, Maulaya
Al-Qudwah Vol 2, No 1 (2024): June
Publisher : UIN Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/alqudwah.v2i1.29080

Abstract

This study seeks to investigate transformations in socio-religious contexts and to delineate the chronology of hadith emergence by centering the analysis on the makkiyyah–madaniyyah framework. By applying the Qur’anic theory of makki and madani to hadith literature, this approach represents a relatively novel contribution within the field of ʿulūm al-ḥadīth. The makkiyyah–madaniyyah character of hadith is identified through two primary indicators: the chain of transmission (sanad) and the text (matan). Employing a qualitative methodology and library research grounded in the canonical collections (kutub al-sittah and kutub al-tisʿah) alongside a historical approach, the data are analyzed through isnād tracing, matn examination, and contextual reconstruction, thereby elucidating the relationships among the ideal, the empirical, and the historical dimensions. The findings demonstrate that the makkiyyah–madaniyyah theory significantly enhances the mapping of hadith chronology, as its core objective is to trace the Prophet’s life trajectory in accordance with the Qur’anic makki–madani framework. Operationally, two principal indicators guide this identification: sanad and matan. Regarding the sanad, the classification of Companions into pre-hijrah, post-hijrah, and those spanning both periods facilitates the chronological charting of hadith emergence and the localization of events. Concerning the matan, shifts in socio-religious realities are discerned through themes and events characterized as makkiyyah or madaniyyah, thereby yielding both explicit and implicit historical information. This study contributes a methodological procedure that integrates isnād–matn criticism with makkiyyah–madaniyyah periodization to evaluate both the quality and chronology of hadith. Furthermore, it offers a practical toolkit for aligning ideal-normative interpretations with empirical contexts, thereby enabling a more precise historical mapping. Abstrak: Penelitian ini bertujuan menelaah pergeseran realitas serta memetakan kronologis lahirnya hadis dengan menempatkan makkiyyah-madaniyyah sebagai poros analisis. Makkiyyah dan madaniyyah pada hadis merupakan terapan dari teori makki dan madani dalam studi al-Qur’an, sehingga menjadi teori yang tergolong baru dalam ‘ulūmul hadīs. Konsep makkiyyah dan madaniyyah hadis dapat diketahui melalui dua indikator, yaitu dari aspek sanad dan matan hadis. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan memanfaatkan sumber-sumber pustaka berbasis kitab induk kutub al-sittah dan kutub al-tis’ah dengan pendekatan historis; data dibaca melalui penelusuran sanad, pembacaan matan, dan rekonstruksi konteks sehingga relasi dunia idealis, empiris, dan sejarah tampak jelas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teori makkiyyah dan madaniyyah memberi sumbangsih terbesar untuk pemetaan kronologi hadis karena esensinya menelusuri rekam jejak kehidupan Nabi; sebagai terapan dari teori makki–madani dalam studi Qur’an. Konsep makkiyyah-madaniyyah hadis dapat diidentifikasi melalui dua indikator pokok: aspek sanad dan aspek matan. Pada sisi sanad, klasifikasi sahabat menjadi sebelum hijrah, sesudah hijrah, dan melintasi keduanya berfungsi sebagai sarana pemetaan kronologis lahirnya hadis, sekaligus petunjuk lokus peristiwa. Pada sisi matan, pergeseran realitas terdeteksi melalui tema/kejadian berciri makkiyyah atau madaniyyah yang menghadirkan informasi historitas, baik tersurat maupun tersirat. Penelitian ini berkonstribusi dalam merumuskan prosedur kerja yang menyinergikan kritik sanad dan matan dengan periodisasi makkiyyah-madaniyyah untuk menilai kualitas sekaligus kronologi hadis, serta menyediakan perangkat praktis bagi peneliti dalam menyelaraskan pembacaan ideal-normatif dan konteks-empiris agar peta historis hadis dapat ditarik dengan lebih akurat.
The Functional Reception of Qur'anic Calligraphy at the Grand Mosque of Nurul Islam, Palangka Raya Hamidinnor, Hamidinnor; Tahe, Nur Amimi; Munirah, Munirah; Supriadi, Akhmad; Malisi, M. Ali Sibram
Al-Qudwah Vol 2, No 1 (2024): June
Publisher : UIN Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/alqudwah.v2i1.29065

Abstract

Nurul Islam Grand Mosque, recognized as the first and oldest grand mosque in Palangka Raya, Central Kalimantan, is distinguished primarily by its extensive Qur’anic calligraphy that adorns nearly the entire interior, including the walls and ceiling. This study investigates the functional reception of the calligraphy, focusing on the selection of specific Qur’anic verses and the rationale behind their inclusion. Employing a qualitative methodology with a descriptive-analytical approach, the research is grounded in Qur’anic reception theory, particularly the concept of functional reception. Data were collected through fieldwork involving observation, interviews, and documentation. The findings reveal that the verses featured in the mosque are those frequently recited and memorized by Muslims in daily practice, such as Surah Yāsīn, Al-Wāqi‘ah, and Al-Mulk. The functional reception is manifested in the curatorial decision to present these verses as calligraphy, thereby enabling visitors to engage with the surahs or verses without the need to consult a mushaf, in addition to serving an ornamental purpose. Furthermore, the calligraphy contributes to the mosque’s unique aesthetic identity, distinguishing it from other mosques. However, issues related to the legibility of certain calligraphic elements have elicited criticism, suggesting that the mosque’s administration should address these concerns appropriately.Abstrak: Masjid Raya Nurul Islam merupakan masjid raya pertama sekaligus tertua di Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Keunikan utamanya terletak pada hampir seluruh bagian interior yang dihiasi kaligrafi Al-Qur’an, mulai dari dinding hingga plafon. Penelitian ini bertujuan untuk menelaah bagaimana resepsi fungsional terhadap kaligrafi tersebut, ayat-ayat apa yang dipilih, serta alasan pemilihan ayat. Metode yang digunakan ialah kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis, berlandaskan teori resepsi Al-Qur’an, khususnya resepsi fungsional. Riset ini bersifat lapangan dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa ayat yang ditampilkan pada Masjid Raya Nurul Islam adalah ayat-ayat yang umum dibaca dan dihapal oleh umat Islam sehari-hari seperti QS. Yasin, QS. al-Waqi’ah, QS. al-Mulk dan lain-lain. Adapun bentuk resepsi fungsional kaligrafi Al-Qur’an terlihat pada pemilihan ayat yang dituliskan menjadi kaligrafi di Masjid Raya Nurul Islam, di mana ayat-ayat yang dituliskan selain dijadikan hiasan juga memudahkan pengunjung yang ingin membaca surah-surah atau ayat-ayat Al-Qur’an tanpa harus mencari di dalam Al-Qur’an. Selain itu, dengan kaligrafi tersebut Masjid Raya Nurul Islam memilki daya tarik tersendiri yang membedakannya dengan masjid lain. Di sisi lain, keberadaan tulisan yang kurang terbaca memunculkan kritik yang patut dicermati oleh pengurus masjid.
Kontestasi Hadis dalam Tagar Potong Kuku (#PotongKuku) di Media TikTok Rukmana, Fachruli Isra; MH, Syahidil Mubarik; Yuzar, Sri Kurniati
Al-Qudwah Vol 2, No 1 (2024): June
Publisher : UIN Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/alqudwah.v2i1.28862

Abstract

This study seeks to examine the critical role of falsification in the interpretation of the Prophet’s hadith through the hashtag #potongkuku on the TikTok platform, with particular attention to its recommendations, user engagement, and implications for religious authority within digital environments. The research addresses an emerging phenomenon in hadith studies amid the disruption era, wherein social media has become a predominant medium for the dissemination and study of hadith. Prior to the advent of digital technology, the study of the Prophet’s hadith was primarily conducted through face-to-face learning circles in mosques and Islamic boarding schools. Currently, this process has transitioned into an online domain that is more inclusive and accessible. A notable example is the #potongkuku hashtag, which features excerpts from sermons by Habib Rifky Alaydrus and functions as a conduit for propagating hadith-based values in virtual spaces. Employing a qualitative methodology, this study utilizes content analysis techniques applied to videos and user comments associated with the #potongkuku hashtag as primary data, supplemented by relevant scholarly literature as secondary data. The findings reveal that hashtags facilitate the organization and retrieval of da‘wah themes, broaden the dissemination of hadith, and promote public participation in religious discourse. Nevertheless, the study also identifies instances of content citing hadiths without credible sources, underscoring the necessity of tabayyun (verification) and scholarly validation in the consumption of digital religious content. In sum, the #potongkuku phenomenon exemplifies a positive transformation in hadith learning and highlights the role of social media as a novel arena for the authentication and dissemination of Islamic knowledge.Abstrak: Penelitian ini bertujuan menganalisis urgensi falsifikasi dalam memahami hadis Nabi melalui tagar #potongkuku di aplikasi TikTok, dengan menyoroti anjuran, respons pengguna, serta relevansinya bagi otoritas keagamaan di ruang digital. Kajian ini berangkat dari fenomena baru dalam studi hadis di era disrupsi, ketika media sosial menjadi medium utama penyebaran dan pembelajaran hadis. Sebelum kemajuan teknologi digital, masyarakat mempelajari hadis Nabi melalui majelis ilmu di masjid atau pesantren secara tatap muka. Kini, proses tersebut bertransformasi ke ranah daring yang lebih inklusif dan terbuka. Salah satu fenomena yang menonjol adalah tagar #potongkuku, yang berisi potongan ceramah Habib Rifky Alaydrus dan menjadi sarana penyebaran nilai-nilai hadis di ruang maya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik analisis konten terhadap video dan komentar pengguna dalam tagar #potongkuku sebagai data primer, sedangkan literatur ilmiah digunakan sebagai data sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan tagar memudahkan pencarian dan pengelompokan tema dakwah, memperluas jangkauan penyebaran hadis, dan mendorong partisipasi publik dalam diskursus keagamaan. Namun, penelitian juga menemukan adanya konten yang mengutip hadis tanpa sumber valid, yang menegaskan pentingnya tabayyun dan verifikasi ilmiah dalam konsumsi dakwah digital. Secara keseluruhan, fenomena tagar #potongkuku mencerminkan transformasi positif dalam pembelajaran hadis dan menegaskan peran media sosial sebagai ruang baru bagi otentikasi serta diseminasi ilmu keislaman.
Mediatisasi Agama Dalam Dakwah Halimah Alaydrus di Media Sosial Instagram Cholillah, Cholillah; Arju, Asa Nabila
Al-Qudwah Vol 2, No 1 (2024): June
Publisher : UIN Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/alqudwah.v2i1.29092

Abstract

The increasingly massive development of technology provides a gap in creating social discrepancies in society because it departs from the impact of understanding online media da'wah so that consumption is received personally without any prior review process. The process of finding this kind of understanding needs religious mediatization to avoid one-sided consumption in understanding da'wah content on social media. This research focuses on the object of study Halimah Alaydrus via her Instagram to be examined comprehensively with a qualitative approach and using the critical-analytical method. So that it departs from the Koran that it becomes a text that is always relevant from time to time both in terms of place and time, that the content that becomes the subjectivity of a Halimah Alaydrus gives a distinctive da'wah color and is easily understood by various groups. As for the results of this study, researchers found several verses that were used as da'wah content by Halimah Alaydrus which were persuasive in nature. In this case, the verse construction used provides orientation to the community to remain calm in living life, despite loneliness, focus on yourself, always feel that Allah is in control of His servants. It is at this point that Halimah Alaydrus inserts several strands of redaction that are in accordance with the current context in her caption. the space to simplify or simplify the interpretation of a verse ultimately becomes the impetus and needs of the community in understanding the content of the message of the Quranic verse. Of course, at the same time, the understanding of a verse will continue to move dynamically.Abstrak: Perkembangan teknologi yang kian masif memberikan celah dalam menciptakan diskrepansi sosial masyarakat karena berangkat dari dampak pemahaman dakwah media online sehingga konsumsi yang diterima secara personal tanpa adanya proses penelaahan terlebih dahulu. Proses untuk menemukan pemahaman semacam ini perlu adanya mediatisasi agama untuk menghindari konsumsi secara sepihak dalam memahami konten-konten dakwah di media sosial. Adapun penelitian ini momfokuskan kepada objek kajian Halimah Alaydrus via instagramnya untuk ditelaah secara komprehensif dengan pendekatan kualitatif dan menggunakan metode analisis-kritis. Sehingga berangkat dari Al-Qur’an bahwa menjadi teks yang selalu relevan dari masa ke masa baik dari sisi tempat ataupun waktu, bahwa kadungan yang menjadi subjektivitas seorang Halimah Alaydrus memberikan warna dakwah yang khas dan mudah dipahami oleh berbagai kalangan. Adapun hasil dari penelitian ini, peneliti menemukan beberapa ayat yang dijadikan konten dakwah oleh Halimah Alaydrus yang bersifat persuasif. Dalam hal ini kontruksi ayat yang digunakan memberikan orientasi kepada masyarakat untuk tetap tenang dalam menjalani kehidupan, meskipun rasa kesepian, fokus dengan diri sendiri, selalu merasa bahwa Allah dalam pengawan hamba-Nya. Pada titik inilah Halimah Alaydrus menyisipkan beberapa untaian redaksi yang sesuai dengan konteks kekinian dalam caption¬-nya. ruang untuk menyederhanakan atau simplikasi penafsiran pada sebuah ayat pada akhirnya menjadi dorongan dan kebutuhan masyarakat dalam memahami isi pesan ayat Al-Qur’an. Tentu pada saat yang sama, pemahaman atas suatu ayat akan terus bergerak secara dinamis.

Page 1 of 1 | Total Record : 7